Articles

Atasi Banjir: Pilih Gubernur yang tepat

Perspektif Online
02 February 2007

Laporan oleh Hayat Mansur

Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir kembali melanda Jakarta pada tahun ini. Jadi gubernur DKI sekarang yang sudah dua periode terbukti sudah tidak mampu mengatasi banjir. Karena itu menjadi penting mengetahui bagaimana rencana para bakal calon gubernur Jakarta mengatasi banjir ini. Jangan sampai terus ada sindiran, "Masa' ibu kota negara kebanjiran."

Dalam suasana hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada Rabu malam (1/2) dan beberapa wilayah Jakarta sudah mulai kebanjiran, maka tepat sekali acara Gubernur Kita di Jak-TV membahas visi calon gubernur Jakarta untuk mengatasi banjir.

Kali ini calon gubernur yang berani hadir adalah New Comer Abdul Razak yang hanya melamar ke Partai Demokrat, dan dua bakal calon yang menurut Host Effendi Gazali paling rajin berdiskusi dengan publik yaitu Faisal Basri dan Sarwono Kusumaatmadja.

Faisal Basri juga hanya melamar ke satu partai yaitu PDI Perjuangan. Sedangkan Sarwono Kusumaatmadja bersedia melepas jabatan sebagai anggota DPD jika sudah ditetapkan menjadi calon gubernur.

Berikut ini gaya dan visi dari masing-masing calon gubernur (disusun berdasarkan urutan penyampaian yang bersangkutan dalam acara tersebut).

Salam Pembuka

  • Sarwono Kusuma Atmadja : Selamat malam, senang berada di sini
  • Faisal Basri: Selamat malam, jakarta milik kita semua
  • Abdul Razak: Kalau tidak sekarang - kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi

Gubernur Kita mengatasi banjir
Gubernur Kita, 1 Feb 2007

Visi Mengatasi Banjir

Sarwono Kusumaatmadja

  • Risiko banjir ada di seluruh dunia. Jadi yang yang bisa dilakukan adalah mengurangi risiko banjir tersebut dengan mengatur tata air permukaan.
  • Meningkatkan tanggap darurat untuk mengurangi risiko kehilangan harta dan jiwa
  • Meningkatkan kerja sama antar wilayah untuk mengatasi banjir kiriman

Wimar Witoelar: Mengapa dulu itu tidak dilakukan?

  • Itu dilakukan tapi ini ada kaitannya dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Kalau gubernur dipilih rakyat maka tanggung jawabnya tinggi.

Faisal Basri

  • Sudah hukum alam bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Kalau aliran air terhambat seperti akibat ada kerusakan saluran atau pemukiman maka akan menerjang yang ada dan meluap kemana-mana.
  • Banjir karena selokan buruk, tidak dirawat, dan orang banyak buang sampah ke selokan.

Wimar Witoelar: Itu betul sekali dan untuk mengatasi itu memerlukan power, sedangkan Anda tidak pernah punya pengalaman di eksekutif. Dari mana Anda punya power untuk mengatasi itu?

  • Kalau punya pengalaman dulu di eksekutif akan menjadi karatan

Ryaas Rasyid: Itu jawaban yang benar.

  • Agar aliran air dari hulu ke hilir tidak terhambat maka jalannya air yaitu sungai diperbaiki dan saya setuju ada ruang hijau terbuka 10 meter di sisi kiri dan kanan jalan.
  • Ruang terbuka hijau di Jakarta sudah berkurang dari 10%. Ini karena Perda yang mengatur itu berubah-ubah. Semula 28% tapi kemudian dibuat menjadi 16%. Jadi Perda mengikuti kerusakan lingkungan. Itu akibat kalau kita memilih incumbent.

