Articles

Tua Muda Oke, Yang Penting Presiden Oke

Koran Sindo
22 November 2007

Kolom Presiden Kita

Pada usia 69 tahun, Ronald Reagan menjadi presiden Amerika Serikat. Empat tahun kemudian terpilih kembali, dan kalau saja konstitusi mengizinkan orang untuk tiga kali jadi Presiden, dia bisa memegang jabatan empat tahun lagi. Tapi karena dibatasi, maka pemilihan presiden dimenangkan oleh Bill Clinton yang mengalahkan George H. W. Bush Sr. Clinton baru berumur 46 tahun waktu itu, terpilih menjadi Presiden nomor 3 termuda. Seperti Reagan, ia populer sekali dan terhindar dari jabatan ketiga hanya karena batasan tidak boleh lebih dari dua kali. Jadi kesimpulan apa yang bisa diambil mengenai Presiden dan usia orangnya? Tidak ada. Yang tua oke, yang muda oke, yang penting tugasnya dijalankan dengan oke.
 
Di dalam pembicaraan publik di Indonesia sekarang, beredar luas konsep mengenai pemimpin muda. Ada pembacaan Ikrar Kaum Muda Indonesia, yang diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Sumpah Pemuda. Pada kesempatan itu tokoh politik dan ekonomi Faisal Basri mengatakan, sudah saatnya kaum muda Indonesia diberi kesempatan untuk memimpin bangsa. Seruan itu sangat pantas, tidak bisa ditafsirkan terlalu jauh, walaupun mengerti maksudnya baik. Pemimpin yang ada sekarang semua sudah tua dan sebagian besar tidak bisa diharapkan. Tapi belum tentu pemimpin muda akan lebih baik. Banyak orang muda yang nggak bener, tidak punya konsep dan lebih parah lagi tidak punya keberpihakan pada kepentingan umum.

Kalau dikatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin muda yang berideologi untuk membawa bangsa menuju kesejahteraan, keadilan dan kedaulatan, maka itu betul semua. Tapi pernyataan yang normatif, hanya berguna untuk sosialisasi. Pada akhirnya kita harus memilih pemimpin yang efektif, dan kepemimpinan efektif tidak tergantung usia. Pada sisi yang lain sering kita dengar penolakan terhadap sesorang atas dasar terlalu muda, yang sama juga derajat kesalahannya. Tidak jadi soal, muda atau tua, yang jadi soal adalah kegunaan seseorang untuk fungsi yang akan dijalankannya.

Setelah kita bersusah payah menekankan pluralisme Indonesia yang melintasi batas gender, agama, asal etnis, golongan sosial ekonomi, maka adalah suatu kemunduran besar kalau kita kemudian mengkotakkan orang atas batas umur. Faisal Basri orang hebat karena dia cerdas dan bersih, bukan karena dia muda. Sampai usia tua juga kalau dia tetap berkembang dengan positif. Faisal akan tetap jadi orang hebat. Einstein hebat di waktu muda, sampai tua juga dia hebat.

Lain lagi kasusnya seperti Pete Sampras pemain tennis hebat, tapi setelah usia 35 dia tidak bisa lagi memenangkan kejuaraan kelas dunia. Dia sudah terlalu tua untuk main tennis. Tapi bintang golf bisa berusia lebih dari 35 dan apalagi bintang catur. Setiap pekerjaan ada batas umurnya, tapi kepemimpinan politik tidak ada. Usia pasti berpengaruh, tapi tidak pasti apakah pengaruhnya positif atau negatif. Lihatlah calon presiden yang ada di pasaran: SBY, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Megawati, Wiranto, Sultan Yogya. Apakah perlu dibandingkan umurnya untuk memilih satu diantara mereka? Rasanya tidak.

Bisa dimengerti, ketidak sabaran orang dengan tokoh-tokoh diatas itu, sehingga muncul seruan untuk mengganti pemimpin tua dengan yang muda. Tapi hati-hati dalam mengamati hubungan sebab akibat, sebab kejelekan pemimpin itu bukan karena tua. Calon-calon yang disebut tadi mungkin jelek, tapi bukan karena tua. Kalau orang mabok minum vodka campur air, whisky campur air, gin campur air, itu bukan berarti bahwa yang membuat mabok itu air.

Faisal Basri melanjutkan komentarnya dengan statement yang sangat benar, sebagai berikut, "kriteria pemimpin yang dibutuhkan bangsa saat ini adalah yang memiliki ideologi jelas. Yang dimaksud ideologi yang jelas yaitu sistem politik, demokrasi sosial dan ekonomi pasar sosial. Saat ini ideologi tersebut tidak dapat dilaksanakan dengan baik," Sangat tepat, dan disini tidak ada kata-kata tua atau muda.

Pembacaan Ikrar Pemuda Indonesia, yang dihadiri ratusan pemuda lintas profesi, suku dan agama, dilakukan sebagai bukti bahwa kaum muda terpanggil untuk bangkit melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Seremoni ini mengagumkan dan menyenangkan. Sayangnya, ia juga mengelabui pemikiran orang, memasukkan kerancuan kedalam kejernihan. Orang muda belum tentu bisa dibanggakan. Organisasi Pemuda terbesar di Indonesia, KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), penuh dengan segala macam pelanggaran etika. Baru-baru ini Ketua Umumnya dihadapkan pada mosi tidak percaya, sampai-sampai persoalannya dibawa ke Wakil Presiden. Dan ini bukan hal yang baru. Sejak pertama berdiri di tahun enapuluhan, KNPI penuh dengan petualang politik yang keluar masuk organisasi, partai, birokrasi dan bisnis KKN. Dan suasananya tidak melambangkan suasana anak muda.

Anak muda dalam bentuk asli muncul sebagai indidivu yang tidak membutuhkan keabsahan label generasi muda untuk bsa menjadi pemimpin bangsa. Sukarno, Sjahrir, Sujatmoko semuanya muda pada puncak katir politik mereka. Tapi mereka hanya mewakili dirinya dan Indonesia, tanpa bersandar pada dukungan kelompok seperti KNPI dan organisasi lain yang berlabel generasi muda. Jujurlah bersaing, singkirkanlah pemimpin yang merusah negara, yang korup dan totaliter. Tidak peduli mereka berasal dari mana, tidak membedakan berusia berapa.

Wimar Witoelar

Print article only

19 Comments:

  1. From khaidir anwar sani on 22 November 2007 14:06:04 WIB
    SEPAKAT!!!
    dalam memilih sosok pemimpin negara,kita hrus menepikan hal hal yang sepele dan tidak penting dalam kaitannya dengan kepemimpinan.
    jangan ada lagi diskriminasi tua muda,wanita pria,jawa dan bukan jawa serta hal hal kecil lainnya yang tidak penting.
    karena yang dibutuhkan oleh Indonesia adalah sosok pemimpin yang mampu mengatasi persolan bangsa ini dengan kemampuannya menjalankan roda pemerintahan yang jujur,bersih serta demokratis.dan yang terpenting adalah sikap yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi atau golongan tertentu.
  2. From Martin Manurung on 22 November 2007 14:52:18 WIB
    Setuju 100% dengan apa yang ditulis WW. Kebetulan nama saya tercantum dalam ikrar tsb, walaupun tidak sempat ikut pembahasannya di Paramadina krn sdg wira-wiri persiapan nikah.

    Anyhow, dalam negara dengan sistem rekrutmen politik yang sudah mapan, mis. di AS, maka isu tua-muda mungkin tidak relevan. Walaupun demikian, Obama masih juga disentil oleh Clinton sebagai 'inexperienced', suatu isu yang sering ditembakkan untuk calon pemimpin muda (lucunya, spt yg WW bilang, waktu terpilih sbg presiden AS, Clinton juga masih sangat muda).

    Di Indonesia, sebuah negara demokrasi yang masih muda, maka regenerasi politik perlu didesak. Sebenarnya Indonesia ketika merdeka sdh punya sistem rekrutmen yang baik, yaitu kepemimpinan lahir dari pergerakan dan partai politik, spt Soekarno, Hatta, Sjahrir, Amir, dll.

    Akan tetapi, interupsi otoritarianisme selama tiga dasawarsa membuat sistem pengkaderan itu mandeg. Karena, seseorang jadi pemimpin hanya cukup 'nyantol' ke Cendana. Hal ini yang sampai sekarang masih terjadi. Bagusnya, para penandatangan ikrar sebagian besar adalah orang-orang yang nggak mau nyantol ke atas.

    Yang terakhir, pasca tumbangnya Soeharto, Indonesia masih harus mengalami fase perubahan mendasar dalam berbagai aspek bernegara. Bahkan, perubahan itu mencakup merumuskan kembali fungsi negara yang telah hilang. Perubahan besar ini akan memiliki peluang yang lebih besar bila dilakukan oleh generasi yang tidak punya baggage di masa lalu. Karena itu, isu pemimpin muda (yang relatif lebih bebas dari baggage di masa Orba) menjadi punya relevansi.

    Memang, spt yg WW katakan, orang muda tidak selalu baik dan orang tua tidak selalu jahat. Tetapi, kepemimpinan baru sudah waktunya untuk dibangun demi masa depan yang lebih baik.
  3. From Timur Bagaskara on 22 November 2007 15:10:10 WIB
    Saya sangat setuju dengan pendapat anda, cuma masalah yang sebenarnya dihadapi bangsa ini adalah kenyataan bahwa pemimpin-pemimpin kita yang ada sekarang yang nota benenya termasuk golongan sudah tua telah terbukti tidak capable dalam menjalankan tugas untuk mengatasi persoalan kebangsaan kita, sehingga kita berharap kepada tokoh-tokoh yang masih muda untuk bisa menggantikan walaupun harus diakui pula bahwa itu tidak mesti berhasil namun setidaknya kita masih bisa menaruhkan harapan kita kepada tokoh muda yang ada daripada orang tua yang sudah jelas-jelas tidak mampu.
  4. From ika on 23 November 2007 09:47:43 WIB
    setuju, bukan umur yang 'mematok' kualitas, tapi kemampuan dalam mengelola tugasnya... :D
    apa salahnya kalo yang muda juga diberi kepercayaan memegang tampuk pemerintahan..
  5. From Yanuar Panji on 24 November 2007 13:57:32 WIB
    Setuju, namun menurut saya, kita hanya membutuhkan sesosok pemimpin yang apakah muda atau tua, yang sudah membuktikan bahwa dia perduli dengan bangsanya.

    Bukan karena besok akan ada pemilu, lalu dia mulai bernjanji akan menggratiskan sekolah dan memperjuangkan rakyat miskin.

    Omong kosong, itu hanya di lakukan saat kampanye saja, setelah itu.. anggap mereka sudah lupa.
  6. From Berto on 24 November 2007 20:26:04 WIB
    Yup Pak Wimar benar, Tua atau muda sama saja, yang penting pemimpin itu punya ideologi jelas untuk memajukan negeri yang kacau ini.
  7. From hawkeyes on 24 November 2007 21:24:07 WIB
    quoted:
    Betti kalah pemilihan Ikatan Alumni ITB

    Betti;1806; Hatta Rajasa 4510. Zaid 271, Boyke 421; Hengki 2090 total 9134

    oh well.....
    18 November 2007


    http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/112007/12/teropong/lain05.htm
    Saatnya ”The Rising Generation”
    Oleh M. Fadjroel Rachman

    REGENERASI kepemimpinan nasional di segala bidang (nonpolitik dan politik), di seluruh wilayah Indonesia (nasional, provinsi, kabupaten/kota). Itulah Ikrar Kaum Muda 28 Oktober 2007 di Gedung Arsip Nasional, Jakarta. Generasi pertama kepemimpinan nasional pascareformasi sudah satu dekade (10 tahun) berkuasa, sejak jatuhnya rezim totaliter-militeristik Soeharto-Orde Baru. Bila diukur dengan agenda reformasi 1998, terutama pada tekad memberantas dua musuh utama demokrasi: (1) kejahatan korupsi dan; (2) kejahatan hak asasi manusia (HAM) serta menjamin lima hak dasar demokrasi dan negara kesejahteraan; (1) hak sipil; (2) hak politik; (3) hak ekonomi; (4) hak sosial; (5) hak budaya, kegagalannya bagaikan jarak bumi dengan langit. Apalagi, kalau berkaitan dengan Jenderal Besar (purn.) Soeharto, "musuh besar" gerakan mahasiswa di ITB (1974, 1978, 1989, 1998), maka pemaafan (impunitas) yang terjadi.
    ------
    -------

    Laksamana Sukardi (Ketua IA ITB sekarang, alumnus Teknik Sipil angkatan 1975),------
    -----



    Got the MESSageS????!!!, See the Silver Line???!!!
  8. From R Muhammad Mihradi on 25 November 2007 09:03:21 WIB
    Bagi saya, yang--sumpah!--warga negara dan orang biasa banget: sangat biasa malah---ributnya soal pemimpin tua dan muda beranjak dari frustasi dalam. Bayangin, Indonesia dengan 210 juta penduduknya--kok yang muncul istilahnya loe-lagi--loe lagi, kalo engga mega, gusdur, amien rais, sby, kala dan sebagainya. Sorry aja, bagi anas urbaningrum yang fans berat partai demokrat, di stasiun televisi ia bilang "anak muda mesti masuk parpol supaya mewarnai dan mengubah keadaan", pertanyaannya baginya "ente aja gimana? Masuk parpol, boro-boro dicalonin jadi capres cuman jadi pelegitimate aja, dengan kata lain, pelengkap penderita. Nah, jadi memang kita jangan kejebak tua-muda, tapi cobalah lahirkan harapan baru jangan kejebak generasi loe-lagi-elu lagi tadi. Setidaknya, kita udah tahu track record elite yang gagal, jadi mohon jangan dipilih lagi, cari yang segar, anti korupsi, bermoral, pinter dan tidak mudah dirayu untuk berKKN ria. Nah, kalo pa wimar ada minat, sebenarnya bisa jadi alternatif, dengan syarat tidak nafsu menang, sebab indonesia adalah negara ajaib, unpredictable. Okey, Mihradi Univ. Pakuan. (Pak WImar, kalo ada acara, undang-undang lagi yah thanks)
  9. From EL on 26 November 2007 13:16:53 WIB
    Layak tidaknya seseorang untuk suatu posisi tidak harus didasarkan atas kriteria yg sdh given dan natural seperti usia,gender, suku dll tp yg paling esensi adalah seorang pemikir yang progresif dan dinamis serta implementor yang tegas, berprinsip dan konsisten dengan nilai2x pemikirannnya.
  10. From soehendry ciahaan on 26 November 2007 17:04:42 WIB
    klo yg ini saya kurang setuju tuh ma pak wimar,kita bisa lihat n jadikan kepemimpinan yg sudah dipegang oleh kaum sepuh/tua dari dolo ampe skrng,gmn coba??? kacaukan!!!
    makannya pak, kite butuh generasi yg lebih energik dan tidak LELET.
  11. From albertus on 27 November 2007 01:52:42 WIB
    setuju, umur bukan masalah, akan tetapi pemimpin2 tua kita bisa dikatakan ilmu politiknya tumbuh dewasa di era suharto, sehingga untuk benar2 bisa memahami dan menerapkan konsep reformasi itu lebih sulit. tapi gw ga bilang pas milih harus liat umur.

