Articles

Detak Detik Pemilu di TV Diprotes

Republika
24 June 1999
JAKARTA -- Belasan telepon dan faksimile sampai kemarin masih terus mengalir ke redaksi Republika. Isinya memprotes keras acara dialog Detak Detik Pemilu yang disiarkan secara langsung oleh lima stasion televisi Selasa malam.
 
Mereka menilai acara yang dipandu Wimar Witular itu sangat tidak fair, karena jelas-jelas mendukung kekuatan PDI-P, mendiskreditkan kelompok lain yang tidak sejalan. ''Ini seharusnya tidak boleh lagi terjadi dalam masa reformasi sekarang ini,'' kata Aryuni, seorang alumnus Fakultas Filsafat UGM.
 
''Tolong ya, Mas, tolong dimuat uneg-uneg saya pada TVRI dan teve-teve swasta. Saya protes keras acara itu karena sangat tidak adil. Masak acara yang diikuti masyarakat luas itu, dijadikan sebagai tempat untuk memaksakan kehendak dari kelompok tertentu,'' kata Mira, seorang ibu rumah tangga dari Pontinak, Kalimantan Barat, lewat telepon.
 
Karena itu, lanjut Mira, ''saya minta agar acara tersebut dihapuskan saja, karena bisa membawa dampak makin terjadinya perpecahan sesama bangsa, karena lebih banyak mengkambing hitamkan kelompok tertentu.''
 
''Acara Detak Detik Pemilu tidak objektif, ngawur dan sangat sepihak. Wimar dan kawan-kawannya jelas-jelas membodohi rakyat,'' kata Ali Said, Duren Sawit, Jakarta Timur.
 
''Saya pikir Habibie kecolongan dengan acara itu. Dari seluruh pembicara yang ada, saya hanya percaya kepada Bang Buyung Adnan Nasution. Itu pun masih fifty-fifty. Masa Budiman yang baru lulus mau disamakan dengan Habibie. Juga Dr Mohtar Pakpahan. Kan bukan bandingannya,'' tulis Dahlan, Jakarta Barat.
 
''Kayakanya, acara itu disengaja deh! Masak saya dan kawan-kakwan lain coba telepon enggak pernah bisa masuk. Yang ngomong kok isinya rata-rata sama. Lebih baik acara yang tidak fair itu dihilangkan saja,'' komantar A Reza, Kukusan, Depok.
 
''Saya sebagai ibu rumah tangga merasa mereras dan ngeri. Masak Wimar dan Todung Mulya dalam acara itu sepertinya menghasut rakayat untuk melakukan aksi-aksi perlawanan apabila calon Presidennya tidak terpilih,'' kata Ibu Noor, Condet, Jakarta Timur.
 
''Saya curiga, yang membuat pertanyaan sepertinya diatur. Saya dan teman-teman tidak pernah bisa masuk saat menelepon,'' kata Ahmad R, Kwitang, Jakarta Pusat.
 
Sedangkan Jahruddin, Mahasiswa IISIP Jakarta dalam faksimilenya menyatakan, ''Saya juga nyengir ketika Anda (Wimar) dalam akhir acara mengatakan bahwa dirinya bukan pendukung PDI-P seperti yang dituduhkan oleh penelepon. Anda (Wimar), preman dan pemulung juga tahu bahwa Anda pendukung PDI-P.''
 
Mahasiswa IISIP itu juga mengingatkan kepada Wimar selaku moderator acara tersebut, bahwa sekarang rakyat tidak lagi bisa dibodohi. Anda tidak perlu menjadi munafik.
 
Hamid, Tanah Abang Pusat minta agar dalam acara Detak Detika Pemilu sebaiknya jangan Wimar Witular yang menjadi moderator. Dalam acara itu tanpak sekali dia agak sinis dan sering menghentikan telepon jika yang ditanyakan tidak berkenan dengan pendirian partainya.
 
''Saya salut pada penelepon yang berani mengkritik Wimar Witular dan Jacob Tobing yang dinilai tidak objektif. Saya dan mungkin pemirsa lainnya merasakan bahwa acara ini merupakan pembantaian terhadap satu kelompok, dan menonjolkan kelompok lainnya. Dalam acara yang diikuti oleh jutaan pemirsa memang seharusnya mereka yang terlibat tidak apriori terhadap satu golongan,'' kata Lena, mahasiswi, Jakarta.
 
