Atasi Banjir: Pilih Gubernur yang tepat
Perspektif Online
02 February 2007
Laporan oleh Hayat Mansur
Seperti tahun-tahun sebelumnya, banjir kembali melanda Jakarta pada tahun ini. Jadi gubernur DKI sekarang yang sudah dua periode terbukti sudah tidak mampu mengatasi banjir. Karena itu menjadi penting mengetahui bagaimana rencana para bakal calon gubernur Jakarta mengatasi banjir ini. Jangan sampai terus ada sindiran, "Masa' ibu kota negara kebanjiran."
Dalam suasana hujan lebat yang mengguyur Jakarta pada Rabu malam (1/2) dan beberapa wilayah Jakarta sudah mulai kebanjiran, maka tepat sekali acara Gubernur Kita di Jak-TV membahas visi calon gubernur Jakarta untuk mengatasi banjir.
Kali ini calon gubernur yang berani hadir adalah New Comer Abdul Razak yang hanya melamar ke Partai Demokrat, dan dua bakal calon yang menurut Host Effendi Gazali paling rajin berdiskusi dengan publik yaitu Faisal Basri dan Sarwono Kusumaatmadja.
Faisal Basri juga hanya melamar ke satu partai yaitu PDI Perjuangan. Sedangkan Sarwono Kusumaatmadja bersedia melepas jabatan sebagai anggota DPD jika sudah ditetapkan menjadi calon gubernur.
Berikut ini gaya dan visi dari masing-masing calon gubernur (disusun berdasarkan urutan penyampaian yang bersangkutan dalam acara tersebut).
Salam Pembuka
- Sarwono Kusuma Atmadja : Selamat malam, senang berada di sini
- Faisal Basri: Selamat malam, jakarta milik kita semua
- Abdul Razak: Kalau tidak sekarang - kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi
Visi Mengatasi Banjir
Sarwono Kusumaatmadja
- Risiko banjir ada di seluruh dunia. Jadi yang yang bisa dilakukan adalah mengurangi risiko banjir tersebut dengan mengatur tata air permukaan.
- Meningkatkan tanggap darurat untuk mengurangi risiko kehilangan harta dan jiwa
- Meningkatkan kerja sama antar wilayah untuk mengatasi banjir kiriman
Wimar Witoelar: Mengapa dulu itu tidak dilakukan?
- Itu dilakukan tapi ini ada kaitannya dengan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Kalau gubernur dipilih rakyat maka tanggung jawabnya tinggi.
Faisal Basri
- Sudah hukum alam bahwa air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Kalau aliran air terhambat seperti akibat ada kerusakan saluran atau pemukiman maka akan menerjang yang ada dan meluap kemana-mana.
- Banjir karena selokan buruk, tidak dirawat, dan orang banyak buang sampah ke selokan.
Wimar Witoelar: Itu betul sekali dan untuk mengatasi itu memerlukan power, sedangkan Anda tidak pernah punya pengalaman di eksekutif. Dari mana Anda punya power untuk mengatasi itu?
- Kalau punya pengalaman dulu di eksekutif akan menjadi karatan
Ryaas Rasyid: Itu jawaban yang benar.
- Agar aliran air dari hulu ke hilir tidak terhambat maka jalannya air yaitu sungai diperbaiki dan saya setuju ada ruang hijau terbuka 10 meter di sisi kiri dan kanan jalan.
- Ruang terbuka hijau di Jakarta sudah berkurang dari 10%. Ini karena Perda yang mengatur itu berubah-ubah. Semula 28% tapi kemudian dibuat menjadi 16%. Jadi Perda mengikuti kerusakan lingkungan. Itu akibat kalau kita memilih incumbent.
Abdul Razak
- Mengatasi banjir dengan pendekatan makro, mikro, dan partisipasi masyarakat
- Pendekatan makro yaitu bekerja sama dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah lain membuat waduk di daerah puncak sekitar Ciawi dan Bogor serta dibuat beberapa pintu air untuk menahan air dan lumpur
- Pendekatan mikro yaitu yang menjadi tanggung jawab pemerintah DKI berupa harus adanya kantong-kantong air
- Partisipasi masyarakat dengan memberikan reward kepada para masyarakat turut berperan mencegah terjadinya banjir
Berikut ini pendapat masyarakat dan pemirsa acara Gubernur Kita untuk mengatasi masalah banjir
- Amir Hamzah (ketua RT di Kampung Melayu, Jakarta Timur):
Guna mengatasi banjir perlu juga melakukan pengerukan kali Ciliwung karena kini sudah dangkal. Pemerintah belum peduli pengerukan kali Ciliwung - Yayang (warga Kampung Melayu)
Saya setuju dengan Abdul Rozak untuk membuat waduk di Puncak. Masa' iya ibu kota negara kebanjiran. - Darma Wijaya (penelpon di Cipinang – Jakarta Timur)
Anak saya baru saja meninggal akibat deman berdarah (kami turut berduka cita – red). Banjir di Jakarta bukan banjir kiriman dari Bogor. Ini karena kita tidak mengurusi daerah kita seperti menyediakan jalur hijau. Banjir di jalanan karean belum menyiapkan infrastruktur yang baik. - Ari (penelpon di Radio Dalam)
Salah satu mengatasi banjir adalah di setiap rumah membuat resapan air seperti dengan tidak menyemen halaman rumah. - Amru Siregar (anggota Asosiasi Pedagang Kaki Lima DKI)
Bicara banjir adalah masalah klasik. Persoalan banjir pengganguran adalah masalah yang besar.





27 Comments: