Articles

Flu Burung masih menyerang

Perspektif Online
17 January 2007

Ini bukan topik wacana lagi, tapi soal hidup dan mati.

Bird Flu
Pasien Flu Burung (Reuters)

Kita ambil highlights dari laporan Tempo di bawah ini:

  • Indonesia menjadi negara yang memiliki kasus flu burung tertinggi pada 2006 dengan 55 kasus dan 45 orang meninggal 
  • Pada tahun ini sampai 15 Januari, sudah empat orang meninggal dunia akibat flu burung
  • Sebanyak 223 dari 444 kabupaten/kota di seluruh Indonesia merupakan wilayah endemi (daerah yang pernah terserang dan selalu "menyimpan") virus flu burung. "Angka ini sudah melebihi separuh kabupaten di Indonesia," kata Kepala Urusan Komunikasi Publik Unit Manajemen Kampanye Flu Burung Departemen Pertanian Memed Z.H
  • Komisi Nasional Flu Burung menetapkan status kejadian luar biasa untuk seluruh Indonesia setelah empat orang meninggal karena terinfeksi flu burung di Jakarta dan Tangerang dalam empat hari terakhir
  • Pemerintah tidak menduga bakal mendapat serangan flu burung secara mendadak di awal tahun. Sebab, selama Desember lalu, tak ada satu pun kasus flu burung yang dilaporkan. "Kami tak siap dengan program pencegahan, kata sekretaris jenderal komisi nasional flu Burung Bayu Krishnamurti 

---

Koran Tempo Senin, 15 Januari 2007

Separuh Indonesia Endemi Flu Burung

Ada kemungkinan 70 persen penduduk Jakarta membawa virus mematikan ini.

JAKARTA -- Sebanyak 223 dari 444 kabupaten/kota di seluruh Indonesia merupakan wilayah endemi (daerah yang pernah terserang dan selalu "menyimpan") virus flu burung. "Angka ini sudah melebihi separuh kabupaten di Indonesia," kata Kepala Urusan Komunikasi Publik Unit Manajemen Kampanye Flu Burung Departemen Pertanian Memed Z.H. kepada Tempo di Jakarta, Sabtu lalu.

Menurut dia, angka yang dikumpulkan hingga Jumat lalu naik dari sebelumnya, yakni kurang dari 200 kabupaten/kota. Hingga kini, hanya tiga provinsi yang bebas virus mematikan itu, yaitu Maluku, Maluku Utara, dan Gorontalo.

Memed menjelaskan provinsi yang menjadi wilayah endemi flu burung dibagi menjadi dua kategori, yakni daerah risiko tinggi dan daerah dengan intensitas kejadian rendah. Daerah risiko tinggi inilah yang masuk target utama vaksinasi Departemen Pertanian (lihat peta). Hanya ada lima provinsi lain yang "selamat" dan tidak masuk dua kategori itu.

Direktur Kesehatan Hewan Departemen Pertanian Musni Suatmodjo menambahkan, pada November tahun lalu, pemerintah pusat membagikan 48 juta dosis vaksin kepada 14 provinsi berisiko tinggi. Departemen itu juga telah membagikan lebih dari 191 ribu alat pendeteksi flu burung (rapid test kit) kepada 33 provinsi.

Departemen Pertanian, kata dia, belum memiliki peta hot spot flu burung semua provinsi. Sebab, selain laporan daerah tersendat, pemetaan memerlukan waktu dan sumber daya manusia yang memadai.

Ahli biologi molekuler Universitas Airlangga, C.A. Nidom, memperkirakan Jakarta dan Tangerang merupakan episentrum (pusat) wabah flu burung. Hipotesis ini diperoleh berdasarkan hasil simulasi berbagai model yang dibuat melalui perhitungan bio-informatika.

Pakar flu burung ini menjelaskan, jika pemerintah melakukan pemeriksaan kepada semua penduduk Jakarta, 70 persen di antaranya ada kemungkinan membawa virus mematikan ini, meskipun tak selalu sakit atau mati.

Nidom mengatakan pemerintah seharusnya tidak kecolongan oleh meledaknya kasus flu burung di Jakarta. Sebab, berbagai ahli sebenarnya telah memperingatkan hal itu jauh-jauh hari sebelumnya.

Flu burung di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi memang mengganas lagi. Dalam dua pekan sudah dua orang tewas, yakni warga Kalideres dan Tangerang. Di Kalideres, Jakarta Barat, beberapa kerabat dan tetangga korban kini juga mengalami panas tinggi dan diduga terkena flu burung.

Menurut Nidom, flu burung di Jakarta dan Tangerang sudah sangat mengkhawatirkan dan diduga virus ini sudah bisa menular antar manusia. Bahkan juga menular ke kucing. EWO RASWA | FERY F

---

Koran Tempo Minggu, 14 Januari 2007

Indonesia Masuk Kejadian Luar Biasa

Pemerintah mengaku kecolongan.

JAKARTA -- Komisi Nasional Flu Burung menetapkan status kejadian luar biasa untuk seluruh Indonesia setelah empat orang meninggal karena terinfeksi flu burung di Jakarta dan Tangerang dalam empat hari terakhir. "Ini jadi problem besar bagi kami," kata sekretaris jenderal komisi itu, Bayu Krishnamurti, kemarin.

Pemerintah tidak menduga bakal mendapat serangan flu burung secara mendadak di awal tahun. Sebab, selama Desember lalu, tak ada satu pun kasus flu burung yang dilaporkan. "Kami tak siap dengan program pencegahan," kata Bayu.

Terakhir, dua pasien flu burung meninggal di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta. Zu, 29 tahun, warga Mampang, Jakarta Selatan, meninggal pada Jumat lalu pukul 22.30 WIB. Adapun AA, 22 tahun, warga Kebon Nanas, Tangerang, meninggal dini hari kemarin, pukul 00.25 WIB.

Mukhtar Ikhlas, Ketua Tim Penanggulangan Flu Burung RS Persahabatan, mengatakan kedua pasien itu meninggal setelah mengalami gagal pernapasan. Organ tubuh lain mereka, seperti hati dan paru-paru, tak berfungsi.

Pada Kamis malam lalu, Nyonya Ri, 39 tahun, warga Pondok Jagung, Serpong, Tangerang, juga meninggal. Sehari sebelumnya, seorang warga Kalideres, Jakarta Barat, meninggal akibat serangan avian influenza.

Keempat korban itu menambah panjang daftar orang meninggal karena flu burung di Indonesia menjadi 61 orang, dari 71 orang yang positif terinfeksi.

"Di Jakarta, kami kecolongan," kata Direktur Kesehatan Hewan Departemen Pertanian Musni Suatmodjo soal meledaknya virus flu burung itu.

Hingga kemarin, RS Persahabatan masih merawat intensif Ar, 18 tahun, anak Ri, yang positif terkena flu burung. Kondisi Ar terus memburuk. "Radang paru-parunya meluas," kata Priyanti, anggota tim flu burung rumah sakit itu.

Di samping itu, masih ada enam pasien dengan status suspect flu burung. Mereka adalah Fi, 8 tahun, NJ (14), Ad (19), Mu (14), Ha (10), dan SF (8). Keenam pasien ini masuk RS Persahabatan pada Jumat sore dan malam, setelah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Bekasi.

Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso, Jakarta Utara, juga masih merawat dua pasien yang diduga kuat terkena flu burung. Juru bicara rumah sakit itu, Sardikin Giri Putro, mengatakan seorang warga Bogor, W, 16 tahun, masuk ruang rawat intensif Kamis lalu. Adapun B, 14 tahun, sudah sepekan terbaring di ruang isolasi.

Virus avian influenza tidak hanya mengubek-ubek Jakarta dan sekitarnya. Di Bandung, lima pasien dirawat di ruang isolasi Rumah Sakit Hasan Sadikin. "Empat orang suspect, seorang dalam penyelidikan," kata Hadi Jusuf mewakili tim dokter flu burung di rumah sakit pemerintah itu.