Abdul Razak

  • Mengatasi banjir dengan pendekatan makro, mikro, dan partisipasi masyarakat
  • Pendekatan makro yaitu bekerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lain membuat waduk di daerah puncak sekitar Ciawi dan Bogor serta dibuat beberapa pintu air untuk menahan air dan lumpur
  • Pendekatan mikro yaitu yang menjadi tanggung jawab pemerintah DKI berupa harus adanya kantong-kantong air
  • Partisipasi masyarakat dengan memberikan reward kepada para masyarakat turut berperan mencegah terjadinya banjir


Create polls and vote for free. dPolls.com

Berikut ini pendapat masyarakat dan pemirsa acara Gubernur Kita untuk mengatasi masalah banjir

  • Amir Hamzah (ketua RT di Kampung Melayu, Jakarta Timur):
    Guna mengatasi banjir perlu juga melakukan pengerukan kali Ciliwung karena kini sudah dangkal. Pemerintah belum peduli pengerukan kali Ciliwung
  • Yayang (warga Kampung Melayu)
    Saya setuju dengan Abdul Rozak untuk membuat waduk di Puncak. Masa' iya ibu kota negara kebanjiran.
  • Darma Wijaya (penelpon di Cipinang – Jakarta Timur)
    Anak saya baru saja meninggal akibat deman berdarah (kami turut berduka cita – red). Banjir di Jakarta bukan banjir kiriman dari Bogor. Ini karena kita tidak mengurusi daerah kita seperti menyediakan jalur hijau. Banjir di jalanan karean belum menyiapkan infrastruktur yang baik.
  • Ari (penelpon di Radio Dalam)
    Salah satu mengatasi banjir adalah di setiap rumah membuat resapan air seperti dengan tidak menyemen halaman rumah.
  • Amru Siregar (anggota Asosiasi Pedagang Kaki Lima DKI)
    Bicara banjir adalah masalah klasik. Persoalan banjir pengganguran adalah masalah yang besar.
Tamu Kamis Depan: Adang Daradjatun (kalau tidak batal lagi)

Print article only

27 Comments:

  1. From REDI on 02 February 2007 17:17:26 WIB
    BANJIR: KENISCAYAAN
    Jakarta banjir adalah keniscayaan,sebabnya sederhana, pertama, oleh orang jakarta, vila dipuncak dibikin di daerah resapan air jadi ngerusak lingkungan, kedua, orang jakarta hobby liat tanah kosong dikit jadi bangunan, situ habis jadi perumahan, selokan habis diatasnya ada warung, praktis, air jadi stress, maka banjir terjadi dan ketiga, pemerintah senang buat rencana malas implementasi. Berbagai rencana penanganan banjir disusun, tapi jeblok implementasinya. Saya kira, dengan tiga masalah di atas kita bisa atasi--karena itulah titik yang harus dibenahi.
  2. From wimar on 02 February 2007 18:56:05 WIB
    pasti ada yang mendukung usul redi, dan banyak yang menolak. tapi kalau ada yang mendukung saya jadi gubernur, please dukung pilihan saya yang lebih baik dari ww untuk gubernur dki. siapa itu? ya nanti, kita pilih yang terbaik dari calon yang ada. sekarang, perhatikan bakal calon dan suarakan keinginan anda untuk didengar partai. sudah tahu kan, yang perlu didukung adalah good guy. tidak korup, tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak menutup diri dari komunikasi publik.
  3. From Wiji on 03 February 2007 10:54:51 WIB
    Memalukan sekali, sudah merdeka 62 tahun tapi ibukota negaranya kebanjiran terus. Ini cermin dari pemerintah yg rada2 tolol atau korup atau dua2nya. Rasanya pemerintah pusat harus turun tangan mendobrak kemacetan koordinasi antara gubernur DKI, Jabar dan Banten. Sikat saja yang bandel dan sok mau menang sendiri. Kerugian fisik dan ekonomi akibat banjir terlalu besar untuk tetap membiarkan bencana ini datang terus2an tiap tahun. Masak gak ada yg mampu atasi banjir Jakarta....apa harus minta tolong sama Singapura dan Amerika untuk jalankan roda pemerintah kita? Malu ahh...
  4. From Baskoro on 03 February 2007 17:00:22 WIB
    Cagub DKI harus bisa jadi suri tauladan bagi seluruh warganya. Latar belakang keluarganya (anak-istri) juga harus baik (tidak narkoba, tidak broken-home, tidak main perempuan/ punya istri simpanan, tidak hobby dugem, tidak punya ”cucu by accident”). Resume/ CV Cagub juga harus diekspose ke publik.
    Kalo ngurus keluarganya sendiri nggak becus, gak usah nyalonin dah!! KATRO!! BALIK KAMPUNG AJA!
    Saya usul di episode mendatang, cagub tampil bersama keluarganya. Thanks WW, sorry nggak nyambung sama temanya.
  5. From WiLLy Da\' KiD on 03 February 2007 18:04:18 WIB
    yah banjir lage banji lage.....

    saya geli sendiri sama apa yang terjadi di indonesia, negriku yang tercinta ini.Masa ibukota yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai daerah malah kebanjiran???hehehe,hal yang amat tidak relevan dan membingungkan buat saya.ini karena ulah pemerintah yang hanya peduli dengan urusan uang dan politik mereka atau ulah para warga yang tidak tertib dalam membuang dan mengolah sampah???

    kalau saya pribadi,Mengatasi banjir bukanlah masalah "memilih" siapa yang tepat untuk menjadi gubernur,tetapi "memilih warga negara yang tepat" untuk tinggal itu saya rasa adalah solusi yang cukup baik untuk saat ini.Kalau pemikiran saya, kita tidak bisa terus menerus menyalahkan pemerintah yang selama ini tidak bekerja dalam menangani urusan banjir, tumpukan sampah dan lain-lain.Seharusnya dari diri kita sendiri sebagai warga negara harus sadar bahwa negara kita sudah penuh tumpukan sampah yang harus ditindak lanjuti.percuma saja kalau pemerintah sudah mengeruk sampah tetapi masih banyak warga yang membuang sampahnya tidak tertib.warga sering mengeluh sama banyaknya tumpukan sampah,padahal mereka sendiri tidak sadar bahwa merekalah yang menyebabkan tumpukan sampah itu.

    hehehe,pemerintah jangan marah ya.....
    kalau boleh tanya sama pemerintah,memang tidak ada dana untuk membersihkan tumpukan sampah?waktu G.W.Bush datang,bikin landasan helikopternya saja sampai bermilyar rupiah,masa untuk membersihkan sampah saja yang selama ini datang tanpa henti tidak ada dananya??

    Wasalam, Tuhan MEmberkati..........
  6. From Noertjahja on 04 February 2007 22:21:09 WIB
    Masyarakat harus sadar bahwa beban kota sudah terlalu berat, melampaui kemampuan yang wajar dari pengelolaan kota, juga masyarakat harus sadar bahwa kita punya andil membuat selokan mampet, sungai-sungai penuh sampah dan tinja karena buangan limbah dari rumah tangga, pertokoan, pasar, perkantoran, dan industri. Ini nggak boleh lagi. Bahwa harus ada peran publik yang semestinya perlu mendukung tataguna tanah, pembuangan sampah dan limbah; Bukan hanya menuntut pemerintah. Ada kawasan-kawasan yang memang tidak bisa ditolerir untuk dihuni lagi, dan kalau memang tidak layak huni seharusnya secara mandiri relokasi dari tempat tersebut.

    Udah gitu, saluran alamiah air hujan kan juga berkurang kemampuannya. Ciliwung dulu lebarnya sekitar 70 meter sekarang menjadi sekiter 15 meter, dalamnya dulu sekitar 8-10 meter sedangkan sekarang ini rata-rata tidak lebih dari 2 meter. Untuk itu perlu operasi, pemeliharaan, serta perbaikan alur sungai seperti Ciliwung juga perlu pengerukan besar-besaran untuk mengurangi sedimentasi yang sudah mengeras di bagian sungai. Serta karena saluran alamiah belum cukup, maka perlu tambahan; Misalnya membangun banjir Kanal Timur untuk menampung luapan Cipinang atau membangun sodetan Ciliwung ke bagian hulu Cisadane. Ini perlu dipercepat penyelesaiannya oleh pemerintah.

    Pemerintah juga harus mulai dengan pengumpulan data kawasan mana yang terkena banjir, juga data-data penyebab banjir seperti curah hujan, tata guna tanah, sedimentasi atau sampah. Pemerintah juga bisa berusaha mengurangi aliran air permukaan, dengan mewajibkan rumah-rumah membuat sumur resapan sehingga air hujan tidak mengalir ke jalan, tetapi masuk ke tanah (ini selain untuk mengurangi surface run-off juga untuk Konservasi air tanah). Juga perbaikan jalur hijau di kawasan kritis daerah tangkapan sungai dan waduk-waduk, serta revitalisasi sistem drainase perkotaan : pembuatan baru maupun rehabilitasi yang sudah mampet.

    Kedepan kita harus lebih baik!
  7. From Arwat Marbun on 05 February 2007 08:23:10 WIB
    Usul buat pak SBY, tetapkan tanggal hari libur khusus untuk membersihkan lingkungan2 yang didukung semua elemen masyarakat,...
  8. From sunaryo adhiatmoko on 05 February 2007 11:56:23 WIB
    LIBURKAN Beri Ruang! Keputusan pemerintah untuk meliburkan hari kerja kala musim bencana begini layak dipertimbangkan. Juga perlu ada himbauan agar masyarakat yang tak kena dampak banjir tidak membawa kendaraan keluar rumah. Hal ini terkait, betapa lembaga kemanusiaan yang bergerak melakukan evakuasi dan bantuan medis serta logistik selalu saja terganjal macet di jalan. Dampaknya, bantuan menjadi telat dan evakuasi terlambat. Kami merasakan betul dampaknya, tatkala telepon dari para korban minta tindakan cepat, kami selalu lumpuh menuju lokasi. Bagaimana, bisa dipertimbangkan? Jakarta yg amat padat muskil ada tindakan penyelamatan cepat tanpa kebijakan semacam itu. Ayo ditunggu istruksinya
  9. From chiphie on 05 February 2007 14:12:26 WIB
    Terus terang g selalu bisa ngikutin acara WW di Jak TV karna selalu ikut ketiduran pas nemenin anak tidur. Tapi aku jadi salah satu korban yang rumahnya dikepung banjir alias rumah sendiri g banjir tapi g bisa kemana-mana karna jalanan di sekitar banjir.
    Harapan sebagai warga DKI Jakarta yang juga taat bayar pajak dari gaji (untungnya masih dibayarin kantor :P), semoga Gubernur yang berikutnya bener-bener membuka telinga dan membuka mata untuk perbaikan DKI Jakarta. Ide bikin busway, monorail ataupun subway itu g jelek..bagus banget buat mengatasi masalah kemacetan. Tapi masalah sampah dan banjir jangan juga dilupakan..masa ibu Kota Negera punya siklus banjir tiap 5 tahun ? Kita memang g bisa nyalahin pemprov DKI sepenuhnya, karna salah satu penyebab banjir juga sampah yang bertumpuk di sungai..itu juga akibat kesalahan warga sekitar.
    Tapi kalo boleh usul,mungkin nih..Gubernur berikutnya bisa mulai memperbaiki keadaan ini dimulai dari:
    1.Saluran-saluran got.Waktu pembangunan busway dan monorail yang kepending itu pasti penuh dengan tanah dan sampah.Jalannya ditinggi-in tapi lubang air menuju got maupun gotnya tidak dibersihkan maupun lebih diperdalam. No wonder kuningan yang biasanya ga pernah banjir,jadi banjir.

    2.Pembersihan/pengerukan kali. Kalo orang-orang PEMDA mau cari2 proyek, sebetulnya pengerukan ini kayaknya bisa jadi proyek mereka deh..heheheh. Sebulan sekali sungai-sungai di wilayah Jakarta yang melewati jalan raya yang dipakai oleh hajat hidup orang banyak seprti kali manggarai, kali ciliwung, kampung melayu, kalibata dll dikeruk dan dibersihkan isinya.

    3.Proyek banjir kanal timur yang katanya bisa membantu..ternyata terhambat karna katanya masih ada masalah dengan pembayaran ganti rugi.Kalau orang-orang tersebut bisa segera dibayar ganti ruginya kan proyek tersebut tidak perlu terhambat dan sekarang proyek itu ga membantu sama sekali. Tapi jangan seperti di tanah abang yang sampai ada preman untuk menggusur pedagang2 kecil yang pas2an dan ga mo pindah :)

    4. Tata Kota. Di Jakarta kan banyak orang-orang pintar, sarjana landscape dsb yang kalau emang Gubernurnya merasa kesulitan membuat tata kota yang lebih baik, bisa dong menyewa jasa profesional untuk memperbaiki tata kota DKI yang kita cintai ini? Jangan cuma bisa mengatakan kalau wilayah Jakarta ini secara geografis memang kurang menguntungkan karena sebagian daerah dialiri 13 sungai (aku denger iklan layanan masyarakat di salah satu radio swasta). Kenapa Belanda yang kotanya dibawah laut, belum pernah kedengeran kebanjiran ?. Banjir emang bisa terjadi dimana aja, tapi bisa diantisipasi kan ?

    5.Pembenahan pengolahan sampah. Coba tanya ke negeri jiran..macam mane mereka mengatasi maslaah sampah ini ? kalo awak tak salah, mereka sudah punya sistem pengolahan sampah yang bagus. Tak seperti halnya negara kita yang masalah Pulo Gebang aja masih belum tuntas.

    6. Terakhir,..kesadaran diri sendiri.Karena aku warga DKI juga, aku mulai dari diriku sendiri, membiasakan untuk tidak buang sampah sembarangan tempat dengan menyediakan tempat sampah di mobil, mengajarkan anak untuk membuang sampah di tempatnya, termasuk nyinyir kalau melihat teman, sodara atau kerabat yang membuang sampah sembarangan.

    Kalau lihat teori sih, balon Gubernur DKI yang pernah mengurus masalah lingkungan sih kalau tidak salah pak Sarwono. Semoga yang terpilih bukan yang pernah menduduki jabatan di pemerintahan. Jangan-jangan cuma meneruskan warisan proyek gubernur sebelumnya.
    Pengennya ..DKI Jakarta bisa lebih baik deh di tangan Gubernur berikutnya.Aku yakin, pasti rakyat mendukung kalau begitu.

    Kalau boleh tahu, pemilihan Gubernur berikutnya bisa diplih rakyat langsung ga siy ? yang sebelumnya kan g jelas.
    Terima kasih untuk moderator yang dah mau memuat pendapatku yang panjang banget ini :)
  10. From Si jagur on 05 February 2007 17:52:32 WIB
    Ma'af, ma'af...
    Kalau tidak salah (konon) Wagub yang sekarang berkuasa titelnya itu DR Ing (suka dipamer-pamer tuh di berbagai spanduk, plang anti narkoba dsb) jebolan Jerman jurusan Tata Ruang.

    Lho, jadi selama ini kemana aja ?
    Ilmunya dipake apa ?
    Jangan-jangan bisanya cuma nyalahin orang No.1, karena
    beliau selalu berkilah "saya kan cuma No.2, tidak punya banyak otoritas".

    Nah, kalau sudah begini namanya Pemimpin yang tidak bertanggung-jawab. Udah gitu selama musibah ini terjadi, kagak kedengaran suaranya.

    Kalau memang beliau ini jago tata ruang, seharusnya sudah
    paham bagaimana mengantisipasi dan mengatasi problem banjir
    yang sudah menjadi penyakit menahun Ibu kota ini.

