Belajar dari Levina: Keselamatan Tidak Bisa Ditawar
Wimar's World
01 March 2007
Oleh Hayat Mansur
Tragedi KM Levina 1 mengingatkan kembali bahwa kita semua belum mempunyai budaya menjaga keselamatan. Terbakarnya KM Levina 1 yang menewaskan puluhan penumpang dan kemudian wartawan dan polisi saat kapal tersebut tenggelam seharusnya bisa dihindari jika faktor keselamatan tidak ditawar-tawar. Kalau begitu siapa yang harus bertanggung jawab?
Belum adanya budaya menjaga keselamatan ini terungkap dalam Wimar's World Rabu malam (28/2) membahas kejadian Levina dalam konteks keselamatan (dan ke-tidak-selamatan) sarana transportasi di Indonesia, live di Jak-TV. Tampil sebagai narasumber dalam acara dengan host Wimar Witoelar tersebut adalah I Gusti Eka Sucahya (reporter Indosiar), Kunto Prayogo (ketua Tim Investigasi Levina 1 dari Komisi Nasional Keselamatan Transportasi), dan Bobby R. Mamahit (direktur Perkapalan dan Kelautan Departemen Perhubungan).
Dari penuturan Gusti yang turut serta meliput saat kapal Levina 1 tenggelam terungkap bahwa faktor keselamatan yang penting itu tidak juga menjadi bagian dari kerja KNKT, tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri dan juga wartawan. Seluruh anggota tim penyelidikan dan juga wartawan yang diajak serta tidak dilengkapi alat pelampung. Bahkan banyak wartawan yang ditugaskan meliput Levina 1 tersebut ternyata tidak bisa berenang seperti (Alm) Muhammad Guntur Syaifullah (kameramen SCTV) yang menjadi korban.
Kesaksian I Gusti Eka Sucahya, jurnalis televisi:

I Gusti Eka Sucahya,
Jurnalis Indosiar
I Gusti Eka Suchaya: Hari minggu itu saya dan beberapa teman lain memang mendapat tugas dari kantor begitu, untuk meliput perkembangan terbakaranya kapal Levina 1. Saya datang ke kantor Direktorat Pol Air Polda Metro itu jam 10, dan kawan-kawan sudah banyak di sana.
WW: Segala macam station
Gusti: iya segala Station, terutama sebagian besar TV. Tidak beberapa lama kami di data, dari mana, berapa orang, siapa namanya, dan kemudian di briefing.
WW: Untuk rencana naik ke kapal itu
Gusti: untuk rencana melihat bangkai Kapal Levina 1
WW: Tetapi jelas -jelas akan naik dalam kapal atau tidak?
Gusti: Tidak. Yang akan naik adalah tim Puslabfor dan Tim KNKT. Itu informasi yang kita dapat di briefing. Pada briefing itu dikatakan, tolong jaga keselamatan pribadi, karena sehari sebelumnya kapal milik Polri itu kehabisan bahan bakar dan sempat terombang-ambing, ada teman-teman yang mabuk. Kita di ingatkan, kalau mabuk, kalau pusing, jangan duduk dipingir,
WW: Karena teman-teman anda bukan orang laut ya, yang biasa mengadapi laut.
Gusti: Kita kebanyakan di darat. Yang kedua, kita dikasih tahu bahwa Levina ini masih berasap, ansumsinya mungkin masih panas atau mungkin juga masih ada satu dua terbakar. Kemungkina teman-teman belum bisa naik. Waktu itu dalam hati kecil saya pengen naik, sebagai wartawan saya pengen lihat, seperti apa sih kapal yang terbakar itu? Tpi saya menahan diri, oke lah saya tidak naik. Akhirnya jam 12 kita berangkat menuju tempat Levina itu lego jangkar, dengan 3 boat milik Polri itu. Boat yang paling besar ditumpangi oleh wartawan dan 4 orang anggota KNKT. Lalu yang dua boat lainya itu berisi anggota Puslabfor, ada juga direktur Pol Air ada juga Kepala Puslabfor disana. Kita berangkat kurang lebih perjalanan 20-30 menit sampai sana kita mengitari kapal, beberapa kita kitari, lalu sampai pada satu titik.
WW: Dalam keadaan tenang-tenang aja kapal itu, tidak seperti mau tenggelam?
Gusti: Kemiringan kapal masih, saya tidak mengukur pasti berapa derajat kemiringannya ya, saya lihat seperti di foto itu. Keadaan air juga cukup tenang jadi kita tidak terlalu khawatir, tidak hujan tidak badai, cuaca cerah laut kelihatnya sangat bersahabat pada waktu itu. Kita putar beberapa kali lalu sampai satu titik kita lihat , ada kapal merapat. Dari jauh kita lihat tim Puslabfor itu naik, kita bisa lihat karena di belakangnya ada tulisan Puslabfor. Puslabfor lapor itu naik, lalu bayangan kami oh ini tim akan memastikan kondisi di kapal.
WW: Sampai situ anda tidak membayangkan akan ikut naik?
Gusti: Belum, saya belum membayakan akan naik, saya berfikir kita berdekat aja bagus, karena di kasih tahu kapal Levina masih panas
WW: Bisa foto zoom.
Gusti: Ya betul. dari jarak boat kami itu kira-kira 5 meter dari Levina masih terasa hawa agak panas ya, hawa besi terbakar, karet terbakar, masih terasa. Kita ambil gambar dari jauh, lalu tidak beberapa lama tim dari KNKT menyusul naik dan waktu itu kita mengambil jarak gitu ya. Tahu-tahu kurang lebih setengah jam kemudian kami diizinkan naik.
WW: Ada izin naik?
Gusti: Ada izin naik,
WW: Sambil di kasih tahu ini pelampungnya? atau di kasih petujuk, naiki kapal yang sedang panas begitu tidak?
Gusti: Tidak,
WW: Atau silahkan naik saja, begitu?
Gusti: Silahkan naik saja, kami diberitahu caranya naik kapal seperti apa? Karena kapal harus merapat pelan-pelan, harus menyesuaikan dengan ombak begitu. Dikasih tahu naiknya pada saat kapal naik begitu. Naik secepatnya, mengambil gambar secepatnya, dan turun secepatnya, itu yang ada dalam pikiran saya.
WW: Itu dengan kamera?
Gusti: Dengan peralatan yang kami bawa. Pada saat itu kami diberi semacam lampu hijau untuk naik. Yang terpikir bukan pakai baju pelampung dulu, yang terpikir adalah naik dulu, karena sepengatahuan kita kepikiran tidak di perbolehkan naik, tiba-tiba boleh naik.
Kami diizinkan naik kita berada di kapal itu tidak lama,saya kira tidak lebih dari 10 menit kita naik, temen-temen naik, saya naik, temen-temen ambil gambar, saya melihat seputar apa yang terjadi begitu iya.
WW: Itu bersama rekan-rekan dimana ada yang meninggal kemudian.
Gusti: Iya, iya semua naik,wartawan semuanya naik lalu akhirnya kita naik level yang ke tiga, di dek ke tiga karena di situ ada dirpol air dan Kepala Puslabfor. Kami bersiap-siap untuk bertanya apa hasilnya. Karena itu yang penting kita sampaikan, apa hasilnya sekarang. Beliau bilang, ya udah kita wawancara disini, lalu kita rame-rame wawancara disini, wawancara di atas, kita masih tenang karena tidak berpikir akan terjadi apa-apa.
WW: Dan para ahli juga tidak ada yang menyangka kalau ingin tenggelam?
Gusti: Tidak, tidak . Saya yakin pada saat diijinkan naik, bukan ada maksud membuat celaka. Setelah naik diatas kita wawancara sebentar, kurang lebih 3 menit, selesai wawancara dengan Dirpol Air, maksudnya sambil jalan begitu. Kami ambil gambar Puslabfor juga sambil bertanya, ini kok ada beberapa keganjilan yang kita lihat. Bisa tidak dijelaskan dari sisi forensik.
WW: Pertama kali kelihatan yang abnormal?
Gusti: Kami merasanya selesai wawancara itu. Kami merasa kemiringan kapal kok bertambah, dan asisten kameramen saya yang mengambil gambar itu melihat di frame kamera itu posisi air laut kok - kok posisinya berubah..