Yang masuk kategori suspect adalah D, 33 tahun, R, 14 tahun, dan A, 8 bulan. Pasien satu keluarga ini berasal dari Cicalengka, Bandung. Satu pasien lagi, Dj, 55 tahun, berasal dari Plered, Purwakarta. NAFI | MOSES | FIKRI | SOFYAN | EWO

---

Baca juga:

Print article only

17 Comments:

  1. From mansur on 17 January 2007 10:18:59 WIB
    Untuk penanganan flu burung ini pemerintah telah lama membentuk Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI). Ketuanya Aburizal Bakrie selaku Menko Kesra. Saya pikir dengan dia tidak mengurus Lumpur Sidoarjo bisa konsentrasi di tugas lainnya. Ternyata tidak. Kalau begitu, apa kerjanya AB kalau dalam kasus flu burung juga kecolongan dan Indonesia dilaporkan kekurangan vaksin flu burung?
  2. From riris on 17 January 2007 18:29:30 WIB
    Pemprov DKI Jaya baru saja keluarkan larangan pemeliharaan unggas non komersial di pemukiman.Di lapangan tampaknya akan sulit diterapkan, krn "peternak gurem" biasanya memelihara unggas utk menambah gizi; diambil telurnya, dagingnya, ato dijual demi dapat uang u/kehidupan se-hari2 yg makin sulit.Jadi larangan itu sebetulnya tdk hilangkan akar masalah, yaitu kemiskinan. Mestinya pemerintah tanggulangi kemiskinan (kayaknya ga mungkin dlm waktu singkat), ato cari cara lain u/ memutus mata rantai penularan tanpa mengganggu kaum miskin u/ memenuhi kebutuhan dasar mereka scr mandiri.

    Komnas FBPI harus direvisi kinerjanya. Info flu burung saja ga pernah saya dapat, misalkan lewat pamflet, posko2 di pemukiman, atau minimal kelurahan/kecamatan. Cuma lewat media massa, yg mungkin hanya sedikit diakses kaum miskin.
  3. From Rudi Binapraja on 17 January 2007 22:17:27 WIB
    Pernah kepikiran gak bahwa ada semacam konspirasi atau memang sengaja virus tsb di tanam di Indonesia, sehingga akan ada bisnis baru untuk memberantas virus tsb. kemudian kan kita sebetulnya sudah tahu bahwa beberapa waktu yang lalu kan Hongkong juga terkena avian flu, nah coba saja tanyakan kepada tim disana bagaimana memberantasnya.
  4. From Rudi Binapraja on 17 January 2007 22:29:52 WIB
    Mohon digambarkan alur pemberantasan / pemusnahan unggas contohnya di Jakarta saja.. secara teknis. Bagaimana dan kapan akan dilakukannya?
  5. From PLeRZ on 17 January 2007 23:10:56 WIB
    Kalau di skala-in 1 sampai 10 , kesadaran masyarakat akan bahaya flu burung ini levelnya masih skala 3. Artinya masyarakat mneganggap virus flu burung " Ngak Penting ". Peran pemerintah keliatan setengah setengah, satu sisi mau berantas virusnya cuma sayang ama ayamnya, akhirnya manusia nya yang di korbanin.

    Liat aja di TV, acara pembakaran unggas yang kena virus kok isinya anak kecil yang cengengesan pegang pegang ayam ngak pake sarung tangan atawa masker, apa mak ama bapa nya ngak ngerti yach bahaya virus tuch kalo masuk ke hidung lantas tuch anak ngak bisa narik oksigen dari hidung kecilnya, lantas kalo anaknya dach meninggal kena virus lantas nangis nangis seolah olah kena Musibah dan karena takdir. ( Padahal takdir yang dibuat oleh tuhan adalah : " kalo kamu pegang Ayam yang kena virus, lantas virusnya masuk maka kamu bisa demam akhirnya parah dan mati "), lha wong kalo ngak kontak ngak kena kok . jangan nyalahin takdir dech, salahin ja lu sendiri.

    Dan juga ...Cape dech kalo punya presiden yang maunya populis, takut ngebantai ayam karena takut di demo oleh pedagang ayam atawa ngak dipilih lagi oleh pedagang ayam di PEMILU 2007

    Harusnya SBY ( presiden musibah ) itu berprilaku kayak setiyoso aja , karena ngak bakalan terpilih lagi jadi gubernur , yo wis populer ngak populer bantai aja ayam di pemukiman se jabodetabek, karena kepentingan masyarakat yang jauh lebih luas sedang di pertaruhkan.

