Articles

Sirkus Kepresidenan 2009

Tempo
29 October 2007

Tempo, Edisi Khusus 3 Tahun SBY-JK, Kolom Politik

Wimar Witoelar

Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, email membawa informasi dari kakak saya. Dia biasa menyampaikan  bahan menarik, sebagai kakak tertua memperhatikan kebutuhan adiknya. Kali ini adiknya sedang butuh angle untuk tulisan di Tempo mengenai pemilihan presiden. Masih lama sih, 2009, tapi sudah jadi topik hangat sejak Megawati, kemudian Sutiyoso, menyatakan diri sebagai calon. Sayangnya, komentar teman-teman mengenai dua pilihan itu: 'Hmmm nda deh, tunggu pilihan yang lain.'

Datanglah informasi dari kakak saya mengenai orang berusia 36 tahun, terpilih sebagai gubernur. Sudah muda, minoritas lagi, keturunan India. Sayang bukan gubernur di Indonesia, tapi di Amerika Serikat. Jadi jeles (jealous) juga nih. Kapan kita mau mulai menghentikan daur ulang tokoh gagal? Kenapa tidak masuk 'recycling bin'? Atau sekalian reformat sistem politik kita? Reformasi 1998 melahirkan istilah, konsep, keinginan, mekanisme demokrasi, tapi tidak melahirkan tokoh baru. Seperti buat kesebelasan dengan pemain kejuaraan PSSI sepuluh tahun yang lalu, bagaimana mau menang?

Dulu, Sutan Sjahrir dan Anak Agung Gde Agung masih muda sekali waktu jadi Perdana Menteri dan Menteri. Soekarno dan Soeharto juga belum setua capres sekarang waktu jadi Presiden. Soekarno jelas muda, Soeharto di usia awal 40an mengambil alih kepemimpinan Republik Indonesia. Sama seperti Kennedy, bedanya Kennedy bertahan 1.000 hari sedangkan Soeharto 11.760 hari. Tapi setelah Soeharto, semuanya lebih tua. Nda apa-apa sih, karena makin tua orang itu belum tentu semakin bodoh (kecuali penulis ini?). Tapi kalau yang tua tidak diganti yang muda, maka pada saat yang muda menggantikan yang tua, dia sudah tua juga, bisa-bisa langsung pensiun. Misalnya saja Pangeran Charles yang sekarang sudah berusia 58 years (lahir 14 November 1948, sebentar lagi ulang tahun tuh), belum saja menggantikan ibunya yang berusia 81 tahun. Memang mereka turunan yang tahan usia lanjut. Ibunya Ratu Elizabeth II yang namanya Ratu Elizabeth I, hidup sehat sampaki 101 tahun. Kalau ini terjadi pada penulis, maka dia akan hidup 41 tahun lagi. Tapi itu soal lain.

What is the message? The message is that leadership needs rejuvenation, peremajaan, penyegaran. Sebetulnya usia lanjut tidak membuat orang jadi bodoh, malah sering membuat orang lebih pandai. Hanya saja, kepandaian berpolitik di Indonesia sering mengarah pada hidup sesat. Makin pandai makin menjalankan dan membuka jalan untuk korupsi. Tokoh politik senior pandai membangun dana politik, naik ke jabatan lebih tinggi, dari lurah jadi walikota, gubernur, lalu presiden. Yang sudah pernah jadi presiden, mentok dan menjadi calon presiden lagi.

Sebetulnya tidak betul bahwa kita harus mencari calon presiden dari golongan minoritas, atau harus mendahulukan yang muda daripada yang tua. Yang namanya pemilihan itu tidak perlu banyak syarat, yang penting ada pilihan. Jangan semuanya korup, semuanya menjerumuskan rakyat. Harus ada good guy, jangan semuanya bad guy. Wajar saja kalau pemilihan presiden itu seperti sirkus. Tapi isinya jangan binatang buas saja, harus ada artis dan tokoh-tokoh inspiratif.

Dalam kenyataan menuju pemilihan presiden 2007, susah sekali menjaring calon yang bisa memberi inspirasi. Kebanyakan tokoh publik malah mengecewakan masayarakat, tapi mereka  maju dengan uang dan organisasi. Begitu mudahnya menjadi calon sehingga dalam survey pilihan publik, banyak calon yang maju dengan dukungan sangat kecil. Pemilihan presiden dilakukan secara demokratis di banyak negara. Biasanya sistem politik yang berjalan di nehara-negara itu kira-kira sejalan dengan budaya politik yang sudah tertanam lama. Di Indonesia, kini mekanisme demokrasi sudah sangat canggih, tapi dasarnya adalah asumsi akan budaya politik mapan. Dalam kenyataan di Indonesia,  sebagian besar masyarakat Indonesia hidup dalam kultur politik yang jauh dari penerimaan nilai-nilai demokratis. Akibatnya, walaupun sistem pemilihan kita demokratis, tapi sangat mungkin orang yang menang pemil;u sama sekali tidak punya kebiasaan untuk bersikap demokratis.

Misalnya, bisa terjadi seorang calon gubernur cepat marah kalau ditanya oleh wartawan. Jadi ia menghindari pertanyaan, bukan menyambutnya sebagai kesempatan mempromosikan diri. Aneh juga, pemilih mau memberikan suara kepada orang yang sangat tidak jelas rencananya atau bahkan pikirannya mengenai suatu masalah. Di Amerika Serikat sekarang ini ada Stephen Colbert yang menjadi calon presiden. Dia adalah tokoh komedi dari Central Comedy dan Colbert News Report, tapi dalam wawancara televisi yang tidak sambut dengan semangat, dia bisa lebih terfokus pesannya dibandingkan dengan calon yang serius. Memang diperlukan suatu rasa humor tinggi untuk bisa menjalankan tanggung jawab kenegaraan dengan kewarasan bersikapan dan rendah hati terhadap dirinya. Kalau tidak, kekuasaan mengandung racun yang membuat orang serius menjadi kejam dan mengejar obsesi kekayaan dan kekuasaan mutlak.

Satu dua calon yang tidak masuk akal, tidak apa-apa, asal dia orang baik yang bisa menertawakan dirinya sendiri. Jangan sampai dia merasa diri serius, tapi ditertawakan orang. Bisa-bisa muncul keadaan yang tidak lucu dimana kekuasaan dan uang dipakai menghilangkan rasa minder politikus yang tidak punya konsep.

*Tulisan ini adalah versi asli dari tulisan yang muncul dalam Kolom Politik Majalah Tempo edisi 29 Okt - 4 Nov 2007

Print article only

43 Comments:

  1. From AG. Syam on 29 October 2007 12:09:21 WIB
    Sudahlah, bung WW saja yang maju. Tinggal minta restu dari mantan Boss (Gus Dur) aja kok. Kalau restu sudah didapat, dukungan pasti mengalir cepat...

    Wimar For President...kayaknya cocok juga tuh...
  2. From Intox on 29 October 2007 13:18:26 WIB
    Jangan sampai Wimar menjadi presiden atau wakil presiden. Justru semua yg masih berpikir dan benar2 menginginkan Indonesia menjadi negara yg progresif, harus selalu menjadi oposisi terhadap pemerintah (demi adanya constant check and balance).

    Sejarah menunjukan, bahwa seorang presiden (dan biasanya wakilnya juga) adalah hanya pion (kalo bahasa baiknya "pembawa mandat"). Permasalahannya, terlepas dari apa yg tertulis di konstitusi, siapakah yg sebenarnya menggerakan pion2 tersebut? Rakyat? Atau bisnis2 besar? Kita sudah tau jawabannya.

    Wimar yg tulisannya mudah dicerna dan kena ke semua masyarakat, yang bisa menggerakan hati kawan2, dan (sepertinya) mampu memobilisasi aktivitas2, sangat disayangkan kalo dijadikan bibir pemerintah.

    OT: Sayang sekali kita masih berada di cengkraman orang2 dan politik orde baru.
  3. From Yudha on 29 October 2007 14:55:57 WIB
    Yang pasti sih, Gak Mungkin WW jadi Presiden, bertolak belakang dengan pernyataanya dong, Katanya yg muda yg harus jadi pemimpin :)

    ps :
    Maaf Bang Wimar bukan maksud menjadikan Anda paling tua ato seangkatan capres yang sekarang loh :))
  4. From caesar on 29 October 2007 15:13:46 WIB
    Menurut saya klo capres Indonesia usia udah tua2 semua, para calon tsb pasti lebih mikirin gmana caranya menikmati masa tua mereka, bukannya memikirkan kesejahteraan rakyat.

    Lagipula, sepertinya para capres bukan melihat posisi presiden sebagai suatu tantangan pekerjaan, melainkan sebuah kesempatan utk melakukan hal2 yg tdk dapat mereka lakukan sebelumnya (atau bahkan memperbanyak harta utk anak cucu mereka nantinya).

    Bagi saya capres yg paling baik itu, ya ga harus usianya muda sih, tp yg penting capres tsb sensitif terhadap rakyat, tahu apa yg rakyat inginkan, dan tentunya cerdas (in a poltical way, of course).

    Kandidat saya hanya 2 orang, ya klo ga Gus Dur ya WW.
    Ga ada salahnya kan WW jd capres? Biar WW bisa memberi contoh bagaimana caranya menjadi pemimpin yg baik di dunia "sirkus politik" Indonesia.
  5. From Jojo on 29 October 2007 17:10:16 WIB
    Urutan Presiden RI versi Joyoboyo (NOTONAGORO):
    NO : sukarNO (2 huruf karena lama menjabat)
    TO : suharTO (2 huruf juga karena lebih lama menjabat)
    N : baharuddiN jusuf habibie
    A : Abdurahman wahid
    G : meGawati sukarnoputri
    O : susilO bambang yudhoyonO
    R : wimaR witulaR (ada kans lho!!!)
    O : belum tau...
  6. From Gultom on 29 October 2007 23:47:54 WIB
    SALAM Damai

    Boleh Juga kalo kalangan muda berprestasi yang maju jadi presiden ya mesti dipolling dari pesta blogger tuh


    dan didampingi oleh WW sebagai komisaris perusahaan.


    Peace
  7. From aze bizesha on 30 October 2007 09:35:20 WIB
    salam hangat

    siapapun presidennya tidak masalah. asalkan benar-benar memnetingkan bangsanya bukan dirinya. dan yang lebih penting lagi adalah orang-orang dibelakangnya. kalo berkualitas ya pemimpinnya juga berkualitas. saeperti kata WW, 3P (pendamping, penasihat, dan pendukung) 2 yang awal yang lebih penting untuk kualitasnya.
  8. From sandy bogor on 30 October 2007 11:31:07 WIB
    urusan usia bukan masalah buat maju jadi presiden..
    yg penting punya potensi untuk memimpin bangsa yang besar ini..jangan hanya karena dianggap sudah tua jadi gak bisa jadi presiden..bukan begitu bung WW..??
  9. From Naim Muhammad on 30 October 2007 20:25:55 WIB
    Bung Wimar ini sebenarnya cocok jadi presiden. Pas banget deh.
    Kalo Enda jadi bapak blogger indonesia, maka Bung WW jadi presiden Blogger Indonesia. Bebas dari korupsi dan kepentingan. hehehe. Bagaimana bung ?
  10. From andi miswar on 30 October 2007 23:11:48 WIB
    Bung Wimar jadi presiden? why not! Tapi bung punya partai apa? trus bung Wimar punya duit seberapa banyak? Tau khan, untuk jadi Gubenur DKI aja kudu punya rp.200 M.
    Duh, aku pikir bung kita ini jadi president state of blogger aja deh. Aku pikir bung Wimar lebih enjoy dgn itu. Benar ga bung? :D
  11. From Arham on 30 October 2007 23:27:59 WIB
    tul om kalo calon itu yang bisa ngasih pilihan ke kita dimana dianya jadi inspirasi yang terbaik untuk bangsa ini.. bukan soal karisma padahal kharisma ortunya, yang gawat kalo sampe ada yang modal kumis...

    kalo ahli itu sih urusan staff, kalo pressiden itu urusan menjaga comitment untuk kemajuan bangsa, dan menjadi inspirasi bagi bangsa ini

    Arham
    http://Road-entrepreneur.com
  12. From debbie on 31 October 2007 10:53:49 WIB
    Any comment tentang Fadel Mohammad? He's pretty successful di Gorontalo, isn't he???
  13. From toim the shinigami on 31 October 2007 11:06:09 WIB
    wah, kayaknya klo minta calon baru apalagi yg muda, mimpi aja kali yeee :P
    Soalnya kan mirip ama iklan rokok terkenal, yang muda belon boleh bicara.
  14. From Makki on 31 October 2007 11:09:13 WIB
    setuju kalo emang udah waktunya good guys jadi pemimpin,
    cuman bukannya 'goodguys (always) finished last'?
    gimana dong....?? :)

    gimana kalo 'tough guy'?
  15. From sawung_kampret on 31 October 2007 11:44:34 WIB
    Oom WM, kenapa musti masuk recycle bin dulu dan ga langsung shift+Delete aja?
    Recycle bin masih bisa muncul lagi loh dengan cara di restore, kalo shift+Delete langsung ilang ... hehehe..

    Kalo menurut saya sih, orang2 mantan pejabat dulu (seperti Mega) itu sedang berada di dalam recycle bin dan dalam proses restore (ingin muncul dengan cara mencalonkan diri lagi)....
  16. From thea on 31 October 2007 13:20:35 WIB
    Setuju...butuh wajah baru. Bosen liat stok lama, apalagi yang udah daur ulang dari kemaren.
  17. From Amalkan Nasution on 31 October 2007 15:47:13 WIB
    Ini yang saya maksud-kan politik kita mati..
    Ga ada yang namanya re generasi. Selalu aja yang keluar nama nama yang menurut saya USANG...
    Seharusnya dengan kehidupan politik yang sudah berjalan sekarang ini. Rakyat Indonesia yang tercinta ini makin pinter. Pada terbuka semua aspirasi politiknya..
    Jangan sampai membeli kucing dalam karung....



    AMALKAN NASUTION
    081380997228
    amalkann@yahoo.com
  18. From Foolan on 31 October 2007 17:26:36 WIB
    Saya tidak mempermasalahkan calon independen. Saya hanya tidak setuju calon karbitan. Sebelum jadi karyawan aja, kita jalanin trainee, jadi karyawan mengalami promosi merit system secara bertahap, ditempatkan di cabang sana-sini baru masuk HQ jadi Bos, Kalau tidak lewat usia pensiun :). Itulah kawah candradimuka / penggemblengan sebelum diyakini bisa memimpin.

    Nah, analogi yang sama diterapkan bagi Pemimpin Negara. Pertama jadi pemimpin parpol atau orang yang disegani (bukan ditakuti). Suatu lingkungan yang homogen (mengayomi orang yang sama partainya).

    Kedua bisa jadi Gubernur / Menteri / Lembaga Negara mengayomi lingkungan termasuk dari luar parpolnya. Tugas makin menarik dan berat.

    Ketiga menjadi pemimpin Semuanya jadi Big Bos / Presiden / Perdana Menteri.

    Level jabatan di atas hanya ilustrasi saja (andaikan saja tiap level pimpinan negara/partikelir ada skornya), jadi kita menilai berdasar kredit / skor / sks yang dicapai dari nol hingga saat ini. Intinya, saya yakin, Kepemimpinan tidak akan Berhasil, kalau prosesnya karbitan tanpa melalui candradimuka yang bertahap dan benar.

    Bayangkan saja, Anak Bos baru Lulus kuliah di LN disuruh Bokapnya mimpin HQ. Tanpa mengenal seluk beluk cabang-cabang dan proses kepemimpinan yang berlaku dan tanpa dukungan vice direktur, GM, Mgr, saya yakin, haqul yakin, alamat ambruk itu usaha bokap. Koq ngelantur ya, ya sudah kalau tidak berkenan, untuk konsumsi admin saja.


  19. From Arham on 31 October 2007 20:10:11 WIB
    Gmn kalo om WW kasih saran supaya para calonnya harus dibatasi umur , umm menurut sya knp ngak coba generasi muda dengan umur max : 39 jadi saat masih jadi pres. masih cukup muda dikit.

    ato bagaimana kalo sang calon harus punya blog yang dikelola sendiri dan ini wajib, sekaligus sebagai sarana langsung ke masyarakat dibanding dengan website yang static content for a while moment.

    http://road-entrepreneur.com/
  20. From Yudin on 31 October 2007 21:05:09 WIB
    Saya setuju dengan pemikirannya WW. Kaum Muda saatnya diberi kesempatan. Namun, sebaliknya kaum muda harus sowan kepada golongan tua. Kaum muda penggerak, maka golongan tua mendorong dari belakang. WW sebaiknya menjadi golongan yang kedua (ma'af: maksudnya golongan tua) yang mencurahkan pikiran dan dukungannya kepada kaum muda.
  21. From timothy i malachi on 01 November 2007 00:44:18 WIB
    Hemm masih belum ada gambaran orang muda mana yg bisa menarik simpati rakyat banyak....
  22. From febianto on 01 November 2007 09:18:55 WIB
    @foolan

    presiden bukan jabatan karir......;)))
  23. From Ardian on 01 November 2007 19:00:09 WIB
    pak Wimar, kalo yang tua mo maju silahkeun tapi harus figur yang belum pernah ikut pilpres 2009.....yang muda lebih baik jadi wapres soalnya bangsa kita mungkin belum waktunya dan belum siap dipimpin oleh dua pemuda.....
  24. From handika aditya on 01 November 2007 20:50:31 WIB
    yang muda bilang, yang tua terlalu banyak pertimbangan (ga cepat dan tanggap).

    yang tua nge bales, yang muda terlalu cepet ambil keputusan (ga pake mikir)

    tapi seperti yg om WW bilang, kita harus optimis!!! mau yg muda atau tua, yg penting punya visi, berani & ga korup! mudah2an pemilu 2009 ga seperti pilkada DKI, kalau iya, saya golput ah... ;p

    om WW semangat terus ya!!!
  25. From monang on 01 November 2007 21:59:53 WIB
    kenapa tidak jika orang2 muda maju sebagai kandidat capres2009, di Indonesia masih banyak orang2 muda yang mempunyai kemampuan yang dapat bersaing dengan orang2 tua, kasih kesempatan yang muda sebagai pemimpin bangsa!

    Lam kenaL!
  26. From Foolan on 03 November 2007 01:43:16 WIB
    @febiyanto
    karir=kaderisasi di Ormas / Parpol. Intinya tetap nggak karbitan, punya track record yang sahih. Gimana punya track dan rekor bila munculnya ujug-ujug.
  27. From toto on 03 November 2007 11:31:35 WIB
    Yang muda jadi presiden saja, caranya:
    Dengan mengadakan Presiden Idol saja... persyaratan umur 21 s/d 40 tahun. Tidak usah Pemilu yang menghabiskan hampir 50 triliun. Mendingan uang pemilu untuk membuat perusahaan/badan usaha saja, sehingga mengurangi pengangguran.
    Toh masyarakat indonesia itu, mayoritas memilih presidennya berdasarkan yang mereka "suka/senangi" saja, tidak banyak pertimbangan.
    Dengan "Presiden Idol", biayanya sangat murah dan hasilnya bisa cepat, juga pasti banyak sponsornya sehingga penyelenggaranya bisa untung banyak... (meningkatkan PNBP lho)..
    Sepengetahuan kami, penyelenggaraan kontes idol atau yang lain seperti di TV, tidak menuai banyak protes dari kontestan/pendukungnya, tidak seperti penyelengaraan Pemilu seperti biasanya.
    Gimana Om WW mau Ikutan jadi candidate Presiden Idol??? Kami siap nyelenggarakan.. Mohon dukungan dan doanya, Matur Nuwun
  28. From bowie on 03 November 2007 11:55:14 WIB
    kita bikin konvensi pemuda calon presiden yukk..
    trus nanti yang menang kita jadikan calon ndependen dengan dukungan seuruh kaum muda.

