Articles

Diskusi UNAS: Mahasiswa apolitis mudah dibodohi

Perspektif Online
05 December 2007

Perspektif Baru di Universitas Nasional


Tak Kenal Maka Tak Sayang

Oleh Dewi Noviana, Perspektif Online

Di tengah rintik hujan yang mengguyur Jakarta sejak semalam, Wimar Witoelar masuk ke ruang Aula Universitas Nasional (Unas) yang terletak di daerah Pejaten. Ia menyusul Syamsuddin Haris, peneliuti L:IPI,  yang  menjadi salah satu narasumber dalam Talkshow Perspektif Baru yang mengangkat tema Demokrasi dan Pluralisme: Presiden Alternatif di Mata Mahasiswa. Tak lama, tepat pukul 14.00 Yenny Wahid, Sekjen PKB, pun tiba. Acara dibuka oleh Pudek III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unas Drs. Amrul Natalsa Sitompul, M.Si.


Kapasitas Aula Unas yang dapat menampung lebih kurang 300 orang, padat dipenuhi oleh para mahasiswa dari berbagai jurusan, bahkan ada dosen yang mengalihkan kegiatan perkuliahannya ke talkshow itu. Selain itu tak ketinggalan segelintir orang umum yang tertarik untuk mengikuti acara itu. Tak selang berapa lama setelah acara dibuka, mahasiswa FISIP Unas langsung menyerang Yenny Wahid. Lisa sang mahasiswa mencurigai ada niat buruk dibalik kedatangan Yenny ke Unas. Sangkaan Lisa dibalas Yenny dengan kepala dingin bahwa memang dewasa ini rakyat tidak mempercayai politik karena aktor-aktor politik yang berdiri di belakang parpolnya, tetapi Yenny menegaskan bahwa kedatangannya kali ini tidak ada sangkut-pautnya dengan kampanye politik. WW sebagai pihak pengundang  merasa tidak enak dengan Yenny sehingga dia merasa perlu untuk menegaskan maksud kedatangan Yenny. Maksud Perspektif Baru adalah menampilkan seorang analis (Syamsudin Haris) dan seorang pelaku (Yenny Wahid) agar pembicaraan mengenai pemilihan presiden mengandung substansi.

Menurutnya bagus mengundang politikus, sebab kita perlu juga mendengar orang yang kita tidak sukai. . Lain kali boleh mengundang politikus lain. Bahkan, bagus kalau diundang semauanya bergantian, nanti lihat siapa yang mau berdialog dengan publik dan siapa yang tidak. Syamsudin Haris menambahkan bahwa mahasiswa tidak perlu takut bertemu politikus, masa sih, didatangin sekali dua kali saja merasa akan dikuasai pikirannya? Menurut WW kalaupun ada yang mau berkampanye, yang terlihat lebih siap adalah dia sendiri, yang selain sebagai pimpinan diskusi, teman-temannya juga berjualan kaos gambar dirinya dengan aneka warna ceria yang mewakili karakter dirinya.

 

 

   

foto lengkap ada di flickr

 

Komentar Lisa disusul dua mahasiswa lainnya, Rizki dan Ratnasari, dan talkshow mulai kelihatan alur ceritanya untuk membahas sosok presiden alternatif yang diingini oleh kaum muda. Menurut Nur Sailan sorang mahasiswa FISIP, presiden yang diinginkan oleh anak muda adalah orang yang dari segi umur memang muda, bukan hanya ’generasi maghrib’ yang terus menguasai dunia perpolitikan di Indonesia. Dia menginginkan orang muda tak hanya jadi pendorong mobil tetapi juga mampu duduk di kursi pengemudi.

WW merasa tidak penting muda atau tua, seperti ditulis dalam Seputar Indonesia, yang penting oke orangnya. Syamsuddin Haris, peneliti LIPI mengungkapkan bahwa orang muda janganlah apolitis karena akan mudah untuk dibodohi. Kata WW, seperti menonton film, kita harus  tahu dan mengerti jalan ceritanya dulu, baru bisa mengomentarinya.

Yenny mengakui mengundang orang-orang 'baik' untuk ikut dalam dunia politik Dirinya pun sempat mengalami kebimbangan pada awalnya untuk terjun ke dunia politik, tetapi akhirnya dia sadar bahwa untuk memperbaiki sistem politik yang bobrok dibutuhkan orang-orang yang mau melakukan pendobrakan. Dengan adanya kekuatan demokrasi yang memungkinkan semua warga negara Indonesia untuk memilih presiden pilihannya, terbuka kesempatan bagi kita untuk berbondong-bondong menjagokan calon kita.  Kalau kita punya calon di luar partai, calon independen yang kita ajukan pun harus memenuhi kriteria sebagai pemimpin masa depan.

WW  menegaskan bahwa sosok pemimpin ideal di masa depan adalah orang yang peka, mengerti dan mampu mengolah isu yang terjadi di negaranya. Jangan hanya orang yang memiliki kekuatan pendukungnya, tetapi haruslah orang yang demokratis. Untuk itulah diperlukan seleksi jua untuk para calon presiden. Kita tak hanya menyukainya secara subyektif, tetapi harus juga melihat sisi objektif kemampuannya. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Laporan mengenai diskusi ini juga diterbitkan Kantor Berita Antara dan harian Republika

Print article only

35 Comments:

  1. From defrianto on 05 December 2007 19:55:34 WIB
    YUPSSSS.... that`s true...emang kebanyakan anak muda sekarang taunya hanya komentar dikit2 komentar gada tau apa2 komentar...... buat anak muda belajar dulu kalo da pinter baru komentar YOU KNOW!!!!!!!!!!!!
  2. From junjung on 05 December 2007 20:56:01 WIB
    @defrianto: sepertinya anda terlalu banyak omong, hati-hati bung....
    Anda boleh saja tidak suka mendengar komentar anak muda. Tapi harus diingat.... jika bukan kami yang berkomentar, lalu siapa? anda2 yang sudah tua kah?
  3. From LiZa (Cha2) on 05 December 2007 22:40:41 WIB
    DUUUhhhhhhh, mba atau mas yang menulis kayanya tidak seksama deh melihat dan mendengar pernyataan di diskusi kemarin. Kan kemarin saya katakan "mahasiswa jurusan apapun pasti dekat dengan politik, karena dalam buku Miriam Budiarjo, dasar-dasar ilmu politik, garis besarnya di jelaskan bahwa politik adalah suatu cara/proses untuk mencapai tujuan" maka siapapun orang yang melakukan proses untuk mencapai tujuan bisa di bilang dia adalah pelaku politik, dengan kata lain dia orang politik. jadi kalau mbak/mas menulis bahwa saya menolak orang politik masuk kampus, berarti saya juga tidak boleh masuk kampus karena saya Mahsiswa FISIP yang sangat dekat deangan kegiatan politik..., kemarin intinya saya hanya memastikan sekaligus memperingatkan keberadaan mba Yeni di acara tersebut bukan untuk memuluskan kepentingan partai di tahun 2009 mendatang. (perspektif baru harus lebih jeli di banding media lain yang hobi sekali membelokan berita kalau ada deal-nya)
  4. From albertus on 06 December 2007 01:14:23 WIB
    bener banget tuh, apalagi kebanyakan pemilih juga tidak peka terhadap isu yang diperjuangkan parpolnya, itupun kalau ada, tapi kalau urusan turun kejalan koar2, semuanya jago2, padahal mungkin yang bener2 ngerti cuma sedikit, sisanya cuma ikut2an, dan mungkin cuma demi kaos, amplop, dan makan siang gratis.

    mengenai pemimpin yang ideal, pertama rumusin dulu idealisme yang dia bela deh, jangan jadi populis plin-plan yang cuma goes with the flow.

  5. From Foolan on 06 December 2007 01:51:35 WIB
    Komentar saja, gpp, yang penting okol tidak dipakai, tapi akal didahulukan. Risikonya paling dapet: hhuhh....hhuhhhh.

    Besok-besok belajar yang lebih giat. Tunas muda, jangan pernah dibabat.
  6. From wimar on 06 December 2007 02:39:34 WIB
    LiZa(Cha2) yang baik: yang menulis laporan ini adalah Dewi Noviana, seorang mba, bukan seorang mas. Yang ditulis adalah: 'Tak selang berapa lama setelah acara dibuka, mahasiswa FISIP Unas langsung menyerang Yenny Wahid. Lisa sang mahasiswa mencurigai ada niat buruk dibalik kedatangan Yenny ke Unas.' Laporan Dewi adalah benar.
    Yang LiZa tulis diatas juga diucapkan, jadi kami ('mas' WW, redaksi PO) tampilkan keduanya disini sekarang. Yang hadir dan mendengarkan bisa membuat kesimpulan sendiri.
    Sekali lagi terima kasih kepada LiZa yang tidak segan berbicara.
  7. From didiet pob on 06 December 2007 13:56:03 WIB
    Demokrasi adalah milik semua kalangan, bukan hanya satu kalangan atau golongan saja... bahkan partai pun berhak berbicara atas nama demokrasi...

