Articles

Wimar Witoelar Orang Berbahaya

Tabloid Siaga
18 June 1999
Sekapur Sirih
 
Sebuah pertandingan tanpa supporter tak akan meriah apalagi bergelora. Namun bila provokator ikut campur, kegembiraan dan kemeriahan bisa berakhir dengan sebuah malapetaka. Sebagai apakah Wimar Witoelar dalam dalam pertandingan politik sekarang ini? Tergantung apakah perannya di akhir pertandingan ini. Apakah ia memberi kegembiraan dan kemeriahan ataukah ia membawa kegembiraan dan kemeriahan ataukah ia membawa malapetaka. Malapetaka sebuah pertandingan bisa terjadi ketika pertandingan berjalan atupun setelah pertandingan berakhir. Kemerihan dan kegembiraan suatu pertandingan, bagaikan hujan deras yang mampu membersihkan sumbatan di selokan dan saluran-saluran yang telah lama terbengkalai.Dengan sekali "sapu", sebuah hujan yang besar mampu membersihkan wilayah-wilayah yang kotor dan tersumbat itu.
 
Masyarakat memerlukan pertandingan-pertandingan secara periodik, agar kesumpekan kehidupan yang terakumulasi bisa dibersihkan oleh kemeriahan dan kegembiraan serta gerola massa sebuah pertandingan. Usai pertandingan, penonton biasanya terhibur dan bergembira. Tanpa supporter, mustahil sebuah pertandingan bisa meggembirakan dan membersihkan jiwa. Pemilu sudah hampir tiba pada tahap penyelesaian dan masyarakat sudah bisa menerka sipa yang akan keluar sebagai penangnya.Sebuah pertandingan bila telah berakhir, pemenang biasanya berkata , next time better. Kata-kata yang keluar dari mulut si pemenang, sebetulnya adalah sikap sportif. Ada penghargaan dan hiburan pada yang kala. Bila tak sportif, yang kalah bisa mencari-cari alasan bahwa kemenangan lawan itu tidak sah alias curang. Bla yang menang tak bersifat menghibur yang kalah, apalagi menghina maka dendam bisa bersemi di dalam hati pihak-pihak yang kalah.
 
Sebuah masyarakat yang berbudaya, biasanya akan menjadikan peristiwa pertandingan itu suatu yang menggembirakan dan membahagiakan serta membersihkan jiwa penontonnya. Dan bukan sebaliknya. Dalam masyarakat yang berbudaya, happines for all, kegembiraan bagi semua orang, bisa terjadi karena, yang kalah masih bisa berpengharapn di lain pertandingan mereka bisa menang, asal mereka bis koreksi diri, dengan dmikian ucapan lawan yang membisikkan kata-kata next time better bisa benar-benar terwujud. Dan yang menang pun tak menjadikan diri mereka sombong, siapa tahu nanti bisa kalah, seandainya mereka larut dalam kepongahan dan lupa untuk menjaga keunggulan. Ujung sebuah permainan dengan sikap rendh hati dan penghibur bagi yang kalah, tak menutup penghargaan dn kegembiraan bagi yang menang
 
Pemilu kita sudah hampir usai. Sungguh indah, ketika Ketua Umum partai yng pernah jaya, dengan senyum mengucapkan selamat kepada pemenag, yaitu Ibu Mega dari partai Banteng. Bhkan Ketua Umum Golkar dengan ikhlas menyediakan tempat bagi pemenang untuk tampil sebagai pemerintah baru, seandainya PDI-P mampu meraih dukungan dari 10 partai besar. Bila suasana ini bisa dijaga, sungguhlah pemilu ini bagikan air hujan yang besar, yang mampu membersihkan bukan saja debu-debu di jalanan, tapi juga got dan saluran yang tersumbat. Sehabis hujan ini, masyarakat selain bisa menikmati jalan yang bersih serta saluran yang lancar kembai, mereka juga bisa menghirup udara yang bersih. Bisakah itu tercapai bila yang menang bersikap sombong sambil menghina apalagi melempari pihak yang kalah ?. Sikap sperti itu bukan saja menunjukkan kepongahan diri tapi juga bisa membangun semangat yang kalah untuk bangkit membela kehormatanya. Dan balasan dari yng kalah, apalagi mereka mepunyai mssa yang besar, aka membawa malapetaka dan membawa pertandingan bukan pada suatu penghiburan dan pembersihan jiwa, tapi suatu ujung yang membahayakan. Syukurlah sikap Akbar bisa saling menghargai.
 
Namun sayang di ujung pertandingan ini masih ada orang-orang semacam Wimar Witoelar yang tak mampu menahan kesombongannya untuk terus melempari Partai Golkar dengan cacian dan sindiran, sepanjang acara-acara yang konon dia adalah sebagai moderator. Wimar tidak melakukan fungsinya sebagai moderator atau penengah. Ia aalah wasit yang berpihak. Ia telah menyalahgunakan posisi dan statusnya. Lain seandainya Wimar adalah pimpinan partai lawan Golkar. Ketua partai lainpun setelah pertandingan usai mereka saling bersalaman. Bila Wimar terus melakukan hujatannya, padahal pertandingan telah berkhir komunitas Golkar akan mencatatnya sebagai orang berbahaya.
 
 

Print article only

6 Comments:

  1. From Daisy on 28 September 2006 16:41:39 WIB
    Emm... terus terang daisy agak bingung baca artikel ini, terutama paragraf terakhirnya.

    Kok bisa ada yang menyebut WW wasit yang berpihak? Gimana cerita jelasnya waktu itu? jadi penasaran.
  2. From wimar on 28 September 2006 20:55:25 WIB
    wajar saja kalau waktu itu golkar sangat tidak senang ww. mungkin seperti sekarang koruptor tidak akan senang ww. karena golkar mewakili sistem lama, sistem soeharto yang dilawan oleh ww. dalam forum diskusi atau talk show ww selalu seimbang. tapi dalam kehidupan sehari-hari ww sangat bertentangan dengan soeharto-ordebaru-golkar. jadi mereka gabungkan antara keduanya. daisy lihat sendiri kemarin, apakah ww menyalahgunakan posisi moderator di dialog khusus? tapi koruptor pasti tidak senang karena ww tidak menguntungkan mereka.
  3. From Daisy on 29 September 2006 11:46:45 WIB
    Ow...gitu.. Yup yup, kita memang harus "Maju tak gentar membela yang benar" :)
  4. From keket on 01 October 2006 15:10:46 WIB
    wasit yang berpihak dengan ww ada bedanya, yaitu kalo wasit yang
    berpihak pasti sebelumnya telah disuap dulu, ww tidak.
    dalam hidup nggak bisa menyenangkan hati semua orang.
    lebih baik fanatik daripada munafik. buat apa salaman usai
    pertandingan abis itu di belakang minta preman ngebuntutin lalu
    nyuruh nge....
    mana yang lebih berbahaya?blom cukup pengalaman ma bapak tercinta
    selama 32 tahun?mo terulang lagi?
  5. From budi on 28 February 2008 23:30:11 WIB
    berbahaya buatyg ngomong, saya gak tu...
  6. From Stormy on 05 January 2012 04:25:11 WIB
    There are no words to describe how boadoicus this is.

« Home