WW: Kita melihat liputan berita sesudahnya iya, tetapi waktu itu sudah panik, sudah tahu akan tenggelam?
Gusti: Belum, tidak ada kepanikan waktu itu. Memang pada waktu itu cepat turun, cepat turun. Pada saat dari kapal yang membawa kami dari kepolisian itu ada neriaki kami, pakai pengeras suara pakai megaphone, segera turun, segera turun, kapal miring. Baru kita semua merasakan mulai ada ketegangan di situ. Kami semua cepat-cepat bergerak ke arah tangga, tapi saling mengingatkan juga, jangan panik, jangan panik, cepat tapi jangan panik. Pada saat turun itu saya melihat ada di sebelah kanan itu air sudah masuk dengan deras, dari tempat kami masuk. Kami diiteriakin lagi, jangan di sebelah kanan, di sisi satunya, di sisi satunya. Kami bingung lagi karena tidak ada tempat untuk keluar, akhirnya kita keluar dari tempat yang seperti jendela begitu, lubang di sana pada saat kapal sudah mulai miring. Lalu ada aba-aba lompat, lompat , saya kurang jelas siapa yang ngasih aba-aba tapi ada aba-aba itu, dan semuanya lompat.
WW: Ke dalam air maksudnya?
Gusti: Iya ke air, sebagian besar lompat, tetapi saya tidak mau lompat dulu jadi saya tunggu sampai kapal betul-betul terbalik sempurna tengkurep lalu baru saya masuk ke air .
WW: Bisa berenang Pak Gusti ?
Gusti: Saya sedikit
WW: Rekan-rekan?
Gusti: Sebagian tidak bisa berenang, sebagian lagi bisa
WW: Tidak bisa berenang dan tidak pakai pelampung
Gusti: Betul, tidak bisa berenang dan tidak pakai pelampung. Akhirnya saya melihat teman-teman itu tiba-tiba tersebar dengan cepatnya di air, mungkin juga karena….
WW: Jadi mereka di air ya, bukan terbawa dalam kapal?
Gusti: Tidak, tidak. Semuanya di air
WW: Terus bagaimana saat-saat kritis itu?
Gusti: Tiga kapal yang membawa kami itu segera melakukan pertolongan, melakukan pertolongan. Orang di ambil-ambilin saya lihat di kejauhan itu, Bima sudah di angkat teman dari RCTI, sudah diangkat dalam keadaan lemas begitu, saya lihat dari kejauhan begitu. Saya lihat disekitar saya juga, teman-teman yang tidak bisa berenang panik dan salah satunya adalah Mas Guntur yang ada di deket saya. Almarhum Mas Guntur kameraman SCTV. Saya tadinya tidak sadar siapa yang ada di sekeliling saya, terus ada teriakan di belakang, saya menoleh, Mas Guntur teriak : 'tolongin gua - tolongin gua, gua nggak bisa berenang." Kami ada di dekat baling-baling, ada semacam silender besar gitu, mungkin untuk memegang baling-baling. Dia berusaha pegang kesitu tapi karena besar dan licin selalu terpeleset. Sempat saya tarik tangannya, bajunya saya tarik
WW: Oh sempet megang tangannya pada waktu dia dalam keadaan sudah tidak berdaya begitu?
Gusti: Dia masih sadar, dia masih sadar, dia masih berkomunikasi dengan saya: 'tolongin gua, gua tidak bisa berenang,' saya tarik tangannya, saya tarik naik maksudnya naik dulu keatas silender itu Pada saat itu saya lihat kamera nongol, saya bilang buang kameranya, buang kameranya.
WW: Oh dia masih pegang kamera?
Gusti: Dia masih pegang kamera
WW: Memberatkan badannya tentunya ?
Gusti: Tentunya begitu iya, saya bilang buang kameranya, malah dia bilang 'selametin kamera gua.' Saya ambil itu kamera terus dia bisa naik, terus bisa duduk gitu, saya kasih kamera ke dia, pada saat saya kasih kamera ke dia tiba-tiba air itu menjadi besar, saya terbawa keatas, saya sampai terbawa keatas besi itu, dia terpeleset, lalu dia berusaha menggapai-menggapai, dipegang pinggang kiri saya begitu terus. Aaya bilang 'buang kameranya, buang kameranya,' tetapi saya tidak dengar jawaban, jadi saya tidak tahu.
WW: Memang ada bunyi, ada suara gemuruh atau apa. Situasinya bagaimana?
Gusti: Situasinya waktu itu suara-suara tidak terlalu jelas Pada saat kapal miring kita dengar suara gemuruh, mungkin air masuk dan benda-benda jatuh. Pada saat saya di luar sama Mas Guntur itu, tiba-tiba ada boatv mendekati saya. Dia bilang ' tangkap – tangkap,' . Ada yang lempar tali kepada saya. Tali saya tangkap, sebagian saya kasih ke Mas Guntur. Lalu pada saat saya sudah pegang tali, kemudian boat itu mundur, mungkin dia tidak berani dekat-dekat situ takut terhantam kapal dan jadi bocor. Dia narik saya, saya sempat noleh kebelakang. Tali dari tangan kiri saya pindah ketangan kanan. Saya berusaha mengapai Mas Guntur di situ. Saya lihat dia menggapai tangan saya, tapi tangan saya tidak sampai dan tangan dia tidak sampai juga…
WW: Pak Gusti orang terkahir yang melihat Guntur dalam keadaan masih hidup?
Gusti: Ya, saya lihat tangan dia masuk kedalam air.
-
Belum adanya kesadaran begitu pentingnya faktor keselamatan ini menjadi sorotan pemirsa Wimar’s World lewat telepon. Berikut cukilan percakapannya:

Bobby Mamahit,
Direktur Perkapalan dan Kelautan Departemen Perhubungan
Keselamatan Ditawar-tawar
- Toni (penelpon di Bekasi) : Saya mengenal Nahkoda KM Levina dan juga KM Senopati Nusantara yang tenggelam karena saya kebetulan pernah bekerja di kapal Korea sebagai first Engine. Saya melihat faktor keselamatan di Indonesia bisa ditawar padahal seharusnya itu tidak bisa sehingga kapal yang laik berlayar tidak jelas.
- Kunto: Saya sepakat faktor keselamatan tidak bisa ditawar-tawar
- Bobby: Pada prinsipnya faktor keselamatan tidak ada tawar-menawar. Beberapa aspek seperti alat penolong dan alat pemadam kebakaran harus ada.
- Wimar: Kalau tidak bisa ditawar. Mengapa kenyataannya itu bisa ditawar?
- Bobby: Dalam ketentuan sudah jelas. Arahan dan perintah kepada petugas juga sudah jelas.
- Wimar: Mengapa arahan dan perintah itu tidak dijalankan dan siapa yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini?
- Bobby: Itu suatu rangkaian. Dalam suatu lingkaran keselamatan ada beberapa stake holder yang haurs mendukung, antara lain pemilik kapal wajib melengkapi dengan alat keselamatan.
- Wimar: Apakah sudah ada tindakan terhadap pemilik kapal?
- Bobby: Sudah ada tindakan dengan menangguhkan izin dari pemilik kapal Levina
- Wimar: Kita mengetahui bukan kapal Levina saja yang melakukan ini. Apakah semua perusahaan kapal sudah ditindak?
- Bobby: Kita sedang audit semua kapal khususnya kapal penumpang.
- Wimar: Apakah ada data kecelakaan sekarang lebih banyak dibandingkan dulu? Apakah ini gejala indisipliner atau itu memang tidak diurus dari dulu?
- Bobby: Kita turut menyesal dalam kurun waktu awal tahun sudah ada dua kecelakaan. Kalau kita melihat ke belakang mungkin juga ada record tersebut.

Kunto Prayogo
Ketua Tim Investigasi Levina 1 dari KNKT
Sertifikasi Palsu
- Yogi (penelpon di Tangerang): Saya sering naik kapal Merak – Lampung. Semua sertifikasi untuk keselamatan kapal laut palsu. Contohnya, hydran di kapal laut Merak – Lampung hanya terpasang saja tapi tidak berfungsi.
- Wimar: Apakah KNKT dan Dephub mengetahui sertifikasi keselamatan itu palsu seperti disampaikan penelpon tadi?
- Kunto: KNKT baru bekerja kalau terjadi suatu insiden. Kalau seperti yang dicontohkan Pak Yogi tadi, ini tentunya berkaitan dengan pemberian sertifikasi. Tapi bila dikaitkan dengan Levina 1, hydran yang ada di dek kapal sempat dioperasikan.
- Wimar: Pak Bobby, ini pasti bukan pertama kali mendengar komplain bahwa sertifikasi tidak benar. Lalu, apa yang menjadi konsern Bapak dan Apa yang Bapak lakukan sehari-hari untuk menghadapi kegiatan ini?
- Bobby: Dari pihak kami selalu mengawasi performance dari para pemeriksa kelautan yang disebut marine inspector. Kami juga memberikan pengarahan dan meningkatkan kemampuan untuk memeriksa kapal dengan benar. Hanya saja ini terpulang kepada pribadi masing-masing.
- Wimar: Sebetulnya apa yang bisa lebih memudahkan pekerjaan dari Bapak? Apakah perlu otoritas yang lebih tegas atau perlu kerjasama lebih baik dari bawahan?
- Bobby: Kerjasama yang lebih baik dari bawahan
- Wimar: Dari yang atas, apakah Anda tidak mempunyai keluhan? Apakah presiden, menteri, Dirjen sudah jelas memberikan pengarahan?
- Bobby: Kami merasa petunjuk dan arahan dari yang atas sudah jelas. Hanya saja tinggal penerapannya.
- Wimar: Kalau kita bisa rewind kehidupan, melihat ke belakang, apa ada penyesalan terhadap kontrol yang dilakukan pemerintah terhadap jalannya peristiwa Levina?
- Bobby: Kalau saya bisa melihat ke belakang, memang kondisi yang kita harus pikirkan bagaimana caranya menyelamatkan dari semua aspek.
- Wimar: Jadi kecelakaan ini sebenarnya sesuatu yang bisa dihindari. Jadi apakah betul ada error dalam manajemen?
- Bobby: Iya, itu bisa dilihat dari tahapan-tahapan kapal mulai dioperasikan.
Perlu Safety Training
- Wimar: Wartawan senior Bambang Harymurti di televisi menyatakan kematian wartawan merupakan "senseless death" atau yang tidak perlu terjadi. Dia paling menyalahkan pimpinan media yang tidak melengkapi anak buahnya dengan safety training. Apakah Gusti setju dengan pendapat tersebut?
- Gusti: Mungkin ada benarnya yang disampaikan Bambang Harymurti karena dia wartawan senior sehingga mengetahui apa yang harus disiapkan seperti jika harus meliput ke tempat konflik. Kalau saya melihat memang teman-teman yang meliput Levina tidak bisa berenang.
- Wimar: Artinya wartawan meminta tanggung jawab pimpinan redaksi. Dalam hal ini juga banyak pertanyaan mengenai kebijakan kamera. Memang sangat terpuji wartawan kehilangan kamera tapi apakah itu sangat ekstrim?
- Gusti: Awalnya joke, kalau terjadi sesuatu maka yang ditanya kameranya dulu baru orangnya. Tapi kemudian bukan joke lagi. Itu sudah merupakan sesuatu yang melekat dalam diri kita seperti senjata pada tentara. Senjata saya adalah jiwa saya.
+62213011xxxx
Apa tdk lebih baik air yg dari pemadamam di pompa dulu / buang supaya tdk tengelam
@ kalau tengelam baru diganti asuransi dan syarat tiang tengelam
@ fanny
+628139992xxxx
Langsung di bui lewat pengadilan kilat.. Gak perlu pengadilan yg bertele-tele nanti malah mengecewakan masyarakat saja.. Thank. –bop
Klo JURNALIS hadir meliput, knapa tdk satupun JURNALIS dpt PELAMPUNG sbg bagian dari SOP keberadaan di atas Boat/Kapal mnuju & di atas Levina 2? - Berthy/Bogor.
+6281187xxxx
Knkt bayangkan kalau anak istrimu jadi korban. katakan sejujurnya .jadilah terang bg transportasi
+628569269xxxx
KNKT, DEPHUB SEMUANYA NGELES....!
+62816112xxxx
Semoga dg musibah ini, kebutuhan org phubungan spt pak bobi dll akan lebih didengar manajemen negara.
