Articles

Stres pada perempuan akibat krisis identitas dan kompetisi

Perspektif Online
16 January 2007
Pandangan mata oleh Susy Magdalena dan Herdiny Wulandari
 
 
 
Wimar Witoelar kembali mengudara bersama Trijaya FM dalam acara ‘talk about nothing with wimar’. Disini kita bisa berbicara mengenai apa saja.
 
Suasana memasuki cafe diawali oleh buku-buku yang telah dihasilkan oleh WW. Ada stage ditengah yang letaknya sedikit agak lebih tinggi dari audiens lantai bawah. Selain audiens yang berada dibawah, ada juga audiens yang berada di lantai atas atau mezzanine tepatnya. ‘Capis’ dipenuhi dengan audiens penggemar WW, kru Trijaya, Kru IMX dan juga beberapa kru Televisi dan media lain seperti Trans TV hadir diacara ini. Selain dapat menikmati acara talkshow di capis ini, audiens juga dapat menikmati snack yang sudah disajikan di satu sudut ruangan lantai bawah, yaitu berupa pizza yang gurih dan crunchy dan juga minuman ringan.
 
Disebelah WW sudah ada satu narasumber, seorang dokter yang sedang spesialisasi sebagai psikiater, yang kadang-kadang menurut pengakuan sendirim, gak tau apakah dia dokternya atau dia pasiennya, dia juga seorang penulis novel dan penulis adaptasi naskah film, dan sedang menulis skenario film layar lebar yaitu: Nova Riyanti Yusuf.
 
Tidak hanya WW, Nova dan penonton di cafe, namun acara ini juga dapat didengarkan melalui radio Trijaya 104,6 fm. Hebatnya lagi selain dapat mendengarkan, semua dapat juga berinteraksi melalui telepon, sms dan website WW yaitu perspektif online.
 
WW menjelaskan topik yang akan kita bahas kali ini adalah "Unhappy Women and The City" "Kalau di lihat di film ada sex and the city, tapi sex susah ditunjukkan di radio".. begitu celetuk WW, dan spontan audiens tertawa... Ia melanjutkan, "Jadi kita bicara, happy dan unhappy. Nova sering mempunyai hipotesa bahwa kehidupan modern di kota menimbulkan stres, terutama mungkin karena pengalaman pribadinya kepada perempuan karier, atau barangkali kepada perempuan yang multitasking, berbakat.."
 

Biasanya hal-hal penting dalam hidup muncul dari konteks dimana kita berada, seperti topik acara pada episode perdana ini mengenai Unhappy Women & The City.
 
Unhappy women bisa timbul karena faktor stress. Dalam kehidupan modern di kota seperti Jakarta. faktor yang bisa buat orang stress antara lain:
1) Orang berusaha menjadi seseorang yang bukan dirinya. Menurut NoRiYu, "everybody likes to be somebody they're not". Perempuan kadang berpikir bahwa mereka harus menjadi seseorang/sesuatu yang sebenarnya bukan dia. Lingkungan mengharuskan perempuan untuk menjadi seperti apa yang mereka hayalkan
2) Adanya kompetisi dengan perempuan lain, karena dalam kehidupan modern perempuan tidak hanya merasa puas dan cukup dengan terpenuhinya kebutuhan primer tapi perempuan ingin berkarir dan mengembangkan dirinya sendiri untuk menjadi perempuan yang seutuhnya
 
Ada pendapat bahwa tekanan gender dalam masyarakat dimana perempuan dianggap rendah oleh laki-laki bisa menimbulkan stress, tapi nyatanya tidak karena sekarang banyak sekali perempuan yang duduk dalam posisi penting. Ini kembali lagi bergantung pada persepsi masyarakat.
 
Yang menjadi masalah, ketika orang yang tidak terbiasa mencoba beradaptasi terhadap gaya kehidupan modern orang kota penuh glamour, timbul stress. Karena itu orang perlu bersikap fleksibel mengikuti perubahan zaman dan tidak hanya terfokus pada apa yang sudah diyakini saat ini, tapi lebih berusaha untuk fleksibel dalam mengubah tujuan hidup yang ingin dicapai sesuai dengan realita.
 
 
 
Diskusi interaktif melalui SMS antara lain mencakup:
 
SMS   :apakah stress bisa membuat hidup menjadi lebih menarik ?
NoRiYu :harus dilihat sebabnya, kalau kita bicara stress bukan berarti orang tersebut tidak punya apa-apa. Orang yang sudah punya semua kadang juga bisa bingung akhirnya orang tersebut merasa kehilangan akan tujuan yang ingin dicapai dan merasa jenuh dengan segala sesuatu yang sudah ada dan terpenuhi
 
WW   :orang punya segala tapi masih bisa stress ?
NoRiYu :itu bisa terjadi, istilahnya existential frustrations artinya menjadikan sesuatu itu amat penting bahwa mereka punya suatu pegangan untuk memenuhi itu semua. Tapi setelah sekarang itu terpenuhi orang tersebut merasa ada kejenuhan apa lagi yang harus dipenuhi
 
SMS   :bagaimana supaya tidak stress sebagai single parent, yang harus kerja sambil mengurus anak sementara ada tuntutan gaya hidup yang tidak sedikit biayanya ?
NoRiYu :dua point yang menarik. pilihan untuk membuat prioritas dalam hidupnya yang mana harus dipenuhi terlebih dahulu. yang menjadi beban diisini ketika tuntutan gaya hidup yang tinggi, seharusnya dia bisa berani memutuskan bahwa itu bukan prioritas, yang menjadi prioritas sekarang adalah bgaimana dengan dirinya & bagaimana dia bisa menhidupi anaknya
 
SMS  :bagaimana kita tahu bahwa kita sedang stress ?
NoRiYu :secara harafiah stress itu berarti tekanan, seseorang membutuhkan tekanan/ dorongan, tapi kadang tekanan itu menjadi positif dan negatif. Tekanan positif mendorong kita untuk lebih kreatif, menyelesaikan tugas dan melakukan yang terbaik. Negatif itu apabila kita sudah tidak mampu lagi untuk menggunakan kemampuan kita menghadapi masalah atau tekanan terjadi. Setelah saya belajar psikiatri, saya menemukan banyak hal yang mengerikan diluar imajinasi saya. setiap orang punya kepribadian, kalau sudah mulai tidak bisa beradaptasi itu menjadi gangguan kepribadian. Yang menarik disini adalah munculnya ‘attention seeking behavior’ orang yang senang mencari perhatian.
 
SMS   :satu2 cari untuk tidak stress adalah berani untuk tidak menjadi populer
NoRiYu :popularitas itu sesuatu yang sifatnya misterius, seperti WW bagaimana bisa menjadi populer. Jadi ada faktor yang tidak bisa kita beli atau paksakan, sekarang kita berpikir realistis saja bahwa kita berusaha untuk menjadi yang terbaik dengan apa yang kita lakukan tapi tidak menerapkannya menjadi sebuah obsesi yang akhirnya menimbulkan gejala-gejala psikologis. Budaya remaja Indonesia tidak sadar dan ingin sesuatu yang instan dalam popularitas, sehingga remaja Indonesia tidak punya dorongan dan lupa untuk mengasah kreatifitas dan kemampuan lebih yang dimiliki.
 
 
Pertanyaan dari professional muda yang hadir di PISA Kafe, seorang penyayang wanita bernama M merasa sedih dengan pernyataan NoRiYu bahwa banyak wanita tidak happy di Jakarta, bagaimana cara seorang pria bisa membahagiakan perempuan yang dicintainya ? menurut NoRiYu ini tergantung dari kebutuhan perempuan dengan pendekatan secara emosional pada perempuan yang cenderung sensitif, tapi ada juga yang secara terus terang mengatakan ‘I need more money/cash money’ .
 
WW menyatakan malam itu di Pisa cafe tidak kelihatan wajah yang unhappy. Seorang professional muda bernama M juga mengungkapkan bahwa dirinya happy dengan mencoba berpikir positif dalam menjalani hidup sesuai dengan rithme kehidupan, jadi segala hal buat melda itu menjadi Happy.
 