    di undangnya YW adalah mewakili kalangan praktisi dan kebetulan beliau juga salah seorang tokoh muda selain akademisi: Syamsudin haris dan WW (sudut pandang orang biasa), dalam dialog tersebut terjadi proses check and balance dan control secara sehat, baik dari para panelis ataupun para audience yang berkali-kali "mengingatkan" jika kampanye politik mulai dilancarkan... jadi tidak ada seorang pun yang pendapatnya absolute dan mendominasi apalagi "kampanye"

    diskusi ini benar2 berwarna dan sehat karena membahas berbagai aspek tentang Demokrasi dan calon pemimpin bangsa..

    ada yang berkomentar harus anak muda yang memimpin bukan generasi maghrib (kalau WW masih Ashar lah!!!) , sampai calon independen yang sekiranya bisa mereduksi oligarki partai politik agar lebih sehat, kuat dan amanah..

    jadi kita memang sedikit membahas parpol disana, tapi bukan visi dan misi serta kampanye salah satu parpol, melainkan berbagai keluhan tentang parpol serta usulan bagaimana parpol menjadi lembaga pilar demokrasi yang betul2 aspiratif, bukan hanya lembaga tempat berkumpul dan berundingnya para "makelar kekuasaan"...

    objektifitas dalam forum akademik harus didahulukan dan berada di atas segalanya..

    meskipun WW salah seorang pendiri GOLKAR, akan tetapi siring perjalanan, kesewenangan dan oligarki partai yang membuat beliau mendukung calon independen dan calon alternatif bagi penyehatan demokrasi
  8. From agus susilo on 06 December 2007 14:10:54 WIB
    wah....., komentar seorang phd kok kayak begini yah.Udah basee nih. ini kan udah era "era Realtime". Era yang kudu apa aja pikiran kita harus tereferensi oleh dukungan "refren" yang sudah tersaji,kudu pas sama. Mahasiswa masih dianggap bodo aja.Semua hal bukan urusan politik lho.Bahaya klo ngak ada batasan.Politik harusnya ada pada masalah organisasi kekuasaan,dengan berbagai cara untuk merebutnya tok.Ngapain mesti rame-rame.Kudunya untuk yang mau dan mampu aja.Mahasiswa harus belajar bagaimana untuk mencapai kemakmuran,kecukupan dirinya dan mayarakatnya yang ada di republik ini,ini yg harus dipikirin.Mahasiswa tanpa ngerti "politik" jangan takut ye.Sekolah yang pinter.bravo "WW:
  9. From mbahramal on 06 December 2007 14:51:46 WIB
    Duuuhh Liza!! Kata teman kuliahku yang lagi belajar politik, "Biasanya seorang yang baru belajar sesuatu terutama politik terkadang terjebak merasa dirinya paling tahu. Diskusi atau menyatakan pendapat lebih dikuasai oleh ego kita pribadi. Terkadang dikemas dalam bentuk pertanyaan (padahal kalimat yang digunakan dalam pertanyaan cenderung ingin menonjolkan diri dihadapan audiens), tapi intinya bukan bertanya tetapi ingin menonjolkan diri",
    bukan begitu?? please donk akh ..

    Mengangkat Issue atau opini untuk paranoid terhadap subyek politik ternyata masih dipakai yah.., pasti ada rasa semangat dan sedikit deg-deg an saat kita menindas orang dihadapan audiens or publik.. karena kita merasa kelihatan pintar

    Issue Paranoid katanyasih cuma laku saat jaman Orba, karena waktu itu mahasiswa punya 1 musuh bersama yaitu suharto. Karena paling enak menuduh atau mencurigai orang sebagai kakitangan orba.

    Sekarang politik Indonesia udah terbuka lapangannya untuk umum, ya ialah udah gak ada lagi musuh bersama.

    Buat teman-temanku, setiap manusia selalu paling pintar dan jago kalau mengkritik orang lain. Tetapi biasanya neh pada gak terlatih (bodoh gitcu..)dalam menerima kritik atau opini yang berkaitan dengan dirinya sendiri.

    Mas Wimar, aku baru tau ada situs ini, ikutan yah ..
  10. From Agus on 06 December 2007 15:20:59 WIB
    Bagi saya pemimpin ideal itu tidak ada. Bagi saya ideal hanya ada dalam matematika, tidak ada dalam dunia nyata. jadi stop membicarakan pemimpin ideal, tapi membicarakan pemimpin yang adil, yang jujur, yang tidak korupsi atau apapun yang lain

    Kalo ingin presiden yang diinginkan harus tidak lelah berbicara, karena itu satu-satunya jalan. Yang milih presiden jutaan orang sementara yang peduli presidennya harus benar bisa jadi sediit atau barang kali sangat sedikit. Jadi pengaruhilah banyak orang untuk memilih presiden mampu menjawab tantangan zaman.

    Cuma (barang kali saya salah) saya melihat demikrasi justru dirusak oleh parpol. Jadi saya secara pribadi akan memilih calon yang bukan dari parpol.
  11. From pandji on 06 December 2007 16:11:09 WIB
    Hmm... dari pengalamanku berorganisasi di kampus, teman2ku juga walaopun sering teriak Hapuskan korupsi, dttbgk.. tapi mereka juga suka makan uang mahasiswa.

    mereka ga sadar kalo mereka sedang belajar korupsi.

    Aq setuju sama WW bahwa sosok pemimpin ideal di masa depan adalah orang yang peka, mengerti dan mampu mengolah isu yang terjadi di negaranya. Jangan hanya orang yang memiliki kekuatan pendukungnya.
  12. From R Muhammad Mihradi on 06 December 2007 16:38:00 WIB
    Pak Wimar, en temen-temen di situs ini, sebenarnya kita berpikir sering melingkar-lingkar, padahal bisa disederhanakan. Pertama, pemimpin bukan soal tua-muda, tapi yang bermoral, integritas dan menawarkan alternatif baru bagi indonesia yang lebih baik. Kedua, reformasi kita harusnya meniru di negara-negara amerika latin misalnya, dimana ada undang-undang yang mengatakan "pemimpin di rezim otoriter sebelumnya dilarang "haram malah" menjabat kembali di masa reformasi". Jadi sudah keliatan mainstreamnya. Nah, kebodohan kita, semua kader soeharto dilembagakan menjadi pemimpin kita mulai di legislatif, eksekutif dan yudikatif. Yah, pastinya, kita terperosok karena mereka khan memang korup. Kader raja korup malah. Jadi, kalau mau kita tidak mengulangi kebodohan, jangan pilih seluruh kader soeharto korup, mantan menterinya ataupun semua yang ketika ia menjabat jadi anak manisnya. Okey khan...Nah mungkin pak wimar bisa bantu kita semua untuk dorong semua calon alternatif yang ga muncul di masa orde baru ke permukaan. Ihh gemes
    Mihradi, Pakuan
  13. From Liza on 06 December 2007 21:33:27 WIB
    maksud saya mengkritisi tulisan di bagian foto. Tidak ada siapa yang menulis judul foto itu...,
  14. From Chandra on 06 December 2007 23:17:20 WIB
    Liza has every right to suspect Yenny's presence. Having been hand picked by her "can do no wrong" daddy to lead the family party, she is a far cry from democracy.
  15. From Foolan on 07 December 2007 00:32:42 WIB
    Mba' Liza, komentarnya terputus tuhh ??

    saya kutip lagi dari yang awal:
    ...bahwa saya menolak orang politik masuk kampus, berarti saya juga tidak boleh masuk kampus karena saya Mahsiswa FISIP yang sangat dekat deangan kegiatan politik..., kemarin intinya saya hanya memastikan sekaligus memperingatkan keberadaan mba Yeni di acara tersebut bukan untuk memuluskan kepentingan partai di tahun 2009 mendatang.


    Yang pasti, mba' Liza bukan orang politik, karena masih mahasiswi dan pasti bukan kader parpol tertentu 'kan.

    MUNGKIN, pangkal pandangannya adalah Mahasiswa / Kampus ingin pada "Khittah" Netral atau Pembawa Amanat Rakyat.

    Hal ini tentu tidak mengharamkan Mahasiswa / Kampus membuka-menutup pintu kepada Person yang punya afiliasi politik (tentu juga prerogatif tetap ada di Mahasiswa / Kampus) sebagai Tuan Rumah. Ingat-ingat demo penolakan menteri z,y,x masuk kampus.

    dari mbahramal:
    ...cenderung ingin menonjolkan diri dihadapan audiens....

    Biar saja, ini justru salah satu jalan biar populer . dikenal . It is part of politics! Dari pada 5D-nya wakil rakyat

    Argumen lain mungkin muncul: bagaimana kita tahu bila kita tidak pernah berkomunikasi. Karena tak kenal maka tak sayang (sub judul tulisan ini).

    Walaupun dikenalnya harus lewat cara yang tak lazim sekalipun. (teriak-teriak dulu, interupsi ini-itu :) , maaf mendramatisir keadaan).

    Untunglah Mba' Liza 'teriak', paling tidak Oom WW besok-besok pasti ingat Liza yang mana. Politics? Marketing? Ah terlalu jauh walaupun ada yang desperate melakukannya.

    Bantahan lain mungkin muncul: kami memiliki sumber-sumber sendiri yang terpercaya untuk memberi penilaian tanpa harus berkomunikasi langsung dulu. ??

    Ini mengacu kepada penolakan person / penyampaian ide kepada audiens. Wah saya tidak memiliki argumen lain untuk hal ini. Saya melihatnya sama seperti komentar mbah: paranoid.


    Dalam kerangka yang lebih umum:
    Politician sebagai Marketer sah-sah saja ingin Ide-Idenya "Laku" terlepas bagaimana cara dia "menjual".

    Ini pandangan saya saja, walaupun tidak ada kegiatan 'jual beli' di sana :).

    Audience termasuk Mahasiswa memiliki banyak cara dan waktu untuk "menolak, mendengar, mempertimbangkan hingga membeli". Ide itu (tanpa perlu memiliki prerogratif).

    Masa pulang-pulang dari diskusi terus jadi jurkam? Tetapi kalau nggak ada yang beda dari dari diri kita setelah mengikuti suatu diskusi, aneh juga ya, Marketer-nya gagal?

    Paranoid...terhadap Indoktrinasi? Haree.. Gene.... masih percaya indoktrinasi?

    Yang penting adalah dukung sarana dan prasarana informasi / komunikasi yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

    Tujuannya adalah memperkecil bias.

    Oom bilang....Jangan hanya orang yang memiliki kekuatan pendukungnya, tetapi haruslah orang yang demokratis.

    Cuma heran saja dua parpol besar pemenang pemilu ajiannya apa ya sehingga bisa didukung? Presiden terpilih kita juga besar sekali pendukungnya. Gubernur DKI terpilih juga sama.

    Apa ada yang salah dengan masyarakat pemilih?

    Salam.
  16. From dian on 07 December 2007 10:54:54 WIB
    I think its a good article, quite objective.
    keep up the good work Mas Dewi, oops, Mba Dewi maksudnya..

    :D
  17. From adisti on 07 December 2007 12:49:25 WIB
    Komentar kan salah satu bentuk demokrasi. Wlopun komentarnya ga penting, tapi keterbukaan terhadap komentar itulah yg disebut demokrasi.
    Jadi sering2 aja komentar, tapi klo komentarnya ga diterima ya harus lapang dada ;-D
  18. From Intox on 07 December 2007 12:50:40 WIB
    Jaman sekarang, untuk jadi penguasa, yg dibutuhkan bukan lagi otak, tapi public relations (humas) yg jenius + masyarakat yg apatis.
  19. From onohaw on 07 December 2007 16:14:27 WIB
    @mbahramal:
    Bener juga tuh soal musuh bersama pasca soeharto. Mungkin masyarakat mesti berprinsip: musuhnya musuh adalah teman dan temannya musuh adalah musuh. Gimana kalau musuh bersama sekarang adalah antidemokrasi? :D
  20. From Husnul on 07 December 2007 22:18:34 WIB
    Dulu, ketika reformasi bergulir, mahasiswa dengan antusiasnya mengundang seluruh partai politik dari yang benderanya berjejer di seantero jakarta sampai yang gak pernah kedenger satupun untuk datang ke kampus dan menjelaskan apa dan bagaimana sepak terjang mereka. Bahkan kalau parpol tersebut tidak datang, mereka kemudian di cap pengecut dan mahasiswa akan terus menggembosi parpol tersebut.
    Eh, sekarang ada petinggi parpol yang dateng malah di bilang bukan tempatnya di kampus.. Lantas tempat mana lagi bisa di serang parpol itu... Kampus adalah wilayah bebas, dengan diskursus apapun bisa muncul disitu. Jangan cuma hedonitas dan pragmatisme yang lantas banyak mewarnai kehidupan manusia, tapi kritisisme tentang kenegaraan juga harus menjadi perhatian mahasisiwa
  21. From ayahnyaRafi_ on 07 December 2007 23:12:27 WIB
    ...
    WW menegaskan bahwa sosok pemimpin ideal di masa depan adalah orang yang peka, mengerti dan mampu mengolah isu yang terjadi di negaranya. Jangan hanya orang yang memiliki kekuatan pendukungnya, tetapi haruslah orang yang demokratis. Untuk itulah diperlukan seleksi jua untuk para calon presiden
    ..
    Figur pemimpin yg bung WW maksud rasanya banyak saya temui, mereka adalah orang-orang yg ikhlash berjuang dan tidak menyukai publisitas (tidak ada waktu buat Publisitas?)

    Pemimpin sekarang gak beda ama artis yg dibesarkan media. rasanya media juga punya tanggung jawab besar untuk mencari pemimpin yg kita cari?
  22. From mbahramal on 08 December 2007 09:42:31 WIB
    FOOLAN ...., juga LIZA (cha2)

    Mbah setuju dengan tujuan " POPULAR ",
    tapi seperti contoh dan pendapat dari Pandji:
    "Hmm... dari pengalamanku berorganisasi di kampus, teman2ku juga walaopun sering teriak Hapuskan korupsi, dttbgk.. tapi mereka juga suka makan uang mahasiswa."
    Artinya ada juga mahasiswa yang anti koruptor tapi dia sendiri sedang belajar jadi koruptor.

    Mencari Popularitas dengan cara menindas secara psikologis terhadap orang lain (diantaranya berusaha mempermalukan orang lain) wah jangan dibiasakan deh.
    Nantinya jadi kebiasaan (habit), karena manusia cenderung mengulang cara yang pernah dia lakukan apabila cara tersebut memberikan hasil yang memuaskan, bangga.
    Nah, mbah khawatir nantinya orang seperti Liza suatu saat dia teriak-teriak bicara pelanggaran HAM tapi kenyataannya dia sendiri sedang belajar melanggar HAM (kategori mempermalukan orang lain).

    Mbah setuju dengan teriakan suara atau mengeluarkan pendapat atau beda pendapat. Tapi mbok pendapatnya yang obyektif dan kongkrit sesuai konteks dan lebih rasional.
    Saling menyerang dalam adu pendapat boleh, tapi kalau sifatnya prinsip dan berkaitan dengan materi. Tapi .......
    Kalau mengeluarkan pendapat untuk menolak keberadaan orang lain dengan embel-embel curiga akan mempengaruhi pemikiran kita, Amboooooy! naif nian...
    Seperti dijaman Orba donk, Buku ini dan itu dilarang terbit, tokoh ini-tokoh itu dilarang tampil dan bicara di depan publik karena dicurigai/dikhawatirkan akan mempengaruhi pemikiran.
    "justru harus disadari, saat kita baca buku teori dan pelajaran atau lainnya kita secara sadar sedang berusaha memahami dan tidak sadar sedang terpengaruhi oleh pemikiran orang lain(penulisnya)"

    Ingat juga! selain buku; koran, majalah dan lainnya turut mempengaruhi cara berpikir atau cara pandang kita. Sama juga halnya dengan Nonton film, berita, dengar radio dan lainnya. Juga Pendidikan;pembicaraan dari orang tua, guru dosen, teman kitan dan lainnnya semuanya turut mempengaruhi cara berpikir kita.

    Mahasiswa itu pikirannya mandiri, toh ia akan memilah-milah sendiri mana yang baik atau tidak baik untuk dirinya sendiri.
    Selain itu Justru Mahasiswa itu harus banyak mengenal dan memahami pemikiran orang lain apakah itu tentang sastra, politik, gaya hidup dan lainnya. Hal ini saya katakan harus; selain agar wawasannya selalu dan terus bertambah tetapi agar juga mahasiswa menjadi lebih peka dan tidak mudah dipengaruhi atau dibodohi.
    Begitu deh, jadi kenapa kita harus menghindari orang punya latar belakang politik berbicara dihadapankita dan teman-teman kita .., walaupun ada unsur kampanye atau tidak, rasanya kita jangan berusaha memangkas wawasan kita sendiri. toh kita punya kebebasan memilah.
    Semoga tidak ada yang tersinggung sama mbah ya ... termasuk Cha2, karena mbah ini memang sok tau (namanya juga peramal). mbah merasa bisa mengenal sedikit profil dirimu.. mbah ini orangnya suka gatal ingin sumbang pendapat supaya dirimu atao orang lain yang punya kemiripan bisa diingatkan agar tidak berkembang menjadi seorang yang memiliki karakter "Penindas Psikologis".
    Mbah senang kamu berani, tapi kalo mbah tidak berusaha mengingatkan bahaya lho.., ramalan mbah Kalo kamu atau generasi muda lainnya seperti itu, bisa jadi saat kalian jadi pemimpin atau penguasa gayanya sama seperti penguasa di jaman Orba, jangan ya…
    Aduuh..mbah ada pasien neh. Stop dulu deh
    Mas Wimar, Terimakasih...
  23. From Triyatni on 13 December 2007 12:37:35 WIB
    Pengalaman sih yang gampang dibodoh-bodohi itu lho yang suka mengaku sesepuh alias dinosaurus...ingat iklan rokok ...yang mudah belum boleh bicara.
  24. From pututik on 15 December 2007 08:48:13 WIB
    Tak kenal maka tak sayang, bisa begitu banyak diartikan. Dalam kehidupan sehari-hari kebetulan saya berdekatan dengan kehidupan mahasiswa. Karena rumah saya adalah tempat kost :) Dan kenyataan yang semakin mempermudah pembodohan adalah sesuatu yang dulunya sangat diagung-agungkan para sesepuh kita yaitu Moral dan Mental.

    Meskipun mereka lebih baik pengetahuannya, namun moral mereka cenderung bejat dan mudah bertindak asusila di khalayak umum. Kemudian Mental mereka cenderung mental tempe atau tidak siap menghadapi tatangan.

    Jika mereka ingin menjadi yang duduk dikursi dan mengontrol pembangunan maka harus siap menghadapi kenyataan, siap memperbaiki dan memiliki atitude yang baik. Bagaimana mau pinter belajar sistem kebut, nah model pacaran system yahuud... Energi habis buat nafsu donk

    Maaf jika kurang berkenan....
  25. From Sayfa MaiZenA on 17 December 2007 14:00:03 WIB
    hm.... mau berpolitik kok tidak boleh.. ya terserah dia-nya donk..?? mau apa kek.. tergantung kita-nya mau merespons seperti apa kegiatan berpolitiknya..
    gitu......
  26. From aditiawan chandra on 18 December 2007 22:08:37 WIB
    pendapat tersebut ok2 saja. Tetapi pemimpin jagoan juga harus punya visi kepemimpinan masa depan (visionary leadership) untuk melakukan perubahan2 yang dibutuhkan dari kondisi yang ada. Takutnya jika hanya memiliki keahlian berpolitik, ujung2nya akan terjerat pada kepentingan kompromi sepihak dari kelompok masyarakat yang dominan.
  27. From rahadian on 22 December 2007 16:12:36 WIB
    hmm... sekarang sih jamannya 'Peter Pan'. Anak muda sekarang tidak mau jadi dewasa. Mereka tetap mau jadi anak-anak, diasuh, dikasih tau, dan hidup dalam alam mimpinya sendiri. Tidak banyak yang keluar, turun ke jalan dan melihat kesengsaraan di 'dunia bawah' sana. Sayang sekali...
    memang tantangan mereka jauh lebih hebat dari tantangan orang jaman dulu. Dulu tidak ada internet. Dulu tidak ada TV. Sekarang, semua informasi ada di tangan, suka atau tidak suka informasi nyamperin. Tinggal gimana si anak muda ini mencerna informasi yang beragam itu jadi bahan untuk mengembangkan dirinya. Kala tidak, siap-siap saja ditelan 'badai' informasi... Terombang-ambing tak punya kepribadian.

    Salam.
  28. From angga on 30 December 2007 22:53:53 WIB
    @liza
    ah,cara pandang anda masih TK banget.
    masak takut sama politikus,anda mahasiswa lho bukan anak SMP..
  29. From Doni on 14 January 2008 18:12:41 WIB
    waduuhh, saya telat sekali nii mau kasih comment.
    menurut yang saya lihat dari perdebatan antar comment diatas dan laporan yang terlanjur terbuat diatas,.. di gambarkan disana Liza (cha2) menjadi sosok yang sudah kontroversial. Selamat Liza, anda sudah berhasil menjadi orang politik (menurut saya) karena dalam politik tidak ada yang tetap, dan menjadi bahan omongan seperti ini sudah bisa dikategorikan menjadi pelaku politik, yang menjadi beda hanya wilayah Liza yang masih bisa bergerak bebas semaunya sendiri (independen).

    cuma mau menambahkan, bahwa Liza terlihat ingin menjaga independensi kampus (UNAS) agar tidak dimasuki kepentingan yang punya pengaruh besar yang bisa membuat perubahan (mungkin) yang membuat bertambahnya mahasiswa di UNAS menjadi pengekor sebuah kelompok besar. yaa mungkin begituuu..
    teruskan perjuangan Liza, dari sekian hadirin yang ada disana, hanya satu orang yang bisa menjaga mahkota Universitas Perjuangan (UNAS),

    demikian pandangan saya dari sisi yang sedikit berbeda, Terima Kasih
    AHOI !!!
  30. From isma arsyani on 17 January 2008 17:14:07 WIB
    Bung Wimar
    Menolehlah ke Aceh...
  31. From Erwin K Wardhana on 22 January 2008 08:48:48 WIB
    PRESIDEN GAUL DARI KALANGAN MUDA ???? HEUM ......BOLEH JUGA.....TAPI.....PRESIDEN GAUL YANG MEMPUNYAI KEMAMPUAN UNTUK MEMBAWA INDONESIA YG DEMOKRATIS DAN INDEPENDENT.....SEPERTI HALNYA SIKAP LISA PADA YENI WAHID.....LISA CW AYU YA...
  32. From sOfi mAeLani on 04 February 2008 13:34:21 WIB
    mup nak ekonomi mau gabung...
    knapa klo pmilihan capres taw cagub prosesi menggandeng artis selalu di jadikan tameng u/ menarik simpati masyarakat..
    apalagi masyarakt yang ikut berkampanye selalu diiming-iming dwit..dan janji-janji maniz..
    setelah ia menjabat..huf....
    seakan dy lupa akn janjinya...
    memang politik itu sungguh kejam....
  33. From echa on 28 February 2008 14:02:20 WIB
    wah fenomena yang menarik sekali,,,

    dan saya sebagai mahasiswa juga terkadang melihat bahwa rekan mahasiswa saya berpikiran dangkal dalam menilai suatu politik ataupun pemerintahan,,maklum kita lahir didunia dengan publikasi global dimana media informasi dapat menjadi suatu sarana untuk mendoktrinisasi pembacanya,,,

    padahal banyak hal yang perlu kita lihat dan kita dengan sendiri bukan hanya dari mulut ke mulut,,,,

    banyak mahasiswa yang tahunya menuntut,tapi mereka tidak memberikan sebuah solusi yang baik,,menuntut presiden beginilah presiden begitu,,,pemerintah begini,,tapi mereka tidak tahu bahwa bukan suatu hal yang mudah untuk menjaga dan mengembangkan bangsa kita yang luas ini....

    menurut saya lebih baik mereka mendukung dan menolong dengan tidak menjadi seorang yang tersia-sia dikemudian hari tapi menjadi seorang rakyat indonesia yang memiliki suatu formula untuk mengembangkan indonesia.....

    dan tidak menjadi seorang yang hanya mengagumi dunia luar dan tidak cinta terhadap indonesia sendri.....
  34. From Mas Guru on 03 March 2008 15:26:25 WIB
    Ya barangkali karena perilaku pemimpin-pemimpin kita selama ini, maka orang akan mudah saling menaruh curiga.Ya, mungkin selama ini kita dipimpin oleh oran-orang yang kurang bisa dipercayai, yang mau dekata dengan rakyat kalau menjelang pemilu doang. Makanya, kayaknya nggak salah kalau kita sekarang jadi bangsa pencuriga.
  35. From konde on 12 March 2008 10:06:22 WIB
    Liza juga Tak peka terhadap siapa yg diundang.
    Om Wimar, Syasudin haris, semua adalah politikus sejati.
    Kalo ada Om Wimar, ya...pasti Yenny datang dong!

    Maaf,mungkin Mbak Yenny datang ke Unas karena jaket almamaternya Unas sama dengan warna Hijaunya PKB. dikirain anak Unas embrio kader muda PKB.....

    Hidup, politikus..

« Home