+6281187xxxx
Ganti menhub.harta rajasa: jasa raharja . sial terus .karna nyawa dihitung dgn uang.
+6281187xxxx
Bang wimar .knkt itu kumpulan budak teori .
+62816112xxxx
You want better boss? Or better employee? Memang susah jawabnya.
+6281788xxxx
Uda tao dilaut,.pake donk PERLENKAPAN,,, pelampunk manusia, kamera kedap air, (klo WARTAWAN) SDM NEKAD yee ,,, E'O alias P'A ,,...?!!
+628139908xxxx
ATAS DASAR APA DAN WEWENANG DR INSTASI APA YG MENGIJINKAN PARA WARTAWAN MENAIKI BANGKAI KPAL LAVINA I YG JELAS2 TDK AMAN? B.WIDYARTO
+628151945xxxx
PEMERINTAH HARUS BERTINDAK TEGAS DALAM MENJALANKAN TUGASNYA APAPUN ITU BENTUKNYA JANGAN SAMPAI TERULANG LAGI !
+6281197xxxx
Sbg sesama kamerawan, saya dan almarhum Guntur memang jarang bertemu. Almarhum lebih sering berkutat di liputan harian, sementara saya di current affair. Terakhir kami bertemu di Polsek Matraman dalam liputan kasus Alda. Almarhum sempat menyapa dgn berkata '... Wah, dedengkot turun gunung lagi...' Saya melihat performancenya yang sederhana, sungguh saya suka orang ini, senior, tapi sangat low profile, begitu bisik hati saya... (Iwan Agug, Indosiar)
+62816112xxxx
Today for tomorrow. Kalau perusahaan levina, adamair, etc bisa ditindak, artinya keselamatan penumpang di kemudian hari lebih terjamin.
+628138220xxxx
Saya menilai smua tim yg naik ke kpl levina telah melakukan kebodohan. Kapal telah terbakar lama dan secara logika saja pasti konstruksi lemah, dan harusnya dilakukan pengamatan dahulu yg akurat oleh yg ahlinya seblm menaikinya.jadi tdk perlu cari2 siapa ya salah krn smuanya bodoh dan cuma mau bertindak suka2 sendiri
(Qnan)
+628180870xxxx
Arief_jktm
Yth narasumber knp kamera begitu pen ting dlm situasi spt itu knp tdk gunakan yg ringan/tahan air
+62219882xxxx
Kelebihan penumpang gelap(tanpa karcis) itu hal biasa krn byr diatas dan uang tiket glp tsb buat Nahkoda+Mualim dll..ya kyk kereta KRD tnpa karcis tp byr diatas
+6281694xxxx
Dwi dicipondoh tangerang, knapa knkt&labfor terburu buru utk menyelidiki? Anda2 yg berwenang sy yakin pintar,tp knapa ko tdk memperkirakan kpl akn tenggelam.baikny kapal digerek ke darat dulu br diselidiki dong... Biar aman&leluasa. Klo begini jd ga bs diselidiki lg kan?
+628521423xxxx
Tragedi levina dan strategi pilkada gub.Babel dlm konteks mistisisme butuh tumbal karena terjdnya pd hari yg sama, tranportasi yg sdh bobrok jd kambing hitam.
+6281688xxxx
Bencana2 ini karena pejabat yg terkait dgn bidang perhubungan TIDAK menjalankan tugasnya dgn baik krn tidak tau atau pura2 tdk tau,
+62856764xxxx
Yg kami pertanya kan .Pemeriksaan kenapa tidak ditem pat kapal terbakar tetapi ditempat setelah kapal dipin dahkan.
+62816195xxxx
Yg pertama sekali..Wartawan yg minta naik atau polisi yg menyuruh naek? Asep
+628138287xxxx
Slamat malam pak Wimar,sbtulnya kita bisa me MINIMALKAN kecelakaan..Hanya kebiasaan org indnesia,TIDAK DISIPLIN dng aturan dan yg paling penting,MERASA PALING TAHU SEMUA PERMASALAHAN...Coba deh,kmbali ke basic paling dalam,DISIPLIN....Thx,Okky Wijaya
Siaran Ulang Wimar's World: Senin 15.00
Baca juga:




11 Comments: