Articles

Palembang: Demokrasi, Pluralisme dan Pempek

Perspektif Online
25 April 2007

Diskusi ‘Demokrasi dan Pluralisme’ menjadi fokus kunjungan Perspektif Baru ke Palembang, tapi pempek menjadi fokus suasana yang meriah diluar dugaan. Rupanya fans WW di Palembang sangat kuat, Acara radio ‘Perspektif Baru’ tiap Rabu malam di DPFM merupakan acara pilihan dengan banyak pendengar tetap. Sampai-sampai waktu live talk show hari Minggu 22/4 ada penelepon bertanya ke DPFM: "Kok jam siaran Perspektif Baru berubah?"

Kaget sekali dia waktu diberitahu ini WW live, bukan rekaman, dan siap menerima penelepon. Selama 60 menit telepon masuk sambung menyambung sampai tidak ada wawancara antara host dengan tamu WW. Sebagian besar pertanyaan menyangkut hal pribadi termasuk dialog ‘mesra’ seperti : "Saya baru melahirkan. Mungkin karena suka mikirin WW, bayi saya rambutnya kriting…"

‘Perspektif Baru’ yang sudah mengudara 12 tahun setiap minggu di puluhan kota di Indonesia (lihat website Perspektif Baru), ternyata di Palembang punya komunitas kuat. Selain wawancara radio, wawancara dan liputan wartawan cetak menghasilkan lima artikel di empat koran daerah: Sumatera Ekspres, Radar Palembang, Sriwijaya Post, Berita Pagi. Juga ada wawancarta televisi oleh Dewi di TVRI Palembang, bersama Prof Amzulian Rifai dai Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya.

Liputan koran tidak seluruhnya mengenai acara Perspektif Baru tapi juga mengenai issue aktual dan keberadaan WW dan InterMatrix sekarang. Silakan baca langsung. Contoh tanya: "Bagaimana kalau hubungan SBY-JK retak?" Jawab: "Oh bagus kalau retak, daripada seperti ini terus."

Lebih seru lagi, silakan lihat foto-foto buaanyaaak sekali dari lawatan Perspektif Baru ke Palembang, dengan team Erna Indriana, Lena Hasyim, Widya Tresna Utami, Rizka Nurlita Andi dan dua pemandu Perspektif Baru, Jaleswari Pramodhawardhani dan Wimar Witoelar. A picture equals a thousand words, apalagi kalau sambil makan pempek Palembang. Lagian, di foto kita bisa lihat personnel DPFM yang cantik-cantik dan keren-keren.

photo selengkapnya: Perspektif Baru di Palembang

Sriwijaya Post, 23 April 2007

Sudah Terlambat

Lama tak muncul di layar kaca, Wimar Witoelar muncul di Palembang. Pria dengan ciri rambut kriting dan bermata sipit serta berkaca mata ini ternyata tengah sibuk mengurusi acara Perspektif Baru secara live bersama stasiun radio di Palembang.

Ditemui Minggu (22/4), meski telah duduk di kursi roda kurang lebih setahun karena kesehatan, tetapi Wimar tetap bersemangat berbicara tentang Perspektif Baru miliknya. Gus Dur yang senantiasa sibuk, menteri kabinet yang harus dicopot, hingga niat untuk menjadi Cawapres 2009. Berikut petikan wawancara Sripo, Sugeng Hariadi dengan Wimar yang didampingi Direktur Operasi InterMatrix Commnications, Erna Indriana serta salah seorang stafnya, Atun di hotel Horison, Palembang.

Ada kegiatan apa berada di Palembang?

Saya di Palembang dalam acara yang bernama Perspektif Baru. Itu dimulai tahun 1995 atau sudah 12 tahun. Intinya adalah acara radio yang disiarkan melalui sindikasi nasional. Ada kira-kira 80-90 stasiun radio. Acara sudah berjalan setiap minggu dengan topik apa saja.

Kalau berhubungan dengan Gus Dur?

Oh ya. Sering sih tidak. Gus Dur terus terang saja adalah orang yang sangat saya puja.Tetapi temu muka sih jarang karena dia aktif sekali sering ke daerah dan jarang di rumah. Tetapi kalau saya lebih banyak di internet. Secara fisik saya tidak begitu kuat karena pakai kursi roda.

