Articles

Stop the Busway Construction Monster!!

Perspektif Online
02 December 2007

Dalam suatu halaman FLickr ada foto ini yang mengundang komentar ini:

lelisa says:
Cars are allowed on the sidewalk?

 

ada jawaban langsung dalam bahasa Inggris:

wimar   says:


That's not a sidewalk. it is a busway lane under construction. Cars should not be allowed because it is a safety hazard. Some break their axles when they come to a sudden break in the concrete. For motorcycles the danger is more acute. Last week i saw a man lying on the concrete drenched in blood, next to a motorcycle which had hit a bump in the concrete.
.
That's the story of the busway. a good idea when implemented in its land of origin, Colombia, as part of a four-aspect public transportation system. Here it is a disaster, beyond its traffic-clogging effect. Taken piecemeal and implemented in Jakarta, the busway has been a hotbed of corruption. The previous director of the busway project is in jail for corruption, although he kept saying he was following the governor''s orders. Now it is a death trap. Eliminate this safety hazard!!
.
Sad but true - would welcome rebuttal from the governor and his people.

untuk yang males bahasa Inggris:

STOP MUSIBAH BUSWAY! Mobil dan motor yang tidak dilarang naik jalur busway setengah jadi, menghadapi kecelakaan. Ada mobil patah as, ada speda motor terjungkal meninggalkan pengendaranya berlumuran darah di atas beton. Kalau tidak bisa menghentikan korupsinya, paling sedikit hentikan jebakan maut yang bernama proyek konstruksi busway!

 

Print article only

40 Comments:

  1. From alfred thanos on 03 December 2007 06:58:08 WIB
    niatan nya sih mau menebus dosa atas kemacetan yg 'mereka' buat karena pembuatan jalur tapi nyatanya malah membuat 'jebakan batman'

  2. From riris on 03 December 2007 07:45:13 WIB
    (Elite)Bangsa kita ini memang jarang yg berpikir strategis n struktural. Semua serba tambal sulam. Mestinya transportasi publik dibenahi dulu (mau bikin busway, subway, monorel atau "way-way" lain), baru ngurusi produksi kendaraan bermotor. Lha, ini kebalik! Orang telanjur beli mobil apa pun caranya, produksi mobil/motor "mbludag", eh baru, ngadain busway cs!

    Ada yg komentar, "better late than never," tapi kalo telat, mbok kerjanya jangan setengah2. Kenapa sih, ga tuntas sekalian! Biar ga ada lagi yg namanya kecelakaan konyol seperti yg dilihat juga sama Bung WW. Mestinya korban bisa gugat PEMDA DKI, tuh.

    Mungkin karena kita ini masih lebih suka diem, jadi pemerintah perlakukan kita semena-mena. Betul juga kata Sarwono, DIAM ITU BAU!
  3. From AG. Syam on 03 December 2007 08:45:29 WIB
    Pengadaan moda transportasi "Ciliwung Blue Line" saya kira merupakan salah satu langkah jitu dan perlu terus ditambah dan dikembangkan jalurnya. Tidak perlu merogoh banyak biaya karena infrastrukturnya sdh tersedia.
  4. From M Fahmi Aulia on 03 December 2007 09:59:10 WIB
    lho, petugas2 di Indonesia kan seringkali 'menyelamatkan' dari mulut harimau, tapi menyodorkan mulut buaya sebagai gantinya :p :(
  5. From bramsakti on 03 December 2007 10:52:53 WIB
    kayaknya kita harus adil dalam menempatkan masalah busway ini. Khusus mengenai kasus kecelakaan kendaraan pribadi (mobil & motor) yang melalui jalur busway yang belum jadi, apa tidak sebaiknya kita lihat kasus per kasus. Karena banyak sekali kejadian akibat kelalaian dan kecerobohan dari pengguna jalan itu sendiri. Udah tau tuh jalur belum selesai dibangun, karena macet dan gak sabar.. dia terobos deh.. dengan segala resiko nya yang semestinya mrk sudah sadar.

    Mengenai kemacetan akibat pembangunan busway, itu rasanya resiko bersama yang harus kita terima (dengan tidak ikhlas!)
    Tapi sorry to say, kelemahan penerapan moda transportasi ini di jakarta, selain karena korupsinya tentu; kurangnya jumlah armada sehingga ketepatan jadwal bis tsb tidak terkontrol. Seandainya hal ini bisa diperbaiki, bukan tidak mungkin akan banyak pengguna kendaraan pribadi yang akan berpindah ke bus transjakarta ini, termasuk saya.

    we'll see
  6. From Trinie on 03 December 2007 12:12:45 WIB
    Basi!
    Percuma ngomel-ngomel!
    Mereka (yang jadi korban kecelakaan patah as dll) tahu kok resikonya naik-naik ke atas beton itu.
    Begitu mereka kena sendiri, baru ngomel-ngomel "kok ga ditutup sih?"
    Halah! Omelan yang SUPER DUPER BASBANG!
    BULLSHIT kalo mereka bilang "ga tau"

