Articles

Imlek sudah resmi, bagaimana nasib Tionghoa?

Wimar's World
14 February 2007
Dikutip dari majalah area:

Era 1965-1998, Imlek sempat dilarang dirayakan di depan umum di Indonesia. Instruksi Presiden No. 14/1967 yang dikeluarkan Presiden Soeharto menyatakan larangan terhadap segala hal berbau Tionghoa, di antaranya Imlek. Baru pada tahun 2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres tersebut. Kemudian, Presiden Megawati Soekarnoputri menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 19/2002 tertanggal 9 April 2002 yang menyebutkan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, Imlek resmi menjadi hari libur nasional.

Menyambut Imlek tanggal 18 Februari, Wimar's World malam ini akan bertanya: Imlek sudah resmi, bagaimana nasib orang Tionghoa? Tiga tamu malam ini adalah:

  1. Lucky Krompis - anggota angkatan pertama Perspektif Mailing List, warga keturunan tionghoa berprofesi sebagai eksekutif pada perusahaan swasta bergerak dalam bidang roofing contractor
  2. Hendrawan - juara dunia bulu tangkis, atlet Indonesia berprestasi, keturunan tionghoa yang mengalami kesulitan soal menjadi WNI termasuk masalah dalam urusan SKBRI
  3. Anton J Supit - pengusaha dan pendiri partai, keturunan tionghoa dan menjabat sebagai ketua APINDO
Tune in ke Jak-TV jam 21.30 dan catat nomor utk SMS dan telpon, atau tinggalkan komentar sekarang juga di bawah. Kalo sempat pasti dibacakan on air...
 

Update dari Tayangan Wimar's World 14 Feb 07 di JakTV:

Oleh Hayat Mansur

You Are Not Alone

Dua hari terakhir ini pada saat istirahat makan siang, saya menikmati atraksi barongsai di sebuah ITC di Jakarta Selatan. Suasana Imlek pun sudah terasa di sana dan berbagai pusat pertokoan lainnya.

Ini bisa dinikmati berkat reformasi yang kemudian ditindaklanjuti Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri dengan peraturan yang mendorong persamaan hak sipil warga etnis Tionghoa di Indonesia.

Namun sayang, walau kini sudah mudah menikmati barongsai dan perayaan Imlek diakui,  ternyata belum sepenuhnya tercapai persamaan hak sipil. Etnis Tionghoa kini masih kerap mengalami diskriminasi seperti diminta Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia (SBKRI) yang secara resmi tidak dibutuhkan lagi.

Perkembangan dalam peraturan pemerintah sudah bagus, tapi ini bukan yang paling penting. Yang penting adalah pelaksanaannnya.

Ini terungkap dalam acara Wimars World Rabu malam. Dalam kaitan ini, penghargaan patut disampaikan kepada para narasumber Lucky Krompis, Hendrawan, dan Anton J Supit yang tetap bangga menjadi WNI walau sering mengalami diskriminasi terutama bagi teman-teman yang kurang beruntung. Juga kepada penelpon Toni yang berani melawan diskriminasi.

Saya orang Betawi asli,. Untuk saudara kita dari etnis Tionghoa, saya ucapkan: You are not alone. Sebagian besar warga Indonesia adalah pluralis.

Berikut beberapa nukilan wawancara tersebut

Penyebab Diskriminasi

Wimar: Imlek sekarang sudah menjadi libur nasional. Apakah itu berarti etnis Tionghoa sudah merasakan persamaan hak dan martabatnya seperti etnis Indonesia lainnya?

Lucky: Bagi saya pribadi, imlek menjadi hari libur nasional atau tidak adalah tidak penting. Saya melihat itu adalah hasil politik menuju arah lebih baik untuk mengurangi perbedaan

Wimar: Apakah itu keinginan pemerintah atau refleksi masyarakat dalam menerima lebih baik etnis Tionghoa?

Lucky: Saya pikir sebelum ada keputusan itu sekalipun, masyarakat Indonesia secara umum tidak membeda-bedakan. Tapi politik yang membuat ada perbedaan. Jadi kemana arah bandul politik itu didorong para politikus kita pada zaman Soeharto.

Wimar: Apakah peristiwa kelam seperti Mei 1998 merupakan peristiwa politik atau rasialis?

Lucky: Itu tetap suatu peristiwa politik. Ini terlihat antara lain saat itu tempat tinggal saya yang dikonotasikan sebagai pemukiman etnis Tionghoa menjadi target kerusuhan. Tapi saya melihat mereka yang melakukannya bukan masyarakat sekitar.

SBKRI

Vera (Penelpon etnis keturunan Tionghoa): Saya setiap mengurus paspor harus memiliki SBKRI. Mengapa masih harus pakai SBKRI padahal sekarang sudah ada persamaan hak?

Wimar: Pertanyaan ibu menjadi harus diperhatikan aparat pemerintahan dan lembaga-lembaga yang meminta SBKRI. Ini juga ada SMS yang menyatakan, “Persamaan hak hanya teori. Buktinya orang Tionghoa masih sulit mengurus surat-surat.” Bukti hak kaum Tionghoa belum dilaksanakan di lapangan

Wimar: Apakah ada pengaruh status Tionghoa dalam kebintangan Anda?

Hendrawan: Sekarang mungkin orang masih mengenal saya sehingga tidak ada kesulitan dalam mengurus surat. Tapi kalau mengurus paspor, saya masih diminta SKBRI. Pada waktu itu juga saya diminta uang Rp 700 ribu per orang. Padahal orang Tionghoa banyak dan bukan hanya orang beruntung seperti saya semua

Wimar: Asumsinya orang Tionghoa punya banyak uang. Tapi apakah kebijakan harus memberi uang sekarang masih ada?

Hendrawan: Kalau sekarang, katanya, itu sudah dicabut. Tapi untuk SBKRI tetap berlaku.

Wimar: Apakah masih diminta SBKRI untuk mengurus paspor?

Hendrawan: Masih. Tahun lalu saya memperpanjang paspor dan diminta SBKRI

Wimar: Jadi masih dibutuhkan SBKR?I

Hendrawan: Iya dalam prakteknya. Padahal peraturannya tidak.

Wimar: Saya mohon kepada Dirjen Imigrasi dan Menteri Hukum dan HAM untuk memperhatikan ini - Hendrawan: Dulu, ketika pertama kali mengurus SBKRI pada 2001 dan saat itu telah menjadi juara dunia, selama setahun tidak selesai. Padahal pada 2002 saya harus memperkuat Tim Thomas Indonesia. Lalu saya cerita kepada wartawan dan kemudian mereka membantu dengan memberitakannya sehingga Presiden Megawati mengetahuinya dan dibantu.

Wimar: Apakah Lucky atau teman Anda juga mengalami hal sama dengan SBKRI?

Lucky: Banyak yang mengalami sama. Istri saya mengurus paspor tetap diminta SBKRI.

Menggunakan Hak Sipil

Toni (penelpon keturunan Tionghoa): Pada dasarnya diskriminasi itu ada. Jadi tergantung kita mau atau tidak diperlakuan demikian. Saya sewaktu mengurus paspor juga diminta uang, tapi saya tanya apa dasar hukumnya?

Wimar: Jadi bapak berani melawan. Apakah Anda menguasai bela diri atau berbadan besar?

Toni: Tidak. Mereka hanya mau mencari uang saja. Kalau ada diskriminasi kita harus berani melawan.

Wimar: Apakah Anda tidak mendapat perlakuan buruk seperti dipukul?

Toni: Mereka tidak akan berani.

Wimar: Itu suatu sikap yang bagus. Tidak menerima begitu saja perlakuan diskriminatif. Apakah Anda yang di sini juga pernah melakukan hal tersebut?

Lucky: Ada yang berhasil dan ada yang tidak. Misalnya, ketika saya mengatakan ketentuan baru tidak ada keharusan ada surat ini dan itu, mereka menjawab: 'Juklaknya belum turun,  sehingga ketentuan itu tidak berlaku.'

Anton: Jadi memang perlu orang seperti Toni. Dalam hal ini ada dua cerita yang seperti Toni. Pertama, ada orang asing yang ingin pulang ketika terjadi kerusuhan Mei 1998. Saat itu ada pesawat yang khusus evakuasi warga negara Belanda. Ketika diributkan akhirnya manajer perusahaan pesawat tersebut datang dan dia diberikan tiket gratis. Ketika cerita ini saya sampaikan ke Megawati. Megawati menceritakan pernah mengalami hal sama. Ketika itu Megawati dicekal di counter oleh pemerintahan Soeharto tanpa pemberitahuan. Tapi ketika dibuat ribu akhirnya Megawati boleh terbang. Jadi esensinya, demokrasi itu setiap orang punya hak hidup, punya hak berpendapat, dan memiliki hak memilih siapa yang akan memerintahnya. Kalau orang yang akan dipilihnya akan membuat sengsara maka jangan dipilih.

Ruang Politik

Wimar: Apakah masih ada ruang politik untuk menyelesaikan masalah ini?

Anton: Jujur saja, ada kemajuan secara politik. Misalnya di Bitung, keempat calon walikota semua beretnis Tionghoa. Tapi itu harus melalui partai politik karena belum memungkinkan calon independen. Padahal mekanisme perekrutan di Parpol belum menunjukan hal yang baik seperti masih ada KKN dan money politics.

Diskriminasi Tempat Parkir

Penelpon: Saya seorang pribumi. Saya sering berbelanja di ITC Mangga Dua dan di lantai dua tempat parkir tersebut ada tulisan, “Khusus Taipan.” (Taipan artinya pengusaha besar) Jadi Etnis Tionghoa sendiri juga melakukan diskriminasi.

Anton: Khusus Taipan itu maksudnya khusus untuk tamu restoran Taipan. Di sana memang ada Restoran bernama Taipan dan menyewa ruangan besar, sehingga mungkin mendapat privilege tertentu.

Wimar: Saya juga pernah makan disana, diundang Pak Kuncoro. Nonton nggak Pak?

Print article only

74 Comments:

  1. From wimar on 14 February 2007 13:04:55 WIB
    bisa juga catat nomor2 ini utk ikut diskusi selama acara tv:

    sms 0816-113-8877 telpon 021-515-5111
  2. From WiLLy Da\' KiD on 14 February 2007 17:17:33 WIB
    GONG XI FAT CHAI
    SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2007
    BAGI YANG MERAYAKAN

    pesan : Baca sampai habis yah.......

    well,nasib etnis tionghoa kayaknya makin subur di Indonesia. Makin marak keturunan etnis tionghoa di Indonesia, mau di Jakarta,Bandung,Semarang,Jogjakarta,Bahkan luar pulau jawa pasti ada etnis tionghoa. Saya sendiri juga termasuk etnis tionghoa yang berdomisili di Jakarta selatan, agak selatan lagi sih tepatnya. tapi tentu saja suatu golongan, partai, etnis, ras, agama dan organisasi-organisasi lain akan ada pihak yang pro dan kontra. yah seperti itulah nasib etnis tionghoa, ada yang pro pasti juga ada kontra dengan keberadaannya, secara subjektif saya mengatakan lebih banyak yang kontra daripada pro terhadap etnis tionghoa.