    Kan beliau selalu bilang, jangan serahkan sebuah urusan kepada yang bukan ahlinya. Lah beliau sendiri yang mengaku
    ahlinya, tapi gak berbuat apa-apa ?!

    Jadi, mendingan tawadlu aja dach..!!
    Terlalu lama berada di lingkaran kekuasaan jadi malah lupa sama amanah.

    Buat warga Jakarta yang dikenal sebagai pemilih yang sangat rasional, ya timbang-timbanglah kalau mau mendukung Balongub seperti ini. Gak ada perubahan tuh.

    Juga timbang-timbang kalau mau milih calon Pemimpin yang jarang mau tampil di Publik.

    Jadi :
    1. Jangan pilih kucing dalam karung,
    2. Jangan juga pilih kucing yg sudah ketahuan belangnya.

    Mendingan :
    1. Pilih Calon Pemimpin yang benar2 jelas jati dirinya
    2. Pilih Calon Pemimpin yang jujur, bersih, anti korupsi
    3. Pilih Calon Pemimpin yang steril dari dosa sejarah masa
    lalu
    4. Pilih Calon Pemimpin yang punya komitmen melakukan
    perubahan dan perbaikan
    5. Pilih Calon Pemimpin yang masih muda, cadangan energinya
    masih melimpah, tenaganya masih kuat, semangatnya tinggi
    6. Pilih Calon Pemimpin yang benar-benar pro rakyat, kaum
    marginal yang semakin terpinggirkan.

    Sanes kitu Kang Wimar ?

    Ma'af, ma'af, bukan mau ngajarin.
    Ya sekedar saling mengingatkan.
    Mumpung ada momentnya.

    Adios permios....

    Salam baktos,
    Si Jagur
    Urang Sunda, lahir gede di Jakarta.








  11. From Ando Songan on 05 February 2007 20:20:22 WIB
    Saya mengusulkan salah satu solusi untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta, apakah tidak bisa dengan membuat gorong-gorong besar, sangat besar, mungkin berdiameter hingga 10 meter; di bawah tanah Jakarta yang dapat berfungsi dengan cepat mengalirkan air ke laut. Terima kasih.
  12. From hendry on 05 February 2007 21:59:44 WIB
    pilih gubernur yang mau bikin waduk di 4 wilayah DKI kan tanah pemda banyak jangan dijual terus donk, jangan pilih gubernur yang mau bikin busway lagi, karena akan bikin macet & banjir & pemborosan bahan bakar akibat macet bisa ratusan milyar perbulan & pemborosan waktu kerja karna macet, cari gubernur yg mau ganti busway dengan monorail, cari gubernur kebijaksanaannya tidak menyengsarakan rakyat dan pemborosan seperti lampu motor disiang hari tidak hemat energi, untuk ACCU dan PIRCES LAMPU bisa mencapai trilyunan perbulan. satu lagi jangan pilih gubernur yang melarang orang merokok hE..HE...
  13. From lily on 07 February 2007 02:11:24 WIB
    Ha ha ha..mau ganti gubernur berkali - kali juga, percuma saja. Masyarakat nya juga aneh, mau jauh dari macet tapi jalan main sodok, main blok sana - sini. jauh dari disiplin. mau nggak banjir tapi buang sampah seenak udel. mau jauh dari nyamuk demam berdarah tapi malah menciptakan nyamuk.
    Yah...toleransinya jangan hanya memojokkan gubernur atau petinggi negara saja lahh. Karena urusan harus bangun ini, bangun itu utk antisipasi banjir dll akan jadi pemborosan dan tak ada gunanya jika masyarakatnya tutup telinga dan mata juga nich. Jadi jangan hanya bisa protes adanya korupsi ini itu dll, capekk...ngurus yang begituan, yang susah diatur itu penduduknya/ masyarakatnya.

  14. From Banjirun on 07 February 2007 09:22:27 WIB
    Kalau ngomongin banjir di Jakarta, malu juga sih. Sebenarnya sudah zaman Orde Lama Bung Karno pernah punya rencana membuat bendungan di Sempur Bogor dekat Istana Bogor. Kalau itu jadi kan ada tempat wisata dan jakarta nggak kebanjiran apalagi kalau penduduk jakarta itu tidak kaya harta saja tapi juga kaya otaknya, kaya hatinya, jadi tidak buang sampah semaunya. Coba lihat kalau mereka ke puncak atau ke bogor, sampah mereka banyak sekali.......
  15. From agung on 07 February 2007 12:20:44 WIB
    saya sependapat dengan ususlan bang radjak dengan pendekatan makro mikro dan peran serta masyarakat yaitu salah satunya seperti yang dipaparkan oleh bang radjak dengan membangun kantong-kantong air di hulu dan aliran sungai yang mengalir ke Jakarta (misalnya daerah puncak, sentul dst.
    peran serta masyarakat untuk turut bertanggungjawab terhadap kelestarian lingkungannya merupakan keharusan.
    AMIIEEEEN......
  16. From dmitri on 07 February 2007 12:36:56 WIB
    bravo para calon!
    sudah beberapa bulan kedengeran pencalonan diri masing-masing. sayang kita terkena musibah dulu sebelum mulai bisa mendengar rencana kerja para calon [biarpun belum jelas]. selamat dan terima kasih. juga untuk WW, karena situs Anda bisa dipercaya.

    komentator2 disini juga sudah kasih bahan omongan bagus. dan tanpa bahan omongan, gimana para calon bisa komunikasi sama pemilihnya. mau ngomongin sepakbola itali?

    ngomong2, banyak yang komentar ttg penduduk jakarta bikin susah sendiri. coba deh tanya, siapa sih yang paling rese buang sampahnya, dan siapa yang tinggal di daerah paling rawan banjir (baca: deket kali?). contoh didaerah gua di pejaten: pekerja bangungan yang lagi ngebangun gedung2 ruko, dan para pengusaha warung yang berbondong dgn keluarga mereka buka warung buat pekerja bangunan.

    saya jadi pengen tanya, gimana caranya saya secara demokratis bisa menentang kegiatan seperti itu?
  17. From gubrak on 07 February 2007 20:24:35 WIB
    jakarta kan emang potret (negara kelautan) indonesia... jd ya lumrah aja... kalo dari tgl 2 februari sampe sekarang jakarta (bener2) PAMER sebagai barometer NEGARA KELAUTAN INDONESIA...ada perairan dangkal, ada arus deras (ombak) ada pulau2

    Yang paling tidak masuk akal adalah alasan banjir besar siklus 5 tahunan... tau tp tidak buat apa2??? siapa yang pejabat siapa yang penjahat, siapa yg goblok siapa yg digobloki??? only god know why???

    Nah kalo langkah2 praktisny (usul tambahan buat dmitri):
    1. pengunjung perspektif.net jangan beli properti dr developer yg ngebangun di daerah resapan/tangkapan banjir
    2. apartment jg bukan solusi...
    3. jangan kunjungi dan belanja di tmpat yang dulunya diplot jadi daerah "hijau"...(mall/pasar modern dls)
    4. bagi yg naik mobil karcis tolnya jagan asal lempar dong...
  18. From willy on 07 February 2007 22:39:32 WIB
    sapa pun gubernurnya, gw jamin yang namanya banjir(bencana alam) pasti ada.
    Beda dengan banjir karena got tersumbat.

    Kenapa hanya bencana banjir yang selalu disalahkan gubernur?
    Kalo gempa bumi gimana? Apakah anda mau menyalahkan gubernur juga?

    Bencana alam hanya dapat diminimalisir, inilah yang disebut dengan seleksi alam.Yang tidak dapat survive ya byebye....

    Disisi lain, ketidakdisiplinan manusia-manusia yang SUSAH DIAJAR juga meyebabkan kebanjiran ini seperti membuang sampah sembarang(dah dikasih tau masih saja...),membangun pemukiman liar(dah dibongkar....bangun lagi....), dll.
    SADAR lah......
    5-10 tahun mendatang, tidak menutup kemungkinan Jakarta benar2 akan tenggelam. Banjir kali ini masih belum ada apa2nya dibanding dengan Tsunami di Aceh.
  19. From dmitri on 08 February 2007 01:36:54 WIB
    buat Gubrak, terima kasih. saya coba isi soalnya ya:

    1. done
    2. done
    3. almost, karena belanja supermarket masih perlu.
    4. kemana-mana naik taxi/busway/ojek/pesawat terbang. jadi enggak buang kertas apa-apa.

    yah, lumayan lah, dapet 75!

    yang lain gimana?
  20. From Anton on 08 February 2007 14:22:49 WIB
    Sutiyoso is the best

    "Bandjir hanjalah riak ketjil dalam samuderanja Revolusi di Djakarta...."

    ANTON

    Sutijoso For President
    Rano Karno For Djakarta Major
  21. From berlin simarmata on 08 February 2007 17:30:43 WIB
    kalau melihat masalah banjir dan lingkungan rasanya cocok pak sarwono k yg jadi gubernur,sedangkan kalau melihat masalah ekonomi kerakyatan cocoknya faisal basri.semoga salah satu yg terpilih deh.
  22. From De Truth on 17 February 2007 08:59:34 WIB
    Siapa-pun gubernur-nya tidak jadi masalah, karena siapa pun yang jadi gubernur pasti ingin Jakarta lebih maju. Mudah-mudahan lah kita nantinya mempunyai gubernur yang berani bertindak tegas menindak preman, pungli, pengendara yang amburadul (terutama sopir kendaraan umum), mengelola sampah dengan baik dan benar. Pasti Jakarta akan NYAMAN, AMAN & TENTERAM.
  23. From Singo edan on 19 February 2007 14:52:23 WIB
    Apa hubungan antara pemilihan gubernur dengan soal mengatasi banjir,saya kira gak ada tuh? masalahnya siapapun jadi Gubernur DKI yang akan datang akan bisa menyelesaikan masalah banjir asal memiliki:
    1. Mau menjalankan rencana kerja yang telah ditetapkan.
    2. Berani ambil resiko untuk memperbaiki aliran sungai yang telah mapet dengan rumah2 kumuh.
    3. Gak hitung2ngan komisi tender saat menjalankan proyek perbaikan aliran sungai.
    saya kira kalau ini dipunyai gubernur DKI yad pasti bisa mengatasi bajir.
  24. From Rani Estiyani on 09 April 2007 00:10:19 WIB
    terserah siapapun gubernurnya, YG PENTING JANGAN CUMA OMDO alias OMONG DOANG! KAMI PERLU BUKTI BUKAN JANJI!
  25. From edwin songan on 16 June 2007 14:29:56 WIB
    GAMPANG AJA,INTINYA ADALAH PENEGAKAN HUKUM DI SEGALA BIDANG, PASTI SEMUANYA AKAN BERES.
  26. From uli angeline on 03 November 2007 20:22:22 WIB
    mau tanya nih saya mahasiswi dkv untar..mau buat tugas iklan layanan masyarakat tentang membuang sampah pada tempatnya. saya mau tanya gimana caranya biar iklan yang saya buat kena dimasyarakat dan bisa menyadarkan masyarakat..trims buat masukannya..
  27. From Ando Songan on 22 November 2007 19:24:34 WIB
    Suatu hal bisa dilihat dari seberapa Penting dan Mendesak..

    Yang PENTING dan MENDESAK menurut saya :

    Jangka pendek adalah penegakan hukum..

    Jangka panjang adalah pendidikan & kesejahteraan..

    Bukannya yg lain tidak penting lho..!

    Ini mungkin bukan yg Utama tapi yang Pertama..he..he..he..

    HIDUP INDONESIA-KU !!!

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home