Sebagai orang yang pernah menjadi elit politik, bagaimana pendapat Anda soal reshuffle kabinet?

Karena SBY sudah mengumumkan, itu sudah pasti terjadi dan itu sudah sangat terlambat. Yang jelas tidak ada alasan reshuffle tidak dilakukan. Orang melihat reshuffle sebagai peristiwa khusus seperti orang naik haji atau ulang tahun. Padahal sih, itu adalah konsekuensi sehari-hari dari organisasi. Kalau ada yang kurang bagus, ya diganti. Di pemerintahan, orang tidak perlu sangat berdosa untuk diganti karena pemerintahan memang punya pilihan yang luas dalam menyusun kabinet.

Tetapi kabar reshuffle menjadi besar?

Kalau reshuffle dibesar-besarkan karena SBY takut membuat perubahan. Padahal kalau setiap menteri yang tidak kapabel diganti, tidak masalah.

Persoalannya berapa banyak yang diganti?

Kalau saya melihat masyarakat selain bertanya-tanya juga seharusnya menuntut, karena ini bukan hak SBY tetapi hak rakyat untuk menagih pemerintahan yang baik. Rakyat baik sekali sudah memberikan suara mayoritas dalam Pilpres dalam tahun 2004. Memang jelas aneh kalau ada beberapa orang tidak diganti.

Siapa saja yang pantas?

Menko Kesra misalnya. Sudah jelas lumpur Lapindo tanggung jawab perusahaan. Meski tidak aktif di perusahaannya, paling tidakdia urus itu sebagai Menko KEsra atau mempengaruhi perusahaan agar berbuat sesuatu. Tetapi dia tidak berfungsi dan saya kira tidak ada orang yang lebih salah dari Menko Kesra kecuali Aburizal Bakrie. Selain itu Hamid Awaludin (Menhukam) yang sudah tercemar namanya dalam skandal uang Tommy Soeharto.

Menhub bagaimana?

Menhub klasifikasinya lain. Saya tidak menganggap ia jahat atau korup, tetapi tidak kapabel saja. Barangkali ia sial menghadapi masalah. Bukan salah dia juga bahwa pesawat sudah tua, kereta sudah berumur. Namun tetap tanggungjawab dia untuk mengatasi masalahnya.

Menteri lain?

Sekretaris Negara belum jelas harus diganti. Dulu SBY banyak menunjuk orang bukan mencari pelaksana terbaik tetapi untuk mencari dukungan politik. Padahal dukungan rakyat menurut saya sudah cukup. Sampai sekarang pun SBY masih didukung rakyat. Jadi belum terlambat.

Kabarnya Golkar berambisi menempatkan orang?

Golkar itu dari dulu maunya mendominasi. Kalau bisa jangan ditunjuklah. Golkar itu pada umumnya terdiri dari orang yang sudah mencapai kekuatannya karena rajin berpolitik bukan karena kemampuan manajerial. Tetapi memang ada orang Golkar yang kebetulan bagus. Yang jelas, kita bukan memilih orang tetapi mendapatkan hasil dari seorang menteri.

Daya tahan SBY saat ini bagaimana?

Sekarang ini SBY mampu bertahan karena tidak adaorang lain yang lebih menarik, dikenal serta memberi keyakinan pada rakyat. Tetapi kalau di 2009 dia gini-gini aja, akan mudah dikalahkan. Tetapimenurut saya, di samping kemampuan, ada hal yang lebih penting, yakni kejujuran dan kelurusan hati. Paling tidak SBY masih menang dalam hal ini melawan banyak orang dari segi bahwa dia tidak korup, santun, baik dan lainnya. Itu modal paling kuat.

Kalau SBY ikut Pilpres 2009?

Dengan calon yang ada, saya tidak lihat calon yang lebih baik. Tetapi karena kita pilih Presiden dan Wapres, wakilnya harus lebih baik dari yang sekarang karena kontra produktif. SBY terlalu tak bisa memutuskan, wakilnya terlalu cepat memutuskan. Jadi SBY lamban, wakilnya ngawur. Itu jelek kombinasi.

Kalau hubungan SBY-JK dibilang retak saat ini?

Mudah-mudahan retak (tertawa), karena jika bersatu terus makin rugi Indonesia. Oleh karena saya yakin SBY butuh Wapres, saya sudah mencalonkan diri sebagai Wapres, entah untuk SBY atau siapa.

Ada niatan serius menjadi calon Wapres?

Ada. Saya yakin kalau SBY dengan saya, lebih bagus daripada SBY dengan JK. Alasannya karena saya bukan orang korup dan bukan orang yang ingin merusak bangsa.**

 

Radar Palembang, 24 April 2007

PPS Hukum Unsri Gelar Dialog Interaktif Bersama Wimar Witoelar

Program Pasca Sarjana (PPS) Hukum Unsri, kemarin, menggelar dialog interaktif bersama Wimar Witoelar alias WW, seorang kritikus vokal yang tidak lain adalah mantan juru bicara Abdurrahman Wahid.

Dengan gayanya yang khas, pendiri Yayasan Perspektif Baru ini mampu membawa suasana dialog berjalan dinamis. Menurut dia, pluralisme dalam demokrasi berarti semua orang punya hak yang sama, lepas dari golongannya.

"Selain itu, perlu dipahami bahwa semua orang juga memiliki hak yang sama dalam bersuara dan menentukan pilihan," kata Wimar di hadapan ratusan civitas akademika yang memadati Aula Pasca Sarjana Unsri.

Dialog yang bertema Perspektif Baru Live Bersama Wimar Witoelar: Demokrasi & Pluralisme Untuk Kaum Muda, juga menghadirkan pembicara Prof. Amzulian Rifai (Ketua Program Studi Ilmu Hukum Pasca Sarjana UNSRI yang juga ketua Pusat Kajian HAM dan Terorisme Fakultas Ilmu Hukum UNSRI), Jaleswari Pramodhawardhani (peneliti pada Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan-Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dialog sendiri, selain dihadiri ratusan mahasiswa PPS Hukum Unsri, juga dihadiri mahasiswa perguruan tinggi lainnya seperti mahasiswa IAIN, Satyakirti, Poltekes, Poltek, dan para dosen maupun mahasiswa di lingkungan Unsri. (**/mus)

 

Sumatera Ekspres, 24 April 2007

Pluralisme Bangsa Indonesia Terancam

Wimar Witoelar Gelar Seminar di PPs Unsri

PALEMBANG- Tak dapat di pungkiri proses demokratisasi berkembang begitu pesat. Namun sebaliknya, pluralisme justru menghadapi ancaman serius. "Pluralisme terancam bisa terlihat dari maraknya aksi sekelompok orang memaksakan paham yang dianutnya dan munculnya banyak peraturan daerah yang berupaya menyeragamkan perilaku masyarakat," ujar Wimar Witoelar, pendiri Yayasan Perspektif Baru pada Seminar Demokrasi Pluralisme untuk Kaum Muda di Aula Pascasarjana Unsri kemarin (24/4).

Dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Perspektif Baru bekerja sama dengan Prodi Hukum PPs Unsri ini, Wimar mencoba mengartikan Pluralisme dalam demokrasi berarti semua orang punya hak yang sama lepas dari golongannya dan mereka memiliki hak yang sama dalam bersuara dan menentukan pilihan," ujar Wimar di hadapan sekitar 250 mahasiswa Unsri. Wimar pun mengatakan, mahasiswa sebagai penerus bangsa harusnya semakin memahami pentingnya demokrasi dan pluralisme di Indonesia. " Di sini (Palembang, red), saya bukan menyebar ilmu, tapi saya mendapatkan ilmu dari daerah-daerah yang saya kunjungi, jadi pluralismnya Indonesia harusnya membuat kita sadar semakin banyak ilmu yang bisa didapat di Indonesia," ungkapnya.

Sementara itu, Pembicara lain, Jaleswari Pramodhawardani dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, demokrasi Indonesia lebih menitikberatkan kepada demokrasi prosedural ketimbang makna demokrasi itu sendiri. "Penghormatan kepada keberagaman, pluralisme tak mendapat ruang yang proposional dalam kehidupan kita tukasnya.

Pluralisme, lanjutnya, sering sebatas etnik, suku, ras. "Padahal ada pluralisme pendidikan, jenis kelamin, orientasi sesksual, yang harusnya di hormati hak-haknya selaku anggota warga negara yang bebas dan bertanggung jawab," jelasnya.(MG5)

 

Sriwijaya Post, Selasa 24 April 2007

Demokrasi Lewat Foto 

SOSOK Wimar Witoelar nyatanya cukup dikenal kalangan anak muda. Pembawa acara Perspektif di televisi swasta tahun 1994, yang kini berubah menjadi Perspektif Baru ini, langsung dikerubuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Palembang saat berada di Gedung Serbaguna Pascasarjana Unsri.

Bahkan pria bertubuh gemuk ini menyediakan diri berfoto bareng dengan audiens dialog Demokrasi & Pluralisme untuk Kaum Muda, meski sambil duduk ditepi podium. Tak pelak lagi, belasan acungan handphone berkamera mengarah ke roman muka pria dengan senantiasa tersenyum, secara bergantian terjadi.

Dengan setia pula ia melayani permintaan tandatangan dari audiens yang sebagian besar mahasiswa Unsri.

Satu per satu mahasiswa yang menyodorkan buku catatan yang berlabel Perspektif Baru, diterimanya dan dengan setia digoreskan penanya menulis nama Wimar.

Menurut Wimar, demokrasi bisa saja dibangun dengan cara foto bareng. Suasana dapat dipercayai pribadi yang pada akhirnya akan menyuburkan nilai-nilai kebersamaan. Untuk itu foto bareng memungkinkan untuk membangun demokrasi.

“Kita jadi nyambung dan bersahabat. Anak-anak yang tadi foto, kalau ketemu temennya akan ingat bahwa ketawa rame-rame akan sangat menyenangkan dari para bertikai atau mengambil sikap,” komentarnya.

Meski menurutnya ruang gerak kini terbatas karena tak berurusan dengan soal bangsa lagi tetapi hanya dengan lingkungan sekitar, namun dalam kehidupannya spirit demokrasi, spirit senyum, praduga tidak bersalah dan kebersamaan diyakininya dapat melahirkan sesuatu yang sangat kongkret.

“Ambil skala perusahaan saja. Kalau perusahaan dikelola dengan kasih sayang dan sharing, itu lebih produktif dibanding perusahaan yang dikelola dengan aturan ketat,” katanya pria yang ternyata pernah menjadi management consultant.

Lebih jauh Wimar yang tampil dengan sentilan dalam penjelasannya, memberikan penilaian bahwa demokrasi di Indonesia sendiri tidak ada masalah.

Yang penting menurutnya sudah sama-sama disetujui untuk ditegakkan. Namun dalam hal pemakaiannya, nyatanya demokrasi masih bermacam- macam. Ada yang menggunakannya dengan baik tetapi juga ada yang menggunakannya untuk bersaing dengan tidak sehat.

“Jadi demokrasi masih tergantung pada etika pemakainya,” ujarnya. (sgn)

Print article only

13 Comments:

  1. From Erna on 25 April 2007 13:14:38 WIB
    Bravo untuk semua peserta acara di Palembang. Semangat gak turun dari awal sampai habis acara. Setelah acara justru semakin tinggi semangatnya. Terima kasih!

    Banjarmasin, tunggu PB live di sana tgl 14 Mei 2007.
  2. From vira savira on 25 April 2007 13:22:32 WIB
    perjalanan kantor menuju airport aku penat berpikir, harus ngomong dan harus behave seperti apa ya di depan wimar witoelar dan Jaleswari. saat berhadapan langsung, semua plan buyar, just face it dan semuanya mengalir. Walaupun baru ketemu pertama kali, aku sudah merasa sangat hangat, kayak ketemu sahabat lama. saat WW and the gank pulang ke Jakarta, seharian aku berpikir dan gundah gulana, Koq aku kangen berat dengan kebersamaan kemarin, ngangenin. I must meet them' someday. Miss u all guys. hiks. hiks lagi....
  3. From wimar on 25 April 2007 13:39:48 WIB
    vira, waktu kami tiba di palembang juga tidak menyangka getaran2 kita akan nyambung gitu. semua perfect berkat semangat vira dan teman-teman. terima kasih andra, setiawan, cindy, dan all you guys. YES, kita harus bertemu lagi someday.
  4. From adilpiero on 25 April 2007 14:56:48 WIB
    ww, ada yg mo saya katakan di seminar kemrin, tp sayang gak dpt giliran. So, disini aja deh....

    Begini, masalah demokrasi yg katanya disalah gunakan itu loh... saya trs terang gak setuju ama ketiga pembicara itu. menurut saya demokrasi itu abstrak, makanya demokrasi berbeda-beda di mata orang. Amerika yg katanya negara demokrasi memiliki standar yg berbeda dengan Iran, Vietnam bahkan Indonesia. Sehingga jangan heran klo amerika menyerang vietnam, palestina, Irak or Iran nantinya dg alasan Demokrasi. Krn menurut amerika di Iran, Vietnam,Irak ato Vietnam tuh negara tdk demokrasi, sedangkan bg negara2x tsb mereka merasa sudah melakukan demokrasi dengan standar da pendapat mereka

    Di Indonesia yg saya pahami Demokrasi diartikan dengan suara terbanyak, sehingga suara terbanyak lah menjadi kekuatan. Makanya jg heran klo pemerkosaan, pembunuhan dan pencurian bukanlah suatu kejahatan, itu bisa terjadi bila orang sekeliling mengatakan itu benar. itulah demokrasi yg bisa di analogikan dengan "Suara rakyat adalah Suara Tuhan".

    Saya kurang sepakat juga dengan demokrasi yg seperti itu. Demokrasi berarti keadilan itulah yg saya pahami. artinya kita harus membuat menjadi "suara Tuhan adalah suara rakyat".

    Kongkrit utk negara ini, seperti pemilihan presiden, legislatif dll. Yg memakai sistem semua rakyat Indonesia memiliki suara yg sama. Bagi saya itu bukan demokrasi atau keadilan, karena bagaimana bisa suara Profesor disamakan dengan tukang becak? Tentu itu tidak bisa. Profesor memilih presiden dengan berbagai pertimbangan dan peerhitungan, sedangkan tukang becak?
  5. From Lena on 25 April 2007 15:26:13 WIB
    Semuanya benar-benar di luar dugaan, ketika akan berangkat ke Palembang, rasanya deg-degan, apakah acara di Palembang bisa melebihi Surabaya atau paling tidak sama. Namun semua rasa deg-degan hilang saat bertemu dengan panitia lokal Palembang yaitu rekan-rekan dari DP FM yang luar bisa, penuh semangat, kompak & sangat ramah (mbak Vira, Mas Andra, Mas Setiawan , mbak Cindy, mas Yopi, mbak Rima dll. Dan ternyata usia mereka muda-muda loh.

    Terima kasih juga untuk pihak Unsri yang juga tidak kalah supportnya mulai dari mempersiapkan venue sampai dengan akhir acara.

    We miss you too guys and Palembang.





  6. From cindy on 25 April 2007 15:29:28 WIB
    cindy,seneng banget bisa ngobrol bareng WW on the air dpfm..awalnya bayangin WW adalah orang yang sulit diajak ngomong coz kalo lihat di tv "perspektif" kesannya serius banget gitu...ech ternyata setelah ketemu asyik banget,familiar and "kontrofersial" hahaha...cindy akan kuangeenn banget dengen WW and the gank.oh iya yang paling berkesan dan selalu cindy inget "the wind beneath my wings" WW feat Bette Midler.hope we'll be see u guys soon..daaaaa
  7. From widya on 25 April 2007 18:29:12 WIB
    'Palembang' .... Ternyata sangat bagus dari yang dibayangkan sebelumnya.

    kotanya bagus dan bersih, Makanannya enak, Wong Palembang juga ramah (terutama temen2 DP FM tidak seperti yang banyak diberitakan ... :)

    Dan ternyata antusias kaum muda terhadap isu demokratisasi sangat besar

    Pokoknya seru banget.....
    Thanks banget untuk teman2 di DP FM (mbak Vira, bang Andra, Bang Yopi, Bang Aidil, Mbak Cindy, Mas joko & all kru DP). Teman2 di Pascasarjana Unsri Prof Amzulian, Pak Dody, Mbak Rima dan juga Mbak Aprin

    Dan tak lupa teman-teman IMX EI, LH, RN dan pastinya WW



  8. From Yopi DPFM on 25 April 2007 18:29:12 WIB
    seneng banget bisa ketemu salah satu orang yang aku kagumi tapi aku kok jadi mala kebanyakkan diem sama pak WW, aku orangnya takut ngomong salah jadi diem aja deh...
    sumpah lho aku kangen banget sama kalian guys...
    kalo ke palembang lagi contanct kita yachh

    buat Friska kasetnya kudu di dengeriin suka sama band asal palembang itu....

    miss u all Guyss
  9. From rizka on 26 April 2007 00:07:04 WIB
    Palembang oh Palembang. Pertama mau ke Palembang kurang semangat. Soalnya belum ada bayangan Palembang itu kota yang seperti apa. Yang saya tau cuma pempek dan kerupuk palembang. Ternyata dibalik pempek dan kerupuk, orang-orang palembang punya semangat untuk membahas demokrasi dan pluralisme. Selain itu, teman-teman di Universitas Sriwijaya dan teman-teman dari DP FM sangat-sangat baik sekali. Ibaratnya jatuh cinta pada pandangan pertama deh. Hayo dong, sosialisasikan pariwisata kota Palembang, apalagi jembatan ampera, keren abis!

    Yopi, cd-nya udah didengerin kok. Tapi, namaku rizka bukan friska :)

    Buat temen-temen di DP FM dan Unsri yang sudah disebutkan oleh Mbak Widya dan Mbak lena di atas, makasih buat semuanya, suatu hari aku akan ke palembang lagi. Tungguin yah...
  10. From I Wayan Arya on 27 April 2007 10:43:35 WIB
    Salam buat WW,
    Pluralisme dan nasionalisme,saya sangat setuju, bukan karena kami minoritas di Indonesia namum menurut saya hakekat demokrasi adalah perbedaan dan saling menghargai perbedaan itu.
    Pemaksaan kehendak oleh sekelompok golongan (entah karena merasa paling benar, paling dekat dengan Tuhan atau entah apa) sangat menghina nurani. mudah - mudahan apa yang dilakukan WW dengan persfektifnya mampu menyadarkan bangsa ini bahwa kita adalah Negara Kesatuan jadi pasti ada perbedaan.
    Salam dari saya (arya) di Bali
  11. From Anton on 27 April 2007 10:51:45 WIB
    Kalo Bung WW jadi Wapres, pilihlah
    Anwar Fuady jadi gubernur Palembang
    dan Tantowi Yahya jadi Walikota Palembang ganti'in Santana. asik tuh...
  12. From mel on 27 April 2007 22:05:38 WIB
    walaupun sy tdk hadir di Palembang tp membaca komentar2 yg ada sungguh menggelitik ingin skl acara spt sy bs terlibat langsung. selama ini hanya bs lihat dan mendengar diacara TV yg tdk diragukan lg kehebatan Bpk yg satu ini. WW adalah sosok yg dibutuhkan bangsa ini, berani krn benar dan jelas arah yg hrs diambil oleh bangsa ini.
    Rela dizolimi (acara yg dibawanya ber-kali2 dibredel) tp ttp eksis dan lugas. Tdk korup, sederhana, bersih dan aaaaaaaah semua yg rindu negara ini menjadi baik, pasti
    setuju dgn komentar sy.
  13. From aditya on 28 April 2007 16:30:50 WIB
    sering-sering aja maen ke Palembang biar puas makan pempek dan mejeng di Jembatan Ampera sambut VISIT MUSI 2008 DI Kota Palembang
    SALAM PEACE N' LOVE
    adit- UNSRI

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home