    Ambil contoh kecil saja, masih banyak saja orang-orang diluar etnis tionghoa yang meng"UNDER-ESTIMATE" etnis tionghoa, ada yang bilang "PELIT", "SIPIT", "SOMBONG", "TIDAK BERSOSIALISASI", "NUMPANG DITANAH ORANG" dan masih ada beberapa kata-kata kasar yang terlontar dari segelintir orang diluar sana. sebenarnya saya benar-benar merasa kesal dan marah sebagai salah satu dari banyak anggota etnis tionghoa, tapi yah apa mau dikata, etnis tionghoa khan hanya numpang ditanah orang Indonesia yang dapat dikatakan kelompok minoritas juga. Jadi kita harus tunduk sama "Tuan Tanah". Ini saja baru contoh kecil, belum lagi kalau ada yang ingat dengan jelas pada kerusuhan tahun 199*(berapa ya??saya lupa), waktu itu banyak sekali toko, rumah, termasuk orang-orang tionghoa yang di"BANTAI" habis-habisan oleh orang-orang diluar etnis tionghoa. Banyak wanita keturunan tionghoa yang diperkosa dan dianiaya, banyak pertokoan dan lapangan kerja milik orang tionghoa yang dirusak hingga hancur oleh orang-orang diluar etnis tionghoa. Jujur, saya mewakili etnis tionghoa amat merasa takut, soalnya DAMN MAN, ini masalah nyawa, keluar rumah aja bisa kena lempar golok, pisau, batu, parang, dll, WHAT DA' HELL IS THIS????. Saya menilai waktu itu, dimata mereka nyawa bukanlah sesuatu hal yang patut dipertimbangkan untuk dihargai dan diberi kebebasan untuk bertahan hidup. Pertanyaan saya. Apa orang-orang waktu itu memiliki moral dan akal sehat??? Apa mereka tidak merasa bersalah waktu membantai orang-orang yang belum tentu bersalah terhadap mereka???

    Pasti kalau ditanya untuk mengganti rugi atas kerusakan secara fisik dan mental pada waktu itu, tidak akan ada satu orangpun dari mereka yang membantai akan mengacungkan tangan tinggi-tinggi. yah, karna lagi-lagi terhambat oleh kata minoritas, saya juga tidak mau menyalahkan mereka membantai, saya hanya mau menyampaikan permohonan maaf tatkala ada sesuatu yang dianggap tidak menyenangkan oleh orang-orang diluar etnis tionghoa, kami hanya manusia biasa yang berusaha untuk bertahan hidup dinegri orang, jadi kamipun juga memilik hak asasi, hak untuk hidup dan hak untuk berkarya. toh walau kami etnis tionghoa, kami juga lahir dan besar di negara Indonesia, jadi secara non-genetis kami juga orang Indonesia.......

    Untuk saat ini saya hanya berharap untuk tidak memandang etnis tionghoa dengan sebelah mata saja.

    Wasalam, Tuhan MEmberkati Indonesia.....
  3. From wimar on 14 February 2007 18:22:44 WIB
    willy, kami di blog ini adalah orang2 yang bukan saja mendukung pluralisme, tapi juga melakukan banyak upaya untuk meningkatkan penghargaan kepada minoritas.

    Salah satu usaha itu adalah acara malam ini yang diberitakan diatas. Gunakanlah kesempatan ini untuk melakukan dialog konstruktif melalui sms atau telpon yang nomornya tertera diatas.

    Hanya dengan cara ini kita bisa membawa perjuangan untuk kaum minoritas maju lagi beberapa langkah. Tidak bisa dengan memaki-maki dan menjauhkan mereka yang sebetulnya bersimpati pada anda. Gunakan kesempatan berkomunikasi dengan jernih.
  4. From bhotghel on 14 February 2007 19:44:02 WIB
    Tidak cukup dgn menghargai, pluralitas harus diterima seperti penerimaan diri kita terhadap identitas yang sedang melekat di diri kita masing-masing. Dialog dan upaya terus menerus untuk memberi ruang terhadap kelompok minoritas untuk membicarakan dirinya akan semakin membuka mata setiap orang untuk tidak terlalu cepat menghakimi identitas, anutan, pikiran, kepercayaan, cara pandang orang lain itu sesat. Selamat dan sukses untuk acara ini.
  5. From lee on 14 February 2007 21:41:08 WIB
    y diharapkan agar keharmonisan antara pihak mayoritas dan minoritas ini dpt terwujud.biar kita yg tinggal di indonesia ini merasa nyaman aman..

    terima kasih..sukses selalu untuk acaranya^^
  6. From Lia on 14 February 2007 21:59:34 WIB
    pak wimar, saya senang dengan diskusi mengenai pluralitas di indonesia ini. sayangnya masyarakat cenderung menghindari topik SARA, padahal kapan masalah SARA akan selesai kalau tidak dibahas?
    saya sedih pak, melihat masih begitu banyak pelecehan terhadap keturunan tionghoa. bahkan saya sendiri masih terkena. mungkin memang sudah sifat dasar manusia ya pak untuk membeda- bedakan.
    kasus kerusuhan anti tionghoa tahun 98, tolonglah pak presiden, diurus. pelanggaran HAM besar2an yang membuat saya sedih.
    prejudice dan justifikasi terhadap masyarakat tionghoa, sebut saja pembesar2 yang dikatakan melarikan kekayaan indonesia ke luar negeri, menurut saya bodoh. sayangnya rakyat indonesia memang bodoh kebanyakan, ilmu tinggi2 percuma dipelajari, dari dalam pribadi masing2 masih membeda2kan.
    pak, untuk di bidang pendidikan, terutama di bidang pemberian beasiswa sangat terasa diskriminasi. teman saya, begitu pintar dan berbakat, namun karena dia keturunan tionghoa, beasiswa malah dialihkan ke orang 'asli'

    sampai kapan mau begini?
  7. From abdullah on 14 February 2007 22:28:35 WIB
    Saya senang dengan adanya acar ini, cuma 1 yang pasti pluralisme adalah harus jika suatu negara ingin maju. diskriminatisi memang agak berkurang tapi tidak signifikan mungkin ada kemajuan 20% dibanding sebelum 98. seringkali orang bertanya pada saya anda keturunan? ya saya bilang keturunan.. adam dan hawa? kenapa demikian? karena kita lahirpun tidak bisa memilih mau dimana? jadi suku apa? mau jadi apa? dll intinya tidak bisa by request alias terima nasib/takdir. saya yakin banyak dari warga indonesiapun demikian kalau disuruh milih pasti yang bagus maunya mungkin jadi artis hollywood yang ganteng atau konglomerat kayak donald trump. so urus diri masing2 aja karena yang disebut pribumipun saya yakin 12-16keterunan diatasnya masih satu darah lagian kenapa repot2 toh diluar negri juga orang nge judge hanya ada 1 ras ASIA Choy... jadi intinya ini negara bukan punya siapapun yang pasti harus dijaga bersama. contohlah USA & Canada multiras dan tetap aman2 aja, ga gede rasa dan rasial.
  8. From willie pandeirot on 14 February 2007 22:34:09 WIB
    gong xi fat cai.s
  9. From surya on 14 February 2007 22:57:36 WIB
    wah, saya benar2 terkejut dg topik yg sedang dibahas pada acara ini. saya sbg warga keturunan tionghoa merasa kami semakin diperhatikan dg adanya acara ini.

    mungkin saya ingin sedikit berbagi cerita, bkn ingin memperkeruh mslh ato ingin membuat mslh baru(remember that...^^)

    saya punya sebuah cerita nyata, ini dialami olh seorang warga keturunan tionghoa pd wkt kerusuhan 1998, pada saat terjadi kerusuhan tersebut seorang bapak dr sebuah keluarga menyaksikan istri dan ank gadisnya diperkosa didpn mata kepalanya sendiri. bapak ini msh hidup sampai sekarang, tetapi dg menyimpan sebuah kenangan terpahit yg tdk bs dilupakan seumur hidupnya, ia menangis tanpa henti ketika menceritakan cerita ini...cb saudara2 sekalian membayangkan, bagaimana rasanya melihat dengan mata kepala sendiri istri dan ank anda diperkosa dan anda tidak dpt berbuat apa2...sangat2 menyakitkan...

    tp, itu smua sudah berlalu, tujuan saya bercerita disini adalah untuk membawa kita smua(baik pribumi maupun non-pribumi) untuk kembali merenungkan...kenapa hal itu bs terjadi, kenapa sampai terjadi...apakah smua kerusuhan tersebut dpt menyelesaikan masalah???

    saya rasa tidak, justru akn menambah kepahitan di dlm hdp kita sendiri.

    jd, saya cm bs berharap kepada saudara2 sekalian(baik pribumi or non-pribumi) kita sebagai manusia yg sm2 hidup didlm suatu negara, jgn sampai ada lg dan jgn sampai terjadi lg hal2 yg dapat membuat luka pada diri kita dan sesama, hiduplah secara berdampingan dg damai, percayalah bahwa hidup yg sudah diberikan kepada kita itu INDAH.

    itu saja komentar dr saya, sukses trus buat acaranya...^^
  10. From Amsiong on 14 February 2007 22:58:14 WIB
    Kung si fa chai, sin nien khuai le... barudak kabeh sadayana hopefully this lunar new year everything is gona be ok, especially for aparat yang masih suka korup alias pungli kalau kita mau bikin surat2.

    Thanks Mr. Wimar we love you big guy
  11. From angga on 14 February 2007 23:08:38 WIB
    saya juga ikut merayakan

    GONG XI FAT CAI

    jadi minoritas jangan jadi halangan, usahakan dengan maximal agar kita punya arti di masyarakat, jangan terlalu terbawa omongan sumir di luar, om wimar benar juga, mgkn itu bagian dari simpati yang penyampaiannya unik. banyak hal yang bisa kita lakukan, kegiatan sosial, organisasi masyarakat, ikut lsm, dan banyak lagi. dimanapun masalah minoritas itu ada, sebaiknya menurut saya, pandai2 aja kita membawa diri, jangan mencari masalah yang gak perlu,, jadikan macem2 budaya di negri kita khasanah karya yang maha esa. think positive,,,,
  12. From huang on 15 February 2007 08:07:20 WIB
    Pagi pak Wimar Ndut (puas-puas? tak sobek-sobek...)
    semalam ada SMS yg mengatakan bahwa orang cina suka nyogok, nyuap ya.
    Menurut saya, cuma orang gila yg mau ngasih duit hasil kringat sendiri tanpa dipaksa (halus dan kasar).
    Jadi kenapa kita harus nyuap kalo gak ada yg minta, nah siapa yg minta?
    Kita lebih berpikir logis, time is money, jadi daripada berkutat dg waktu ngomong dg orang goblok, ya kita mengalah deh.

    Sejak mei 1998, saya jadi sebel dg oknum2 ini, jadi sampai skrg hemat saya, saya gak mau ikut campur urusan berantas korupsi, pokoknya mereka minta duit, saya kasi duitnya. toh kita ada hitung2annya dong, selama masih masuk cuek aja.
    Papa saya suka marah marah sendiri kalo nonton TV ttg kriminal,etc terutama pelakunya non chinese, saya bilang, bodo amatlah, emang papa mau ajarin mereka jadi org baik??? gunanya apa???
  13. From JX Dai on 15 February 2007 08:31:25 WIB
    Masalah pengurusan surat-surat yang harus melampirkan SKBRI memang hal sangat TIDAK masuk diakal. Contohnya saja kalau ingin memperpanjang paspor, kenapa harus menyertakan bertumpuk-tumpuk dokumen? Apakah pihak kantor imigrasi sendiri TIDAK yakin atau percaya kalau paspor yang ditebitkan sebelumnya adalah ASLI? Jadi seharusnya untuk urusan perpanjangan paspor cukup dengan menyertakan paspor lama yang asli & KTP sudah cukup.
  14. From Gong Li on 15 February 2007 08:59:27 WIB
    Wah kalau segala macam kerusuhan itu dibilang untuk menghancurkan etnis china saya tidak setuju. Karena saya juga terkena padahal saya bukan etnis china. Tapi ya memang perusuh itu kan memang cuma mau memanfaatkan situasi untuk keuntungan dirinya sendiri. Soal sogok menyogok itu juga sama, emang cuma golongan etnis china yang diminatiin uang sogokan, nggak ya semua yang mau dapat pelayanan yang agak "baik" harus kasi uang sogokan. Jadi semuanya kena cuma ada yang merasa ini untuk golongan kami saja, nggak benar itu. Hidup China. Dulu juga pacar gua dari golongan china.
    Kalau hidup dengan etnis china ya sudah dari kecil saya hidup bertetangga, bersuka ria, bersusah-susah sama etnis china, mau diapain lagi. Berkelahi sama mereka juga pernah, nggak apa-apa lah namanya orang hidup. Salam ya, golongan kamu banyak yang cantik2 lho.
  15. From wimar on 15 February 2007 09:02:30 WIB
    Huang dan kawan-kawan, anda punya pikiran yang bagus-bagus. Kalau disampaikan dengan santun maka pikiran anda akan lebih didengar.

    Kalau sekedar mau melampiaskan marah, boleh saja, tapi lama-lama orang nggak mau dengar lagi .. :))
  16. From JX Dai on 15 February 2007 09:06:03 WIB
    Sebenarnya diskriminasi di Indonesia bukan hanya dialami oleh etnis Tionghoa. Tetapi rasanya hampir semua yang berbau minoritas baik itu suku, agama dll juga mengalami hal yang sama. Menurut pendapat saya pribadi, yang paling mengalami diskriminasi di Indonesia adalah RAKYAT MISKIN baik yang pribumi maupun yang non-pribumi yang mana dapat kita lihat sendiri dimana hak-hak mereka TIDAK bisa dipenuhi oleh negara. Pernah mendengar pepatah carilah ilmu sampai ke negeri China? Simaklah di http://news.yahoo.com/s/afp/20070127/od_afp/chinamediareligion_070127070811 dimana anda dapat melihat bagaimana pemerintah China memperlakukan/menghargai/menghormati kaum minoritas MUSLIM di China yang kalau dihitung dalam persentase adalah sangat-sangat-sangat kecil dari total penduduk China. Inti dari berita tersebut adalah dalam memasuki tahun baru Imlek (tahun babi), pemerintah China MELARANG TV nasional menampilkan tayangan iklan bergambar babi demi menghormati kaum minoritas MUSLIM di negeri tersebut.
  17. From mako on 15 February 2007 09:14:46 WIB
    Masyarakat indonesia harus membiasakan diri untuk TIDAK MEMASANG label SARA pada saat membuat satu tuduhan.

    Satu-satunya label yang dapat dipasang adalah KETERANGAN PERBUATAN

    bukan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan)


    Jadi kalau mau ngomong:

    Edi Tansil itu korupsi karena dia Cina (INI SANGAT SALAH)
    Edi Tansil itu korupsi karena dia bawa kabur duit rakyat Indonesia (INI BENAR)


    Teroris itu orang yang agamanya ISLAM (INI SANGAT SALAH)
    Teroris itu orang yang mengacaukan negara dan membunuh orang-orang yang tidak berdosa demi tujuan pribadi (INI BENAR)


    pada saat kita menuduh, mari yang kita lihat adalah perbuatan yang dilakukan , dan bukan pada warna kulit, bentuk mata, dari tanah mana dia lahir, dan siapa yang dia sembah!


    Angkat topi buat ketiga nara sumber di acara wimar's world episode imlek tadi malam ! Meski sering menderita berbagai Imacam kesulitan, namun jiwa anda bertiga jauh lebih cinta indonesia dibanding saya yang bukan warga negara keturunan namun malah sudah berkali-kali ingin jadi warga negara itali karena ingin dianggap italiano oleh orang banyak (tetep ga ada yang percaya sih hehehehehe).


    Salut kepada Anton Supit, Lucky Krompis, dan Hendrawan yang merupakan saudara-saudara sebangsa dan setanah air saya, bangsa dan tanah air Indonesia
  18. From huang on 15 February 2007 09:57:11 WIB
    Dear Pak Wimar,

    emang sih, maaf ya, cuma tuh ya, kalo kita pakai bahasa yg santun, justru oknum2 itu gak mau dengar pak. Kalau kita ngomongnya agak kasar dan mencak2 dikit, malah jadi perhatian mereka.
    Buktinya Bos Gus Dur ceplas ceplos selalu jadi perhatian, kalau beliau ngomongnya santun malah dianggap angin.
    misalnya DPR yg seperti anak TK, dihaluskan menjadi apa ya...

    kembali ke leptop....

    yg saya ungkapkan di comment nomor 12 bisa jadi gak cuma saya sendiri lho, banyak dari keluarga Tionghoa jg begitu.
    Saya dulu 10 tahun pak di LN, kembali ke indo udah BERHASIL melawan beacukai di post lap. banteng, bikin SIM mobil antri sampai selesai, tanpa calo. Calo polisi saya tolak kok.
    cuma sesudah BERADAPTASI agak lama, udah gak bisa begitu...waste time karena saya jg lumayan sibuk sekali.
  19. From Setya on 15 February 2007 10:31:43 WIB
    Bang Wimar,

    Saya ada sedikit cerita, Alm ayah saya kelahiran tahun 1910 (kalau ngga salah) ketika berurusan dengan salah satu instansi kalau ngga salah kehakiman (atau apa ya?), kemudian ada pertanyaan "dulu sebelum menjadi warga negara Indonesia, bapak warga negara apa?"
    Pada saat itu bapak saya sedikit bingung dalam menjawab, karena yg dia tahu bahwa dia lahir di tanah jawa dan ayahnyapun juga lahir di tanah jawa sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, jadi dengan penuh keraguan dia menjawab bahwa dia dulunya adalah warga negara Belanda, karena bapak saya merasa bahwa alangkah mustahilnya kalau dia harus menjawab bahwa dia warga negara Cina, sebagai orang keturunan cina dia tidak pernah berwarga negara cina baik dia ataupun kakek saya.
    Sayapun berpikir mungkin benar juga karena secara administrasi kita di bawah belanda sebelum merdeka ? apa iya ?

    Sayapun jadi kepikiran juga, saya ngga tahu Bang Wimar berusia berapa, tapi saya yakin bahwa Bapak saya dan Bapaknya bang Wimar pasti satu warga negara, iya ngga ?
    Salam
  20. From ZI on 15 February 2007 10:42:04 WIB
    Pak Wimar ysh,


    Kenapa acaranya hanya di Jakarta saja ?
    Kami yang di daerah juga ingin joint, karena kami juga mengalami diskriminasi sejak dahulu hingga kini. Bahkan bukan tidak mungkin di masa mendatang.

    Menurut pendapat kami, ada satu faktor yg salah dalam pendidikan. Diskriminasi bermula dari penjajahan. Penjajah memilah-milah masyarakat kita. Dan kaum Tionghoa adalah kaum pedagang perantara di masa lampau. Masyarakat minoritas melihat hal ini sebagai ketidakadilan, sehingga selanjutnya ketidakadilan ini dikembalikan dalam jaman kemerdekaan. Mungkin inilah hukum karma yang berlaku.

    Saya sendiri adalah PNS, tapi status kepegawaian dan pendapatan saya tidak sebanding dengan teman sekerja. Maaf, ga niat nyombong, mereka umumnya mempertahankan saya karena saya masih memiliki kelebihan khusus. Ketika kelebihan tersebut saya tularkan, maka posisi saya pun didepak habis. Jadi selanjutnya berlaku stigma, buat apa jadi PNS ? mendingan jadi pengusaha aja. Buat pengusaha yg sering mengalami masalah akan berpikir, buat apa usaha, kalo terus dipersulit (masyarakat dan penguasa negeri)? Duitnya masukin bank atau invest ke RRC aja lah. Mending pabriknya ditutup.

    Dari sini kita mengalami langsung, bagaimana lingkaran setan dimulai. Contohnya juga sudah ada, salah satu adalah pabrik karroseri terbaik Adiputro. Walhasil, kita sekarang panen pengangguran yg punya kompetensi macam tukang las, tukang dempul, tukang cat, desain interior, dll.

    Pepatah Jerman mengatakan: "Der Fisch faengt vom Kopf an zu stinken". Terjemahannya kira2, ikan membusuk dimulai dari kepalanya. Jadi semua pemimpin harus punya niat yang bijak dan bajik untuk memperbaiki keadaan. Pemimpin itu adalah guru, sesepuh lingkungan, kepala rumah tangga sampai ke Presiden dan wakilnya.
    Pak Wimar jadi Wapres aja ya ? ayo laaah...
  21. From Hj. Syafei bin mansyur al amin on 15 February 2007 11:02:13 WIB
    Assallamu alaikum wr wb,

    Mas wimar dan semuanya. saya hanya prihatin dengan diskriminasi terutama pada etnis chinese kenapa demikian disamping indonesia yang dikenal rasial/sara baik pada kehidupan bermasyarakat maupun politik indonesia sangat ketinggalan bila dibandingkan negara2 lain, jangankan eropa dan amerika, dengan tetangga aja kayak malaysia kita tertinggal sangat jauh... disana orang bebas berbudaya bukan hanya itu disanapun rasa memiliki sangat tinggi karena semua merasa sama dan diperlakukan sama. untuk itu saya menghimbau pemerintah dan masyarakat marilah kita saling menghormati dan jangan mau menang sendiri seperti FPI, FBR, dan semua yang memancing di air keruh..

