Articles

Perempuan Tidak Mampu? Pikiran Jadul

Perspektif Online
23 February 2007

Saat Adang Daradjatun yang disebut-sebut menjadi calon gubernur Jakarta dari PKS belum juga berani muncul di acara Gubernur Kita, tokoh PKS Nursanita Nasution (anggota DPR RI Komisi XI) malah kembali hadir di acara Gubernur Kita. Penampilannya yang tenang dan tegar dalam menyampaikan visi dan misinya telah membuat Nursanita diminta WW menjadi calon gubernur dari PKS. Apalagi PKS belum resmi mendaftarkan Adang ke KPUD sehingga masih dapat diganti. Apakah mungkin?

Acara Gubernur Kita (GK) Kamis malam (22/2) merupakan episode kedua dari tema Perempuan dan Politik. Seperti episode pertama, pemikiran cerdas banyak terlontar dengan menuju satu kesimpulan "Perempuan Mampu Jadi Gubernur". Berikut ini beberapa perbicangan kritis tersebut.

-

Calon Gubernur Perempuan

  • Effendi Ghazali: Kita mulai dari Ibu Nursanita untuk menyampaikan pendapatnya untuk gubernur Jakarta mendatang
  • Nursanita: Gubernur mendatang harus memperhatikan kesehatan reproduksi perempuan karena angka kematian ibu melahirkan dan bayinya masih sangat tinggi di Jakarta, pendidikan harus gratis hingga SMU karena angka buta huruf terutama di kaum perempuan masih tinggi, dan harus meningkatkan partisipasi politik perempuan karena pada Pemilu lalu masyarakat terutama perempuan memberikan partisipasi yang besar tapi setelah itu ditinggalkan
  • Wimar: Karena itu saya meminta Ibu menjadi calon gubernur dari PKS
  • Ryaas: Ini kedua kalinya Pak Wimar meminta Ibu Nursanita menjadi calon gubernur PKS
  • Effendi: Dan ini disampaikan kepada publik secara terbuka
  • Wimar: Iya, ini karena saya sangat senang Ibu Nursanita yang kader PKS sangat tenang dan tegar dalam menyampaikan visi dan misinya
  • Nursanita: Bicara calon gubernur, nanti ada waktu khususnya karena pendaftarannya belum resmi.
  • Effendi: Maksudnya, masih ada kesempatan
  • Wimar: Saya dukung sampai saat terakhir
  • Nursanita: Maksudnya, semua calon gubernur yang akan ikut dalam Pilkada Jakarta belum resmi.
  • Yenny Rosa: Apa maksudnya itu?
  • Nursanita: PKS memilih calon dan mengusung nama Adang sebagai gubernur dan Dani sebagai wakil gubernur. Tapi untuk secara resmi itu belum didaftarkan ke KPUD.
  • Effendi: Jadi belum resmi itu belum terdaftar di KPUD. Karena itu segala kemungkinan masih bisa terjadi.
  • Wimar: Dan diharapkan terjadi

Pernyataan terakhir Wimar disambut suara riuh dari hadirin yang sangat mengharapkan memang ada calon gubernur dari kaum perempuan.

Sekadar info mengenai Nursanita: Berdasarkan penelusuran kami dan sebagaimana termuat dalam situs resmi Fraksi PKS DPR RI, Nursanita Nasution memiliki gelar sarjana ekonomi dan master ekonomi. Bahkan dalam beberapa pemberitan di media sering kali dicantumkan memiliki gelar Doktor. Saat ini Nursita berada di Komisi XI DPR RI bidang keuangan, perencanaan pembangunan nasional, perbankan, dan lembaga keuangan bukan bank.

Sekedar info mengenai Adang: Ternyata berkali-kali Adang Daradjatun batal muncul di Gubernur Kita itu BUKAN karena kebetulan berhalangan. Maupun dia sudah banyak muncul di acara lain (di Trans7, di Metro TV) termasuk di Jak-TV dalam acara City View, kemarin kita terima kabar dia menyatakan bersedia datang ke acara TV manapun KECUALI Gubernur Kita, sampai pencalonan sudah resmi.

-

"Mampukah Perempuan?"

Tema Perempuan dan Politik bukan hanya mengharapkan muncul calon gubernur dari perempuan, tapi juga muncul pertanyaan apakah perempuan mampu menjadi gubernur Jakarta. Dua penelpon menanyakan tersebut di Acara Gubernur Kita. Berikut jawaban seorang panelis:

Wimar: Kalau soal kemampuan perempuan seharusnya ditanggapi oleh yang bukan perempuan agar tidak muncul kesan bela diri. Ucapan semacam itu sebetulnya adalah cara berpikir dari kelompok mayoritas yang menekan. Dulu, ada pemikiran apakah mungkin kalau presiden bukan dari tentara, bukan dari Jawa. Di AS, apakah mungkin kalau presidennya bukan orang Protestan. Dimana-mana yang menekan itu selalu menyepelekan begitu saja orang dari golongan lainnya. Kenyataan sebetulnya, kemampuan itu ada pada individu-individu itu sendiri. Jadi apakah itu perempuan, laki-laki, sipil, militer, itu semua tergantung bagaimana orangnya.

Perempuan memang pasti mampu mengemban tugas sebagai gubernur. Ini yang dinyatakan aktivis perempuan yang hadir pada acara Gubernur Kita. Ini rangkuman dari pandangan Saidah Sakwan (anggota DPR RI Komisi X dari fraksi PKB), Yenni Rosa Damayanti (aktivis), Mashurah (aktivis), Hermandari (Gerakan Pemberdayaan Suara Perempuan), Nia Syarifuddin (Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika), Elen Pitoy (Kerukunan Keluarga Kawanua), Mike (Koalisi Perempuan Indonesia), Loli (Jaringan Tolak RUU APP), Mariana (Yayasan Jurnal Perempuan), Lutfie (Sanggar Firman Muntako).

  • Harus punya perspektif gender budget (penyusunan anggaran yang mendukung kemajuan perempuan)
  • Tidak menyusun UU yang menyudutkan perempuan
  • Memperhatikan rakyat miskin karena sebagian perempuan Jakarta miskin
  • Tidak menggusur mata pencaharian perempuan yang sebagian besar ekonomi bawah seperti pedagang kaki lima dan warung
  • Tidak membatasi gerak perempuan
  • Menyediakan alat kontrasepsi KB gratis
  • Menyediakan transportasi yang melindungi perempuan dari pelecehan
  • Memperhatikan keamanan perempuan

Host Effendi Gazali meminta WW memberikan kata penutup, yang disampaikan dengan singkat:

Perjuangan kaum perempuan adalah perjuangan semua orang, sebab perbaikan kehidupan perempuan berarti perbaikan seluruh masyarakat. Diskusi malam ini adalah yang paling bermutu selama Gubernur Kita diadakan, dan itu berkat kehadiran kaum perempuan.


photo selengkapnya


Create polls and vote for free. dPolls.com

Baca juga:

Print article only

23 Comments:

  1. From Raihan\'s Mom on 23 February 2007 10:02:21 WIB
    Mas Wimar..
    Koq kayaknya keukeuh dan rada maksa nich kudu Ibu Nursanita yg jadi Gubernur..
    Apa karna si ibu tu cantik yaaaa
    Whua..ha..ha..
  2. From Satya on 23 February 2007 13:07:59 WIB
    ada prospek cagub yg lebih bagus dari nursanita gak?
    kalo ada tolong sebut namanya dan visinya dong..

    kalo gak ada, PKS tolong calonkan nursanita!!!!

    hidup perempuan, tolak poligami!
  3. From ringo-star on 23 February 2007 14:48:36 WIB
    sekali lagi, sebuah acara talkshow bermutu. acara gubernur kita kmrn malam sangat bermutu. para moderator, bang ryas, bang efendi, dan bang wimar seperti speechless mendengar komentar para aktivis wanita. salut buat mereka atas usulan2nya.
    saya setuju kl wanita mencalonkan menjadi gubernur, tp pertanyaan nya adalah apakah seluruh rakyat jakarta, khususnya kaum laki2 siap dipimpin oleh wanita?
  4. From De Truth on 23 February 2007 15:05:19 WIB
    Saya juga setuju kalau Ibu Nursanita ikut mencalonkan diri jadi CaGub DKI Jakarta. Bangga dong kalo punya Gubenur perempuan yang cantik jelita. Hahaha.
  5. From dimas on 23 February 2007 17:15:07 WIB
    sayang jak TV nggak nyampe ke bandung.. (ya iya lah.. namanya jak TV) saya jadi gak bisa nonton..
  6. From daisy on 24 February 2007 11:25:16 WIB
    wah..seru..seru nih topiknya. siapa bilang perempuan tidak mampu? Ini jaman modern, perempuan juga mampu menempati posisi strategis. Di Indonesia ini sudah ada beberapa kabupaten yang bupatinya perempuan, presiden pernah perempuan juga. Jadi, kalo memang perempuan mampu jadi gubernur, kenapa tidak? Laki-laki ato perempuan, yang penting tergantung orangnya... apakah dia punya moralitas yang baik ato tidak, dan bisa memimpin dg baik ato tidak. Hidup Perempuan!!
  7. From Galih on 25 February 2007 15:02:35 WIB
    Tidak ada salahnya klo perempuan berkeinginan maju dalam berbagai aspek kehidupan, karena sesungguhnya manusia baik laki-laki atau perempuan mempunyai hak yang sama untuk itu. Tapi alangkah baiknya jika kita melihat pera atau kewajiban antara laki-laki dan perempuan yang seutuhnya. Di dunia ini kedudukan perempuan sudah sangat dimuliakan buktinya adalah: Surga di telapak kaki ibu, ada Ibu kota tidak ada bapak kota dan wanita itu tiang negara. jadi alangkah baiknya seorang perempuan kembali kepada peran dan kewajibannya yaitu sebagai pendidik dan pembina keluarga yang akan menentukan keberhasilan keluarnya bibit-bibit baru yang matang secara akhlak dan intelektual. Untuk menjadi seorang gubernur silakan saja jika seorang perempuan tidak melupakan peran utamanya sebagai pendidik dan pembina keluarga (seorang ibu).Tetapi jika tidak mampu menjalankan itu lebih baik serahkan kepada yang lebih mampu. karena negara ini akan hancur jika perempuan-perempuannya telah melupakan peran sejatinya sebagai seorang ibu (pendidik dan pembina keluarga
  8. From gubrak on 25 February 2007 18:53:07 WIB
    kalo ada cagub kita perempuan dari etnis tionghoa yang tidak muslim apakah agamanya katolik/ protestan/ budda/ konghucu...(yg pasti bukan pengusaha itu..) kira2 bakal didukung gak (minimal oleh perspektifners)????
  9. From surya eddy on 25 February 2007 19:17:32 WIB
    Gubernur Perempuan ???
    Waahh...Boleh2 aja sich sebenarnya, tapi begini ya om WW.. Dg situasi bangsa dan masyarakat serta budaya masyarakat kita yg selama ini melekat (paternalistik, dan mudah terbawa arus!), apalagi utk GUBERNUR DI JAKARTA yg nota bene GUBERNUR DI IBU KOTA NEGARA RI.. rasanya belum saatnya GUBERNUR PEREMPUAN.

    Namun, jika ibu kota negara RI itu mungkin jadi dipindahkan ke propvinsi lain di luar jakarta (misalnya saja ke Riau tempat saya, he he he ..), boleh jadi lah begitu. Wong orang sekaliber Om Sutiyoso aja sudah pusing 1000keli2ng begitu..

    Yaa kira2 begitu dech om WW..
    Terima kasih.

    Salam,

    Surya
  10. From Farid Primadi on 26 February 2007 04:31:55 WIB
    Bung Wilmar yang semakin canggih...

    Zaman yang semakin mengglobal dan semakin edan ini, saya rasa partisipasi aktif dari kaum wanita di dalam berbagai aspek peradababan sudah sangat dinanti-nantikan.

    Tidak ada lagi istilah diskriminasi gender... JADUL BANGET!!!... buang jauh-jauh stigma usang tersebut!!! Sudah Lapuk!!!...

    Negeri kita tercinta ini membutuhkan pemikiran yang kritis dan inovatif, dan tidak lagi harus terbelenggu oleh dogma-dogma 'sesat dan menyesatkan' terutama yang berkenaan dengan diskriminasi gender.

    Salam dan Terima Kasih,
    Farid Primadi
    http://fardepre.blogs.friendster.com/farid_primadi/
  11. From redi on 26 February 2007 09:51:32 WIB
    Sebenrnya Bung Wimar sudah menyinggung bhw megawati walo perempuan tapi tidak berspektif gender. masih ada contoh lain yaitu margareth tacher. Jadi persoalannya apakah ini semata soal figur perempuan ato sistem yg paternalistik? Pertanyaannya bukan siap kah perempuan memimpin tapi bisakah kita mengubah sistem yg paternalistik? bahkan Megawati, Margareth tacher pun tenggalm dlm sistem tsb. Lalu katakanlah 60 % perempuan di ekskutif dan parlemen, apakah sistem paternalistik akan tumbang? Analoginya, Amerika terkadang tidak perlu menjajah dgn secara langsung dng menempatkan tentaranya tapi cukup dgn sistem pro amerika. PErtanyaan yg kurang lebih sama bisa ditempatkan dlm politik perempuan
  12. From redi on 26 February 2007 10:07:09 WIB
    Tambahan lagi, pertanyaan jg harus ditujukan pada aktivis perempuan yi bgmn memberikan jaminan pada masyarakat bhw jika yg memimpin perempuan maka tidak akan ada lagi penggusuran, penangkapan semena2 kaum waria, kaum miskin, PHK, tidak ada kenaikan harga sembako, tidak ada kenaikan harga obat2an, menjalankan ekonomi mandiri dst dst. Jadi bukan semata2 kita politik perspektif gender tapi juga politik yg berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat, baik yg laki2-perempuan dan kaya-miskin.
  13. From Alex Maffay on 27 February 2007 13:46:30 WIB
    Bang Wimar yang makin Kribo aja.
    Sekali lagi saya yakinkan siapapun Gubernurnya akan saya terima dengan senang hati. Walaupun Waria, sejauh dia masih memihak pada kepentingan akar rumput. Karena pada dasarnya Lidah itu tidak bertulang dan setiap gender memilikinya. Tinggal bagaimana si empunya lidah dalam menggunakannya. Lidah dapat berfungsiuntuk menyenangkan lawan sekaligus melukai lawan. Melalui janji-janji yang diobral, dampak itu dapat saja terjadi pada akar rumput yang notabene hanya mampu melihat dan menunggu kinerja nyata dari para calon Gubernur. Untuk itu, akar rumput jangan hanya bersifat pasif. Hendaknya akar rumput juga aktif mencari track record dari para calon Gubernur apalagi menyangkut pemimpin Ibukota. Kesemerawutan yang terjadi sekarang di Ibukota menjadi bukti nyata dari kebohongan publik yang pada masa kampanye para Calon Gubernur terdahulu hanya dapat menjual kecap No. 1 saja. Dan hal ini telah menjadi "Bussines as ussual" oleh para calon Gubernur yang kelak akan menggantikan posisi Gubernur sebelumnya.
    Untuk itu perlu saya garis bawahi bahwa "Lidah tiada bertulang" akan kembali dalam peranan Pilkada yang saat ini sedang bergulir. Tinggal akar rumput saja yang harus dengan jeli menggunakan hak pilihnya pada calon Gubernur yang memang telah lulus dalam 'Fit and Proper Test'.Uji kepatutan dan Kelayakan itu juga bukan berdasarkan track record dari KPU atau Partai Politik saja, namun juga dari track record dari akar rumput yang merasakan langsung dari akibat janji yang diobralkan dari Lidah tak bertulang itu.
    Waspadai Jurus maut dari Lidah tak bertulang, Hidup akar rumput.
  14. From Ria Wibisono on 27 February 2007 21:50:58 WIB
    Perempuan dibilang mudah menangis,
    itu kan karena sejak kecil laki-laki diharamkan menangis

    Perempuan dibilang emosional,
    itu kan karena laki-laki sering diharuskan menahan emosi

    Perempuan dibilang lemah,
    itu kan karena sering dibatasi

    Perempuan dibilang nggak logis,
    padahal nggak kurang-kurang laki-laki yang sering ngikutin dorongan perasaan

    Perempuan dibilang bodoh,
    ya gimana mau pinter kalau pendidikannya dipandang sebelah mata

    Yang sebenarnya adalah, perempuan dan laki-laki itu sepadan. Jadi nggak masalah yang mana yang jadi pemimpin, karena gender nggak segitu signifikannya dalam menentukan kualitas orang. Misalnya, gender nggak mempengaruhi intelektualitas dan integritas kan?

    Jadi, perempuan jadi pemimpin, kenapa enggak?
  15. From rachman on 28 February 2007 12:14:43 WIB
    laki, perempuan sama saja, cukup dua saja !
    eh, itu mah KB !
    ada lagi pikiran jadul yang lain. presiden eh gubernur harus berbadan gede, harus berwajah ganteng, harus beristeri satu, harus jawa, harus pribumi, harus .......
    padahal yang badan gede belum tentu nyali-nya gede, yang berwajah ganteng belum tentu kelakuanya bagus, yang beristeri satu belum tentu beres ngurus keluarga, yang jawa belum tentu tidak menindas orang jawa, yang pribumi belum tentu membela hak pribumi dan ...........
    jadi kesimpulannya carilah yang "good" !
  16. From gambler on 28 February 2007 12:42:25 WIB
    spt ungkapan dari Deng Xiao Ping:

    "tdk masalah, kucing hitam atau putih, yg penting kucing BAGUS"
  17. From anton on 02 March 2007 21:14:44 WIB
    Tetap dukung Rano Karno dan tidak anti perempuan...
  18. From octy on 06 March 2007 20:30:38 WIB
    sudah saatnya bagi setiap mata, baik perempuan atau laki-laki untuk ber-affirmative action. ini hanya satu dari sekian kenyataan bahwa perempuan sudah bangkit, namun tidak akan pernah berarti selama kita berpikir bahwa perempuan laki sama saja.
    ingatlah bahwa pengalaman hamil dan melahirkan, atau menstruasi atau bahkan apapun yang secara kodrati dialami oleh seorang perempuan hanya perempuanlah yang mengerti. maka jika ingin perempuan ter-upgradasi-kan, ya perempuanlah yang paling tahu formulanya.

    bukan berpikir oposisi biner, perempuan dan laki-laki. kita partner dan saling bekerja sama. menghilangkan salah satu unsur sama saja pemusnahan. tapi ini saatnya memberi sedikit kepercayaan bahwa perempuan mau dan mampu melakukannya. yakinlah, bahwa yang menyempurnakan hanya Tuhan, zat yang sama bagi laki dan perempuan.
  19. From muluk on 07 March 2007 22:34:16 WIB
    sebagai laki-laki kita tidak bisa menikmati keindahan dunia tanpa kehadiran wanita.so why say no to women?coz sometimes we need a touch of a woman.
  20. From didik on 22 March 2007 00:07:50 WIB
    Boss genduut kribo, sampeyan ini "pandai" membuat "karya" yg menimbulkan cibiran pada laki2 seperti sampeyan sendiri.
    Apakah anda bukan ....?
    hehehe , jangan suka bikin kekusutan lah , sadar bung!
    Ikhlas aja siapapun yg dipilih oleh Partai2 tsb. Kok harus nurutin sampeyan sih?
    Anda bukan dewan suro partai apapun dan bukan anggota partai apapun toh?
    Dulu anda suka ngrasanin Amin Rais atau Habibie ... kok berhenti sih .. terusin aja! Juga Suharto, Prabowo dll.

    Siapa sih yg anda sindir sebagai menolak perempuan? Kok cuma PKS yg harus diwakili perempuan? Gimana PKB PDS PDI GOLKAR ?

    Emang kok nggak calonin istri anda sendiri sih? Apa harus istri olaen?
    hehehe ... jangan marah ya? kita bercanda kok seperti juga kamu!

  21. From ARIA(Aku Rakyat Indonesia Asli) on 26 March 2007 21:21:00 WIB
    Perempuan???? ngga janji deh tapi kalo jadi PRESIDEN OK BANGET TUH. buat donk KOALISI PEREMPUAN dirumah ya pa' tapi di TPS...pilih cewe!!! kapan lagi.... cewe paling banyak di indonesia kok ya ngga bisa...malu2in... katanya perempuan indonesia yang punya kepribadian masa dilecehkan hanya untuk beberapa rupiah mau dipornography ataw body painting .. buat prinsip donk.... sebetulnya bukan laki2 yang merendahkan atw melecehkan perempuan tapi perempuan2 sendirilah yang merendahkan dan melecehkan martabat mereka sebagai perempuan indonesia so...please deh.... gimana mau persamaan gender kalo gitu .. apa katanya demi propesionalisme..P~..tetap aj kalo dibayar seperti.. tul ngga???? yang aman2 aj ... mau terkenal coba calonin doro jadi bupati .. atw presiden ... kenapa takut... katanya perempuan indonesia punya kepribadian..ok..ok..ok :)
  22. From Gusti on 27 March 2007 15:25:12 WIB
    Pengakuan seorang preman ekonomi John Perkins mengungkapkan bagaimana negara imperialis berhasil dgn strateginya utk menghancurkan perekonomian di Indonesia "ini secara ekonomi."

    Kita lihat bagaimana pernyataan dari sebagian penulis barat bahwa bagaimana menghancurkan pelan2 Indonesia yg mayoritas penduduknya Muslim.

    Berdasarkan pengakuan sebagian penulis Barat, seperti GEORGE ANTONIUS benih-benih pemikiran pertama Barat seperti penolakan agama, liberalisme, dan sekularisme secara terus-menerus ditanamkan oleh "yg jahil agama" di negara-negara Islam. Tujuan mereka adalah untuk memperlemah keyakinan kaum muslimin di kawasan itu terhadap agama Islam dan mempersiapkan kondisi bagi terlaksananya imperialisme di sana. Mereka mendirikan sekolah-sekolah, pusat keilmuan, dan universitas, menyebarkan dasar-dasar pemikiran Barat dan dengan jalan ini mereka mempromosikan peradaban Barat di dunia Islam.

    Seorang "yg jahil agama" bernama Roise di Tarablus barat pernah berkata, “Penyebaran AGAMA SAYA di Tarablus sangatlah sulit. Setelah lima belas tahun berusaha, baru saya memahami bahwa satu-satunya cara untuk "meng-Agamakan (seperti saya)" bangsa ini adalah dengan mempengaruhi mereka dan mengubah kehidupan pribadi dan perilaku khusus mereka sehingga dengan cara ini kami bisa mencapai tujuan kami.”

    Kalau masalah keperkasaan Perempuan selalu dihembuskan oleh para rekan kita yg juga diamini para wanita modern barat dan menghapus budaya luhur suatu keluarga kita coba pahami ini terlebih dahulu, apakah kita tdk sadar kalau tujuan sebenarnya adalah bagaimana mengaburkan pandangan bahwa perempuan di jaman sekarang KALO BISA MENYAMAI LAKI-LAKI dgn tujuan akhirnya yaitu rusaknya tatanan rumah tangga di negara kita yg selama ini kita pegang teguh.
    Kalau mereka dianggap Lemah yah memang karena secara fisik saja mereka berbeda dgn laki2. Wanita adalah bagian daripada lelaki karena ia diciptakan dari tulang rusuk lelaki sebelah kiri. Ia dikaruniai dengan ‘sembilan’ nafsu dan ‘satu’ akal. Kelemahan wanita krn menurut naluri daripada menggunakan akalnya. Lelaki dikurniakan ‘sembilan’ akal dan ‘satu’ nafsu. Kelemahan lelaki mudah terpedaya akan godaan wanita. Bentuk fisik, sifat dasar dan siklus hidup yg mempengaruhi cara berpikir (contoh : mens dan hamil) dari tubuh perempuan itu sudah merupakan asal dari sononya, kenapa masih saja diotak-atik untuk dibolak-balik.
    Tdk kita pungkiri dlm sejarah manusia bahkan hewanpun bilamana ingin menjadi seorang pemimpin ada kekuatan otak dan juga fisik yg sangat dominan berperan, bila ada kompetisi 10 pria dan 10 wanita yg diadu (jd ketua) berdasarkan syarat diatas anda bisa tebak berapa persentase pria dan wanita yg terpilih..!!!

