Articles

SBY pasti terpilih lagi, asal perbaiki

Koran Sindo
25 October 2007

Seputar Indonesia - Presiden Kita

Calon Presiden mulai bermunculan sebanding dengan dana politik yang telah dikumpulkan masing-masing bakal calon. Megawati, Sutiyoso, Wiranto, Jusuf Kalla semuanya punya dana politik banyak dari jabatan politik yang pernah dimilikinya, atau dari sponsor belakang layar seperti Soeharto atau sponsor kecil ambisius seperti Aburizal Bakrie. Apakah itu berarti SBY akan mudah tergeser? Coba kita pakai hipotesa bahwa SBY pasti terpilih, dan melakukan analisa mundur.

Seorang kolumnis partai Buruh di Inggris menggunakan istilah "inevitability," menunjuk pada adanya kejadian politik yang tidak terhindarkan pada momen tertentu. Misalnya, jatuhnya Soeharto tidak terhindarkan sejak 1996 karena pendukungnya tidak ada yang tulus waktu dia sudah lemah. Gus Dur tidak terhindarkan untuk dijatuhkan karena MPR, tentara dan media bersatu untuk menaikkan presiden baru. SBY tidak terhindarkan untuk menang pemilihan presiden 2004 sejak dia mengambil posisi orang tulus melawan Megawati yang menzaliminya. Sebagai underdog, orang yang dianggap merambat dari bawah, SBY memenangkan simpati pemilih.

Sekarang menghadapi pemilihan presiden 2009, SBY kembali menjadi underdog. Setiap acara televisi dan kolom koran mencela kepemimpinan SBY. Setiap pengamat meragukan kemampuan dia untuk terpilih lagi. Dan justru karena itu, menurut hipotesa tulisan ini, dia akan terpilih kembali. Itu tidak terhindarkan. Asal, dia pinter memilih penasehat, pendukung dan pasangan.

Pertama, lihat dulu saingannya. Pernah ada seorang pemuda yang cemburu karena gadis idamannya melirik pria lain, menurut perasaan dia. Tapi setelah melihat kualitas saingannya, dia tenang karena saingannya kalah kelas sama dia, jauh. Sama dengan saingan SBY untuk pemilihan presiden 2009, semua kalah kelas sama SBY, jauh.

Megawati? Sebagai calon, saat ini dia menarik juga, karena orang sedang kesal pada SBY. Lagipula Megawati menjadi underdog sejak dia kalah. Sifat keibuannya menjadi menarik. Tapi kalau dia meningkat menjadi calon serius, orang pasti ingat bahwa sifat keibuan itu tidak membuat negara menjadi beres. Apalagi karena yang menjalankan pemerintahan bukan Megawati yang keibuan, tapi Bapak-Bapak yang tidak kebapakan. Orang juga tahu bahwa kecerdasan dan visi Megawati adalah visi seorang anak Presiden, yang tidak kelihatan berkembang jauh sejak dia masih anak-anak.

Sutiyoso? Hmm… Daya tariknya bukan karena imut-imut seperti Megawati, bukan juga aura ketulusan seperti yang ada pada SBY. Pendukung Sutiyoso menyatakan bahwa ia adalah orang yang berprestasi, yang disipilin dan keras menghadapi persoalan. Sutiyoso sendiri mengatakan di televisi bahwa DKI itu penuh binatang buas, jadi pemimpin DKI harus buas juga. Dia berhasil, tapi berhasil dalam memperjuangkan kepentingan binatang buas, bukan binatang baik-baik yang terinjak.

Sebagai Gubernur, dia bisa membuang masalah keluar wilayah propinsi, masuk ke laut atau ke propinsi lain atau ke desa. Sebagai Presiden, semua masalah harus diselesaikan dalam wilayahnya, terutama masalah sosial. Angka repor Sutiyoso dalam menyelesaikan masalah sosial sangat kurang baik, sejak dia menjadi Panglima Militer Jakarta yang mengizinkan pembantaian sekretariat PDI pada tanggal 27 Juli 1996. Baik Megawati maupun Sutiyoso berhasil menarik perhatian publik dengan keberanian mereka mencalonkan diri. Tapi mereka akan hilang dari perhatian publik begitu orang sadar bahwa mereka dua-duanya bukan kelas SBY. Mereka beda kelas, jauh.

Tokoh-tokoh lain yang diperkirakan akan muncul seperti Wiranto, Jusuf Kalla, Din Samsudin tidak perlu dibahas sebelum mereka membuktikan diri berani menampilkan diri sebagai calon presiden.

Lalu tentang SBY sendiri. Dalam politik, seperti dalam pasar modal, berlaku hukum gravitasi. "What comes up must go down." Saham yang naik akan jatuh, dan sebaliknya. Ada istilah 'overvalued' dan 'undervalued' dalam analisa harga sekuritas. Angka popularitas untuk SBY dewasa ini merosot sekali. Waktu terpilih popularitas SBY diatas 60%, sekarang menurut beberapa survey angka itu sudah merosot dibawah 30%. Angka diatas 60% menunjukkan SBY itu ovetvalued, sehingga orang mengharapkan terlalu banyak dan akhirnya kecewa. Sekarang SBY itu undervalued. Orang anggap dia 'hopeless' padahal Presiden kita itu nggak jelek-jelek amat sih.

Paling tidak, SBY masuh lebih memberi harapan dibandingkan calon lain. Untuk menang Pemilu, orang tidak perlu hebat sekali, cukup dia itu lebih baik dari calon lain. Sama juga dengan pemuda yang cemburu tadi. Tidak usah dia merasa minder, asal dia masih lebih menarik dari saingannya. Sudah pasti SBY memiiki kualitas dasar kepresidenan, ini terbukti dari citra positif SBY di luar negeri. Tapi pemerintahannya memang tidak berdaya, dan hanya membela kepentingan kelompok khusus. Itu bukan kesalahan SBY langsung, tapi karena keluguannya memberi kepercayaan kepada orang seperti Aburizal Bakrie dan Jusuf Kalla. Mereka adalah orang yang mengabdikan hidupnya untuk menambah dirinya, bukan kekayaan masyarakat.

Limapuluh orang terkaya di Indonesia memiliki harta sama besar dengan 150 juta rakyat termiskin, menurut Sugeng Sariadi di televisi. Dua staf terdekat Presiden masuk 50 orang terkaya itu, dan tidak pernah memikirkan secara serius nasib 150 rakyat termiskin. Tidak perlu rakyat itu dibuat menjadi kaya, cukuplah mulai dengan diberi jalan bagus untuk pulang kampung, sekolah dan rumahsakit baik dan murah, dan hak atas tanah yang sebanding dengan penghidupannya.

Masalah SBY hanya pada 3P. Penasehat, pendukung dan pasangan. Ia hanya sedikit memiliki unsur 3P yang memadai. Marsillam Simandjuntak, Dede Basri, Sri Mulyani dan beberapa orang sekeliling Presiden. Mereka orang santun. Mereka bukan binatang buas. Tapi janganlah SBY mempercayakan dukungannya pada binatang buas. Nanti malah dia sendiri yang dimakan di tahun 2009.

Kejahatan tidak bisa dilawan dengan kejahatan. Kejahatan harus dilawan dengan kebaikan, tapi dosis kebaikan harus tinggi sekali. Bad guys bisa dilawan oleh good guys, asal good guys berkumpul dan bekerja dengan fokus. Blog www.perspektif.net diarahkan pada tema "promoting good guys". Sebarkanlah semangat ini, promosikan orang baik, dan sisihkan bad guys. Persilakan bad guys kampanye sendiri agar ter-ekspose kejahatannya dan tidak berlindung di belakang citra SBY yang good guy, tapi sangat lemah dalam mengambil keputusan. Banyak yang mau bantu SBY, tapi dia harus sedikit dipaksa.

Print article only

52 Comments:

  1. From Foolan on 26 October 2007 00:10:22 WIB
    Horreee, saya yang pertama (kalau adminnya ngijinin. Hikk..hiik).

    Saya koq seratus persen yakin SBY terpilih lagi. Nah, setelah 2014, saya justru tidak melihat calon, sudah mencoba melihat profil Para Gubernur dan Para Menteri, nggak ada yang cocok tuh. Ada satu samar-samar, HB X, cuman untuk porsi ekbang (biasanya 'kan bagian dari tugas Wapres), ini sulit, Oom bersedia?
  2. From Pendukung SBY on 26 October 2007 08:49:04 WIB
    Untuk jadi Presiden yang lebih baik susunan 3 P cocok :
    1. Penasehat, 2. Pendukung dan 3. Pasangan.

    Untuk terpilih lagi hanya diperlukan P nomor 3 yabf cocok , jadi gantilah Kalla !!! :
    dan gantinya harus seorang "vote-getter", yang tidak akan mensabot kebijaksanaan Presiden, seperti Wapres yang sekarang.
  3. From Fiona Liausvia on 26 October 2007 10:10:17 WIB
    analisis luar biasa... "Persilakan bad guys kampanye sendiri agar ter-ekspose kejahatannya dan tidak berlindung di belakang citra SBY yang good guy, tapi sangat lemah dalam mengambil keputusan. Banyak yang mau bantu SBY, tapi dia harus sedikit dipaksa.", namun bagaimana caranya hal ini bisa direalisasikan?
  4. From rezayazdi on 26 October 2007 10:13:39 WIB
    Setuju!
    Kalau liat lawann2 nya, gak sepadan ya sama SBY.

    yg jelas:

    My Next President IS NOT an ex Governor
  5. From angga fechti permadi on 26 October 2007 10:47:16 WIB
    amien............
  6. From febianto on 26 October 2007 13:21:24 WIB
    SBY the Incumbent, pls seize the moment!.....

    Gus Dur as penasehat or Gus Dur as Capres.tks.


  7. From Frans on 26 October 2007 14:51:16 WIB
    Saya tidak setuju.. SBY sudah membuktikan kinerjanya yg lemah. dulu rakyat berharap SBY bisa lebih baik dari megawati, nyatanya Mega jauh lebih baik dari pada SBY. kebijakan SBY sangat tidak populer di rakyat kecil dengan menaikkan harga-harga, BBM,Listrik,air,sembako,dll. akhirnya walau mega banyak kelemahan tapi tidak lebih banyak dari SBY. SBY tidak serius berantas KKN.terbukti soeharto dibebaskan dari tuduhan KKN,dll. juga SBY tidak berpihak pada rakyat kecil. SBY atau JK adl orba ke-2.
  8. From Chandra on 26 October 2007 15:46:30 WIB
    Memang kalau saingannya cuma Mega, Mr.Sooty, dan Betara Kalla SBY bakalan unggul. Tapi wah bosan juga punya Presiden yang membosankan. Kita jangan cuma mikirin cari2 good guys yang menjadi 3P nya SBY. Tapi justru cari better guys than SBY. Masak gak ada sih...
  9. From khaidir anwar sani on 26 October 2007 21:32:26 WIB
    tulisan yang meng inspirasi kita!!
    memberi semangat baru untuk mendukung orang yang baik untuk memimpin bangsa ini,dan semoga juga meng inspirasi kita untuk menemukan orang yang lebih baik dari pak SBY yang baik.semoga kita masih memiliki para pemimpin yang tergolong dalam orang orang baik.karena itulah yang kita butuhkan.
    kita tidak butuh pengusaha yang sukses,tentara yang gagah berani,ibu yang tenang menghanyutkan.untuk memimpin indonesia.tapi yang kita butuhkan adalah orang yang baik dan mampu memimpin dengan baik
  10. From Pendukung SBY on 27 October 2007 05:13:22 WIB
    Hareba penasaran, saya ingin mengomentari pendapat bapak (atau ibu ?) Frans yang bilang SBY lebih jelek dari Mega. Barangkali beliau lupa bahwa kenaikan BBM itu ditahan Mega karena menghadapi Pemilu.
    Untuk selanjutnya baca saja komentar seorang ahli analisis politik dalam Kompas minggu lalu http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/23/opini/3936321.htm

    Diantaranya inilah yang ditulis di artikel tsb:

    Meski survei LSI tidak dimaksudkan untuk menilai pencapaian pemerintah selama tiga tahun terakhir, setidaknya memberi gambaran bahwa kinerja pemerintahan di bawah Yudhoyono relatif biasa-biasa saja. Secara makro-politik, ekonomi, hukum, dan keamanan mungkin relatif berhasil daripada periode pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001) dan Megawati (2001-2004). Meski demikian, keberhasilan itu belum sepenuhnya memenuhi harapan rakyat akan perubahan yang signifikan dan mendasar sebagaimana janji-janji politik Yudhoyono sendiri.
  11. From bakir on 27 October 2007 13:22:41 WIB
    Kita pilih presidenm yg gagah, dalam arti tidak peragu, memihak rakyat, jangan memihak pengusaha. mandiri. jangan mudah bimbang. sekarang ini pengusaha yg di utamakan. banyak phk msal. kenapa begitu. bukan hanya wapres saja yg bertanggung jawab tetapi pres juga
  12. From B Simarmata on 27 October 2007 15:29:20 WIB
    SBY tanpa Kalla dan Izal,tidak akan jadi Presiden,karena kata orang kedua orang inilah yg menjadi pendukung dana kampanyanya pada tahun 2004 yl.Jadi tidak mungkin SBY menendang Kalla dan Izal,karena utang budi.Kalau SBY berani maju pada pilpres yg akan datang tanpa bantuan pengusaha dan menang,pasti dia berani bertindak untuk kepentingan rakyat banyak.Hanya tanpa pengusaha,belum tentu jadi Presiden.Yah,jadi lingkaran setan deh
  13. From Butet on 27 October 2007 16:02:51 WIB
    Ah, benar-benar menyedihkan - Presiden mediocre kayak SBY yang cuma tebar pesona dan nggak ngapa-ngapain bisa nggak punya saingan. Saya katakan nggak ngapa-ngapain ya karena emang gitu, yang ngambil tindakan adalah Wapres, Menteri dan para Gubernur, dan merekalah yang mendapatkan kredit atau caciannya. SBY hanya terkenal dengan "penyelesaian secara adat" nya saja.
    Ups, sorry.. saya salah kalo bilang SBY nggak ngapa-ngapain, soalnya kemaren setidaknya dia ngeluarin album lagu.
  14. From verdinand on 27 October 2007 20:22:09 WIB
    keliatan banget ada yang pengen jadi penasehat atau staf SBY nanti..

    promo-promo sekarang..

    keliatan banget politiknya BOs!!
  15. From asep on 28 October 2007 10:26:18 WIB
    Ini kok perspektif.net makin lama makin keliatan hopeless sih isinya hehehe Aging ya bung WW? hehhehe...

    Aku setuju dgn no.7 Frans bhw kinerja Sby buruk, dan betapapun adl dia yg menaikkan harga BBM dgn hasil rekomendasi dari Marsillam Simandjuntak, Dede Basri, Sri Mulyani yg menurut Bung WW : " ...beberapa orang sekeliling Presiden. Mereka orang santun. Mereka bukan binatang buas." hhahaha...

    Bung tau kan gara2 BBM naik berapa jumlah rakyat yg mati karena kmiskinan, kelaparan, menganggur? Lalu Sby, srimulyani, maria pangestu, dede basri, syahrir, marsilam mo cuci tangan? sounds not diferent like Sohearto era or Sutiyoso or Mega ya...

    Memang kandidat2 lain seperti Sutiyoso, Mega, Kalla dll bukan kandidat yg bagus, tapi Sby pun sama saja. Dia tidak boleh terus2an dia cuci tangan dgn bilang "itu bukan salah ku tapi itu salah pembantu2ku"... Dia di gaji mahal sebagai presiden untuk bisa -solve the problem- bukannya CUCI TANGAN. Sikap cuci tangan dalam tingkat apapun, mulai dari tingkatan Ketua kelas di Sekolah Dasar sampai Kepala Negara, adalah sikap PENGECUT.

    Jadi menurut ku yg lebih baik adl mencoba berpikir LEBIH dengan mencari kandidat yg terbaik... being a president is not like playing a chess yg kematian bidak catur hanya kematian diatas papan...

    So menurut ku, artikel Bung WW kali ini adalah salah satu artikel terburuk yg anda tulis... Maaf ya hehhe...
  16. From B Simarmata on 28 October 2007 11:00:50 WIB
    Katanya mau diskusi atau urun rembug,kok dibilangin promo!
    Susah deh bangsa ini.Bung Karno bilang,harus banyak bicara dan sekali gus banyak kerja.Jadi jangan cuman bicara alias tebar pesona,tetapi jangan juga banyak diamnya.Dari hasil berbagai pikiran itulah akan ada solusi baru untuk bangsa kita yg heterogen ini.Jangan tabukan beda pendapat,kalau bisa kasih lagi argumen,tapi harus wajar.Baru asyik,kalau banyak yg berpartisipasi,kalau kebetulan ada yg terpilih jadi penasehat atau stafnya SBY,itu rezeki dialah itu,masing-masing ada talentanya. OK bos.
  17. From Ilma on 28 October 2007 17:01:21 WIB
    Analisa yang bagus, sayang kok komentarnya berisi debat kusir pendukung capres. Semua itu sah-sah aja kok, yang penting gimana kontribusi nyata buat negeri ini.

    Nobody's perfect. Menurut saya SBY sudah berbuat semaksimal dia, beri saja kesempatan sekali lagi.

    Peace, love 'n respect.
  18. From Satya on 28 October 2007 18:57:41 WIB
    iya agak debat kusir. terutama kalau bilang lawan pendapat "ageing", sama aja bilang lawan pikun dan bukan ngomongin isunya. sementara, diluar soal teknik debat Asep/Redi, saya lagi coba baca kandidat terbaik mana yang anda jagokan, kok saya ga nemu? beranikan sebut namanya, saya janji akan pertimbangkan dan ga pertanyakan kualitas otak anda. kalaupun anda calonkan mickey mouse, saya gak akan bilang anda pikun.
  19. From ridwan on 29 October 2007 02:28:22 WIB
    Wah kok jadi debat kusir antara pendukung Mega dan SBY begini ? Saya sih netral saja, bukan pendukung siapa-siapa.

    Saya lebih tertarik memilih yang terbaik di antara yang ada, daripada mempermasalahkan ketidakbaikan masing-masing. Tentu saja akan lebih baik jika ada calon yang memiliki rapot baik dengan track record yang menjanjikan yang bisa menjadi salah satu alternatif pilihan.

    Namun, secara objektif saja, jika dilihat peluang, sama dengan Bung WW, SBY lebih kuat disini. Terlepas dari kelemahan keputusan-keputusannya, figur SBY lebih kuat dari Mega, paling tidak saat ini. Kalau Sutiyoso sebenarnya lebih kuat lagi malah, tapi sayang, kalau menurut saya, yang kuat absolut valuenya, sementara real valuenya itu kuat dalam artian yang negatif.

    Apalagi Mega membawa beban berat dengan status mantan presiden. Sepertinya presiden terpilih kembali memiliki probabilitas lebih besar daripada mantan presiden yang terpilih. Efek psikologis para pemilih harus diperhitungkan. Memilih orang yang sudah pernah 'turun', less favourable daripada membiarkan orang tetap berada di puncak lebih lama.

    Namun, masih ada setahun lebih untuk berpikir menentukan calon. Asal ada tokoh baru yang berani maju dan memiliki profil yang kuat di mata masyarakat, apalagi dengan strategi yang mirip dengan SBY, dia bisa menjadi the next one. Tapi, kayaknya harus paling lambat sebelum kuartal pertama 2008 berakhir, agar figurnya dapat dimaksimalkan layaknya SBY.

    Memilih presiden bukan masalah siapa yang tidak layak, namun siapa yang paling layak. Bersuara skeptis juga tidak menyelesaikan masalah. Dan kalau masalah orang yang paling mungkin disuarakan positif dan meraih simpati kembali, dari tiga calon tersebut, jujur saja saat ini, SBY dengan kondisi pamor turunnyalah, yang paling berpeluang, kalau dilihat dari mental bangsa yang 'agak' plin-plan ini.

    Tapi semuanya benar-benar bereputasi buruk ? Ah, cincay, bermonopoli lagi saja, ini kan Indonesia ! Gitu saja kok repot...

    Tapi, demi masa depan bangsa, Bung WW tertarik untuk maju ? Figurnya sudah cukup pas lho..
  20. From caesar on 29 October 2007 03:59:46 WIB
    SBY's report book:

    Indonesia's Overall Improvement: AVERAGE
    Indonesia's Overall Decrement : AVERAGE

    jadi bagi saya chance SBY utk jd presiden lg ya AVERAGE jg.
    tapi klo dah liat lawan2 nya SBY sih kliatan "lumayan"

    Sedikit analisa:
    Megawati: Obsesinya pengen jd penerus bapaknya. Lebih
    tepatnya, pengen take revenge lah atas kejatuhan
    Soekarno yg agak nyeleneh kejadiannya.
    Sutiyoso: Wah klo yg ini sih ga usah ditanya! Sangat tdk ber
    kualitas! Lah dipercaya mimpin kota Jakarta aja
    cacat, gimana klo dipercaya mimipin negara?!!!

    Klo SBY pengen bener2 berubah jadi calon yg kuat, lebih baik
    SBY melatih keberaniannya dan kekuatannya. Dengan menjadi SBY yg lebih berani dan lebih kuat, SBY pasti bisa melawan derasnya arus konspirasi politik Indonesia.
  21. From asep on 29 October 2007 09:16:29 WIB
    Bung Satya, poin utama yg ingin saya katakan bhw pada masa pilkada DKI 2007, kita begitu antusias bicara ttg Calon Independen. Itu sekitar 6 bulan lalu dan hari ini kita sudah lupa.
    Memang penyebab lupa itu ada macam2. Lupa karena disengaja, lupa karena tidak serius atau lupa karena ageing... nah saya sudah cukup sopan dgn menduga karena ageing hehhe...

    Skg, pemilu masih 2 tahun lagi, jadi masih sangat cukup waktu, tapi ironisnya kita terjebak utk membicarakan dan mengukur2 kandidat yg ga mutu : Sby, Mega, Sutiyoso, Kalla, Wiranto dst yg tidak akan membawa perbaikan apa2 bagi kita...

    Bung, pemilu adl bagian dari pendidikan politik bagi masyarakat. Artinya pendidikan politik adl membuat masyarakat semakin berdaya menentukan pilihan2nya. Membuat masyarakat belajar politik dgn benar. Sistem politik yg sdg running skg ini, jauuuuhhhh sekali dari prinsip2 itu. Nah, artikel yg baik adl membantu proses pembelajaran tsb bukan sebaliknya mengukuhkan sistem yg suffocate ini hehhehe....
    Karena itu sy memberikan nilai minus kpd artikel bung WW ini. Tapi klo argumen sy dianggap debat kusir, ya ndak opo2.. gitu aja koq repot hehhe....


  22. From sawung_kampret on 29 October 2007 09:24:37 WIB
    Yang jelas saya ga bakalan milih Megawati, sebab Kalo Megawati yang jadi presiden lagi negeri ini ngga bakalan punya BUMN karena semua dijualin ke pihak asing. (Salah satu kesalahan besar Mega di mata saya, selain banyak lagi kesalahan2 dia di masa kepemimpinannya dulu)

    Nasihat saya buat SBY kalau ingin saya pilih di PEMILU yg akan datang,
    - buat kebijakan2 yang berpihak pada rakyat kecil.
    - Bersikap tegas dan percaya diri, ingat bapak adalah presiden yang dipilih langsung oleh rakyat dan seorang Jenderal. Jangan hanya bersikap tegas kalo ada interpelasi doang.
    - Segera tuntaskan masalah Lapindo (ini masalah ga tuntas2, takut sama Bakrie ya Pak?)

    Dan buat semua calon presiden ingat rumus 3M nya Aa' Jimmy :
    1. Membalas kritikan dengan senyum.
    2. Membalas kritikan dengan kinerja yang lebih baik lagi.
    3. Mencari Presiden Alternatif diluar stok yang ada.

  23. From Pemburu Hantu on 29 October 2007 12:17:49 WIB
    Sri Mulyani orang baik?? yg bener aja, oom
  24. From rijal razaq on 29 October 2007 17:28:50 WIB
    ya, kenapa bukan kita aja yg mencalonkan diri?? kapan lagi kita mo berkarya??
    tp, memang benar. ketulusan saja tidak cukup, perlu keberanian lebih.. klo figur SBY- keberanian Wiranto- kecerdasan Habibi- dan ketulusan Ketua MPR skr, disatukan kayaknya bagus,, ada ga calon yg seoerti itu??
    ini hanya pendapat, silakan dicaci..
  25. From rahmad on 30 October 2007 09:47:01 WIB
    Aduh Bosan melihat pemimpin politik kita yang gitu-gitu aja,negara ini semakin tidak menarik ( pinjam dari Gie sehh..)Kita sebenarnya butuh pemimpin yang punya ide revolusioner dalam meningkatkan kesejahteraan, yang tua lebih berpikir gimana mau makan, gurus anak-anak, keponakan, sepupu baru rakyat!Makanya kalau boleh minta sama Tuhan kasih kami pemimpin muda yang punya talenta bagus, supaya rakyat kita tidak terus menderita. Parpol buka dong kesempatan buat anak muda, tuh Evo morales bisa buat maju, Ahmadinejed dan buanyak sekaliii, atau gimana mas wilmar saja jadi presiden?
  26. From sh0nn on 31 October 2007 09:48:20 WIB
    Yang jelas sosok presiden 2009 haruslah sosok yang mengetahui medan Indonesia serta tahan banting dari segala cobaan baik bencana maupun cemoohan dari partai politik yang kalah dalam bertempur. Selain itu dia bukanlah orang yang pernah kalah dalam medan tempur dan berusaha mencuri start untuk kepentingan golongannya semata. Semoga saja sosok presiden bisa lebih dapat memimpin dan membawa masyarakat Indonesia lepas dari kemiskinan dan hutang negara yang tiada habis-habisnya..
  27. From starboard on 31 October 2007 12:04:58 WIB
    Hmmm.. SBY.. jadi tau lebih mendalam tentang SBY.
    Tp sepertinya sosoknya kurang berani dalam melangkah.

    andaikata SBY lebih berani.. pasti saya pilih SBY!
  28. From timothy i malachi on 01 November 2007 00:39:33 WIB
    Hemm soal kenaikan BBM itu kan bisa2nya Mega saja yg menunda kenaikan demi popularitasnya untuk pilpres waktu itu....

    Saya sih lebih baik memilih SBY lagi, dengan catatan dia menceraikan JK, meskipun kinerjanya agak mengecewakan tapi overall sih masih lebih baik dibanding calon2 lainnya yg nggak banget deh...
  29. From Sayfa_MaiZenA on 02 November 2007 10:35:56 WIB
    Hmmm... Susah juga..

    Yah mungkin ada yang beranggapan jika "3P" (Penasehat, pendukung, dan pasangan) dari SBY diganti atau diperbaiki maka akan sanggup memperbaiki kinerja dari SBY itu juga.. Itu karena beliau hanya sedikit memiliki unsur 3P yang memadai.

    Tapi boleh donk saya punya pendapat lain..

    Menurut saya walaupun misalnya "3P" SBY tersebut diganti, tetap saja perubahan ke arah yang lebih baik tetap akan kurang maksimal..

    Saya mungkin cenderung punya pikiran bahwa dengan melihat cara-cara pemerintahan SBY saat ini sudah jelas kalau keadaan negeri di bawah pimpinannya hanya berjalan stagnan, tidak mengarah ke yang lebih baik dengan signifikan, dan terkesan biasa2 saja..

    Coba kita ingat-ingat, apa masalah negara (yang urgent dan diharapkan bisa sesegera mungkin selesai tentunya) yang sudah bisa diselesaikan..??

    Yah, mungkin orang dulu memilih beliau karena melihat sikap kampanyenya yang terkesan tidak "ngoyo" atau "mekso". Sedangkan yang lain mereka pikir cenderung "ngoyo" atau "mekso" tersebut.
    Hal itulah yang mungkin menyebabkan tumbuhnya simpati di hati banyak orang dan mempercayakan "mahkota" kepemimpinan pada beliau.

    Sedangkan sekarang banyak dari sekian banyak orang yang dulu telah memilih beliau menjadi kecewa dengan cara-cara dan perubahan yang terjadi saat ini (seperti yang saya katakan di atas, yaitu yang pada intinya adalah berjalan stagnan). Mereka bukannya kecewa pada pilihannya itu, tapi kecewa pada perubahan yang terjadi tersebut. Mereka merasa negeri ini masih berjalan di tempat (tidak maju mundur pun tidak).

    Pada dasarnya jika SBY punya keberanian untuk melakukan sesuatu, maka mungkin jadinya tidak akan seperti ini. Masalah "3P" itu misalnya, mungkin sekarang SBY malah yang menjadi "3P" itu sendiri dari mereka yang bisa "menggunakannya". Lah itu terus gimana..??

    Kalaupun para "3P" yang sekarang itu diganti atau diperbaiki, apa kriteria dari para "3P" baru tersebut sehingga sanggup dibilang "3P" yang baik..?? Nah bingung kan..

    Hal tersebut karena cara dan ketegasan yang kurang dari SBY itu sendiri.. Apa dengan digantinya "3P" bisa menjamin akan ada "perubahan"..??

    Saya mungkin cenderung lebih suka dengan pemimpin yang punya keberanian. Yang saya maksud keberanian di sini adalah keberanian dalam menyelesaikan suatu masalah, punya keberanian mempertahankan kekuasaannya (tetapi tidak diktatoris), keberanian dalam membuat suatu keputusan dan kebijakan, dan yang paling penting adalah tegas..!

    Ketegasan.. yah ketegasan.. Ketegasan dalam hal yang positif bisa membuat rakyatnya "merasa dipimpin", bahkan keseganan dari pihak atau negara luar..

    Tapi ya semua terserah apa yang nantinya terjadi saja..
    Pada intinya saya (dan mungkin juga mewakili sebagian besar orang) hanya mengharapkan "perubahan"..

    Okey...!?
  30. From Foolan on 03 November 2007 01:55:28 WIB
    Bu / Pak, saya mundur jadi Menteri, mau jadi calon presiden. Cukup berani toh?
    Hallo, Ical, Sidoarjo mau sampai kapan berantakan? Nah, ini yang belum :)
    Boleh tahu mengapa Ibu Mega tidak mau berkomunikasi dengan SBY hingga saat ini, walau Pak Taufik pernah? Trims.
  31. From inot on 03 November 2007 14:48:29 WIB
    SBY-JK masih bisa di kasih kesempatan kok karena penyakit Indonesia tidak bisa hanya di reparasi dalam 5 tahun dan jika berganti montir pasti ini mesin ga pernah bener... paling tidak presiden - wapres harus mendapatkan kesempatan hingga 10 tahun supaya kinerjanya lebih keliatan...
  32. From adi on 04 November 2007 10:49:30 WIB
    Menurut saya kegagalan pemerintah saat ini karena SBY suara partainya kecil, gak lebih lebih dari 10% kursi di DPR. Sehingga mau tidak mau dia harus merangkul banyak parpol yg mungkin saja cuma mementingkan kepentingan parpolnya sendiri dibanding mengurus pemerintahan. Karena terikat dengan parpol, makanya SBY tidak berani melakukan gebrakan-gebrakan baik di bidang ekonomi, hukum, dan bidang lainnya. Karena JK yg memegang komando tentang ekonomi, keadaan ekonomi makro dan mikro kita seperti jalan di tempat. Karena tidak punya visi dan fokus perekonomian yg jelas.

    Keadaan rill masyarakat sekarang lebih buruk dibanding jaman Megawati. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Harga sembako naik, pemerintah cuma diam aja. Bupati/gubernur yang tersangkut pidana korupsi, apalagi yg berasal dari paropl tertentu, cuma dihukum ringan atau bahkan dinyatakan tidak bersalah. Padahal buktinya ada, tapi aparat hukumnya yg takut. Tanya kenapa?

    Organisasi massa yg meresahkan masyarakat, yg suka merusak dan bertindak semena-mena kaya preman bahkan dibiarkan saja oleh polisi/pemerintah. Tanya kenapa? Produk dari negeri Cina yg membanjiri Indonesia dan perlahan mematikan industri kita di dalam negeri. Mulai dari permen, baju, sepatu, elektronik, perkakas, dll semua dari Cina. Sejak Menteri Perdagangan kabinet SBY dilantik, keran impor dari Cina dibuka seluas-luasnya. Bahkan 4x lipat volumenya dibanding jaman Megawati.

    Kesimpulan saya, SBY terikat oleh banyak kepentingan sehingga program pemerintahan tidak berjalan semestinya.
  33. From Goestaf on 06 November 2007 06:42:49 WIB
    Jurkam baru SBY ya Bang? Btw... Yes! We do need a lot more good guys to overcome bad guys
  34. From wimar on 06 November 2007 06:47:14 WIB
    Jurkam untuk Good Guys

    lihat slogan PO di kanan atas homepage

    bukan berarti melupakan kelambanan dan kesalahannya
  35. From zamroni on 08 November 2007 15:41:29 WIB
    sapa aja yg jd pres 2009 sbnarnya ga masalah bg saya,

    asal, yg penting;

    Gus Dur tetap pemimpin rakyat Indonesia di luar pemerintahan,

    gitu saja kok repot?!
  36. From koko on 09 November 2007 00:41:59 WIB
    pilih sutiyoso utk jadi presiden !!!
    agar tidak cuma jakarta yg dibuat macet, tapi semua kota di Indonesia !!
  37. From EwiNk on 10 November 2007 13:26:34 WIB
    Sudahlah, "penguasa2 gagal", ga usah berambisi nyalonin diri, apalagi demi kepentingan kelompok......

    kasih kesempatan sama yang laen, sukur2 yang kepilih ga gagal lagi!

  38. From ainghanif on 21 November 2007 17:54:32 WIB
    hem.. SBY mnurut saya pun presiden yg cukup mumpuni.
    hanya saja kemajuan nya dilawan dengan bencana2, dan masalah2 yg tak kunjung henti..
    org2 slalu mnyalahkan kepemimpinannya, dengan melupakan kebaikan2 yg dia buat..
    mungkin artikel ini benar juga,, 3P yg diperlukan SBY..
    tp bos,, ayah saya kebetulan kenal SBY, dia bilang, SBY org yg baik, pintar, dll, dst..
    tp stelah jadi presiden, ayah saya bilang,, SBY suka boros dan foya,, dan ayah saya agak kecewa setelah tahu itu..
    tp itu juga skedar dengar lewat saja.. tp benarkah itu?

    stidaknya,, jika tidak ada calon lain lagi yg lebih mumpuni, taun 2009, saya coblos SBY,, sekarang saya sudah boleh nyoblos loh..haha. .
  39. From Tonton on 26 November 2007 00:44:59 WIB
    SBY tidak bisa menang di Cirebon. abiiis bolehin ekspor bahan mentah rotan sih! Perusahaan eksportir di Cirebon banyak yang tutup tuh, karyawan nya byk yg dipecat. Pengrajinna byk yang nganggur. Bagaimana mungkin Presiden bisa meloloskan dan menyetujui ekspor bahan baku? Padahal di Indonesia, sudah bisa jadi barang jadi. Tonton Taufik. www.TontonTaufik.com
  40. From cahyo achsanto on 13 December 2007 01:21:53 WIB
    ada hidup rakyat ditanganmu, goresan penamu harus kau jaga agar berpihak pada rakyat.
    sby mungkin akan terpilih lagi di pemilu 2009, tapi jangan lupa apabila Gus Dur nanti maju, gus dur-lah yang akan jadi presidenku
  41. From rony on 09 January 2008 17:38:54 WIB
    Sepertinya kita harus sepakat untuk mencari calon alternatif dan independen sejak sekarang ini..abisnya gimana yaa dulu lagi jaman Mba Mega tim ekonominya dibilang The Dream Team tp hasilnya mengecewakan rakyat..trus Presiden yg sekarang ini udah Jenderal bintang 4 dan bergelar Doktor tp setelah memerintah 3,5 tahun hasilnya juga tidak menggembirakan..jadi kesimpulannya dukung calon alternatif / independen..ya mau ga mau kita usung aja Bang Wimar jadi Presiden 2009 abisnya Bang Wimar pasti udah gemes and geregetan ngeliat negara kita kaya begini terus.
  42. From erwin K wardhana s.sos on 25 January 2008 11:55:39 WIB
    Pilih saja lagi SBY 2009 dgn catatan jgn lagi gandeng Jusup Kalla, cari yang lain WW juga boleh.......apapun yang diberikan pembantu2nya tidak membuat negeri ini jadi lebih baik emang sangat bener karena mungkin TIDAK ADA YANG BISA DIPERBAIKI DI DINI....JADI BIARKANLAH.....BEGINI TERUS...NIKMATILAH....
  43. From utami on 12 February 2008 13:53:59 WIB
    Saya akan sangat prihatin jika SBY terplih kembali. Yang saya prihatinkan bukan hanya prestasi beliau yang minim, tetapi masyarakat yang tidak mampu belajar dari pengalaman, dan tak mampu menilai apakah pilihan mereka benar atau salah. Mendongkel Pak Nurdin Khalid lewat Menpora beliau tidak berani, kok masih akan dipercaya mengurus masalah negara sekomplek ini? Untung ada AFC (Asian Football Association).
  44. From Nighthours on 29 February 2008 21:01:57 WIB
    Kok aq melihat dr semua tanggapan yg di posting diatas, sepertinya ada suatu sindrom yg saya tdk tau bahasa ilmiahnya yaitu dimana kita tidak berani melangkah,atau mencari hal2 baru. Jika dalam sepakbola,kita lbh memilih bertahan atau mepertahankan area kita sendiri,daripada utk naik dan menyerang dgn inisiatif2 dan kerjasama team.
    Dalam konteks ini,kenapa kita harus tetap bertahan utk menjagokan SBY?
    Mengapa kita tdk berani mengambil dan mencalonkan calon baru diluar dari lingkaran 4 calon presiden diatas?
    Ini bukanlah soal ujian pilihan berganda yg hanya ada pilihan a,b,c,d dan e saja kok...
    Kita bisa memilih sampai 'z",jika itu memang diharuskan dan diperlukan. jadi bukan hanya Megawati,Sutiyoso ataupun Wiranto calon presiden kita kok.
    Melalui media ini,lbh positif apabila kita bersikap netral,terbuka dan mencoba mencari calon2 presiden yg sebenernya kita tahu,tdk perlu seorang superman atau manusia serba pintar dan serba bisa.
    Kita hanya butuh seorang rakyat Indonesia yg tulus,jujur dan berani mengambil keputusan utk menjadi pemimpin Nasional.
    Maaf dalam hal ini,saya lbh condong berada di pihak independen,dalam arti saya tdk akan dan tdk harus utk mendukung calon2 yg ada,maupun mendukung SBY sendiri yg menjadi juara bertahan.
    So,mending kt mulai dgn nama,misalnya....Bung Wimar sebagai calon presiden versi perpektif,why not? ^^

    Opini saya diatas,krn saya msh optimis dgn negri ini.
    Saya yakin negri kita tercinta ini pasti ada hari yg lebih baik daripada hari kemaren.

    Tapi dari sisi pesimis saya,mungkin kita tdk perlu pusing dgn siapaun yg bakal terpilih nanti.
    Toh siapapun dia apakah itu juara bertahan SBY,atau siapapun dia....TDK AKAN MENJAMIN NEGERI INI PASTI LEBIH BAGUS DAN LEBIH BAIK!

    Pada dasarnya kita hanya bisa berdoa dan berharap,karena hanya Dia yg tahu negri ini akan menjadi apa???
    ironis bukan???
  45. From richard on 07 March 2008 13:29:53 WIB
    "SBY" itu ok juga kok. 3P yang diulas disini memang penting diperhatikan "SBY". Salah satu yang bermasalah dengan 3P disisi "SBY" dan berkaitan dengan "kita", ya jeng Roy Suryo. Lihat saja aksi bawelnya yang mengatakan kepada detik.com, bahwa "Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu,".
    Sebagai politisi, jeng Roy membahayakan dirinya sendiri, "SBY", Demokrat, dan masa depan kebebasan berpendapat di negri ini.

    NB:
    Mas Roy, generalisasi ala Anda melukai hati saya sebagai blogger. Entah blogger lainnya? What do you think? Perlukah suatu kampanye?
  46. From Abu Najwa on 23 March 2008 10:44:55 WIB
    "SBY" tetep asyik, pemilu 2009 SBY makin kuat jika mau dekat sama ulama seperti Ustadz Abu Bakar Baatsir, di dampingkan sama habibie pun .....................makin kuat dan saya yangin mereka itulah orang - orang yang loyal pada pemerintahan yang mengusung amanat rakyat dan umat
  47. From yanto on 25 March 2008 23:21:26 WIB
    Bung WW... tolong dong promosikan tokoh2 nasional yang benar2 good guys. Tokoh2 yang sekarang mencalonkan diri dan dicalonkan... gak bisa diharapkan.
  48. From Diah Pitaloka on 22 May 2008 13:43:58 WIB
    Sebenarnya SBY tidak jelek, tapi saat ini kita butuh presiden yang "luar biasa", presiden "super". Dukungan rakyat saja belum cukup, tapi harus mendapat dukungan "Tuhan".
    Sayangnya, orang yang berpotensi seperti itu tidak mungkin terlibat partai politik. Calon independent saja masih menjadi perdebatan.
    Sebaiknya kita mulai dengan pooling calon presiden, tanpa dibatasi tokoh2 yang eksis saat ini.
  49. From masdar on 04 June 2008 12:11:37 WIB
    waa....aaaah, sebenarnya dulu sudah ada presiden yang sip, kenapa hanya di beri kesempatan sebentar. Andai Gus Dur mencalonkan, saya pasti dukung 100%. Itu baru pemimpin.
  50. From ALFI on 05 June 2008 10:49:06 WIB
    saya sangat tidak setuju kalau SBY jadi presiden lagi...
    saya lebih terfokos pada bang yos........
    hidup sutiyoso......
    salam kedaulatan.......
  51. From Putri Salim on 11 October 2008 02:22:50 WIB
    Maju terus Pak SBY,gak useh takut...,Berantas terus para Koruptor sampai keakar akarnya...kalau Presidennya baru belum tentu mau teruskan perjuangan Bapak.Yakinlah Pak ,Allah pasti bersama Bapak.
  52. From Herman Bakir on 05 March 2009 21:36:50 WIB
    Saya bukan orang politik dan juga bukan sosiologi... tapi saya di sini saya justru hanya melihat dari segi yang bukan bidang saya, sosiologi hukum. Dan kesimpulannya, SBY masih kurang berani menggunakan hukum sebagai sarana untuk merekayasa masyarakat. Padahal jika dia mau, dia bisa lebih keras lagi, bukankah Presiden memiliki kekuasaan membentuk undang-undang juga, di dalam genggamannya ada Jaksa, Kepolisian dan KPK yang patuh sepenuhnya pada perintahnya. Entah apa pertimbangannya, saya merasa, bila disandingkan dengan Gus Dur, SBY masih sedikit kalah kelas. Gus Dur yang tidak melihat itu, cuma butuh waktu satu tahun, untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar, beliau dengan menggunakan Jaksa Agungnya, seperti tidak ada beban sama sekali, manakala memenjarakan banyak orang yang sangat berpengaruh di jamannya... dan lagi pula, Gus Dur lah yang telah mengangkat kemartabatan guru-guru Indonesia yang tadinya cenderung dianggap sebagai kehidupan profesi yang mengerikan, hingga menjadi pekerjaan yang sangat berkelas hari ini... tapi paling tidak, SBY bagi saya, sudah sangat menunjukkan kalau ia jauh lebih baik dari Megawati... untuk besok, sebaiknya yang muda saja, dan kalau bisa orang hukum saja, seperti halnya di Amerika, India dan Kuba... barangkali dengan begitu Indonesia akan sedikit lebih baik hukumnya. Saya termasuk orang yang percaya, bahwa kalau hukumnya baik, tentu semuanya akan baik dengan sendirinya, sebab bukankah hukum mengendalikan segalanya, bahkan sampai soal buang sampah pun, masih hukum yang mengaturnya.

« Home