    Ga ada respek lagi deh buat mereka.
  7. From wimar on 03 December 2007 12:47:59 WIB
    Bramsakti dan Trinie punya sikap pribadi yang bagus dari segi tidak mau menyalahkan orang lain. Tapi mungkin anda tidak tahu bahwa di negara normal, pemerintah (kota atau negara) punya tanggung jawab dalam keamanan publik. Dan masyarakat punya harga diri untuk menuntut hak.
    Kalau ada orang cedera karena fasilitas umum rusak, pemerintah dituntut milyardan rupiah, bukan korbannya yang di maki-maki.
    Banyak orang di negara miskin tidak sadar akan haknya. Bahkan lama-lama membela penguasa yang menindas mereka. Ini namanya 'Stockholm Syndrome.'
    Rakyat saling menyalahkan, penguasa makin kaya. Korupsi busway dibiarkan, jalan berbahaya dimaafkan, sementara rakyat tidak merasa dirugikan oleh kesembarangan pemerintahan. Kasihan.....
  8. From asep on 03 December 2007 16:35:06 WIB
    Kali ini saya setuju dgn Bung Wimar. Proyek busway tidak lebih dari proyek tolol dari pemerintah DKI. Problem macet di jakarta sudah jelas sejelas2nya yaitu jumlah kendaraan yg overloaded.
    Solusinya ya kurangi jumlah kendaraan bermotor dgn pajak progresif!
    Tapi karena industri otomotif jauh lebih basah utk di korup daripada industri sepeda, maka Pemda DKI tidak juga berani ambil kebijakan. Proyek busway ya tidak lebih dari memberi obat salep utk gatal2 di kaki akibat penyakit Kencing Manis! Padahal seharusnya ya diet ketat jgn makan gula!
  9. From -tikabanget- on 03 December 2007 18:44:23 WIB
    jadi.. sayah bisa bantu apa?
    demo?
    **siap siap pesen spanduk**
  10. From Ray Rizaldy on 03 December 2007 19:34:25 WIB
    lucu sebenarnya pertanyaan yang diajukan di awal tulisan.
    saya ketawa, busway disangka sidewalk.
  11. From tutu on 03 December 2007 20:35:48 WIB
    sebenernya yang geblek ini sapa to? pemerintahnya yang tetep nekat membangun jalur busway, ato penduduknya yang asal serobot jalan meski jelas-jelas itu bukan jalurnya?

    masih setengah jadi pula..


    klo saya sih, lebih menyalahkan pengemudi yang asal serobot itu..


    mbok ya tertib dikit klo jadi penduduk..
  12. From Marisa Duma on 04 December 2007 08:02:21 WIB
    Saya nunggu monorail. Ngga bisa diserobot dari jalur sebelah (kecuali mobil atau motornya bisa terbang). Kalo ada kecelakaan paling nyusruk jatoh benjol...
  13. From feha on 04 December 2007 09:15:57 WIB
    saya termasuk orang yang pro dengan pembangunan jalur busway.
    hanya saja emang masih banyak hal2 yg perlu diperbaiki dalam pengembangan dan operasionalnya....
    dan jebakan 'maut' tersebut adalah salah satu hal yang perlu diperbaiki dan diberikan masukkan kepada pengembang dan pengelola
  14. From sinta on 04 December 2007 10:01:09 WIB
    sekedar share ttg pembangunan busway
    saya tinggal pas di depan pembangunan busway di daerah pd indah.
    Pengerjaan jalan beton itu pd jam 10 malam ke atas
    Penebangan beberapa pohon palem dilaksanain jam 2 pagi
    Bisa dibayangin bisingnya gergaji mesin dan pengecoran beton yg mengganggu jam tidur
    Ini belom di tambah dengan penutupan area U-turn
    Sebenarnya apa yang mau di cari pemerintah ya????
  15. From Agus on 04 December 2007 11:34:25 WIB
    Saya termasuk orang yang mendapat dari busway dan kebetulan saya sedikit terbebas dari macet jakarta. Kalo bilang bodoh bagi saya semuanya dalam keadaan bodoh. seingat saya dulu sutiyoso janji si PI hanya akan dikarpet merah (tidak dicor). Dan mengapa jug busway harus bikin jalan jali khan jalannya sudah ada pake ngecor2 lagi nambah biaya, nambahin masalah, kalo mau di pasangain pembatas, tinggal pasang aja nggak usah pake ngecor.

    Dan kalo terpaksa harus ngecor, yang cepet aja khan bisa, sabtu minggu di kebut siang malam saya yakin dapet 5 km. Kalo kata Gusdur gitu aja koq report.

    Untuk saat ini memang pemerintah harus kerja keras dan kerja cerdas. Tapi barangkali banyak aparat yang nggak siap.
  16. From Intox on 04 December 2007 15:03:47 WIB
    Wah wah... sedihnya membaca tulisan yg asal ngomel. Betul kata pak Wimar, di negara normal (hahahah, kocak juga ekspresinya), pemerintah bertanggung jawab atas penduduknya, bukan sebaliknya. Di masalah ini, sudah seharusnya pemerintah menyediakan tanda-tanda bahaya.

    Jangan salahkan yg terkena kecelakaan. Tanya dulu kenapa jalan yg mereka bayar lewat pajak mereka tiba-tiba diambil alih oleh busway? Kenapa jalan terlalu sempit? Kenapa rusak sekali sistem busway dengan segala macam ketebelece dan korupsinya?

    Ini salah satu masalah besar kita: dari kecil (dan dari dulu) terindoktrinasi bahwa pemerintah adalah penyelamat. Bukan. Negara bertugas mendengar dan mengikuti rakyat, bukan mengatur rakyat.
  17. From boed on 04 December 2007 15:19:56 WIB
    Saya melihat bahwa permasalahan yg ada memang sangat kompleks. Belajar dari apa yg dilakukan Singapura, kebijakan strategis yg dibuat untuk masalah transportasi semestinya dibuat sistematik dan sistemik.

    Benang merahnya adalah:
    1. membuat moda transportasi umum masal menjadi menarik (i.e. nyaman, terjangkau, manusiawi, Singapura menyebutnya seamless door-to-door journey) plus profitable dari sisi operator,dan
    2. membuat transportasi pribadi menjadi kurang menarik (e.g. CoE (certificate of entitlement), pajak mobil yg mahal, electronic road pricing, parkir mahal, dll).

    Sayangnya kebijakan di Jakarta, seperti yg disebut bung WW, sepotong-sepotong. Sehingga dampak negatifnya yang terlihat mencolok. Kebijakan sepotong-sepotong disebabkan salah satunya karena tidak cukupnya dana, karena --> dikorupsi. Tapi saya tak yakin 'ahlinya' akan setuju dengan pendapat saya.

    Jakarta perlu dikurangi bebannya dengan memindahkan sebagian perannya ke daerah / kota lain. Tapi, sekali lagi, saya tak yakin 'ahlinya' akan setuju.

    regards
    b oe d



  18. From wak tul on 04 December 2007 20:07:06 WIB
    Semua komentar benar...


    Kenapa sampai terjadi demikian ?
    Jawaban saya yg dungu ini adalah : karena tak ada system yg benar. System yg terbentuk adalah karena ketiadaan system. Jadilah negara besar (yg mestinya berwawasan sosialis) dikelola tanpa tujuan jangka panjang.

    Masalahnya :
    1. Masyarakat akan bikin anak sebagai penyambung generasi dan system jaminan sosial hari tua
    2. Konsekuensinya jumlah penduduk meningkat
    3. Kebutuhan hidup, termasuk transportasi juga meningkat, apalagi ga ada system pajak yg ngerem
    4. Ketika tawaran solusinya tidak komprehensif, atau bahkan dibumbui ketidakjujuran (incl. korupsi), maka terbentuklah lingkaran setan. Orang tidak fokus lagi dengan akar permasalahan. Jadi gubernur cuma berapa tahun sih ? Kalo yg namanya judicial review, class action etc. ada sanksinya n ada yg berani nggak ?

    5. Jaman dulu triple decker diributin, karena calon developernya citra marga nusaphala (tahu ndili, siapa bosnya) dan akan menghabiskan banyak dana. Trus kalo jalan cuma ditebalin beton, apa pula manfaatnya ?
    Mendingan kasih tiang sekalian, dan jadilah jalan layang yg suatu saat bisa menjadi triple decker kayak di Seoul.
  19. From Aslam on 04 December 2007 21:47:55 WIB
    bukan saja macet, tabrakan, yang terjadi namun jalur bus way juga dijadikan alternatif polisi lalu lintas mencari uang, mengapa?karena ada kesempatan dengan beralaskan kita pengguna jalan melanggar jalur? saya juga heran padahal saat ini jalur bus way yang sedang dibangun bukan nya di ijinkan untuk digunakan?
  20. From anggana bunawan on 05 December 2007 09:35:01 WIB
    masalah transportasi di jakarta terutama memang udah jadi momok, dari penyelenggaranya dan pencetus busway aja udah korup banget,,

    silusi macet sekarang jadi biang macet,,, kalo nyalahin masyarakat kenapa ga mau pake public transport,, ya gara2 public transport kita ga aman ga nyaman dan ga menunjang berakttivitas.

    akhirnya sekarang banyak hal dikorbankan hanya untuk keogoisan busway...

    mau marah rasanya kalo ngeliat busway melenggang bebas karna saya berada di kawasan penyangga jakarta yang sering mendapat imbas dari jakarta, seperti sampah, macet, tapi tidak ada sarana transportasi yang menunjang dari daerah penyangga jakarta ke jakarta.
  21. From bocah gemblung on 05 December 2007 15:50:04 WIB
    MUSIBAH BUSWAY JAKARTA ADALAH OUTPUT dari semua pola pikir, perilaku, berkeputusan, berkomunikasi, yang tidak didasari oleh nalar yang logis. Karena terbiasa berpikir pake naluri/nafsu/emosi negatif. Sehingga seluruh pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan penuh dengan rekayasa bulus dan manipulasi yang terstrukturformalkan. Demi tuntutan perut, penampilan, nafsu kekuasaan dan harta.
    Mengelola kota raksasa Jakarta tidak bisa dengan pendekatan yang kerdil lagi usang. Ibarat mengelola kekayaan tidak bisa dikelola dengan pikiran melarat (miskin pengetahuan, pertimbangan matang, kedewasaan, visi, ke depan, mengutamakan proses daripada hasil instan yang malah menambah masalah dan mencelakakan). Banyak pejabat yang alergi dengan kampung, padahal pikiran mereka lebih kampungan daripada orang kampung.
    Busway menjadi musibah, karena sejak awalnya si penggagas busway yaitu sutiyoso, ketika naik jadi gubernur DKI sebenarnya juga musibah. Tidak menggunakan proses demokratis, tapi langsung tunjuk hidung karena lobi-lobi politik, faktor “kedekatan” dengan Sang Mahaeyang Soeharto, dan mental ABS. Biasaaaa, di era Sang Mahaeyang, cara-cara itu wajar dilakukan. Mulut berucap demokrasi Pancasila, tapi kaki menginjak –injak demokrasi dan pancasila itu sendiri, dan tak lupa sambil memberangus suara dan daya nurani rakyat. (saya ngomong nurani rakyat tapi saya bukan antek hanura bikinan jendral salah satu jongos sang mahaeyang lho).
    Ya namanya jabatan musibah, sifatnya serba mendadak, tanpa persiapan, juga tanpa pengetahuan, perencanaan dan strategi pengelolaan, juga visi misi yang handal. Maka sutiyoso jadi gubernur dengan bekal seadanya. Yang penting dia mengatur semua lini kepentingan sesuai dengan selera nafsu penguasa dan selera gue, sambil menangguk untung. Yang penting jalan dulu, sambil tak lupa senyum dan tutur kata lembut lagi ramah.
    Kalo masalah banjir, kemiskinan dan macet? Sabodo amat. Maka cara-cara mengatasi masalah itu hanya tambal sulam. Sekedar asesoris, biar kelihatan sibuk dan terkesan seuurieuus.
    Jatuh korban jiwa dan luka-luka, serta material? “Itu kan konsekwensi logis dari hukum alam…. Wajar dooong. Semua ada resikonya…. Salah sendiri bikin rumah di situ…. Kan gak punya ijiiin….Pertambahan jalan tidak seimbang dengan pertambahan kendaraan…… Air kan dari bogor….. “ bla bla bla. Dan beribu macam alasan yang anak setingkat SD pun bisa memberi alasan seperti itu.
    Dia beralasan seperti itu, sambil terus meneken proyek properti mewah ratusan M bahkan T, reklamasi pantai dan menguruk hutan bakau untuk orang kaya tanpa mau tahu udah keluar AMDALnya apa belum. Mengijinkan pertambahan pemakaian kendaraan bermotor, supaya PAD meningkat tanpa sedetik pun mikir jalan. Terusss menggusur pemukiman untuk menghilangkan kekumuhan, BUKAN KEMISKINAN.
    Dia mau melakukan itu demi fulus, angpaw, sabetan, uang teken, uang rokok, uang bensin, atau apapun, yang jumlahnya bisa ribuan kali lipat dari gaji resminya. Maka setelah 10 tahun menjabat, dengan berlenggang santai, tanpa merasa berdosa, dan sambil cuci tangan, dia meninggalkan jabatan dengan meninggalkan masalah 1001 kali lipat daripada dia pertama naik jadi gubernur, juga tentu sambil menghitung laba selama menjabat. “ah, paitane nyatane ora ngepas-ngepas banget. Malah iso kanggo modal pilpres iki.”
    Dia gak pernah merasakan jadi orang miskin, karena pendapatannya yang ruaaar biasa. Gak pernah ngerasa gimana susahnya macet atau naik kendaraan umum, karena selalu dikawal atau naik heli.
    Penggantinya si foke, yang merupakan murid setianya, juga menerapkan ilmu yang diwariskan padanya. Walaupun cara dia naik jabatan jadi gubernur agak canggih pake pilkada, tapi kalo sistem dan pola pikirnya masih karatan dan amburadul, yaaaa ibarat menimba air keruh dengan ember emas.
    Bedanya dengan bang suti, si foke ini agak stress, karena kehilangan tempat mengadu. Karena bang suti sudah menyapihnya untuk menghadapi sendiri. Bang suti gak mau diganggu acara jalan-jalannya untuk menjaring dukungan jadi presiden. Maka keputusan dari orang yang stress dan kalut itu juga agak-agak ngawoeuuur. Banyak pakar manajemen dan SDM yang meminta untuk tidak mengambil keputusan saat stress.
    Anak menteng, yang gak pernah ngerasain susahnya macet, digusur, harga naik, dan banjir, yang sekolah arsitektur sampe jerman ini pun kayaknya juga gak nyangka diwarisi tumpukan masalah begitu masifnya dari sang abang. (teganya lu, bang!) (soalnya di jerman kan jarang macet) Padahal busway kan akal-akalan dia sama si abang. Maka udah gak ada pilihan lain. Jalanan yang dulu dah macet dan sempit (kayak jalan panjang raya – permata ijo, PI), dibikin jalur busway malah jadi macet total. “Gimane nih ? padahal proyek dah gue teken, dah masuk ke agenda pemda, angpaw juge dah masuk ke rekening gue? Gak ada care laen, pokoknye jalan terus ! Ibarat kate biar rakyat teriak-teriak, proyek kudu tetep jalan. Malu dong sama yang bikin proyek.”
    Maka dengan maksud untuk mengurangi macet, dia membuka jalur busway yang sudah jadi untuk dilewati kendaraan pribadi. Padahal jalur busway ini berbeda ketinggian dengan jalan biasa. Tapi apa lacur? Malah bikin motor terjungkal, mobil terperosok, daaan tambah macet. Kalo udah gini, sooo pasti si foke gak bakalan nanggung. Pokoknya full rekayasa pelecehan kepentingan masyarakat. dan kita sebagai pengguna jalan, jangan asal ikut aja himbauan pemerintah DKI yang ibarat kata-kata manis diucapkan mulut berbisa.
    Busway yang diadopsi dari Bogota ini, di tempat asalnya sono dikelola dengan terpadu dan menyeluruh dengan juga menyediakan jalur pejalan kaki (pedestrian), dan sepeda, tamanisasi dan hutanisasi kota, serta ramah bagi penyandang cacat dan anak-anak. Sono juga beriklim tropis lho. Serta dengan penerapan UU tata ruang dan peruntukan lahan yang sangat sangat ketaaaat. Jadi gak sembarangan bikin rumah, real estate, apalagi mall, kayak di sini.
    Kalau di sini mall dan real estate itu adalah cara instan untuk menutupi kemiskinan mental warga dan pemerintahnya. Dan ibarat bunuh diri : adalah pemecahan permanen untuk mengatasi masalah sementara. (“Kan biar jakarte keliatan modern kalo ade mol.” “Mall itu gunanya menutupi pemandangan perkampungan yang gak sedaap juga, loooh boo.”)
    Busway di sono dibangun mulai pemerintahan walikota Bogota yang latarbelakangnya dosen filsafat matematika, dalam proses pemilihan yang sangat-sangat demokratis dan bersih dari uang. Dan berkelanjutan oleh walikota penggantinya sampe sekarang. Tau sendiri gaji dosen kan, hanya cukup buat hidup sehari-hari. Padahal mereka non muslim lho, dan bukan haji, kayak abang suti dan foke. Jadi mereka gak soleh-soleh amat (menurut ukuran orang kita yang ’miskin otak, tapi kaya nafsu’).
    Si abang dan foke kok cuma sepotong-sepotong menerapkannya. Mungkin belom studi banding kalii yaaa. Pasti Foke seneeeeng banget kalo diadakan studi banding ke sono, supaya tambah ke-AHLI-annya (di jerman gak lulus mata kuliah arsitektur perkotaan/ tata ruang kota kaleeee. Waduuuh, malu-maluin korps arsitek Indonesia donk). Asal jangan bawa oleh-oleh marijuana buat ngilangin stress aja, hehehehehe.
    Semua ternyata sudah ada proses yang bisa dinalar kok dengan nalar yang sederhana, biarpun dah ditutup-tutupi dan dimanipulasi.
    Dan bang Foke, selamat berstress ria, sambil misuh-misuh, karena terkena lemparan batu 100 ton dari tangan bang suti yang sudah langsung dia sembunyikan di kantong celana sambil menghitung nikmatnya laba.
    Satu lagi bang foke : hanya ada dua pilihan : mau mengubah dirimu (pola pikir, sikap mental, pola bertindak & berkeputusan, keterbukaan pikiran), atau dirimu yang diubah (dari posisi jabatanmu). Ingat-ingat : Haree geneee, rakyat yang berdaulat !!

    Terima kasih Pak WW.
  22. From Bhakti Dharma, Nederland on 06 December 2007 04:36:16 WIB
    Terima kasih untuk infonya pak Wimar, bgai kami yang tinggalnya jauh dari Indonesia susah menilai kebaikannya Busway. Waktu tahun lalu saya pertama kali lihat busway pikiran pertama saya akhirnya Jakarta ada transpor umum yang baik sekarang. Saya tidak tahu efek sampingnya yang kurang baik begitu banyak. Sayang sekali kalau begitu, mengingati di kota Asia lain dimana ada transpor umum yang relatif baru(Bangkok-Skyway, Singapore-MRT, Delhi-metro) transpor umum disana banyak memperbaiki infrastruktur kota2 itu, tanpa menambah jumlah kecelakaan dan kemacetan jalan disana juga turun banyak. Mungkin untuk Jakarta satu2nya yang efisien juga semacam Skytrain, tapi saya tidak bisa menilai apa ada uang untuk membuatnya, dan apa juga ada orangnya yang bia merencenakan dan melaksanakan itu.
  23. From wimar on 06 December 2007 05:30:09 WIB
    Pak Bhakti, memang susah menilai proyek infrastruktur, sebab bukan hanya hasilnya yang penting tapi justru prosesnya, seperti pada public policy yang lain. Hitler bisa menghasilkan Autobahn yang hebat tapi kita tahu proses modernisasi Nazi meninggalkan banyak korban. Begitu juga Uni Sovyet, Cina, Irak dan lain-lain.
    Kita harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan penduduk Jakarta dan apa yang membuat mereka sulit, Jelas ada dua, yaitu banjir dan macet. Dua-duanya akibat korupsi yang menimbulkan abuse of public policy, dari segi zoning dan pengalihan dana anti banjir.
    Design proyek transportasi umum yang baik sudah banyak di DKI Jakarta. Di tahun 1976-1977 saya menjadi pemimpin tim Transprtation Economics untuk proyek JAKARTA LONG-TERM TRANSPORTATION PROJECT dengan sponsor UNDP. Rekan saya di Tim Traffic Engineering berasal dari Jerman. Studi itu dipresentasikan di perguruan tinggi dan di DKI dan mendapat sambutan bagus. Tapi setelah selesai, hanya sedikit dari usulan UNDP itu yang dilaksanakan.
    Bukan karena pejabat DKI kurang mengerti atau kurang berpengetahuan, tapi justru karena mereka pandai membelokkan policy ke arah keuntungan pribadi. Mengapa Belanda bagus infrastrukturnya? Bukan karena punya insinyur yang bagus - insinyur kita sama bagus, sekolahnya sama. Tapi Belanda punya demokrasi matang, dimana warga menggunakan hak menuntut jasa baik pada pemerintah. Di Indonesia lain. Banyak warga yang sadar akan hak dan kewajiban, tapi seperti dilihat dalam percakapan di Perspektif Online ini saja, banyak juga yang membela pemerintahan yang korup dan membela warga yang demokratis.
    Sutiyoso bukan satu-satunya Gubernur yang korup. Sebelumnya banyak birokrasi vested interest, termasuk jaman studi UNDP itu. Tapi Sutiyoso paling besar korupsinya, karena juga uang yang beredar paling banyak pada masa kerja dia. Prestasi Sutiyoso banyak. Tapi vested interest dia menganulir hasilnya. Mudah-mudahan Gubernur yang sekarang, Fauzi Bowo, beda, walaupun disponsor oleh Sutiyoso. Sayangnya, Fauzi Bowo tidak komunikatif, dan itu bisa mengawali kejatuhannya. Mudah-mudahan tidak terjadi. Siapa tahu?
  24. From reno on 06 December 2007 11:55:49 WIB
    bung WW taunya proyek busway yg sekarang ada korupsinya darimana ya.
    klo yg proyek tahap I & II saya tau banget , kebetulan tetangga saya yg kena bui.

    tentang ada kecelakaan : jelas banget pemerintah sembrono tidak membuat barikade agar itu tidak bisa dilewati kendaraan.

    masyarakatpun memang mentalnya maling, bukan lg haknya ko maen pake aja itu jalur mana blom jadi pula.....
    kasian.......
  25. From Foolan on 06 December 2007 13:07:15 WIB
    Nah, kalau begitu, kita kembali kepada Rencana Tata Ruang Kota / Wilayah yang SUDAH disepakati oleh "Pemangku Kepentingan".

    Pelanggaran terhadap Rencana itu seharusnya sudah ada aturan hukum yang inkracht.

    Kembali lagi wakil rakyat, ormas/lsm, orpol tentu bergerak untuk memperbaiki keadaan lewat penegakan / penciptaan aturan (TAAT Aturan mode on :).
  26. From Bramsakti on 07 December 2007 01:07:21 WIB
    Om WW yth, saya juga yakin bahwa semua orang tahu bahwa pemerintah di negara ini sangat tidak normal. Semua juga tahu bahwa proyek busway sarat dengan korupsi, udah pasti kontraktornya pun terlibat, akhirnya pengerjaannya suka-sukanya aja tanpa prosedur sama sekali; tanpa pengamanan, rambu-rambu apalagi memperhatikan pengerjaannya yang bikin Sinta (#14) keganggu tidurnya. Tapi kenyataannya proyek ini sudah terlanjur berjalan, gak mungkin di undo! Walaupun gak sesuai janji pake karpet merah aja seperti kata Agus (#15). Perlawanan terhadap proyek busway pun sudah dilakukan secara separatis oleh temen-temen di PI (walaupun dengan motivasi pribadi & kelompok dibandingkan memikirkan kepentingan yang lebih luas), toh pemda maju tak gentar membela yang bayar!

    Saya pribadi adalah warga sudah sangat muak dengan pemda DKI, mulai dari gubernurnya sampai petugas kelurahannya. Tapi apa yang bisa dilakukan warga biasa seperti ini? Marah-marah hanya bikin tambah sakit hari, gak produktif. Yang saya lakukan adalah berpikir positif dan mencoba mengakali situasi & kenyataan yang ada. SURVIVING kalo kata orang Tegal!

    Di negara ini gak mungkin kita melakukan tuntutan hukum kepada pemerintah atas kelalaian mereka dalam pelayanan publik seperti yang Om bilang, yg ada malah masuk mulut harimau, jadi bulan-bulanan mafia peradilan dan hasilnya Allahualam. Saya juga tahu mengenai stockholm syndrome dan saya rasa itu tidak terjadi pada orang-orang di forum ini.

    Mungkin penyelesaiannya harus top-down, harus di'beresin' dulu nih penguasanya. Ganti generasi rasanya lebih masuk akal!