    yang penting itu kalo menurut gw adalah kesadaran berpolitik, janganlah memilih orang cuman karena nama atau backgroundnya. Sulit melatih rakyat untuk yang ini, rakyat ga gitu peduli pada program2 kader, mereka cukup diberi jawaban2 kabur/vague, sudah senang. Mensejahterakan rakyat, memenuhi swasembada pangan, memberantas korupsi, meningkatkan taraf hidup.. itukan udah standar janji2 pas kampanye, tapi banyak yg ga peduli gimana cara memenuhinya.. tanya dong.. pelaksanaan konkritnya bagaimana, mau bebasin lahan dimana buat dijadiin sawah? sejahterakan rakyat gimana? ga pernah ditanyain, asal janjinya sejahtera.

    masalah utamanya menurut saya itu jadinya rendahnya kesadaran berpolitik.. rakyat cukup denger janji sama amplop dikit udah seneng, pengusaha ga peduli siapa yg mimpin, asal bisnis mereka lancar dan kalo ada apa2 bisa di'bantu' mereka sudah senang. Kader2 alias elit2 politik jadinyapun cukup tebar pesona saja, ga usah peras otak untuk blueprint planning, semuanya sisanya goes with the flow, yg penting kepilih dulu.

    perlu kesadaran berpolitik yang tinggi, itu masalahnya, kalau sudah ada, ga perlu liat angka umurnya, dari program2nya aja bisa kelihat ini kader ke arah mana ngeliatnya, asal benar2 dijabar, bukan janji kabur semata.
  12. From abu_hamzah on 27 November 2007 18:06:54 WIB
    saya setuju bahwa masalah kita bukan soal kalau yang menjadi pemimpin itu tua atau muda, masalahnya adalah tidak ada saluran demokrasi untuk seseorang yang punya kredibilitas, bersih dan berani untuk menjadi pemimpin. Sistem demokrasi dan segala aturan yang kita miliki sekarang hanya bisa menjadikan seseorang yang populer, punya uang, tebal muka, dan koruptif lah yang bisa jadi pemimpin.
    Faisal Basri punya kredibilitas, pandai dan berani. Tapi apa mungkin dia jadi presiden??? nggak ada jalurnya...jadi Cagub DKI saja gagal krn nggak ada kendaraannya. Kalaupun dia atau tokoh muda lainnya dapat kendaraan untuk ikut Pilkada misalnya, apakah dia bisa menang?? nggak mungkin...pemilih kita sebagian besar adalah pemilih emosional bukan rasional, yang nggak akan ngerti bahasa tinggi orang sekolahan. Mereka memilih karena figur yang mereka kenal, musik dangdut atau angpau.
    Kalau mau merebut kepemimpinan nasional masuk saja ke Parpol yang besar kayak Budiman Sujatmiko, rubah dari dalam kemudian rebut kepemimpinannya. Tapi jangan berhenti kayak Faisal Basri di PAN dong, dimana-mana partai di Indonesia ya pasti akan ketemu orang-orang yang menjengkelkan, oportunis, cari makan lewat partai, preman, dsb. Tapi kalau karena itu kemudian jadi LSM dan teriak-teriak di berbagai forum, ya maaf saja ternyata kelas anda cuma aktivis bukan pemimpin.
  13. From zamroni on 27 November 2007 23:59:54 WIB
    Tua-Muda?
    (stuju) gak jd soal!

    kalo saya tetep dukung Gus Dur, mski ntar dibilang paling tua.. ya, biar gak trlalu kliatan tua, dipasangin sm yg sdikit lbih muda-lah! (tp yg jlas bukan WW, hehe..)
    Gus Dur & Din Syamsuddin!!
    tp kyknya brat, jdpun ntar dampaknya bs lbih runyam, slagi rakyat blum ngerti kmajuan..
  14. From yadhe on 29 November 2007 21:18:24 WIB
    yg tua yg bisa dipercaya. Tetapi bukan yg bego dan tidak tegas kayak SBY ini. Vote SUTANTO for president !
  15. From arthur on 29 November 2007 23:31:24 WIB
    buat saya, mungkin agak lebih bijak bila kita melihat pemimpin dari sifat kepemimpinan yang dimiliki ketimbang usia, jenis kelamin, asal parpol, dll. Mungkin kita bisa mengkaji, dari 6 pemimpin yang ada sampai saat ini mana yang punya sifat pemimpin dan mana yang tidak. Karena seorang pemimpin yang berbakat, tentu akan lebih mempunyai sikap dibandingkan yang tidak. Usia bukan masalah, karena yang muda belum tentu lebih baik. Sejarah mencatat pemuda pernah salah dalam bertindak. Pemberontakan PETA yang berakhir dengan pembantaian oleh Jepang menunjukan tak selamanya darah muda dapat bertindak bijaksana.
    Saya lebih mengharapkan siapapun yang akan maju mencalonkan diri pada 2009 besok, mampu untuk mengintrospeksi diri, apakah benar memiliki sifat pemimpin ataukah sifat tersebut "karbitan". Sebab jika sifat dasar yang dimiliki tidak mendukung, tentu situasi dan kondisi akan sama saja.
    Saya bukan mendewakan Soekarno, tp sebagai seorang yang punya sifat pemimpin dia mampu untuk mengendalikan bangsa ini sampai mempunyai pengaruh yang cukup untuk ukuran bangsa yang baru merdeka. Tidak usah kita melihat kekurangan-kekurangan yang ada, karena semua pemimpin tentu pernah melakukan kesalahan. Tp bila dia berbakat, kesalahan yang ada bisa diminimalisasikan.
    Ok, sekian dari saya..
  16. From defrianto on 30 November 2007 20:50:31 WIB
    IT`S OK
    yang penting adalah pemimpin yang tegas
    ga penting tua,muda,batk jawa atau apalah..................asl mempunyai bakat sebagai pemimpin
    semua pasti fine-fine aja.
  17. From Reza on 20 December 2007 15:24:01 WIB
    Sejarah Presiden Indonesia 40 tahun terakhir ditentukan:
    Siapa bapaknya? Mega
    Siapa kakeknya? Gusdur
    Apa pangkatnya? SBY, Suharto
    Menurut saya jauh lebih penting mendahulukan pendidikan. Berapa banyak sih politisi kita yang mementingkan pendidikan? Saya ngga pro Singapura dan ngga menyangkal banyak koruptor yang ditampung mereka, namun di negara mereka sangat anti korupsi & pendidikan benar2 dinomorsatukan......apa demokrasi yang menciptakan keadaan seperti yang kita dambakan itu? Democracy is not the key.
  18. From Emel Mixsa Muslimy (17) on 20 November 2008 00:43:05 WIB
    Assalamualaikum, memang benar bahwa saat ini kita belum menemukan sosok pemimpin yang sempurna, namun bagi mereka yang menjabat sebagai pemimpin terkadang tidak pernah berfikir bahwa diri mereka itu memiliki kelemahan
    OK, Nabi Muhammad saja, masih dianggap belim becus oleh calon pengikutnya....
    ya udah lah kita yang waras ngalah..
    Jazakumullah Khoiron Kasiro
    wassalamualaikum
  19. From dawud kamaluddin on 31 October 2009 19:10:52 WIB
    oke,memang seperti itu seharusnya, tak membedakan tua muda untuk jadi seorang pemimpin yang penting loyalitas untuk bisa jadi pemimpin,,sebenarnya banyak potensi yang dimiliki, tapi sayangnya mimpin diri sendiri aja repot, apalagi mimpin orang lain?
    no body perfect..,oke,sekarang saatnya yang tua bagi2 pengalaman, yang muda benahi pengalaman.

« Home