Articles

Orang-orang Baik Jangan Jauhi Presiden

Kompas
11 November 2000
BAJINGAN lu! Ternyata lu penjilat. Begitu bunyi umpatan dan serapah yang diterima Wimar Witoelar (55) dari sahabatnya ketika ia menerima status resmi baru sebagai Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan awal Oktober 2000.Serapah ini dibalas tawa oleh Wimar.

Sampai kini orang tambun berambut kribo itu masih yakin, pekerjaannya yang baru ini sangat baik baginya dan untuk rakyat Indonesia. "Itu hak orang atau masyarakat menilai orang publik semacam saya ini. Itu risiko saya memilih jabatan saya yang baru ini, membantu orang terbaik untuk jadi presiden sampai tahun 2004," ujarnya.

Walaupun mengeluarkan um-patan tidak menyenangkan, namun sahabat-sahabatnya sampai kini tidak meninggalkannya. Ia masih bisa ngobrol apa pun dengan mereka. Sehingga ia masih bisa langsung mendengarkan cerita-cerita tidak enak tentang Presiden Abdurrahman Wahid.

Setelah mengenakan simbol Istana Kepresidenan berwarna merah di kekrah bajunya, Wimar Witoelar masuk halaman Istana Kepresidenan dengan mobil BMW yang dimilikinya sejak tahun 1995. Seorang wartawan mendekatinya dan berkata, "Wah sekarang punya ini ya Bang."

"Inilah salah satu sisi dari demokrasi dan kebebasan pers, hak wartawan untuk bisa salah semakin luas pula," ujar pria Padalarang mengomentari canda wartawan itu.

Walau sampai kini ia masih terus tertawa, tetapi muncul pula kesedihannya. Setelah jadi Jubir kegiatan rutinnya menulis untuk rubrik Asal-usul di harian Kompas edisi hari Minggu, distop. "Saya sudah mendapatkan penjelasan, tetapi saya tetap bersedih," ujarnya.

Namun, jabatan baru ini adalah pilihannya secara bebas. "Saya memilih jabatan ini dengan pengorbanan, termasuk popularitas dan penghasilan materi yang mungkin berkurang," ujarnya kepada para wartawan dalam jumpa pers pertama di Bina Graha, Jakarta, kantor barunya.

Soal penghasilan materi tampaknya tidak dirisaukan. Katanya, ia sudah punya tabungan dan anaknya sudah ada yang bekerja. Usianya sudah 55 tahun, masa untuk pensiun. Masuk ke istana baginya, selain bisa membantu orang yang menurut penilaiannya sangat baik untuk membangun demokrasi di Indonesia, adalah penambahan cerita baru untuk autobiografinya.

***

SEKITAR satu bulan sebelum ditunjuk jadi jubir, Wimar berbincang-bincang dengan sahabat Presiden Wahid dari Australia, Dr Greg Barton (dosen sebuah perguruan tinggi di Australia dan penulis buku tentang Nahdlatul Ulama) di sebuah hotel. Greg Barton menggambarkan Presiden Wahid ini sebagai seorang nakhoda sebuah kapal warisan dari Orde Baru. Kapal itu rusak berat dan sangat mudah tenggelam untuk melanjutkan perjalanan.

Dengan kapal yang telah dirusak oleh penguasa Orde Baru itu, Presiden Wahid menakhodai pelayaran ke tengah samudera menuju negara demokrasi sejati.

Selama beberapa bulan dalam pelayaran, kapal itu oleng, karena masih rusak, perbaikan belum bisa menyeluruh. Para penumpang melancarkan kritikan keras. Kritik termasuk datang dari mereka yang dulu ikut merusak kapal itu.

Melemparkan orang-orang itu ke laut ? Kata Wimar, jangan meniru para penguasa Orde Baru. Bisa jadi, orang-orang yang baik juga bisa terlempar ke laut. "Perombakan perlu gradual dan secara demokratis," ujarnya.