    Wassalam,
    Syafei
  22. From Reni on 15 February 2007 12:42:45 WIB
    Dh. Pak Wimar,
    saya nonton acara Anda semalam, saya jadi ingin sharing mengenai pengalaman terakhir seputar diskriminasi.
    Kebetulan keluarga saya tinggal di daerah Jakarta Barat, di dalam perumahan yang boleh dibilang "banyak Cinanya", dan kebetulan seluruh kompleks terendam banjir dengan kedalaman air berkisar dari sedengkul sampai seatap rumah.
    Pasca banjir, tentu saja seluruh rumah mengeluarkan sampah-sampah yang seabrek-abrek di jalanan depan rumahnya. Beberapa hari terakhir ini, sesuai instruksi dari Gubernur kita, datang para petugas dengan mobil-mobil TNI / Pol PP, dengan tujuan membantu mengangkut sampah2 itu ke pembuangan akhir.
    Cuma yang membuat saya kurang sreg adalah, petugas2 tersebut jelas2 meminta biaya yang relatif mahal pada tiap-tiap RT jika kita mau mereka mengangkut sampahnya.

    Hal ini menimbulkan kesan negatif bagi saya, karena jika dilihat dari luar kotak, praktek ini tidak jauh beda dengan premanisme yang seringkali dialami etnis Tionghoa dalam berurusan dalam segala hal.
    Sepertinya : selama masih bisa 'memeras' (duit) orang Cina, kenapa nggak ?
    Begitu kira-kira.
    Padahal kalau dari sudut pandang saya (dan mungkin juga beberapa orang Tionghoa lainnya), jika mereka sudah mengerjakan tugasnya dan kita puas, kita juga tentu akan dengan senang hati memberi sedikit lebih sebagai bentuk penghargaan. Jangan justru ditekankan nilai uangnya sebelum pekerjaan tersebut dilakukan.

    Saya kita segitu saja pandangan saya. Semoga orang etnis Tionghoa dan non-Tionghoa masing2 bisa menyadari porsinya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, bertindak dengan tanggung jawab, sehingga tidak menimbulkan terlalu banyak perselisihan pada kedua belah pihak.

    Wasalam.
  23. From toni on 15 February 2007 12:49:20 WIB
    yth Bpk wimar,

    yah mau tidak mau, harus diakui bahwa diskriminasi itu ada. yang dapat dirasakan sekali terutama di kota jakarta.

    saya tidak tahu mengenai kondisi di kota lain, tetapi yang saya tahu, kondisi ini bertolak belakang sekali dengan kondisi di kota manado, dimana dapat dikatakan bahwa diskriminasi tidak ada, kalaupun ada, itu sedikit sekali. dan pembauran antara orang chinese dan non chinese terjadi dengan baik sekali.

    harapan saya adalah suatu saat jakarta dapat tercipta suasana yang sama di jakarta. mungkin tidak seperti di kota manado, karena mengingat besarnya kota, jakarta itu juga jauh lebih besar daripada manado.

  24. From Candra on 15 February 2007 13:18:10 WIB
    Salut buat acaranya bang wimar, dan semoga indonesia kedepannya bisa lebih maju lagi. Hindari diskriminasi terhadap ras2 tertentu terutama warga etnis Tionghoa, toh mereka juga merupakan orang indonesia yang lahir dan besar di indonesia. Dalam sepakpola Rasialisme sangat di perangi oleh induk sepkabola (FIFA)maupun para anggotanya dan semoga dalam masyarakat indonesia, rasialisme juga bisa di perangi juga... Salam dari anak melawi...
  25. From vugo on 15 February 2007 14:08:54 WIB
    salut buat bang wimar yang secara terbuka dan berani untuk membuat acara ini. sungguh acara yang patut diperbanyak agar terjadi kesepahamana antara masyarakat minoritas dan mayoritas di indonesia. dan buat pak haji safei saya sungguh hormat kepada bapak yang berani bersuara dan mendukung hal ini , ini membuktikan bahwa sesungguhnya hanya sebagian masyrakat yang bersuara miring tentang masyrakat tionghoa, semogga jumlah orang2 yang mengerti seperti bapak akan bertambah jumlahnya

    konghi 2
  26. From angga on 15 February 2007 14:55:18 WIB
    sekarang saatnya kita berusaha keras merubah paradigma yang negatif, defense boleh, tp jangan kelewatan, malu kalo kita dianggap gak punya etika,,, yuk maju ke depan, maju ke peradaban yg santun, the show must go on,, nunggu terus orang berubah ya lama,,,, jangan saling jaga jarak,,
  27. From siswi sma on 15 February 2007 15:22:30 WIB
    paK,,,,

    saya adlh seorng anak kterunan tionghoa...
    papa mama lahir di Kalimantan,,,

    ermm,, saya ingin menyampaikan unek2 saya,,,

    saya bersekolah di Negeri,,,

    memang tidak ada masalah,,

    Tapi ada seorang guru dy guru agama,,,

    selalu menjelek-jelekan org keturunan, padahal ia tidak tahu pasti tentang org tionghoa,
    org CINA ia bilang suka nipu,, lah pkoknya,,
    tyap pelajaran ia saya tidak tahan,,

    sama mesti bagaimana sedangkan saya sendiri d sekolah sbgai,, org minoritas,,

    saya yg msh sekolah saja sdh mndpt tekanan, bagaimana kelak saya menghadapi hidup apabila saya bekerja kelak...
  28. From wimar on 15 February 2007 15:50:51 WIB
    siswi sma (penulis comment no 27), saya juga mengalami masa yang sulit pada waktu menjalani tahun-tahun di sma, dan bukan mengenai masalah keturunan. tekanan terasa kuat di tahun-tahun remaja kalau kebetulan kita berada di posisi yang tertekan.

    setelah kita dewasa, belum tentu keadaan makin buruk. malah orang yang tadinya menekan kita, menjadi tertekan karena kurang persiapan hidup, kerjaannya gangguin orang melulu. sedangkan kita yang tertekan merasa stress itu membuat kita tambah kuat.

    kalau tetap merasa kurang yakin, hubungilah kakak-kakak di intermatrix, nanti bisa sama-sama menghadapi tekanan itu.

    jangan takut, biasanya orang yang menekan itu tidak disukai orang, walaupun dia guru agama. :)
  29. From Haman on 15 February 2007 16:06:11 WIB
    Ayo, bersikap seperti Toni agar mulai imlek tahun ini di Indonesia lengkap ada 12 shio. Bukan hanya tiga shio seperti selama ini yaitu kelinci (percobaan), sapi (perahan), dan kambing (hitam).

    Gong Xi Fa Cai
  30. From grobak on 15 February 2007 16:27:36 WIB
    Menurut saya sudah dari dulu orang2 di wilayah Indonesia hobi berpecah belah, konflik antar suku, agama, bahkan antar kampung hingga saat ini. Tentunya diskriminasi cina bukan satu2nya, orang tua suku A melarang anaknya untuk berjodoh dengan suku B karena punya sifat yang tidak disukai..., dsb. Menurut saya solusi yang bisa mengatasi adalah penekanan kita terhadap ego kedaerahan, ras, dan agama, kemudian saling menghormati dan menahan diri, banyak bergaul dan tidak menutup diri, tidak rasial dalam perkawinan... ya seperti yang diajarkan waktu sekolah SD dulu..
  31. From adila on 15 February 2007 17:47:00 WIB
    Sebenarnya,kebiasaan menstereotype itu yang salah dan perlu diubah. Saya sendiri yang bersuku sunda mempunyai banyak teman yang beretnis tionghoa, dan kami tidak pernah ada masalah dalam bergaul. Sejauh pengetahuan saya orang pelit dan licik itu pasti ada di semua suku,ras, dan agama.
    Sebaiknya, pelajaran PMP atau pendidikan moral pancasila bisa lebih dipergunakan untuk mengajarkan pentingnya kerukunan hidup berbangsa dan bermasyarakat daripada hanya menghafalkan butir-butir pancasila dan undang-undang dasar.
  32. From redi on 15 February 2007 21:23:26 WIB
    Seringkali ditanyakan komitmen org tionghoa bagi bgs Ind. Padahal seharusnya pertanyaan tsb ditujukan ke pemerintah! Sedari dulu org Tionghoa tetap saja tinggal di Indonesia. Yang harus diragukan komitmennya justru Pemerintah ! Karena Pemerintah lah yg tidak menuntaskan kasus Peristiwa 98, berbagai kasus2 korupsi, kasus konflik2 di daerah Poso, Ambon, Kasus trisakti, Semanggi dst dst. JAdi kita harus melepaskan diri dari pertanyaan "dont ask your country..." Sekarang adalah saatnya "you have to ask your country what they have done to you!!!"
  33. From Lucky D. Krompis on 15 February 2007 23:05:18 WIB
    Dear All,

    Senang juga baca tanggapan kawan-kawan mengenai acara ini.
    Sayangnya slot acara TV itu mahal harganya dan kita cuman punya kesempatan ngobrol satu jam.

    Bung Willy ( Comment No. 2) tidak jauh berbeda sayapun mengalami hal seperti itu dalam masa kecil saya.
    Akan tetapi kalau kita menjadi menutup diri dan tidak mau bergaul karena merasa dibedakan, justru disitulah kita akan kehilangan harapan jika satu saat kita bisa diterima dalam lingkungan kita. Tunjukan bahwa kita bukan seperti apa yang mereka kira, itu semua butuh waktu dan pengorbanan. Mana duluan telur atau ayam?
    Kita tidak bisa berharap kondisinya baik dulu baru kita keluar dari ‘sarang’ dan coba bergaul dengan lingkungan.

    Jujur saya nggak suka keadaan sekarang, semua jalan di komplek perumahan ditutup, disisikan satu pintu di setiap RW setelah kerusuhan Mei 1998. Rumah Cluster ramai jadi pilihan padahal ini bisa menjadikan kesenjangan. Apa mau dikata karena kekhawatiran dan dampak ketakutan akan peristiwa itu sangat-sangat dashyat, padahal kita semua tahu kalau banyak orang yang menyesal ikut melakukan hal itu, karena dampak langsung mereka rasakan dengan kehilangan pekerjaan karena bosnya kabur, usahanya bangkrut, nilai rupiah hancur membuat hidup jadi mahal dan makin sulit.

    Sedapat mungkin saya menghindari ekslusivitas, dan memilih jadi ‘Orang Biasa’, saya memilih bergaul dengan siapa saja dengan supir, satpam, tukang kebun, rekan kerja, Direktur, Pengusaha, kemana saja kita bisa membangun relasi guna menjembatani apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh masyarakat yang kurang beruntung dengan orang yang sudah banyak untung. Karena yang diatas takut untuk turun ke bawah dan yang dibawah nggak mampu untuk naik keatas.

    Saya sangat berharap sekali bahwa rekan-rekan disini mau bersama-sama untuk melakukan hal itu. Karena saya pikir kita yang disini yang punya kemampuan untuk itu, paling tidak kita ada ‘middle class’ yang bisa turun dan naik keatas untuk menjembatani itu, kalau yang dibawah ngomel yah dihibur, kalau yang diatas keterlaluan yah diingatkan. Pluralitas itu indah jika ditata secara harmonis, berpikir positif dan hilangkan kecurigaan.

    Banjir kemarin membawa hikmah tersendiri, bagaimana saya merasakan kesulitan orang jika hidup tanpa listrik, air bersih dan makanan seadanya selama 7 hari. Bagaimana rasanya orang yang stress menanti-nanti untuk bisa bekerja lagi ? walau dia mau tapi tidak ada lowongan yang membuka pintu. Syukurlah Air tidak membeda-bedakan orang, dia mengalir kemana dia mau dan kemana dia suka.

    Selamat Tahun Baru Imlek.

    Salam,
    Lucky D. Krompis

  34. From Raihan\'s Mom on 16 February 2007 10:30:56 WIB
    that's why...
    sopanlah di rumah orang...
    anda sopan, kami pun segan!!!!
  35. From Adi Subrata on 16 February 2007 12:31:13 WIB
    Apabila dalam pengurusan dokumen di birokrat seperti KTP, paspor dll, masih diminta SBKRI oleh oknum2 birokrat. Tentunya hal ini sudah melanggar UU yang bari disahkan (UU antidiskriminasi).

    Pertanyaan:
    Apakah permintaan tsb kita penuhi atau tidak? kalau tidak ada kemungkinan dipersulit dan UUD.


    Terima kasih

  36. From DAVIDGHO on 16 February 2007 15:04:00 WIB
    Bang Wimar,

    Diskriminasi di Indonesia akan susah dihilangkan karena antara sesama pribumi saja saya perhatikan dalam kesehariannya mereka ibaratkan orang makan orang.
    Hanya orang yang punya duit yang bisa menyelesaikan masalah karena dari pejabat kecil-sedang-besar samimawon.
    Besar makan yang sedang yang sedang makan yang kecil & yang kecil terjepit mau tak mau cari makanan juga.

    Dan juga bagaimana mau lapor masalah Korupsi Kolusi Nepotisme jika saat mau lapor harus ada uang lapor uang ketik dari meja ke meja dengan sistem biasa, kilat & kilat khusus.

    Indonesia tempat aku lahir, dibesarkan, tumbuh dewasa dan akan mati di tanah Indonesia,dan sebelum mati aku berharap melihat Indonesia bangun dari tidur nya yang kelamaan.

    Alam Indonesia sangat kaya tetapi di rusak oleh semua tangan yang tidak bertanggungjawab, Indonesia sebenarnya jika dipikir secara logika bisa menjadi negera yang terkaya di dunia, saya yakin semua orang sependapat dengan saya. Jika tidak Kenapa kita dijajah begitu lama & hingga sekarang masih saja Indonesia masih ingin dibeli oleh pihak asing dengan cara halus.

    Contohlah RRC: Bagai naga yang bangun dari tidurnya dan sekarang telah mengangkasa, Semua negara adidaya & superpower sekarang telah ciut dengan RRC.
  37. From tisi on 16 February 2007 20:34:46 WIB
    Saya sebagai warganegara Indonesia, bukan etnis Cina yang tinggal di Malaysia sangat bangga jadi warganegara Indonesia kalau dilihat dari segi keragaman etnis ini. Yang saya lihat di sini (Malaysia), biarpun secara politik semua etnis (Cina, India dan Melayu) sudah bersatu dan masing-masing etnis memiliki hari raya masing-masing yang sudah ditetapkan sebagai hari libur nasionalnya, tapi ditengah masyarakatnya sendiri, perbedaan ini sangatlah terlihat jelas. Contohnya sangat gampang. Sekolah-sekolah kebangsaan (sejajar sekolah negeri di Indonesia) berdasarkan etnis dengan bahasa pengantar sesuai etnisnya masing-masing, yang jelas tidak membantu bercampurnya etnis-etnis mayoritas disini. Sangatlah banyak orang-orang etnis Cina yang tidak bisa berbahasa melayu.

    Keadaan ini sangatlah berbeda dengan yang saya alami di Indonesia. Memang saya tidak pernah bersekolah di sekolah negeri, tapi sekolah-sekolah di Indonesia tidak menggolongkan murid-muridnya berdasarkan etnis. Dan ini adalah suatu hal yang sangat membanggakan.

    Bagi saya, penetapan Imlek sebagai hari libur Nasional adalah simbol saja atas "willingness" pemerintah kita menerima berkembangnya pluralisme Indonesia, yang bukan sekedar berdasarkan suku-suku asli Indonesia sendiri, tapi juga menghargai para pendatang yang sudah menetap lama di Indonesia.

    Pokoknya kalau soal SARA, toleransi orang Indonesia top deh! ;) Sayangnya terkadang ada kelompok-kelompok yang cenderung terlalu ekstrim yang tidak menginginkan toleransi ini terjadi.

    Hidup Pak Wimar!

  38. From WiLLy Da\' KiD on 16 February 2007 21:08:50 WIB
    Dearest Bung Wimar di tempat...

    Thanks bgt buat saran anda, saya tidaklah memaki-maki atas kejadian yang telah berlalu, but past is the best experience to Learned. jika saya hanya ikut berbicara tanpa ada tindakan dari orang yang saya ajak bicara, sama saja saya berbicara dengan batu, ye khan bung wimar??

    ehehehe,sepertinya sudah banyak orang yang membicarakan tentang masalah minoritas dan mayoritas, tapi tetap saja seperti air dan minyak tidak akan ada penyatu yang baik, so pasti ada yang pro dan ada yang kontra khan???hehehehe,sudahlah, saya juga sudah terima nasib ko jadi kalangan minoritas,mungkin akan ada jalan yang lebih baik untuk kaum minoritas seperti etnis tionghoa, dan kelompok minoritas lain....

    may be someday....

    wasalam, Tuhan MEmberkati Indonesia dan seluruh umat manusia......
  39. From De Truth on 17 February 2007 11:45:51 WIB
    SELAMAT TAHUN BARU IMLEK 2007 untuk yang merayakan. Marilah kita bersama-sama merayakan tahun baru Imlek 2007 dengan suka cita. Bagi kita yang merayakan Imlek, berbagilah dengan masyarakat yang kekurangan di sekitar kita. Hitung-hitung setahun sekali bagi-bagi rejeki.
  40. From suTha on 17 February 2007 14:40:46 WIB
    Acaranya kok hampir sm dgn yg di metro ya... arahan pertanyaannya juga sama kakuya. Ada apa dgn ethnis cina di Indonesia?? Jangan terlalu di expose biarkan saja mengalir seperti air, yg penting hak dan tanggung jawab kita sebagai warga negara harus dilaksanakan.
  41. From Lucky on 17 February 2007 18:31:49 WIB
    IBu Raihan, maaf kalau salah ( Comm. 34 )

    Kalau kita berpikir dengan konsep rumah, tamu dan pendatang. Mungkin cuma Orang Betawi yang pantas bicara begitu di Jakarta, dan itupun masih harus dibagi lagi Betawi Pinggiran dan Betawi Kemayoran.

    sopan memang sudah seharusnya dan nggak tergantung kita berada dimana, baik di rumah kita sendiri maupun dirumah tetangga.

    Salam,
    Lucky
  42. From De Truth on 18 February 2007 07:36:32 WIB
    Komentar No. 34 dari Raihan\'s Mom yang masih beranggapan bahwa etnis Tionghoan adalah tamu (pendatang) menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah orang yang anti Tionghoa.
  43. From Xeal on 18 February 2007 08:00:59 WIB
    Dear Om Wimar...

    Saya bingung...dimana2 yang "tertinda" itu adalah kaum minoritas (ex. black ppl in US,suku2 di Afrika,etc) tapi disini ...WEIRD :p ( saya sering dengar yang melakukan penindasan adalah kaum keturunan..)
    They say, " Anda sopan, kami segan"..lho, emangnye kami berbuat apa??? kalo pun ada "berbuat tidak sopan" bukan berarti bisa mengeneralisasikan ke semua org pada suatu etnis.Saya bingung,salah siapa sih yang buat "catastrophe" ? Lagipula, gini hari masih ada diskriminasi...Ga worthed.
  44. From suTha on 18 February 2007 12:06:37 WIB
    dear P. Wimar,


    Sebelumnya sy sdh ada comment, tapi sepertinya perlu juga sy tambahkan. Yang ingin sy tanyakan, dalam hal apa etnis cina itu disebut minoritas ?? Kalo soal jml penduduk, masih ada etnis lain yg lebik sedikit seperti : India, Arab, bahkan jg betawi yg katanya punya jakarta. Kalo soal bisnis, sy rasa etnis cinalah yg berkuasa. Ada sedikit pengalaman yg juga mau saya sampaikan. Sy lahir di bali, besar/sekolah di jakarta dan skr bekerja di bogor. Pada suatu saat sy mencoba untuk bekerjasama dgn pedagang2 etnis cina, sy cb tawarkan produk sy untuk sekedar bisa dipajang di tokonya dgn harapan nantinya ada yg laku. Tp semua toko yg sy tawari tidak mau nerima, pdhal sy cuma mau sekedar numpang majang. Biarpun begitu sy tdk mau dendam, cengeng apalagi menyalahkan orang lain. Itulah sebabnya sy menulis comment diatas #40 kembali lagi, tergantung manusianya dan jangan saling menyalahkan, trims.
  45. From Michael on 18 February 2007 17:11:53 WIB
    Yang terhormat Om Wimar, saya adalah anak muda peranakan yang entah keturunan cina ke berapa dari nenek moyang nun jauh di Timur namun yang pasti kami sekeluarga sudah tidak bisa bahasa mandarin sama sekali. Buat kami masalah diskriminasi dan generalisasi dari kaum pribumi kalau kami ini bapanya koruptor,tidak bergaul, eksklusif dan sebagainya (pokoknya negatif)sudah basi karena beberapa kali dibahas tapi tidak ada solusi yang konkrit. Berdasarkan pengalaman hidup saya berusaha mencoba memberi solusi nih. Buat saya semua cap negatif atau diskriminasi akan hilang kalau kita bangsa Indonesia mau menerapkan meritokrasi dalam segala bidang kehidupan. Dengan meritokrasi yang menghargai orang sebagai pribadi dari prestasinya saja tanpa memandang asal-usul maka yang namanya stigma negatif dan diskriminasi akan hancur dengan sendirinya. Disamping meritokrasi, kesetaraan pendapatan juga akan menghancurkan batas-batas pergaulan antar etnis, dan hal ini saya buktikan sendiri sewaktu saya berkuliah di Universitas Trisakti dimana teman baik saya sendiri berasal dari multi etnis dan kami tidak pernah konflik mengenai asal-usul kami. Di kehidupan sehari-hari, saya juga menggaji pegawai tidak berdasarkan etnis tapi berdasarkan prestasi dan loyalitasnya. Buat mamanya raihan, saya sebagai orang peranakan minta maaf deh bila ada saudara seetnis saya yang culas dan sombong tapi tolong jangan anggap kami semua seperti dia, tolong nilai individu dari pribadinya jangan darimana asalnya.
  46. From QNOY on 18 February 2007 22:42:56 WIB
    masalah pendatang, asli atau bukan.
    siapa sih dimuka bumi ini bisa mengklaim kalo dia asli atau bukan. orang dibumi ini bermigrasi den berbaur.
    udah, masalah itu tidak usah di hiraukan. yang penting bagaimana pembauran antar etnis itu dapat berjalan dengan baik.
  47. From uki on 19 February 2007 07:08:36 WIB
    msalah ini sudah mengakar....ga cukup hanya dengan adanya inpres....karena pernah merasa tersisih...sekarang etnis tionghoa juga memandang sebelah mata ke orang yang bukan satu etnis.
    contoh paling kecil di jawa....ada timbal balik sebagai akibat dari kebijakan terdahulu yang sekarang terjadi antara singkek (jawa menyebutnya begitu) dan jawa sendiri.
    sampai sekarang ada beberapa golongan yang singkek antipati pada jawa....jawa dianggap not smart enough lah...not wealthy enough...
    diakui apa tidak....contoh di surabaya....kebanyakan kaum atasnya adalah orang-orang cina...
    tapi entahlah....yang namanya SARA dimana-mana ada!
  48. From Campursari on 19 February 2007 08:49:51 WIB
    Heh heh heh, jadi heboh juga. Sebenarnya kalau mau tidak ada diskriminasi sih gampang aja. Bolehkan anak gadis anda kawin dengan yang bukan segolongan/se etnis dengan anda. Jaman saya dulu sih susah, lebih banyak ditolaknya. Nah kalau bisa demikian, gimana mau bilang dia etnis cina atau etnis jawa dll, lha wong sudah CAMPURSARI.
  49. From bibip on 19 February 2007 11:56:55 WIB
    WAH2 mama reihan ini agak2 sombong kayaknya heheheheheh. mamah yang baek harusnya tau dunia ini milik tuhan bukannya milik seklompok orang aja. trus masalah perkawinan campur sareeeeeee. mungkin ini berhubungan dengan agama deh, soalnya sesama tionghoa aja kalo beda agama juga ditentang deh. contohnya aku :D
  50. From koloridjo on 19 February 2007 12:35:55 WIB
    oeroen remboek.
    Betul apa yang dikatakan mas uki (mas ato mbak ya?) tidak bisa di pungkiri. Faktanya masih banyak orang cina yang antipati thd Jawa.

    Orang cina jangan selalu menuntut pemerintah untuk tidak melakukan diskriminasi!
    Dalam kontek perusahaan. Jujur..! cobalah anda sendiri (pengusaha cina) berapa kali anda melakukan perlakukan berbeda antara pekerja cina dengan pekerja pribumi??

    Diskriminasi tidak akan pernah hilang di muka bumi manapun!

  51. From dino on 19 February 2007 17:24:33 WIB
    Bang WW, saya etnis Cina born, grow up in Jakarta.
    Tapi saya merasa enjoy 2 aja yah di Indo. Yah kalau ada aparat yg menyulitkan kan tidak semua. Tahun lalu saya urus paspor untuk anak di imigrasi JakTim well well aja.lancar gak pakai pelicin resmi bo.Semua dokumen (sertifikat, IMB, Paspor, Kartu WNI, KTP ) semua saya urus sendiri dan bers semua. yang penting kita respect them & they ll respect us.
    Menurut saya orang Indo sudah sangat baik. Saya sering bolak balik Shenzen, HK, Guangzhou orang sana tidak seramah orang Indo, nanya jalan aja sering di cuekin.
    I don't know abut u guys, but for me .... Indonesia is a nice country to live.


  52. From nozrad on 19 February 2007 20:43:58 WIB
    Saya warga negara Indonesia keturunan Tionghoa bermarga LIM. Saya asli luar jawa, dan sudah 8 tahun di jawa. Saya perhatikan kalo emang warga keturunan Tionghoa di pulau Jawa emang banyak brengsek nya. Sebenarnya tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu. Saya merasa segelintir orang brengsek inilah yang merusak nama baik orang tionghoa secara keseluruhan. Contohnya adalah tindakan kasar kepada pelayan, pembantu, buruh, dan pekerja level bawah lainnya. Bagaimana mereka mau menghargai kalo kita tidak menghargai, akhirnya dari mulut ke mulut beredarlah sebutan "Cina" dan "Cina" dan "Cina"...
    Pesan saya sih, jgn terlalu sombong buat para etnis tionghoa yang ada di kota besar. Stay Low aza deh, buat apa meninggikan diri, menciptakan ekslusivitas yang akhirnya akan menjadi boomerang bagi warga negara indonesia keturunan tionghoa secara keseluruhan.

    Kepada semua WNI Etnis Tionghoa:
    Ingat pepatah leluhur kita "yi xan hai yu yi xan gao", diatas gunung masih ada gunung, tidak ada yang paling, tidak ada yang super. Dunia itu berputar kadang kita diatas kadang kita dibawah. Etnis apapun dia, memang ada yang brengsek, tapi juga ada yang baek.. Mulailah dari diri sendiri untuk tidak menyebut diri kita adalah warga keturunan, mulailah untuk tidak meninggikan diri, mulailah koreksi dan evaluasi diri, apa yang udah kamu lakukan untuk sesama mu. Jika kita saja tidak pernah menganggap diri kita sebagai WNI, mana mungkin orang lain beranggapan demikian? Contoh gampang aza di Malaysia, coba tanya yang berwajah chinese disana, orang apa mereka? jawabnya adalah: Orang Malay.

    Buat bangsa Indonesia:
    Be proud for what you do, not for who you are or what you are!

    Semoga Indonesia Bisa bersatu seperti Malaysia atau Singapura.
  53. From Indri on 19 February 2007 22:31:47 WIB
    kenapa kalau bicara diskriminasi selalu kesannya orang asli indonesia yang mendiskriminasikan etnis cina, padahal kenyataanya tidak demikian. Pengalaman saya dulu, beberapa kali diinterview oleh manager yang warga keturunan selalu ditanya apakah saya warga keturunan atau pribumi? Pertanyaan tersebut sudah menjurus ke SARA dan memojokkan saya yang bukan warga keturunan, dan hal tersebut sudah terjadi beberapa kali.

    Yang anehnya lagi, banyak etnis cina di Indonesia yang gembar gembor ingin disamakan derajatnya tapi malah menyebut dirinya 'kami cina di indonesia' - seharusnya apabila sudah menganggap orang indonesia bilang saja 'orang indonesia' atau 'cina indonesia'.
  54. From klubanbayem on 20 February 2007 00:59:19 WIB
    gong xi fat cai,bung ww selamat taon baru.semoga tahun mendatang persepsi 'indonesia',yang datang dari orang indonesia sendiri maupun orang asing menjadi lebih baik.indonesia kan rumah besar yang dihuni banyak orang,salah satunya orang cina.kalau mau mangurangi diskriminasi,banggalah jadi suku cina yang hidup di indonesia.di sini pada ngaku suku cina tapi nggak ada yang pakai nama cina.sepertinya andapun masih punya problem identitas?maaf,tapi yang pertama cobalah bangga dengan nama suku anda dulu,karena itu akan memprindah taman sari indonesia.gong xi fat cai....
  55. From JQ Wang on 20 February 2007 08:31:23 WIB
    Comment tuk Mba Indri.
    Coba Mba kalo ditanya orang pertanyaan yang sama, apa jawaban Mba... Pasti " Saya orang Indonesia" C-7 ga???
    Tetapi kalo anda ditanya lebih detail lagi, apa jawaban anda akan berubah menjadi..." Saya orang (suku XXXX) INdonesia? dan Kalau lebih detail lagi anda mungkin akan menjawab " Saya orang( Suku XXXX timur,barat dsb) Indonesia" Bukan kah begitu??? Sama halnya dengan suku cina yang ada di Indonesia, anggaplah mereka adalah salah satu suku yang ada dan semua akan nyaman....

    Any comment Om Wimar???
  56. From willy on 20 February 2007 13:26:24 WIB
    Gong Xi Fa Chai 2558 untuk semua yang merayakannya.

    Saya mau tanya neh, kenapa sih warga tionghua di Indonesia disebut "Warga Negara Indonesia keturunan tionghua". Bukan kah ini masih tergolong diskriminasi?
    Berarti ada istilah lagi dong, WNI keturunan Jawa, WNI keturunan Melayu, WNI keturunan yang lainnnya.

    Sepengetahuan saya, hanya ada 2 istilah kewarganegaraan saja:
    1. Warga Negara Indonesia
    2. Warga Negara Asing

    Saya rasa lebih baik "WNI keturunan tionghua" diganti menjadi "WNI" saja. Karena kami adalah satu.

    Bagaimana kalau ada berita/ artikel yang memuat berita begini, seorang pencuri yang WNI bersuku/beretnis XYZXYZ diamankan oleh petugas bla... bla... bla...
    Bagaimana rasanya kalau yang mempunyai etnis yang sama mendengar berita tersebut? Saya yakin mereka akan protes.
    Loh kok bawa2 nama suku/etnis sih?

    Semoga kedepannya Indonesia dapat semakin dewasa

    Mohon dikoreksi kalo ada yang salah
    thank's
  57. From Fra on 20 February 2007 19:08:48 WIB
    Hi Pak Wimar, sayang saya tidak tonton acara tayangnya.
    Tapi untung ada perspektif.net ini.
    Saya sih inginnya masalah Mei 1998 itu yang dituntaskan, karena dampaknya hanya merugikan Indonesia.

    Saya benar-benar penasaran dan beberapa kali mencari tentang itu di internet. Menyedihkan karena saya menjumpai banyak site2 yang mendiskreditkan (dan men-generalisasikan orang Indonesia sebagai rasis) sehubungan dengan kasus Mei 1998 itu. Tetapi saya juga menemukan berbagai foto perkosaan yang ternyata pada akhirnya diketahui sebagai foto cabutan dari berbagai site porno Jepang dan ada juga yang menggunakan foto2 penyiksaan di Timor Leste dulu.
    Memang sudah ada penyangkalan dibeberapa site (termasuk juga site Huaren Indonesia yg pada akhirnya meralat berita mereka) yang menjelaskan ketidakaslian foto2 tersebut tp opini kebanyakan yang sudah terbentuk susah untuk dihapus.

    Berikut adalah sites yang menyinggung peristiwa 1998 dan foto2 palsu, menarik untuk dibaca:
    http://wwwsshe.murdoch.edu.au/intersections/issue4/tay.html
    http://www.samsloan.com/indofake.htm
    Maaf kalau site yang ke dua memuat foto2 yang graphic.

    Walaupun faktanya menyakitkan, saya rasa lebih baik pemerintah benar2 menyelidiki dan menjelaskan kepada public apa yang sebenarnya terjadi.
    Mungkin pelurusan masalah Mei 1998 itu lebih baik daripada hanya menghadiahkan penasionalisasian perayaan Imlek, dengan hari libur karena sebenarnya Imlek hanyalah bagian kecil dari kekayaan budaya di Indonesia. Maaf jangan disalah artikan, bukannya saya mengecilkan arti Imlek, tapi kebudayaan di Indonesia bukan hanya Imlek saja.
    Lagipula itu tak akan menghapus 'dosa 1998' Indonesia di mata dunia.

    Saya rasa diskriminasi di Indonesia bukan diskriminasi ke etnis Cina saja, tapi diskrimininasi terhadap orang-orang miskin dan/ atau orang-orang yang tak punya power.

    Tolong dong Pak Wimar cari cara, biar masalah kerusuhan 1998 itu menjadi jelas dan tidak menjadi momok lagi untuk hubungan etnis Cina dan etnis non-Cina di Indonesia. Kalau engga kan kasihan Indonesia ditindas terus.
  58. From Lia on 20 February 2007 19:46:26 WIB
    menanggapi tulisan2 di atas yang menggeneralisir sebuah tindakan jahat menjadi tindakan seluruh suku tertentu....

    berpikirlah outside the box. memang gampang menghina suku berdasarkan penampilan fisik, tapi buat saya, orang2 seperti ini justru harus malu akan pendidikan yang telah mereka emban
  59. From anton on 21 February 2007 12:34:26 WIB
    Lho emang ada cina ya di Indonesia?, ada Jawa ya?, ada sunda ya?ada kominis ya? ada Islam ya? ada kresten ya? ada hindu bali ya?...Jujur saja sejak kecil di pikiran saya hanya satu ttg orang-orang yang lahir, hidup dan mati disini sebagai bangsa kita, ORANG INDONESIA.....TITIK



  60. From boris on 21 February 2007 15:23:26 WIB
    sebenernya masalah diskriminasi itu tergantung orangnya, kalo oranya open minded pasti dia nggak bakal diskriminasi orang dan bisa berteman dengan orang yang beretnis lain, masalahnya timbul karena dari dulu pemerintah suka mendiskriminasi.

    KOMUNIKASI juga jadi faktor penting, di kampus saya emang mayoritas Tionghoa tapi ada banyak juga yang bukan tionghoa tapi kita bisa sama-sama berteman baik, sahabatan, kita tahu kita masing-masing berbeda, tapi kalo ada yang kita mau tahu tentang etnis lain, misalnya ritual dari agama atau suku lain langsung ditanya dan dengan senang hati menjawab, intinya adalah Keterbukaan dan Kesadaran bahwa kita hidup dengan budaya berbeda tapi gimana dari perbedaan itu kita bisa nerima orang lain yang beda ama kita dan cari persamaan diantara kita, bukan mempermasalahkan perbedaan itu.

    Buat saya RACIST itu ada karena kurangnya pendidikan, pemahaman tentang orang lain, dan pastinya kalo seseorang racist pasti dia nggak punya teman yang etnisnya beda dengan dirinya, karena kalo dia punya teman yang berbeda dengan etnisnya beda dengannya dia nggak akan menjadi racist. Kasihan juga....
  61. From candra on 21 February 2007 16:21:32 WIB
    Diskriminasi selalu ada, dan itu bisa terjadi kepada siapa saja, bayangin tuh, di papua aja masi sering terjadi perang antar suku, blum lagi yang namanya perang saudara yang terjadi di belahan dunia yang lain contohnya di afrika nan jauh sana

    Jadi lebih baik saling menghormati dan menghargai perbedaan aja...Toh indonesia dari sabang sampai merauke, dari sana kita bisa menemukan banyak sekali perbedaan, ada berbagai macam suku, bahasa, budaya yang bisa ditemukan...Untung ada bhinneka tunggal ika yang menyatukannya...

    Untuk yang Pikirannya sempit dan selalu menggeneralisasi, tolong perkaya pergaulan dan perkaya wawasan pengetahuan supaya jadi terbuka...

    Salam dari anak melawi


  62. From Agus on 22 February 2007 12:38:19 WIB
    Comment untuk #32
    Indonesia sudah memberikan lebih dari cukup buat kita semua.
    Saya yakin banyak orang rela berjibaku untuk menguasai negeri seramah alam Indonesia.
    Kita tidak bisa hanya meminta Indonesia berubah demi kita, sementara kita sendiri memasang perisai terhadap perubahan.
    Yang harus berubah bukan Indonesia, tapi kita semua, seandainya kita orang bisa kompak pasti pemerintahan yang kita punya tidak akan seperti sekarang ini kualitasnya, yang hanya memikirkan kepentingan pihak-pihak yang punya duit.
    Kalau materil semata yang dikejar mungkin RRC bisa dijadikan patokan, tapi kehidupan bernegara shall not only be based on money and greediness kan, but HAM utk apakah minoritas atau mayoritas.

    Comment untuk #53
    Bilang saja, \"saya sama dengan anda :keturunan pribumi.\"
    Seandainya dia tanya, \"Loh kok bisa?\"
    Jawab, \"Nenek moyang anda kan dulunya juga pribumi di negaranya\"
    Gitu saja mbak.
  63. From mike on 25 February 2007 13:00:06 WIB
    diskriminasi di Indonesia terhadap cina ud lama kok...ga bermaksud buka aib tp sejak jaman penjajahan belanda dulu orang cina ud banyak yg dijarah,dibakar harta bendnya dan dibantai...sampai sekarang pun masi ada hanya saja lebih diperhalus (dgn dipersulitnya administrasi ^^) ga bermaksud menyombongkan orang cina,tp orang cina ud byk menyumbang buat negara dalam hal ekonomi,kita sama2 kerja di Indonesia bangun negara tp kenapa ga mendapat perlakuan yg sama?????orang Indonesia harus lebih byk bljr dari negara laen ga usa jauh2 liat aj di malaysia disana hidup orang melayu, india ,cina dll tp bisa tenank2 aj...dkmanain tuh bhineka tunggal ika yang selama ini diajarin ama kita pas masi SD ????? gua cuma berharap diskriminasi di indonesia bisa ilank.....
  64. From gambler on 26 February 2007 13:04:33 WIB
    kalian ini, pribumi dan tionghua, mau2 nya dibodohi.... trutama oleh suharto. wong dia sendiri akrab dgn sudono salim?

    kalau kata ortu saya, jaman mereka kecil di indo, pribumi & tionghua sudah akrab n saling menghormati. sayang....makin lama makin dikotori.
  65. From Ria Wibisono on 27 February 2007 22:00:53 WIB
    Setuju sama gambler, kita di Indonesia ini sering dibodohi supaya Tionghoa-Pribumi saling membenci. Ini udah dikondisikan sejak zaman Belanda. Tionghoa dikasih kerjaan kotor seperti buka rumah bordil dan jual candu, tapi statusnya di masyarakat dibuat lebih tinggi dari Pribumi sehingga Pribumi nggak suka sama Tionghoa. Tionghoa jadi didiskriminasi dan balas nggak suka sama Pribumi. Gitu terus nggak selesai-selesai, ibarat terperangkap dalam lingkaran setan.
    Saya lahir di Indonesia, besar di Indonesia. Walaupun leluhur saya dari sono, saya nggak pernah menjejakkan kaki di Cina daratan. Saya suka kok tinggal di sini, fine-fine aja. Dipanggil Cina pun oke, karena saya pernah baca kata 'Cina' dalam bahasa aslinya merujuk pada kerajinan porselin tanah liat khas negeri sana.
    Masalahnya kalo saya jalan sendirian, sering dipanggil Cina dengan nada melecehkan. Masalah lagi waktu saya magang, ditanyain bosnya apakah saya Cina. Masalah lain waktu rekan kerja saya nyindir bahwa saya pelit dengan mengusung nama Cina.
    Saya nggak pernah nyesel terlahir sipit, berdarah Cina tapi berkewarganegaraan Indonesia. Jadi, kenapa harus orang lain yang menyesali keadaan itu? Apakah penampilan fisik dan darah Cina dalam tubuh saya menghalangi saya untuk memberi sumbangsih positif bagi Indonesia?
    Semoga kelak semua orang di Indonesia sadar bahwa diskriminasi itu adalah sarana orang luar untuk memecah belah kita...
  66. From Marsha on 01 March 2007 08:02:06 WIB
    Stereotyping yang ada saat ini (ras, asal-muasal, kepercayaan etc) biasanya dibentuk ketika seseorang, contohnya dari golongan A, bertemu dengan orang dari golongan B yang jarang ditemuinya. Untuk simplifikasi, dan/atau ketakutan karena jarang bertemu, maka stereotyping tersebut dibuat untuk mengecilkan ketakutan tersebut.

    Saya sering bertemu orang-orang yang bilang kalau:
    - orang Batak makan anjing (enak saja, saya piara anjing bukan sbg ternak)
    - orang Cina kaya-raya (coba pergi ke Glodok dan hitung berapa banyak engko-engko dan encim-encim yang harus kerja keras dan tidak punya cukup uang untuk duduk kongkow-kongkow saja)
    - orang yang tidak pernah sekolah ke luar negeri bahasa Inggrisnya jelek (setidaknya ada dua yg saya kenal baik di Jakarta)
    - orang yang sekolah ke luar negeri bahasa Inggrisnya bagus (banyak juga kok yang masih plentat-plentot ngomongnya)
    - semua teroris beragama Islam (loh, bagaimana dengan yang di Irlandia Utara?)
    - mustahil ada sopir angkot yang sopan dalam berkendaraan (enak saja, saya sudah ketemu dua yang sopan-sopan, dan dua-duanya di Tanah Abang)
    - de el el

    Jadi pesan saya... sebelum menilai orang lain, periksa dulu apakah kamu lagi ketakutan atau berasa tidak aman! Sifat orang itu tidak tergantung atribut jenis ras atau pendidikan atau kepercayaannya; sifat seseorang itu tergantung pada orang itu sendiri. Kalau dia mau licik ya dia jadi licik, kalau dia mau pilon ya dia pilon.

    Ngapain susah-susah mengkotak-kotaki orang pakai asumsi dan diskriminasi, nanti malah bikin pusing sendiri dan belum tentu asumsinya benar...
  67. From Ambar Wahyudi on 04 March 2007 22:46:43 WIB
    Tiong Hoa????

    Mereka sama - sama ciptaan Tuhan, ga ada bedanya dengan warga pribumi, kentutnya jg sama baunya seperti kita, so, Kita seharusnya satu untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang majemuk dan beradab.Ngga usah didengar deh teroris2 diskriminasi, mereka orang - orang ngga suka perdamaian.
  68. From DAVID GHO on 08 March 2007 16:58:15 WIB
    BANG WIMAR SAYA MAU MINTA BANTUANNYA,
    KEPADA BANG WIMAR ATAUPUN KEPADA SIAPAPUN YANG TAHU & PUNYA BUKTI SURAT KETERANGAN DARI PEMERINTAH RI MENGENAI SUDAH TIDAK DIPERLUKANNYA LAGI SKBRI, MOHON DIINFORMASIKAN KE KITA KITA, KARENA PARA PELAKU DI PEMERINTAHAN MULAI DARI TINGKAT KELURAHAN MASIH SAJA MEMINTA DITUNJUKKAN SKBRI SAAT KITA AKAN MENGURUS SURAT-SURAT SEPERTI KTP DAN LAINNYA.
  69. From ANDREAS on 09 March 2007 19:05:17 WIB
    Saya mengkritik siapapun jika agama di permasalahkan ( Semua kepercayaan itu menganut yang benar yang penting tidak ada pemaksaan untuk menarik perhatian umat agama lainnya ) semua tergantung dari dirikita sendiri
  70. From pan on 11 June 2007 21:07:15 WIB
    saya sbg remaja chinese yg tidak kaya-raya udah benar2 'disillusioned' dengan yang namanya pluraritas di indonesia. saya percaya bahwa banyak remaja2 dan orang2 di indonesia yang mau membantu sesama yg membutuhkan, regardless of race, language or religion, if not for the blatant racism.

    a case in mind, malaysia. etnis tionghua benar2 dimarjinalisasikan bahkan oleh pemerintah. alhasil, banyak 'best talents' yang mencari nafkah diluar, dan ekonominya tidak dapat maju cepat. mungkin ini juga akan terjadi di indonesia juga dalam waktu dekat?

    coba kesampingkan racism and prejudice, dan tanamkan ideologi meritokrasi pada kaum muda. saya yakin indonesia dapat tumbuh menjadi sebuah negara yang dihormati dunia, tidak seperti sekarang: top buat korupsi, polusi, etc2 yang buruk2 doang.
  71. From SANTI on 29 September 2007 20:57:28 WIB
    SEPANJANG PEMERINTAH TIDAK MENGUSUT TUNTAS KASUS MEI 1998 , MAKA KEBERADAAN ETNIS TIONGHOA DI INDONESIA HANYALAH DIANGGAP GA ADA. DARI SINI SAJA KITA SUDAH BISA MENILAI BAGAIMANA SEBENARYNA HATI NURANI PEMERINTAH KITA.
  72. From Dibda on 03 March 2008 23:48:23 WIB
    Saya pernah mengikuti rekruitmen di perusahaan yang memang
    banya etnis tersebut kelihatan sekali perbedaan perlakuaan.
    Saran saya kalau di cari dari etnis tionghoa yg pribumi jangan dipangil. Naype-nyapein aja.
  73. From Moel on 30 January 2009 18:29:47 WIB
    Memaknai Imlek dalam Kehidupan Bernegara

    Oleh: Drs. Firman Harefa, S.Pd

    Kepala Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut dan Kepelabuhanan Kantor Administrator Pelabuhan Kelas I Dumai - Riau

    Pada 26 Januari 2009, masyarakat Tionghoa menyambut sekaligus merayakan Tahun Baru Imlek 2560. Layaknya tahun baru, Imlek kini juga dirayakan seperti Natal dan Idul Fitri atau hari-hari besar lainnya. Secara terbuka dan meriah tentunya.
    Tahun Baru Imlek merupakan salah satu hari raya Tionghoa tradisional, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender Tionghoa. Namun, jika ada bulan kabisat kesebelas atau kedua belas menuju tahun baru, maka Imlek akan jatuh pada bulan ketiga setelah hari terpendek. Ini pernah terjadi tahun 2005 dan baru akan terjadi lagi pada tahun 2033.
    Sejarah mencatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Ketika ini, penetapan tahun baru berperan amat penting, karena menjadi pedoman mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan.
    Penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Dihitung berdasarkan kelahiran Nabi Khongcu pada tahun 551 sebelum masehi. Makanya, tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek. Jadi, jika tahun masehi saat ini 2009, maka tahun Imleknya menjadi 2009 551 = 2560.
    Sejatinya, orang Cina menyebut tahun baru ini adalah Sin Cia Imlek. Im berarti bulan, sedangkan lek bermakna penanggalan. Perayaan yang dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama ini bermula dari sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh. Tujuan dari semuanya itu tak lain sebagai wujud syukur dan doa harapan rezeki di tahun akan datang lebih banyak. Juga sebagai ajang silaturahmi.
    Setiap acara sembahyang Imlek, minimal disajikan 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili lambang-lambang shio yang berjumlah 12. Kue yang dihidangkan biasanya lebih manis. Ini harapan agar kehidupan di tahun mendatang menjadi lebih manis. Ada pula kue lapis sebagai lambang rezeki yang berlapis-lapis. Sedangkan kue mangkok berwarna merah dan kue keranjang biasanya disusun ke atas. Ini simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.
    Di Indonesia, selama 1965-1998, tahun baru Imlek haram dirayakan di depan umum. Rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan segala hal yang berbau Tionghoa. Jadi, selama tiga generasi, etnis yang mengenal 12 shio ini merasakan pahit dan sakitnya diskriminasi serta terpinggirkan dari arena kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Untunglah reformasi bergulir dan angin segar itu berimbas juga pada etnis Tionghoa. Orde Baru runtuh dan hampir seluruh peraturan yang mendiskriminasi, perlahan dieliminasi. Perayaan tahun baru Imlek secara Nasional pertama kali dilaksanakan oleh Majelis Agama Konghucu Indonesia (Matakin) tanggal 17 Februari 2000.
    Ketika Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI, terbit Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2000 yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Kemudian Presiden Megawati Soekarno Putri mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19 Tahun 2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Sejak itu, Imlek bebas dirayakan secara terbuka dan hingga kini masa pemerintahan Presiden SBY, Imlek diakui sebagai salah satu keragaman yang ada di Indonesia.
    Kita hendaknya tidak atau jangan melihat lagi bahwa orang Tionghoa adalah ''orang lain'' dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Juga jangan ada lagi dikotomi kami, yang ada adalah kita.

    Tahun Kerbau

    Apa yang membedakan Tahun Baru Imlek dengan tahun baru lainnya? Yang paling mudah ditandai adalah perlambangan shio yang menyertainya. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, shio mengandung makna sekaligus peringatan bagaimana berbuat dan bersikap menjalankan kegiatan selama berlangsungnya tahun tersebut. Sesuai tradisi, Tahun Baru 2560 termasuk Tahun Kerbau. Sang kerbau digambarkan sedang dalam perjalanan.
    Kerbau dikenal jenis hewan pekerja keras, rendah hati, sabar dan cinta damai. Ditarik sisi positifnya, maka pada tahun 2009 ini kita dituntut tidak leha-leha atau diam berpangku tangan. Kerja, kerja, kerja, tak kenal lelah seperti kerbau, itulah yang harus dilakukan jika ingin mencapai keberhasilan. Logika memang, pesan ini cukup relevan dengan kehidupan saat krisis global melanda dunia.
    Kita tentu berharap bahwa tahun baru akan menjadi babak baru kesuksesan serta berbagai harapan lain untuk kita semua lebih maju, lebih baik. Oleh karena itu, perlu tindakan-tindakan nyata yang baru pula. Sebab, jika hanya mengharap dan mengharap, maka semua harapan akan sia-sia belaka.
    Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, hendaknya pesan Imlek ini dapat dijadikan momentum perubahan agar setiap kebijakan pemerintah lebih berpihak pada rakyat. Apalagi bangsa ini akan menghadapi hajatan besar yakni Pemilu 2009. Keterlibatan aktif masyarakat Tionghoa untuk menggunakan hak pilihnya jangan di sia-siakan karena masa-masa diskriminasi telah berakhir.
    Kini saatnya kita berbenah, introspeksi diri, dan lebih peduli dengan sesama. Keyakinan bahwa setiap tantangan sesungguhnya di balik itu ada peluang, harus diyakini. Hanya orang-orang positif yang akan melihat peluang meskipun itu di antara himpitan, cobaan atau hambatan sekalipun. Sedangkan orang yang berpikiran negatif selalu hanya melihat ancaman meskipun peluang itu ada di depan mata. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.
    Sebagai warga negara yang sah dan mendapatkan kedudukan sama di Republik ini, masyarakat Tionghoa juga wajib memiliki nilai-nilai yang bisa disumbangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Barangkali perlu juga diingat, ditengah kondisi krisis global saat ini, perayaan Tahun Baru Imlek janganlah hanya mengedepankan pesta pora dan hura-hura. Sebab, selain kurang etis, berpesta pora saat krisis juga bisa menambah berat beban perekonomian karena secara tak langsung bisa memancing kenaikan harga. Semoga Tahun Baru Imlek 2560 membawa harapan baru untuk perbaikan yang nyata dan lebih merekatkan kebersamaan dalam masyarakat.
    Gong Xi Fa Cai.
  74. From fidel on 15 February 2009 14:57:47 WIB
    keren!!!
    Hidup tionghoa!
    ^^

    Di sini bener2 bisa buat kita jadi lebih mengerti gimana situasi orang minoritas diperlakukan di Indonesia.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home