Ketua Umum Aliansi Wartawan Muslim (Awam) Sugeng Satya Dharma menilai, kesalahan bukan hanya kepada Wirmar sebagai pemandu acara, tapi juga format panyajian acara. Dalam setiap talk-show, seperti Detak Detik Pemilu, pemandu acara diberikan wewenang sepenuhnya bahkan juga menyimpulkan hasil pembicaraan, sehingga sangat memungkinkan mereka bersikap subjektif. ''Akibatnya, ada kelompok yang diuntungkan dan ada kelompok yang dirugikan,'' ujarnya tadi malam.
 
Sugeng juga mengatakan pemandu acara harus memahami bahwa pengaruh televisi terhadap pemirsa sangat besar. Pemandu acara dengan mudah membentuk opini sesuai yang mereka inginkan. Ia menunjuk contoh, ketika pemandu acara menyatakan kerusuhan akan meletus jika Sidang Umum MPR gagal, maka opini pemirsa terbentuk ke arah itu. ''Masyarakat disodorkan opini bahwa akan terjadi kerusuhan. Itu sangat mengerikan,'' lanjut Sugeng.
 
Pakar komunikasi Dr Indrawadi Tamin mengatakan pada prinsipnya seorang moderator harus mampu memoderatkan dirinya. ''Apa pun aspirasi dia, kalau dia menjadi moderator, maka dia harus mampu memoderatkan dirinya. Itu yang namanya profesionalisme,'' kata Indrawadi tadi malam.
 
Karena itu, Indrawadi mengaku tidak heran, bila Wimar mendapat keluhan atau protes dari pemirsa lantaran sebagai moderator acara Detak-detik Pemilu dinilai bertindak berat sebelah. ''Keluhan atau protes itu saya kira sangat wajar,'' ujarnya.
 
Para penelepon menilai sikap Wimar itu merugikan sebagian besar konsumen TV Indonesia, dan tidak hanya sekali itu terjadi. Sebelumnya Wimar selalu bersikap miring ke PDI-P. ''Pak tolong kami merasa didzalimi oleh pemandu yang namanya Wimar Wintoelar itu, masak dia selalu cenderung ke Megawati, bukankah itu juga tindakan korup karena memakai fasilitas negara untuk kepentingan kelompok tertentu,'' ujar Rengger dari Sawangan, Bogor.
 
Keluhan senada juga dinyatakan seorang ibu rumah tangga, Ratu Ratna dari Bekasi. Menurutnya, walau tidak paham politik cara-cara yang dilakukan Wimar adalah simbol dari sikap sektarian karena setiap ucapannya mengarahkan untuk menguntungkan kelompok Megawati.
 
Ibu seorang anak ini juga mengeluhkan operator telepon penyelenggara Deta Detik Pemilu yang disiarkan seluruh stasiun TV itu. ''Jelas sekali mereka telah merekaysa untuk memilih siapa-siapa yang cenderung berpihak ke Mega dan tidak. Karena kalau peneleponnya akan mengkritik ke Mega langsung diputus. Kalaupun lolos biasanya oleh Wimar diabaikan dan tidak dilemparkan ke narasumber untuk dibahas,'' ungkap Ratu kesal.
 
Budi dari Bandung, malah lebih jeli melihat. Menurutnya tidak hanya urusan Wimar, penyelenggara Detak-Detik juga dianggap tendensius dalam memilih nara sumber. Ia contohkan, pengamat politik yang dipakai seperti Ikrar Nusabakti, selama ini oleh sejumlah pembaca dinilai sudah terlalu 'merah' karena selalu menjadi corong Megawati. Dan kapasitas dia sebagai pengamat dalam negeri juga masih diragukannya.
 
Saking jengkelnya, seorang penelepon dari Malang, Jawa-Timur, Ekum, malah meminta kepada penyelenggara agar tidak perlu lagi menayangkan acara semacam itu kalau hanya akan dijadikan alat oleh partai tertentu saja. Bahkan, Ekum yang mengaku sehari-harinya sebagai pengacara ini meminta kepada seluruh stasiun TV untuk mencekal Wimar karena tindakannya telah melukai dan merugikan publik televisi.
 
''Hemat saya masih banyak pemandu yang lebih cerdas dan lebih sopan dari Wimar. Menurut saya Wimar sering melecehkan seseorang yang mestinya tak dilakukan oleh dia sebagai seorang moderator,'' tegas Ekum.
 