Lantas bagaimana dengan orang-orang yang merasa tidak happy bisa menghadapi stress ?. Kadang yang membuat orang stress adalah ambisi, jadi menetapkan sebuah ambisi yang harus dijangkau dalam kurun waktu tertentu, melewati batas kewajaran dan kemampuan itu membuat orang menjadi stress bila tidak terpenuhi. Seperti kata temannya NoRiYu bahwa hidup ini seperti pelari maraton bukan pelari sprint yang harus cepat sampai ke garis finish. Kita akan merasa lelah tidak secara fisik aja tapi mental juga ikutan lelah yang akhirnya lupa bahwa ada keindahan lain dari hidup yang tidak hanya ambisi. Jadi harus lebih realistis kalau tidak tercapai, berusaha untuk bisa melakukan kembali di lain waktu atau berusaha untuk melakukan yang terbaik.
 
WW: You said Indonesia is a stressfull country. Tapi di singapur orang cemberut semua, disini kan pada senyum?
 
NRY: OK, sekarang musti dibedakan dulu antara tersenyum karena bahagia atau tersenyum karena pasrah?  Mau ngapain lagi? Pasrahisme di Indonesia itu gede...  misalnya kemaren, kasus pesawat, ada suatu tayangan di TV. orang bertanya, gimana pak gak takut? Oh enggak serahkan kepada Tuhan, terus kemaren kasus flu burung... pemerintah ada kebijakan, iklan, iklan, iklan.. ternyata masyarakat "O tidak, saya tenang-tenang aja.. " artinya ada level kepasrahan yang tinggi di Indonesia dan itu menarik untuk kita bahas, karena kondisi psikologis apa, apa disitu ada kecapean? Jadi mau demo juga males, Intinya adalah memang tidak terkotak pada perempuan tapi, manusia in general..
 
 

Print article only

15 Comments:

  1. From angga on 18 January 2007 09:25:18 WIB
    wanita mungkin stress karena konsep emansipasi yang belum secara jelas dipahami. Hal ini akan berdampak pada turunya rasa percaya diri yang banyak disebabkan faktor rasa tidak puas atas apa yang dia miliki. Melihat temen2nya di arisan pake perhhiasan, lalu langsung pulang minta suami beli ini beli itu,, teman buka usaha,, langsung latah ikut2an,, banyak sisi dimana kita kaum adam suka sering beda pendapat dengan kaum hawa,, tapi perbedaan itu tantangan buat kita untuk berusaha menyamakan persepsi dalam komitmen dan koridor yang tepat. semua manusia punya kodrat serta hak dan kewajiban masing2. Harus kita jalani suka atau tidak suka,, stress datang lebih banyak dari diri sendiri,, diri kita yang paling tahu kenapa kita bisa stess. senyum itu bisa menunjukan bahwa orang tersebut sedang berusaha keluar dari lingkaran stres yang menghantuinya,, mending kita jalan2 dan cari makanan yang maknyussss,,,, enak kan,,,??,,,,
  2. From mansur on 18 January 2007 10:13:30 WIB
    WW, bahas juga donk topik unhappy man. Secara pribadi, saya melihat pada umumnya karena woman. Yach seperti cintanya ditolak, cewek selingkuhannya ketahuan. Benar ngak yach NoRiYu. Jadi bahas juga donk. Thanks
  3. From WiLLy Da\' KiD on 18 January 2007 16:56:05 WIB
    Wanita Stress??kalau buat saya itu wajar-wajar aja dan itu biasa terjadi pada wanita dimanapun juga.heehehe,jangan khan dijakarta,didesa saja pasti ada wanita yang mengalami stress.Setiap Manusia,baik laki-laki atau perempuan pasti memiliki masalah dalam hidupnya.Entah itu masalah uang,keluarga,cinta dan lain-lain.

    Jadi ya wajar-wajar saja,tergantung bagaimana menanggapi dan menanggulanginya.Terkadang hal kecil saja bisa membuat orang stress tidak kepalang. Apa lagi di Jakarta,kota yang penuh dengan hal-hal yang besar dan kesalahan sedikit saja dapat membuat penyesalan dan mengakibatkan stress yang benar-benar menggila.Di Jakarta,biaya hidup saja sudah mahal,belum lagi adanya kompetisi yang dimana setiap individu yang ada di Jakarta harus dituntut memiliki segala hal yang berlebih,lebih pintar,lebih jeli,lebih sabar,lebih materi dan lebih segalanya.mungkin bisa diberi nama Hukum alam Jakarta,Yang Berlebih disegala bidang yang akan Bertahan,yang Kurang akan STrRrEEEeessSs.

    Ini hanya pemikiran secara subjektif saja yah...sebenarnya ada positifnya juga kok.Stress itu bisa jadi pemicu dari setiap penderitanya yang dimana sang penderita akan dituntut untuk lebih Kreatif dan Berani untuk berkreasi dan melakukan hal-hal yang berguna untuk hidupnya kelak.yah daripada mati karena stress, mending buat suatu "Gebrakan Baru" yang orisinil.Lagu juga,kalau kita berpikir positif dan memiliki semangat hidup yang tinggi,mungkin bisa dijamin deh tidak kena stress.

    Saya setuju dengan profesional muda,"M" dan memang seperti itulah cara mencegah stress.Berpikir Posotif dan menjalani hidup sesuai ryhtme yang ada.Gak perlu yang muluk-muluk dan serba "WAHHH!!!".yang penting tetap sehat,tetap semangat biar bisa jalan-jalan dan makan-makan bersama Wisata Kuliner.ehehehehe.......Poko'e Mak NyUuzzZz.......

    Wasalam,Tuhan MEmberkati.....
  4. From riris on 18 January 2007 18:48:04 WIB
    Perempuan kota stress krn beban yg diberikan seringkali diluar kemampuannya. Masyarakat sejak lama mengkonstruksikan perempuan tempatnya di ranah domestik (urus rumah).Ketika dia masuk ranah publik (berkarir di luar rumah), dia tetap dituntut u/ tetap urus soal domestik (masak apa,macem2 soal anak-suami,sosialisasi dg tetangga dsb).Kalo ga urus itu,ntar dibilang sapa suruh kerja?

    Laki2 bisa lebih konsen ke karir, tp perempuan, meski berkarir, pikirannya akan terpecah ke rumah. Saya yakin walo ngopi2 di cafe sepulang kerja,pikiran masih ke rumah,apalagi kl anak sakit.

    Di tempat kerja,perempuan harus buktikan kemampuan dua kali lebih keras dari laki-laki kalo mo "dilihat." Di dunia pers yg katanya egaliter pun, perempuan masih diberi porsi yg serba "soft", kecuali dia bisa buktikan diri mampu di situ. Laki2 mungkin tanpa hrs buktikan diri bisa langsung di taruh di bagian "hard", meski bisa jadi lalu ketahuan juga ternyata ga terlalu berhasil.

    Yang penting saat ini, kelola stress dg keseimbangan hidup, "positip tingking" kata Thukul Arwana, M juga, dan milki pegangan; "something to believe" apa pun itu; agama, ideologi etc.
  5. From AnakKodok on 19 January 2007 23:29:02 WIB
    Kebanyakan wanita sekarang stresss ( S triple tiga ) karena perkembangan gaya hidup, coba bung ww tanya ke 10 orang wanita secara acak... berapa jumlah tunggakan kartu kredit mereka yang over limit...!!!? tanya juga berapa kartu setan ( baca kredit ) yang mereka punya yang juga blom dibayar.... Wanita.... Plis deh....
  6. From iburp on 20 January 2007 15:44:08 WIB
    bagaimana dgn faktor kemarukan? wanita yg ingin punya segalanya dalam waktu bersamaan? punya anak dan pengen langsung langsing? gaji gede tapi ogah mikir? nongkrong di kafe sambil bantu anak ngerjain pe-er? tampil alami dengan make-up? dekat dengan anak lewat babysitter?
    tanpa krisis identitas dan kompetisi, manusia memang suka cari masalah sendiri dan akhirnya stress sendiri deh....

  7. From Marsha on 20 January 2007 19:03:02 WIB
    Faktor maruk?
    Saya sih tipe wanita yang [jujur saja] ingin memiliki 'segalanya' yang menurut saya dapat meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup saya: keluarga, karir, social recognition and some degree of respect.

    Saya tahu pasti bahwa hampir tidak ada hal yang mustahil untuk digapai di dunia ini sebagai seorang wanita... selain menjadi seorang ayah/papa (this was my first career choice at 3yrs of age - saat itu belum mengerti tentang gender limitations hehe.) Di sisi lain, saya sadar bahwa sebagai seorang manusia saya memiliki batasan-batasan tertentu yang tidak bisa didobrak (e.g. mortality, time, the boundaries I set, specific physical functions, emotional limit).
    This is where self-acceptance and grace come into play. Saya lakukan sebaik apa yang saya bisa coba/pengaruhi/mengerti/pikirkan... kalau itu masih kurang, saya berusaha untuk berbesar hati dan menerima 'shortcomings' yang terjadi.

    It feels good to be at peace with each other, and more importantly with oneself :))
  8. From donna on 21 January 2007 00:50:46 WIB
    Opss...
    WW, This time no comment dulu yah. akyu lagi stressss!!!!
    =)
  9. From WiLLy Da\' KiD on 21 January 2007 19:37:39 WIB
    WooPZz...donna lagi stress ya??hehehe,pasti lagi mikirin suatu masalah.Santai ajah,kalo tetep mikir posotif dan menjalani hidup sesuai rhythme yang ada,Pasti akan nemuin titik dimana anda akan merasa lebih dewasa dan tertantang untuk menyelesaikan masalah anda coz semua itu adalah proses yang memang anda harus lalui sebagai manusia.Jadi,Tetep Semangat ya donna,KeEp MovIn' and KeEp RockIn'......

    Wasalam,Tuhan MEmberkati.....
  10. From putri sari on 23 January 2007 08:15:22 WIB
    Article yang Baguuuuuusss..

    mau aplikasikan Pendapat dari M yaitu tetap mikir positif dan menjalani hidup dengan Ritme yang ada!
    mantap kali lah...

    Resepnya Nendang!
  11. From simumut on 02 May 2007 22:12:20 WIB
    stres, so pasti bakal dialamin ama siapa aja.stress pasti diawalin dari masalah yang di hadapi. tapi itu merupakan pemelajaran kita menjadi lebih dewasa dan matang menghadapi masalah lainnya
  12. From louise p. on 27 August 2007 21:22:11 WIB
    Stress wajar,,, semua orang punya beban gak ada yang enggak. balik lagi pada hal religi, punya Tuhan kan? Noriyu bilang org indonesia cenderung pasrahisme, bukan! kita musti taat dan percaya.. bahwa bila kita tekun dalam doa dan berusaha serta hidup sesuai yang diajarkanNYA.. pasti DIA tidak akan membiarkan kita mengalami yang lebih berat dari yang kita mampu.. dari jaman kuno sampe modern gini ga ada org yg STRESSFREE hanya kadar dan penyebapnya yg getting complex nowdays. intinya hidup harus balance, ya urusan duniawi ya urusan akherat semua perlu usaha dan ketekunan.. Bravo om WW, makin gendut aja, watch out makannya.. om jgn overworked.. way to go om WW!!
  13. From suci on 03 September 2007 11:08:13 WIB
    wanita stres itu wajar-wajar aja tapi lihat dulu penyebabnya, apalagi di zaman modern ini wanita harus mampu bersaing demi kelangsungan untuk hidup. hehe...
  14. From Dyny on 12 March 2009 14:16:07 WIB
    Ass..kalau stres krna masaalah yang diri sndiri jg tidak mengerti bagaimana cara menghilangkannya???

    thanks B\'for
  15. From feni on 30 September 2010 16:04:28 WIB
    apakah faktor pendukung seperti tman sangat mempengaruhi dlm menghilangkan stres???

« Home