Articles

Polisi Saling Tembak: Salah Sistem atau Wajar?

Wimar's World
22 March 2007

Oleh Maro Alnesputra

DOR DOR DOR DOR DOR... dan berkali-kali peluru dari sebuah pistol ditembakkan oleh seorang polisi ke tubuh atasannya. Entah apa yang dipikirkannya pada hari itu, namun di hari itu dia telah melakukan dua hal yang benar-benar tidak diduga: menembak atasannya dan menyandera seorang personil kepolisian wanita lainnya selama ia berteriak-teriak 3 jam.

Bukan... cerita ini bukan diambil dari film-film atau pun sinetron-sinetron Indonesia. Cerita di atas merupakan kejadian nyata yang terjadi minggu lalu di kota Semarang. Ironis memang, bahwa senjata yang seharusnya merupakan pilihan terakhir, malah sebegitu mudahnya untuk dipergunakan. Kejadian di atas bukan pertama kalinya. Tercatat telah terjadi 18 kali kasus penggunaan senjata yang tidak resmi sejak tahun 2001, dimana 8 di antaranya terjadi antara sesama petugas kepolisian. Tiga diantara peristiwa itu merupakan pembunuhan anak buah terhadap atasannya yang sama-sama polisi! Hal ini tentu saja merupakan suatu permasalahan yang harus segera ditanggulangi.

Episode Wimar's world kali ini membahas mengenai polisi dan senjata. Hadir sebagai nara sumber adalah Aryanto Sutadi (Staf Ahli Kapolri), Ratna Sugeng (Psikiater) dan Bambang Widodo Umar (Pengamat Kepolisian).

Simak!

Kronologis

WW : Bagaimana sebenarnya kronologis kejadian di S emarang itu?

Aryanto Sutadi: Mudah saja, seorang prajurit sersan dipindahkan karena mutasi. Merasa tidak dapat menerima keputusan tersebut, dirinya pun mengajukan keberatan, tapi kemudian tidak mendapatkan tanggapan apa apa. Keberatan utama si prajurit ini adalah ia terbebani oleh jumlah keluarganya yang banyak sehingga dia takut kehilangan rumah dinasnya dan sebagainya. Dalam kekalutannya, dia mencari orang yang paling bertanggung jawab atas proses mutasi dirinya. Sehingga dia kemudian menyandera seorang personil kepolisian wanita dan melakukan penembakan ke atasannya.

WW: Itu ada saksinya?

Aryanto Sutadi : Ya saksi yang disandera oleh prajurit itu

WW: saksi itu melihat bahwa prajurit itu langsung menembak atau telah terjadi dialog dulu sebelumnya?

Aryanto Sutadi : Sampai saat ini detail masih belum bisa diceritakan karena saksinya masih sress dan trauma sampai saat ini. Yang jelas prajurit tersebut membawa sebuah polisi yang telah berisi peluru. Dia kemudian mengajak personil kepolisian wanita itu ke ruangan atas dan mengganjal pintu dari dalam. Kemudian terjadilah penembakan tersebut.

WW: Lalu?

Aryanto Sutadi: Sebenarnya setelah penembakan tersebut, sudah dicoba dicari jalan negosiasi yaitu dengan dialog dari komandan dan bahkan dengan orang tua dari prajurit tersebut. Akhirnya untuk mengalihkan perhatian kita dobrak pintunya dan kemudian sebelum didobrak, ditembak tapi tidak melihat tembakan dari luar pak.

WW: prajurit itu sudah tau lama bahwa akan dipindahkan?

Aryanto Sutadi: Sudah tahu dari sebulan sebelumnya. Tapi mungkin dia merasa terbebani karena dia tulang punggung keluarganya, apalagi dia tinggal di rumah dinasnya dengan orang tuanya, 4 kakaknya yang sudah berkeluarga dan tidak punya pekerjaan tetap dan dengan istrinya. Kalau dia dipindah kan berarti rumah dinas itu akan dicabut kan, sehingga itu lah yang membuat dia mengajukan keberatan karena merasa keadaan akan jadi susah kalau pindah

WW: Pada waktu memutuskan untuk memindahkan prajurit, faktor seperti itu dipertimbangkan tidak ya?

Aryanto: ya belum sih pak, karena kalau berdasarkan faktor itu, ya tidak ada personil yang bisa dipindahkan donk pak. hahahaha..

WW: Maju kena mundur kena yah jadinya hahahaha (DONO donk ?)

Memory Loss

WW: Apa pendapat ibu Ratna mengenai peristiwa ini?

Ratna Sugeng : Sepertinya penembakan itu tidak direncanakan ya ?

Aryanto Sutadi : Kami belum bisa mengatakan begitu ya. Tapi yang jelas dia datang ke situ untuk menyerahkan senjata. Semua anggota yang dimutasikan diwajibkan menyerahkan senjata, dan semua sudah melakukannya kecuali dia. Hari itu dia bilang bahwa dia akan datang menyerahkan senjata.

WW: tadi bapak katakan saksinya kejadian ini adalah….?

Aryanto Sutadi: betul ibu Lily namanya

WW: Ibu Lily sekarang masih perawatan ?

Aryanto Sutadi: ya masih

WW: itu wajar dirawat sampai selama itu ?

Ratna Sugeng: iya sangat wajar ya karena dia sangat shock dan tidak pernah melihat peristiwa seperti itu dan mungkin tidak pernah menduga akan mengalaminya. Dalam waktu singkat dia harus melihat atasannya dibunuh oleh orang yang mungkin juga cukup dikenalnya. Selain itu kejadian ini mungkin sangat impulsive. Jadi karena dia mendapatkan keterangan tidak jelas kemana mana tentang mutasi dirinya. Dia menjadi marah dan kebetulan ada yang dibawa, akhirnya yang dibawa itu yang digunakan untuk menumpahkan kemarahannya,s ementara ibu yang menjadi sandera ini begitu melihat orang yang sangat marah ini mengisi pistol dengan peluru mungkin merasa bahwa dirinyalah yang akan menjadi sasaran tembak berikutnya

Aryanto Sutadi: itu dia disandera 3 jam

WW: Ada harapan gak suatu saat nanti dia akan carita atau akan memory loss ?

Ratna Sugeng: yang jelas harus ditemani psikiater. Sekarang harus ditenangkan dulu dan setelah ditenangkan baru saat dia punya back up baik dan support dari psikiaternya, dia akan digali. Baru pada saat itu memorinya akan bisa digali, khusus untuk memori yang sangat traumatik, pendampingannya harus kuat.

WW: mungkin ngga dia ingin melampiaskan karena dia punya pistol lalu dia tembak? Kalau mungkin dia tidak punya pistol, mungkin dia akan melampiaskan dengan mukul dan kemudian selesai pelampiasannya.

Ratna Sugeng: Mungkin saja dia akan mengangkat meja atau banting kursi sih, tapi kebetulan yang dipegang itu sesuatu yang mematikan.

Masalah Organisasional

WW: saya punya dua pertanyaan:

  1. apakah kejadian ini wajar bahwa orang punya keadaan stress dan punya senjata banyak? apakah ini ada sesuatu yang di luar prosedur?
  2. apakah ini sistemik atau ini random ya? Kebetulan saja terjadi ?

Bambang Widodo: saya mencoba mengamati dari beberapa kasus sebelumnya.

  1. Kasus ini saya lihat sebagai suatu puncak ketidakdisiplinan seorang bawahan dari atasannya
  2. Sekaligus ketidakmampuan seorang pimpinan dalam membina bawahannya.

Jadi jelas ada korelasinya. Di satu sisi tugas-tugas di kepolisian sangat memungkinkan adanya strain atau ketegangan, selain itu juga masalah potensi stress yang sangat tinggi karena tugasnya cukup berat, ditambah sistem sentiment seperti like dan dislike di kepolisian.

WW: Jadi?

Bambang Widodo: faktor-faktor tadi mungkin disebabkan masalah sistem organisasional. Misalnya pada proses peminjaman dan pemakaian senjata api. Kemungkinan prosedurnya ini kurang mengikuti peraturan yang benar. Selain itu pengawasan internalnya mungkin kurang kuat baik dari prospannya maupun pimpinannya. Yang terakhir ada juga kemungkinan bahwa mutasi itu memang terjadinya tidak fair.

WW: kalau begitu apa memang sekarang sedang ada sesuatu yang unik dalam kepolisian?

Bambang Widodo: Ada suatu perubahan di dalam diri kepolisian. Kalau dulu di dalam konteks ABRI itu lengkap sekali. Memang ada suatu lembaga yang memang melapisi dari system hirarki di kepolisian. Tapi sekarang dengan polisi sudah berdiri sendiri harusnya akan lebih baik. Di sisi lain, sekarang beban tugas polisi sangat tinggi. Masalah-masalah social yang dihadapi kepolisian sudah overload sepertinya.

Siapa yang boleh pegang senjata api?

WW: Kalau orang tingkat kompetensi rendah, apakah akan lebih besar kecenderungan untuk membunuh ?

Ratna Sugeng: Sebenarnya bukan kecendurungan untuk membunuh tapi kecenderungan untuk frustasi kepada diri sendiri karena keterampilan yang tidak dimiliki begitu banyak sementara persoalan yang ada demikian besar.

WW: Ada policy tertentu ngga siapa yang boleh pegang senjata dan siapa yang tidak boleh. Dan apa mereka matang secara psikologis

Aryanto Sutadi : Tidak semua polisi itu boleh bawa senjata.

  1. akan dipilih mana yang pantas menggunakan senjata
  2. akan dites dulu, psikonya apakah memenuhi syarat atau tidak dan ini bukan sekedar test tapi juga ada observasi langsung
  3. yang terakhir dilakukan adalah pengawasan

Saya juga ingin mengatakan kalau ada yang bilang bahwa sistemnya itu salah, harus dilihat bahwa tidak seluruhya salah. Harus dilihat dari 240.000 orang dan hanya terjadi 18 saat ini, itu saya kira bukan sistemnya yang salah tapi itu adalah kejadian yang memang sudah menjadi resiko.

Stress meningkat?

WW: menurut bapak, stress di kalangan kepolisian meningkat atau tidak dengan adanya perubahan status

Bambang Widodo: kalau melihat kondisi beban tugas, saya yakin meningkat

WW: mengapa? kan dari dulu juga banyak yang dikerjakan oleh polisi

Bambang Widodo: Tapi potensinya berbeda, dulu polisi bersama dengam militer. Sementara sekarang sudah mandiri. Contohnya di kepolisian hubungan antara atasan dan bawahan masih bersikap sub-ordinate bukan partnership. Komunikasinya sistemnya mono-dialogue. Ini yang menyebabkan bawahan tidak bisa bebas mengungkapkan masalahnya pada atasannya. Sehingga menyebabkan perasaan tertekan bagi mereka. Pelampiasannya bisa ke masyarakat dalam kondisi demikian.

WW: Wah kalau gitu sekarang masyarakat harus mulai hati hati ya...

Solusi?

WW: Bagaimana menanggulangi masalahnya? Misalnya pembatasan pengguna senjata api atau bagaimana gitu?

Aryanto Sutadi: Sebenarnya Pak Kapolri sudah menganjurkan beberapa hal. Kalau kapolda-kapolda yang baik akan melakukan check in ulang psikologi tiap 6 bulan sekali, namun ada yang melakukan ada yang tidak.

WW: ada perubahan menangani masalah mutasi supaya tidak terjadi lagi kasus seperti ini?

Aryantio Sutadi: Ada, dan itu meliputi:

  1. Perbaikan sistem pengamatan
  2. Peningkatan disiplin
  3. Pembinaan personil

WW: menurut bapak komunikasi antara kepolisian dengan masyarakat sedang menjauh atau membaik?

Aryanto Sutadi : itu sudah dilakukan dengan melakukan reformasi di 3 bidang: instrumental, struktural, dan kultural. Instrumental dan struktural itu mudah pak. Yang susah itu kultural karena kita 35 tahun berada di bawah pendidikan militer, dan itu sudah menjadi suatu kebiasaan dan kita berusaha mengubah menjadi gaya yang berbeda. Untuk para perwira di atas mungkin agak lebih mudah, tapi untuk yang lain akan sangat butuh waktu untuk merubah itu. Kita juga selalu berusaha membuat slogan bahwa polisi adalah mitra masyarakat dan bukan sok menjadi penguasa, namun itu semua masih membutuhkan waktu yang panjang.

-

Yah dan mudah-mudahan tidak lagi terjadi kasus-kasus seperti ini. Karena kalau ngga, jangan-jangan semua orang harus mulai beli jaket anti peluru nih kalau kemana mana hehehehe...

kalau anda jadi kapolri apa yang bakal anda lakukan untuk mencegah hal ini terjadi lagi?

Print article only

36 Comments:

  1. From sandy on 22 March 2007 10:51:12 WIB
    Jadi Polisi di Indonesia memang berat, beban pekerjaan tidak sesuai dengan kesejahteraan, gaji mereka terlalu rendah, sedangkan kerjaannya berat. maka itu gaji mereka perlu ditingkatkan.
    Karena kurang sejahtera, maka pikiran ga jernih, ketika emosi memuncak apapun bisa dilakukan utnuk pelampiasan. termasuk nembak atasan. ironis memang.
  2. From Ria Wibisono on 22 March 2007 11:51:11 WIB
    Saya kurang tahu gimana sih tes masuk kepolisian dan apa saja pembinaan yang diberikan kepada para polisi. Idealnya kalau menurut saya di awal mereka harus diberi tes motivasi, untuk mengetahui apa sih motivasi mereka masuk kepolisian. Mengingat realita bahwa kerjanya berat, gajinya dikit seperti komentar Sdr.Sandy di atas.
    Begitu masuk pun tetap mereka harus diberi pembinaan dan pendampingan rutin untuk mengajak mereka kembali ke motivasi awal, mengingatkan bahwa jadi polisi itu bukan untuk gaya2an, pamer senjata; tapi untuk melayani masyarakat.
    Oh iya, saya juga pernah baca di salah satu kota di Indonesia, kalau tidak salah di Kalimantan, baru2 ini terjadi kasus antara polisi dan pasangan ABG. Polisi itu menangkap basah pasangan ABG sedang berhubungan badan di satu tempat. Bukannya dibawa ke kantor dan dipanggil ortunya, mereka malah disuruh mengulang perbuatan mereka di bawah ancaman senjata. Dan kejadian itu diabadikan lewat kamera HP si polisi. Lebih sadis lagi, setelah itu si polisi memperkosa ceweknya. Gile, sampai2 pemda dan polisi setempat berusaha keras mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada polisi, karena pasti lah masyarakat jadi ngamuk berat. Saya saja sebagai pembaca merasa sangat ngeri.