Dalam siaran Detak-Detik semalam, beberapa kali Wimar memang memaksakan pendapat narasumber untuk menjebak jawaban agar lebih menguntungkan Megawati. Karena itu, ada seorang penelepon yang kebetulan lolos memprotes sikap Wimar.
 
''Forum ini kan untuk masyarakat umum, mengapa oleh Wimar diarahkan untuk Megawati saja,'' protes sumber itu yang ditanggapi sinis Wimar dengan nada apologik. n as/zis/ak/ika
 
 

Print article only

9 Comments:

  1. From redik on 26 September 2006 13:29:13 WIB
    oke punya....
  2. From Daisy on 28 September 2006 16:51:19 WIB
    ini jawaban dari pertanyaan saya di posting sebelumnya kan?

    tapi masih penasaran juga nih knapa kok ww dibilang mendukung megawati? coz i still believe that ww is a profesional moderator kok
  3. From wimar on 28 September 2006 20:47:50 WIB
    daisy, mungkin orang susah membedakan antara ww yang anti-soeharto dan ditahan, dibreidel, dikucilkan jaman orde baru, dengan ww yang menjadi profesional moderator.
    menjelang pemilu 1999, megawati-amienrais-gusdur memimpin kekuatan anti-soeharto. walaupun sebagai modeator tetap seimbang, tapi warna ww yang anti-soeharto mungkin susah dilupakan orang. apalagi waktu itu senang pakai baju merah, seperti sekarang pakai baju orange. untung sekarang nggak dibilang pro-belanda.
  4. From keket on 01 October 2006 14:30:06 WIB
    the host is the king of the show.
    so jangan komplen duong.kebetulan aja itu ww, yang anti soeharto,
    kebetulan juga pakai baju warna merah.tapi gimana ya, kalo
    waktu itu pakai baju warna kuning? hehehe, tambah seru tuch
  5. From mansur on 02 October 2006 12:09:49 WIB
    Tulisan itu juga perlu diprotes karena isinya semua mengenai protes orang terhadap acara Detak Detik Pemilu. Tidak ada penjelasan dari pengelola atau orang yang terlibat menjadi pembicara maupun moderator acara tersebut.
  6. From sutrisno on 27 March 2008 08:48:00 WIB
    saya baru kesempatan 1 x, menyimaknya
    sangat bagus tuk menambah wawasan baru, ide baru
    selamat kang wimar n jam tanyangnya nambah donk/
    siaran ulangnya malam hari.

    terimakasih
  7. From muhamad ridwan on 06 April 2009 11:38:19 WIB
    saya mengharap dan sangat memohon sama semua rakyat indonesia ,tuk mengingat dan memperhatikan apa yang terjadi di indonesi karena semua orang dah tak tau etika hidup yang aman damai dan sejah tera ,hanya karena segelintir golongan yang mau mementingkan dirisendiri jadi semuanya mau di gunakan alat tuk memporandakan negara kita yamng dah merasa mulai hidup yang damai harmonis dan kejahatan dimana \'\'dah mulai tak ada para koruptor ma penguasa jahat dah mulai merasa ketakutan dengan pemerintahan sekarang oleh karena itu marilah kita doakan moga \'\'pemerintahan yang dipimpin presiden sekarang dapat jadi lagi ke pemilihan yang akan datang ingat dulu selama 30 tahun kita dah di perbodoh ama politik jangan sampai kita terulang lagi dari saya rakyat indonesia yang betul \'\'tuk menharap jangan salah kita menentukan pilihankita .sby moga jadi lagi di pemilu yang akan datang amin amin
  8. From anton suwindro on 13 April 2009 15:13:29 WIB
    Maju trus kang WW, ndak apa2, orang Indonesia artinya tambah pinter, ndak mau dibohongi lagi.sampe2 iklan swasembada beras yang diklem oleh tiga partai sbg keberhasilan mereka, mereka diam saja sangkeng pintarnya
  9. From rakin on 19 May 2009 16:14:34 WIB
    Terus aja bang WW. Ntar kita liat bareng2 prang tanding di kurusetra antara pandawa n kurawa, ini dia senapatinya :
    Pandawa : Ibu Kunthi Talibrata dibantu Prabu Parikesit,
    Astina : Prabu Duryudono dibantu Prabu Salyo.
    Dan siapa pemenangnya, kalau panitia jujur dan tidak curang mestinya ya Prabu Parikesit (Prabowo)ngkali.
    Tapi kalau dicurangi sama dhalang, doain aja dhalangnya sakit panuan terus nggak sembuh2.

« Home