Dalam pembicaraan santai tersebut, Greg Barton dan Wimar sepandangan, sekitar Presiden Wahid perlu ada banyak orang baik. "Pembicaraan santai itu, kini jadi kenyataan, saya adalah salah satu yang dipilih untuk membantu Presiden", ujar Wimar.

Menurut Wimar, apa yang dikatakan oleh Presiden Wahid sering ditangkap sepenggal-sepenggal dan di luar konteksnya. Maka, katanya, Jubir bertugas menjelaskan konteksnya yang benar secara menyeluruh. "Setelah itu masyarakat mau setuju atau tidak kepada Presiden, terserah," ujarnya.

Kini, banyak dikabarkan, Presiden Wahid sudah banyak ditinggalkan rekan-rekannya. Mereka kini menjaga jarak dan memilih sikap independen.

Bagi Wimar sikap independen tidak harus berarti menjauhi Presiden Wahid. Di masa Orde Baru, bila orang-orang datang ke istana atau Jalan Cendana, maka sering terjadi "persekongkolan". Pengusaha atau politisi yang sering sowan ke Soeharto atau anak-anaknya atau kroni lainnya, boleh dikatakan pasti mendapatkan sesuatu yang menguntungkan.

"Di masa Gus Dur (Abdurrahman Wahid), pengusaha siapa pun atau politisi siapa pun, bisa datang dan berbincang-bincang dengan Presiden. Pertemuan bisa penuh canda. Tetapi, mereka tidak dapat apa-apa. Yang terjadi adalah adu argumen. Pertemuan itu tidak ada deal apa-apa. Persepsi sikap independen sebagian orang masa kini masih dijiwai penghayatan terhadap situasi Orde Baru," demikian Wimar.

***

LAIN halnya pengalaman Adhie M Massardhie (44). "Ayah saya bertanya pada saya, apa untungnya jadi Juru Bicara Presiden ?" Begitu ceritanya di halaman Sekretariat Negara, 7 November lalu.

Untungnya, katanya, ia bisa membantu seorang kiai haji yang pikiran-pikirannya sangat berharga bagi Indonesia. "Hampir seluruh pikiran, gagasannya, mulai dari mengembangkan gaya hidup toleransi, kemajemukan, demokrasi, juga cara melihat, memandang dan menjalankan konsep keberagaman, benar-benar sangat diperlukan oleh sebuah bangsa pluralistik seperti Indonesia," ujarnya kalem. (J Osdar)

Print article only

3 Comments:

  1. From Miss D......:) on 27 September 2006 11:23:36 WIB
    Saya sependapat dengan WW, yang tidak menyesali telah memilih menjadi Juru Bicara Presiden. Menurut pendapat saya pemikirian Kiai Abdurrahman Wahid sangat demokratis dan diperlukan untuk bangsa kita yang pada saat itu istilahnya sedang mengalami "collapse". Justru sangat disayangkan pemerintahan GD tidak berlangsung lama.

    Satu lagi dari posting PO, menambah pengetahuan saya tentang masa lalu yang tadinya saya gak faham betul.
  2. From keket on 29 September 2006 11:27:56 WIB
    oh, begitu critanya, baru tau nich, untung buka PO ^^
    setiap action pasti ada reaction.His braveness to sacrifice something to get something new was incredible.
    The last, he could say to everyone that he didn't regrets. "No Regrets" by WW will explain all the process, of those experiences.
    value is more than price, and it had been accepted by WW.
    Gus Dur telah memilih orang yang tepat dan WW telah menerima tawaran yang tepat.
    Orang yang tepat di waktu yang tepat!

  3. From Daisy on 29 September 2006 16:36:46 WIB
    Kalau menurut saya sih, WW cocok banget jadi jubir Gus Dur, mereka berdua punya pikiran klop, sama, tentang pluralisme. Dan yang ngumpat2 itu, kalo menurut saya sih sirik aja. Kan ada yang bilang gini: sirik tanda tak mampu hehe :p

« Home