Articles

Menkominfo: UU ITE Blokir Porno Yang Publik, Bukan Jalur Pribadi

Perspektif Wimar
28 March 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Sebelum menikmati akhir minggu, pemirsa ANTV disuguhi topik menarik tentang rencana pemblokiran situs porno!! Nah lo!! Emang si ada yang setuju dan tidak,  tergantung perspektif anda. Untuk itu pada edisi ke lima, Perspektif Wimar menghadirkan Menkominfo Prof.Dr.Ir. Mohamad Nuh dan ditemani co host Wulan Guritno.

“Di saat pemerintah ingin memasyarakatkan internet sampai ke desa, tentu saja harus diproteksi” ujar pak menteri yang takut pornografi akan merusak bangsa (bukan bapak aja, kita juga takut!!). Niat baik pemerintah belum tentu baik untuk masyarakat, apalagi menyangkut kebebasan berekspresi.

Kadang buka situs porno untuk sebagian orang bermanfaat menambah semangat, tapi sebagian lain malah merusak pikiran dan perilaku. SALAH SIAPA?

Pemerhati IT, Budi Rahardjo melalui sambungan telfon, menilai pemblokiran ini sebagai suatu kemunduran, karena dari dulu internet satu-satunya media yang lolos sensor (terutama sensornya pak Harmoko). Budi berpesan, seharusnya kita bersama membuat content yang bermanfaat untuk masyarakat.

Ketakutan UU Informasi dan Transaksi Elektronik didomplengi kepentingan politik juga jadi perhatian, yaa maklum lah kita masih trauma pembredelan (maaf kayaknya pak Harmoko lagi ni..). Menkominfo berjanji ini tidak akan menyentuh pemikiran politik dan kritik ke pemerintah. Jalur pribadi pun dipastikan aman dari pemblokiran, menurut pak menteri .

“Orang piktor (pikiran kotor) yang harus dibredel!”, ujar Wimar

Makanya, lebih baik baca Perspektif Online dan terus kirim komentar anda. Dijamin ngga ada gambar telanjang!!


Wimar --- Uni Lubis --- Anin Bakrie

---

Baca juga! posting Budi Rahardjo dan Thomas Arie mengenai episode ini

Gabung bersama Perspektif Wimar di Facebook

 

Print article only

77 Comments:

  1. From thea on 28 March 2008 08:08:45 WIB
    Gimana kita caranya membredel orang yg piktor yaaa. Anyway, good talk-show you had this morning W:)
  2. From Thomas Arie on 28 March 2008 08:42:50 WIB
    Topik yang menarik untuk pagi ini. Dan bisa nonton full...

    Quote: Kadang buka situs porno untuk sebagian orang bermanfaat menambah semangat, tapi sebagian lain malah merusak pikiran dan perilaku. SALAH SIAPA?

    Kalau dijawab dengan topik yang edisi 2 gimana? "Salah Sendiri!".

    Oh ya, karena saya kebetulan sempat merekam audionya, apakah boleh dipublikasikan? Masalah nggak ya?

    Eh, ada typo dikit di "berkespresi" itu Mas...
  3. From Rochmali Zultan on 28 March 2008 08:44:17 WIB
    Ommmmmmmmmmmmmmmm


    Tadi jujur aja saya kecewa liat tayangan perspektif hari ini. No offense ya, tapi jujur aja saya eneg liat Mbak Wul yang begitu sok pengen tanya-nya tapi gak berbobot malah cenderung abis-abisin waktu. Padahal durasi cuman 30 menit, seharusnya pertanyaannya lebih pinter lagi.


    Dan lagi, ini kan Perspektif Wimar, bukan Perspektif Co-Host. Saya gregetan aja liat Om Wimar yang hari ini tadi cuma ngulum bibir, jadi pengamat. Bukannya banyak sharing ke Pak Nuh.


    Sumpah tadinya saya berharap banyak dari tayangan hari ini.


    Tapi ya apa boleh buat.


    Lain kali tolong diundang lagi itu Pak Menteri. Saya yakin perdebatan UU ITE gak akan berhenti samapi sini.


    Saya juga tau betapa rasanya Admin dan Moderator beberapa forum yang ketar-ketir, takut web mereka diblokir pemerintah.


    Buat ANTV: tambah lagi durasinya!
  4. From bambang hermawan on 28 March 2008 08:52:54 WIB
    Wah....pak muhammad nuh memang orang pinter dan santun. Apa yang beliau sampaikan MAKE SENSE. Ada kritik nih Mas Wimar, itu si calon co-hostnya si WULAN GURITNO gradenya kurang tuh, kelihatan banget gak nguasai masalah (isu), pertanyaan dan komentarnya pun sering kurang pas, dan lagi pemilihan kalimatnya kurang efektif, serta memilih momen "masuknya" sering gak pas.
  5. From abimanyu on 28 March 2008 08:55:56 WIB
    rawe-rawe rantas..malang-malang putung..:)
    chayoo, kami mendukungmu pak mentri..:)

    btw bwt smua..met pagi ajah...:)
  6. From suswan on 28 March 2008 09:03:17 WIB
    Pak Menkominfo tolong donk kasih pencerahan kepada masyarakat tentang gimana praktek peraturan ini bakal dilaksanakan? Saya rasa masih kurang sosialisasi tentang teknis pelaksanaan peraturan ini.

    Semoga senin depan acara ini jadi 2 jam durasinya sehingga pertanyaan yang disampaikan di www.perspektif.net dapat di bahas di acara Perspektif Wimar.

    Betul tidak?
  7. From Akhmad Fathonih on 28 March 2008 09:21:10 WIB
    Om Wimar :D, mengenai jawaban tentang "apakah bangsa ini bisa dibesarkan dengan pornografi" kira-kira mau dishare kapan? Saya ingin tahu supaya pikiran saya tidak terkungkung dalam satu perspektif saja ;)

    Saya penasaran, jaminan apa kira-kira yang akan diberikan oleh pemerintah bahwa jalur internet Indonesia tidak akan dikekang atas nama perlindungan terhadap warga negara?
  8. From ulan on 28 March 2008 09:31:37 WIB
    tumben ya enggak ada yang demo
  9. From asiong on 28 March 2008 09:32:21 WIB
    saya setuju dengan pendapat Mr. Budi yang bilang klo ada content yang negatif ya content positif nya di banyakin dunk.
    menurut saya cara ini lebih berpendidikan daripada main tutup aja seperti yang dilakukan pemerintah jaya anak kecil aja nda suka maen banting main lempar ya kan?
    Tapi sebenarnya apakah ada masyarkat di Indonesia yang tau [ersisi isi UU ITE itu??? saya tidak tahu tolong klo ada saya di jabarkan ya....
    thx....
    mungkin emng saya yan kuper apa emng sosialisasinya pemerintah yang kurang ya??? who knows...
  10. From AG. Syam on 28 March 2008 09:35:55 WIB
    Di sini memang 'Dijamin ngga ada gambar telanjang!!' Yang ada adalah 'menelanjangi' pejabat yang korup dan nggak bener!!!
  11. From agustine fransisca bellamia on 28 March 2008 09:45:09 WIB
    Top banget Perspektif Wimar menutup minggu ini. Saya pikir tadi suaranya pak Roy Suryo, ternyata Pak Budi dari Bandung, Nuhun pak tos masihan elmu sareng perspektifna.
    Bener banget yang musti dibasmi orang yang negatip tinking sama yang pikirannya kotor.
    Sepanjang privasi kita masih dihargai, bukan berarti kita nya yang jadi semena-mena ablak2an majang foto vulgar. Saling menjaga rasa, menjaga hati, menjaga pikiran aja. Berekspresi kan masih boleh. Klo mau bebas mah pasang aja password yang hanya diketahui kalangan temennya doang. Atau yang gak kenal di blok aja. Ekspresi tetap bisa disampaikan. Everybody's happy kan?
    WG makin OK dari hari ke hari. Tapi, klo mau tukeran, tetep sm Mba Naz ya Om. We all miss her to co-hosting a morning talkshow on tv, especially with you.
    Thanks ibu dan bapak produser.
  12. From dew on 28 March 2008 09:50:00 WIB
    setuju kalau pornografi diblokir bagi yang belum cukup umur, tapi kalo yang udah gede (dewasa), itu sih kembali ke pribadi masing2...so, it depends on each person's morality.

    btw, hebat ya baru tayang beberapa jam yang lalu di Perspektif Wimar, eh udah ada di PO lagi=>
  13. From diny on 28 March 2008 09:53:25 WIB
    di Perspektif dot net bukan hanya tidak ada gambar telanjang, tapi juga bikin pikiran jernih:D
  14. From hidayat tri sutardjo on 28 March 2008 09:53:54 WIB
    Saya setuju dengan Menkoinfo yang telah mengatur ITE bahkan sampai ke masalah etika/moral (situs porno), kalau nggak dimulai saat ini kapan lagi. Saya pikir ini etiket baik yang perlu kita dukung.
  15. From janeman on 28 March 2008 10:00:59 WIB

    "Dijamin ngga ada gambar telanjang!!"
    Gambar telanjang bukan berarti porno lagee...kadang2 Arts lagee... tapi hanya orang ningrat yang bisa bedain hahahaha

    hayo gimana bedain yang telanjang art sama telanjang porno? bener kata wimar - itu semua memang datang dari pikiran... kalo otaknya kotor mau lihat cewe pake baju lengkap sampai pakai kerudung tetep aja horny!.....

    Yah.. mudah2an seperti yang dijanjikan hanya jalur publik yang diblok.. jalur pribadi tetap jalan.. bukan dukung situs porno tapi itu hak setiap individu....
  16. From gagahput3ra on 28 March 2008 10:16:14 WIB
    Menarik. Sangat menarik banget. Walau hari ini saya terpaksa missed lagi karena harus ke SMA untuk ngurusin UN (berangkat jam 5, hiks), dan jadi bertanya2 apa pertanyaan saya dipakai...hehehe, jelas sangat menarik jawabannya pak Menkominfo.

    Karena jelas-jelas di UU tidak ada batasan yang jelas antara pornografi dan pornoaksi, apalagi daerah pelaksanannya. Kok udah 5 tahun UUnya masih belum mateng2 juga sih. Jadi kayak alamat blog saya, setengah mateng. Menyedihkan ah.
  17. From arya on 28 March 2008 10:25:21 WIB
    hanya penasaran:
    bagaimana membedakan pornografi jalur publik dan jalur pribadi?
    in short, apa parameternya?

  18. From junedi darwis on 28 March 2008 10:27:02 WIB
    bung wimar yth.

    selama ini saya suka dengan kritik dan pandangan anda ttg sosial politik, kecuali untuk (acara antv) perspektif wimar ttg pemblokiran situs porno. untuk yang ini menurut saya anda jangan hanya melihat atau anda berpikir/berpendapat semua orang seperti anda yang (sok) tahu segala sesuatu. pikirkan kekhawatiran para orang tua yang perlu proteksi dari ancaman situs porno atau apapun yang disebar melalui media internet.

    terimakasih,
    junedi darwis
  19. From Satya on 28 March 2008 10:42:51 WIB
    setelah lihat menteri pertama di perspektif wimar, lihat menteri yang ini kesannya bagus sekali. berusaha menjelaskan niat baik terhadap masyarakat, bukan masa bodo.

    memang niatnya bagus sekali, tapi kalau apa yang sebetulnya pendidikan orang tua dipindah ke tangan pemerintah, ada potensi dimanfaatkan secara politis. menkominfo mungkin orang baik, tapi UU ini sangat bisa diselewengkan untuk memfasilitasi pembredelan politis.

    semoga mereka hanya develop dan distribute porn blocker gratis ke rumah, kantor, instansi, warnet, instead of mengambil kekuasaan absolut atas distribusi informasi.
  20. From didietpob on 28 March 2008 10:56:18 WIB
    terima kasih untuk mas Thomas Arie atas koreksinya...

    setuju dengan mas AG Syam

    buat mas Rochmali Zultan, kalo admin PO kyanya ngga takut diblokir pemerintah.. hehehehehe
  21. From albertus on 28 March 2008 11:01:57 WIB
    pandangan pribadi saya adalah, dan sama seperti ww apabila saya tidak salah tangkap, moralitas seseorang bukanlah urusan negara, dan bukan hak pemerintah untuk mengatur-ngatur rakyatnya atas dasar moralitas yang 'benar'.

    Pornografi di internet apabila meresahkan orang tua, adalah merupakan pr bagi orang tua, dan tanggung jawab orang tua, bukan urusan pemerintah.

    Peran pemerintah yang tepat menurut saya adalah dengan memberikan anjuran, memberikan tips2, '3M'-nya kalau mau menyebutnya begitu, bagaimana cara memblokir situs porno di komputer pribadi, bisa menggunakan program luar yang sudah banyak beredar seperti netnanny dsb, atau pemerintah kita bisa develop sendiri. Harus diperhatikan, pengguna internet isinya bukan anak kecil semua, sangat banyak yang sudah dewasa.

    Sekali lagi, pengguna internet Indonesia bukanlah semuanya ABG umur belasan tahun. Saya rasa pengguna internet yang berusia 30-40an tahun, atau keatas, tidak akan suka kalau negaranya mengatur-ngatur mereka tentang 'moralitas yang benar', they are mature enough to decide for themselves, thank you.

    comment tentang acaranya, sepertinya co-hostnya sangat bersemangat hari ini, apa cohostnya sendiri yang minta ingin ikut membicarakan topik ini? hehe. Durasi menjadi masalah, rasanya tidak puas, saran (dan permintaan saya) kalo bisa, setelah acaranya habis, diskusinya dilanjutkan lah dibelakang layar, serelanya sang tamu, hasilnya diposting disini, biar puas haus info kita semua, soalnya tamu-tamunya sangat 'wah', sungguh sayang kalau informasi yang bisa didapat cuma sedikit, atau ww keep it all to himself :D
  22. From kristian on 28 March 2008 11:06:35 WIB
    bagus acaranya hari ini, tapi kalau bisa perlu diundang lagi tu pak menteri !!!

    Soalnya gak segampang itu bisa batasi it negara maju aja belum bisa apalagi kita . . . .
  23. From gagahput3ra on 28 March 2008 11:30:54 WIB
    Maaf om Wimar, saya coba menjawab komentar mas Junedi Darwis ya, terserah mau diapprove atau direject

    Mas, saya kira kita semua mengerti kekhawatiran setiap orang tua di Indonesia. Yang jadi masalah disini, seperti yang sudah sering saya bilang ke temen2 saya, adalah bukan situs porno atau apapun yang akan diblokir, tapi yang jadi masalah adalah saat pemerintah mulai merasa punya hak untuk memilih hiburan apa yang paling cocok untuk rakyatnya.

    Ingat, Demokrasi berarti menghargai pilihan setiap individu selama itu tidak merugikan orang lain. Nah menurut saya, kalau pemerintah mulai merasa paling tahu hiburan yang cocok untuk warganya itu hanya akan memundurkan kita dari apa yang selama ini jadi jargon magis. Demokrasi.

