Articles

Bisakah orang biasa bantu Greenpeace melawan perusakan hutan?

Perspektif Online
04 November 2007

Oleh: Wimar Witoelar dan Lidya Wangsa

Kelihatannya serem juga. Greenpeace kita kenal melalui kapal kecil 'Rainbow Warrior' yang mengejar-ngejar kapal besar di laut sebagai symbol perlawanan terhadap kemapanan kaum perusak lingkungan alam. Sampai-sampai 'Rainbow Warrior' yang pertama meledak oleh bom ketika sedang memprotes ledakan bom nuklir Perancis di Lautan Pasifik. Kata orang, pemboman itu bukan oleh Al Qaedah tapi oleh intel   Perancis. Radikal dan asyik, itu citra Greenpeace. Melawan segala macam kemapanan.

 

 

Jadi waktu WW diundang oleh Greenpeace untuk ikut talk show di Monas, IMX agak ragu-ragu menerima.  Talk show itu dalam rangka 'Forest Defenders Camp' y ang diluncurkan  di Riau sebagai bagian dari upaya internasional untuk menyelamatkan hutan dan iklim, menjelang diadakannya negosiasi iklim Protokol Kyoto di Bali bulan Desember nanti. Semua ini dilaporkan oleh Lidya Wangsa, pemenang pertama Blogger Pendatang Baru pada Pesta Blogger 2007 baru-baru ini. Baca posting "Semua Bisa Jadi Satria Pelangi" di blognya Lidya.

Wah serem sekali, menyelamatkan hutan dan iklim, menghadapi Protokol Kyoto di Bali, bersama dengan keturunan pencetus 'Rainbow Warrior'. Apa nda minder Orang Biasa yang biasanya Sabtu sore milih tempat nongkrong, nonton bareng atau curhat di warnet?

 

Pameran foto mengenai keganasan perusakan hutan

 

"Nda, nda minder," begitu kesimpulan miting di meja rapat IMX di lantai 2 (yang sekaligus merangkap meja makan, meja wawancara dan meja gosip sambil ngumpulin kliping koran).   Mengutip semboyan IMX ciptaan Rizka Nurlita yang sering dikumandangkan Melda Wita, IMX is "without limitation."

Kita tanya Dina Purita, media professional asal Filipina yang menikah dengan fotografer kondang Fikri Jufri (pernikahannya dihadiri WW), apa nggak salah? WW bukan ahli hutan, walaupun tampangnya cocok di hutan. "Oh no," kata Dina kepada EI komandan IMX, "I am sure he can do it, as long as he comes."

 Dengan penurunan ekspektasi macam begitu, WW semangat datang sebagai Orang Biasa dengan rombongan serdadu IMX yang belum lama menang pertempuran di Pesta Blogger 2007. Hujan rintik-rintik, suasana suram, Dina yang kelelahan setelah tiga hari tidak tidur mengurus FDC Greenpeace, menambah dramatis hari pertemuan untuk penyelamatan hutan dan iklim.

 

IMXers dengan volunteer Greenpeace

 

Alam yang suram diimbangi oleh kehangatan suasana, good guys semua kumpul di rumah tenda di tengah Monas. Crew Monas ada yang belum pernah ke Monas sekalian moto-moto.

Pesan orang biasa disampaikan dalam talk show yang dipandu dengan kompeten oleh Olga Lydia.   Menurut laporan Lidya Wangsa, "Hadir sebagai nara sumber talk show, Wimar Witoelar dan Leony, bintang sinetron sekaligus penyanyi yang juga menjadi sahabat Greenpeace. Dipandu oleh Olga Lydia, talk show mengalir dengan hangat dan penuh makna, meski diwarnai dengan gerimis yang tak kunjung reda."

 

 

WW menggunakan prinsip sederhana, jangan pernah merasa tidak bisa berbuat, sebab sekecil apapun kemampuan kita, upaya kita bisa mencuptakan energi buat orang lain yang lebih mampu berbuat. Kalau kita cuman bisa ngomong, gunakanlah kemampuan itu sebab orang lain belum tentu bisa ngomong.

Laporan Lidya selanjutnya:

 "Saya tidak paham betul soal hutan, tapi saya peduli akan hutan, makanya saya ada di sini mendukung acara ini," ujar Wimar Witoelar. WW juga menjelaskan bahwa biasanya orang yang peduli akan masalah hutan dan lingkungan hidup jarang yang bersinggungan dengan kekuasaan. Akibatnya mereka menjadi kelompok minoritas yang harus bekerja keras untuk meraih dukungan khalayak ramai. Ditambah lagi isu lingkungan hidup kurang menarik perhatian masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya, para aktivis lingkungan hidup harus pandai-pandai menggunakan media untuk menyuarakan aksinya. "Melalui media, kita bisa menciptakan mainstream di tengah masyarakat akan pentingnya hutan," ujar WW.

Leony yang hadir dengan menggunakan T-shirt khusus dari Greenpeace mengiyakan pendapat dari WW. "Memang, orang-orang sekarang agak kurang peduli pada lingkungan, jadi tugas kita semua untuk mulai menyebarluaskan masalah lingkungan ini, khususnya tentang hutan kita," ujar mantan penyanyi cilik ini kalem.

Perwakilan dari Greenpeace, Bustar Maitar, juga menjelaskan bahwa FDC ini merupakan upaya internasional yang dilakukan Greenpeace untuk melindungi sisa hutan di dunia dan perubahan iklim global yang diharapkan nantinya akan menjadi pressure bagi negosiasi iklim Protokol Kyoto di Bali, Desember mendatang. "Kami saat ini mengajukan petisi kepada pemerintah dan sedang menggalang dukungan dari mereka yang peduli kepada hutan di Indonesia, yaitu dengan menandatangani petisi* tersebut," jelas juru kampanye hutan Greenpeace ini.

 

foto lain bisa di klik disini

 

Secara singkat isi petisi tersebut berisikan mengenai desakan kepada pemerintah untuk mengambil langkah konkret untuk menghentikan penebangan hutan dalam skala besar, menghentikan konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, menghentikan kebakaran hutan serta rehabilitasi hutan yang sudah rusak.

Sore itu, Bustar juga mendorong setiap orang yang peduli akan hutan untuk menandatangani petisi sebagai wujud dukungan terhadap upaya penyelamatan hutan. Hingga saat ini sudah terkumpul sekitar 23 ribu tanda tangan asli, dimana target yang ingin dicapai adalah 1 juta dukungan.

Baca juga:

Print article only

53 Comments:

  1. From thea on 05 November 2007 17:03:29 WIB
    Jelas bisa dong. Kita bisa bantu dengan nanam satu pohon, ga buang sampah sembarangan, menghemat listrik, atau mengurangi pemakaian yang mengandung CFC. so, let make earth green and healthy!!!
  2. From andi miswar on 05 November 2007 17:54:58 WIB
    kita akan lebih memahami betapa pentingnya menjaga kelestarian hutan, kalo kita pernah merasakan dampaknya.
    Kami di daerah--dimana hutan dieksploitasi untuk dalil ndongkrak PAD-- jadi bulan2an keganasan alam yang tak terkendali.
    Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati..
    Tapi cukong2 mana pernah peduli???...

    Ayoo lawan pembalakan liar!!!
    "Selemah-lemahnya iman adalah posting di blog"

    benar ga om WW?

  3. From bocah gemblung on 05 November 2007 19:04:25 WIB
    Jawabnya bisa, sangat bisa, bahkan wajib, dan malah menjadi hak kita untuk ikut melawan perusakan hutan. Seperti halnya kita punya hak mempunyai suara dalam pemilu.

    Kita, bangsa manusia, belumlah merdeka kalau masih tinggal di lingkungan alam yang masih terjajah oleh kerakusan dan perilaku kita yang tidak bertanggung jawab.

    Alam, dengan potensi energinya yang luar biasa pun punya kejutan yang akan menghancurkan habitat hidup manusia, dan menhilangkan nyawa manusia sekaligus.
    Mata kita selalu dininabobokan dengan iming-iming keuntungan uang yang diperoleh dari hasil hutan. Padahal itu cuma keuntungan semu dan sesaat, karena anak cucu kita akan kurus kering dihantam gelombang pembalasan alam.
    Apalagi pemerintahan kita sejak eyang suharto sampai sby-jk saat ini, dipenuhi oleh oknum pedagang dan penjual negara berkedok investasi. Maka lengkaplah skenario pembutaan mata, penulian telinga dan penutupan kesadaran pikiran masyarakat akan kenyataan kehancuran alam lingkungan kita.

    Terima kasih Pak WW.
  4. From frans on 05 November 2007 19:57:07 WIB
    menurut seorg teman yg estate management gedung perkantoran.. dalam 1 hari pengunjung terlebih pegawai tenant bisa menghabiskan 1 truk container kertas tisu gulungan hanya dalam 2-4 hari.. lebih2 kalo lagi hujan...
    nah, kalo sebulan bisa berapa kontainer?
    dalam 1 kota ada berapa gedung? dan berapa lembar yg anda pakai tiap hari???

    begitu juga dgn pemakaian kantong plastik... dulu ibu2 belanja punya tas belanja sendiri yg bisa bertahan lebih dari 3tahun... itung berapa ton penghematan oleh 1 org yg pakai tas belanja dari pada kantong plastik??

    sederhana sekali..
    1 pakailah sapu tangan/handuk kecil (tandai dngan nama hari) 2 belilah beberapa tas belanja
    3 tidurlah dg suhu AC yg tidak terlalu dingin (toh anda pakai selimut juga kan..???)
    4 kalo bike to work terlalu susah, maka bike lah to shoping centre ato bike lah to rumah teman...

    gimana???
  5. From handika aditya on 05 November 2007 20:20:29 WIB
    Setuju om... saya juga ga paham soal hutan, tapi saya ngerasain betul manfaat hutan. dan saya yakin semua juga begitu. makanya tidak ada jalan lain, kita harus peduli dengan hutan.

    Tapi sayangnya pelaku pembalakan liar di mandailing sumatera utara, tadi siang di vonis bebas tuh om.... hu hu,
  6. From Goestaf on 06 November 2007 06:48:26 WIB
    Yup Bang! Masih banyak PR di belakang kita juga selain perusakan hutan. Yang penting we do something good for earth!
  7. From Greenpeace Indonesia on 07 November 2007 09:46:06 WIB

    Salam Hijau Nan Damai,

    Kami Mengucapkan terima kasih karena Om WW bersedia hadir di acara FDCSS.

    Semoga lebih banyak lagi orang-orang Indonesia yang peduli pada hutan-Nya dan bersedia bergerak bersama untuk melindunginya dari tangan-tangan yang serakah.

    Peace!!

  8. From asep on 07 November 2007 11:46:36 WIB
    Di kota Jakarta sendiri ada beberapa hutan2 kota. Itu gmana nasibnya? kayaknya harus ada gerakan juga untuk menyelamatkan mereka dari nafsunya Pemda DKI dan pemerintah nasional yg laper mata ama mall/plaza/square/junction or whatever...
  9. From Dartono on 07 November 2007 12:16:09 WIB
    Masyarakat pinggir hutan adalah yang paling sering dan langsung disalahkan akibat kerusakan hutan. Memang mereka paling sering kontak dengan hutan. Mencari kayu bakar misalnya. Di daerah saya masih banyak penduduk yang gantungan hidupnya adalah kayu bakar. Tapi, dibandingkan dengan kerusakan yang ditimbulkan oleh para bos kayu, ini tak ada artinya. Pemerintah harus tegas. Tangkap dan penjarakan bos - bos kayu liar.

    Mari tanami kembali hutan kita dengan sejuta pohon agar membuahkan berjuta kemanfaatan. Kitapun bisa !
  10. From Amalkan Nasution on 07 November 2007 16:51:19 WIB
    SAVE the Envoirment Save the WORLD

    kita bisa kog....

    coba aja yang 1 ini :


    "BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA"
  11. From kania on 07 November 2007 18:38:56 WIB
    aku sih cuma melakukan hal kecil. aku suka makanan jepang dan mie yang sering menggunakan sumpit. aku selalu membawa chopstick reuseable dan tempat makanan. jadi klo makan di resto aku tidak pakai yang dari resto. dan klo take away, dah bawa wadah sendiri.
  12. From bungdedy on 07 November 2007 19:00:13 WIB
    Bisa-Bisa Aja.......
    Asalkan orang biasa tidak lagi miskin, bodoh, dan terbelakang

    Mulai dari diri sendiri,
    Mulai dari yang kecil,dan
    Mulai saat ini
  13. From boed on 07 November 2007 23:12:13 WIB
    Salam om WW dan rekans,

    Perang terhadap penjahat lingkungan sepertinya termasuk perang yang sangat berat di Indonesia. Terutama untuk kriminal kelas kakap (seperti cukong pembalakan hutan), mereka bekerja sangat sistematis dan sistemikMereka memiliki dukungan yang sangat kuat baik secara politis, hukum, dan terutama kedua hal tersebut bisa dibeli secara ekonomi.

    Kita lihat gambar besarnya sebagai vicious cycle:
    Cukong-cukong tersebut beroperasi secara ilegal --> menghasilkan profit yang sangat besar --> mampu membeli dukungan politik & hukum --> tidak terjamah hukum --> beroperasi secara ilegal dst .. [kembali berulang]

    Efeknya adalah:
    kerusakan lingkungan --> bencana dan degradasi alam --> rakyat Indonesia sengsara dst.. dst..

    Bagaimana kita orang biasa akan memutus vicious cycle tersebut??

    wassalam
    b oe d
  14. From dewi on 08 November 2007 18:02:54 WIB
    Hidup Greenpeace yang engga pernah nyerah merjuangin alam supaya generasi berikutnya masih bisa nikmatin hutan borneo engga hanya dari photonya aja.

  15. From wak tul on 08 November 2007 20:23:01 WIB
    Menurut referensi,

    1 m2 hutan campuran akan mampu menyerap air 80-250 liter. Mari kita hitung, berapa juta hektar hutan yg hilang.
    Indikasi sederhana adalah banjir besar yg melanda sumatra, jawa, kalimantan, sulawesi dan banyak wilayah lainnya, termasuk Jakarta.

    Keadaan makin runyam dengan adanya efek rumah kaca, dimana panas beberapa lapisan atmosfir meningkat 2-4 derajat tiap tahunnya. Alhasil, setiap hujan di satu tempat akan selalu sangat deras, sementara di tempat lain kering kerontang untuk waktu yg lama.

    Lalu kita, OB (orang biasa) bisa ngapain ?
    Yg sederhana :
    1. Tanamlah pohon di halaman rumah masing2, apapun jenisnya
    2. Sampaikan kepada seluruh anggota keluarga untuk memilah sampah. Sampah organik adalah pupuk terbaik yg pernah ada di muka bumi ini.
    3. Gunakan selalu produk2 yg bisa di recycle. Contohnya daun pisang, tas kain untuk belanja (bisa dicuci) atau kantung kresek yg dipakai berulang-ulang sampai benar2 rusak.
    4. Gunakan kertas sepenuhnya. Ketika 1 halaman kertas penuh terpakai, biasanya langsung dibuang, padahal halaman sebaliknya masih kosong.
    5. Gunakan kendaraan secara ramah lingkungan. Misal biodiesel. Kalopun tidak memungkinkan, bisa saja beli mobil yg CC nya kecil. CC kecil berarti emisi gas buang sedikit. Anda bisa berkendara bersamaan. Satu mobil diisi 1 orang ataupun 5 orang tak banyak beda pemakaian BBM nya. Tentu saja lebih sehat naik sepeda, apalagi kalo udara bersih kayak di Jerman sini....

    Salam dari Lake Constance
  16. From wak tul on 08 November 2007 20:29:00 WIB
    Orang biasa ?

    HAH !!!

    Bisa apa dia ??

    Kata orang Jatim: "Hualahhh, Wueeeenteng.... jangan pernah pilih pemimpin baik wakil rakyat atau presiden yg ga (bisa) ngerti aspek LH !!!"
    Kalo masih maksa juga, suruh mereka kuliah dulu di Jerman sini, supaya waktunya lulus langsung stroke, hahahahahahaha
  17. From wak tul on 08 November 2007 20:33:42 WIB
    Setiap lembar kertas yg kita pakai,

    adalah produk dari perusahaan multinasional yg salah satunya bernama APP(Asia Pulp n Paper). Menurut info di Jerman sini, dia itu perusak hutan nomor 1.
    Selanjutnya dikenal lebih jauh, bahwa Indonesia adalah penyumbang polutan no 3 setelah USA dan RRC.

    Makanya :
    1. Bijaksanalah dalam memakai kertas.
    2. Mari kita lawan sisdiknas yg lancang gonta-ganti sistem kurikulum n materi pembelajaran...
  18. From chandra on 09 November 2007 09:06:10 WIB
    Yang dilakuan oleh Green Peace adalah jihad fi sabilillah, menyelamatkan kelestarian alam anugerah Tuhan. MUI perlu keluarkan fatwa bahwa menyelamatkan hutan wajib hukumnya, dan pembalakan liar adalah capital sin, yang tingkat dosanya lebih berat dari perbuatan maksiat dan pembalak liar adalah kelompok sesat yang lebih jahat dan lebih berbahaya dari aliran sesat. Tugas rohaniawan untuk mendakwahkan cara pandang ini dengan dukungan media massa .
  19. From yokie on 09 November 2007 11:37:37 WIB
    Om WW, saya pernah tinggal cukup lama (5 tahun) di Sorong (Irian Jaya Barat), kebetulan saya seneng jalan-jalan. Jadi waktu ditugaskan ke sana rasanya enjoy aja. Cuma yang membuat saya prihatin adalah "perusakan ekosistem eksotik" yang ada di sana. Penggundulan hutan, penambangan mineral, eksploitasi satwa dan penduduk asli. Kaya'nya pemerintah mengetahui itu semua, cuma ya itu....(bengong aja).
    Kayu ditebang (bener bener asal tebang), kalo kayu-nya berada di wilayah suatu hak ulayat suku tertentu, cukup bayar kepala suku dengan sejumlah uang (yang tentunya lebih murah dibanding dengan kayu yang diambil), cincai dengan institusi tertentu, selesai masalah. Ngga' ada dokumen ? berlayar aja sekitar 6 jam dari sorong, sudah laut internasional, aman. dokumen bisa dibuat di filipina (katanya)selesai ?. Yang tertinggal hanyalah kerusakan ekosistem yang tidak tergantikan. Mau rasanya jadi SUPERMAN/BATMAN/SPIDERMAN yang bebas berperang dengan penjahat tanpa rasa takut... tapi apa daya, saya cuma orang biasa yang hanya bisa bilang....prihatin.
  20. From Makki on 09 November 2007 12:11:17 WIB
    masalahnya..

    selama hutan dan tanah masih menjadi obyek dagang yg menarik, pasti ada aja yang bisa beragumentasi mengenai lebih pentingnya pohon itu ditebang timbang di tanam

    mungkin kalo kita kurangi ketergantungan kita sama hutan maybe? atau sama produknya turunannya...?

    aga susah ya...?

    makki
    makki@unguband.com
  21. From Aku Ingin Hijau on 10 November 2007 12:18:22 WIB
    Om WW,

    Bagus sekali ulasannya tentang greenpeace. Memang hal seperti greenpeace benar-benar menginginkan perubahan yang radikal dan mempengaruhi pemerintah dan perusahaan besar. Ini merupakan hal yang sangat baik dan sangat perlu didukung oleh orang biasa karena tanpa orang biasa pun greenpeace tidak jalan. bisa mulai dari menyumbang setiap bulan atau ikut acara.

    tetapi lebih penting lagi soal lingkungan hidup kita harus juga merubah mulai dari hal-hal kecil di rumah dan sekitar kita. Jangan cuma omong gede dan mau yang terlalu canggih, tetapi semua hal kecil pun akan membantu mulai dari menanam pohon di rumah dan lainnya.

    Trims.


    Aku Ingin Hijau
    http://akuinginhijau.wordpress.com
  22. From hadi on 10 November 2007 15:32:24 WIB
    Salah satu solusi yang perlu dilakukan pemerintah untuk mengurangi laju kerusakan hutan yaitu dengan melaksanakan tata kelola yang baik terhadap sumberdaya hutan, dan secara terus menerus melakukan pembinaan dan pendisiplinan kepada para pemegang konsesi utamanya HPH.
    Dalam aturan TPTI misalnya, bila dilaksanakan dengan baik di lapangan, tentu tidak akan merusak hutan. Aturan dimaksud diantaranya, tidak boleh menebang kayu di luar petak/blok telah ditentukan, dilarang menebang pohon yg tumbuhnya dekat sungai/sumber mata air, yg boleh ditebang yg berdiameter besar, hrs ada perapihan blok, penanaman, pengayaan, penyulaman dsb.
    Justeru yg perlu ditindak tegas adalah para penebang liar, yg tdk mempunyai izin, yg tentu dalam melaksanakan aksinya tdk berpedoman pd prinsip2 kelestarian hutan.
  23. From frans on 10 November 2007 21:14:25 WIB
    saya pernah liat program dialog di QTv (tp lupa sp pembicaranya) bilang indonesia tidak maju karena berada pengaruh asing/IMF dls shg indonesia tdk bisa mengeksploitasi sumber daya alam (pasti masuk hutan...) semaksimal mungkin...

    kalo benar pemikiran itu (dan memang terjadi) apa yg terjadi selanjutnya krn pemerintahan SBy sudah membyar sebagian besar hutg kita dg imf???.... apa benar oom ww??
  24. From Intox on 10 November 2007 22:15:47 WIB
    Ah mantap, komentar2nya makin progresif!

    Menurut saya, aksi2 seperti penanaman pohon yg banyak dan penggunaan tas yg dipakai berulang2 itu adalah contoh kegiatan yg hijau. TETAPI, jangan kita berhenti disitu. Karena kegiatan2 individual seperti itu tidak akan berdampak besar terhadap perbaikan bumi kita.

    Komentar nomor 20 (dari Makki) membawa pertanyaan yg menarik: apa mungkin kalo kita kurangi ketergantungan kita sama hutan? Atau mungkin, lebih radikalnya, apa sebaiknya kita revisi definisi comfortable living?
  25. From Afton on 11 November 2007 06:57:38 WIB
    Kita pasti bisa dan harus bisa berbuat sesuatu untuk hutan dan alam secara umum.

    Lewat fotografi misalnya, kita bisa menyadarkan masyarakat bahwa alam itu indah dan pada akhirnya bisa menimbulkan kepedulian terhadap lingkungan (hutan, laut, etc.).

    Stop global warming!!!!!
  26. From Dhan on 12 November 2007 02:07:33 WIB
    @ chandra #18 : DAHSYAT!!
    akur banget. cara ini pastinya sangat efektif. soal lingkungan emang sebaiknya diintegrasikan dengan masalah rohani. konteksnya tepat, alasannya kuat.
    bahkan orang gak beragama aja butuh lingkungan.
    mestinya para bomber itu ngebom pembalak liar sono ...

    bisa nggak ya kampanye ini tembus supaya MUI bikin fatwa?
  27. From Ari Warokah Latif on 12 November 2007 14:17:08 WIB
    Bang Wimar, kok PETISI ONLINE-nya expired September 2007 ya?
  28. From widhi on 13 November 2007 22:40:10 WIB
    yap kita pasti bisa melakukannya walaupun itu hal2 yang sederhana,seperti menanam pohon di sekitar lingkungan kita,terus kita juga bisa ajak orang-orang di sekitar kita dengan cara menanamkan pola pikir "satu pohon,satu kebaikan", kita ajak mereka misalnya dalam lingkup RT saat ada kumpulan RT,kita bisa ajak masyarakat untuk melakukan penghijauan di sekitar kita,kita juga bisa ingatkan tentang masalah global warming dan dampaknya bagi lingkungan dan kita bisa sampaikan bahwa dengan adanya penghijauan maka gas efek rumah kaca bisa ditekan.....
  29. From wak tul on 15 November 2007 01:26:22 WIB
    Konon,

    Tanah air kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah diboikot secara international, ga boleh export kayu.
    Trus negara maling, eh maaf tetangga Malaysia boleh, karena menjaga hutannya.
    Pertanyaan : Darimana kayu tersebut didapat ????

    Terlepas dari ikatan persaudaraan dengan Pak WW, Kiranya Bapak mentri LH bisa berbicara di forum international sesuai data dan fakta yg dimiliki LSM seperti Walhi...
  30. From timothy i malachi on 15 November 2007 13:57:09 WIB
    Justru dari orang biasa itu yang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat sekitarnya untuk memperhatikan masalah lingkungan, contohnya para pemenang penghargaan Kalpataru itu kan bukan orang2 terkenal....
  31. From Foolan on 20 November 2007 01:47:34 WIB
    Di depan saya saja bertumpuk kertas, meja kursi masih dari kayu. Bangunan tinggal pun sebagian dari kayu.

    Susah. Bukannya tidak bisa. Selama ada kebutuhan akan hasil hutan, tetap saja hutan ditebang.

    CMIIW, US sendiri masih berhitung dengan kelangsungan industrinya bila ikut dalam Protokol Kyoto. CMIIW.

    Saya setuju dengan komen penghematan (kertas, tisue dan sejenisnya), masalahnya jaman instant maunya praktis-praktis saja. Sekali pakai buang.

    Penggunaan Bahan SUBSTITUSI (tidak menjamin tidak timbul masalah baru -> sampah model baru yang kemungkinan dapat merusak lingkungan = plastik/polimer yang susah didaur ulang, sampah elektronik, dll).
    BBM mahal, anjurannya adalah yang serba bio...(yang dapat DIPERBARUI), persoalannya ketika permintaan naik, sedangkan kapasitas produksi kurang, harga melangit lagi, beluma lagi ancaman kelaparan ketika porsi untuk konsumsi manusia dialihkan ke mesin.

    DAUR ULANG? cost effectivenya serta benefitnya yang menjadi pertimbangan. Lihat saja lemari kayu dan lemari partikel board. Apalagi yang rawan banjir.

    Titik temu (mungkin) adalah penemuan bibit pohon (kayu), bbm nabati yang CEPAT REGENERASINYA (rekayasa genetik??).

    Kalau ada memang sesuatu itu dipaksakan, Saya sendiri yakin akan SIKLUS alam, pada saatnya yang mencapai kulminasi akan KEMBALI mengarah ke nadir. Untuk yang baik ataupun buruk. Itulah konsekuensi Push OVER the limits.

    Pada akhirnya alam akan memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya untuk mencapai kesetimbangan. Eling..eling..!
  32. From Aris Priyono (KeSEMaT) on 20 November 2007 21:20:45 WIB
    Pak Wimar. Kebetulan, kami ini adalah sekelompok mahasiswa (KeSEMaT) yang peduli dengan mangrove. Dulu (2001), kami tak terlalu memikirkan sebuah kenyataan, bahwa mangrove ternyata juga punya andil besar dalam mencegah perubahan iklim dan pemanasan global.

    Asalkan mangrove di belakang kampus kami bisa tertanami dengan baik (sehingga bisa lebat kembali, dan amiin, di tahun 2007 ini, memang sudah benar-benar lebat), kami sudah sangat senang dan bersyukur.

    Namun, semenjak fakta Global Warming dan Climate Change dihembuskan beberapa tahun yang lalu, kami semakin semangat lagi untuk terus dan terus menanam mangrove (setidaknya di Jepara, Demak, Rembang dan Semarang dulu-lah), demi generasi kami di masa mendatang.

    Jadi kalau ada pertanyaan, "Bisakah orang biasa bantu Greenpeace melawan perusakan hutan?" Ya, tentu saja bisa. Kami sudah melakukannya. Bagaimana dengan Rekan-rekan, yang lainnya? Anda pasti bisa, kok. Mari bersama-sama menanam mangrove, SEKARANG!

    Semoga kita punya semangat yang sama, ya. Hatur Nuhun. Salam MANGROVER!

    Aris Priyono (KeSEMaT)
    http://kesemat.blogspot.com

  33. From apis indica on 22 November 2007 08:16:24 WIB
    Pada suatu malam Budi membeli keperluan pribadi di sebuah supermarket, kemudian barang belanjaan Budi dimasukkan ke dalam 1 kantong plastik. Setelah itu Budi membeli roti bakar di pedagang kq-5, setelah itu makanan tersebut juga dimasukkan ke dalam 1 kantong plastik. Kemudian Budi menyewa VCD Original di sebuah rental DVD/VCD langganannya dan pastinya mendapatkan 1 kantong plastik lagi untuk tempat VCD sewaannya. Berarti dalam 1 malam Budi telah mendapatkan 3 kantong plastik.
    Padahal kalau di efektifkan Budi hanya perlu mendapatkan 1 kantong plastik (menghemat 2 kantong plastik) malam itu. Caranya, ketika belanja di supermarket Budi hanya perlu meminta 1 kantong plastik yang ukurannya lebih besar saja, untuk kemudian roti bakar - yang pastinya telah dibungkus kertas minyak - tinggal dimasukkan ke dalam plastik yang ada, dan VCD sewaan juga pastinya muat dalam kantong plastik yang telah diisi roti bakar dan belanjaan dari supermarket.
    Bayangkan jika malam itu di indonesia ada 1 juta orang yang melakukan aktivitas yang sama/mirip dengan yang dilakukan Budi, berarti ada 2 juta kantong plastik yang terbuang percuma malam itu. Dan ini hanya kurang dari 1 persen penduduk indonesia, yang mungkin saja data pastinya lebih besar lagi. Padahal sudah kita ketahui bersama bahwa kantong plastik tidak dapat diurai dengan cepat dalam tanah, dan jika dibakar asapnya akan mencemari udara.
  34. From agussusilo on 25 November 2007 09:12:59 WIB
    Gampang sekalee, masak pejabat dinas kehutanan kota bekasi,megatakan "untuk menanam pohon 450.ooo. pohon diperlukan waktu 100tahun"? ini kan namanya pejabat tidak cerdas.saya gemas sekali om,
  35. From Masindi on 30 November 2007 08:46:27 WIB
    Apis,

    Budi pasti punya tas sendiri. Mengapa Budi tidak bawa tas sendiri utk aneka belanjaan tsb?
  36. From defrianto on 02 December 2007 13:47:56 WIB
    BISA DUNK......jangankan orang biasa orang cacat ja bisa, yang ga bisa tu justru orang yang luar biasa yang tau nya MENEBANG HUTAN ( PEMBALAKAN LIAR) nah supaya mereka yang disana tidak menebang hutan secara liar lagi MARI BERSAMA-SAMA
    kita tebang mereka.............
  37. From wak tul on 03 December 2007 00:11:18 WIB
    Biasanya,

    Orang Biasa itu pinter2, tapi ga mau nyombong dan dibilang orang pinter.
    Jadi marilah kita jadi orang biasa dengan sikap biasa. Kalo ada teknologie, apa artinya itu semua, jika tidak punya andil thd aspek LH ?
    Dari kasus2 seperti di Riau, etc. Memang sepertinya tidak perlu ada menhut, khan ?
    Biar aja jabatan semacam itu dipegang oleh mentri LH. Trus, implementasinya ya dikembaliin ke daerah masing2, dengan pengawasan dari LSM sekelas Walhi.
    Ehm, gampang ngomong, tapi susah jalani...
  38. From runman on 04 December 2007 08:13:03 WIB
    Lawan semua pengrusakan yang terjadi dimuka bumi ini.
    Dimulai dari siapa ya... ????????
    Dari diri saya sendiri dan keluarga tentunya...., tapi apa ada manfaatnya ??????? Ada... tapi ngak ngaruh....
    Jadi siapa donk.... ??????
    HARUS DIMULAI DARI YANG BESAR-BESAR.
    Berani kaga ya... mereka menyentuh para pembesar2 itu ???
    BERANI... MALAH DI PUBLIS SECARA BESAR-BESARAN. CUMAN HANYA HANGAT2 TAI AYAM...
    Bagaimana dengan LSM ???
    LSM kebanyakan hanya ingin dananya saja.
    Liat saja... Mo Pakai PLTN di demo....
    Mo Pakai PLT Batu Bara di demo...
    Mo Pakai PLT Sampah di demo...
    Jadi pakai apa donk ????
    YA... PAKAI KUNANG KUNANG... DIJAMIN RAMAH LINGKUNGAN.

    Siapa donk yang dapat menyelesaikan lingkaran SETAN ini.
    KLO KAMU PUNYA TUHAN... BERDOA DAN MINTALAH PADA TUHAN MU AGAR JIWA JIWA PENGRUSAK ITU DIBERI HIDAYAH.
    KLO KAGA PERCAYA AMA TUHAN..., GUNAKANLAH KEHEBATAN DIRIMU UNTUK DAPAT MELAKUKAN PERUBAHAN.
  39. From murid on 11 December 2007 15:52:51 WIB
    mungkin kita belum bisa melakukan sesuatu yang besar, tapi bisa dimulai dari hal kecil.

    kalau sudah selesai menggunakan alat elektronik, mohon copot steker dari stop kontaknya ( tidak hanya mematikan tombol pada alatnya ) sehingga listrik tidak mengalir secara percuma.

    jika semua orang mengerti dan sadar, kita bisa menghemat listrik dan menjaga bumi kita dari kerusakan lebih lanjut.
  40. From joe on 12 January 2008 08:32:17 WIB
    stop slobal warming !!!!!!!
  41. From Hardi Suryana, ST on 16 January 2008 11:07:37 WIB
    Kebetulan saya pernah berhubungan langsung dgn masalh ini wkt sering ke lapangan..sederhana saja bahwa knpa mereka bisa seenaknya melakukan penjarahan hutan krn:
    1. berhasil 'minteri' masyarakat setempat yg mereka anggap primitif (tentunya bekerjasama dgn aparat berwenang)
    2.tidak berdayanya kaum cerdas dan bernurani yang ada di tempat tersebut (mngkin hrs kenalan ama perspektif...he..he)
    saran:
    dalam era informasi ini kita genjot wawasan mereka mengenai lingkungan hidup juga aspek pendukung lainnya misalnya hukum, budaya dll, shg dapat mempertahankan daerahnya dgn kekuatan sendiri....yg sebetulnya mereka sudah punya potensi kekuatan sendiri yaitu kearifan lokal..
  42. From Erwin K Wardhana on 22 January 2008 08:10:01 WIB
    Ini bukan berita dari DEPARTEMEN ISUE REPUBLIK INDONESIA, tapi benar-benar informasi akurat dari pelaku negoisasi dalam gelap antara delegasi Indonesia dgn delegasi amerika di UNFCCC di Bali beberapa waktu yg lalu........Delegasi USA yg alot tdk mau menandatangi Bali Road Map akhirnya mau menanda tangani BALI ROAD MAP untuk perbaikan Iklim Global setelah Pemerintah RI lewat Delegasi RI di UNFCCC memberi jaminan akan memberikan konsesi pada Korporat2 dari USA 10 Juta hektar Hutan dari sekitar 40 Juta hektar hutan yg tersisa masih baik di Indonesia....KEMBALI IBU PERTIWI TERGADAI HANYA UNTUK BEBERAPA JUTA DOLLAR SAJA ....APA RAHMAT WITULAR ADA HUBUNGAN KELUARGA DGN WIMAR WITOELAR ??????
  43. From Satvika on 18 February 2008 17:26:16 WIB
    Bisa banget..
    Mulai dari diri sendiri dan g usah melakukan hal yang ribet ribet dulu..
    muali aja dari hal yang simpel misalnya;
    1. JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN
    2. Kalau mau ke suatu tempat yang lumayan dekat,g usah gaya pake naek motor segala, jalan kaki kan bisa,selain sehat buat badan kita juga bisa mengurangi sap kendaraan bermotor
    3.Kalau cuci tangan di mall g usah pakai mesin pengering tangan
    4.Jangan buka kulkas lama-lama
    Wuahh..pokoknya banyak hal simpel yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi kita tercinta ini tetap hijau..
    Go Green Guys!!!!
  44. From hot couple on 19 February 2008 20:09:17 WIB
    gak usah mulu'- mulu' ,
    dari diri sendiri ajah, misale
    2. Don't ngechesh disembarang tempat
    1. di larang buang hajat di kali
    3. mandi pake sabun
    4. orang gila di larang berjalan di jalan
    5. sedia tempat sampah sebelum banjir
    6. gag boleh bangun rumah di pnggir kali
    praktekkan dalam 1 mgu,,,,, niscaya hidup anda bakal makmur....
  45. From Via on 01 March 2008 10:53:41 WIB
    sebenernya mau ngomong berapa kali pun, hanya 10% orang yang ngerti da sadar betul mau melakukannya,,
    padahal mulai dengan pake ganti tisue pake saputangan, jalan kaki dari kos ke kampus, nolak plastik di supermarket dengan bawa tas sendiri..
    tapi bagi orang2 itu sangat sulit..

    ada ide supaya orang terpersuasi dengan kita?



    -jegeg-
  46. From dhika on 15 March 2008 17:27:45 WIB
    pengen gabung dongg.. gmn caranya?? anak2 sma started to care about earth.
  47. From galih tohaga erawan on 22 April 2008 13:14:09 WIB
    pengen gabung ma greenpeace donk aku asal kalimantan timur disini lg gila2an kerusakan hutannya mulai dari industri kayu ampe batu baranya buat cabang greenpeace di daerah dunk jadi anak2 mudanya bia ikut jaga hutan kita.
  48. From Aldika Kurniawan on 20 May 2008 09:55:05 WIB
    Wah gw juga mw kalo ada kesempatan bwat bantu greenpeace menjaga hutan....Tapi itu nanti kalo gw dah bisa gabung....Gimana cara gabungnya Ya!!!...Gw ga pengen Hutan kita Dibabat untuk kepentingan secuil orang.
  49. From Farisah on 10 June 2008 12:57:03 WIB
    saLam Hijau..
    Aq Tuch DAh ngbet Bgt bWAT gaBung DgN GrEenpeace..
    gmn crnY gabung dGN gREENPEACE ?
    cz, q anaK palembang..
    aPa greenpeace ga Ngajak Ank" Luar Jawa ????
    pliss.. aJk aq Donk..
  50. From arif on 26 June 2008 13:50:52 WIB
    please!!! stop eksploitasi hutan
  51. From yusuf on 15 July 2008 15:56:45 WIB
    pasti bisa!,kita mulai saja dari diri sendiri,dari hal2 kecil dan dari sekarang (terinspirasi dari Aa Gym)..
    musuh kita dalam merealisasikannya hanya satu...PEMERINTAH(silahkan renugkan apa yang sudah dilakukan M.S. KABAN,AL-AMIN,dll),jadi hal pertama yang kita harus lakukan adalah meREBOISASI mental para pejabat kita...

    SAVE OUR FOREST !!
  52. From vonny on 22 July 2008 11:35:12 WIB
    hmmmm....waktu itu saya sdh pnah ditawarin utk ikut membantu tp krn ceroboh, form-nya hilang...sy sdh berusaha mencarinya tp tdk ktmu, yg sy tktkan form itu dibuang oleh ibu saya krn tdk tau form ap itu. utk itu, sy jd bingung bgmn menghbngi org yg sdh membantu sy utk mendaftar...

    ad lg, sy da baca buku ttg global warming. rasanya ngeri jg mikirin gimana nasib beruang kutub n penguin2 kalu es pada cair...jd stress kalu mikirin ap yg bkl tjadi ntar...
  53. From Bayunature on 08 April 2009 11:41:47 WIB
    Saya tertarik dengan program-program GREEN PEACE, gimana cara bergabungnya?.. bisakah artikel-artikel ini saya kutip ke blog punyaku? untuk lebih mengenalkan tujuan yang bagus ini.

« Home