    .peace

  27. From titiw on 07 December 2007 14:34:50 WIB
    Ealah.. kalo busway itu mah menurutku memindahkan kenyamanan dan kelancaran. Di sini jadi lancar, di sono jadi mampet. Di sini jadi nyaman, eh di sono jadi sumpek. Tapi tetep persentase yg dirugikan lebih banyak.. (sot tahu.. biarin ah yg penting kece..)
  28. From onohaw on 07 December 2007 16:30:26 WIB
    Menurut saya salah satu sumber kemacetan di Jakarta dari dulu sebetulnya ya angkutan umum. Maksudnya, sistem kejar setoran itulah yang membikin pengemudi angkutan umum cenderung ngawur. Buktinya, kalau di tempat-tempat "strategis" ada satu saja polisi nongkrong, berani jamin kemacetan di sekitar tempat itu tiba-tiba bisa lenyap :D

    Tapi, soal busway saya juga tidak setuju. Soalnya, tidak memberi andil apapun dalam solusi kemacetan maupun permasalahan sistem kejar setoran tadi. Saya juga kurang hormat dengan warga Pondok Indah. Mereka menolak busway, tapi tadinya bukan karena peduli dengan Jakarta. Kalau lewat Pondok Pinang katanya gak papa :D
  29. From ayahnyaRafi_ on 07 December 2007 23:22:33 WIB
    Serahkan aja pada ahlinya...
    pan kita dah sepakat, makanya bang kumis yg mimpin Jakarta heheheh
  30. From Dartono on 11 December 2007 11:26:34 WIB
    Bagaimana kalau jumlah kendaraan pribadi yang berpoerasi di Jakarta dan kota - kota besar lainnya dibatasi. Toh, diluar negeri saja seperti di jepang yang tempat produksi mobil banyak orang pada jalan kaki atau bersepeda. Selain sehat, hemat energi dan tentunya hemat biaya.
    Orang kota di Indonesia banyak yang manja - manja. Mau pergi jarak dekat saja pakai mobil atau motor. Ada lagi satu keluarga yang mobilnya dobel - dobel. Buat kerja sendiri, buat belanja sendiri, buat ngantar sekolah anak sendiri......
    Tentunya faktor keamanan dan kenyamanan juga menjadi pendorong kenapa orang lebih suka bawa kendaraan pribadi. jadi, tolong pak polisi amankan jalan raya, jangan cuma bisa nilang doang....
    dan buat yang lagi dipercaya pegang amanat, jangan korupsi supaya semua selamat !
  31. From toni on 12 December 2007 02:45:15 WIB
    everybody has an opinion !

    jadi, saya akan melihat dari kacamata saya saja.
    saya pengguna bussway, dari jaman blok M - kota gratis hingga sekarang. sebelumnya, saya menyetir mobil hingga akhirnya merasa bahwa saya perlu untuk berpartisipasi menangulangi kemacetan jakarta.

    dulu, setiap hari saya menyumbang sekian percent dari polusi didunia. sekarang saya mulai menguranginya.


    dulu saya mengambil kurang lebih 1,5 hinnga dua meter ruas untuk saya ambil sendiri. sekarang saya mengambil 6-7 meter untuk kemudian saya berbagi ke 85 penumpang lainnya.

    mohon jangan salah tanggap. bukan berarti saya pendukung patriotik pemerintah. bukan sama sekali. saya rasa bussway akan lebih baik jika tidak di korup oleh pemda DKI.

    hanya saja, lucu rasanya kalau berteriak macet dan menyalahkan busway, sedangkan anda mengendarai SUV sendirian ,setiap hari. seperti bilang ke anak kecil jangan makan eskrim kalo ga mau batuk, tapi sambil memegang satu mangkok besar eskrim berukuran 1 liter.
  32. From Dobooll on 12 December 2007 06:05:56 WIB
    Apapun kalo tidak disertai dukungan hasilnya kurang lebih seperti komentar tentang bus way ini pada umumnnya tapi hal itu tidak menarik untuk dicermati, yg menarik adalah proyek ini terus berjalan dan terus berlanjut gak peduli apapun, siapapun dan bagaimanapun just goes on and so on.....

    Artinya sistem transportasi ini mencoba untuk "memaksa" cara berpikir banyak orang khususnya di jakarta kalau kita berandai andai bahwa pemerintah membuat sistem transportasi di jakarta yg secara sosial sungguh komplek dan rumit maka harus dng jalan "Paksaan" dulu yg kemudian diikuti dng kebijakan berikut.

    Nah.... saya mencoba mnegikuti alur berpikir positif tentang bus way sbg penyelesaian sosial untuk sebuah tuntutan bertransportasi dng baik cepat & aman yg berbasis kepada perputaran ekonomi yg effisien & effektif

    Target transportasi jakarta adalah dng membangun JALUR Bus Way yg akan meliputi seluruh jakarta dan sekitarnya (Depok, Bekasi, Tanggerang mungkin Bogor) selanjutnya karena hampir semua area dapat terjangkau dng bus way maka barang siapa yg akan masuk Jakarta dng mobil pribadi akan dikenakan biaya yg cukup signifikan bisa jadi dng kisaran tarip 20 - 50 ribu untuk masuk Jakarta seperti layaknya Tol dsb dst dan diikuti dng perubahan tarip parkir yg juga signifikan dng kisaran 10 ribu/Jam.

    Saya kira hal itu juga bisa dilakukan, diterapkan di jakarta mengingat Three in one dilakukan dng modus operandi yg sama ("paksaan) yg akhirnya orang juga tunduk dan ikut aja atau tarip Tol mau naik berapa aja orang juga tunduk dan ikut. dalam hal Bus Way kenapa Tidak???? toh ini untuk kebutuhan khalayak... kebutuhan sosial..... jadi jangan kaget nati kalo tiba tiba disebelah kita seorang artis atau pejabat naik bus way bersama kita karena pertimbangan tiket masuk jakarta yg MAHAL dan Juga Parkirnya....

    sampai ketemu di Bus way.... sampai jumpa dng Bung WW yg mungkin juga ogah naik mobil pribadi atau kita bisa mencermati siapa siapa yg masih naik mobil pribadi di jakarta ini.....??????

    Rocka Rullah
  33. From Amalkan Nasution on 13 December 2007 18:20:05 WIB
    Pemerintah Kota Jakarta memang tidak pernah punya rencana untuk pembangunan tata kota. Semua proyek yang ada di kota tercinta ini serba dadakan. Coba dech kalau semua nya ada planning - nya.
    Kita ga perlu repot repot ribut masalah busway ini.Om WW bahas juga dong tentang Banjir Kanal Timur AKA BKT.
  34. From clovanzo on 17 December 2007 17:09:16 WIB
    Saya sering sekali melihat kecelakaan yng diakibatkan proyek ini. Sampai² seorang rekan di kantor saya berkata "Saya akan pilih Gubernur ini jadi presiden RI, Biar seluruh rakyat Indonesia merasakan dashyatnya tekena macet akibat Busway"

    Ironis...
  35. From Dee on 18 December 2007 15:51:17 WIB
    Biar seluruh rakyat Indonesia merasakan dashyatnya tekena macet akibat Busway......


    Jadi, kalau kita hubungkan dengan Otonomi Daerah dan Pemekaran Wilayah yang gencar selama ini (propinsi beranak-pinak, kodya/kabupaten bercucu-cicit). Apakah ada Acuan Dasar Pusat / Daerah bahwa Jalan Negara harus minimum selebar x m, jalan Propinsi y m, dst. Batas sepadan HALAMAN Rumah / Gedung minumum z m?

    Saya kira ini penting dan perlu agar tidak terulang lagi ketika suatu kota mencapai perkembangan, masalah pelebaran, pembatasan dan jenis moda transportasi menjadi berlarut-larut karena tarik ulur berbagai kepentingan.
  36. From Purwoko on 18 December 2007 21:43:58 WIB
    Kapan-kapan naik busway...
    Kapan-kapan naik transportasi umum...
    kapan-kapan naik mobil pribadi...
    kapan-kapan naik motor pribadi...
    kapan-kapan ngerasain jadi WNI yang sejahtera...

    kapan yah ???????

    I Love Indonesia
  37. From timothy i malachi on 19 December 2007 17:30:33 WIB
    aduh saya pengguna busway sih jadi maaf kalo saya tidak setuju.....lagipula lebih berwawasan lingkungan kan menggunakan kendaran umum beramai2 daripada mobil pribadi....
  38. From Lukito on 24 December 2007 03:33:39 WIB
    Aku baru balik dari Adelaide, disana ada O-Bahn khusus untuk bus wae dengan kecepatan bus bisa mencapai 100 km/jam kalo udah masuk jalur O-Bahn yg merupakan guided track ditambah lagi supir bisa santai karena tidak perlu distir tuh bus.
    Keuntungan lain mobil lain ato motor nga bisa masuk ke jalur tersebut karena kendaraannya tidak di lengkapi dengan guided roll nya dan bisa ketabrak ama bus yang bisa lari kencang.
    Sorry aje info ini agak terlambat!!
  39. From chiekz on 07 February 2008 12:09:29 WIB
    Gimana penduduk Indo ga asal serobot ? SIM aja nembak toh ?
    Baca petunjuk jalan ora iso.
    Tanda (forbidden) diterobos masuk,
    tanda (S dicoret) disangka ga boleh jualan S...

    Setuju ma Riris, produksi kendaraan pribadi mbludag. Ampe gila tiap hari liat motor mobil sliweran kanan kiri ga liat marka jalan !! Garis lurus ga putus2, hajar bleh !
  40. From efos on 05 March 2008 15:14:22 WIB
    Kita semua punya andil dalam menyerawutkan Jakarta, termasuk anda yg sok taat pada peraturan.
    Inilah potret Ibu kota yg tak konsisten pada master plannya, dan seluruh kebijakan birokrasi, hanya bersifat tambal sulam.

    Saya tidak tahu 4 tahun kedepan Jakarta akan menjadi apa. Huh....menyeramkan....!

    Hallo Bang Foke... Saya nyesal pilih anda. anda tak punya visi yg jelas......

« Home