Articles

Halliburton Tidak Kirim Parsel

Koran Tempo
06 November 2004

Ada suatu cerita yang disampaikan oleh kawan saya bernama Silih, yang ia peroleh waktu ikut pesantren Ramadhan sekitar 13 tahun yang lalu. “Satu saat Rasulullah SAW kedatangan seorang pejabat pajak yang datang membawa bingkisan dari rakyat. Dia tanya, bagaimanakah menentukan apakah bingkisan ini sogokan atau bukan? Kata Rasul, seandainya kami tidak bekerja sebagai petugas pajak, apakah orang tersebut akan memberikan hadiah? Kata orang tersebut, "tidak ya, Rasul".Kalau begitu, itu sogokan.

Setiap lebaran, bingkisan atau urusan parsel menjadi cerita. Pada awalnya parsel mengalir diantara kerabat dan kenalan untuk berbagi kebahagiaan. Katakanlah sebagai tanda penghormatan dan perayaan hari bahagia. Kalau parsel dikaitkan dengan Hari Raya Idul Fitri, itu karena mayoritas di Indonesia menjadikan hari besar ini sebagai puncak kebersamaan setiap tahun. Banyak juga parsel yang dikirimkan berkaitan dengan Hari Natal, Hari Tahun Baru, ulang tahun bahkan kenaikan pangkat. Keberadaan parsel menjadi bagian penampilan rumah tangga kelas menengah atas menjelang hari raya, terutama rumah pejabat pemerintah. Dalam budaya elite, jumlah dan jenis parsel menjadi status symbol. Para pengejar status merasa malu kalau parselnya sedikit, apalagi kalau kurang dari kenalan yang juga pejabat. Dan kalau kita berkunjung ke rumah pejabat pada acara Open House mereka, kita akan disambut oleh pameran arsel mulai dari pintu masuk sampai bertumpuk-tumpuk di dalam. Orang yang berkepentingan mendapat perhatian pejabat itu, menjadi sangat gusar kalau parsel dia tidak termasuk pajangan parsel.

Tidak pernah ada survey ilmiah (ngapain juga?) tapi sebagian terbesar parsel memang tidak bermakna buruk. Biasa-biasa saja, orang mau saling memberi. Parsel menjadi masalah, karena banyak yang diberikan tanpa ketulusan, dan memang merupakan sogokan. Ketulusan antara manusia sebagai pribadi mudah larut ketika satu pihak mempunyai kekuasaan untuk melancarkan bisnis pihak satunya. Tradisi pemberian parsel sebagai tanda simpati, berubah menjadi upeti dari orang yang mempunyai pamrih kepada orang yang punya kekuasaan. Jadinya lucu, parsel justru lebih banyak diberikan kepada orang yang tidak perlu diberi apa-apa. Sampai-sampai orang susah memikirkan isi parsel. Parsel berisi bahan makanan agak janggal dikirimkan kepada orang yang bisa membeli sepuluh suipermarket. Maka orang mulai kreatif dan membuat parsel yang berisi gelas, piring, kristal, handuk, sampai pada hand phone, PDA dan alat elektronik. Biaya parsel tidak menjadi masalah, karena semua biaya akan kembali dalam fasilitas yang nilainya ratusan kali parsel yang sehebat-hebatnya.

Satu segi yang tidak banyak disinggung orang adalah bahwa disamping sogokan parsel kepada pejabat, ada juga bisnis parsel yang merupakan kultur KKN halus. Banyak diantara pengusaha yang menciptaaknd an mengirim parsel adalah anak, keluarga atau kenalan pejabat.

Heran juga bahwa ada keluarga pejabat yang membanggakan banyaknya parsel yang diterimanya. Semua orang tahu bahwa jumlah parsel pasti nol begitu sang pejabat itu kehilangan kekuasaannya. Seorang menteri bisa menerima 134 parsel tahun kemarin, tapi anjlok nol persen tahun ini karena sudah bukan menteri lagi. Sedangkan guru baik-baik yang dihargai kenalannya mendapat 5 parsel saja, tapi tetap dari tahunke tahun. Karena keramaian parsel berseliweran dan menggunung di rumah pejabat, rimbul kegalauan masyarakat. Sekarang banyak muncul imbauan agar pejabat tidak menerima parsel. Ini memang kampanye yang bagus. Tapi agak naif membesar-besarkan gejala parsel sebagai kasus korupsi, sebab korupsi yang sesungguhnya bernilai ribuan kali parsel. Jangan salah didik kepada rakyat bahwa korupsi itu berskala parsel. “Parsel cari muka” bukan merupakan kejahatan besar, kecuali kejahatan terhadap selera santun.

Kalau pencari muka sudah siap memberikan upeti, dan pejabat sudah siap menerima upeti itu, transaksi tidak bisa dicegah dengan melarang parsel. Tidak bisa parsel, transfer uang saja melalui bank. Atau cara “back street” yang lain. Pasti lebih besar nilainya, tidak kelihatan dan tetap menjaga jalur dua arah, upeti dan fasilitas.

Banyak orang meributkan simbol, tapi membiarkan kenyataannya. Seperti menolak mobil dinas karena dianggap kemewahan. Padahal kemewahan yang sesungguhnya bisa ratusan kali lebih besar. Katakanlah saja perjalanan gratis, complimentary hotel, restoran tidak bayar, akses ke media, kantor dan staf yang berlebih, dan hadiah tunai.

Sikap moral tidak bisa dipompa dari luar. Kalau seorang pejabat senang menerima upeti dan orang bersaing mempersembahkan berbagai bentuk upeti, maka terjadi hubungan suka sama suka, konspirasi yang tidak bisa dibatasi dari luar. Mau parsel, mau mobil dinas, mau liburan gratis, mau beasiswa informal, mau entertainment, tidak penting apa formatnya, kalau kesepakatan sogok masih ada, orang akan menemukan cara melaksanakannya. Suap terjadi secara diam-diam, tidak diproklamirkan melalui parsel. Bentuk parsel hanya refleksi tingkat budaya. Parsel hanyalah format yang menunjukkan tingkatan kultur. AS sangat mengenal suap tapi kulturnya sudah lebih maju. Untuk memenangkan kontrak pemerintah AS, sogokan perusahaan Halliburton kepada Wapres Cheney dan pemerintahan Bush dilakukan dengan banuak cara, tapi tidak dilakukan melalui parsel.

Tidak perlu ada imbauan menolak parsel. Yang perlu ditolak adalah korupsi, dan korupsi tidak akan hilang melalui imbauan.

Print article only

1 Comments:

  1. From indah on 13 April 2008 15:55:24 WIB
    thank's to your article. sangat membantu sekali dalam mengerjakan tugas tentang "budaya politik". sebenere hal ini sangat sepele jika dilihat, tapi efeknya sangat multi dan rumit. saat masyarakat masih banyak yang kelaparan, kenapa malah banyak berbondong-bondong mengirim parsel kepada para pejabat?? padahal tanpa parsel-parsel itu pejabat tetep ga akan kelaparan...

« Home