    bagaimana rekan2??
    kl emang tiak feasible tidak perlu dipikrkan..
  29. From zamroni on 03 November 2007 13:21:59 WIB
    setuju kalo artis atau tokoh saja yg jd capres;

    RI, kan, punya celebritis+komedian yang handal dlm memikirkan rakyat (Gus Dur), jg tokoh nasional "bersih" yg pinter loncat sana-sini untuk nyelamatin rakyat (Mas Amien)..
    emang udah tua, seh! tp semangat & pemikiran mereka masih "perjaka"..
  30. From inot on 03 November 2007 14:40:15 WIB
    presiden baru ?? wah percuma kalau tiap 5 tahun di ganti karena INDONESIA tidak mudah untuk lebih baik dari sekarang hanya dalam kurun waktu 5 tahun... tapi semua terpulang kepada pribadi presiden terpilih nantinya karena jika punya komitmen memajukan bangsa dan bukan memperkaya diri sendiri saya rasa INDONESIA bisa lebih baik... i think SBY-JK masih layak di kasih kesempatan 5 tahun ke depan sambil mempersiapkan calon dari golongan muda yang tidak ikut2an seperti golong tua sekarang :P
  31. From dedymm on 03 November 2007 20:04:28 WIB
    Sepertinya utk Pilpres 2009 yg msh aga' lama itu, mmerlukan sinergi lintas generasi. Namun padupadanan capres bukan lantas yang tidak berkualitas. Merunut pada survei SBY-JK, menurun popularitasnya sedangkan formasi ini paling tinggi diantara yg ada. Artinya kualitas kepemimpinan nasional mulai menurun secara umum. Adakah gejala ini berlangsung terus? Kang Wimar, tentu punya formula ampuh untuk meresponnya. Termasuk kesalutan sy pada artikel diatas, sampai lama berkuasa Soeharto pun detail (jarang terpikirkan kolomnis ulung lainnya): 11.760 hari. Salam demokrasi!
  32. From Erwin on 04 November 2007 19:32:52 WIB
    qoute dari yang sebelummnya

    Urutan Presiden RI versi Joyoboyo (NOTONAGORO):
    NO : sukarNO (2 huruf karena lama menjabat)
    TO : suharTO (2 huruf juga karena lebih lama menjabat)
    N : baharuddiN jusuf habibie
    A : Abdurahman wahid
    G : meGawati sukarnoputri
    O : susilO bambang yudhoyonO
    R : wimaR witulaR (ada kans lho!!!)
    O : belum tau...

    untuk R mungkin saya kasih sebuah nama
    Ryamijard Ryacudu... Orang yang tegas, dan punya record yang baik sebenarnya:)
  33. From EwiNk on 09 November 2007 08:15:15 WIB
    Apakah begitu sulitnya mencari seorang Presiden bahkan untuk Calon Presiden sekalipun di negeri ini, dari 200 juta lebih penduduk Indonesia masa tidak ada orang yang berpikiran
    revolisioner???

