Articles

Juru Bicara Presiden Wimar Witoelar: Tarik Garis Tebal antara yang Lalu dan Sekarang

Kompas
12 October 2000

WIMAR Witoelar (55), Rabu (11/10), menjelaskan, ia bukan hanya sebagai juru bicara utama Presiden Abdurrahman Wahid, tetapi juga untuk Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia mengatakan telah bertemu dengan Wakil Presiden untuk membicarakan hal ini.

Wimar mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers di ruang belakang Bina Graha, Jakarta. Semula ia didampingi rekan sekerjanya, Adhie Massardi, yang masuk ke kompleks istana dengan kartu tamu. Adhie, yang belum pernah bertemu Presiden Abdurrahman Wahid, kemarin masuk ke kompleks istana setelah meninggalkan kartu tanda penduduk (KTP) di tempat penjagaan anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres). Dua lainnya Yahya Staquf dan Dharmawan Ronodipuro baru datang setelah jumpa pers berlangsung.

Yahya Staquf sempat ditahan di tempat penjagaan dan tidak boleh masuk ke wilayah istana karena harus menunggu klarifikasi untuk dianggap pantas masuk istana.

Wimar mengatakan, ia bersama ketiga rekannya itu diangkat sebagai anggota tim media/juru bicara kepresidenan berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres). "Keppres itu tidak berkata banyak. Penugasan kami tidak banyak dibekali petunjuk administrasi, politis, substantif. Pokoknya tidak dibekali dan dibebani apa-apa, kecuali kepercayaan," kata Wimar di depan sekitar 40 wartawan.

Tugas para juru bicara ini akan meletakkan dialog antara Presiden dengan masyarakat dalam komunikasi yang jernih. Jadi mereka tidak bertugas mengeluarkan pengumuman resmi dan rutin. Juru bicara juga tidak akan menerjemahkan ucapan Presiden. Juga tidak berarti Presiden harus mengurangi frekuensi pernyatannya. "Kami di sini hanya akan melengkapi pernyataan Presiden, menempatkan ucapannya dalam konteks. Banyak orang tidak mengerti konteks," ujar Wimar.

Walau Wimar menjadi ketua tim, ia mengatakan, "Kami ini seperti channel-channel televisi. Anda boleh menyetel yang mana, boleh menghubungi siapa saja di antara kami."

***

WIMAR meletakkan Presiden Abdurrahman Wahid sebagai pemimpin yang berharga. "Gus Dur (Abdurrahman Wahid-Red) adalah Presiden yang memberikan warna humanisme, inklusivitas, toleransi, humor, persahabatan sebagai payung di mana masyarakat kemudian membuat perbaikannya sendiri," kata Wimar.

Yang dipilih Presiden adalah suasana demokrasi dan memberdayakan orang. "Sampai Ketua DPR bisa memaki-maki dia," celetuknya. Sekarang, katanya, Presiden berada dalam situasi transisi. Ia bukan presiden yang bisa minta semua aparat bisa mengikuti kehendaknya seperti Soeharto.

Menurut dia, Presiden Abdurrahman Wahid sekarang ini mewarisi aparat-aparat, sistem-sistem, dan orang-orang masa lalu. Akan tetapi, katanya, Presiden tidak melakukan pembabatan secara drastis terhadap orang-orang masa lalu. "Karena dia orang humanis, tidak senang kekerasan, dan ingin memberi kesempatan kepada orang-orang itu. Tapi tanggung jawab mereka kepada rakyat dan saya adalah menjalankan tuntutan reformasi," kata Wimar.

Wimar mengatakan, beberapa bulan lalu ia sering kritis terhadap Presiden Abdurrahman Wahid karena tidak mengerti ucapan-ucapannya. "Ternyata dulu gue yang goblok, padahal Presiden punya strategi perubahan yang gradual," ujarnya.

Perubahan yang dilakukan Presiden sekarang, katanya, sudah dimodifikasi karena tidak kooperatifnya orang-orang lama itu. "Sekarang saya di sini ingin mengajak kepada yang setuju kepada perubahan rezim. Mari kita dukung dia. Yang tidak setuju silakan bela yang lama. Yang jelas, kita tarik garis tebal antara masa lalu dan sekarang," ujarnya.

Wimar tidak mau menjadi pengkritik Presiden Abdurrahman Wahid. Padahal, kritik itu mudah, enak, dan bisa memopulerkan diri. Ia lebih memilih berkorban untuk perubahan yang dilakukan Presiden. Bila memang tidak setuju sekali pada Presiden, ia memilih mundur dan tidak bertindak seperti seorang menteri yang mengatakan, "Presiden tidak mengerti ini dan itu."

Pria kribo ini mengatakan tahu kelemahan Presiden Abdurrahman Wahid. "Untuk itu, kita perlu memperkuatnya. Kalau tidak ada kelemahannya, kita diam-diam saja. Seperti Pak Harto, tidak perlu juru bicara," ujarnya.

Wimar mengharapkan, orang tidak membantai Presiden Abdurrahman Wahid karena ucapannya yang salah. "Ia orang jujur. Adhie Massardi mengatakan, kita tidak terbiasa dengan Presiden yang menggunakan bahasa rakyat yang tidak terlindung. Presiden Nixon dulu padahal lebih maut bicaranya, tetapi yang keluar bagus-bagus. Gus Dur tidak mau begitu, maunya semua keluar," ujarnya. (osd)

Print article only

0 Comments:

« Home