Articles

Pukul-pukulan

AREA
07 November 2007

Seorang teman bernama Warkat punya anak bernama Wira yang sangat santun, berbakat dan disiplin dalam hidup. Tapi ia punya satu titik lemah, yaitu suka terganggu oleh kekacauan lalu lintas yang membuat dia memaki supir yang tidak tahu aturan. Adegan tegang dengan pelanggar lalulintas itu, selalu membuat ayahnya itu gemeteran. Sebab ayahnya ini agak penakut dalam hal bentrokan fisik.

Waktu kecil, Warkat pernah melihat perkelahian di jalan, di kawasan Jalan Gunung Sahari yang keras itu. Dia melihat dua orang terbaring di jalan, dan ibunya cepat-cepat menutupi mata Warkat . Katanya, "Warkat, jangan lihat, tapi ingat ini. Perkelahian tidak pernah menyelesaikan masalah. Yang kalah bisa masuk rumah sakit, yang menang akan merasa bersalah." Warkat hanya mengangguk, sebab dia memang kasihan kalau melihat orang cedera, biar dalam pertandingan sepakbola sekalipun.

Pada hari yang diceriterakan Warkat, Wira pergi main tennis membawa mobil. Seperti biasa sebelum berangkat Wira mengirim sms singkat: "Mau main tennis di Senayan." Rumah mereka di belakang Restoran Sambhara yang baru itu, di kawasan Cipete.

Tahu-tahu satu jam lebih kemudian Warkat menerima lagi sms dari Wira: "Wah, macet sekali. Sudah 55 menit, baru sampai Jalan Panglima Polim." Hmm lama amat, pasti bukan macet biasa. Maklum orang baru masuk kerja setelah liburan panjang seputar hari Lebaran. Tak lama kemudian, masuk lagi sms dari Wira, "Balik ke rumah. Akan sampai kira-kira jam 9.30"

Kaget sekali Warkat waktu menerima sms berikutnya. "Pukul-pukulan depan rumah Ibu Silvia." Wah, pasti urusan jalan macet nih, sampai pukul-pukulan? Cepat dia jawab: "Jangan ikutan! Orang macam apa mereka?" Maksudnya ingin tahu, apa orang kantoran yang pukul-pukulan, atau orang jenis preman, anak sekolah, atau apa.

Pukul-pukulan

Tidak ada jawaban. Warkat mulai gelisah. Dia langsung telepon anaknya. Tidak diangkat, sampai kehabisan nama panggil. Hmm apa upayanya? Warkat menelepon pacarnya Wira, Shirley namanya. Warkat menanyakan apa Shirley menerima kabar dari Wira hari ini. O iya, jawab Shirley. Sama ceritanya. Warkat bertanya, "Siapa yang pukul-pukulan ya?" Shirley menjawab, "Ya Wira."

"Haaah?" langsung Warkat menutup telepon dan bergegas mau menyusul. Terbayang anaknya tidak menjawab telepon karena teleponnya sudah tergeletak di aspal gara-gara pukul-pukulan. Lebih parah lagi, jangan-jangan anak kesayangannya juga terkapar di jalan. Atau sudah dibawa ke RS Pertamina? Warkat menguasai diri untuk tidak panik dan cepat mengeluarkan mobil menuju Jalan Pati Unus, tempat rumahnya tante. Tapi setelah tenang di jalan, ia pikir, kalau memang masih pukul-pukulan, apa yang bisa ia lakukan? Ia sendiri tidak ada pengalaman berkelahi. Jadi dia telepon ke kantornya dimana sopir bernama Marto tidak pernah gentar menghadapi tantangan fisik. Setelah mendapat izin dari kepala perusahaan Ernie, Marto diminta bergabung di Jalan Pati Unus dengan kabar singkat bahwa Wira terlibat perkelahian.

Begitu sampai di Jalan Pati Unus, Warkat parkir mobil di sebelah lapangan tenis yang terkenal, tempat Yayuk Basuki melatih bintang tenis baru. Warkat melihat tidak ada keributan disitu, yang membuat dia tambah panik karena merasa pasti perkelahian sudah selesai dan orang-orangnya dibawa ke kantor polisi atau, lebih parah lagi, ke rumah sakit.

Namun ia menyempatkan diri melayangkan pandangan ke lapangan tenis dimana ada seorang pemuda sedang berlatih. Pemuda itu berhenti main dan mengambil handphone dari bangku, dan menelepon seseorang. Tepat pada saat itu, telepon Warkat berdering, dan dia sadar bahwa yang sedang latihan tenis itu adalah Wira anak kesayangannya.

"Ada apa Daddy? Tadi telepon terus ya."

Daddy tidak bisa menjawab, seribu perasaan meliputinya. Haru dan lega, tapi juga malu, sampai keluar air mata. Ini membuat Wira main serius lagi. "Ada apa Dad? Ada apa?" Warkat menjawab terputus-putus. "Tadi katanya Wira pukul-pukulan... "

Wira berhenti sejenak. "Oh, sms tadi ya? hmmm Oh, sorry!! Out of context. Memang pukul-pukulan, tapi pukul-pukulan bola sama pelatih tenis."

Print article only

2 Comments:

  1. From Foolan on 16 November 2007 00:20:22 WIB
    O, tertipu....He..hee, nggak dink, kecele aja deh.

    Mancing ngomongin macet ya om, busway gitu? (maaf nuduh).

    Mobil / Kendaraan (pribadi) banyak, pajak kendaraan makin banyak, negara makin banyak dapat duit. E, yang punya Astr (C@C) ongkang-ongkang tuh, la wong macetnya di Jakarta bukan di Singapore. He..he... Di sono kayaknya nggak demen punya mobil ya om, laen sama di Jakarta. Tapi di sono demennya pegang saham perusahaan mobilnya aja. Laen lubuk laen ikannya, airnya juga sih.


    Solusi sementara untuk mengurangi kemacetan di Jakarta:

    Gratiskan busway di jam sibuk (pagi waktu jam berangkat kerja, sore waktu pulang kerja, sama jam istirahat siang).

    Siapkan feeder/shuttle sapu jagat, untuk kompleks perumahan yang jauh dari halte busway pada jam sibuk di atas. Gratis dong.

    Dua hal di atas hanya berlaku untuk orang yang menganggap Rp15.000 biaya transport lebih tidak bernilai dibanding berlama-lama di mobil/jalan namun adem.

    Selanjutnya:
    Makan siang di kantin kantor saja atau kalau delivery, pesannya borongan sama temen. Syukur-syukur dapet traktiran gratis (maunya). Demikian juga sholat Jumat, jangan jauh-jauh, yang bisa jalan kaki saja.

    Meeting dengan client pakai 3g saja. Presentasi via e-mail. Jangan lewat blogg, karena ini confidential. He..he..

    Satu hari setiap minggu, tempat parkir gedung perkantoran, pns, dpr, menteri, gubernur, presiden+wakilnya harus bebas dari mobil plat hitam dengan stiker langganan. Weks...! sudah bayar mahal, nggak boleh dipakai. $&&^#^@! Dilaksanakan pada hari selain Sabtu dan Minggu. $&&^#^@!

    Agar air kiriman tidak cepat langsung ke Jakarta, usahakan air ditahan-tahan dulu di sepanjang aliran sungainya, memakai bendungan sederhana (memperlambat bukan membendung, karena kalau dibendung dengan sederhana kemungkinan jebol). Berdoalah agar hujan jangan lebat-lebat, sehingga kecepatan nyetirnya masih bisa normal. Tuhan tolonglah, hindarkan Jakarta dari Banjir. Amin.
  2. From M Fahmi Aulia on 16 November 2007 10:02:55 WIB
    hahahaha..
    nice jokes...!!
    nohok banyak orang nich...!! :D
    *masih tersenyum simpul...*

« Home