    Indonesia butuh orang-orang seperti seperti Ahmadinejad, Castro atu Chavez, orang-orang yang mampu melawan kekuatan Mayoritas!!!
  34. From anto on 10 November 2007 08:57:58 WIB
    perspektif saya:
    1. bilamana jabatan presiden sebagai suatu pekerjaan.
    2. bilamana jabatan presiden sebagai suatu tanggung jawab moral.

  35. From balidreamhome on 12 November 2007 16:05:40 WIB
    he he he, namanya juga sirkus om...ya gitu deh, jungkir balik aja, muter terus... :-)
  36. From Bientono Soedjito on 13 November 2007 12:39:59 WIB
    Kayanya saya adalah salah satu dari orang Indonesia yang paling pesimis mengenai siapa calon presiden yang paling pantas dan layak untuk dipilih menjadi presiden atau pemimpin dari Negara Indonesia yang kita cintai ini. Soalnya semua calon yang bermunculan sangat tidak meyakinkan dan tidak memiliki reputasi yang sudah terbukti memihak kepada rakyat. Cuman bisa omdo dikala berkampanye tapi setelah terpilih tidak bisa membuktikan program-2 yang dilampanyekan. Menurut saya SBY memang termasuk salah satu presiden yang paling jujur dan memperhatikan kepentingan rakyatnya akan tetapi sayangnya beliau hanya seorang diri dan tidak didukung oleh para pembantunya sehingga perintah-2-nya banyak yang berhenti ditengah jalan. Seharusnya beliau memiliki keberanian seperti Gus Dur yang berani menindak dan memecat kapan saja para pembantu yang dianggap tidak mengikuti instruksinya. Sepertinya rakyat Indonesia harus bersabar menunggu munculnya seorang pemimpin yang berasal dari rakyat, memihak rakyat dan membawa kepentingan rakyat bukan kepentingan kelompoknya saja. Mengenai waktunya mungkin hanya Tuhanlah yang mengetahui seperti apa yang tertulis di Surat Yaa sin yang mengatakan bahwa hanya Tuhanlah yang mengetahui artinya. Hanya saja kita harus berdoa semoga kemunculan pemimpin yang diberikan Tuhan tersebut janganlah melalui suatu peristiwa yang tidak kita inginkan bersama. Tapi kalau itu sudah merupakan kehendak Tuhan kita sebagai manusia tidak akan bisa berbuat apa-apa.
  37. From windede on 15 November 2007 10:21:15 WIB
    kalau perlu figur yang punya pengalaman, kita pilih aja pak harto, dijamin deh pengalamannya hahaha...


    btw, tulisan asli pak wimar ini jauh lebih gurih dibandingkan yang terbit di tempo...


    www.windede.com
  38. From Rasya on 27 November 2007 15:32:44 WIB
    Urutan Presiden RI versi Joyoboyo (NOTONAGORO):
    NO : sukarNO (2 huruf karena lama menjabat)
    TO : suharTO (2 huruf juga karena lebih lama menjabat)
    N : baharuddiN jusuf habibie
    A : Abdurahman wahid
    G : meGawati sukarnoputri
    O : susilO bambang yudhoyonO
    R : Raja Jawa
    O : belum tau...

    Saya kira raja jawa cukup santun untuk bisa jadi pemimpin di negri ini. aku dukung beliau...
  39. From defrianto on 16 December 2007 21:31:39 WIB
    pemilihan capres n wacapres bukan permainan... kita butuh yang dapat membangun INDONESIA,jadi kalo mr.WM,ntar penduduk INDONESIA jadi disuruh blogger lagi!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
  40. From Martha on 13 January 2008 09:39:01 WIB
    The impression that I've got after 1998 is that we (both older generation an younger generation) are slow in building our confidence to pursue a better Indonesia. Meanwhile time is really the only thing we've got. To be honest, I think we have nothing to loose by choosing a completely new face to lead Indonesian government. I'm bored with the same old same old, aren't you?
  41. From Erwin K Wardhana S.Sos on 25 January 2008 11:16:04 WIB
    Bung WW,
    Piye sich membedakan Bad Guy dgn Good Guy.......???????, anekdot dari seorang pejabat di Depatement Keuangan RI, 1967 - 1998 - 32 tahun masa orde baru, uang negara yang dikorupsi 32 Trilyun Rupiah......2001 - 2004 , Presiden ke 5 RI, presiden ke 3 di era reformasi dan juga presiden wanita pertama RI, 4 tahun memerintah , sama 32 Trilyun uang negara raib dikorupsi...............penguasa 32 tahun sekarang sakit tidak berdaya di rumah sakit....penguasa 4 tahun asyik bersafari menyambangi wong cilik di berbagai pelosok....................................SING JELAS , OJOK KEAKEHAN BERHARAP ONOK TOKOH ENYAR, TOKOH SING SEGER WARAS NYALONO DADI PRESIDEN DI INDONESIA...WIS JARNO AE....ENGKU KETOK SOPO SING ORA DUWE ISIN....yang jelas jgn banyak berharap ada tokoh baru yg bawa pembaharuan menyalonkan diri jado presiden RI, biar saja nanti juga kelihatan siapa tokoh yang tidak punya rasa malu...toh system atau konsep yang ada di bumu Indonesia ini canggih-canggih hingga bisa diutak atik seenake udel.....
  42. From bayu sutarto (sukma negara) on 05 September 2008 18:21:44 WIB
    Indonesia oh Indonesia generasi muda bangsa pada kemana ? jangan hanya bisa berkomentar ataupun membuat isu publik tapi membuat opini publik bahwa pemimpin yang berhak menjadi pemimpin negeri ini harus yang sadar terhadap dirinya bahwa ia perlu untuk dapat memimpin rakyatnya yang sedang menghadapi degradasi moral mental dan kapitalisme yang kini menghambat perekonomian bangsa saat ini. duduk bersama bersilahturahmi dan mencari solusi jalan keluar dari berbagai perspektif kemudian kita bersama melaksanakannya dengan baik. itu saya rasa jalan yang tepat. Para motivator yang ulung bangkitkan rasa cinta tanah air ini agar selalu terjaga dan terpelihara dari tangan-tangan kotor. terus berjuang
  43. From il kisdarjono on 05 December 2008 12:00:28 WIB
    Masih tentang Calon Presiden yang bagaimana yang kita inginkan. Saya melihatnya begini : Kita masih dalam transisi dari keadaan feodalistik menuju demokratik. Sejauh mana persisnya kita telah meninggalkan pikiran feodalistik dan sejauh mana kita baru akan sampai ke pikiran demokratik, saya tidak tahu. Dalam keadaan transisi seperti itu, di mana keadaannya belum \"settled\", belum mencapai \"steady-state\", banyak orang memberi bobot tinggi pada pribadi yang karismatik. Ini tentu tidak \"salah\". Dalam keadaan perang kemerdekaan, Bung Karno yang karismatik itu lalu tampil. Dalam keadaan \"krisis 1965\", Pak Harto yang karismatik itu juga tampil. Dalam keadaan eforia reformasi, Pak Habibie muncul by default, Gus Dur dan Bu Mega muncul \"karena entah mengapa\", dan Pak SBY muncul karena dipilih langsung. Dalam pikiran demokratis, saya pikir, tidak perlu mencari-cari pribadi karismatik (kalau ternyata gampang mencarinya, ya silakan saja). Kalau saya cenderung untuk memikirkan bagaimana \"menghimpun\" banyak orang, banyak kearifan, tetapi juga banyak kepentingan (kan oleh rakyat dan untuk rakyat, kita tidak dapat mengharapkan setiap orang karismatik dan se-kepentingan)Saya pikir, kita perlu segera menyudahi keadaan transisi, dengan membuatnya segera menjadi settled, me-rutinisasi keadaan. Dalam keadaan settled, \"karisma seorang\" menjadi kurang penting, digantikan oleh \"himpunan\" banyak \"pribadi biasa\".

« Home