Articles

Tukang Kritik Tercinta

Majalah Adil
21 May 2007

Delapan tahun yang lalu, Wimar menjadi cover story tabloid Adil dengan julukan 'Si Kribo, Sang Provokator'. Sekarang Wimar kembali diprofil oleh Adil yang telah menjadi majalah, dengan judul 'Tukang Kritik Tercinta'. Mengapa talk show-nya selalu bubar di tengah jalan meskipun rating tinggi?

 

ADIL No 16, 17-30 Mei 2007

Wimar Witoelar Adil Tukang Kritik Tercinta

Perawakannya besar dan lucu, talk show-nya selalu bubar di tengah jalan, jubir di era Presiden Gus Dur, yang getol dunia gadgets ini kini seorang jomblo.

Ruang kerja serba gadgets terhampar di kamar tidurnya di lantai atas rumah. Komputer, laptop, koneksi internet, BlackBerry kesayangan, telepon, mesin faks, DVD player serta televisi beragam saluran baik dalam dan luar negeri.

Dari kamarnya yang permai itu ia bisa mengamati segalanya di sekitar rumahnya. Ia senang mengamati gerak-gerik yang biasa muncul di depan rumahnya.

Bila susah tidur, laki-laki 62 tahun ini hobinya melarikan diri kepada internet. Menurut Tya, keluarganya memang keluarga internet. Tya atau Satya Tulaka Witoelar adalah anak sulung Wimar yang tinggal di paviliun samping rumahnya bersama isterinya Sari dan Kirana, anaknya yang baru saja lahir dan membuat bahagia luar biasa. Tya seorang anak yang berbakti bagi WW. Mengurusi hidup WW dan berperan sebagai pengganti istrinya.

Tya adalah arsitek yang kemudian berprofesi sebagai web designer. Adiknya Aree Widya Witoelar seorang saintis yang sedang belajar menjadi doktor fisika di Belanda, juga telah menikah.

Untuk urusan internet, Wimar Witoelar atau biasa disebut WW, bisa berlarut-larut. Karena sebetulnya WW suka susah tidur dan tidur berlama-lama. Biasanya jam empat pagi ia sudah bangun. Duduk di depan komputer. Membaca berita di internet, menulis, chatting, browsing, blogging hingga menjawab email, mengorganisasi dan memasukan foto-fotonya ke flickr, program blogger canggih yang diajarkan anaknya Tya. Foto-fotonya sejak kecil rapi diaturnya dalam blog atau flickr.

WW memang mutakhir di urusan gadgets. Rasa ingin tahu yang besar akan apa saja menjelaskan kegemarannya itu. Pada dasarnya anak diplomat tumbuh di Eropa ini memang selalu gaul dan berlaku sebaliknya dari usianya.

Rumahnya yang rimbun akibat daun-daun yang mengepung sekeliling rumah terlihat begitu sepi. Suasana jadi terasa aneh dan ganjil. Teringat perangai WW yang ramai dan hangat. Amat bertolak belakang dengan keadaan rumahnya. Isterinya Suvatchara Leeaphon meninggal tahun 2003 karena kanker. Meninggalkan suasana homey yang seperti kehilangan tuannya namun dengan setia dipelihara WW.

Tentu yang lebih penting kematian Ibu Suvat telah menutup bagian hidup utama dan sebagian besar minat WW. Setidaknya selama dua tahun setelah kematiannya. Sampai WW bersinar kembali dengan kehadiran sahabat muda di sekelilingnya.

WW selalu mudah terhubung dengan anak-anak muda. Di perusahaannya, InterMatrix, sebuah jasa komunikasi ia mengumpulkan anak-anak muda. Di pergaulan, ia berkawan dengan banyak anak-anak muda yang diperlakukannya tanpa jarak. Anak-anak muda ini muncul begitu saja karena mengenalnya, perkawanan kala chat sesama blogger dan rekan friendster.

WW diuntungkan dengan keseluruhan dirinya. Dahulu sewaktu remaja ia sempat tidak mengerti mengapa tubuhnya gendut dan rambutnya semakin keriting. Anak Sunda dari Raden Achmad Witoelar dan Nyi Raden Toti Soetiamah Tanokoesoema kelahiran Padalarang 14 Juli 1945 ini sempat minder secara sosial dan terasing dari perhatian lawan jenis. Seorang anak pintar yang secara sosial digolongkan kutu buku.

Tetapi kendala berubah menjadi senjata. WW mengoptimalkan kombinasi fisik, kepribadian serta bakat menjadi sebuah Wimar Witoelar seperti sekarang ini. Semua orang tertarik melihatnya. Menaruh percaya padanya. Cepat jatuh hati dengan dengan apa yang disampaikannya.

Kakaknya Rachmat Witoelar, dan sahabatnya sejak SMA dan saat kuliah di ITB Sarwono Kusumaatmadja, menyebutnya anak pintar yang berhati emas.

Itu mengapa kolega Gus Dur, Dr. Greg Barton, mengusulkan namanya supaya membantu Gus Dur melancarkan komunikasi program-programnya sebagai presiden kepada rakyat. Seorang juru bicara (jubir) ala White House. Gus Dur pun tak ragu-ragu untuk setuju.

Orang seperti WW menurut firasat Greg akan pas dan cocok menjadi jubir presiden Gus Dur. Ia menganggap keduanya meyakini hal yang sama dan memiliki hubungan chemistry politik yang senyawa. Menurut Greg ini cocok untuk menghadapi tekanan politik dan serangan media yang akan dihadapi Gus Dur.

Greg Barton benar. Keduanya memang cocok. WW yang selalu diamatinya melalui acara talk show dan penampilannya sebagai narasumber cerdas di televisi luar negeri memang sebangun dengan ide Gus Dur. Tapi itu tak membendung lajunya serangan politik dan media. Gus Dur dikeroyok media. Selanjutnya dijatuhkan oleh legislatif hanya setahun dalam masa pemerintahannya.

Karir Wimar dalam politik sebagai juru bicara tak berumur panjang. Ia memang sejak awal lebih percaya bahwa keterlibatannya dalam politik lebih karena ide bagus merintis tradisi jubir dan kecocokannya dengan Gus Dur. Ia sendiri merasa tidak bisa bertindak sebagai politisi selama bersama Gus Dur.

WW memang tak pernah merasa betah lama-lama di politik. Meskipun ia sangat menghormati Gus Dur. "Gus Dur itu orang yang sangat berdedikasi dengan masyarakat. Sementara saya mungkin terkesan orang publik, tapi sebenarnya tidak, saya orang privat. Saya tak pernah bisa meladeni energi Gus Dur yang besar dan selalu kemana-mana".

WW dianggap terlalu lunak dan baik hati untuk terlibat dalam politik praktis. Menurut koleganya, WW terlalu jujur dan gemar membela kebenaran. Apalagi menurut Greg Barton dalam diri WW terdapat sifat murni dan kekanakan yang tersimpan dalam dirinya. Seperti anak-anak, WW jujur dan sederhana. Mudah mengapresiasi apa yang mungkin tidak dilihat orang lain. Tidak malu-malu menikmati hidup.

Orang tuanya yang diplomat, dalam mendidik menganjurkan banyak kebebasan kepadanya sejak kecil berikut disiplin dan standar moral yang tinggi.

"Pengaruh hidup di luar negeri membuat saya seperti ini. Sejak kecil sikap saya normal dan kritis. Semua orang di Eropa saya rasa seperti itu. Di rumah, keluarga juga sukanya banyak berdiskusi. Itu melatih kita untuk susah kalau tidak bersikap," katanya.

Di luar negeri WW dikenal sebagai si bontot yang pintar oleh empat saudara-saudaranya. Rujukan mencari jalan. Jago menghapal peta seluruh Eropa meski hanya sekali saja berkunjung dan cepat menghapal seluruh ibukota dunia.

Sampai SMA, WW suka merasa minder dengan dirinya. Tidak punya teman perempuan, badan gemuk, penyendiri dan suka baca. Tapi masuk kuliah di ITB ia sumringah. Ia merasa orang mulai menghargainya dari pikirannya dan bukan dari penampilannya.

Kesukaannya berdiskusi, berdebat dan bicara ceplas ceplos apa adanya. Teman teman kampusnya jatuh hati dengan gayanya. WW mulai terlibat aktivisme meski itu bukan sesuatu yang direncanakan.

Kerjaannya memimpin dari satu organisasi kampus ke organisasi lain hingga menjadi Ketua Dewan Mahasiswa ITB. Inilah menurut sahabatnya Sarwono Kusumaatmadja sebagai karir politik WW yang paling serius dan penting. Tapi tidak dilanjutkannya.

WW malah dijebloskan ke penjara. Ia banyak mengkritik Soeharto dan memimpin demo. Abangnya, Rachmat Witoelar, orang paling dekat dalam hidupnya selain almarhum isterinya, sudah melenggang ke politik bersama kawan-kawannya.

"Dahulu saya yang mendorong Rachmat bergabung di Golkar baru dan mendaftar menjadi anggota DPR bersama mahasiswa Bandung seperti Sarwono, Rahman Tolleng dan lain-lain. Sampai memalsukan tanda tangannya."

WW yang drop-out dari ITB lalu melanjutkan pendidikannya yang tertunda ke Amerika. Dari kejauhan mengamati perkembangan politik Golkar, tempat kolega dan abangnya berkiprah dan merasa kecewa.

Pulang ke Indonesia lagi, WW memilih cara hidupnya sendiri. Menjadi dosen di ITB hingga hijrah ke Jakarta memulai karir sebagai konsultan manajemen dan keuangan. Sampai ia terseret mejadi praktisi komunikasi dan raja talk show.

Jika berbicara ia selalu membuat enteng dan memudahkan hal-hal sulit. Anaknya, Aree, dalam buku biografi WW yang ditulis Fira Basuki, menyebutkan sebagai ayah bukan saja lucu, tapi memiliki prinsip hidup, walau selalu menatap dunia dari sisi yang memudahkan. The lighter side of things.

Ini membuat WW berjaya dalam setiap talk show-nya. Gaya bicaranya tidak sok intelektual, membawa pesan orang-orang biasa, lugas, tajam dengan membawa sinisisme politik yang jarang mengecewakan. Tetapi herannya setiap hal yang disentilnya walau kadarnya serius selalu terkesan lucu. Meskipun ia tidak pernah berusaha menjadi pelawak.

Suatu waktu dalam talk show-nya di "Gubernur Kita" ia meladeni celetukan audiens yang mengeluhkan hipermarket yang salah letak dan mematikan pasar kecil. Tak sesuai konsep aslinya di Paris yang berada di pinggiran kota. WW berseloroh santai, "Gubernur Paris kan bukan Sutiyoso," katanya disahuti gerr orang-orang.

Inilah mengapa talk show-nya sulit bertahan lama. Wimar’s World segera menyusul sejumlah talk show lain miliknya seperti Perspektif, Dialog Aktual dan Selayang Pandang. Semuanya diberhentikan secara tidak wajar. Meskipun rating dan pemirsanya betul-betul pro bisnis.

"Sutiyoso kayaknya benar-benar tidak suka dengan saya," ucap WW.

WW menanggapi pemberhentian itu dengan santai. Dia bilang hokinya memang jelek. Tak pernah bisa bertahan lama dalam satu fungsi. "Jadi jubir presiden dibubarin, punya talk show dibubarin."

Tapi ia mengaku tidak pernah secara sangaja mengincar dan bermaksud melakukan hal itu, alamiah saja. Tapi ia juga mengaku tidak pernah berusaha terlihat manis demi orang-orang tertentu.

"Semua talk show saya itu karena ajakan. Mereka mengundang saya. Saya tanya apa ada sensitifitas politik yang harus dijaga? Karena saya tak mau bikin susah. Mereka bilang tidak ada. Tapi pada perkembangannya saya diminta mundur. Mereka tidak tahan dengan saya, ungkapnya.

Dahulu di talk show "Perspektif" Wimar dibredel karena rezim otoriter. Kini ia dibredel karena orang bisnis takut dengan sisa-sisa rezim otoriter. Karena itu WW selalu berusaha menciptakan dampak dan kontribusi besar dalam talk show-nya sebelum waktu "pejagalan" tiba.

"Seperti di bola. Tidak penting bertahan main 90 menit tapi tidak melakukan apa-apa. Lebih baik sedikit main tapi menciptakan gol,"ujarnya mencoba melihat mudah dan positif nasib talk show-nya.

Selamat panjang umur WW. Jaga kesehatan. Karena WW adalah milik banyak orang. Apalagi WW bilang ia terbuka menjadi wakil presiden. Niat politik yang sepenuhnya WW sajalah yang paling mengerti.

Mudah-mudahan nanti ada televisi yang mau bekerjasama dan yang tidak lagi pura-pura terkejut dengan diri Anda yang memang seperti itu. Menerima talk show Anda yang seru itu apa adanya.

"I love you just the way you are," ucap WW kepada orang-orang yang disayanginya. Dan kini kita ucapkan kembali padanya.

 

Baca juga: Mengabdikan Hidupnya untuk Cinta, Kebebasan dan Kritik

Print article only

19 Comments:

  1. From ulma on 21 May 2007 18:39:44 WIB
    '"I love you just the way you are," ucap WW kepada orang-orang yang disayanginya. Dan kini kita ucapkan kembali padanya.'
    awww that was sooo sweet!
  2. From Lukman Nul Hakim on 21 May 2007 19:21:30 WIB
    Bang Wimar, saya baru baca berita di detik soal dikeluarkannya Bang WW dari GK, dan merasa sedih sekali. Ini akan semakin meyakinkan saya & orang2 untuk tidak memilih Foke. Maju terus Indonesiaku...!!
  3. From Firry Wahid on 21 May 2007 19:54:18 WIB
    Turut Berduka Cita atas matinya demokrasi tepat ketika dia berumur 9 tahun...

    21 Mei 1998... Lahirnya demokrasi di Indonesia ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto

    21 Mei 2007... Matinya demokrasi di Indonesia ditandai dengan dikeluarkannya Bang WW dari Gubernur Kita...

    Semoga ini tidak menjadi akhir dari perjuangan Bang WW dan teman2 dalam menegakkan demokrasi di Indonesia, justru ini sebagai cambuk agar kita bersama2 berjuang demi Indonesia yang lebih baik...

    Marilah kita mulai dengan cara TIDAK MEMILIH FAUZI BOWO sebagai Gubernur DKI 2007-2012, karena jelas2 orang yang bernama Fauzi Bowo itulah yang telah membunuh demokrasi, di Indonesia setidak2nya di Jakarta...

    Bravo Bang WW

    -FirryWahid-
    (Yang lagi berkabung)
  4. From Berto on 21 May 2007 20:14:46 WIB
    Pak Wimar teruskan pendapat2 anda yang brilian, dan pas. Jangan pernah berhenti, walau di tekan oleh penguasa.
  5. From daus on 21 May 2007 20:41:43 WIB
    Pak Wimar,

    Saya yakin Pak Wimar tidak terpengaruh dengan adanya pembredelan untuk sekian kalinya. Sekarang semakin nyata yang menjadi good guy dan bad guy. Tugas kita bersama mengampanyekan untuk tidak memilih bad guy ya Pak.

    Pak Wimar, tolong bikin penjelasan biar teman2 bisa mendapatkan informasi lebih jauh lagi tentang kronologisnya. En itu bisa disebarkan kemana2.

    Salam,

    FH
  6. From Jennie S. Bev on 22 May 2007 00:49:05 WIB
    Bung Wimar, well, I have a mindset like this... (Pardon my plugging my latest book's title "Mindset Sukses," that is.)

    To be assassinated is a very impressive way to die. (It clearly means that the person is so outstanding and becomes a threat to others.)

    Well, Bung Wimar was "assassinated" in GK, it means you're so powerful and influential. It's a privilege to be "assassinated." :) Figuratively speaking only.

    That's my mindset. My success mindset. Keep smiling and make a difference. You're making big waves, not just a splash.

    Jennie S. Bev
  7. From Lyan on 22 May 2007 08:13:08 WIB
    Maju terus WW, don't give up...
    Pembredelan-2 yang terjadi pada setiap acara talk show yang WW bawakan adalah sebuah bukti betapa RENDAH-nya MENTAL PENGUASA negeri ini dalam menghadapi KENYATAAN terhadap masalah-2 yang ada di masyarakat, mereka TUTUP MATA & TELINGA untuk permasalahan sosial yang ada. Dengan sendirinya masyarakat menilai bahwa PENGUASA NEGERI ini lebih banyak bekerja untuk KEPENTINGAN PRIBADI DARIPADA KEPENTINGAN BANGSA INI !!!! dan KREDIBILITAS mereka sebagai seorang PEMIMPIN dipertanyakan ?!

    Keep Shinning WW......
    God Bless You

  8. From riris on 22 May 2007 09:04:23 WIB
    Bendera kuning lagi untuk demokrasi di negeri ini. Tak apa, masih banyak jalan ke Roma. Sejarah ajarkan pada kita, akhirnya kebenaran yang kan jadi pemenang dan penerang. Mungkin ini saatnya untuk lebih mendekat pada masyarakat, siapa tahu juga lebih efektif dari pada sekadar di TV lokal. Bikin GK dari Kampus ke Kampus, kampung ke kampung etc. Tim Imx yg muda dan kreatif pasti punya segudang ide. Thanks u/ acara bernas dan mencerdaskan selama ini. Bravo Bung WW!
  9. From Z I on 22 May 2007 13:19:39 WIB
    Katanya....


    Keberhasilan adalah proses, bukan tujuan.
    Dan proses telah membawa perspektif kembali melebarkan sayap. Tulisan di kertas putih tidak pernah terbaca jika tintanya juga putih. Dunia tidak akan pernah melihat kebaikan jika tidak ada kejahatan. Demikian pula dengan kebebasan dan keadilan berpendapat.
    Semuanya berlangsung dinamis. Sejak lama kita bisa melihat, bagaimana sifat2 realisme borjuis para calon gubernur. Namun kejelasan barulah muncul dengan reaksi2 represif. Inilah hal yg patut disyukuri orang2 biasa sebelum memilih beliau2 tadi menjadi "raja2 muda". Sehingga kita dapat melihatnya sebagai keberhasilan dalam suatu proses.
    Mari kita dukung Faisal Basri sebagai calon yg (menurut saya satu2nya orang) memiliki visi
  10. From bangpitung on 22 May 2007 14:01:48 WIB
    Assalamu'alaikum....

    Turut prihatin atas di cekalnya Om Wimar dari panelis acara GK...

    Keluarga Besar Anak Betawi sangat menyayangkan figur yang seperti Om wimar dirampas kemerdekaan pendapatnya di acara GK.

    Terus berjuang Om... Kita tahu koq, siape nyang bener sama siape nyang keblinger....

    kalo kata amin rais,... Rezim yang mulai pake budaya pembredelan... biasanye umurnya dah kagak bakal lama lagi...

    Terus berjuang OM... Kite ada dibelakng om... selagi Om tetap konsisten membela kebenaran... karena kalo orang pinter mah dijakarta udah banyak... tapi kalo orang bener, antiknya bukan maen...

    Wasalam


    Bangpitung
  11. From arif on 22 May 2007 19:03:54 WIB
    PDIP, kenapa kalian dukung calon kayak FAUZI BOWO ? Pengkhianat!
    Demokrat, dasar GOLKAR baru !

    BOKeR - Betawi Ogah foKe jadi gubernuR
    ..Jangan serahkan Jakarta pada ahlinya KKN !..
  12. From andre on 22 May 2007 19:35:22 WIB
    dengan begitu kita bisa semakin fokus untuk mengusahakan calon independen ke pemilu 2009!!
    semakin fokus mendukung ww jadi wapres 2009!!
    BETUL???

    oom ww simpan tenaga dan jaga kesehatan... yg baik selalu menangnya agak telat spt film2 kungfu cina..

    yg mimpin dan yg mimpi mimpin dki saat ini masih bocah cengeng!!! semoga mereka tdk dipilih.. amin??

    walau oom ww tdk di GK lg semoga EG masih bisa mendatangkan/menjadwalkan komunitas yg hadir (pada saat si cengeng hadir) benar2 perwakilan dari masy miskin kota,korban banjir dls...

    i love indonesia!
  13. From Chiphie on 23 May 2007 10:41:34 WIB
    Deepest Condolences !! Sepertinya setelah reformasi begitu banyak buka-bukaan (maksudnya banyak yang berani bicara, protes or demo turun ke jalan or g ada yang disembunyikan lagi)..kirain setelah reformasi..sudah bisa lebih bijak dan matang dalam menghadapi kritik (yang kalau bisa melihat dengan psotif dan pikiran jernih dalah satu saran yang dpat membuat diri kita sadar akan kekurangan kita dan ktia bisa memperbaikinya).
    Padahal..seperti yang diketahui semua orang..WW orang yang jujur dan apa adanya, menyampaikan semua aspirasi dengan apa adanya..sehingga kalau acara GK itu mendapat rating tertinggi karena yang menonton pasti merasa aspirasinya terwakili.
    Sayang seribu sayang..sepertinya memang pemimpin kita sudah sulit mendengar hati nuraninya dan tuli (What?? apaa ? I need a hearing aid to hear what u said)

    WW..keep on moving as long as u are right. Semoga kita mampu memilih Gubernur berikutnya sesuai dengan aspirasi rakyat ;)
  14. From Rina on 25 May 2007 12:51:01 WIB
    Salut buat om Wimar..terus berjuang meskipun kebebasan berpendapat di indonesia masih 'cetek' ..btw aku udah baca biography nya ^ ^
  15. From pengamat kota jakarta on 25 May 2007 17:09:49 WIB
    biasalah, klo kita dicekal berarti apa yang kita suarakan itu berarti benar. memang kebenaran pasti akan selalu mengalami ketertindasan.
    semoga om Wimar tetap bisa loyal dalam hal kritik-mengkritik
  16. From Firman Firdaus on 30 May 2007 15:21:59 WIB
    Ah, bung Wimar dulu waktu jadi jubirnya Gus Dur juga melempem aja...
  17. From Dedi on 07 August 2007 15:06:41 WIB
    memang setiap perjuangan pasti menemui batu sandungan, anggap aja itu batu di bawah air terjun lama kelamaan akan hancur juga, kebenaran pada akhirnya pasti akan menang. Berjuang terus dengan jalan lain OM!!!
  18. From Gilang Satrio on 04 September 2007 11:00:35 WIB
    setiap hari di indonesia akan lahir bayi-bayi cerdas,kritis seperti om wimar..mungkin salah satunya akan menjadi pemimpin hebat seperti bung karno dan pak harto atau mungkin hebat lagi, dan bangsa ini akan lepas landas menuju suatu era puncak keberhasilan bangsa ini secara ideologis,ekonomi,sosial,budaya,teknologi,diplomatik..
  19. From Patrick AMP Manurung on 05 March 2008 15:44:24 WIB
    :-) Baru baca ini,
    Cuma mau bilang, we love you too, Om WW.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home