Yang Anda Belum Tahu Soal Krisis Beras
Wimar's World
22 February 2007
Laporan oleh Maro Alnesputra
Kebanyakan orang Indonesia punya satu prinsip dalam makan: tiada hari tanpa nasi. Kalau tidak makan nasi sehari saja, rasanya seperti belum makan sama sekali. Nasi dibuat dari apa? Tentu semua tahu jawabannya: BERAS. Tahukah anda kalau harga beras naik terus tiap tahun? Mungkin banyak yang mengangguk. Tapi tahukah anda mengapa harga beras bisa semahal sekarang? Wimar's World mencari jawabannya!
Krisis Beras di Negara Agraris menjadi topik episode Wimar's World kali ini. Hadir sebagai narasumber adalah Bustanul Arifin (Ekonom INDEF), Jeki Arhan (Pedagang Beras di PD Cipinang) dan Mohammad Ismet (Kepala Divisi Perencanaan BULOG) dan. Pembicaraan seru pun terjadi untuk mengetahui akar permasalahan sampai solusi yang tepat untuk masalah itu. Ibu-ibu yang pusing mikirin harga beras naik, wajib baca ini.

Wimar's World saat menerima penelpon
Pengontrolan policy beras lebih tegas dan ketat di jaman Soeharto
WW : Bagaimana sebenarnya masalah krisis beras ini terjadi?
Bustanul Arifin: Ya saya bisa katakan ini cyclical ya atau perputaran. Mudah-mudahan ini bisa diatasi karena perputaran ini periodenya tahunan. Catatan penelitian saya menunjukkan produksi beras di Indonesia ini hanya dihasilkan dalam 4 bulan. Sekitar 60% - bahkan 70 % - dari total yang kadang kita banggakan yaitu 31 juta ton beras itu hanya dihasilkan dalam musim panen raya yaitu Februari, Maret, April, lalu Mei atau Juni. Tapi mungkin tahun ini akan mulai dari bulan Maret karena kemarin masa menanamnya mundur.
WW : Lalu ?
Bustanul Arifin : Nah karena hanya memproduksi 31 juta ton dalam 4 bulan, oleh karenanya perlu perencanaan stok yang baik dan cermat agar jatah tercukupi dalam setahun. Kita semua tahu bahwa pada saat bulan-bulan krisis seperti Oktober, November, Desember dan Januari, memang produksi beras itu berada di bawah level konsumsi yang biasanya. Rata-rata total masyarakat Indonesia makan 2,5 juta ton beras per bulannya, jadi tentu pada bulan kritis-kritis itu supply memang pasti di bawah demand karena stoknya terbatas, itulah sebabnya harganya menjadi terdorong naik.
WW : Lalu kenapa dulu tidak terjadi hal seperti ini?
Bustanul Arifin: Kalau dibandingkan 20 tahun lalu, mungkin ya…di jaman dahulu ada keseriusan dari banyak pihak dalam membuat perencanaan dan mengontrol policy yang terkait sehingga tidak seperti kondisi sekarang, sementara kondisi sekarang, mohon maaf saya katakan, saya tidak melihat hal-hal itu
WW : Jadi policy maintenance itu lebih bagus di jaman Soeharto? Menarik sekali, kenapa begitu?
Bustanul Arifin: Karena Pak Harto ditakutin oleh bawahannya.
WW : Hahaha dulu orang nurut ya! Tapi memangnya apanya yang beda dari 20 tahun yang lalu?
Bustanul Arifin: Jaman Pak Harto justru jauh lebih bagus karena orang jaman dulu takut sekali dengan beliau, sehingga undang-undangnya jalan, kalau sekarang kan tidak karena orang tidak takut lagi seperti dulu.
WW : Bagaimana keadaan kondisi produksi beras kita saat ini jika dibandingkan dengan tanggal yang sama pada tahun lalu?
Bustanul Arifin: Tahun lalu lebih baik dari tahun ini, tapi sekarang kira-kira kondisinya sama dengan tahun 2002 lalu.
WW: Tapi keadaan stok beras sekarang ini dibanding tahun yang lalu bagusan mana yah?
Bustanul Arifin: Jelas tahun lalu, tapi kalau dibanding tahun 2002 mirip mirip. Tahun lalu panen agak normal karena bulan Februari sudah mulai panen. Jadi tahun lalu pada bulan Februari , inflasi sudah bisa ditekan. Sumbangan beras terhadap inflasi nasional cuma 20% . Tahun ini saya yakin masih sekitar 40%.
WW : Dari segi peningkatan produktifitas bagaimana sekarang ini?
Bustanul Arifin: Tidak terjadi peningkatan yang signifikan dibanding jaman Pak Harto dulu, karena kebetulan jaman Pak Harto ada banyak inovasi baru masuk seperti benih yang menampilkan IR64, IR8, dan lain lain seperti revolusi hijau dan sebagainya
WW : Kalau sekarang tidak ada lagi hal-hal begituan?
Bustanul Arifin: Tidak banyak kalau sekarang... saat ini maksimalnya hanya 4,5-4,6 Ton per hektar. Kalau dulu kenapa dibilang tinggi karena dulu dari 2.5 ton per hektar langsung naik melompat menjadi 4.5 ton per hektar. Kalau sekarang kan naik-turun naik-turun melulu. Kita memang susah untuk dapat berharap agar tidak ada goncangan lagi mengingat produktifitas beras hanya segitu-gitu saja, sementara jumlah penduduk nambah pasti kebutuhan juga akan bertambah.

Bustanul Arifin (ekonom INDEF)
Tidak ada Komunikasi antara Petani & Pemerintah + Rusaknya Infrastruktur
WW : Apa dasar anda mengatakan produktivitas susah naik?
Bustanul Arifin: Karena teknologi baru tidak banyak. Pemerintah menyalahkan petani, Katanya kaum petani terlalu sedikit menggunakan benih bersertifikat dan sebagainya. Padahal pihak petani juga bisa menyalahkan pemerintah, karena mereka tidak tahu sama sekali kalau ada benih baru. Selain itu, penemuan-penemuan baru banyak yang tidak dimasyarakatkan kepada petani.
WW : Cara mengatasi krisis beras?
Bustanul Arifin: Susah karena kita tidak bisa berharap banyak... Kebanyakan lahan petani kita itu hanya ˝ hektar luasnya jadi tidak mungkin bertahan sepanjang tahun. Menurut saya, agrarian reform yang diusulkan Pak SBY memang harus dilaksanakan. Belum lagi 70% irigasi kita rusak karena ngga dirawat.
WW : Neglect gitu ya?
Bustanul Atifin: Neglect karena otonomi daerah. Mohon maaf saya katakan ini, karena semua aktivitas dan call center yang memakan anggaran biasanya dilupakan oleh pemerintah daerah. Dan sering ada anggapan seperti…..ah itu punya Jakarta , atau ah…itu punya daerah itu dan lain sebagainya. Akibatnya sistem irigasi pun menjadi rusak. Sehingga akhirnya dikonversi…., perlu dicatat bahwa 140.000 hektar sawah kita hilang tiap tahunnya!
-
Operasi Pasar

Jeki Arhan (pedagang beras)
WW : Apakah jumlah beras yang dibutuhkan untuk disalurkan masih memadai ?
Jeki: Masih memadai
WW: Ada numpuk-numpuk sana sini?
Jeki: Tidak ada, rata-rata semuanya lancar, ada 5 ton yang kita bagikan ke 80 kios.
WW: Bagaimana bedanya system operasi beras jaman dulu dan sekarang? Ada penimbunan?
Jeki: Tidak ada, jaman dulu mungkin ada tapi jaman sekarang lebih terbuka dan murni
WW: Sebagai pedagang pernah ambil untung juga?
Jeki: Kalau untuk beras Operasi Lokal kita tidak boleh nimbun pak, kecuali kalau untuk beras lokal, kalau itu sebagai pedagang wajar aja pak, buat jaga-jaga
WW: Sekarang biasanya jaga-jaga stok untuk berapa bulan?
Jeki: Biasanya hanya untuk sebulan dua bulan. Kalau habis baru kita beli lagi
-
Strategi BULOG dalam menghadapi krisis beras

Mohammad Ismet (kepala divisi perencanaan BULOG)
WW : Bagaimana policy Bulog dalam menangani permasalahan ini
Ismet : Kami berusaha melakukan dua hal yaitu:
- Operasi Pasar
- Menyalurkan penyaluran beras ke rakyat miskin atau raskin.
Untuk Operasi Pasar, BULOG berusaha mengotpimalkan dengan selalu menggunakan volume besar dan cakupannya pun luas, kemudian untuk raskin BULOG telah mempercepat program raskin. Sebagai contoh jatah Februari kita berikan di Januari, dan jatah Maret kita berikan di Februari. Diharapkan dari sini keadaan bisa lebih baik dan terkendali dengan baik pula.
WW : Ada penelpon yang bertanya bagaimana supaya manipulasi harga dari pedagang itu bisa dihilangkan, ada komentar ?
Ismet: Kita melakukan Operasi Pasar ke pedagang-pedagang grosir yang mempunyai pedagang-pedagang eceran. Kewajiban pedagang grosir adalah menjamin bahwa pedagang eceran akan menjual beras dengan harga Rp. 3.700. Dan mereka membuat perjanjian di atas materai dan bersedia dihukum apabila melakukan penyimpangan.
-
Solusi Terbaik?
WW : Jadi solusi terbaik untuk masalah ini ?
Bustanul Arifin: Menurut saya, Pemerintah ke depannya harus membuat perencanaan produksi dan perencanaan stok yang lebih baik dan harus melibatkan masyarakat!
-
Sebagai akhir dari laporan ini, terlampir tips-tips yang bisa dijadikan acuan mengerti masalah krisis beras. Anggap saja bantuan untuk ngerti lebih gampang bagi orang-orang yang tidak terlalu 'njelimet' dengan masalah krisis beras ini (saya salah satunya hehehehehe)
Krisis Beras For Dummies:
- Tidak ada peningkatan produktivitas beras terjadi di hampir seluruh dunia
- Cina total produksi berasnya saat ini adalah 125 juta ton untuk 1 milyar manusia
- Thailand memproduksi 22 juta ton/per tahun, namun mampu mengeksport 7,5 juta ton berasnya karena masyarakatnya sedikit, sementara Vietnam memproduksi 18 juta ton/tahun namun masih bisa mengeksport 5 juta ton beras karena masyarakatnya sedikit
- Amerika ternyata merupakan negara pengimport beras ke-4 terbesar di dunia
- Thailand ternyata baru mau meniru sistem Bulog Indonesia, sementara Bulog Indonesia meniru Filipina, dan Filipina meniru Food Corporation di India
- Kalau terjadi penimbunan, masyarakat harus segera melaporkannya!
- Kenaikan harga dua tahun terakhir adalah sepertiga harga tahun sebelumnya, dan paling besar sejak 1998.
- Produksi beras segitu-segitu aja, orang pemakan beras bertambah terus
Ada yang mau tambah? kasih komentar dong di bawah
-
Baca juga:
- Komentar lain soal krisis beras
- Wawancara Arya Gaduh: Harga Beras Tinggi Merugikan Petani Juga
- Wawancara Anung Karyadi (2006): Transparansi Birokrasi
- Wawancara Bustanul Arifin (2005): Motif Buruk Pengaturan Beras




21 Comments: