Articles

Pembredelan dan Ketergantungan Bisnis di Jak-TV

Surabaya Post
22 April 2007

WAWANCARA : WIMAR WITOELAR

Saya Hanya Bicara Jujur dan Menghibur

Rating acara talkshow Wimar's World (WsW) yang diasuh Wimar Witoelar di stasiun Jak-TV, tergolong tinggi. Karena itu, ketika manajemen televisi lokal yang berpusat di Jakarta itu menghentikan penayangan acara tersebut, banyak orang kaget. Kabarnya ada seorang pejabat tinggi Pemprov DKI Jakarta yang keberatan dengan keberadaan Wimar dalam acara yang tayang setiap Rabu malam itu. Kendati demikian, mantan juru bicara Presiden Gus Dur ini menilai tidak ada indikasi pemerintah bermain langsung dibalik 'pembredelan' acara WsW. "Saya hanya melihat bahwa ada ketergantungan bisnis antara Jak-TV dengan pemodalnya," kata Wimar.

Ketergantungan bisnis seperti apa yang dimaksud Wimar? Benarkah tidak ada campur tangan pemerintah dalam penghentian acara WsW? Berikut ini petikan wawancara Surabaya Post dengan Wimar Witoelar yang berlangsung di kantornya.

Oleh : Suparwedi

Suasana di Jak-TV setelah salah satu rekaman Wimar's World

 

Apa kabar Bang Wimar?
Baik. Seperti yang Anda lihat, sampai saat ini saya masih baik-baik saja.

Bisa Anda ceritakan bagaimana kronologi dihentikannya acara Wimar's World (WsW)?
Suatu saat saya diberitahu manajemen Jak-TV tentang adanya tekanan dari pihak-pihak tertentu terhadap keberadaan saya dalam acara WsW. Mereka bilang saya menimbulkan masalah. Tetapi masalah yang timbul itu bukan dengan penonton melainkan dengan seseorang. Pihak Jak-TV menginginkan saya berhenti dari acara WsW secara sukarela. Saya bilang saya tidak melihat adanya alasan yang mengharuskan saya berhenti. Tetapi kalau memang pihak Jak-TV ingin menghentikan acara ini, silahkan. Karena memang itu hak mereka 100%.

Bagaimana hubungan kerjasama Anda dengan Jak-TV selama ini?
Kerja sama kami dengan Jak-TV sangat baik. Apalagi acara WsW menduduki rating tertinggi diantara program acara Jak-TV yang lainnya. Saya diperlakukan sebagai faktor penarik dalam acara tersebut. Saya diundang untuk bicara jujur, polos, tajam dan menghibur supaya penonton senang. Saya memang selalu berusaha demikian. Jadi, sebenarnya yang keberatan dengan kehadiran saya bukan pengelola Jak-TV, melainkan pemilik modal.

Anda tahu siapa?
Saya diberitahu Direksi Jak-TV bahwa yang tidak senang dengan keberadaan saya adalah Pak Sutiyoso. Tetapi tidak jelas, nggak senangnya mulai kapan. Karena pada saat saya mengisi acara talk show lainnya yakni Gubernur Kita (GK) yang juga tayang di Jak-TV, tamunya itu Pak Sutiyoso. Dan saya sudah melakukan dialog dengan beliau. Memang kalau saya melihat ekspresinya beliau kurang senang walaupun sebenarnya ekspresi wajah beliau memang seperti itu.

Apa pernah ada teguran dari pihak Jak-TV selama anda memandu acara WsW?
Sampai saat ini tidak sekalipun saya diingatkan oleh Jak-TV untuk merubah gaya dalam penampilan saya pada acara GK. Memang acara GK itu mengundang banyak sekali pertanyaan yang lucu karena memang situasinya saat itu lucu. Setiap kali saya bikin lelucon yang lucu, saya diberi selamat oleh pihak Jak-TV karena hal itu mengangkat rating acara GK. Tetapi rupanya ada yang menegur dan barangkali bukan Pak Sutiyoso. Teguran itu datang ketika saya mempertanyakan mengapa dua calon gubernur lainnya yakni Fauzi Bowo dan Adang Dorodjatun tak pernah datang dalam acara GK. Saya ditegur pihak Jak-TV karena mereka khawatir jika terus-terusan dipertanyakan, Fauzi Bowo maupun Adang Dorodjatun tidak berani datang di acara GK.

Seberapa penting kehadiran mereka di acara GK?
Sangat penting. Karena ini merupakan kesempatan bagi kedua calon Gubernur Jakarta itu untuk menguji diri. Kalau nggak berani datang, bagaimana nanti menghadapi masyarakat Jakarta ketika banjir melanda Ibukota. (Sampai saat wawancara ini berlangsung, Fauzi Bowo dan Adang Dorodjatun belum pernah datang pada acara Gubernur Kita.red)

Lalu, kenapa acara WsW yang dihentikan penayangannya?
Sampai saat ini saya tidak mengetahui secara pasti. Saya akui, memang lebih mudah menghentikan acara WsW karena secara kontrak sudah selesai 13 episode. Dan sebelumnya Jak-TV sudah bilang acaranya bagus dan akan dibuat lebih besar dan meriah. Ternyata alasan itulah yang digunakan Jak-TV untuk mengistirahatkan acara ini.

Sampai kapan?
Mereka bilang nanti sampai Gubernur Sutiyoso tidak lagi menjabat sebagai gubernur. Saya tidak memberikan pressure kepada pihak Jak TV karena sebenarnya mereka sudah berusaha untuk mempertahankan saya. Dan sangat jelas terlihat ketika pihak Jak TV berbicara di media massa tentang penghentian acara WsW, bahwa dihentikannya acara WsW bukan karena keinginan mereka.

Bagaimana perasaan Anda ketika mengetahui acara WsW dihentikan?
Saya sebetulnya tidak terlalu sedih ketika acara Wsw dihentikan. Tetapi kesedihan saya mengapa di jaman sekarang ini masih ada stasiun TV yang bisa ditekan sebegitu rupa.

Apakah Anda melihat hal ini ada kaitannya dengan kebebasan pers?
Bagi saya pribadi ini memang terkait dengan masalah kebebasan pers. Tetapi bagi Sutiyoso dan pemilik saham Jak-TV, masalahnya menjadi lain. Sebenarnya yang punya masalah dengan kehadiran saya di WsW adalah antara Sutiyoso dengan pemilik saham Jak-TV. Masalahnya ini menyangkut hubungan baik antara mereka. Karena seperti kita tahu bahwa pemilik saham mayoritas di Jak-TV adalah group Mahaka dan keluarga Tohir (Erik Tohir.red) sudah lama punya hubungan usaha dengan Sutiyoso. Jadi mereka tidak mau mengorbankan hubungan baik itu hanya demi sebuah mata acara di Jak TV. Bahkan nilai usaha Jak-TV barangkali lebih kecil dibandingkan usaha lain yang dijalankan antara Sutiyoso dengan pemegang saham.

Apakah hal ini juga terjadi pada stasiun televisi lainnya?
Ya, hal semacam ini terjadi juga di stasiun televisi lainnya. Dimana acara talkshow yang saya pandu juga pernah diberhentikan meski ratingnya tinggi dan saya tidak mengetahui secara pasti omongan saya yang mana yang mengancam mereka. Yang jelas, ada kepentingan bisnis pemilik stasiun televisi yang terancam oleh omongan-omongan saya di acara tersebut. Hal itulah yang menjadi alasan mengapa acara saya dihentikan.

Mengapa demikian?
Karena, bagi pemilik statisun TV, seperti Indosiar, RCTI dan SCTV nilai aset sebuah stasiun TV itu lebih kecil dibandingkan dengan nilai aset usaha secara keseluruhan. Sehingga itu bisa dikorbankan. Beda kalau kita lihat NBC, SBS, Fox News, Majalah Time, semua itu yang besar adalah CNN yang lain anak perusahaan. Sedangkan di Indonesia terbalik. Sehingga mereka berpikir untuk apa mempertahankan suatu acara yang bagus dan memiliki rating tinggi jika usaha mereka yang lainnya hancur.

Jadi, penghentian acara WsW ini tidak ada kaitannya dengan pejabat pemerintah saat ini?
Saya kira tidak. Kaitannya ini lebih pada adanya penguasa-penguasa kecil yang menguasai bagian-bagian dari pertelevisian. Jika dulu televisi dijajah oleh politik Soeharto, sekarang dijajah oleh kepentingan bisnis kemitraannya. Menurut saya ini lebih menyangkut pribadi seorang Sutiyoso. Karena di Indonesia ini meski seorang pejabat pemerintahan telah berhenti dari jabatannya, dia tetap bertanggung jawab terhadap adanya dugaan korupsi di institusinya ketika yang bersangkutan masih memegang jabatan. Dan kalau jabatan itu digantikan oleh temannya sendiri, usahanya akan terus berjalan tanpa ada gangguan berarti. Begitu pula dengan korupsinya.

Setelah beberapa kali acara talk show di televisi yang Anda pandu dihentikan, apakah Anda jera untuk membuat acara serupa?
Sama sekali tidak. Karena acara talk show saya di televisi bukan keinginan saya pribadi melainkan permintaan dari pihak stasiun televisi. Saya tidak pernah menawarkan acara talkshow kepada stasiun televisi. Malahan bagi saya bermain di TV itu sangat beresiko, karena menyangkut nama baik dan popularitas saya di tengah-tengah masyarakat. Tetapi bagi saya popularitas itu nggak penting, karena popularitas merupakan sebuah hasil yang dicapai dan bukan tujuan utama.

Sekarang ini banyak acara talk show dengan tema kritik terhadap pemerintah, menurut Anda bagaimana?
Bagus-bagus saja. Kalau ingin berekspresi lakukan saja. Tetapi kalau untuk mencari uang, pikir-pikir dulu lah. Sebab, kalau untuk mencari uang, bukan disini tempatnya.

Baca juga:

 

Saksikan Gubernur Kita di Jak-TV tiap Kamis 21.00

 

Print article only

9 Comments:

  1. From angga on 28 April 2007 08:41:32 WIB
    mungkin jodoh WsW udah selesai di waktu sekarang, tapi tidak mustahil di masa mendattang, ww bisa mendidik dan memberi informasi serta berkarya untuk masyarakat secara lebih nyata.

    acara WsW sudah beberapa kali mengupas 100% tuntas masalah2 yang sering menjadi pertanyaan publik, hal ini sangat bagus sekali dikala pemerintah mengganggap masyarakat tidak mampu mencerna informasi secara benar. semua isue dibahas menggunakan bahasa kita orang biasa, sehingga informasi di WsW sangat mudah dicerna dari segala segmen di masyarakat terutama di jakarta.

    disesalkan, dan amat disesalkan masa "demokrasi" saat ini masih bisa dibumbui oleh adanya oknum yang memberedel media demi menyelamatkan citra yang tinggal menghitung hari.

    tunggu ww di 2009, he upcoming vice president..

    nb: ww, mungkin adang dan foke takut sama badan ww yang super gagah, jadi ga berani ke GK...(hehehe...)..

    have a nice weekend
  2. From Epat on 28 April 2007 13:19:34 WIB
    Memang feodalisme masih kental sekali di republik maupun bangsa-t ini. Tapi saya yakin bung Wimar tetap akan diberi jalan lain untuk tetap menjadi salah satu Penjaga Republik ini. Keseimbangan alam akan selalu muncul dengan sebegitu mudahnya. Merdeka!
  3. From Ria Wibisono on 30 April 2007 19:27:13 WIB
    Media kita memang aneh. Kadang bikin acara yang jelas-jelas ancur, alasannya karena itu yang disukai masyarakat. Jadi kesannya media digerakkan oleh audiensnya. Tapi, giliran ada acara yang bener-bener bagus, disukai audiens, eh dibredel juga gara-gara kepentingan bisnis. Nggak jelas....
  4. From gambler on 01 May 2007 12:23:11 WIB
    he he ...bwt: bang Yos, jgn senyum2 aja, padahal kesal dong... Terus terang aja kyk Wimar....ayo.....tampil di Sudut Pandang, jawab kekesalan anda disana.
    sms saya kok ga dibalas sih bang? Kasih no sms di media , cuman buat eksen doang ya.. Payah!

    terakhir ini ada spanduk bang Yos dng Foke, mengenai 2 Mei, "Belajar tiada akhir"
    Kok kesan yg saya dapat malah: "Kuasa kami tiada akhir"
  5. From Satya on 01 May 2007 19:56:42 WIB
    komentar ria betul banget. seperti komentar WW sebelumnya, ini bukan soal wimar's world, atau soal WW sendiri. dia sih seneng2 aja, udah biasa!

    yang kasian itu profesional televisi dan terutama penonton.

    banyak acara jelek dan gak laku, biarin aja. tapi sekalinya acara dianggap bagus, dan memang rating tinggi, bisa dibredel dengan cara mengancam bisnis lain si pemilik stasiun.
  6. From Ria Wibisono on 07 May 2007 12:13:45 WIB
    Sekali waktu, saya baca sebuah artikel di majalah Behind The Screen. Isi artikelnya, pernah nih di FFTV-IKJ (2006) diadakan penelitian dengan metode focus discussion group. Tujuannya untuk melihat apakah hasil penelitian kuantitatif yang dilakukan AC Nielsen mengenai rating televisi Indonesia itu sama dengan hasil focus discussion group. Jadi dalam kelompok yang terdiri dari ibu-ibu, mahasiswa, dkk itu ditanyakan apakah mereka menyukai tayangan-tayangan mistik yang dalam hasil survei Nielsen memperoleh rating tertinggi. Ternyata enggak loh. Mereka lebih suka acara yang mendidik. Tapi kok sinetron yang tak sehat dan acara mistik mendapat rating tinggi? Jawabannya adalah pola masyarakat Indonesia dalam menonton televisi. Kita (saya juga, kalau Anda? =p) seringkali menyalakan televisi walaupun tidak menontonnya. Pas masak di dapur, TV di ruang tengah yang tidak terlihat dari dapur tetap dinyalakan. Makanya sensor yang digunakan AC Nielsen untuk menghitung rating 'membacanya' sebagai perilaku menonton. That's why acara sinetron gak jelas itu dapat rating tinggi dan pelaku bisnis televisi mengira itulah favorit audiens.
    So, kalau memang pengen TV kita bersih dari acara tak mendidik, kita juga harus memperbaiki kebiasaan menonton. Walaupun sekali lagi, acara yang favourable dan good seperti WsW pun bisa dihentikan penayangannya gara2 kepentingan bisnis....
  7. From BRANJANG KAWAT on 10 May 2007 10:47:34 WIB
    Salam setengah Merdeka...
    Memang seperti itu lah wajah demokrasi di Republik kita ini.. meskipun sudah merdeka tapi kemerdekaan yang hakiki
    belumlah tercapai.. Kemerdekaan hanya untuk segelintir "Gerombolan-gerombolan pemilik modal besar"..
    Well..sabar yach Bung Wimar (Orang Sabar di sayang Pacar) Hi.hi.hi..
    So Maju Terus Bung Wimar Kita butuh orang seperti Bung.. yang melalui Humor bisa memberi pencerahan Untuk masa Rakyat..
    "Branjang Kawat"
  8. From firman on 14 May 2007 22:08:50 WIB
    Kalo tidak kontroversi bukan Bubg Wimar namanya. Kontroversi yg terjadi demi sesuatu yg mencerdaskan bangsa toh????Jangan nyerah Bung! maju truz pantang mundur! saya pikir masih banyak yg punya Stasiun TV (bukan Jak TV doank). Sayang saya ga punya Stasiun TV, kalo punya pasti Bung akan saya kontrak "ABADI" seumur hidup buat bawain acara. Bravo Wimar Witoelar!
  9. From Yobood on 18 May 2007 16:08:17 WIB
    Sabar aja ya, bung WW, yang tidak suka dengan acara anda kan Bang Yos. bentar lagi dia juga bukan siapa-siapa di Jakarta. Jadi, abis dia turun, bikin acara kaya gitu lagi aja, Bung. Dia juga tidak punya wewenang buat melarang acara itu lagi.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home