Articles

Si Kribo, Sang Provokator?

Tabloid Adil
07 July 1999
Wimar Witoelar diprotes sejumlah kalangan. Ia dituding sebagai provokator. Ia bahkan diteror. Wimar dianggap memihak Megawati dalam acara Detak Detik Pemilu yang dipandunya. Benarkah ia sudah tidak netral lagi sehingga merugikan kelompok lain? Mengapa ia semakin populer saja?
 
Acara Detak Detik Pemilu yang ditayangkan serempak oleh seluruh stasiun televisi nasional, 24 Juni lalu memang agak berbeda dari acara serupa sebelumnya. Lihat saja pembawaan si pemandu Wimar Witoelar pada talk show yang diselenggarakan oleh Penitia Pemilihan Indonesai (PPI) setiap ari Rabu malam itu.
 
Dalam acara yang menampilkan Ketua PPI, Jacob Tobing, Wakil Ketua KPU Adnan Buyung Nasution, Wakil Ketua Panwaslu Todung Mulya Lubis, dan pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti tiu, banyak kejanggalan yang muncul. Disadari atau tidak, forum yang melibatkan partisipasi aktif penonton itu telah melenceng dari tujuan diadakannya acara itu. Sebagai moderator acara itu, Wimar tampaknya sudah kebablasan.
 
Saat Adnan Buyung menjawab pertanyaan tentang problem sistem pemilihan presiden yang melibatkan utusan daerah dan golongan, Wimar memotongnya dengan mengatakan masalah itu bisa diatasi jika usulan Presiden Habibie tentang pemilihan langsung dilaksanakan. Karena suara terbanyak jatuh ke Megawati, katanya, barangkali beliau bisa mendukungnya jadi presiden. "Kalau Habibie konsisten dengan usulannya ya bisa diusahakan supaya Golkar mendukung Megawti," ujuarnya.
 
Begitu juga ketika seorang penonon menanyakan soal kemenangan PDI Perjuangan yang mengharuskan Mega jadi presiden, Mulya Lubis menjawab idealnya pemilihan presiden dilakukan secara langsung tanpa melalui Sidang Umum MPR. Seyogyanya partai yang menang pemilu diberi hak jadi presiden. Dan kembali Wimar memotong penjelasan itu dengan menarankan, "Kalau suara sudah kelhatan mendukung satu orang maka yang lain menggunakan mekanisme MPR untuk mendukung keputusan rakyat itu".
 
DIKRITIK PENONTON
 
Rupanya sikap Wimar dalam acara tersebut tidak disukai oleh seorang penonton dari Bintaro, jakarta Selatan. Tanjung -demikian namanya- mempertanyakan tujuan diadakannya forum itu yang katanya untuk kepentingan publik. Dalam kenyataanya acara itu menurutnya cenderung mendukung parpol tertentu. "Ini forumnya rakyat, atau PPI, atau Mega. Mungkin ini perlu dikoreksi lagi" pintanya. Pertanyaan serupa menjelang berakhirnya acara itu juga sempat muncul dari penelpon.
 
Pertanyaan Tanjung itu langsung ditanggapi Wimar. "Kalau penonton menghendaki cara atau moderator yang lain ya silakan saja. Buat saya tidak ada masalah, " katanya. Mantan konsultan manajemen ini sendiri mengaku memang kurang objektif dalam menilai persoalan politik. Dan dengan gampangnya, tanpa merasa berdosa, dia mengakhiri jawaban tersebut dengan mengatakan, "Inilah namanya forum pendapat yang demokratis".
 
Ketidaksukaan terhadap pembawaan Wimar ternyata tidak terhenti sampai disitu. Stasiun teve swasta Indosiar yang menampilkannya dalam acara Selayang Pandang persis usai acara bermasalah itu pun tidak lepas dari protes. Beberapa penonton yang mengira aara itu disiarkan secara langsung, mempersoalkan kenapa wimar masih dipakai sebagai moderator. Padahal dalam acara Detak Detik Pemilu, ia dianggap tidak netral lagi.
 
Protes itu terus berlanjut. Harian Republika mengaku telah menerima belasan telepon, faksimile, dansurat dari berbagai kalangan yang mempersoalkan kenapa Wimar masih dipakai sebagai moderator. Padahal dalam acara Detak Detik Pemilu, ia dianggap sudah tidak netral lagi.
 
Sebelum itu, pembaca di harian Kompas awal Juni lalu mengomentari tulisan Wimar di rubrik surat pembaca. Dalam suratnya itu, Rudy Rakhmadhy -nama pembaca itu- menyebut Wimar telah menyerang orang-orang yang tak disukainya. "Saya melihat, semakin lama gaya bahasa Sdr. Wimar sudah semakin tidak efektif, tidak taktis, dan lebih cenderung memaksakan kehendaknya", tulisnya. Ia juga menganggap penilaian Wimar tidak objektif dan terkesan memiliki kepentingan terselubung.
 
DIHANTUI TEROR
 
Diluar duggan, protes terhadap Wimar berlanjut sampai ke rumahnya. Wimar mengaku sudah beberapa kali diteror oleh orang tak dikenal. Hanya saja teror itu seringkali yang menrima bukan dia langsung melainkan istri dan anak-anaknya. Si peneror kepada salah seorang anaknya lewat telepon Kamis (24/6) lalu mengatakan, "Apa benar ini rumahnya Pak Wimar si provokator itu?"
 
Di lain waktu peneror bersuara laki-laki itu mengancam, "Jangan kira kami takut sama Anda walaupun badan Anda besar dan seperti babi hutan," tuturnya menirukan si penelpon gelap itu. Besoknya, dia diteror kembali, "Anda tidak layak jadi pemandu televisi, lebih baik jadi pemandu binatang saja di Ragunan". Susahnya setiap kali menelpon, peneror itu tidak mau diajak komunikasi. Setelah ngomong, teleponnya langsung dimatikan.
 
Tidak hanya itu. Di depan rumahnya Jl. Madrasah 5B Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan, seringkali terlihat ada beberapa orang yang gerak-geriknya mencurigakan. Sekelompok anak muda bertampang kriminal tiba-tiba muncul, dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Di kantornya, PT. InterMatrix di Kompleks Perkantoran Duta Mas Fatmawati, jakarta Selatan juga tidak lepas dari teror. Lewat telepon dan faksimile ancaman serupa juga diterima Wimar.
 
Kenyataan tersebut tentu saja merepotkan Wimar sekeluarga. Sebab selama menjadi pemandu atau moderator di televisi, dia belum pernah sekalipun mendapatkan teror semacam itu. Bahkan sewaktu acara Perspektif yang disiarkan di SCTV empat tahun silam, dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seseram itu - kecuali acaranya distop tanpa alasan yang jelas. Istri dan anak-anaknya jelas yang paling ketakutan atas peristiwa itu.
 
Siapakah peneror itu? Sampai sekarang Wimar sendiri mengaku tidak tahu siapa mereka itu, atau siapa yang berada di balik itu, atau siapa yang berada di balik itu. Namun begitu, kalau dilacak asal-usulnya kelihatannya masalah itu bersumber pada acara Detak Detik Pemilu yang dipandunya Rabu tiga pekan lalu. Bisa jadi ada orang atau kelompok yang merasa dirugikan atas pernyataannya dalam acara itu.
 
Mungkinkah itu berasal dari Golkar dan para pendukung setia Habibie?
 
ORANG BERBAHAYA?
 
Memang bukan kali ini saja Partai Golkar dan Habibie diserang oleh Wimar. partai bergambar pohon beringin ini selalu jadi bulan-bulanan dalam setiap acara talk show yang dipandunya. Begitu juga dalam tulisan-tulisannya. Kolom Asal Usul di harian Kompas yang setiap dua minggu sekali menampilkan tulisannya hampir selalu menyerang Golkar yang dianggapnya pro status quo.
 
Dalam beberapa acara diskusi yang dipandunya belakangan ini, Wimar juga seringkali memberi warning, jika Golkar berkuasa kembali maka rakyat akan protes. Jika Habibie menjadi presiden, aparat keamanan akan disibukkan oleh aksi-aksi mahasiswa. " Protes, demonstrasi, aksi massa di jalanan adalah hak rakyat", katanya dalam acara talk show yang disiarkan banyak radio. Wajar saja, bila ada yang menuding dia sebagai provokator.
 
Sebaliknya, Wimar tidak bisa menutupi kekagumannya pada tokoh-tokoh partai yang dianggapnya reformis meskipun posisinya sebagai moderator. Megawati, Amien Rais, dan Gus Dur adalah nama-nama yang selalu dipujanya. Di mata pria tambun berambut kribo ini, merekalah yang layak memimpin negari ini. Merekalah kekuatan reformasi yang akan menjegal kekuatan pro-status quo. Sikapnya selaku pemandu dalam acara Detak Detik Pemilu yang dibawakannya adalah salah satu buktinya.
 
Sebelum acara itu, Eki Syachrudin bahkan dalam tajuknya di Tabloid Siaga edisi 20, tanggal 18 Juni 1999 sudah memberi peringatan. Ketua Bapilu partai Golkar ini menganggap Wimar sebagai orang berbahaya. "Bila wimar terus melanjutkan hujatan, padahal pertandingan telah berakhir, komunitas Golkar akan mencatatnya sebagai orang berbahaya," tulis Eki. Dan, ternyata Wimar mengulangi menghujat Golkar pada acara yang digelar pada 23 Juni lalu.
 
TIDAK NETRAL
 
Sikap netral bagaimanapun harus dimiliki oleh seorang moderator dalam memandu sebuah acara diskusi ataupun talk show. Moderator diadakan untuk mengatur jalannya proses diskusi yang melibatkan beberapa narasumber yang berbeda pandangan. Ibarat seorang polisi lalu lintas yang mengatur kendaraan dari berbagai arah, dia harus mampu membuat jalan jadi lancar - tidak macet. Tidak ada kendaraan yang menabrak kendaraan lain atau mencelakai pengguna jalan.
 
Prof. Dr. Andi Muis, S.H. menyebutnya sebagai fasilitator. Dia juga mengingatkan moderator bukanlah seorang komentator walalupun dia bisa juga memberikan komentar dan meluruskan kalau ada pendapat yang kurang pas. "Dia hanya sampai disitu. Dia tidak mengambil alih menjadi pembicara", jelas pakar Komunikasi Hukum dari UI dan Unhas kepada ADIL. Seorang moderator menurutnya juga sama dengan komunikator di mana dampak pesannya akan sampai kepada khalayak.
 
Sejauh mana sikap wimar bisa ditolerir kenetralannya? Djuhad Mahja, Wakil Ketual PPI mengaku sangat kecewa dengan acara Detak Detik Pemilu yang dipandu oleh pria kelahiran Padalarang itu, "Sebab dia leibh memihak pada salah satu partai, dan juga kurang objektif",, ujar anggota PPI dari PPP ini kepda ADIL. Oleh karena itu ia meminta PPI memberi peringatan kepada Wimar agar tidak bertindak ceroboh dalam memandu acara yang bertujuan untuk mensosialisasikan kerja PPI itu.
 
Sebaliknya salah seorang narasumber dalam acara Detak Detik Pemilu saat itu, Ikrar Nusa Bhakti menganggap Wimar dalam memandu acara itu masih cukup netral. Alasannya, dia juga melakukan pemotongan terhadap pertanyaan penelpon yang nglantur. Namun begitu, dia mengakui komentar-komentar Wimar memang kadang-kadang cukup memojokkan buat orang yang tidak suka mendengarnya, khususnya dari kelompok Islam yang masih memandang wanita nggak boleh jadi presiden.
 
Karena itu Ikrar menganggap wajar ada dua orang penelpon yang mengatakan Wimar tidak netral. "Karena Wiamr mengatakan 40% kemenangan dalam pemilu itu sudah mayoritas, sementara ada masyarakat yang mengatakan bahwa kemenangan itu belum mayoritas", ujar pengamat politik dari LIPI ini kepada ADIL. Sukapnya itu menurutnya bisa dimaklumi mengingat dia mantan aktivis. Sehingga pandangannya kadang lebih berpihak pada kelompok yang kira-kira akan menggantikan pemerintah yang ada sekarang.
 
Wimar sendiri kelihatannya tidak ambil pusing dengan masalah itu. Munculnya pro dan kontra itu menurutnya justru menandakan siaran itu laku dan diminati masyarakat. Ia juga mengaku telah mendapat surat dukungan dari banyak orang atas perannya di acara itu. Meskipun merasa tak bersalah, ia menyadari ada orang lain yang tidak suka pada penampilannya. Dan, dalam acara berikutnya ia ternyata sudah bisa tampil lebih hati-hati dan bijak.
 
Adapun penampilan Wimar di televisi dan radio - juga tulisannya di media cetak - agaknya merupakan fenomena yang patut dicermati. Sebetulnya sudah lama mantan aktivis ITB ini sinis dan nyinyir sama Golkar, pemerintah, dan Habibie. Sudah lama orang mengkritik sikap-sikap 'tak bersahabat' itu. Tetapi, mengapa penampilan Wimar selalu dinanti-nanti orang? Mengapa kegiatan talk shownya semakin laris saja?
 
Mereka yang tak suka pada penampilan Wimar, agaknya perlu mencatat, memperhatikandan mempelajari: ada apa di balik popularitas Wimar? fajar/azeb/chris/dikki/syahdan
 
 

Print article only

3 Comments:

  1. From balya on 27 September 2006 14:20:30 WIB
    Hehehe …… inget kejadian di tahun 1999 ini lucu juga .....
    Dalam Detak Detik Pemilu edisi 24 Juni 1999 WW sebagai moderator dianggap tidak netral, oleh sebagian pendukung Presiden Habibie, dan dianggap sangat kental mendukung Mega. Buntutnya keluarlah di cover tabloid Adil gambar WW dengan headline ‘Dia Moderator, dia Provokator’

    Ingin tahu sebabnya kenapa dituduh tidak netral??

    Menurut saya, karena saat itu WW memakai baju Kota-kotak Merah jadi seperti Mega banget gitu. Ditambah Todung yang duduk disamping sang moderator juga memakai dasi yang mencolok juga MERAH ...

    Penasaran ?? Mau lihat rekamannya ?? pasti WW punya …… Nobar yuuu ...:D
  2. From wimar on 29 September 2006 19:36:01 WIB
    kuat sekali ingatannya. iya, saya lagi senang pake baju merah. yang di kartun comment ini juga kotak-kotak merah kan... terus kalau cerita mengenai orang lawan soeharto kelihatan senang, apa itu megawati, gus dur, amien rais
  3. From rieff on 27 October 2007 23:09:14 WIB
    buka-buka artikel lama, nostalgia ke masa lalu boleh juga neh, judul di cover adil itu "dia moderator,dia provokator"...tapi yang menonjol bukan tipe provokatornya malahan kribonya...(dari eks wartawan adil)

« Home