    So kita dukung setiyoso aja dech .....

  6. From PLeRZ on 17 January 2007 23:31:02 WIB
    Woi i i i i . . . . Aburizal Bakri . . . Loe lagi ngapain ? Sibuk ngitung kekayaan yang berkurang karena lumpur lapindo ? Kontribusi anda di pemerintahan presiden musibah apa ? Mana janji yang elo umbar waktu masuk tahun 2007 ? Tanya dong posisi apa yang cocok buat loe apa ?
    Ngurusin Ekonomi Bobrok, Ngurusin Kesra gak ada hasil kerjanya, ngurusin lumpur ngak selesai, ngurusin virus flu burung ngak juga bisa .... aduh aduh kok masih punya muka yach pegang jabatan MENKO ? Ngak ada kaca apa di kementrian loe ? Kita kita nech bukannya ngak mau demo buat nurunin loe, kita kita nech cuma mengurut dada kesian banget ama loe .... menganggap loe ngak penting. Harusnya loe tahu diri doong . . . Presiden musibah ngak minta loe mundur itu karena duit loe kemaren waktu PEMILU ama takut dukungan partai loe beralih, bukan karena kerja loe tuch bagus. Coba loe pikir pikir dech . . . kapan saat mengundurkan diri dalam tempoh yang sesingkat singkatnya .... Jangan takut dech pengganti loe bakal sama kerjanya sama loe, kalo ngak bagus juga yach turunin lagi, sampe ada yang bener ngurusin negeri . Ada 200 juta orang di negeri ini, jangan takut kehabisan stock ...
  7. From Sulaeman on 18 January 2007 10:31:19 WIB
    Besar kemungkinan pandemi flu burung akan terjadi di Indonesia,tidakkah Pemerintah bisa memikir bagaimana mau menananggi virus ini.Tidakkah ada semacam rapid test yang bisa mengdeteksi awal virus H5N1 pada manusia.Saya kira DepKes tidak mau menjadi kambing hitam dalam membuat keputusan untuk membeli rapid test kit ini.Sampai kapan kita harus membaca di koran tentang banyak nya korban yang meninggal kerana Pemerintah lambat dalam usaha mengdeteksi adakah pasien itu kena virus H5N1.Dana dari luar negeri sudah ada tapi kok Pemerintah masih berdiam diri.Adakah Pemerintah sengaja mau pandemi ini berlaku di Indonesia supaya bisa dapat uang yang lebih banyak dari luar.Tapi uang bukan untuk menananggi virus ini tapi untuk keperluan sendiri.....
  8. From JOE on 02 February 2007 01:55:20 WIB
    unggas tu kan ciptaan Tuhan juga kenapa kita bantai??
    sangat biadab sekali berita di tv yg membakar puyuh hidup2.
    OK qta waspada flu burung akan tetapi kenapa unggas yg dipersalahkan. sampai detik ini belum ada bukti ilmiah penularan virus Avian Influenza (Flu burung) dari unggas ke manusia. Jadi jangan seenak udelnya menyalahkan orang lain, yg penting apa kontribusi yg bisa kita berikan.
  9. From ethie on 02 February 2007 15:15:47 WIB
    dalam kasus ini tidak ada yang menyalahkan unggas.membasmi unggas bukan berarti kita semena-mena sama makhluk ciptaan Tuhan. sekarang coba di generalisasikan kasus flu burung ini dengan kasus demam berdarah, nyamuk juga binatang ciptaan Tuhan juga, toh kalo emang terbukti unggas memang jadi vektor dari penyakit ini yang penanganannya memang harus dimusnahkan donk,ok lah ga harus tapi kalo memang vaksinisasi belum bisa mencakup semua wilayah di Indonesia, apa kita akan menunggu vaksin datang dengan membiarkan unggas-unggas kita tertular danmenularkan pada keluarga kita. setiap hal pasti punya dua sisi...saya cuma pesen satu, saya bangga punya teman-teman yang sayang pada binatang ciptaan Tuhan, tapi saya kecewa kalo sikap sayang anda membuat anda lebih tega mengorbankan keluarga dan saudara-saudara anda dibunuh oleh virus yang dibawa heman kesayangan anda....
  10. From wimar on 02 February 2007 19:07:43 WIB
    bahaya sekali menggunakan topik flu burung untuk latihan debat. apalagi membawakan ketidak tahuan. bagaimana bisa bilang "belum ada bukti ilmiah penularan virus Avian Influenza (Flu burung) dari unggas ke manusia." ? tiap hari ada berita pasien flu burung masuk rumah sakit. di hongkong mati sekian ribu di tahun sekian. masak sih menghilangkan pembawa virus yang mematikan manusia dianggap kejam. untuk makan enak saja, unggas dibunuh dalam jutaan tiap hari
  11. From anton_fadilah on 18 February 2007 12:25:34 WIB
    janga kita (rakyat) mau jadi tumbal/korban. Pemerintah yg kagak becus rakyat yg menderita. Kl mau, pecat dulu .menteri kesehatan & pertanian yg sama sekali gak punya konsep unt penanganan penyebaran flu brg. Kl benar kata bung sulaiman dana dr luar negeri banyak tp pemerintah berdiam diri, itu sangat perlu untuk diwaspadai jangan2 dananya mau dikorup untuk kepentingan partai jelang pemilu 2009.
  12. From ntinz on 18 March 2007 18:14:17 WIB
    Di Indonesia ini sebagian besar terdiri dari rakyat miskin yang mana bila mereka memakan ayam mrp mknan terlezat dan terhebat yang pernah mereka makan.bahkan rakyat menengah pun merasakan hal yang sama mengingat harga ayam cukup lumayan mahal.
    Namun apakah kita(rakyat)tidak bisa mengorbankan diri kita utk tidak mengkonsumsi ayam/burung demi keslamatan kita? jangan hanya krn ingin mkn ayam kita merelakan nyawa kita melayang.
    nyawa kita lebih berharga dari pada mkn ayam.nyawa kita tidak bisa di tukar dengan nyawa ayam.
    Jadi SBY segeralah mencari solusi dan tindakan tercepat utk mengatasi virus berbahaya ini. Ini tugas Anda!
    Rakyat Indonesia tanggung jawab anda!
    Ingat SBY, tugas anda untuk mensejahterakan rakyat bukan untuk menysengsarakan rakyat"!
  13. From wimar on 18 March 2007 18:26:13 WIB
    makan ayam itu tidak berbahaya. virus flu burung menular melalui pernafasan kita. jadi dari burung yang hidup atau lendir dan kotorannya, virus bisa terbang meracuni manusia.
  14. From rosad on 10 May 2007 10:42:10 WIB
    indonesia akan bebas dari flu burung,jangan terlalu diploitisir shg masyarakat takut.Ok
  15. From Desy on 22 May 2007 11:38:23 WIB
    Dgn adanya MOU antara Singapura dgn Indonesia dlm pencegahan menular AI pada bulan ini,tidakakh pemerintah mau mengikut cara negara Singapura dlm pencegahan menularnya virus ini.Apa yang saya tau bahwa pemerintah Singapura menggunakan rapid test kit untuk mendeteksi awal sekiranya ada masyarakat yang terkena virus ini.Pihak Indonesia sudah mengetahui tapi masih enggan menirunya.Kit ini sudah ada disini tapi pihak puslitbang tidak mau mencuba nya.Kenapa........?
  16. From NAin on 24 February 2009 13:07:25 WIB
    Hohohoho.....
    Udah deh..... Jangan saling menyalahkan. Klo lebih ngerti tentang flu burung,, bantu dunk pemerintah sosialisasikan ke masyarakat!!!
    Jadi,, do not talk only..... We,,Indonesian people,,need an action..... ACTION!!!(jadi kaya' syuting....)
    Owiya,, udah pada baca bukunya MenKes belom???
  17. From Sita on 28 November 2010 12:57:07 WIB
    Yang penting adalah bagaimana mencerdaskan masyarakat tentang bahaya flu burung
    sitaa08.student.ipb.ac.id

« Home