Menkominfo (sebagai pribadi): Jangan Mengolok Kepemimpinan
Wimar's World
08 March 2007
Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan A. Djalil menyatakan bukan zamannya lagi untuk melarang atau mensensor suatu program TV. Bahkan dia juga setuju tidak ada dasar hukum untuk mensomasi tayangan Republik Mimpi. Kini dia melemparkan wacana mengenai kepemimpinan (leadership) seperti lembaga kepresidenan tidak boleh menjadi bahan lawakan. Apakah ini fungsi Menkominfo?
Berikut ini beberapa petikan wawancara antara Wimar Witoelar selaku host Wimar's World dengan tiga narasumber tamu yaitu Butet Kartaredjasa, Sofyan A. Djalil, dan Riza Primadi mengenai Sensor Politik Dulu dan Sekarang di Jak-TV pada Rabu malam.
Hanya Sofyan Djalil
- Wimar: Dalam pengalaman Anda sewaktu meniru suara Pak Harto dan juga pernah suara Pak Habibie, apakah Anda pernah mendapat reaksi negatif dari mereka yang suara dan gayanya pernah ditiru?
- Butet: Saya belum pernah konfirmasi kepada Pak Harto, jadi saya tidak tahu reaksinya. Untuk Pak Habibie, dari informasi rekan wartawan yang pernah wawancara dengan dia, Pak Habibie happy aja dan tertawa. Sedangkan untuk Pak SBY, Andi Mallarangeng pernah menelepon menyampaikan salam Pak SBY dan ingin bertemu
- Wimar: Apakah Anda sadar bahwa dalam melakukan peniruan suara mungkin akan ada orang yang tidak senang?
- Butet: Sadar. Ada kemungkinan orang tidak senang.
- Wimar: Apakah memang semestinya begitu atau itu suatu hal yang ingin Anda hindari?
- Butet: Justru banyak orang yang senang. Yang tidak senang justru hanya Pak Sofyan Djalil. (Hahaha.. Sofyan ikut ketawa)
- Wimar: Jadi selama ini pada umumnya belum pernah ada orang yang suaranya Anda tirukan marah kepada Anda.
- Butet: Saya bocorkan di sini, pada zaman Orde Baru saya pernah diundang Pak Wismoyo ke sebuah apel Kostrad di Cilodong. Seluruh prajurit apel pada tengah malam dengan semua cahaya dimatikan dan hanya tinggal audio untuk suara saya saja. Saya bersuara seperti Soekarno, Sudirman, dan Soeharto untuk memotivasi prajurit Kostrad. Semua prajurit yang sekarang sudah banyak yang menjadi jenderal percaya bahwa Pak Harto datang. Artinya ada manfaatnya di situ.
- Wimar: Kalau somasi itu melayang, apakah bagi Anda itu masalah besar atau biasa? Bagaimana sikap Anda mengenai kemungkinan adanya somasi?
- Butet: Itu masalah biasa saja. Itu bagian dari risiko pekerjaan. Kita sangat percaya hukum bisa ditegakkan. Dalam hal ini daripada membredel lebih baik somasi dan nanti pengadilan yang menguji kebenarannya.
- Wimar: Antara 1998 sampai sekarang, apakah Anda pernah mendapat tekanan mental yang berat dari penampilan Anda di panggung?
- Butet: Saya penuh percaya diri karena saya tidak pernah melanggar hukum. Itu yang membuat saya mempunyai nyali untuk melakukan semua itu. Saya juga sempat bertanya ke mentor saya, ternyata yang saya lakukan tidak melanggar hukum.
- Wimar: Apakah yang Anda lakukan di Republik Mimpi tidak melanggar hukum juga?
- Butet: tidak
- Wimar: Apakah itu melanggar selera baik, maksudnya, kurang bagus, kurang sopan, atau murahan.
- Butet: Itu sangat santun karena kita tidak pernah menyerang pribadi, tidak pernah mengejek cacat fisik orang. Kita justru menyajikan suatu refleksi yang parodi. Saya tampil di Republik Mimpi dalam tafsir seni peran. Saya tidak pernah citra itu diplesetkan menjadi hal-hal yang murahan tapi tetap dalam suatu citra sesuai karakter.
- Wimar: Jadi Anda tidak mempunyai agenda untuk menjerumuskan SBY.
- Butet: Oh tidak. Disiplin saya adalah aktor. Jadi saya menafsirkan suatu peran.
Trauma Harmoko
- Wimar: Sekarang saya tanya kepada Pak Menteri Sofyan Djalil. Kalau dulu Pak Harmoko (menteri penerangan masa Pak Harto – Red) ditanya mengapa melakukan itu selalu dijawab oh itu atas petunjuk Bapak Presiden. Apakah Pak Sofyan melakukan ini atas pentunjuk Pak SBY atau tidak?
- Sofyan: Tidak sama sekali.
Ceritanya begini, sehabis rapat kerja di DPR, saya ditanya rekan-rekan wartawan mengenai program Republik Mimpi. Saya menjawab saya mendapat banyak SMS termasuk surat yang mengirim surat kepada saya mengenai apakah program ini ada atau tidak manfaatnya, apakah program ini tidak mengolok-olok kepemimpinan?
Pak Presiden sebenarnya tidak terganggu dengan acara ini cauma dengan ada SMS seperti itu, saya mengatakan mari kita diskusikan. Ada yang mengatakan bagaimana kalau disomasi saja, saya jawab, "That's a good idea. Kita akan pikirkan." Tapi saya tahu secara hukum tidak ada alasan untuk mensomasi mereka. Pertama, tidak zamannya lagi kalau menutup program suatu acara televisi. Kedua, secara hukum tidak ada pelanggaran hukum. - Wimar: Jadi somasinya belum dibuat
- Sofyan: Belum dibuat. Setelah pengacara saya mempelajarinya, tidak ada dasar hukumnya. Saya juga sepakat dengan Pak Butet bahwa program ini tidak melanggar hukum. Ini bagian dari kebebasan berekspresi. Tapi yang menjadi masalah adalah mengolok-olok kepemimpinan sehingga apakah itu banyak mudharat atau manfaatnya.
Who Controls Morality?
- Wimar: Bagaimana Anda yakin bahwa orang itu tidak senang sehingga Anda sampai melakukan sesuatu, yang bagi seorang menteri tentu sangat berarti?
- Sofyan: Jadi begini. Saya ingin ini menjadi wacana publik karena ada pro dan kontra. Acara ini ada benefitnya tapi tentu juga ada mudharatnya. Ini juga karena melihat kepemimpinan di semua level perlu dihormati. Misal, lurah perlu dihormati agar bisa memimpin desanya. Kalau di negara demokrasi konstitusional, raja ditempatkan begitu terhormat karena raja semacam guiding light yaitu menjadi orang yang bisa memberikan harapan pada masyarakat dalam keadaan distress. Di negara demokrasi republik tidak ada raja. Karena itu presiden seharusnya menjadi guiding light tadi.
- Wimar: Ada yang tulis komentar perspektif.net dengan mengutip ucapan terkenal bahwa pemimpin yang besar adalah pemimpin yang bisa mentertawakan dirinya. Misal, Presiden AS John F Kennedy dan PM Inggris Winston Churchill memiliki rasa humor yang tinggi dan kalau dilawakan juga senang. Anda menganggap Indonesia tidak boleh begitu sehingga presiden itu harus angker, tidak boleh dilawakan.
- Sofyan: Bukan seperti itu. Bagi saya kritik dan lelucon itu bagus sekali. Tapi kalau kemudian itu menjadi olok-olok walaupun Pak Butet mensyaratkan itu tidak boleh tapi orang menafsirkannya demikian. Kalau mengolok-olok berarti kita mengajarkan kepada bangsa ini untuk tidak ada penghormatan kepada kepemimpinan.
- Wimar: Apakah Pak Menteri sanggup untuk menjadi guru bangsa dalam menetapkan standar leadership dan etika kesantunan.
- Sofyan: Oh tidak, saya tidak menyatakan diri saya. Saya menjadikan ini wacana publik karena orang banyak yang suka termasuk saya menyukai program ini. Tapi banyak orang suka karena ini mengolok-olok kepemimpinan.
- Wimar: Apakah ini memang tugas Menkominfo, seperti Menteri Penerangan di jaman Soeharto? Bukankah Menkominfo itu tugasnya mengatur internet dan sistem komunikasi?
- Sofyan: Ya betul, itu main job saya. Saya mengajukan wacana ini sebagai seorang pribadi, bukan sebagai Menteri. (Hmm...???)
Hak Mendapat Kesenian
- Wimar: Bagaimana cara mengukur bahwa itu mengolok-olok kepemimpinan?
- Sofyan: Karena itu saya mengatakan kepada Pak Efendi Gazali yang saya anggap sebagai aktor intelektualnya untuk kita mencoba untuk ruginya dari acara tersebut.
- Wimar: Saya kira perlu dibuat angket atau referendum apakah acara tersebut bagus atau tidak. Saya bukan membela Efendi walau dia teman saya tapi ini terkait prinsip kebebasan berekspresi.
- Butet: Saya kira bukan semata-mata kebebasan berekspresi tapi juga hak publik untuk mendapat informasi yang bersifat artistik. Publik punya hak untuk mendapatkan itu.
Lihat Rating
- Wimar: Sewaktu pertama kali saya masuk TV 10 tahun lalu, Anda sudah menjadi produser senior. Anda juga sudah bekerja di TV dari zaman Soeharto sampai sekarang. Apakah yang kita bicarakan sekaran ini hal yang mengkhawatirkan atau tidak?
- Riza: Zaman sekarang jauh berbeda dengan dulu. Kalau dulu sebagai wartawan sering ada telepon dari Puspen, "Tolong ini jangan diberitakan." Kalau sekarang sangat Ok Kalau saya cermati dari pemberitaan media. Ini ada problem karena orang baru berbicara sudah dijadikan fakta akan dilakukan.
- Wimar: Berkaitan kondisi sekarang Ok tadi, ini ada SMS yang mengatakan hati-hati dengan kebebasan karena bisa hilang atau direbut lagi. Jadi ini mungkin orang takut atau paranoid.
- Riza: Iya betul. Dulu setelah 1998 pers bebas sekali. Sekarang sudah mulai ada keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab.
- Wimar: Jadi kondisi Ok karena proses masyarakat, bukan karena digiring.
- Riza: Iya, bukan digiring. Karena itu seperti kata Pak Sofyan, biarkan saja ini bergulir menjadi wacana. Tapi secara TV, ini sangat menguntungkan Pak Butet dan kawan-kawan karena menjadi promosi gratis. Kalau di TV ada yang namanya program cycle dan itu cepat sekali. Jadi kalau suatu program dibiarkan saja akan mati sendiri. Itu alami.
- Wimar: Karena itu kalau Pak Sofyan tidak suka bukan begini caranya. Itu membuat acara tersebut lebih populer seperti acara saya dulu Perspektif yang setelah dibredel malah menjadi populer. Apakah Pak Sofyan tidak takut terjadi seperti itu?
- Sofyan: Saya tidak melihat dalam perspektif seperti itu walaupun dari segi ini Pak Butet tentu akan berterima kasih
- Butet: Iya. Kalau bayar, berapa yang harus dikeluarkan?
- Sofyan: Ini karena ada banyak orang mengirim SMS dan meminta perhatian
- Wimar: Apakah itu betul. Ini bukan karena saya meragukan keabsahannya tapi saya menerima SMS sebaliknya.
- Sofyan: Betul, banyak. Saya mau menjadikan ini wacana publik. Ini kesannya seolah-olah dari awal hingga akhir tokohnya hanya itu saja.
- Butet: Kalau saya mempercayai kearifan dan kecerdasan publik. Kalau faktanya publik tidak suka maka tidak akan ditonton dan tidak akan ada iklan sehingga akan mati sendiri. Jadi kita kembalikan ke publik.
- Wimar: Kalau Pak Riza menjadi direktur di stasiun televisi yang menyiarkan Republik Mimpi, apakah akan mempertahankan acara tersebut?
- Riza: Saya akan melihat rating. Rating sebagai ukuran.

Somasi, so what? Terima kasih, promosi gratis...
+62817077xxxx
Katanya bangsa Indonesia,mempunyai mslh multidimensi,salah 1nya ttg budaya. Sebetulnya,apakah budaya bangsa Indonesia itu? Apakah membuat konyol simbol2 negara termasuk sbg budaya kita? Ataukah kebebasan bertindak/pikir/ekspresi t'masuk didalamnya? Mirip sex bebas dong,atas nama nilai2 humanis smua boleh,walau d agama manapun dilarang. Apa ngga ada cara lain yg lebih kreatif dan sesuai dg norma yg biasa qta anut? Dan tidak sekedar urusan bisnis semata. –
+628138023xxxx
Diskusi yg luar biasa, benar2 jadi jelas, terutama sikap sofyan djalil. Congrat ww, saya yakin w'w akan dpt rating 1 lagi.
+628193299xxxx
Acara republik mimpi Teruskan
+628588076xxxx
Citra Pemimpin kita Bpk.SBY takan turun krn kritik,Beliau tetap penuh kasih,toleran & anti K.K.N.kita tetap mendukungnya & bersyukur bisa dipimpin Beliau.thanks
+62816112xxxx
Kalo masuk soal moral, selera, kualitas, siapa yg bisa kontrol sinetron yg membodohkan? Menkominfo, KPI, atau badan lain?
+628158600xxxx
Pro & Kontra adalah proses pembelajaran DEMOKRASI pada masyarakat & Bangsa Indonesia, mari kita tunggu bentuk lain dari wujud DEMOKRATISASI, dari BF JAPPAR.
+62816137xxxx
begini, yg harus diurus itu yg korup bukan somasi, jalan terus Republik BBM.
+628180808xxxx
Pak Menteri,alasan anda terdengar mengada-ada. (diana)
+62815888xxxx
Pak somasi tuh play boy bukan republik mimpi. Macam enggak ada kerjaan saja.
+62812915xxxx
Aneh. Acara sinetron yg juelek, kasar dan biadab diluruskan tayangannya. Kenapa Newsdotcom malah diutak atik?
+62812202xxxx
Effendi kapan kau mengajar kami mhswmu kalau tiap hari muncul di tv. Apa ini bukan korupsi waktu ...
+628521777xxxx
Dari syahrul di ciputat.yg mensamosi acara BBM msh masa orba skrg masa reformasi Bung !!
+62815888xxxx
Pak Sofjan, parodi is OK. It is to make the world more colorful. Do not take it so hard. In fact it is very good to give a different perspective on how the government govern this country. Do not bring Aceh perspective in this matter.
+62812812xxxx
Jaman sdh berubah pak menteri! Berjiwa bsr dong kl rakyat meniru spy pejabat sadar slm ini kelakuannya mmg spt itu, jd cpt berubah kearah yg lbh baik. Melia
+628588076xxxx
Hanya pemimpin yg fasis & komunis yg tak sudi dikritik krn mereka antidemokrasi,alias diktator.kita bersyukur Yth.Bpk.SBY bukan diktator,dia Pancasilais sejati.
Siaran Ulang: Senin (12 Maret) 15.00
Baca juga komentar2 seru di:
- 7 Maret 07: Sensor Politik Dulu & Sekarang
- 2 Maret 07: Republik Mimpi Terancam Disomasi Menkominfo
- 14 Feb 07: Wimar's World Rating Tertinggi di Jak-TV
- 20 Des 06: Anton Budaya: Republik Mimpi sudah kehilangan peminat








62 Comments: