Articles

Belajar dari Levina: Keselamatan Tidak Bisa Ditawar

Wimar's World
01 March 2007

Oleh Hayat Mansur

Tragedi KM Levina 1 mengingatkan kembali bahwa kita semua belum mempunyai budaya menjaga keselamatan. Terbakarnya KM Levina 1 yang menewaskan puluhan penumpang dan kemudian wartawan dan polisi saat kapal tersebut tenggelam seharusnya bisa dihindari jika faktor keselamatan tidak ditawar-tawar. Kalau begitu siapa yang harus bertanggung jawab?

Belum adanya budaya menjaga keselamatan ini terungkap dalam Wimar's World Rabu malam (28/2) membahas kejadian Levina dalam konteks keselamatan (dan ke-tidak-selamatan) sarana transportasi di Indonesia, live di Jak-TV. Tampil sebagai narasumber dalam acara dengan host Wimar Witoelar tersebut adalah I Gusti Eka Sucahya (reporter Indosiar), Kunto Prayogo (ketua Tim Investigasi Levina 1 dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi), dan Bobby R. Mamahit (direktur Perkapalan dan Kelautan Departemen Perhubungan).

Dari penuturan Gusti yang turut serta meliput saat kapal Levina 1 tenggelam terungkap bahwa faktor keselamatan yang penting itu tidak juga menjadi bagian dari kerja KNKT, tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dan juga wartawan. Seluruh anggota tim penyelidikan dan juga wartawan yang diajak serta tidak dilengkapi alat pelampung. Bahkan banyak wartawan yang ditugaskan meliput Levina 1 tersebut ternyata tidak bisa berenang seperti (Alm) Muhammad Guntur Syaifullah (kameramen SCTV) yang menjadi korban.

Kesaksian I Gusti Eka Sucahya, jurnalis televisi:


I Gusti Eka Sucahya,
Jurnalis Indosiar

I Gusti Eka Suchaya: Hari minggu itu saya dan beberapa teman lain memang mendapat tugas dari kantor begitu,  untuk meliput perkembangan terbakaranya kapal Levina 1. Saya datang ke kantor Direktorat Pol Air Polda Metro itu jam 10, dan kawan-kawan sudah banyak di sana.

WW: Segala macam station

Gusti: iya segala Station, terutama sebagian besar TV. Tidak beberapa lama kami di data, dari mana, berapa orang, siapa namanya, dan kemudian di briefing.

WW: Untuk rencana naik ke kapal itu 

Gusti: untuk rencana melihat bangkai Kapal Levina 1

WW: Tetapi jelas -jelas akan naik dalam kapal atau tidak?

Gusti: Tidak. Yang akan naik adalah tim Puslabfor dan Tim KNKT. Itu informasi yang kita dapat di briefing. Pada briefing itu dikatakan, tolong  jaga keselamatan pribadi, karena sehari sebelumnya kapal milik Polri itu kehabisan bahan bakar dan sempat terombang-ambing, ada teman-teman yang mabuk. Kita di ingatkan, kalau mabuk, kalau pusing, jangan duduk dipingir,

WW: Karena teman-teman anda bukan orang laut ya, yang biasa mengadapi laut.

Gusti:  Kita kebanyakan di darat. Yang kedua, kita dikasih tahu bahwa Levina ini masih berasap, ansumsinya  mungkin masih panas atau mungkin juga masih ada satu dua terbakar. Kemungkina teman-teman belum bisa naik. Waktu itu dalam hati kecil saya pengen naik, sebagai wartawan saya pengen lihat, seperti apa sih kapal yang terbakar itu? Tpi saya menahan diri, oke lah saya tidak naik. Akhirnya jam 12 kita berangkat menuju tempat Levina itu lego jangkar, dengan 3 boat milik Polri itu. Boat yang paling besar ditumpangi oleh wartawan dan 4 orang anggota KNKT. Lalu yang dua boat lainya itu berisi anggota Puslabfor, ada juga direktur  Pol Air ada juga Kepala Puslabfor disana. Kita berangkat kurang lebih perjalanan 20-30 menit sampai sana kita mengitari kapal, beberapa kita kitari, lalu sampai pada satu titik.

WW: Dalam keadaan tenang-tenang aja kapal itu, tidak seperti mau tenggelam?

Gusti: Kemiringan kapal masih, saya tidak mengukur pasti berapa derajat kemiringannya ya, saya lihat seperti di foto itu. Keadaan air juga cukup tenang jadi kita tidak terlalu khawatir, tidak hujan tidak badai, cuaca  cerah laut kelihatnya sangat bersahabat pada waktu itu. Kita putar beberapa kali lalu sampai satu titik kita lihat , ada kapal merapat. Dari jauh kita lihat tim Puslabfor itu naik, kita bisa lihat karena di belakangnya ada tulisan Puslabfor. Puslabfor lapor itu naik, lalu bayangan kami oh ini tim akan memastikan kondisi di kapal.

WW: Sampai situ anda tidak membayangkan akan ikut naik?

Gusti: Belum, saya belum membayakan akan naik, saya berfikir kita berdekat aja bagus, karena di kasih tahu kapal Levina masih  panas

WW: Bisa foto zoom.

Gusti: Ya betul. dari jarak boat kami itu kira-kira 5 meter dari Levina masih terasa hawa agak panas ya, hawa besi terbakar, karet terbakar, masih terasa. Kita ambil gambar dari jauh, lalu tidak beberapa lama tim dari KNKT menyusul naik dan waktu itu kita mengambil jarak gitu ya. Tahu-tahu kurang lebih setengah jam kemudian kami diizinkan naik.

WW: Ada izin naik?

Gusti: Ada izin naik,

WW: Sambil di kasih tahu ini pelampungnya? atau di kasih petujuk, naiki kapal yang sedang panas begitu tidak?

Gusti: Tidak,

WW: Atau silahkan naik saja, begitu?

Gusti:  Silahkan naik saja, kami diberitahu caranya  naik kapal seperti apa? Karena kapal harus merapat pelan-pelan, harus menyesuaikan dengan ombak begitu. Dikasih tahu naiknya pada saat kapal naik begitu. Naik secepatnya, mengambil gambar secepatnya, dan turun secepatnya, itu yang ada dalam pikiran saya.

WW: Itu dengan kamera?

Gusti:  Dengan peralatan  yang kami bawa. Pada saat itu kami diberi semacam lampu hijau untuk naik. Yang terpikir bukan pakai baju pelampung dulu, yang terpikir adalah naik dulu, karena sepengatahuan kita kepikiran tidak di perbolehkan  naik, tiba-tiba boleh naik.

Kami diizinkan naik kita berada di kapal itu tidak lama,saya kira tidak lebih dari 10 menit kita naik, temen-temen naik, saya naik, temen-temen ambil gambar, saya melihat seputar apa yang terjadi begitu iya.

WW: Itu bersama rekan-rekan dimana ada yang meninggal kemudian.

Gusti: Iya, iya semua naik,wartawan semuanya naik lalu akhirnya kita naik level yang ke tiga, di dek ke tiga karena di situ ada dirpol air dan Kepala Puslabfor. Kami bersiap-siap untuk bertanya apa hasilnya. Karena itu yang penting kita sampaikan, apa hasilnya sekarang. Beliau bilang, ya udah kita wawancara disini, lalu kita rame-rame wawancara disini, wawancara di atas, kita masih tenang karena tidak berpikir akan terjadi apa-apa.

WW: Dan para ahli juga  tidak ada yang menyangka kalau ingin tenggelam?

Gusti: Tidak, tidak . Saya yakin pada saat diijinkan naik, bukan ada maksud membuat celaka. Setelah naik diatas kita wawancara sebentar, kurang lebih 3 menit, selesai wawancara dengan Dirpol Air, maksudnya sambil jalan begitu. Kami ambil gambar Puslabfor juga sambil bertanya, ini kok ada beberapa keganjilan yang kita lihat. Bisa tidak dijelaskan dari sisi forensik.

WW: Pertama kali kelihatan yang abnormal?

Gusti: Kami merasanya selesai wawancara itu. Kami merasa kemiringan kapal kok bertambah, dan asisten kameramen saya yang mengambil gambar itu melihat di frame kamera itu posisi air laut kok - kok posisinya berubah..

WW: Kita melihat liputan berita sesudahnya iya, tetapi waktu itu sudah panik, sudah tahu akan tenggelam?

Gusti: Belum, tidak ada kepanikan waktu itu. Memang pada waktu itu cepat turun, cepat turun. Pada saat dari kapal yang membawa kami dari kepolisian itu ada neriaki kami, pakai pengeras suara pakai megaphone, segera turun, segera turun, kapal miring. Baru kita semua merasakan mulai ada ketegangan  di situ. Kami semua cepat-cepat bergerak ke arah tangga, tapi saling mengingatkan juga, jangan panik, jangan panik, cepat tapi jangan panik. Pada saat turun itu saya melihat ada di sebelah kanan itu air sudah masuk dengan deras, dari tempat kami masuk. Kami diiteriakin lagi, jangan di sebelah kanan, di sisi satunya, di sisi satunya. Kami bingung lagi karena tidak ada tempat untuk keluar, akhirnya kita keluar dari tempat  yang seperti jendela begitu, lubang di sana pada saat kapal  sudah mulai miring. Lalu ada aba-aba lompat, lompat , saya kurang jelas siapa yang ngasih aba-aba tapi ada aba-aba itu, dan semuanya lompat.

WW: Ke dalam air maksudnya?

Gusti: Iya ke air, sebagian besar lompat, tetapi saya tidak mau lompat dulu jadi saya tunggu sampai kapal betul-betul terbalik sempurna tengkurep lalu baru saya masuk ke air .

WW: Bisa berenang Pak Gusti ?

Gusti: Saya sedikit

WW: Rekan-rekan?

Gusti: Sebagian tidak bisa berenang, sebagian lagi bisa

WW: Tidak bisa berenang dan tidak pakai pelampung

Gusti:  Betul, tidak bisa berenang  dan tidak pakai pelampung. Akhirnya saya melihat teman-teman itu tiba-tiba tersebar dengan cepatnya di air, mungkin juga karena….

WW: Jadi mereka di air ya, bukan terbawa  dalam kapal?

Gusti: Tidak, tidak.  Semuanya di air

WW: Terus bagaimana saat-saat kritis itu?

Gusti:  Tiga kapal yang membawa kami itu segera melakukan pertolongan, melakukan pertolongan. Orang di ambil-ambilin saya lihat di kejauhan itu, Bima sudah di angkat teman dari RCTI, sudah diangkat dalam keadaan lemas begitu, saya lihat dari kejauhan begitu. Saya lihat disekitar saya juga, teman-teman yang tidak bisa berenang panik dan salah satunya adalah Mas Guntur yang ada di deket saya. Almarhum Mas Guntur kameraman SCTV. Saya tadinya tidak sadar siapa yang ada di sekeliling saya, terus ada teriakan di belakang, saya menoleh,  Mas Guntur teriak : 'tolongin gua - tolongin gua, gua  nggak bisa berenang."  Kami ada di dekat baling-baling, ada semacam silender besar gitu, mungkin untuk memegang baling-baling. Dia berusaha pegang kesitu tapi karena besar dan licin selalu terpeleset. Sempat saya tarik tangannya, bajunya saya tarik

WW: Oh sempet megang tangannya pada waktu dia dalam keadaan sudah tidak berdaya  begitu?

Gusti: Dia masih sadar, dia masih sadar, dia masih berkomunikasi dengan saya:  'tolongin gua, gua tidak bisa berenang,'  saya tarik tangannya, saya tarik naik maksudnya naik dulu keatas silender itu Pada saat itu saya lihat kamera nongol, saya bilang buang kameranya, buang kameranya.

WW: Oh dia masih pegang kamera?

Gusti: Dia masih pegang kamera

WW: Memberatkan badannya tentunya ?

Gusti: Tentunya begitu iya, saya bilang buang kameranya, malah dia bilang 'selametin kamera gua.'  Saya ambil itu kamera terus dia bisa naik, terus bisa duduk gitu, saya kasih kamera ke dia, pada saat saya kasih kamera ke dia tiba-tiba air itu menjadi besar, saya terbawa keatas, saya sampai terbawa keatas besi itu, dia terpeleset, lalu dia berusaha menggapai-menggapai, dipegang pinggang kiri saya begitu terus.  Aaya bilang 'buang kameranya, buang kameranya,' tetapi saya tidak dengar jawaban, jadi saya tidak tahu.

WW: Memang ada bunyi, ada suara gemuruh atau apa. Situasinya bagaimana?

Gusti: Situasinya waktu itu suara-suara tidak terlalu jelas  Pada saat kapal miring kita dengar suara gemuruh, mungkin air masuk dan benda-benda jatuh. Pada saat saya di luar sama Mas Guntur itu, tiba-tiba ada boatv mendekati saya. Dia bilang ' tangkap – tangkap,' . Ada yang lempar tali kepada saya. Tali saya tangkap, sebagian saya kasih ke Mas Guntur. Lalu pada  saat saya sudah pegang tali, kemudian boat itu mundur, mungkin dia tidak berani dekat-dekat situ takut terhantam kapal dan jadi bocor. Dia narik saya, saya sempat noleh kebelakang. Tali dari tangan kiri saya pindah ketangan kanan. Saya berusaha mengapai Mas Guntur di situ. Saya lihat dia menggapai tangan saya, tapi tangan saya  tidak sampai dan tangan dia tidak sampai juga…

WW: Pak Gusti orang terkahir yang melihat Guntur dalam keadaan masih hidup?

Gusti:  Ya, saya lihat tangan dia masuk kedalam air.

-

Belum adanya kesadaran begitu pentingnya faktor keselamatan ini menjadi sorotan pemirsa Wimar’s World lewat telepon. Berikut cukilan percakapannya:


 Bobby Mamahit,
Direktur Perkapalan dan Kelautan Departemen Perhubungan

Keselamatan Ditawar-tawar

  • Toni (penelpon di Bekasi) : Saya mengenal Nahkoda KM Levina dan juga KM Senopati Nusantara yang tenggelam karena saya kebetulan pernah bekerja di kapal Korea sebagai first Engine. Saya melihat faktor keselamatan di Indonesia bisa ditawar padahal seharusnya itu tidak bisa sehingga kapal yang laik berlayar tidak jelas.
  • Kunto: Saya sepakat faktor keselamatan tidak bisa ditawar-tawar
  • Bobby: Pada prinsipnya faktor keselamatan tidak ada tawar-menawar. Beberapa aspek seperti alat penolong dan alat pemadam kebakaran harus ada.
  • Wimar: Kalau tidak bisa ditawar. Mengapa kenyataannya itu bisa ditawar?
  • Bobby: Dalam ketentuan sudah jelas. Arahan dan perintah kepada petugas juga sudah jelas.
  • Wimar: Mengapa arahan dan perintah itu tidak dijalankan dan siapa yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini?
  • Bobby: Itu suatu rangkaian. Dalam suatu lingkaran keselamatan ada beberapa stake holder yang haurs mendukung, antara lain pemilik kapal wajib melengkapi dengan alat keselamatan.
  • Wimar: Apakah sudah ada tindakan terhadap pemilik kapal?
  • Bobby: Sudah ada tindakan dengan menangguhkan izin dari pemilik kapal Levina
  • Wimar: Kita mengetahui bukan kapal Levina saja yang melakukan ini. Apakah semua perusahaan kapal sudah ditindak?
  • Bobby: Kita sedang audit semua kapal khususnya kapal penumpang.
  • Wimar: Apakah ada data kecelakaan sekarang lebih banyak dibandingkan dulu? Apakah ini gejala indisipliner atau itu memang tidak diurus dari dulu?
  • Bobby: Kita turut menyesal dalam kurun waktu awal tahun sudah ada dua kecelakaan. Kalau kita melihat ke belakang mungkin juga ada record tersebut.


Kunto Prayogo
Ketua Tim Investigasi Levina 1 dari KNKT 

Sertifikasi Palsu

  • Yogi (penelpon di Tangerang): Saya sering naik kapal Merak – Lampung. Semua sertifikasi untuk keselamatan kapal laut palsu. Contohnya, hydran di kapal laut Merak – Lampung hanya terpasang saja tapi tidak berfungsi.
  • Wimar: Apakah KNKT dan Dephub mengetahui sertifikasi keselamatan itu palsu seperti disampaikan penelpon tadi?
  • Kunto: KNKT baru bekerja kalau terjadi suatu insiden. Kalau seperti yang dicontohkan Pak Yogi tadi, ini tentunya berkaitan dengan pemberian sertifikasi. Tapi bila dikaitkan dengan Levina 1, hydran yang ada di dek kapal sempat dioperasikan.
  • Wimar: Pak Bobby, ini pasti bukan pertama kali mendengar komplain bahwa sertifikasi tidak benar. Lalu, apa yang menjadi konsern Bapak dan Apa yang Bapak lakukan sehari-hari untuk menghadapi kegiatan ini?
  • Bobby: Dari pihak kami selalu mengawasi performance dari para pemeriksa kelautan yang disebut marine inspector. Kami juga memberikan pengarahan dan meningkatkan kemampuan untuk memeriksa kapal dengan benar. Hanya saja ini terpulang kepada pribadi masing-masing.
  • Wimar: Sebetulnya apa yang bisa lebih memudahkan pekerjaan dari Bapak? Apakah perlu otoritas yang lebih tegas atau perlu kerjasama lebih baik dari bawahan?
  • Bobby: Kerjasama yang lebih baik dari bawahan
  • Wimar: Dari yang atas, apakah Anda tidak mempunyai keluhan? Apakah presiden, menteri, Dirjen sudah jelas memberikan pengarahan?
  • Bobby: Kami merasa petunjuk dan arahan dari yang atas sudah jelas. Hanya saja tinggal penerapannya.
  • Wimar: Kalau kita bisa rewind kehidupan, melihat ke belakang, apa ada penyesalan terhadap kontrol yang dilakukan pemerintah terhadap jalannya peristiwa Levina?
  • Bobby: Kalau saya bisa melihat ke belakang, memang kondisi yang kita harus pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan dari semua aspek.
  • Wimar: Jadi kecelakaan ini sebenarnya sesuatu yang bisa dihindari. Jadi apakah betul ada error dalam manajemen?
  • Bobby: Iya, itu bisa dilihat dari tahapan-tahapan kapal mulai dioperasikan.

Perlu Safety Training

  • Wimar: Wartawan senior Bambang Harymurti di televisi menyatakan kematian wartawan merupakan "senseless death" atau yang tidak perlu terjadi. Dia paling menyalahkan pimpinan media yang tidak melengkapi anak buahnya dengan safety training. Apakah Gusti setju dengan pendapat tersebut?
  • Gusti: Mungkin ada benarnya yang disampaikan Bambang Harymurti karena dia wartawan senior sehingga mengetahui apa yang harus disiapkan seperti jika harus meliput ke tempat konflik. Kalau saya melihat memang teman-teman yang meliput Levina tidak bisa berenang.
  • Wimar: Artinya wartawan meminta tanggung jawab pimpinan redaksi. Dalam hal ini juga banyak pertanyaan mengenai kebijakan kamera. Memang sangat terpuji wartawan kehilangan kamera tapi apakah itu sangat ekstrim?
  • Gusti: Awalnya joke, kalau terjadi sesuatu maka yang ditanya kameranya dulu baru orangnya. Tapi kemudian bukan joke lagi. Itu sudah merupakan sesuatu yang melekat dalam diri kita seperti senjata pada tentara. Senjata saya adalah jiwa saya.
SMS Penonton

+62213011xxxx
Apa tdk lebih baik air yg dari pemadamam di pompa dulu / buang supaya tdk tengelam
@ kalau tengelam baru diganti asuransi dan syarat tiang tengelam
@ fanny

+628139992xxxx
Langsung di bui lewat pengadilan kilat.. Gak perlu pengadilan yg bertele-tele nanti malah mengecewakan masyarakat saja.. Thank. –bop

+62815835xxxx
Klo JURNALIS hadir meliput, knapa tdk satupun JURNALIS dpt PELAMPUNG sbg bagian dari SOP keberadaan di atas Boat/Kapal mnuju & di atas Levina 2? - Berthy/Bogor.

+6281187xxxx
Knkt bayangkan kalau anak istrimu jadi korban. katakan sejujurnya .jadilah terang bg transportasi

+628569269xxxx
KNKT, DEPHUB SEMUANYA NGELES....!

+62816112xxxx
Semoga dg musibah ini, kebutuhan org phubungan spt pak bobi dll akan lebih didengar manajemen negara.

+6281187xxxx
Ganti menhub.harta rajasa: jasa raharja . sial terus .karna nyawa dihitung dgn uang.

+6281187xxxx
Bang wimar .knkt itu kumpulan budak teori .

+62816112xxxx
You want better boss? Or better employee? Memang susah jawabnya.

+6281788xxxx
Uda tao dilaut,.pake donk PERLENKAPAN,,, pelampunk manusia, kamera kedap air, (klo WARTAWAN) SDM NEKAD yee ,,, E'O alias P'A ,,...?!!

+628139908xxxx
ATAS DASAR APA DAN WEWENANG DR INSTASI APA YG MENGIJINKAN PARA WARTAWAN MENAIKI BANGKAI KPAL LAVINA I YG JELAS2 TDK AMAN? B.WIDYARTO

+628151945xxxx
PEMERINTAH HARUS BERTINDAK TEGAS DALAM MENJALANKAN TUGASNYA APAPUN ITU BENTUKNYA JANGAN SAMPAI TERULANG LAGI !

+6281197xxxx
Sbg sesama kamerawan, saya dan almarhum Guntur memang jarang bertemu. Almarhum lebih sering berkutat di liputan harian, sementara saya di current affair. Terakhir kami bertemu di Polsek Matraman dalam liputan kasus Alda. Almarhum sempat menyapa dgn berkata '... Wah, dedengkot turun gunung lagi...' Saya melihat performancenya yang sederhana, sungguh saya suka orang ini, senior, tapi sangat low profile, begitu bisik hati saya... (Iwan Agug, Indosiar)

+62816112xxxx
Today for tomorrow. Kalau perusahaan levina, adamair, etc bisa ditindak, artinya keselamatan penumpang di kemudian hari lebih terjamin.

+628138220xxxx
Saya menilai smua tim yg naik ke kpl levina telah melakukan kebodohan. Kapal telah terbakar lama dan secara logika saja pasti konstruksi lemah, dan harusnya dilakukan pengamatan dahulu yg akurat oleh yg ahlinya seblm menaikinya.jadi tdk perlu cari2 siapa ya salah krn smuanya bodoh dan cuma mau bertindak suka2 sendiri
(Qnan)

+628180870xxxx
Arief_jktm
Yth narasumber knp kamera begitu pen ting dlm situasi spt itu knp tdk gunakan yg ringan/tahan air

+62219882xxxx
Kelebihan penumpang gelap(tanpa karcis) itu hal biasa krn byr diatas dan uang tiket glp tsb buat Nahkoda+Mualim dll..ya kyk kereta KRD tnpa karcis tp byr diatas

+6281694xxxx
Dwi dicipondoh tangerang, knapa knkt&labfor terburu buru utk menyelidiki? Anda2 yg berwenang sy yakin pintar,tp knapa ko tdk memperkirakan kpl akn tenggelam.baikny kapal digerek ke darat dulu br diselidiki dong... Biar aman&leluasa. Klo begini jd ga bs diselidiki lg kan?

+628521423xxxx
Tragedi levina dan strategi pilkada gub.Babel dlm konteks mistisisme butuh tumbal karena terjdnya pd hari yg sama, tranportasi yg sdh bobrok jd kambing hitam.

+6281688xxxx
Bencana2 ini karena pejabat yg terkait dgn bidang perhubungan TIDAK menjalankan tugasnya dgn baik krn tidak tau atau pura2 tdk tau,

+62856764xxxx
Yg kami pertanya kan .Pemeriksaan kenapa tidak ditem pat kapal terbakar tetapi ditempat setelah kapal dipin dahkan.

+62816195xxxx
Yg pertama sekali..Wartawan yg minta naik atau polisi yg menyuruh naek? Asep

+628138287xxxx
Slamat malam pak Wimar,sbtulnya kita bisa me MINIMALKAN kecelakaan..Hanya kebiasaan org indnesia,TIDAK DISIPLIN dng aturan dan yg paling penting,MERASA PALING TAHU SEMUA PERMASALAHAN...Coba deh,kmbali ke basic paling dalam,DISIPLIN....Thx,Okky Wijaya

Siaran Ulang Wimar's World: Senin 15.00

Baca juga:

Print article only

11 Comments:

  1. From WiLLy Da\' KiD on 01 March 2007 17:31:40 WIB
    memang keselamatan itu seperti membeli sayur dipasar?

    Ya keselamatan harus dijadikan fokus utama dalam setiap pelayanan, baik benda ataupun jasa agar tidak ada korban dan kerugian yang ditimbulkan.

    layaknya hukum kekekalan berdagang, pasti orang menginginkan untung yang besar dengan modal yang sedikit. Mungkin pihak perkapalan dan kelautan sudah tahu bahwa kapal levina mungkin sudah tidak layak pakai, tapi tetap saja dengan adanya permintaan masyarakat untuk menggunakan jasanya, kapal levina diberangkatkan. apalagi saya dengar kapal levina tidak dipenuhi dengan alat-alat penunjang keselamatan seperti pelampung dan hydrant,jika seperti ini, tidak ada alat yang dapat digunakan untuk memadamkan api dan menyelamatkan diri, jadi wajar saja kalau kapal levina terbakar dan tenggelam.

    mungkin sedikit saran saja, untuk perusahaan-perusahaan yang bergelut dalam jasa transportasi dapat melakukan "SERVICE DAN PERBAIKAN SECARA RUTIN" terhadap setiap alat transportasi yang bersangkutan, itu sudah dapat mengurangi resiko terjadinya insiden seperti ini dan menempatkan alat-alat untuk menunjang keselamatan yang dapat digunakan untuk tindakan awal jika ada kecelakaan. He3x, ini kalau benar-benar dilakukan secara baik dan benar loohh...

    Wasalam, Tuhan MEmberkati.........
  2. From Ria Wibisono on 01 March 2007 20:44:53 WIB
    Seperti komentar saya di artikel sebelumnya, sudah saatnya pemerintah memasukkan prosedur penyelamatan diri dalam keadaan darurat di kurikulum pendidikan nasional. Nggak cuma waktu kecelakaan tetapi waktu terjadi bencana alam. Ingat kan di Phuket Thailand, beberapa saat sebelum tsunami, seorang anak bule bisa memperingatkan warga untuk menyingkir dari wilayah pantai. Ini karena di sekolahnya dia diajarin membaca tanda-tanda bencana alam. Kapan Indonesia belajar melakukan hal serupa? Pendidikan kan bukan sekadar transfer ilmu tapi juga learning for living.

    Selain itu sebaiknya buat regulasi agar prosedur penyelamatan diri ini dijelaskan kepada penumpang kapal sebelum berangkat (kalau di pesawat kan sudah ada regulasinya, kenapa kapal nggak? apa karena bayarnya lebih murah? resikonya sama lho).

    Tapi, masyarakat sendiri masih banyak yang nggak memperhatikan keselamatan diri sendiri. Dalam pendaratan darurat pesawat di air misalnya, masih ada aja penumpang yang tidak tahu kalo pelampung itu harus dikembungkan sesaat sebelum masuk air. Ini kan karena mereka nggak menganggap penting peragaan penggunaan pelampung, nggak sadar betapa bergunanya itu saat terjadi keselamatan. Jadi, media juga harus ikut berperan mensosialisasikan prosedur penyelamatan diri dalam berbagai keadaan darurat. Hitung-hitung CSR.... daripada ngejar rating melulu...
  3. From ci-mel on 02 March 2007 10:08:22 WIB
    Keselamatan hidup orang banyak diatas segalanya bukan hanya kepentingan dan keuntungan kelompok orang.

    Aneh dan sangat Miris jika Sekarang yang merasakan bersalah atas kematian sahabat, saudara, anak atau suami atas tenggelamnya kapal Levina I adalah sesama korban juga.. Seperti Mas Gusti dan para korban lainnya.

    sedangkan disisi lain pemerintah atau para aparat tidak merasakan RASA BERSALAH dan BERTANGGUNG JAWAB atas kejadian yang menimpa para korban.

    kembali lagi kita menuntut kepada pemerintah dan kembali lagi yang kita temui kekecewaan... kekecewaan... kekecewaan Kepada mu hai kaum yang menamakan sebagai pemimpin bangsa, wakil rakyat.

    Satu lagi bukti kuat dari permasalahan ini setelah berbagai musibah menimpa kecelakaan transportasi baik pesawat terbang, kereta api, kapal laut, Banjir, Angin Puting Beliung kita Masyarakat Indonesia, yang menghadapi langsung berbagai polemik bisa Bertahan dan sangat Kuat Yang dimana kita memiliki Pemerintahan yang lemah...

    Gak butuh janji-janji serta omong kosong tapi tindakan yang tegas dan penerapan aturan dan sistem yang baik.
  4. From gambler on 02 March 2007 13:10:00 WIB
    saya cari2 di sctv n metro, bgmn saat2 akhir guntur, akhirnya menemukan jawaban di wimar's w.
    ternyata ada 2 faktor penting, tdk bisa brenang n lebih mementingkan kamera.

    miris sekali.
    saat2 spt ini, ghost whisperer sangatlah diperlukan.
  5. From Wira Julianto on 03 March 2007 07:38:09 WIB
    Dalam kurun beberapa tahun belakangan ini. Tragedi yang menimpa Negeri dan Bangsa ini baik itu Bencana Alam hingga masalah Transportasi darat, laut dan udara, menurut saya merupakan ANTI KLIMAKS dari permasalahan KESELAMATAN baik itu menyangkut KESELAMATAN DIRI, PERLENGKAPAN PENUNJANG KESELAMATAN, OPERATOR KESELAMATAN, maupun REGULASI, PERATURAN dan SOP tentang KESELAMATAN yang ada di NEGERI INI. Minimnya informasi tentang KESELAMATAN yang dapat menjadi acuan bagi masyarakat juga sangat minim didapat sehingga perlu adanya proses pembelajaran sejak dini "HOW TO SURVIVE" baik dari edukasi maupun dari segi informatif sehingga sudah selayaknya pemerintah melalui badan terkait "MENGKAMPANYEKAN tentang ARTI PENTING KESELAMATAN DIRI" di berbagai MEDIA. Dari segi aturan dan regulasi sudah sangat perlu dan penting semua STAKE Holder menerapkanya tanpa terkecuali.
    Sudah saatnya kita mengintropeksi diri kita terlebih dahulu, apakah kita sendiri sudah memahami betul tentang arti penting KESELAMATAN pada diri kita dan pada lingkung terdekat (Rumah Tangga dan Keluarga). Seperti contoh, apakah di rumah kita sudah tersedia Alat Pemadam Ringan dan apakah setiap anggota keluarga bisa mengoperasikan alat tersebut. Atau yang paling mudah, apakah di rumah kita sudah tersedia P3K dan apakah kita selalu disiplin untuk memeriksa P3K tersebut secara Berkala minimal setahun sekali?
    Menurut saya, apabila semua rakyat Indonesia sudah melek KESELAMATAN, mungkin NYAWA BANGSA INDONESIA akan lebih berharga dan BANGSA ini tidak perlu KEHILANGAN sebuah POTENSI di masa depan karena Sebuah NYAWA merupakan Sebuah PENENTU masa depan BANGSA secara Keseluruhan dan khusunya PENENTU masa depan bagi KELUARGANYA.

    Turut Berduka atas segala musibah yang menimpa Negeri Ini.

    Salam Kemanusiaan

    "Pemerhati Masalah Safety, Survival, dan Emergency Disaster"

    http://wiraj.wordpress.com
  6. From Klementius on 03 March 2007 20:01:22 WIB
    TURUT BERDUKA CITA YANG MENDALAM ATAS JATUHNYA KORBAN KEBAKARAN DAN TENGGELAMNYA LEVINA 1

    SUNGGUH MENYEBALKAN JADI WARGA NEGARA INDONESIA.
    SEMUA PEJABAT NEGARA NGGAK BECUS...
    KALAU CUMA BISA KERJA KALAU SUDAH TERJADI KECELAKAAN, ORANG DUNGU AJA BISA.....

    MENURUT SAYA, KNKT (KOMISI NASIONAL KESELAMATAN TRANSFORTASI) CUMA SEBAGAI T4 MENAMPUNG ORANG2 YANG GAK PUNYA KERJAAN...
    BIKIN NAMA KOMISINYA AJA SALAH..HARUSNYA KAN "KOMISI NASIONAL KECELAKAAN TRANSFORTASI"
    KALAU "KESELAMATAN", SIAPA YANG BISA DISELAMATKAN SAMA MEREKA ITU..???
    KALAU CUMA PEYELIDIKAN, POLISI AJA KAN BISA MENEMUKAN SEBAB-SEBAB KECELAKAN. KALAU KURANG KOMPETEN, BARU MENYEWA AHLI TRANSFORTASI. JADI GAK PERLU BUAT KOMISI2-AN YANG GAK JELAS BEGITU...CUMA MENGHAMBURKAN UANG NEGARA KITA YANG SANGAT SEDIKIT ITU...

    PAK HATTA, KALAU MAU PECAT DIRJEN, ITU BAGUS...TAPI SETELAH ITU BAPAK JUGA HARUS MENGUNDURKAN DIRI...
    KARNA KALAU MEREKA GAK BISA KERJA, BERARTI BAPAK GAK BECUS MEMBINA MEREKA...
    TENTUNYA BAPAK MASIH BISA CARI NAFKAH SELAIN JADI MENTERI KAN...?? KENAPA HARUS MATI-MATIAN BERTAHAN DISITU, TANPA RASA MALU....

    PAK WIMAR, MAAF KOMENTAR SAYA KURANG SOPAN. RASANYA MAU MARAH DAN SANGAT2 KESAL LIHAT PRILAKU PEJABAT2 KITA.
    SEKALI LAGI, MAAF.

    TERIMA KASIH.


  7. From gubrak on 03 March 2007 20:55:00 WIB
    mari kita semua hormati sodara2 yg buruk nasibnya karena dikhianati sodara sebangsanya...

    lalu mari kita yg masih idup kalo naik angkutan umum/massal saling jaga terutama jgn beli tiket ama calo ato malah nekat kongkalikong ama petugas di atas kapal...

    apa mereka2 yg makan duit haram itu gak pernah dihantui roh gentayangan kayak di film2 ya????
  8. From wilz on 04 March 2007 16:25:12 WIB
    Kalo mau tau ya...
    Dep.perhubungan tuh kagak tau kerjanya apa. Fungsinya kagak jelas, kerjanya apa lagi.

    Buktinya, kecelakaan dimana2. Mulai dari laut,darat, sampai udara. Yang memalukannya lagi.... terjadinya berentetan ckckc.
    Sudah saatnya tuh dephub diaudit.
    - Audit operasional,
    - audit keuangan juga
    - audit managementnya.

    Jangan hanya perusahaan swasta saja yang diaudit. tetapi departemen pemerintah juga diaudit kinerjanya.

    Sekedar info ya, saya punya mobil bak/pickup. Setiap 6 bulan sekali saya diwajibkan melakukan uji berkala(KIR) yang termasuk dalam Departemen perhubungan darat.

    Biaya resmi yang dipungut sebesar 40ribu, tetapi banyak "UANG BUAYA" yang harus dikeluarkan lagi disana. Jadi total2nya mencapai Rp200.000,- Setiap pos dimintain duit dengan nilai yang beragam. Kemudian kendaraan tidak diuji sebagaimana mestinya, tetapi petugas selalu mencari2 kesalahan pemilik kendaraan. Misalnya, body lecet2/penyok dimintai 10.000-20.000, dan masih banyak lagi. Juga banyak calo-calo yang berkeliaran disana. SANGAT MERESAHKAN!!
    contohnya: KIR di jagakarsa-jaksel, KIR di angke-jakbar dan yang lainnya.

    Ada 1 laghi. Ada yang namanya buku KIR, beberapa tahun yang lalu, 1 buku bisa digunakan 6 kali(3tahun), tetapi semakin tahun semakin dikurangi (menjadi 4 kali, menjadi 3 kali, dan sekarang menjadi 2 kali). Jadi setiap tahun wajib mengganti buku. Dan buku itu tidak gratis, Buku KIR yang kecil itu dipungut biaya 30.000. Dari hasil pengataman saya, buku itu tidak memiliki fungsi sama sekali, dan dijadikan sebagai alat untuk melakukan pungli.

    Tolong ditindak ya pak menteri!!

  9. From Penny on 06 March 2007 01:26:30 WIB
    Sanggupkah bung Hartarajasa berkata :
    1. "Ini kesalahan saya karena tidak bisa memimpin departemen ini, saya mundur....."

    atau

    2. "Aturan sih sudah benar cuma pelaksanaanya saja yang salah, kalau begitu nanti dirjen nya saya ganti..."

    atau

    3. "Saya kira yang salah ya petugas di lapangan lah, human error itu, tapi dia tetap harus diperiksa polisi!!..."

    atau

    4. "sudahlah itu takdir, kita pasrah saja...sama yang diatas"

    atau

    5. "......................." (anda isi sendiri) suda terlalu banyak alasan yang kita dengar hasila ya teuteup...
  10. From ANDREAS on 09 March 2007 19:02:01 WIB
    Saya berkomentar berat kalau untuk KESELAMATAN itu di tawar atau di buat MURAH........
  11. From hanna on 31 January 2008 11:01:01 WIB
    Saya kok agak kesal dengan komentar yang hanya memaki tanpa dasar yah. Mungkin kita bisa lihat dan mempelajari mengapa KNKT (Komite --bukan komisi--Nasional Keselamatan Transportasi) harus dibentuk oleh seluruh negara anggota ICAO (international Civil Aviation Organization). KNKT bukan badan yang hanya menghambur-hamburkan uang negara, tapi harus bekerja keras untuk menyelamatkan uang negara dengan melakukan berbagai penelitian tentang kecelakaan transportasi agar RI dapat menciptakan solusi pencegahan kecelakaan. Core business dari transportasi adalah keselamatan, bukan kecelakaan, jadi kita harus memperbaiki dan meningkatkan keselamatan transportasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan turun langsung bila terjadi kecelakaan. KNKT juga harus melakukan banyak penyelidikan tanpa ada kecelakaan sebagai upaya untuk mencegah kecelakaan. Jadi tidak tepat kalau KNKT dirobah menjadi Komisi Nasional Kecelakaan Transportasi.
    Semua ahli yang bekerja di KNKT TIDAK DIBAYAR, namun tidak berarti kami bekerja secara asal-asalan. Malah terkadang kami mengeluarkan dana pribadi untuk melakukan penelitian lanjutan. KNKT juga tidak didirikan untuk mencari kesalahan pihak manapun, kami murni sebagai peneliti untuk think tank dephub agar dapat melakukan tindakan solusi terhadap sistem transportasi nasional.
    Maaf, tulisan ini bukan untuk membela diri, tapi banyak masyarakat yang belum tahu kemana, apa, bagaimana KNKT itu. Itu mungkin kesalahan KNKT dalam mensosialisasikan tugas pokok KNKT kepada masyarakat. Memang kami belum bekerja semaksimal mungkin, karena kami menyadari banyak muatan sosial, ekonomi dan politik yang harus juga dilindungi oleh kami.
    Saya berharap melalui forum ini, semua ketidaktahuan dan maki-maki terhadap KNKT lebih bisa dikurangi agar kami dapat bekerja dengan lebih baik dikemudian hari.
    Untuk Bung Wimar, terima kasih apabila tulisan ini bisa dimuat dan juga sekaligus dimanfaatkan untuk menjawab ketidaktahuan teman-teman. Semoga berguna.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home