    Ada domain-domain atau area yang seharusnya tidak boleh disentuh Undang-Undang, yaitu area privat. Internet di warnet, adalah area publik, karena semua orang bisa masuk dan membayar untuk menggunakan internet, sehingga pelaksanannya memang harus diatur undang-undang. Saya setuju pemerintah memblokir konten internet disini.

    Tapi saat media perantara internet yaitu komputer sudah diletakkan di kamar-kamar tidur orang tua, di ruang kerja orang tua, maka ia bukan lagi area publik, melainkan area privat. Kalau pemerintah sudah ikut masuk kedalam area privat dan merasa punya hak untuk memilih hiburan apa yang tepat atau tidak tepat untuk warganya, maka sekali lagi, kita mundur dari apa yang kita kejar selama ini. Demokrasi

    Analoginya begini. Kalau saya beli komputer, trus komputernya saya taruh di kamar orang tua saya. Apa pemerintah berhak ngatur-ngatur aplikasi apa yang mau saya install? Di negara komunis, ya pemerintah berhak. Di negara demokrasi, tidak.

    Dan yang berhak memilihkan hiburan yang tepat untuk anak hanya orangtua. Anda tidak mau kan besok pemerintah menganggap setiap anak harus bisa smackdown lalu memblokir tayangan agama dan kartun anak-anak? Disini bukan masalah situs pornonya, tapi pelanggaran pemerintah terhadap area privat warganya.

    Gituuu ^_^
  24. From rama on 28 March 2008 12:01:31 WIB
    kalo perlu pake rating untuk tiap situs, jadi tetap ada kontrol dan pengawasan untuk pengaksesan internet. Mungkin UU-ITE ini efektif, tapi sangat tidak efisien!
  25. From Leo Alexander on 28 March 2008 12:39:49 WIB
    Apa mungkin bisa di blok situs porno ???... apakah dengan memblok Situs porno menjawab permasalahan ?? Apakah Teknologi yang dikeluarkan oleh pemerintah sudah sesuai dengan perkembangan Teknologi yang ada ??. Saya kawatir ini hanya akal-akalan pemerintah saja.

    Saya sangat sangsi atas keseriusan pemerintah tentang masalah ini. Maaf kalau saya tidak sependapat dengan rekan-rekan yang ada. Bukan berarti saya mendukung pornografi, Karena untuk mencegah anak-anak dibawah umur untuk akses internet pornografi saya kembali tekankan peranan kita semua baik sebagai Orang Tua, Guru, Masyarakat. Apapun programnya kalau hanya untuk memblok Situs Pornografi kalau pengawasan kita kurang tetap aja ada yang bisa menerobos. Thanks om WW
  26. From albertus on 28 March 2008 13:10:25 WIB
    sekedar menambahkan, Indonesia ini negara yang sangat ahli dalam membuat hukum, tapi sangat mandul dalam penegakan hukum.

    What will make this UU ITE any different?
  27. From endah Wijaya Kartika Sari on 28 March 2008 13:22:04 WIB
    good talk show today Bang WW. saya penggemar Bang WW, sudah lama, selalu nonton kalau bang WW ada di TV. ada kritk sedikit, co host-nya terlalu banyak porsinya, jadi Bang WW nya ngomong pas opening sama closing aja. kalau bisa sih porsinya sama atau Bang WW lebih banyak. berhubung acaranya cuma setengah jam jadi singkat banget. terimaksih.
  28. From wimar on 28 March 2008 14:02:10 WIB
    Thea: thanks for your ever loyal support

    Thomas Arie: be my guest dlm publikasi audio, dengan menyebut sumbernya ya

    Suswan: wah, senang sekali kalau bisa dua jam! mudah2an ada sponsor mendukung

    Akhmad Fathonih: "apakah bangsa ini bisa dibesarkan dengan pornografi" ?
    Jawabnya: Pasti bisa membesarkan bangsa dengan include semua keinginan orang kecuali yang menyerang orang lain. Kebesaran dicapai melalui demokrasi yang inklusif, dimana moralitas publik dicapai sebagai hasil pilihan bebas, bukan penyempitan pilihan. Seperti dikutip Asiong dari komentar Pak Budi Rahadjo: hadapilah content yang negatif oleh content yang positif. Otherwise we end up with no content.

    Junedi Darwis: maaf kalau saya sok tahu, hiks. saya wakilkan pada gagahput3ra aja deh jawaban kali ini, karena kebetulan dia mewakili pendapat saya.

    kepada semua yang lain: THANKS!! nonton lagi mulai 31 maret

  29. From tunik on 28 March 2008 14:03:22 WIB
    Sebuah pekerjaan yang sepertinya bakal menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
    Ada yang udah liat RUU nya belum?
    kalau ada, tolong disharing dong link nya.
    terimakasi..
  30. From sasak gantung on 28 March 2008 14:27:57 WIB
    bang WW met datang di tv lagi, mudah2an ada pencerahan dr berbagai persepektif,jgn hanya dr wimar aja. sesuatu y terjadi dan msk ke ranah publik,harus menjadi masalah publk(bukan person).selayaknya negara mengatur tatacaranya sampai mungkin sanksi hukumnya. karena dampaknya akan luas dan mungkin merusak bila dibebaskan. SEANDAINYA SUDAH ADA ATURAN,LALU SCR SEMBUNYI2 MELANGGARNYA BIARLAH URUSANNYA ANTARA DIA DAN PENCIPTANYA. NEGARA BERHAK MENGATUR WARGANYA TUK KEBAIKAN SELAMA TDK MELANGGAR ATUURAN HUKUM.
  31. From mulyadewi on 28 March 2008 17:14:00 WIB
    bung WW, saya sudah dua hari ini mengikuti acara bung WW di perspektif (ANTV).. dan memang selalu menarik topiknya.

    Lalu pendapat saya mengenai perspektif hari ini, sebenarnya saya belum puas dengan pertanyaan yang diajukan oleh co host karena menurut saya terlalu general, sedangkan isu ini sudah mulai hangat diperbincangkan.

    kalau pendapat saya pribadi, sebaiknya marilah kita meninjau dulu dan melihat apa2 sajakah yang nantinya akan ditindak oleh pemerintah, apakah itu domainnya, ataukah individu penggeraknya, dll. Jadi marilah kita disini berusaha untuk bisa percaya kepada usaha pemerintah yang mana tujuannya juga untuk memperbaiki moral bangsa dan semoga perbaikan tersebut juga tidak mengurangi hak-hak kita sebagai warga negaranya.Toh kita sebagai WNI diberikan hak JUDICIAL REVIEW..

    Lalu, untuk bapak Muhammad Nuh yth, selain tujuan perbaikan moral dari bidang pornografi dunia maya tadi, mohon pula diperbaiki segala informasi,berita maupun hiburan yang terkadang membuat kita secara tidak sadar menggerutu karena banyaknya informasi, berita maupun hiburan yang sifatnya tidak mendidik. Dan juga tolong pak, kalau mau adil jangan hanya yang didunia maya saja yang mau ditindak yang dimedia cetak ataupun media elektronikpun seharusnya ikut serta.

    Mungkin itu saja..terima kasih Bung WW
    salam
    mulyadewi
  32. From Thomas Arie on 28 March 2008 17:26:37 WIB
    WW: Terima kasih Om!

    Untuk berkas audio, saya rekam utuh (kecuali bagian iklan), jadi disitu sudah jelas kelihatan acara apa, di stasiun TV mana. Dari awal sampai akhir kok. Semoga ini cukup.

    Oh ya, untuk berkas audio yang pertama, saya upload di http://tinyurl.com/26qamt

    Sampai saya tulis komentar ini, sudah di download 94 kali. Eh, ditempat saya ada yang minta rekaman videonya, tapi saya nggak punya. Ngrekam sih mungkin bisa tapi dengan kualitas yang kurang bagus. Kalau uploadnya, jelas lebih susah... hehehe, maklum fakir bandwidth...

    Once again, thanks WW!
  33. From tuti on 28 March 2008 18:08:59 WIB
    kalau boleh saran, co-host sebaiknya tidak terlalu banyak bicara. suara host-nya kurang 'terdengar'.

    terima kasih.
  34. From santino eka p.s on 28 March 2008 18:13:49 WIB
    kalo untuk masuk ke situs porno mesti buat account, anak2 dibawah umur 18 bisa aja buat, ya dengan memalsukan umur biar bisa masuk!!! tolong dipikirkan cara yang lebih efektif, yaa kalo pada akhirnya harus diblokir, jangan sampai tempat untuk berkonsultasi tentang masalh seks jga ikut-ikutan diblokir!!! mahal kalo konsultasi ke dokter praktek!
    Anyway, wimar you my inspiration...
    good luck for you and ANTV.
  35. From gagahput3ra on 28 March 2008 18:43:43 WIB
    Om Wimar, saya dateng lagi nih comment :p Mau ngasih saran, gimana kalo transkrip acara Perspektif WW tentang sensor internet dipublikasikan disini, soalnya saya yakin yang gak nonton juga pengen tahu apa kata pak M. Nuh secara spesifik (Kayak saya gitu =D )

    Sama satu lagi, saya kira Om Wimar bisa bantu, menurut saya harus ada inisiatif dari praktisi internet yang mempunyai pandangan objektif tentang pasal kontroversial didalam UU ITE untuk bekerja sama denan Depkominfo mendesain panduan pelaksanaan UUnya.

    Jadi biar gak diplintir pakar-pakar palsu atau orang-orang yang gak terlalu paham kalau ideologi yang kita anut sebenernya melarang ada sensor-sensor. Sekarang UUnya udah keburu disahkan, sebaiknya panduan pelaksaannya yang bisa dibuat seobjektif mungkin dan tidak menyentuh area privat pengguna internet.

    Buat yang baca komentar saya ini, saya berasumsi anda pasti berpandangan dengan saya sangat menyalahkan pemerintah gara2 UU ini, berarti saya ini kotor. Terserah anda berpandangan apa, yang pasti saya gak suka rakyat digiring pelan-pelan ke aturan anti-demokrasi.

    Gak terasa, tapi usaha itu ada.
  36. From Eprido on 28 March 2008 19:27:58 WIB
    tadi pagi co.host nya udah mulai berani nanya , sayangnya ngak trlalu kena euy. saya punya saran gmana klo co.host nya puteri indonesia 2005, artika sari. kayaknya lebih pas deh.
  37. From satrio on 29 March 2008 00:08:16 WIB
    @gagahputra

    Kalo dah ngomongin soal demokrasi pasti bakal ribet lagi. Berhubung pas saya lahir Pancasila dah ada, dan Sila Satu bunyinya Ketuhanan Yang Maha Esa, yang katanya menandakan bahwa kita ini bangsa yang religius, dan di pembukaan UUD dikatakan kemerdekaan kita dicapai oleh rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Ayo dong kembali ke dasar negara kita.. Yang porno itu pastinya tidak baik...

    Orang sering bilang "kan bisa untuk terapi", saya bilang "masih banyak cara yang lain". Orang bilang "Itu kan hak pribadi" saya bilang "Kalo diterusin lama-lama hak orang untuk hidup tenang pun akan terusik"

    Hampir tiap hari berita pelecehan seksual banyak dimuat, dulu pas saya kerja jaga warnet seringkali nemuin cairan "lengket" berbau "khas" setelah pelanggan mengakses situs begituan...

    Kalo kita bebankan semua permasalahan perkembangan anak ke orang tua, akan ga adil bagi keluarga yang kedua orang tuanya harus bekerja demi memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya sampe tidak memiliki / kurang waktu buat mengawasi anaknya.. Kalo ga kerja, anaknya susah sekolah... kecuali kalo anda bisa memberi solusi yang mudah untuk jenis keluarga seperti itu... Apalagi disaat harga pokok membumbung tinggi...

    Ya.. sekadar pendapat dari saya, bisa salah bisa benar...
  38. From Cecil on 29 March 2008 01:03:13 WIB
    Aduh Indonesia, segala sesuatu pengennya diatur dengan paksaan sih? kok negara Pancasila tapi prakteknya kayak komunis aja? Wong yang penting yah peraturan hukum diperjelas, penegakkan hukum ditingkatkan.. Soal moral dan etika adalah pilihan masyarakat.

    Yang realistis aja deh pak Nuh, moral ngga bisa dipaksakan, dan privacy seseorang juga ngga bisa diatur pemerintah..
  39. From pazrin on 29 March 2008 08:39:55 WIB
    cyber law pun di indonesia di tegakan dan apa yang dapat dilindungi dari cyber law tersebut
    makindilarang makin penasaran lah dia memblokir situs pornotakan membuahkan hasil bila tak ada pengawasan yang berarti.

    mengapa dan kenapa indonesia kutrang perhatian?????????????????
  40. From harmcod on 29 March 2008 15:06:58 WIB
    Alasan melakukan pemblokiran situs porno sebenarnya bukan itu yang dimaksudkan oleh pemerintah tapi adalah mematai-matai pemakai yang selalu mengkritik dan menghambat pemasukannya dari aturan yang mereka buat. Kalau memang untuk benar-benar menjaga supaya rakyat terhindar dari perbuatan amoral. Kenapa hanya situs porno yang diblokir tapi bermacam-macam kegiatan seni baik tradisional maupun modern juga banyak bersifat merusak moral yang berselubung dibalik budaya. Belum lagi prilaku aparat negara dan konglomerat yang berbuat aksi pornografi dimana-mana tapi terlindung dari jangkauan aturan undang-undang ini. Sebenarnya kita harus tahu bahwa semakin besar kekuasaan dan uang maka kecenderungan berbuat hal-hal negatif akan sangat besar karena merasa kehidupan ini hanya seputar hal-hal amoral saja. Itulah sebabnya maka alasan pemerintah melakukan blokir situs porno banyak terjadi pertentangan dan tiambah lagi dibuat undang-undang TI yang tujuannya adalah pintu masuk bagi pemerintah untuk mematai-matai para penentang dan pengkritik mereka untuk tidak bisa berbuat apa-apa karena dikenakan ketentuan undang-undang ini. Sebenarnya seakrang kita sudah kembali ke zaman orba semua pihak dimatai-matai dengan berbagai macam bentuk aturan yang memperbesar kekuasaan aparat pemerintah untuk mengambil hak rakyat secara paksa untuk keuntungan pribadi pemegang kekuasaan tersebut bersama koleganya. Jadi janganlah ada kebohongan. Janganlah cara alasan-alasan yang mengada-ada saja.
  41. From Ken Reidy on 29 March 2008 18:03:28 WIB
    Alhasil, ternyata RUU ITE hanya menunggu kehadiran sosok Bapak M. Nuh agar bisa segera disahkan. Salut, satu mantan rektor ITS yang cukup membanggakan.

    UU apapun, tidak terkecuali UU ITE, akan selalu menuai banyak kecaman dari berbagai kalangan. Pro dan kontra pasti ada. Itu adalah hal normal, membuktikan bahwa Masyarakat Indonesia sudah cukup kritis, dan peduli terhadap aturan-aturan Hukum.

    Bagaimanapun, saya mengapresiasi positif kemunculan UU ITE ini.
  42. From Intox on 29 March 2008 20:11:15 WIB
    Aaaaand we're back to stone age, ladies and gentlemen.

    Seriously, this bill is as ambiguous as it can get. The next thing you know we might as well frankensteined Soeharto back from the grave.
  43. From richard on 29 March 2008 23:28:25 WIB
    Sejak Dephub memecah diri dan menciptakan Depparpostel, kemudian menjadi Depkominfo, harusnya yang menjadi skala prioritas pemerintah itu membuat berbagai akses telekomunikasi di negri ini menjadi murah.
    Lucu juga saat pak M.Nuh mengatakan: "Di saat pemerintah ingin memasyarakatkan internet sampai ke desa, tentu saja harus diproteksi".
    Pertanyaannya, lah wong buat urusan sembako saja masih kewalahan, bagaimana mau membuat masyarakat desa melek internet?
    Jadi, UU ITE itu memang terkesan penuh muatan. Masa sih, Depkominfo tak bisa menggandeng POLRI, "Cilangkap", pakar telematika (pakar telematika ya, bukan sebatas pakar "meta data") sampai blogger untuk meminimalisir pornografi? Wong pasukan "PO" ini saja punya kemampuan *ehem...* "intip-intip" kok.
    Mengamati sikap pak M.Nuh dari kejauhan, nampaknya kominfo kita akan punya titik cerah menuju lebih baik. *untuk yang ini saya main perasaan. Semoga perasaan saya gak salah*
    Coba deh pak, bisik-bisik sama DPR, agar akses telekomunikasi kita diperjuangkan supaya murah. Pasti akan semakin banyak blogger yang akan mewarnai derap langkah negri kita ini, bahkan bersedia membantu pemerintah dengan sukarela tanpa pamrih sekalipun.
    Soal ada yang nakal, ya diselesaikan saja dengan hukum yang sudah ada.
  44. From ALI TOPAN on 30 March 2008 01:33:54 WIB
    UU ITE...good saya setuju banget kalo bisa terlaksana, tp mampu kah?satu situs di blok akan muncul berjuta2 lainya dengan nama lain..betul??
    apakan teknisi dr pemerintah sanggup melawan para pembuat web porno yang tiap hari meng update??masalahnya bukan cuma pembuatnya dr indonesia..tp sedunia...
    ato UU itu hanya di bebankan pada pengusaha warnet tingkat bawah?saya rasa ga ada pengusaha warnet yang mampu menggaji staff teknisi setingkat pemblokiran situs yang berjuta2 yang tiap hari ter update. contoh soal :
    server saya udah di blok ratusan web mengandung kata "porno" tp tetep aja masih ada yang lolos buka situs porno dengan nama yang2 aneh.., apa iya harus di blok kata "sex"?kata "sex" kan bisa berhubungan dengan istilah kedokteran DLL.. "konsultasi sex" ato lainya.. yang nantinya menghambat informasi pendidikan???
    dan bukanya UU ini malah buat aparat jadi membabi buta???(inget kasus microsoft bajakan)yang ada pengusha warnet disalahkan dan jadi bahan pemerasan oknum aparat..
    liat rcti sore ini... di jogja warnet di sweeping polisi,flashdisk usernya di periksa... pelecehan hak pribadi manusia.. lha wong UU belum berlaku kok udah bertindak??
    di sisi lain beberapa oknum aparat ke warnet saya membuka situs porno,sambil streaming film jorok??<<< parah....
    bukanya lebih baik kembalikan masalah moral ini ke diri masing2?? atasi dulu tuh masalah yang lebih penting.. byk orang kelaparan kebanjiran dan mlarat.. ga usah muluk2 dulu lah..
  45. From hendry on 30 March 2008 13:01:37 WIB
    he..he.. setuju bung richard skala prioritas depkominfo/pemerintah memurahkan tarif internet semurah murahnya nya biar bangsaku lebih pintar,rakyatku nggak jadi mlarat,demokrasi jalan terus dan juga melek iptek bukannya ngatur & menghakimi situs moral dunia maya.
    Serahkan pada masyarakat untuk memilih batasan situs mana yang bermoral dan mana yang tidak bermoral. atau jangan-2 spt kata bung ali topan diatas cuman mau cari sensasi dan cari duit.
  46. From bambang haryanto on 31 March 2008 09:33:13 WIB
    Salam sejahtera, Bung Wimar. Semoga sehat-sehat dan acara Perspektif di AnTV bisa berumur panjang dan semakin digemari, karena mencerahkan. Sayang, saya engga nonton acara Anda saat menghadirkan Menkominfo kita terkait niatnya untuk memblokir situs-situs porno di Internet. Saya sudah mencoba mencari info lewat situs Anda, juga situs Bung Budi Rahardjo, maaf mungkin saya keliru, tapi belum saya temukan elaborasi pendapat kontra yang mencerahkan. Ada dimana suara kaum pembela kebebasan sipil di Indonesia ?

    Sepanjang yang saya ketahui, policy Pak Noeh itu melanggar hukum pertama dunia maya yang berbunyi, “bicara sebebasnya dan jangan sekali-kali ada sensor.” Ketika di AS muncul Communications Decency Act/CDA (1996), yang rohnya mirip apa yang dimaui Pak Noeh itu, para pembela kebebasan sipil di AS meradang dan merapatkan barisan. CDA itu akhirnya digugurkan oleh Mahkamah Agung AS.

    Sekadar info yang saya tahu, sensor situs porno itu, bila menurut kajian Wartawan Tanpa Batas, ibarat pasal karet yang mudah meruyak kemana-mana. Apalagi pemblokiran itu seringkali menggunakan teknik paduan kata-kata kunci, sementara daftar siapa-siapa yang masuk blokir atau tidak adalah rahasia Negara. Maka bayangkanlah, dengan memasukkan kata kunci “perspektif” atau “wimar witoelar” di peranti lunak blokir mereka, maka situs Anda akan mudah kena blokir juga.

    Saya kok rada-rada gelisah dengan langkah Menkominfo itu, yang secara guyon kayaknya ingin menghadirkan “Internet Taliban” di Indonesia. Saya mencoba ikut berbicara tentang kekuatiran di atas, di blog saya Esai Epistoholica (http://esaiei.blogspot.com). Semoga isu ini dapat Bung Wimar angkat dalam acara Perspektif di masa-masa mendatang. BTW, mana opini pribadi Bung Wimar sendiri ?

    Salam dari Wonogiri,


    Bambang Haryanto


  47. From hardiyanto on 31 March 2008 12:24:30 WIB
    buat menkominfo memberatas situs porno sama seperti
    membrantas perjudian dan portitusi. Dan tak akan pernah diberantas. yang benar membatasi ruang gerak seperti lokalisasi, jadi menamabah situs yang bermutulah yang harus dilakukan.
  48. From juswan on 31 March 2008 16:32:17 WIB
    Tujuan utama memberantas situs porno ialah untuk mencegah penyebaran pornografi ke masyarakat.

    Pertama, berapa sih masyarakat yang mempunyai fasilitas internet di rumahnnya?
    Berapa pula besarnya yang mengakses situs-situs itu di warnet?

    Kedua, ada berapa juta situs porno di dunia maya ini? Jadi berapa target Menkominfo untuk memberantasnya? 50% atau 30% atau 10% atau 100%??? Apakah secara teknis memungkinkan?

    Ketiga, apa critical point dari pada timbulnya piktor? Bukankah itu merupakan masalah value formation?

    Keempat, manakah yang lebih besar dampaknya terhadap masyarakat, apakah maraknya situs-situs porno ataukah maraknya novel dan film-film serta sikap permisif pemerintah yang menutup mata terhadap menjamurnya warung pojok, diskotik, panti pijat, hotel jam-jaman, yang memungkinkan supply dan demand kenikmatan seks bertransaksi secara relatif mudah dan tanpa sanksi yang berarti?

    Kelima, bukankah penanaman (baca: peneladanan) nilai kemurnian pertama-tama dan terutama harus terjadi di lingkungan keluarga? Dan diharapkan juga di sekolah (mana ya mata pelajaran budi pekerti baik?). Jadi manakah yang lebih urgen memberantas situs pornografi atau menanamkan nilai kemurnian di keluarga dan sekolah?

    Keenam, tanggungjawab siapa yang lebih dirasakan penting: Apakah tugas Departemen Pendidikan untuk membuat kurikulum yang mengajarkan (diharapkan guru juga meneladankan) nilai kemurnian ataukah tugas Menkominfo untuk memberantas akibat dari pada kegagalan pendidikan tersebut?

    Tulisan ini untuk merangsang kita untuk berpikir bersama dan bukan untuk menyalahkan siapa-siapa apalagi untuk menunjuk hidung.
    Menurut hemat saya semuanya harus mulai secara "hic et nunc" atau "di sini dan sekarang"... Mulailah dari diri sendiri dan mulailah dari detik ini... Boikot situs porno dengan cara tidak mengakses ke sana.

    Dan kepada Menkominfo: Kerjakan apa yang patut dan harus anda kerjakan. Anda memimpin dan bukan meminta petunjuk seperti pada orde sebelumnya...
  49. From herdian on 31 March 2008 17:42:15 WIB
    Saya tidakkkk setujuuuuu, kasihan sekali buat orang yang tidak meimliki wanita dan memiliki masalah dengan pendekatan terhadap wanita, dan lagi pula banyak memberi kita pelajaran akan THE ART of SEX, heheheh

    Masalah moral itu tergantung perseorangan sendiri, dan pastinya manusia akan mencari jalan lain utuk membentuk expresi porno dengan cara lain.

    Ini fakta dunia yang tidak bisa dihindari, justru dengan keterbukaan itu akan membuat orang menjadikan hal itu biasa dan mengerti mana yang salah dan yang baik hehehe
  50. From dwi on 31 March 2008 21:23:59 WIB
    Om Wimar keren
    lagi2 dbatasai. kayk dnegri komunis ae. ktnya demokrasi.
    pemerintah aneh2 aj pnya acara mau blokir situs porno.paling2 ad embel2 "agama" dibalik pemblokiran ni!!! sok suci loe!!!
    urusintuh rakyat yg makan nasi aking,yg kena banjir,korban tsunami+gempa yg blom dapet rumah,ilegal logging dan De El El....
    porno ato g tu tergantung yg liat.
    jujur aj... aku suka liat gambar telanjang cz tubuh telanjang terlihat indah..
    moral bkn urusan pemerintah!!!
    kalu pun mau di blokir. buat program acara TV yg mendidik. jgn sinetron TOLOL melulu!!!
  51. From Jalidu on 31 March 2008 21:28:40 WIB
    Aku kira ini hanya kurang siapnya pemerintah RI terhadap teknologi dan itu hampir di segala bidang tidak hanya masalah internet saja, sebenarnya kalo kepingin gak ribut ya pemerintah mengusahakan perangkat software anti porno sendiri ,apa gunanya banyak orang pinter kalo tidak dimanfaatkan otaknya, jadi kalo yang ragu atau malu bahkan jijik suruh aja beli dan yang memang nggak ada masalah dengan ini ya biarkan aja kan beres, pemerintah saat ini harus berfikir yang lebih kreatif cepat dan tanggap, kalo diblokir itu tidak demokratis, dan namanya saja Dunia Maya ya semua harus ada, oke.
    Didunia ini tidak ada yang abadi makanya biarkan saja yang suka mejeng telanjang nanti kalo bosankan pakai pakaian sendiri.
  52. From Akhmad Guntar on 01 April 2008 00:02:42 WIB
    Bukankah salah satu motif utama dari kebijakan ini adalah krn menkominfo bermaksud utk menyebarluaskan internet di kalangan siswa? Jangankan mereka yg sudah pernah coba, klo kebijakan macam gini ndak diberlakukan, cepat atau lambat mereka2 yg masih lugu akan jadi kalangan aneh.

    Cepat atau lambat, sekarang atau nanti, oleh siapapun nanti, kebijakan semacam ini pasti diperlukan dan wajib diberlakukan.
  53. From albertus on 01 April 2008 16:30:08 WIB
    dengar2 menkominfo kita yang tercinta mau ngeblok youtube dalam 2 hari, kalau fitna ga diremove.

    sudah mulai ini, pemerintah kita main seenaknya, sayang internet user tidak punya political base yang kuat..

    http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.04.01.15021259&channel=1&mn=1&idx=1
  54. From novan on 02 April 2008 02:33:06 WIB
    Masyarakat menuntut agar pemerintah segera memperbaiki kualitas akses internet beserta pemanfaatannya seoptimal mungkin untuk kesejahteraan bersama, termasuk pendidikan dan ekonomi, dari kota besar hingga sampai ke desa-desa. Jadi saya kira wajar perlu ada aturan yang mengatur itu karena level pemahaman orang dan usia user internet sangat bermacam-macam.

    Ini bukan hanya soal pornografi, kenapa hal ini saja yang selalu dipersoalkan dan didiskusikan. Mari kita lihat isi UU ITE itu, hal lain yang lebih penting dan menarik adalah soal aturan transaksi elektronik. Saya mengimpikan situs-situs jual beli tumbuh cepat di Indonesia yang bisa menjadi alternatif sumber penghasilan buat masyarakat. Kalau ada UU yang jelas untuk mengatur tentang transaksi elektronik atau jual beli online, berarti sudah tepat langkah pemerintah ini.

    Menyoal tentang pornografi, justru ruang publik itu kata kuncinya. Aturan pemerintah sudah tepat meminimalisasi pornografi di internet yang merupakan ruang publik. Seperti halnya lingkungan nyata di sekitar kita, orang tidak boleh seenaknya berbuat tidak senonoh di pinggir jalan sambil ditonton rame-rame yang penontonnya bisa dari orang tua hingga anak kecil.
    Situs di internet lebih banyak yang bersifat tak terbatas karena seseorang bisa mendapat content pornografi tanpa perlu akses khusus.
  55. From Aulia on 02 April 2008 07:39:30 WIB
    Namanya juga UU, dimana sih peraturan yang gak disalahkan...
    Indonesia sebagai negara Hukum tentu punya pandangan sendiri.
    Apa lagi Dekominfo yang menangani masalah tentu lebih berasalan lagi, kenapa situs resmi (Depkominfo, red) kok bisa dikejengin ma pa netter!
  56. From arthur g.f. da costa on 03 April 2008 13:21:18 WIB
    sudah beberapa kali liat acaranya Bung Wimar, seneng,intelekt,cuma beberapa kali liat tamunya agak kikuk duduk di sofanya yang agak ketinggian. Karena kadang2 kalau tamunya laki2 yang kakinya agak panjang, aku liat tamunya kikuk menaruh kakinya. ada semacam panggung kecil yang tanggung, taruh kaki susah, mau selonjor, ngga nyampe. itu aja kog, over all,..OK banget,..maju terus, durasinya nambah kalo bisa. merdeka!!!
  57. From richard on 03 April 2008 20:32:26 WIB
    Berbagai bypass proxy server kok tidak diberangus juga ;)? Kira-kira, pemerintah mampu nggak ya ikutan cyber world war dengan pakar-pakar software kelas dunia?
    Sayangnya, belum apa-apa sudah "bethjcek-bethjcek". Ini bukan soal pro pornografi, setidaknya pikirkanlah skala prioritas.
    Stop main gusur, main pentung, dan main blokir, kalau nyatanya tak bisa diprediksikan hingga direalisasikan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
  58. From tom aries on 04 April 2008 01:37:45 WIB
    ajaib...

    apa yang ada dibalik tembok sekarang sudah bisa dilihat???
    aku mau lihat kelanjutannya.. apa benar... apa salah?/ udah ah gak usah banyak-banyak... wong kita mbicarain yang ada di balik tembok...

    kalau ada yang bisa melihat sesuatu yang dibalik tembok.. pasti dia gak tahu disisi yang lainnya...

    baiklah kita melihat yang ada... porno ... istilah baru yang akan usang...
  59. From I Wayan Ferry Taufik on 04 April 2008 10:34:43 WIB
    Kebijakan Bapak Nuh, yang mantan rektor anaknya teman saya di Surabaya ini entah untuk kepentingan apa dan siapa ????......untuk kepentingan moral ta cak Nuh ????? I'm not sure, coz wong jaman saiki polahe lebih canggih daripada iblis sekalipun......Lek situs porno ditutup just for temporary moment or just for Mr Nuh publicity, that's just for nothing ?????........
    Wong kadang. awake dewe, lek delok wedok cerdas dengan gaya omongan sing enak, isok bikin aku horni koq................and lek delok gambar2 mudo nang situs porno malah bikin jijik..............
  60. From Farid Primadi on 04 April 2008 23:20:37 WIB
    Situs porno bagaikan semacam wabah virus... setiap hari selalu muncul virus-virus baru atau situs-situs porno baru.... so... penanggulangannya pun akan serupa dengan antivirus. Maksudnya, virus-definitionnya (atau porn-definitionnya) harus senantiasa di update secara berkala. Hal ini sama sekali tidak mustahil jika konsep bekerjanya benar-benar dipahami. Banyak terdapat software yang bisa didownload atau digunakan untuk keperluan penanggulangan masalah ini, dan sepatutnya pula software tersebut meng-update porn-definitionnya itu secara periodik atau berkala. Sehingga dari pihak end-user tidak usah repot-repot menginput entry filter / blocking secara manual.... cuape deeh....
  61. From Agus on 04 April 2008 23:31:02 WIB
    pertama2 saluran televisi d blokir,
    skarang inet, dangdut <- ini aj d permasalahin :D
    ap kata dunia.....

    oke d cina situs d blokir, mang ini negara cina?
    ini merupakan suatu kemunduran demokrasi, d mana setiap orang bebas memberikan aspirasi....

    mgkin skrang saya masih bisa memberikan komentar,
    bsk2 -> kyknya d blokir lagi,,,, cuape dee.....

    semua kembali pada diri sendiri, klo d atur terus -> kapan orang bisa berkembang....
  62. From echo on 08 April 2008 22:04:02 WIB
    Zaman makin maju, kok Indonesia makin mundur,
    informasi ko dibatasin, cuma yang pikiran nya ngeres aja ngeliat content porno bayangin yang aneh2.
    Seperti kata pepatah "MAKIN DILARANG MAKIN BRUTAL".
  63. From Febry B.R on 09 April 2008 10:44:28 WIB
    tanggapan untuk postingan nomer 52 oleh Akhmad Guntar,

    kalau hal itu yang ditakutkan pemerintah,seharusnya pemerintah mendistribusikan software pemblokir situs porno ke sekolah-sekolah/orang tua/atau bahkan instansi-instansi YANG MEMBUTUHKAN!
    jadi ga ada yang dirugikan oleh pemblokiran situs2 porno tersebut.
    bukan asal tabrak maen blokir aja..

    itu yang sangat saya sesalkan dari pak mentri...mosok mentri kok ga mikir kayak gt,bekas rektor loh,ITS pula
    klo bekas anggota dewan sih wajar ga punya pikiran kaya gitu.


    tanggapan untuk post nomer 37 oleh satrio

    kan mas satrio bilang sendiri,"klo ga kerja anaknya susah sekolah,belum harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi"
    nah,kenapa pemerintah gak memudahkan anak2 untuk sekolah,ato berusaha menurunkan harga kebutuhan pokok,,rasanya klo hal itu dilakukan pasti banyak yg mendukung langkah pemerintah.
  64. From Febry B.R on 09 April 2008 10:49:16 WIB
    om WW,,
    saya minta kopi rekaman edisi kelima yg ttg uu ite dong..
  65. From Oka Kautsar on 09 April 2008 11:54:53 WIB
    Youtube ikut di blok juga? kenapa ga sekalian situs\" pemerintah aja yang di blok , apa pemerintah sudah ngerti betul apa pikiran\" di setiap isi kepala orang, sampai hal-hal yang pantas dilihat aja bisa didikte oleh dia.
  66. From oncy on 09 April 2008 15:59:09 WIB
    aku setuju banget apabila situs tersebut dihapus dari suatu alamat di internet, karena dengan itu moral dan banghsa kita menjadi moral yang mempunyai etika dan berpendidikan
  67. From evanderz on 09 April 2008 21:08:52 WIB
    saya sangat setuju atas adanya niat dan tindakan pemerintah kita buat memblokir keberadaan situs2 porno yang dapat merusak ahlak dan mental para generasi2 mendatang,
    namun yang saya kurang sependapat,adalah pemblokiran YOUTUBE dan LIVELEAK.....
    saya rasa saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar kenapa saya tidak sependapat dengan pemblokiran situs2 yang sangat berharga tsb hadir di indonesia,karena jika anda pengguna internet baik pribadi ataupun di kantor,saya yakin anda akan 100% sependapat dengan saya...
    thank's om wim
  68. From dzeqe on 10 April 2008 15:51:53 WIB
    "@gagahputra

    Kalo dah ngomongin soal demokrasi pasti bakal ribet lagi. Berhubung pas saya lahir Pancasila dah ada, dan Sila Satu bunyinya Ketuhanan Yang Maha Esa, yang katanya menandakan bahwa kita ini bangsa yang religius, dan di pembukaan UUD dikatakan kemerdekaan kita dicapai oleh rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Ayo dong kembali ke dasar negara kita.. Yang porno itu pastinya tidak baik...

    Orang sering bilang "kan bisa untuk terapi", saya bilang "masih banyak cara yang lain". Orang bilang "Itu kan hak pribadi" saya bilang "Kalo diterusin lama-lama hak orang untuk hidup tenang pun akan terusik"

    Hampir tiap hari berita pelecehan seksual banyak dimuat, dulu pas saya kerja jaga warnet seringkali nemuin cairan "lengket" berbau "khas" setelah pelanggan mengakses situs begituan...

    Kalo kita bebankan semua permasalahan perkembangan anak ke orang tua, akan ga adil bagi keluarga yang kedua orang tuanya harus bekerja demi memberikan kehidupan yang layak bagi anaknya sampe tidak memiliki / kurang waktu buat mengawasi anaknya.. Kalo ga kerja, anaknya susah sekolah... kecuali kalo anda bisa memberi solusi yang mudah untuk jenis keluarga seperti itu... Apalagi disaat harga pokok membumbung tinggi...

    Ya.. sekadar pendapat dari saya, bisa salah bisa benar..."



    itu karena net nya ketutup smua om maknya dibikin terbuka smua bisa liat aktifitas yang lain
  69. From Romli on 10 April 2008 16:34:11 WIB
    Menurut saya ada baiknya jugacy kalo yang namanya situs porno di blokir.karena itu bisa merusak pikiran bagi masing2 pribadi.
    Tapi tolong dong situs yang berbasis pendidikan jangan ikut juga di blokir.coz waktu saya buka salah satu situs untuk membangun web kena juga terblokir.cukup sekian saja.terima kasih.
  70. From bowo on 14 April 2008 13:05:02 WIB
    terus terang saya dukung banget kalo Pemerintah concern masalah pembinaan mental generasi muda. Tapi, perkembangan internet dan semua hal yang terkandung di dalamnya memang bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, pisau bisa kita gunakan untuk hal yang berguna, buat motong sayur misalnya, atau di lain sisi, pisau bisa aja dipake buat mbunuh orang. Apakah pemblokiran situs porno bisa efektif? Apakah tidak ada jalan lain? Yang saya tahu, sosialisasi masalah pemblokiran situs porno belum sampai di tingkat bawah, di sekolah-sekolah, kalangan yang potensial untuk dimasuki virus-virus porno ini. Kalo menurut saya pribadi, langkah memblokir situs porno gak efektif, akan lebih efektif kalo tiap pembinaan itu dimulai dari kesadaran tiap orang tua, tiap guru, tiap orang dewasa yang pikirannya "udah dewasa" bahwa memang pornografi tidak baik untuk anak-anak.

    Sekarang yang jadi pertanyaan, admin di Depkominfo yang nge-blok konten porno di internet kuat gak selama bertugas di situ? Tiap hari melototin konten internet satu persatu, terus milih mana yang harus di-blok. Aku yakin, gak sampe 1 tahun Anda bisa (moga-moga enggak!) stress.

    Udah ah, yang penting situs Rapidshare, Megaupload, YouTube, dan lain-lain file-sharing server jgn di-blok. Silakan aja Pak menteri, dilanjutkan langkah Bapak, saya tahu maksud Bapak baik untuk kemajuan bangsa ini, tidak terjebak dalam kemerosotan moral, tapi tetap munculkan pertanyaan di benak Bapak, "apakah langkah yang Saya tempuh ini efektif? Atau adakah cara lain?" Itu aja Pak.

    Salam, dari satu-satunya mahasiswa yang pernah loncat dari podium Graha ITS sehabis salaman dengan bapak di acara Wisuda.

    Bang WW, tolong sampein ke Pak Menteri ya, trims
  71. From Faizin on 16 April 2008 22:39:08 WIB
    Menurut hemat aku....Sebenarnya ide pemblokiran internet itu maksudnya baik, tujuannya mulia namun sayangnya masih memakai cara-cara/paradigma lama yang menjadikannya kurang bijaksana, childish dan otoriter. Ibarat seorang ayah, pemerintah kita dalam mendidik anak2nya masih dengan cara mendikte dan tidak mengajari samasekali cara anak2nya bertahan/survive atau mempunyai kepercayaan diri dalam menghadapi serbuan hal2 yang mau tidak mau tetap ada dan begitu beribu jenis bentuknya. porno hanyalah sebagian kecil saja. Aku dulu pada awalnya sangat antusias mengintip hal gituan. tapi sekarang...huh buang2 waktu aja. Coba deh usaha2 warnet itu desain ruangannya jangan disekat tinggi2 kayak panti pijat aja.. buat peraturan. tapi bukankah kita bisa juga download dan diinti dirumah???.... haaah embuhlah bang... coba Abang deh yang mikirin... Thank ya Bang ya atas topik2 yang sangat menarik ini....
  72. From panji on 17 April 2008 01:11:23 WIB
    Agree that the blocking is a wrong way. Kasus ini semakin memperkuat dugaan saya, bhw Pemerintah tidak memiliki kemampuan "publishing" yang baik. Ide-ide mulia (melindungi anak, mengontrol pornografi, dsb) tidak dapat diwujudkan dengan baik dan terfokus, tapi berkesan asal-asalan; akibatnya banyak diprotes. Ada kesan kekurangan praanalisis dalam perumusan suatu kebijakan.

    Sptnya aparat di pemerintahan perlu pelatihan besar-besaran dan mengasah diri. Saya lihat, sistem penggajian juga masih terlalu kaku, akibatnya penghargaan berdasarkan merit tidak bisa dg mudah dilakukan spt halnya pada institusi swasta.
  73. From Irwan Effendi on 24 April 2008 06:52:35 WIB
    Dh,
    Mewakili Asosiasi Internet Indonesia, saya telah menulis sebuah artikel yang mendiskusikan kelemahan dan sebagian cacat hukum dari UU ITE yang baru, yang dapat anda download di http://www.isocid.net/kelemahanuuite.pdf
  74. From ade chandra on 26 April 2008 01:32:28 WIB
    sori neh.. mungkin ini sudah agak ketinggalan tapi saya ada pertanyaan mungkin agak agak .......
    bagaimana jika saya orang indonesia membuat dan memiliki website xxx tapi untuk konsumsi orang luar negeri dengan menaruh hosting di luar negeri.. apakah akan terkena sangsi atau tidak... karena bisa di katakan ini bukan untuk orang indonesia tapi orang luar negeri, lagi pula contentnya bukan gambar indonesia atao berkaitan dengan indonesia. sedangakan di luar negeri itu sex shop di ijin kan..



    terima kasih....
  75. From Linda on 15 August 2008 14:34:22 WIB
    Jadi seperti bikin rumah penjara karena takut banyak penjahat di luar sana
  76. From Andi on 15 February 2010 15:15:45 WIB
    yah menurut saya di dunia maya begini enggak ada yang bisa blokir deh... di blok.. ya masih bisa lewat jalan belakang.. di blok lg lewat mana lg.. jd ...capek...dah komentar..
  77. From Helmi on 03 March 2010 04:58:54 WIB
    Mau komen yang ini:
    "saya setuju dengan pendapat Mr. Budi yang bilang klo ada content yang negatif ya content positif nya di banyakin dunk."
    komen saya: kalau mau yang positifnya banyak, yaa salah satu cara adalah mengurangi yang negaif, selain menambah yang positif.

    "menurut saya cara ini lebih berpendidikan daripada main tutup aja seperti yang dilakukan pemerintah jaya anak kecil aja nda suka maen banting main lempar ya kan?"
    komen saya: justru cara yang mendiamkan yang negatif itu yang menurut saya adalah cara anak kecil. yang tidak sadar bahwa itu adalah negatif. orang yang sudah dewasa layak seharusnya mencegah yang negatif agar tidak di akses oleh anak kecil.

    "Pornografi di internet apabila meresahkan orang tua, adalah merupakan bagi orang tua, dan tanggung jawab orang tua, bukan urusan pemerintah."
    komen saya: inilah bukti bobrokya demokrasi, tanggungjawab moral silahkan tanggung sendiri. negara tidak ikut bertanggungjawab atas rusaknya generasi.

    "Harus diperhatikan, pengguna internet isinya bukan anak kecil semua, sangat banyak yang sudah dewasa."
    komen saya: saat ini saya mengajar di sekolah, dan internet adalah salah satu pelajarannya.mereka adalah segmen pengguna internet yang potensial.

    "Apa pemerintah berhak ngatur-ngatur aplikasi apa yang mau saya install? Di negara komunis, ya pemerintah berhak. Di negara demokrasi, tidak."
    komen saya: inilah salah satu rusaknya sistem demokrasi, semuanya bebas asal tidak mengganggu orang lain. dengan kata lain, silahkan berbuat semaunya asal gak ganggu. Hhhah, egois individualis! Peranan pemerintah semakin dijauhkan dari tanggungjawab mengurus rakyatnya. Padahal mereka yang membuat aturan di negara. Kalau negara tidak boleh mengurus rakyatnya, lalu buat apa ada negara.

    "Disini bukan masalah situs pornonya, tapi pelanggaran pemerintah terhadap area privat warganya."
    komen saya: Justru salah satu masalahnya adalah negara membiarkan pornografi, sehingga moral bangsa rusak. Demokrasi memang membuat bangsa ini hancur, dan itulah yang diinginkan oleh demokrasi.

« Home