Articles

Mengabdikan Hidupnya untuk Cinta, Kebebasan dan Kritik

Tabloid Realita
19 March 2007

Diketik ulang dari Tabloid Realita Edisi 14, Tahun I (19 Maret-1 April 2007)

WIMAR WITOELAR (Presenter dan Pengusaha)
Mengabdikan Hidupnya untuk Cinta, Kebebasan dan Kritik

Masih inget joke-joke lucu dan menggelitik yang terlontar dari sosok pria gempal yang satu ini? Atau mungkin Anda hanya mengingat Wimar lewat rambut kribonya yang sering wara-wiri di layar kaca? Sosok Wimar Witoelar memang dikenal sebagai pria yang memiliki tubuh tambun, berambut kribo serta joke-joke lucu dan menggelitik. Tapi, seperti apa sosok dan kepribadian mantan Jubir Presiden di era Gus Dur ini?

Selasa (6/2) siang itu udara terasa sejuk. Gumpalan awan kelabu menghiasi langit di Jakarta. Meski pertanda akan hujan, Realita harus menemui sosok pria yang sangat familiar ini. Pukul 11.00 WIB memang telah ditentukan sebagai waktu yang tepat untuk mengobrol dengan sosok pria penyuka warna-warna cerah ini. Kantor perusahaan yang dipimpinnya memang tidak sulit ditemukan. Di pojok Ruko Kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, di situlah Wimar berkantor. Ruangan kantornya pun terlihat sangat sederhana. Pintu kaca yang bertuliskan Intermatrix menghiasi bagian depan kantornya.

Tak ada yang istimewa saat Realita masuk ke dalam ruangan kantor InterMatrix. Seperti ruangan kantor pada umumnya, kantor InterMatrix hanya dipenuhi beberapa meja, kursi dan komputer. Sebuah meja bundar yang dikelilingi dengan beberapa kursi, terlihat di lantai atas. Meski begitu, ada satu hal yang membuat perusahaan yang bergerak di bidang public relations (PR) tersebut sangat istimewa. Mantan juru bicara kepresidenan era Gus Dur ini adalah pemilik sekaligus direktur utamanya.

Wimar terlihat ramah ketika menyambut kedatangan Realita. dengan senyum khas, ia mempersilakan Realita untuk menempati kursi yang telah dipersiapkan. Dengan penuh semangat, Wimar kemudian mengisahkan perjalanan hidup dan karirnya hingga saat ini.

Tabloid Realita

Entertainer Humoris. Hanya satu yang tak bisa berubah dari seorang Wimar Witoelar. Dari dulu hingga sekarang, ia tetap menjadi seorang entertainer. Entah tampil di layar kaca maupun di acara talkshow yang bersifat off air. Lontaran-lontaran joke yang menggelitik selalu menghiasi acara yang dipandunya. Berkat kepiawaiannya dalam mengelola kata-kata inilah, ia mampu menjalani berbagai profesi. Mulai dari aktivis mehasiswa hingga menjadi juru bicara. Kepresidenan, telah ia geluti. Namun, lelucon-lelucon yang menarik selalu saja terlontar ketika berbicara. Gelak tawa penonton seakan menjadi bagian tak terpisahkan dari acara yang dipandunya. Ia memang sering dijuluki sebagai entertainer sejati.

Saat ini wimar tengah sibuk menjadi presenter di dua acara televisi dan radio. Kharismanya yang muncul ketika membawakan acara, membuat Wimar selalu dipercaya memandu talkshow. Lelucon-lelucon yang menggelitik menjadikan setiap talkshow yang ia bawakan, selalu diminati penontonya.

Wimar tampil untuk pertama kali di depan publik melalui acara talkshow bertajuk Perspektif di SCTV sekitar tahun 1994. "Waktu itu, saya masuk Perspektif secara diam-diam," Ungkap Wimar. Ia mengaku, ketika itu ia dipanggil oleh pihak menajemen stasiun televisi swasta itu hanya untuk merombak menajemen dalam perusahaan. Akan tetapi, Wimar justru menyarankan kepada pihak stasiun TV tersebut agar tidak terlalu berpikir untuk merombak sistem manajemen perusahaan. Karena menurutnya, untuk ukuran stasiun TV, tidak perlu harus sesuai dengan perusahaan pada umumnya. "saya katakan, mereka cukup membuat acara TV yang berbeda dengan stasiun TV lain, " tutur Wimar.

Dari situlah, pria kelahiran padalarang, Bandung itu menyarankan agar stasiun TV tersebut mengemas acara talkshow seperti Larry King Show yang ditayangkan Stasiun TV berita CNN. Saat itu, Wimar dengan sangat percaya diri mengajukan diri sebagai presenter dari acara yang kemudian diberi nama Perspektif tersebut.

Bebas Berekspresi. Melalui acara Perspektif, Wimar memang melawan arus. Karena kritik-kritik tajam sangat diharamkan pada era pemerintah Orde Baru. "Orang mengira kritik di acara Perspektif adalah kritik untuk Presiden Soeharto. Padahal tidak," elak Wimar. Akibatnya, acara tersebut dilarang Pemerintah. "Padahal bagi saya, Perspektif tidak mengandung politis," lanjutnya.

Sebagai pemandu acara Perspektif, fokus bahasan Wimar memang sangat bertolak belakang dengan situasi politik saat itu. Dimana kebebasan berpolitik sangat terbatas. Melalui joke-joke-nya pula, Wimar memberi inspirasi dalam cara pandang sosial dan politik. Wimar pun menjadi sorotan kala itu. Namun, buah dari penampilannya, Wimar dikenal sebagai sosok pria yang pintar berkomunikasi dan membawa penotonnya ke dalam dunia Wimar. Tempat dimana kebebasan bersekpresi selalu mendapat proritas.

Setelah menoreh namanya didunia talkshow tanah air, Wimar sempat menggeluti dunia yang berbeda jauh dengan apa yang telah digeluti tersebut. Ketika rezim Orde Baru tumbang, dan pemerintahan dikendalikan Presiden Abdurrahman Wahid, Wimar Witoelar dipilih sebagai juru bicara presiden antara tahun 2000-2001. Wimar memang bukan partisipan dari salah satu partai politik. Namun, ia tetap menerima jabatan tersebut sebagai kehormatan dan panggilan tugas sebagai seorang professional di bidang komunikasi.

Walau ia bukan partisipan salah satu partai politik di tanah air, keterlibatan Wimar di dunia politik belum tentu dibilang nihil. Wimar sendiri pernah menjadi salah seorang konseptor pendiri Golongan Karya di Bandung. Kala itu, menjelang pemilu 1971, Wimarlah yang menyusun daftar calon legislatif Golkar Jawa Barat. Pada waktu itu, ia memasukkan rekan-rekannya, seperti Sarwono Kusumaatmadja, Rachman Tolleng, Marzuki Darusman, termasuk kakaknya Rachmat Witoelar dan dirinya sendiri. "Waktu itu, saya cuman memasukkan daftar caleg. Saya hanya terlibat selama tiga bulan," tegas Wimar yang tidak ingin terpilih kembali menjadi juru bicara kepresidenan ini.

Ternyata dunia politik bukanlah dunia yang ia pilih. Bukan karena ia tersisih dari dunia itu, melainkan karena ia secara terang-terangan menolak kebijakan-kebijakan yang dibuat pada pemerintahan Orde Baru. Joke-joke politiknya yang dilontar pun lebih bayak memberikan sindiran terhadap kelemahan-kelemahan pemerintah. Joke-joke politiknya memang tak hanya mengundang gelak tawa, tetapi juga mengandung makna yang seharusnya dicerna dengan baik oleh para penonton. Melalui joke-joke-nya itu pula, kebebasan berdemokrasi dapat terwujud meski hanya dalam lingkup talkshow yang ia bawakan.

Menjadi pembicara di berbagai tempat sudah merupakan hal yang biasa bagi dirinya. Namun, Wimar tidak hanya menghabiskan waktu dengan terus menerus menjadi pembicara. Ia harus membagi waktu dengan tugas lain. Karena ia juga pengusaha. Salah satu perusahaan yang ia didirikan adalah Intermatrix Communications. Komunikasi menjadi jurus ampuhnya untuk menaklukkan pelbagai masalah. Intermatrix sendiri didirikan pada tahun 1986, hasil kerjasamanya dengan sahabatnya, yakni Gede Raka dan Achmad Habir. Kemudian tahun 1994, InterMatrix Communications dibentuk sebagai divisi baru dari InterMatrix. Fokus din perusahaan pun berubah menjadi bidang komunikasi, yang tadinya adalah konsultan manajemen.

Wimar menjadi sosok pendiri sekaligus pembimbing bagi rekan-rekan juniornya di perusahaan. Intermatrix menjelma menjadi menjadi rumah kedua bagi Wimar. Tak heran, karena bagi Wimar, rekan-rekan kerjanya di Intermatrix bagaikan keluarganya sendiri. Terlebih lagi setelah ditinggal pergi sang istri, Suvatchara yang meninggal tahun 2003, ia lebih banyak menghabiskan waktu mengurus perusahaan tersebut. Fajar

Sejak Remaja Sudah Kritis terhadap Keadaan

Selain pernah menggeluti dunia presenter dan pembicara di berbagai acara talkshow, Wimar juga dikenal sebagai kolumnis di media lokal dan internasional. Selepas meninggalkan istana presiden, ia lebih sering menjadi pembiacara di berbagai media asing. Itu sebabnya, jika Anda bertanya kepada media asing seperti stasiun televisi BBC, CNBC, CNN dan ABC, siapa sosok orang Indonesia yang patut dijadikan narasumber berkualitas, jawabnya pasti Wimar Witoelar. Media cetak asing, seperti, Today, Business Week, Newsweek, Australian Financial Review, juga selalu menggunakan Wimar sebagai kolumnis.

Suara nyaring dari pria yang lahir tanggal 14 juli 1945 ini akan terdengar di stasiun TV mancanegara. Kebebasan berpikir dan berpendapat menjadi ciri khas dari pria yang pernah mendekam di dalam hotel prodeo pada Februari 1978 gara-gara sering melontarkan kritik pedas kepada pemerintah Orde Baru tersebut.

Konsep demokrasi memang tak bisa dilepaskan begitu saja dari sosok Wimar Witoelar. Kini, Wimar memang hanya bergulat dengan dunia presenter. Tetapi bukan berarti konsep demokrasi ia tinggalkan. Ia masih menerapkan konsep demokrasi dalam perusahaan yang ia pimpin, InterMatrix Communications. Wimar juga saat ini tengah mendidik rekan-rekan mudanya di Intermatrix agar berkembang menjadi insan yang bekerja secara etis. "InterMatrix adalah keluarga saya," ujar pria penolak poligami ini.

Pengaruh keluarga. Pribadi Wimar juga erat kaitannya dengan pengaruh zaman baheula ketika ia masih mendapat didikan orang tua. Dilahirkan dari pasangan Raden Achmad Witoelar dan Nyi Raden Toti Soeiamah, Wimar tumbuh menjadi pribadi yang kritis dalam berbagai hal. Dari didikan orangtuanya. Ia juga mendapatkan banyak pelajaran berharga. Selimut keluarga yang hangat, selalu berada di sekitar Wimar. Kondisi yang harmonis juga mampu memberikan efek positif terhadap sisi kepribadian bungsu dari 5 bersaudara ini.

Wimar berasal dari keluarga menengah, tidak miskin dan tidak juga kaya. Kebersamaan dan kondisi keluarga yang demokratis selau ditanamkan oleh orangtuanya. Tak heran jika seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Perdebatan kecil selalu mewarnai percakapan mereka. Momen makan bersama pun bisa berubah menjadi sebuah seminar kecil.

Sang ayah, Raden Achmad Witoelar merupakan seorang pamong praja, polisi dan wedana pada masa pernjajahan Belanda dulu. Hal tersebut membuat keluarga besar Witoelar selalu berpindah-pindah tempat tinggal seiring dengan berpindah tugas sang kepala keluarga. Setelah Indonesia merdeka. Ayah Wimar menjadi seorang diplomat. Benua Eropa disambangi keluarga Witoelar, mulai dari Belanda hingga Swedia. Wimar menjalani masa kanan-kanaknya di Eropa. Hampir setiap akhir pekan, Wimar bersama keluarga selalu menyempatkan untuk bertamasya keliling Eropa. Dengan mengendarai mobil, keluarga Witoelar yang terkenal harmonis itu berusaha mengenali setiap budaya dari daerah-daerah yang mereka kunjungi.

Cinta terpaut di Bangkok. Sekembalinya ke Indonesia pada tahun 1957, ia mulai kehidupan biasa. Penampilan dengan rambut kribo dan berbadan tambun mulai tampak ketika Wimar memasuki usia 16 tahun. Berkat didikan orang tuanya pula, Wimar kecil lebih suka membaca majalah Time dan Newsweek ketimbang si Kucing. Berkat kegemaran dalam membaca, dunia seakan-akan kecil di mata wimar. Mantan pemukul bel sekolah di masa kecilnya ini mulai menampakkan sisi Wimar yang kritis dan cerdas ketika ia memasuki bangku kuliah dan menyelesaikan studinya, wimar lebih memilih berkelana di luar negeri.

Dalam aksi jalan-jalan inilah, ia akhirnya bertemu dengan Suvatchara Leeaphon, gadis Tahiland yang kemudian dinikahinya di KBRI Bangkok, tanggal 27 Februari 1971. Dari wanita Tahiland itulah, ia mendapatkan dua putera, Satya Tulaka dan Aree Widya. Kini Wimar tidak perlu pusing mengurus kedua anaknya. Karena mereka sudah berkeluarga dan memiliki kehidupan sendiri. Hal ini memudahkan Wimar untuk menggeluti dunianya, dunia entertainment yang sudah ia jalani selama ini.

Dalam menjalani hidup ini, Wimar lebih memilih memposisikan diri sebagai seorang profesional yang berkecimpung di dunia public relations. "Apa pun akan saya jalani, asalkan itu menyenangkan," ujar Wimar. Ya... Wimar tetaplah seorang Wimar yang akrab dengan dunia kebebasan. Dan kebebasan itu pulalah yang selalu ia perjuangkan. Fajar

Tabloid Realita

Memperluas Jaringan Lewat Internet

Teryata bukan hanya anak muda yang menyukai friendster, jaringan di internet yang membuka komunikasi antaranggotannya diseluruh dunia. Wimar pun doyang berselancar di friendster. Tak hanya itu, program jaringan serupa seperti flickr juga ia masuki untuk memperluas jaringan. Jadi jangan heran ketika Anda tengah browsing internet dan menemukan wajah Wimar pada salah satu program jaringan tersebut. Tak heran, banyak teman Wimar yang masih muda.

Wimar memang tidak pernah bosan berada di depan komputer. Berjam-jam bisa dia habiskan hanya untuk meluangkan waktu bersama komputer. "Saya suka mengumpulkan informsi," ujarnya singkat. Ia selalu memperluas jaringan diseluruh dunia, melalui jasa internet. Baginya, memperluas jaringan tak hanya melalui pertemun biasa. Dengan adanya internet orang yang berada di Eropa pun dengan mudahnya berkomunikasi dengan orang di Kutub Selatan sekalipun. "Saya sekarang lebih suka Flickr ketimbang Friendster," ungkap ayah dua anak ini. Jadi, tak heran kalau ia memiliki banyak rekan di hampir seluruh belahan dunia.

Bahkan jika Anda mengetik kata-kata Wimar Witoelar di situs Google, ribuan artikel yang menyebutkan nama Wimar Witoelar akan langsung muncul. Saking banyaknya artikel yang memuat mantan aktivis mahasiswa ini, tulisan yang berisikan pendapat Wimar pada beberapa tahun lampau juga bisa segera muncul. Fajar

Kesepian Setelah Ditinggal Istri

Perjalanan seorang Wimar tidak sepenuhnya sesuai harapan. Bagi Wimar kematian sang istri akibat kanker merupakan cobaan yang sangat berat. "Cobaan terberat yang saya alami dalam hidup ini adalah ketika istri saya meninggal dunia," kenang Wimar. Pada saat itu, Wimar merasa kehilangan segalanya. Pernikahannya yang harmonis ternyata hanya mampu mencapai 32 tahun. Tuhan berkehendak lain dengan mengambil nyawa sang istri dari sisi Wimar ketika ia sangat membutuhkan cintanya.

Kesuksesan karir yang raihnya selama belasan tahun tak mampu menutupi kesedihan yang dialaminya. Bagi Wimar tak ada lagi kejadian yang sangat menyedihkan selain kematian sang istri. Sepeninggalan sang istri sedikit banyak mempengaruhi karirnya dan kehidupan pribadi Wimar. Sejak tahun 2003 tahun kematian istrinya, Wimar sempat "tenggelam" dari layar kaca. Tak ada lagi lelucon yang mampu mengoyak pikiran pemirsa. Tak ada lagi sosok lelaki berambut kribo dan berkacamata yang wira-wiri di televisi tanah air. Menghadiri acara talkshow yang bersifat off air pun tak pernah dilakukan lagi

Sekitar awal 2006, barulah Wimar kembali lagi menyapa penonton setianya. Ia kembali nongol di televisi dengan konsep acara yang tidak jauh berbeda dengan perspektif yang membawanya kedunia presenter masa lalu. "Saya butuh waktu untuk mengurusi keluarga khususnya anak-anak. Hanya dengan cara ini saya bisa membunuh sepi. Saya memang kesepian setelah ditinggal istri," tutur pria keturunan bangsawan Sunda ini.

Namun kini, Wimar kembali mengurusi Intermatrix, perusahaan yang sempat dilupakan beberapa saat. Intermatrix malah menjadi rumah kedua baginya. Tak ada lagi kesedihan dalam kehidupan Wimar. Ia kembali dengan joke-joke-nya lucu dan menggelitik. Fajar

Konsep Cinta ala Wimar Witoelar

Wimar lebih dikenal sebagai pribadi yang humoris. Mungkin dalam pribadi yang humoris itu pulalah muncul pribadi yang sangat disukai oleh kaum hawa, romantis. Sang istri, Suvatchara Leeaphon yang selalu menemani Wimar selama 32 tahun, adalah sosok wanita yang paling beruntung karena ia mendapatkan suami yag romantis. Pernikahan yang dijalani Wimar, diakuinya sebagai perwujudan cinta. "Menurut saya, perkawinan adalah perwujudan cinta," tuturnya sembari berfilosofi.

Istrinya adalah sosok wanita yang sangat dicintai Wimar, Tak Ayal, ia merasakan adanya kekosongan dalam hidup setelah istri meninggal karena kanker. "Saya merasakan kekosongan setelah istri saya meninggal", kenang wimar. Cinta mendapatkan porsi penting dalam kehidupan Wimar. Selain internet yang sangat disukainya, cinta merupakan sesuatu yang sangat penting di dalam kehidupan Wimar. " Cinta itu tidak mengnal umur," ujar adik kandung Rachmat Witoelar ini.

Menurut Wimar, semua orang dapat merasakan Cinta, karena cinta tidak terbatas pada usia. Bahkan dengan umurnya yang menginjak 62 tahun, Wimar mengaku ia kerap kali merasakan perasaan cinta. "Saya sering jatuh cinta," ungkap Wimar. Baginya, cinta yang tulus adalah perasaan cinta yang hanya mampu direalisasikan melalui perasaan. "Cinta yang tulus itu transendental dalam dunia yang pararel," ujar Wimar sedikit berfilsafat.

Menurut, perasaan cinta tidak perlu diungkapkan dengan menyentuh pasangaan. Bisa juga diungkapkan melalui perasaan. Dengan cara ini, seseorang sudah cukup mencurahkan cinta yang tulus. Sosok romantis juga tergambar jelas dari bagaimana Wimar sangat menghargai cinta didalam hidupnya. "Satu hal yang saya hargai dalam hidup ini adalah cinta. Itu sebabnya, berbahagialah orang yang bisa mencintai", imbuhnya.

Wimar mengaku beruntung bisa mencintai istrinya selama 32 tahun. Meski sang istri telah lebih dahulu meninggalkan dirinya, Wimar mengaku bahwa istrinya akan selalu ada karena cinta. Fajar

Print article only

16 Comments:

  1. From angga on 22 March 2007 19:10:39 WIB
    om wimar tetep menjai guru angga,,,,

    walaupun kadang ada pendapat beliau yang gak sejalan sama saya,,,

    jarang banget bisa dapet mentor kaya om wimar yang slalu ngasih advice yang oke banget,,,

    semoga beliau tetep sehat,, masih banyak banget yang pengen aaya obrolin sama beliau,,,,

    udah mulai susah ketemu di mall...

    penggemarnya makin banyak,,,

    biar beda pendapat saya tetep terus mencoba menjadikan beliau sebagai panutan saya,.,,,

    jangan bosen bagi limu yaghhh,.,,,

    keep rockin,,,

  2. From aria(aku rakyat indonesia asli) on 22 March 2007 21:41:41 WIB
    om..saya pernah SMS.. kok kaya ketakutan gitu sih jangan takut toh guspur pernah bilang dibalik teralis besi tercipta karya2 yang mendunia..so pray to the lord.. GOD BLESS YOU....
  3. From Ria Wibisono on 23 March 2007 06:39:23 WIB
    Thanks God di Indonesia ada orang kayak Wimar Witoelar. Kekuatan komunikasinya, yang dapat menyederhanakan hal2 rumit seperti isu politik, sangat jarang dimiliki tokoh lain di negeri ini. Padahal kemampuan komunikasi seperti ini sangat penting, sebagai bagian dari usaha mencerdaskan bangsa. Bayangkan saja kalau banyak rakyat kecil tidak mengerti politik, mereka hanya akan jadi bulan2an penguasa.

    If you wanna know more bout him, I suggest you to read Hell Yeah! Good book =)
  4. From Henny Lyanty on 23 March 2007 16:26:58 WIB
    Wah... senang banget waktu pertama kali ketemu dengan WW di acara launching buku-nya Hell Yeah di PIM. Yang paling berkesan dari pertemuan pertama, Beliau sangat bersahabat. Saya kagum dengan pemikiran-2 Beliau yang sangat analisis dan disampaikan ke masyarakat luas dengan bahasa yang sederhana yang dapat di mengerti semua kalangan. More Love and Blessing in your life, WW.....
  5. From Nina on 24 March 2007 01:02:50 WIB
    mr Wimar... boleh dong nanti aku magang di intermatrix nya... hehehe.....
  6. From Michael on 24 March 2007 14:17:30 WIB
    Om Wim bagaimana kabar GOLKAR sekarang apakah sesuai dengan cita-cita om sebagai pendiri dahulu kala?. Karena moto golkar sekarang adalah GOLKAR bergerak cepat untuk rakyat, apa artinya ya om?
  7. From Lia on 25 March 2007 18:25:03 WIB
    whoa those times.. saat pak wimar 'ngilang' dari layar kaca, sepi rasanya tanpa joke2 segar dan figur pak wimar. pak wimar, main2 lagi dong ke Bogor, seperti waktu peluncuran buku bersama Mbak Fira. i'd love to have a conversation with u, about anything.
    keep up the good work, pak. dan jaga kesehatan. you're still needed, as an entertainer and also as a politician.

    all the best! ;)
  8. From wimar on 26 March 2007 08:14:28 WIB
    Bung Michael, harapan saya pada Golkar hanya bertahan sampai Pemilu yang pertama (1971). Sejak itu saya bukan saja kecewa tapi malah dibuat defensif oleh Orde Soeharto (baca banyak tulisan mengenai saya ditahan, disensor dan dibreidel). Michael tidak perlu tanya saya, di Perspektif Online pun banyak tulisan saya dan liputan media mengenai ketidak senangan kita dengah Golkar.

    Kepada Lia, saya hanya bisa bilang terima kasih, sure let;s have a talk about nothing, di Pisa Cafe tiap selasa malam jam 19:30-21:00 atau waktu dan tempat lain. My time is yours. kontak saya di InterMatrix atau wimar@perspektif.net
  9. From ARIA(Aku Rakyat Indonesia Asli) on 26 March 2007 21:34:34 WIB
    om, Soal TIMTIM uda diangkat belom?? mau apa lagi sih...
    trus kok bisa seseorang punya TNT atw segala macam peralatan militer seperti itu..kok bisa???? apa ini bukan hnya sekedar permainan agar densus 88 stay atau segitu parahkah sistem pertahanan kita..darimana mereka dapat barang2 seperti itu??? om bikin buku aj deh..tentang crita RAKYAT sekarang kayanya lebih seru ketimbang crita2 dulu...TAPI STIAP BABAK PAKE GATE, kaya BRRgate, Yogyagate, Banjirgate, trus LUSIgate, ok ngga...hehehe:)
  10. From Nugroho on 02 April 2007 15:04:06 WIB
    Om wimar ini memang entertainer sejati!!!!
    gk ada yg ngalahin dech
  11. From yeny on 05 April 2007 23:46:43 WIB
    salam kenal Om Wimar...tetap kritis tapi penuh dengan joke2 yang menyegarkan
  12. From tiq on 14 April 2007 10:05:42 WIB
    ya....saya juga ingin belajar dan menjadi presenter yang humoris, humanis dan kritis seperti pak Wimar...
    didalam jujur, ada bijaknya dan didalam bijak adan benar dan baiknya.
  13. From Imam Malik on 24 April 2007 21:48:08 WIB
    om Wimar tuh Gue Banget. kalo aku berkesempatan bertemu om wimar 15 menit saja aku akan bisa menimba buuuuuuuuanyak ilmu dan aku yakin om Wimar akan suka berdiskusi dengan aku, he he he Ge Er niye. tapi serius juga sih.
  14. From farhan on 07 September 2007 11:55:28 WIB
    saya pernah jalan beriiringan sm om wimar, beliau sendirian di salah satu mall di jakarta selatan...wah..waah..kepingin gaul jg nih si om, tapi saya suka om wimar selain dia identik dengan kritikanya yg rasional dan to the point, meski kadang banyak kontroversi dari berbagai pihak...keep positive sir
    ;]
  15. From Toto suprayogi on 23 December 2008 12:05:51 WIB
    bang kapan ketemuan ama gus dur ke acaranya "bukan empat mata"nya cak tukul, itung-itung ngadain reuni ama tukang-tukan bikin joke, biar menjelang pemilu agar fress ngak tegang-tegang amat, matur nuwun
  16. From tagor leo on 09 November 2009 22:01:37 WIB
    semua untuk membangun bangsa, tapi banyak perjuangan hidup yang di lupakan orang

« Home