    Untuk hanya menjadi seorang istri yg baikpun itu sangat butuh perjuangan dan pengorbanan bahkan mengalami kekerasan, tapi apakah itu juga tdk dialami laki2...? banyak siksaan mental yg laki2 hadapi ketika hasil jerih payahnya kadang tdk dihargai oleh seorang istri yg tdk bisa bersyukur. Tapi itulah manusia yg punya masing2 kelemahan dan kelebihannya masing2.
    Di dlm Islam Allah sangat memuliakan perempuan hingga ada ayat khusus yg membahasnya yaitu Surat An'Nisa (Surah Perempuan atau Wanita).
    contoh kelebihan seorang perempuan bila dia seorang isteri hingga Allah memuliakan-Nya.
    1. Apabila suami pulang ke rumah dalam keadaan letih dan isteri melayan dengan baik, maka dia memperoleh pahala jihad.
    2. Wanita yang menyebabkan suami keluar ke jalan Allah s.w.t dan menjaga adab rumah tangga akan masuk syurga 500 tahun lebih dulu daripada suaminya. Dia akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari. Dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga dan menunggang dengan menunggang kuda yang diperbuat daripada permata yaqut.
    3. Wanita yang menjaga solatnya, puasa, dan taat kepada suami, Allah s.w.t izinkan dia memasuki syurga dari mana-mana pintu yang ia sukai.
    4. Kalau isteri melayani suami tanpa khianat, dia mendapat pahala 12 tahun solat.
    5. Wanita yang meninggal dengan kerelaan suaminya akan masuk syurga.
    6. Jika suami mengajar isterinya satu masalah agama, akan dapat pahala 80 tahun ibadat.
    7. Isteri yang memandang suami dengan kasih sayang dan suami yang memandang isteri, juga dengan kasih sayang, maka Allah S.W.T memandang dengan penuh rahmat.
    8. Jika suami mendatangi isterinya kemarahan, tetapi isteri melayani dengan baik, maka mendapat separuh pahala jihad. Dan masih banyak lagi.

    Hati2 terhadap bahaya sekularisme laki dan wanita yg selalu dihembuskan utk menghancurkan tatanan kita. So banggalah kalian sebagai seorang wanita.
    Jgn mabuk pujian bahwa bila wanita bisa angkat besi, bisa juga binaraga,tinju, bisa maaf kencing ala laki2, bisa adu otot lawan laki2, bahkan demi kesetaraan gender di barat sana kalau sang suami minta "jatahnya" sama isteri tapi sang suami maksa itu adalah suatu tindak perkosaan dan bisa dimejahijaukan (TRAGIS). Mari kita kembalikan semua itu pada porsinya masing2 bagaimana cara kita membina rumah tangga kita berjalan dgn benar, santun, kasih, selalu beriman dan bertaqwa pada yg Maha Kuasa semua pasti beres.
    Sah2 saja kalo mau jadi Pemimpin tapi bukan berarti kebanggaan itu jdi berlebihan yg akhirnya membuat kalian (wanita) berpikir LAKI2 SUDAH TIDAK DIBUTUHKAN lagi.
    Tobaaat Gusti.....
  23. From WeWeGombel on 23 April 2007 00:05:36 WIB
    sepakat dgn coment #20

    Lo tu ye
    ga anggota dewan pertimbangan, dewan syuro, dewan agung dll
    senenge ngresulo teruuuuus..

    Jangan coba menabur benih rumput dalam benih padi yang telah disebar ya!!!!
    Anda senengya bikin kisruh di "rumah tangga " orang aja
    Kalo mau Istri sampeyan calonin jadi GUBERNUR JKT..mampu ga????
    Otak perempuan indonesia itu ga jauh2 dari bedak dan gincu..mana layak jadi gubernur..
    liat aja di TV2..sinetron, infotainment, gosip dll
    dihiasi pere semua kan..yang memang ga punya kualitas..
    Mana mungkin mereka sanggup mikirin wilayah dan rakyatnya

« Home