Articles

Internet menyehatkan kampanye presiden

Koran Sindo
28 February 2008

PRESIDEN KITA

Kapan hari di tahun 2007 yang baru lalu, bermunculan pernyataan berbagai politisi yang menyatakan diri sebagai calon Presiden. Dua yang paling menarik perhatian adalah mantan Presiden Megawati Sukarnoputri dan mantan Gubernur DKI Sutiyoso. Muncul sikap pro dan kontra, kemana calon-calon Presiden kita yang satu saat pernah mengumumkan pencalonannya? Langsung menjadi bahan pembicaraan ramai di televisi, radio, koran. Sampai menimbulkan pengaruh pada politisi lain yang satu persatu juga menyatakan diri sebagai pencalonan Presiden. Yang tidak punya niatpun, karena ditanya terus oleh wartawan, akhirnya menyatakan juga semacam pernyataan sikap bersedia dicalonkan, tidak bersedia atau mau pikir-pikir dulu.

Lalu, kemana para calon Presiden itu sekarang? Dan kemana isu kepresidenan di masyarakat? Rupanya perhatian sudah beralih ke masalah lain dan kegiatan para Capres itu juga beralih ke bidang lain. Lain dengan seorang calon Presiden di Amerika Serikat, misalnya, yang begitu menyatakan diri sebagai calon Presiden, memusatkan tenaga dan pikirannya pada perencanaan untuk menjadi Presiden, berarti merencakan kampanye publik untuk memenangkan pencalonan Presiden dari partai masing-masing. Senator Hillary Clinton menyatakan diri sebagai pencalonan Presiden pada tanggal 21 Januari 2007, Senator Barack Obama pada tanggal 10 Februari 2007. Senator John McCain malah menyatakan pencalonan presiden pada acara talk show televisi David Letterman pada bulan November 2007. Sesudah itu, tiap hari ketiga calon itu (dan calon lain yang kemudian gugur) hadir di semua media bergantian, dan hadir tetap di satu jenis media yaitu internet. Internet ini menjamin kelangsungan kampanye, tapi juga turut menjamin kesehatan proses politik.

Salah satu pengganggu kesehatan dalam proses pemilihan umum di Indonesia adalah 'money politics'. Sering kita dengar berbagai bentuknya. Serangan fajar misalnya sangat terkenal, berupa orang partai yang keliling ke rumah pimilih pada saat fajar membagikan uang atau sembako dengan janji memilih partai yang diperjuangkan. Di ujung pembagiannya, money politics bisa mendampingi calon gubernur dalam kunjungan ke pasar dan uangnya dibagikan kepada pemilik kios, pengunjung pasar dan preman yang bermukim di pasar tersebut.

Di awal pengumpulannya, bentuk money politics adalah penciptaan uang melalui proyek yang menjadi wewenang penguasa yang terlibat dalam calon pemilu. Entah dia sendiri yang menjabat (incumbent) dan ingin dipilih kembali, atau menggunakan kekuasaannya kerjasama dengan calon pengganti. Nanti kalau calon itu menang, sumbangan dari penguasa akan dikembalikan dari uang hasil korupsi. Bisa juga dana kampanye diciptakan 'in natura' dengan penggunaan fasilitas kekuasaan. Salah satu bentuk yang nyata adalah penggunaan billboard milik pemerintah untuk mempromosikan incumbent dan teman. Karena uangnya keluar dari APBD, maka orang tidak merasa dirugikan kecuali dia mau berpikir kritis.

Urusan uang juga penting dalam pemilihan Presiden, tapi ceritanya lain. Direktur keuangan kampanye Obama telah berhasil mengumpulkan Rp 1,5 Trilyun (0 juta) sampai pertengahan Februari 2008, tapi tidak punya kantor sendiri. Ia bekerja di meja besar dalam ruangan kerja ramai-ramai dengan banyak komputer dan telepon. Uangnya tidak diterima dari kunjungan pengusaha tapi melalui sumbangan online. Setelah kampanye selesai, tidak ada pengusaha yang harus mendapat balas budi.

Dengan menggunakan internet sebagai sarana pengumpulan uang, Obama berhasil mengumpulkan banyak uang dari penjumlahan sumbangan kecil. Dalam bulan Januari 2008 mereka berhasil mengumpulkan juta, suatu rekor untuk uang politik di Amerika Serikat, jauh melebihi .5 juta yang dilaporkan Senator Hillary Rodham Clinton untuk bulan yang sama, atau yang berhasil dikumpulkan Senator John McCain's pada bulan yang sama.

Keberhasilan Obama mengumpulkan sumbangan lewat internet ini mempunyai dampak langsung yang positif pada ketegaran posisi politiknya. Dengan tersebarnya sumber dana, tidak ada pihak politik yang mempunyai claim hutang budi. Jadi Obama kalau menang bisa memilih wakil presiden sesuai dengan kepentingan dukungan rakyat, dan bahkan bisa memilih pejabat kabinet tanpa terpengaruh sumbangan kampanye yang telah mensukseskan dia menjadi Presiden.

Posisi Obama yang independen ini mungkin bisa lebih kuat lagi oleh kemampuannya menarik dukungan lintas golongan. Selain keberhasilan dia didukung pihak diluar kulit hitam, juga ia didukung lintas agama dan bahkan mungkin lintas partai. Sudah mulai orang Republik melirik Obama sebagai calon pilihan. Mc Cain memang orang baik dan sejuk berbeda dengan George W. Bush, tapi sikap dan programnya dalam keamanan dan politik luar negeri masih sama dengan Bush. Hillary Clinton adalah orang yang didukung oleh orang yang partisan Demokrat dan sangat sedikit didukung orang yang biasanya memilih Partai Demokrat. Sebagai catatan, John McCain juga bukan orang yang hanya didukung orang Partai Republik. Yang unik disini adalah bahwa yang kecewa dengan McCain adalah orang yang sangat konservatif, sedangkan orang liberal masih mendukung Obama walaupun program dia tidak jauh berbeda dengan program Clinton.

Keputusan strategis paling efektif pada awal kampanye adalah untuk mengandalkan internet dalam semua hal, mulai dari informasi sampai pada pengumpulan dana. Ternyata dugaan orang akan pengaruh internet yang memperkuat partisipasi orang banyak sangat terbukti dalam proses pemilihan di Amerika Serikat. Akhirnya orang bisa memapiaskan naluri mendukung Obama sepuas-puasnya dalam website dia (tinggal di google nama dia, seperti juga untuk website Hillary Clinton dan John McCain). Seperti banyak hal serius dalam kultur politik Amerika Serikat, unsur 'fun' juga banyak mewarnai kehadiran internet Barack Obama. Website ini penuh pernik macam2 selain kemudahan mengirim sumbangan dan menyatakan dukungan, jadwal acara dam laporan peristiwa daam YouTube, sampai kepada download gratis untuk keperluan hand phone: ring tone, wallpaper, langganan berita sms.

Juga dibuka semua pintu internet untuk melancarkan social networking antar pendukung Obama melalui semua program: Facebook, MySpace, YouTube, Flickr, Digg, Twitter, Eventful, Linkedin, dan banyak lagi. Silakan coba www.barackobama.com dan bandingkan www.hillaryclinton.com dan www.johnmccain.com

Print article only

12 Comments:

  1. From moerz on 28 February 2008 22:07:56 WIB
    ohya di tv sekarang sudah ada iklan capres yang curi start loh...

    klo capres negara kita make internet cuma buat saling menjegal...
  2. From andri Cahyadi on 28 February 2008 23:44:56 WIB
    Ya, setuju ada benernya kalo Internet 'bisa' jadi alat yang sehat buat kampanye presiden, pilkadal, atau bahkan pemilihan kepala desa (halah).

    Sialnya, kalo di US sono bisa jadi Internet udah sangat popler dan bisa diakses semua level masyarakat, jadi kudu pake internet kalo begitu.

    Nah, kalo disini? Apa iya pedagang dipasar, preman, sopir angkot, mbok jamu, punya akses internet? (mungkin bisa ke warnet) tapi apa iya mereka udah melek Internet?.

    Jujur aja, sekarang yang punya akses kebayakan kelas menengah dan terpelajar yang ironisnya kadang apolitis.

    Yah...mudah-mudahan saja proyek internet masuk desa sukses, paling ngga 10 tahun kedepan, udah melek internet. Pas bareng sama pencalonan bung Wimar jadi presiden :P.
  3. From aldohas on 28 February 2008 23:58:35 WIB
    Andai di Indonesia Internt sudah jadi barang biasa. Gak dikota, didesa juga sudah asik mengakses Internet, tanpa batas dan murah. Kapan ya...?

    Tapi kayaknya trennya sudah mau menuju kesana. Semoga aja semakin membaik


    Nice article...!
    Tukeran link please....! http://blog.aldohas.com
  4. From Andaru on 29 February 2008 00:39:24 WIB
    Hahaha, saya ingat tentang sebuah buku komputer yang ditulis oleh seorang pakar keamanan yang lumayan terkenal di internet, Sto. Dibuku beliau, beliau menulis tentang sebuah negeri yang memakai internet di segala bidang, hingga urusan "mencoblos" pun pake internet.

    Sekarang pertanyaannya, seberapa mengertikah para politikus, para calon presiden dan pemerintah kita tentang teknologi informasi. Jangankan berkampanye lewat internet, bahkan website resmi beberapa departemen milim pemerintah masih sangat "menyedihkan".

    Dan sebuah pertanyaan usil dari adik saya yang masih SMP. "Mas, syarat presiden Indonesia itu apa aja? Punya email masuk syarat jadi presiden gak?"
  5. From nshide on 29 February 2008 08:37:51 WIB
    koq ngga ada frenster yakkk :p

    mungkin sby-jk kl mau bnyak dukungan dr komunitas internet ya frenster lah.. hampir 80% remaja sampe dewasa tau apa itu frenster

    (eh. salah tulis yah)
  6. From ratu fitri on 01 March 2008 08:56:01 WIB
    hwahahaha...kdang emang para tetuanya yg ga bisa pake internet..

    anak muda mah dah banyak yg gape pke internet..

    saia yg beberapa bln ini magang di sbuah BUMN aja menyadari bhw org2 tua PNS itu banyak yg msh ga bs pake Word..

    jd pembekalan internet jgn wat generasi muda aja, yg tua jg dunk..


    bottom line: tp emng kultur di Indo blm trlalu dekat ma internet sh..jd kyna lom trlalu efektif jg klo kampanye lewat internet..
  7. From Berto on 01 March 2008 14:50:56 WIB
    Ide yang menarik, tetapi apakah para calon presiden mau transparan?, Dalam pengumpulan dana kampanye dsb.

    Kalau ada yang mau melakukan hal itu, sebaiknya kita mendukung calon presiden tsb, karena belum jadi presiden saja dia sudah mau transparan, beda dengan yang ada selama ini, pada masa kampanye saja sudah tidak jujur apalagi sudah menjabat.
  8. From erwin on 02 March 2008 21:06:54 WIB
    Kampanye pake Internet....?, calon presiden yang ngerti berapa persen penduduk indonesia yang melek internet mungkin akan berpikir berulang kali memakai internet sebagai sarana kampanye, belum lagi pemikiran jika..taruhlah 30 % pemakai adalah person2 yg kritis, tentunya materi kampanyenya hanya menghasilkan out put 0 %.Ok
  9. From febrisupit on 05 March 2008 12:40:33 WIB
    wah kudu di cek-ricek-terus ricek dulu tuh kalo di Indonesia mo go to e-election gitu.
    soalnya yg manual aja masih bisa "dibikin" celah curang, apalagi yg model canggih begono.....bisa2 gambar capres diganti gambar S***H A****I lagi hehehehe...piss om wimar.

    tapi kalo Indonesia mo dibikin begitu dengan support fasilitas dan SDM yang kompeten....ogut dukung total neh!
  10. From hendra on 12 March 2008 11:11:05 WIB
    pernah baca novel dan brown yang deception point?
    ada senator yang dapat dana kampanye dari perusahaan swasta dan ujung2nya pihak swasta dapet keuntungan (policy) kalo senator itu dipilih. Apakah itu juga terjadi pada calon2 kita? Apa motif Bapak2/Ibu2 itu nyalonin diri di Pemerintahan yah?
  11. From dian on 28 March 2008 09:41:15 WIB
    tanggapan bwt hendra,, y pasti ada motif lah klo orang itu nyalonin... g mgkn enggak! entah motif ekonomi (y yg paling mgkn mmg ini siy,,) ato motif aktualisasi diri (pngn beken gt..hehehe. makanya banyak politikus yg nggandeng artis. ky rano karno yg jd wabup tangerang).
    pdhl y klo mw untung2an msh untung jd pengusaha yg jujur lho,,, hehehe.. dpt duit banyak bin halal krn g pake tipu2 mcm politik di setiap biro,,
  12. From Jalu on 07 July 2008 13:07:19 WIB
    Bang Wimar,
    ada dosen ITB yang ikut menggunakan internet untuk kampanye PILKADA. Namanya Pak Taufikurahman, dosen Biologi, berpasangan dengan Abu Syauqi pendiri Rumah Zakat Indonesia. Webnya http://taufikurahman.com sudah meyediakan fasilitas interaktif termasuk menggunakan fasilitas social networking semisal friendster dan facebook. Coba bang kapan-kapan beliau diundang ke Perspektif, saya penasaran dengan beliau.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home