    Kalau dulu ada film Ada Apa dengan Cinta, kayaknya sekarang judulnya jadi Ada Apa dengan Polisi?
  3. From rachman on 22 March 2007 12:34:05 WIB
    bung Wim,
    Harusnya kita bangga punya polisi yang berani nembak. Soalnya saya sering lihat di jalan nyali polisi kecil, sampe-sampe polisi kagak berani nilang supir angkot yang berhenti seenaknya yang bikin macet kagak karuan. Makanya saya usulkan polisi yang seperti ini masuk dalam KPK, sehingga para koruptor berkurang di Indonesia.
    Hdup Polisi !!!
  4. From Hari on 22 March 2007 14:25:59 WIB
    Keterangan Aryanto Sutadi mengenai polisi menolak dipindah merupakan hal baru bagi saya pribadi. Selama ini informasi yang selalu saya dapat adalah polisi keberatan dimutasi karena tempat yang lama sangat "basah". Misal, polisi lebih suka menjadi Kapolsek Mangga Besar, Jakarta Kota, atau menjadi Kapolda di Kalimantan. Karena itu saya tidak heran dulu sempat beredar laporan rekening 15 perwira Polri tidak wajar, ada ada indikasi money laundering namun sampai kini penanganannya tidak jelas. Jadi wajar kalau mereka stress dipindah dari tempat basah.
  5. From Ook Nugroho on 22 March 2007 15:23:54 WIB
    Belum lama ini di Detik dimuat survey yang bilang bahwa 90% orang Indonesia sekarang ada dalam kondisi depresi/stres berat. Kalau survey itu valid mengerikan sekali bukan?

    Lha orang stres itu kan bisa bikin apa saja, jadi kalau misalnya yang stres itu polisi, dan dia lagi pegang pistol ya ga usah heranlah -- dgn mengacu pada survey di Detik itu -- kalau lantas dia nembak, atau paling enteng main gampar gitu, karena dulu di sekolahnya kan diajarin betul tuh gimana cara ngegampar dan nembak.
  6. From Mery Diana on 22 March 2007 17:21:40 WIB
    Polisi oh polisi...
    Menurut saya inti dari semua ini adalah maalah kesejahtraan.
    Tadi pagi saya dengar komentar mantan polisi yg mengatakan tidak adanya pemerataan kesejahtraan karena ada istilah tempat basah dan tempat kering. Ada bintara yang penghasilannya lebih besar dari seorang jendral. Lucu sekali ya aturan di negri kita ini.
    Saya kok gak setuju dengan istilah tempat basah dan tempat kering ini...
    Sebenarnya standar gaji yang aneh ini gak hanya terjadi di semua lini. Masa gaji Presiden RI lebih rendah dari gaji gaji Gubernur BI? aneh tapi nyata....
  7. From moh toha on 22 March 2007 17:28:06 WIB
    Polisi Kena Polusi
    Bung Wimar, tolong sampaikan kepada para petinggi POLRI, banyak sekali deterjen dan sabun cuci yang dapat efektif menghilangkan noda. Barangkali sudah waktunya baju polisi itu dicuci, sebab kelihatannya sudah terlalu banyak kotoran dan noda yang sulit untuk dibersihkan.
  8. From aken on 22 March 2007 21:34:58 WIB
    Salaam damai,

    Astaghfirulloh... moga Tuhan YME mengampuni kita semua.

    Terima kasih.
  9. From Herman Huang on 22 March 2007 21:38:00 WIB
    Polisi yang sejahtera bukan berarti dia tidak akan sembarangan tembak.
    Beberapa kasus tetap terjadi juga oleh polisi di luar negeri meskipun mereka sudah sejahtera.
    Faktor kesehatan mental lebih berpengaruh.
    Mental yang sehat dipengaruhi tingkat kesehjateraan yang baik,keluarga yang harmonis,lingkungan kerja yang mendukung,masyarakat yang sehat juga,kekuatan iman seseorang dsb.
    Bila salah satu faktor saja tidak mendukung maka kesehatan mental gampang hilang keseimbangannya.
    Begitu sudah tidak seimbang maka orang gampang emosi,bersikap seenaknya sendiri dan berbagai pelampiasan lainnya.
    Mungkin lebih baik lagi kalo ada dokter jiwa dan psikologis yang ikut urun rembug di forum ini.

    Salam
  10. From aria on 22 March 2007 21:38:11 WIB
    Waow..apalagi kalo yang kepilih polisi jadi gubernur..olala bisa runyam nih urusannya uda yang satunya generasi kedua dari kebobrokan eh ini urusan tembak menembak. waaoooow ... ngawur
  11. From Rifai on 23 March 2007 10:16:49 WIB
    Kalau diumpamakan perjalanan hidup kita ini seperti cerita wayang atau opera sabun alias cerita sinetron saya pikir kebetulan saja kedua polisi itu mendapat peran seperti itu dari Yang Maha Pengatur (Maha Sutradara)dan kita mendapat peran lain.
  12. From Pengamat on 23 March 2007 10:59:48 WIB
    Waktu lihat judulnya, pengamat mengira yang akan disoroti adalah “kepolisian” dari aspek “itu”nya, atau aspek “prit-ji-go”.

    Ternyata sorotannya lebih mendalam, ialah sorotan tentang penyalahgunaan senjata api oleh warga kepolisian.
    Tidak ada jawaban yang sederhana dan umum mengenai fenomena tembak menembak antar-orang, polisi atau bukan. Acara Wimar’s World malam itu (yang lagi lagi sangat menarik) memberikan sebagian jawaban.
    Umpamanya kasus seorang polisi yang menembak atasannya karena dimutasikan yang diterangkan oleh ahli psychiater sehingga kita dapat mengerti tanpa bisa membenarkan. Bayangkan, bagaimana dengan nasib 11 orang tanggungannya, jika harus dia tinggalkan.

    Wimar menyampaikan observasi tajam melihat perbedaan antara negara Inggeris (dimana polisi tidak dilengkapi senjata) dan AS dimana polisi (dan tiap orang juga) dapat memegang senjata api). Perbedaan “dunia kriminal” di kedua megara itu ternyata tidak terlalu berbeda.

    Pengamat dalam acara itu berkesan melihat Polisi sebagai manusia biasa, dan yakin bahwa mayoritas dari anggota kepolisian terdiri dari “orang orang biasa” dengan segala limitasinya.

  13. From Ronald on 23 March 2007 11:52:07 WIB
    Biasanya polisi punya pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangan gaji , kalau dipindah berarti penghasilan hanya dari gaji seorang brigadir polisi , tidak mungkin menghidupi 4 pasang kakak ,orang tua plus seorang istri berarti kiamat buat sang brigadir , sang komandan mungkin tidak menimbang itu semua , apalagi tingkat urgensi mutasi seorang provost polisi ke daerah lebih rendah tingkatnya dipertanyakan .
    Jadi komandan harus bisa memikirkan kehidupan anak buahnya agar lebih loyal dan berprestasi ,toch kalau anak buah berprestasi yang naik pangkat lebih dulu adalah sang komandan .
    Dari pemikiran diatas dapat ditarik dua pertanyaan ;
    1.Apakah komandan cukup cakap memimpin anak buahnya ;sehingga bisa membuat keputusan tanpa ada unsur like or dislike .

    2.Sang Brigadir merasa sangat dirugikan karena biaya masuk polisi harus mengeluarkan biaya sangat mahal dengan menjual rumah ,harta lainnya sehingga 1 Keluarga besar hidup dalam 1 atap di asrama polisi ?
  14. From feri herizal on 23 March 2007 15:10:28 WIB
    negeri yang aneh !!, Kita tunggu lagi ke anehan apa lagi yang muncul setelah ini
  15. From nadia febina on 23 March 2007 15:35:00 WIB
    Kalau saya jadi Kapolri, mungkin yang pertama-tama saya benahi adalah kultur organisasi nya. Saya kurang mengerti bagaimana hubungan atasan dan bawahan di kepolisian, tapi semestinya seorang atasan sebagai leader juga punya peran "ngemong" team nya. Keterbukaan sesama anggota team demi kemajuan organisasi sangat penting, termasuk menangani masalah2 yang sedikit personal (seperti beban keluarga kalau dipindahkan dll). Seandainya kultur keterbukaan seperti ini ada di dalam suatu organisasi, saya rasa bisa ditangani stress yang meledak seperti itu.

    Sejarah saya juga selama ini beberapa kali dipindah-pindahkan lokasi untuk bekerja (saya sekarang di africa), dan saya merasa banyak ditolong oleh boss2 di kantor yang selalu siap mendengarkan keluh kesah masalah kepindahan vs family life, dll dsb. Kalau saja boss saya yang tidak apply model "open door anytime", mungkin saya bisa stress abis kaya model sersan ini. Walaupun ini tentu saja bukan justifikasi untuk dar der dor.. :)
  16. From Ludjana on 24 March 2007 05:14:43 WIB
    Salah satu yang menarik yang timbul di Wimar's World (ini kan tang kita bicarakan disini ?) adalah pengakuan dari kepolisian bahw pembinaan pokisi telah salah selama 32 tahun Orde Baru. Karena sudah dibina dengan cara militer, sedangkan polisi lain lagim terutama hubungan dengan masyarakat maupun dengan atasan/bawahan. Dengan adanya reformasi, falsafah kepolisian kiga mengalami reformasi.
    Diskusi itu bagus sekali, apakagi kalau memang terjadi yang didiskusikan itu.
    Rasanya belum saja terasakan. Malahan ada tetangga saya (pensiunan polisi) yang geleng kepala rerkagum kagum (dan iri) melihat "personal assets" dari tokoh tokoh polisi sekarang.
  17. From ambar wahyudi on 24 March 2007 09:51:40 WIB
    Jika saya seorang Hance...


    Tidak ada yang perlu disesalkan, semua telah terjadi.
    Saya tidak tahu apa yang akan anda lakukan, jika hal ini terjadi pada diri anda. Menghadapi sebuah peristiwa, dimana saya harus menanggung hidup keluarga besar saya. Dan tidak ada seorangpun yang mau mengerti saya ketika akan dimutasi, termasuk atasan saya. Dimanakah kebijaksanaan seorang atasan, yang katanya dipilih karena dinilai dia mampu mengayomi semua anak buahnya.


    Kejamkah dunia ini???
    Ya Tuhan maafkan segala salahku, semua ini ku lakukan demi keluargaku. Ampuni aku ya Tuhan, Lindungi keluargaku dari kejamnya dunia. Cukup aku ya Tuhan, cukup aku....
  18. From Achmad Sunjayadi on 24 March 2007 18:24:52 WIB
    Bung Wim,
    Polisi saling tembak bukan hal yang aneh. Dengan angkatan lain saja mereka baku tembak apalagi dengan sesama korps. Yang jelas, senjata adalah alat "setan" bak dua mata pisau tajam. Bila salah menggunakannya, diri sendiri yang bisa terkena. Karena itu para calon pemegang senjata harus betul siap mental dan fisik. Zaman kerajaan dahulu saja untuk memegang atau menggunakan sebilah keris perlu ritual dulu. Harus puasa 40 hari, 40 malam. Bertapa di hutan atau gunung. Padahal keris paling jauh hanya bisa digunakan dalam jarak setengah meter. Kalau begitu, apa para polisi dibagikan keris saja? Tapi harus menjalani ritual dulu. Pasti mereka mau. Apalagi kalau ditemani 'Kris Dayanti'. Salam.
  19. From Kampret Sasab on 24 March 2007 18:32:53 WIB
    Memang perlu check & balance dalam tubuh POLRI, termasuk check keshatan/keseimbangan mental health dari waktu ke waktu, sebab individu yang di"cekeli" bedil/pestol itu mestilah bisa ngatur emosinya dan bisa lebih sabar dari yang waras sekalipun. Ada pepatah londo yang mengatakan: "when my cup is full, then it is full [so stop pouring - more problem/heavy loads on me - while salary has never been improved nor welfare]

    Mungkin persona atasan yang terkesan arogan tanpa bisa atau kurang "ngawa'i" bawahannya bisa jadi faktor pemicu pendek-nya sumbu emosi si-bawahan yang kemudian main langsung "dor" saja.

    Banyak elemen yang harus jadi pertimbangan kedepan, terutama welfare anggota [dan termasuk keluarga si-anggota]. Ayo dong, kalau mau korps kepolisian bersih, terapkan metode "carrots & sticks" yang konsisten dan persisten dong.. jangan hanya sticks-nya aja terus yang diterapkan, insentive-nya gak ada sama sekali ---> Capee deeh!
  20. From Ria Wibisono on 25 March 2007 13:41:54 WIB
    Memangnya polisi di Indonesia ini pembinaannya bagaimana dan sampai sejauh mana?
    Apakah pembinaannya hanya berkutat pada tataran kognitif, artinya ngubek2 intelektualitas dari segi IQ saja? Lantas EQ, SQ dan multiple intelligence lainnya menjadi lahan tak tersentuh? Kalau melihat tipe pendidikan di Indonesia sih, mungkin pendidikannya polisi juga gitu. Di negara ini kan murid dihargai karena nilai matematika dan pelajaran lainnya, bukan karena bersikap sopan atau membantu teman. Murid diberi peringkat berdasarkan hasil belajarnya, bukan berdasarkan budi pekertinya. Diajari budi pekerti pun cuma teori....
    Selain itu, apa seorang polisi hanya dibina di Akpol saja, setelahnya dibiarkan? Kalau setelah jadi polisi malah bermasalah, harus ada pembinaan berkelanjutan dong. Biar sudah pangkat tinggi juga harus tetap dibina secara menyeluruh....
  21. From Supryadi on 26 March 2007 13:34:26 WIB
    Kejadian ini pastinya merupakan tindakan indisipliner terhadap atasan dan sudah tergolong tindakan kriminal.
    Dalam dasar ilmu manajemen terdapat 5 fungsi dasar salah satunya adalah controlling, yang dimana penerapannya pasti akan dipraktekkan oleh semua perusahaan baik organisasi profit, non-profit, lembaga-lembaga dan instansi-instansi.
    Karena controlling itu sama dengan evaluasi yang bertujuan untuk memperbaiki kinerja dari lembaga/organisasi.
    Apalagi kalau instansi pemerintahan seperti kepolisian perlu adanya evaluasi keseluruhan bukan hanya kinerja dari seluruh kepolisian tetapi juga perlu ada penilaian personal (pribadi per orang).
    Penilaian personal itu termasuk dalam segala hal berhubungan dengan kejiwaan, Behavior, output yang dihasilkan.
    Kalau tiap anggota polisi di evaluasi tiap bulan atau tiap jangka waktu tertentu maka tidak akan ada lagi tindakan kecolongan seperti ini.
  22. From gambler on 27 March 2007 13:06:04 WIB
    pak Wimar, blm bahas duit tommy kan? boleh tuh di wimar's world. soal ini saya cuman denger dikit2 & dr yg rep mimpi kemarin, jadi penasaran. gimana kalo undang fadjroel rachman?
  23. From pahit on 27 March 2007 20:19:16 WIB
    Ada seorang polisi. Suatu pagi dia dimintai anaknya sepasang sepatu baru karena yang lama sudah sobek. Maka di pagi hari itu setelah sarapan dia segera mengenakan seragam lengkap dan langsung ngeluyur dengan sepeda bebek barunya. Siang hari menjelang dhuhur sang polisi sudah pulang dengan sepasang sepatu baru buat anaknya seharga tiga ratus ribu rupiah.

    Malamnya ia cerita pada istrinya. Sepanjang pagi dia telah mencegat beberapa kendaraan roda dua dan roda empat yang bannya sedikit menginjak marka. Rupanya dari situlah Rp 300.000,- bisa diperoleh tunai dalam setengah hari buat beli sepatu baru.

    Apakah cerita faktual ini masih menunjukkan adanya masalah kesejahteraan bagi aparat kepolisian?
  24. From Sudarwito on 29 March 2007 08:59:20 WIB
    Semua masalah yang terjadi di semua bidang di negeri ini menurut saya disebabkan sistem recruitmen yang tidak BENAR, untuk bisa jadi polsi harus ada uang sekian Juta, untuk bisa masuk PNS harus ada uang sekian Juta bahkan untuk cari SIM harus menyediakan uang Extra sekian ratus ribu, sehingga jadinya Sopir ya hanya mikirin cari duit sebanyak-2 nya, bodo amat dengan keselamatan penumpang, bodo amat dengan cara nyupir yang baik. Sehingga jika suatu urusan diserahkan yang bukan ahli nya mari kita tunggu kehancuran. Jadi nggak usah heran kalau kedepan makin banyak kasus2 yang aneh2 karena emang kita sudah banyak yang nggak bener.
  25. From lebakjero on 02 April 2007 12:25:49 WIB
    polisi saling tembak?? kayaknya gak ada deh, kalo yang jadi polisi saling tembak, ya wajar dan pasti ada. soalnya yang jadi polisi ialah manusia biasa, yang disertai berbagai sifat yang permanen dan tidak permanen. maksudnya yang permanen misalnya badannya tinggi tegap, gagah, kulit putih atau lain-lain, dan yang gak permanen kadang baik, kadang gak baik, kadang jujur kadang gak jujur dll, tau lah... kalo yang jadi polisi mengetahui apa itu "the real" polisi pasti ia akan melaksanakan tugas kepolisannya, karena kalo saling tembak mah itu bukan tugas kepolisian, tugas kepolisian ialah melindungi dan mengayomi masyarakat.
    yang perlu di perhatikan oleh para pimpinan Polri, menyadari bahwa yang jadi polisi itu manusia biasa, yang disertai oleh beragam kebutuhan, dengan kata lain kesejahteraan secara materi (juga moril) harus diperhatikan agar para anggota kepolisian ini tidak menjadi oknum di kepolisian dengan menjadi "penjebak" & "pemeras". Namun para anggota polisi ini harus pula menyadari, kalo mereka saat ini gajinya segitu-gitunya ya sama dengan PNS lain sesuai dengan golongan dan resiko kerjanya. dengan menjadi oknum kepolisian sudah pasti akan mencoreng diri sendiri dan juga membawa nama korps kepolisian indonesia.
    dan boleh di ingat kalo lah rizki yang kita nikmati selama ini adalah rizki milik Allah, bukan rizki milik Kepolisian.
  26. From Nugroho on 02 April 2007 14:44:50 WIB
    Jadi seorang polisi diindonesia itu memang berat, sudah mendapatkan gaji kecil, kesejahteraan kurang terjamin tapi mereka setiap hari harus bertaruh nyawa...
    wajar saya kalo ada yg setres berat sampe nembak atasannya sendiri.
    lebih baik perbaiki dulu kesejahteraan para polisi kta ini, biar gk keulang lagi kejadian seperti ini.
  27. From pahit on 03 April 2007 19:23:30 WIB
    AWAS! POLISI JANGAN MENJADIKAN INSIDEN MEMALUKAN AKIBAT KELALAIANNYA SENDIRI SEBAGAI ALASAN UNTUK MINTA NAIK GAJI! SUDAH BERBUAT SALAH MASIH SAJA MENYALAHKAN PEMERINTAH.
  28. From yeny on 05 April 2007 23:43:44 WIB
    Ngeri memang saya akhir2 ini melihat berita-berita di TV, Polisi saling tembak. bukan satu atau dua kali peristiwa ini berlangsung. meminjam istilah teman "Ada apa dengan Polisi",beban hidup apapun itu pekerjaan,masalah pertemanan, keluarga, ekonomi bila tidak manage secara baik memang akan menimbulkan ledakan seperti itu. Usul memang bagi kepolisian untuk memperhatikan anggotanya masing2,misal salah satunya mengadakan program utk merelaxkan anggotanya dengan pengadaan kelas meditasi sebagai contohnya.karena saya merasa seleksi awal seperti pemeriksaan psikologis akan kurang tepat,sebab kondisi emosional orang selalu berubah setiap harinya.
  29. From alin on 21 April 2007 12:36:18 WIB
    kasus "polisi tembak polis" ini bisa dijadikan study kasus bagi mahasiswa psikologi, untuk tahu lebih dalam sebenarnya apa yang terjadi dengan kondisi psikis para pelaku.
  30. From policeboy on 24 April 2007 18:41:18 WIB
    bang wimar, sebenarnya di organisasi kepolisian seperti juga dalam institusi pemerintah lainnya yang ada di negara kita, tumbuh budaya/kultur yang sangat kaku dan rusak, contohnya : anggota polri dibedakan secara korps antara alumni akpol dengan tamtama, bintara, dan perwira non akpol, itu akan berimbas dalam karir, materi, dan fasilitas lainnya, pak aryanto kurang tepat berkomentar seperti itu, karena dia tidak pernah merasakan jadi bintara polisi, ingat pak masyarakat sekarang makin cerdas dan kritis, bisa mencari informasi di mana saja, jadi secara "kasta" di dalam kepolisian itu ada "kasta brahmana dan ksatria" yaitu para alumni akpol, dan "kasta waisya, sudra" yaitu polisi selain akpol, saya rasa perekrutan perwira polri dari S1 dan S2 sudah cukup bagus untuk memutus mata rantai lingkaran setan seperti itu. masa perwira baru berumur 21-22 tahun langsung dihadapkan kepada realitas masyarakat yang ada, wong mereka hidup di akpol semarang itu seperti terisolasi dari masyarakat kok. di balik sikap kaku seperti militer itu tersimpan jiwa-jiwa yang manja, ingin dilayani, potong kompas, dan serba instant, bang wimar, tolong waspadai perekrutan taruna akpol sekarang ini yang katanya dari S1 dan S2, itu pasti rawan intervensi 3 D, Dulur, Duwit, D satu lagi saya lupa lah....
  31. From Bobby Slamet Hendrawan on 25 April 2007 16:12:03 WIB
    jangan berharap banyak dengan sistem yang baik, jika kesejahteraan prajurit masih terabaikan. Kesejahteraan memberikan dampak besar terhadap psikologis/mental seseorang dalam menjalankan tugas,karena prajurit adalah manusia yang membutuhkan makan dan memberi makan dan bukanlah robot hanya mengandalkan data masukan untuk menjalankan perintah. Sebuah ironi jika kesejahteraan prajurit disamratakan dengan perwira,karena kesempatan kedua level sangat berbeda.
  32. From garis wibowo on 30 April 2007 14:51:25 WIB
    wah kalo aya jd police, aya akan perbaikin sistem pendidikannya dulu, coba lihat orang yang bilang masuk polisi tuk mengabdi kepada bangsa n negara di marahin di spn, gila gak tuh yang marahin, trus aya akan buat buku panduan rohani, kayak anak sekolahan tiap bulan suci, jd ada tnda tangan pemuka agama, apakh angota itu beribadah atw tidak, kalo mensjid berati dari ustad, kalo gereja jd pendeta dst, jd ketahuan mereka beribadah atw tidak
  33. From martin on 08 May 2007 07:17:40 WIB
    bagaimana polisi mau baik dan tidak stress. Bung kondisi di Kepolisian sudah demikian parah. sebetulnya kalau dilihat dengan cermat justru level bintara dan tamtamalah yang menjadi polisi sesungguhnya. sedangkan atasannya adalah maling. contoh yang terjadi saat ini. jika keluar surat perintah tugas keluar maka duitnya dimakan komandannya. Sedangkan untuk pelaksana (Bintara) hanya ada tiga pilihan yaitu berangkat dengan minta uang gaji yang sudah diserahkan istri, berangkat dengan cari uang di jalanan dan mengorbankan harga diri, atau tidak berangkat tapi dimasukkan ke dalam sel sebagai hukuman karena tidak disiplin. Kesemuanya disebabkan karena tidak ada duit yang diberikan untuk bekerja. itulah fakta yang terjadi saat ini dikepolisian. jadi tidak dapat disalahkan jika tingkat stress di Kepolisian tertinggi ada di level bintara dan tamtama. sekarang pertanyaan yang muncul adalah siapakan yang sebenarnya menjadi malingnya maling?
  34. From percis dia on 08 June 2007 15:16:27 WIB
    Jika saya diijinkan ketemu sama KAPOLRI.
    Saya akan memberikan masukan, saran kritikan dan saya yakin masukan yang saya berikan kepada KAPOLRI saya jamin 100% tidak korupsi / sogokan dsb, di tubuh POLRI. boleh di buktikan.
    Pak bila berminat hubungi saya lewat mail saya: percis_dia@yahoo.com.
  35. From Bong Hin on 11 June 2007 10:14:50 WIB
    Untuk mengatasi trigger happy pada polisi & tentara, sebaiknya sih diganti dg peluru karet saja.
  36. From seto on 22 March 2008 02:05:02 WIB
    hanya satu kata dari saya
    polisi juga manusia......seperti kata seurieus
    semua bisa saja terjadi pada anggota polisi, bahkan presiden sekalipun...... MANUSIAWI

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home