Harapan Agum dan Faisal, setelah Demokrat dan PDIP pilih ikut Koalisi Fauzi Bowo
Perspektif Online
29 March 2007
Catatan Maro Alnesputra
It's not over till it's over. Pertempuran belum selesai! Mungkin itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Agum Gumelar dan Faisal Basri berkaitan dengan perjuangan mereka untuk menjadi calon Gubernur Jakarta.
Topik Gubernur Kita di episode kali ini padat dan jelas: Setelah Dieliminasi Partai Besar. Agum Gumelar dan Faisal Basri yang menjadi narasumber pada episode kali ini memberikan beberapa 'pernyataan' yang menarik mengenai sistem pemilihan Calon Gubernur jakarta di sejumlah partai politik.
Agum Gumelar dan Partai Demokrat
Effendi Ghazali: Wajah seperti sekarang ini bukan berarti kecewa ya?
Agum Gumelar: Hahahahaha… orang normal pasti bisa kecewa dong. Mengapa? Saya boleh cerita donk! Karena saya dulu bekas menteri dan bekas menteri senior, di tahun 2006 ini banyak pihak dari berbagai latar belakang yang minta kepada saya supaya Pak Agum dicalonkan jadi calon DKI 1. Namun saya selalu bilang terima kasih tapi tidak usah. Sampai suatu hari saya diundang oleh seorang ketua umum partai besar di daerah ini.
Ryaas Rasyid: Lebih bagus kita tahu saja langsung nama partainya hahahahaha
Agum Gumelar: Hahaha okeh, Partai Demokrat. Jadi bertemulah saya dengan beliau di suatu hotel dengan beberapa wakil sekjen. Di situ disampaikan bahwa Partai Demokrat akan mencalonkan Pak Agum sebagai calon Gubernur Jakarta. Karena ini partai besar akhirnya saya pertimbangkan dan memutuskan bahwa pengabdian itu tidak mengenal batas waktu dan wilayah. Akhirnya saya putuskan untuk ikut dalam bursa pemilihan. Lantas saya dengar katanya akan ada lebih kuat lagi kalau melihat hasil polling. Jadi dua hari sebelum hasilnya keluar, di polling itu nama saya paling atas. Jadi saya pikir hasil polling sudah begitu, aspirasi sudah begitu, saya sudah siap dan saya pikir tidak ada masalah. Tapi tau-tau….keputusannya tidak begitu hahahaha…
Faisal Basri dan PDIP
Effendi Ghazali : kalau bung Faisal Basri, bagaimana pengalaman anda sendiri ?
Faisal Basri : Sehari sebelum pengumuman hasil, saya diundang oleh ketua umum DPP PDIP untuk diberitahukan bahwa PDIP akan berkoalisi dengan partai-partai lain untuk mendukung bapak Fauzi Bowo. Dan kebetulan saya sudah mengetahui juga dari media massa sehari sebelumnya. Tapi ini kan baru lamaran yah. Belum Ijab Kabul hahahahaha
Effendi Ghazali : Kalau begitu waktu itu Bung Faisal melamar ya ? Kalau Pak Agum kan dilamar ya
Faisal Basri : Iya melamar.
Effendi Ghazali : Bagaimana dengan dukungan ?
Faisal Basri : Ini kan sebelumnya ada Rakarnasus sebenarnya. Pak Agum juga ikut waktu itu, dan dari hasil Rakarnasus dari PDIP Jakarta, dibuatlah score. Scorenya itu saya nomer 2 nilainya 95, sementara pak Fauzi Bowo itu paling buncit. Dari situ bisa dilihatlah bahwa rakarnasus ini bukan satu-satunya pertimbangan. Ada pertimbangan poling juga. Namun di banyak poling yang di peringkat paling tinggi biasanya Pak Agum dan Rano Karno. Tapi menurut penjelasan yang dijelaskan pada saya ada faktor-faktor lain yaitu faktor-faktor X yang memang membuat pilihannya jatuh kepada Pak Fauzi Bowo. Dan itu hak pregoratif Partailah karena memang saya tau bahwa pilihannya hanya satu, jadi kemungkinan tidak terpilih juga besar. Jadi ya sudah saya terima dengan ikhlas.
Tidak Etis?
Ryaas Rasyid : Ada satu hal yang menarik yaitu bahwa ternyata Pak Agum dilamar langsung oleh ketua umum. Dan kita semua tahu bahwa ketua umum itu biasanya posisi yang paling menentukan. Namun yang aneh tidak ada pemberitahuan bahwa posisi tiba-tiba berubah. Saya kira Pak Agum perlu pertanyakan itu
Agum Gumelar : Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang hahahahaha.
Iwel : Hahahaha, musti tanya donk, kenapa jadinya yang dipilihnya si itu.
Ryaas Rasyid : karena kalau kita membicarakan soal etis atau tidak etis, melamar orang lalu batal tanpa pemberitahuan itu tidak demokratis !
Effendi Ghazali : sampai sekarang ada upaya untuk menanyakan hal tersebut?
Agum Gumelar : tidak, saya sudah terima saja dengan yah…wajarlah kalau sedikit kecewa. Orang normal kan kalau kecewa, kalau tidak kecewa ya ngga normal namanya hahahaha
What Next?
Effendi Ghazali : Apa rencana berikutnya dari bang Agum karena kan tadi katanya pertempuran belum selesai ?
Agum Gumelar : Memang PAN sudah memberikan sinyal bahwa partainya akan mendukung saya, tapi kan PAN tidak bisa sendiri harus berkoalisi. PKB masih akan menunggu hasil dari partai. Kabarnya calonnya saya dan bung Sarwono, nanti Partai yang akan memutuskan siapa yang akan terpilih. Begitu juga dengan koalisi partai-partai kecil yang lain. Ya mudah-mudahanlah.
Effendi Ghazali : Kalau bang Faisal Basri bagaimana?
Faisal Basri : Pernah ada beberapa pihak yang menawarkan saya untuk menjadi Wagub. Kebetulan saya ga pernah bercita-cita jadi Wagub. Sekaligus ini sebagai peringatan supaya ga dilamar sama yang lain untuk jadi Wagub juga hahahaha. Yang kedua, koalisi banyak-banyak itu bisa jadi retak dan bisa calon yang akhirnya terpilihnya malah yang lain. Dan yang dua calon yang sudah ada, jangan-jangan malah nanti terlihat dosanya makin banyak. Jadi bisa jadi ijab kabulnya sama orang lain nih, tau tau berubah. Jadi masih ada sedikit kesempatan sebenarnya.
Koalisi: abadi kah?
Effendi Ghazali : Apa pendapat anda mengenai koalisi politik ini?
Tommy Legowo : Saya pikir ini tidak akan permanen, jadi bukan jenis koalisi yang akan terus bertahan sampai lima tahun ke depan. Yang menjadi pikiran bagi saya apakah koalisi itu bisa paling tidak terjaga sampai Mei nanti. Jadi sampai pada saat pemilihan nanti, misalnya nanti dilihat ada calon yang lebih cantik, yang kalau menurut istilah Pak Wimar adalah 'Good Guy' itu, bisa saja sebelum sampai pada tahap itu, masih ada kemungkinan berubah.
Yah itulah dunia politik, dimana perubahan drastis secara tiba-tiba mungkin saja terjadi. Namun ada satu yang tidak akan berubah. Kesetiaan tim Perspektif Online dalam meliput semua episode Gubernur Kita sampai terpilihnya Gubernur Jakarta kita yang baru nanti!
Dukungan dan respon dari semua pembaca Perspektif Online merupakan multi-vitamin luar biasa yang selalu membuat para kontributor Perspektif Online segar bugar meski rutin menulis liputan sampai larut malam guna menyuguhkan liputan yang komprehensif dari sebuah proses sejarah yang akan terjadi. Sebuah proses sejarah menuju sistem demokrasi yang lebih baik, lebih terbuka dan – semoga – jauh lebih bermanfaat bagi orang banyak. Semoga siapapun Gubernur Jakarta yang terpilih nanti, merupakan seseorang yang terpilih atas proses yang adil, jujur, dan terbuka.
Terima kasih Jak-TV untuk kesempatan bagi tim Perspektif Online dalam menjadi bagian dari proses sejarah ini.




11 Comments: