Articles

Menkes Supari Bukan Anti WHO, tapi...

Perspektif Wimar
07 April 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Memperingati hari kesehatan dunia yang jatuh pada 7 April, Perspektif Wimar mengajak pemirsa untuk kembali memperhatikan pentingnya kesehatan di zaman yang semakin modern ini, dengan menghadirkan Menteri Kesehatan Ibu Dr.dr. Siti Fadilah Supari dan ditemani Revalina S Temat sebagai co host. Perspektif Wimar kali ini tidak hanya membahas permasalahan seputar kesehatan di Indonesia, tapi juga menjadi ajang klarifikasi “gosip kontoversial” (bukan gosip selingkuh yaa) yang menimpa bu menteri. 

Fenomena perubahan iklim tampaknya menjadi tema yang mendapat perhatian besar dari dunia, begitupun dengan hari kesehatan dunia yang tahun ini bertema climate change dengan kesehatan. Menurut ibu menteri banyak penyakit baru yang bermunculan akibat fenomena perubahan iklim, tetapi anehnya WHO sendiri belum memasukan climate change dalam programnya!! Lho kok gitu?

Di Indonesia sendiri, ada beberapa penyakit yang menjadi perhatian besar seperti malaria,TBC, dan demam berdarah termasuk juga gizi buruk. “tetapi jumlah penderita DBD jauh menurun dari tahun ke tahun”, ujar Bu menteri.

Mengenai temuan IPB yang menemukan bakteri di susu formula bayi, menkes sangat menghormati hasil penelitan tersebut. Beliau juga membantah telah menganggap IPB kampus “kelas pinggiran”, karena dia menganggap IPB adalah setengah almamaternya. 

Berbicara tentang bukunya yang berjudul “Saatnya Kita Berubah: Tangan Tuhan Di balik Virus Flu Burung” (yang ternyata tidak ditarik dari peredaran oleh Presiden SBY), dr. Siti Fadilah mengungkapkan adanya sebuah ketidakadilan yang dilakukan organisasi global. Tapi ternyata yang salah bukan WHOnya, melainkan mekanismenya. Kira-kira siapa yang diuntungkan ya?

“Saya tidak memusuhi WHO atau AS, saya hanya memusuhi kedzaliman!”, tambah bu menkes. Hal ini terkait dengan pengambilan sample penyakit dari negara berkembang untuk kemudian di buat vaksinnya oleh negara maju dan dijual kembali ke negara berkembang dengan harga mahal tanpa ada kompensasi berarti.


Apa pendapat anda sendiri mengenai penanganan kesehatan pemerintah atau mengenai Menteri satu ini? Silakan komentar di bawah. Atau mungkin ada pihak WHO yang ingin tanggapi di Perspektif Wimar?

 

Print article only

22 Comments:

  1. From Gunawan on 07 April 2008 09:01:46 WIB
    Menkes bilang dia orang yang paling tidak bisa melihat ketidak adilan WHO, tidak usah jauh-jauh ibu menteri, apakah yang dilakukan PT Sanbe Farma dengan harga obatnya mencekik dan membodohi rakyat itu adil ??? Lihat harga Amoxsan 500 dari PT Sanbe Rp. 3000-an sedangkan pabrik lain sudah turun menjadi Rp. 1000-an sesuai aturan harga obat generik berlogo maksimum tiga kali harga generiknya. Kenapa tidak ditindak praktek KKN pabrik obat dengan dokter yang sangat berpotensi membangkrutkan rakyat yang sudah miskin. Mau bukti ibu menkes segera pergi ke Apotik tanya harga Amoxsan 500 dan pabrik apa yang produksi ??? Di satu sisi saya mengamati anda, ibu menteri termasuk yang berani mengambil terobosan baru dengan mematok harga obat generik berlogo, tetapi anda juga harus berani menghadapi PT Sanbe untuk taat aturan seperti pabrik obat lainnya dengan tujuan mulia untuk kesehatan masyarakat Indonesia.
    Salam sukses selalu bang Wimar.....
  2. From agustine fransisca bellamia on 07 April 2008 09:15:43 WIB
    Selamat Hari Kesehatan!!!!!
    Trims untuk perspektif hari ini.
    Gizi buruk kembali lagi pada pendapatan dan pola hidup. Ada yang pendapatan cukup layak, tapi pola hidupnya yang salah. Ada yang memang kekurangan pendapatan sehingga memang hanya cukup uang untuk membeli yang itu-itu saja.
    Saya sih setuju bahwa banyak mekanisme yang malah merugikan orang banyak, dan itu bisa dikategorikan kedzaliman. Saya sangat setuju, Bu Menkes.
    Saran saya sekarang sih, tolong Bu Menkes, galakkan kembali aktivitas Posyandu. Kayaknya Posyandu sekarang kekurangan kader nih. Gaungnya kurang terdengar lagi. Maksudnya agar risiko gizi buruk dapat diturunkan.
    Lalu, Bang...aku mau curhat sedikit. Penting!!!
    Aku kebetulan dipercaya untuk bertugas pada salah satu TPS (Tempat Pemilihan Umum) untuk pemilihan gubernur jabar tanggal 13 April mendatang. Kemarin kami kekurangan Surat Pemberitahuan (Formulir C6). Kami baru menerima Surat pukul 17.48. Setelah dihitung, jumlah yang kami terima dari kelurahan kurang dari jumlah pemilih yang tercatat. Lalu kami coba mendatangi kelurahan, ternyata pintu gerbangnya di gembok. Kemudian kami datangi kecamatan, gerbangnya pun di gembok. Akhirnya kami datangi KPU Provinsi Jabar di Jl.Garut, Bandung. Disini, hanya ada yang dinas piket saja. Ternyata, kata2 bahwa seluruh petugas KPU Provinsi seminggu menjelang hari pemilihan akan siaga selama 24 jam hanya isapan jempol. Kami selalu di gebrak-gebrak bekerja sesuai agenda, sementara malah yang seharusnya siaga tidak ada di tempat. Mungkin bayaran jangka pendek nya sudah menjadi jang ka imah (=untuk ke rumah). Saya kecewa dengan pelayanan dan kepedulian KPU Jabar serta para perangkatnya di seluruh tingkat. Apa ini termasuk krisis moral bangsa?
    Trims.
  3. From Rochmali Zultan on 07 April 2008 09:59:32 WIB
    Om Wimmmmmmm

    Nice episode. Saya ni termasuk fans-nya Bu Menkes. Bukannya apa-apa, saya salut dengan kebijakan Bu Supari ini yang mewajibkan semua dokter memberi resep generik. Tapi masalahnya, dalam praktek, masih banyak dokter yang emoh generik. Bahkan saya dengar juga ketua IDInya pun ikutan menolak.

    Bu, saya sebagai orang yang hampir-hampir tak berpunya, salut dengan ibu yang peduli dengan kesehatan masyarakat menengah ke bawah.

    Walaupun diterpa kritik dan kontroversi di departemen ibu, saya yakin Ibu bisa melaluinya dengan selamat sentausa dan sejahtera.

    Hidup Bu Menkes

  4. From UmanK on 07 April 2008 10:32:05 WIB
    Selamat Hari Kesehatan....
    Tapi jangan cuma seremonial aja dong. Tapi we need act mamen!!!
    Posyandu n Puskesmas adalah sebuah sistem yang bagus. tinggal orang-orang yang terlibat di dalamnya saja yang perlu dibenahi.

    WHO.
    Mungkin WHO merasa Indonesia adalah negara yang tidak menguntungakan jadi WHO tidak mendapat keuntungan dari Indonesia. Sebetulnya WHO seharusnya tahu kalau ada perusahaan besar dengan untung berlipat yang menguntungkan di Indonesia. Ya gak Mas Gunawan??
    (ngomong apaan ni gw)

    Buat PW.
    Tadi breaknya terlambat. Btw, WW agak canggung ya dengan Co-Hostnya? Jadi keliatan gimana gitu.. Keep on Moving PW!!
  5. From agustine fransisca bellamia on 07 April 2008 11:25:22 WIB
    Bang WW, Depkominfo mengundang seluruh komunitas bloggers Senin malam tanggal 7 April 2008 ini jam 19 ya? Bang,nanti cerita2 hasilnya di forum ya. Kan aku di Bandung. Kalau pun memaksakan, ada tanggung jawab yang harus dilepas prioritasnya nih bang..... Gak konsisten dong?
    Selamat berdiskusi yang bang.... Doaku bersama rekan2 semua.
  6. From elha on 07 April 2008 11:35:02 WIB
    Pemerintah jangan asal sekedar punya program kerja aja tapi implementasinya ngak jalan. Keluarkan semua budget yang sudah dianggarkan untuk dana kesehatan masyarakat dan pastikan tepat ke target yang di tuju.

    Kalau pemerintah jujur dan bekerja dengan hati insya Allah masyarakat yang sehat dapat dicapai.
  7. From endah WKS on 07 April 2008 12:33:43 WIB
    mmmm I missed the show today :(
    tapi saya liat closingnya.
    dari beberapa berita memang saya liat Bu Menkes bicaranya terus terang, kadang-kadang menyakitkan bagi sebagian orang.
    tapi aku berharap Bu, supaya pemerintah lebih meningkatkan lagi kepeduliannya terhadap bayi-bayi yang gizi buruk. mau jadi apa Indonesia nanti, kalau generasi mudanya terkena gizi buruk. hmmm sayang sekali...

    selamat hari Kesehatan...berjuan terus bu...



  8. From Farid Primadi on 07 April 2008 12:45:46 WIB
    Jangankan WHO..... cari obat generik saja kadangkala susah.... sikap dokter2 juga kadangkala terlalu cepat mendiagnosa dan tak mau ambil pusing dengan penderitaan si pasien yang sudah menahun.... bukannya makin sembuh, malah biaya makin bertambah-tambah yang nggak jelas.

    Kalau isu kemungkinan beberapa negara menyebarkan penyakit baru ke negara-negara lain, hal itu sudah lumrah dari zaman peradaban kerajaan di zaman lampau....

    Mungkin juga termasuk H5N1 itu....
    beserta Ebola, AIDS, Morgellons, dll....

    By the way.... Apotik yang paling lengkap di Indonesia itu Apotik mana?
  9. From Wid on 07 April 2008 13:33:57 WIB

    Kata orang, Kesehatan adalah jantung kehidupan ...
    Moga aja departemen Kesehatan juga menjadi jantung negara ini dengan memberikan perhatian dan layanan yang baik bagi masyarakat ...

    Kang Wimar .. Selamat ya mobil barunya ...:)
  10. From Mansur on 07 April 2008 15:24:43 WIB
    Mumpung hari kesehatan, ada baiknya pemerintah juga memperhatikan kesehatan para pejabat kita agar tidak mudah terkena amnesia seperti lupa pada penanganan kasus korupsi (BLBI, Kejaksaan) dan HAM (Trisakti, Semanggi, Munir).
  11. From fika on 07 April 2008 15:40:21 WIB
    wahhhhhhhh, saya setuju banget sama saudara FArid.
  12. From tyo on 07 April 2008 18:30:02 WIB
    Salut bu menkes, Terus berjuang ya bu buat kemajuan kesehatan indonesia...

    Iya soal harga obat emang agak ribet di indo ini, soalnya birokrasinya sampai obat sampe ke tangan konsumen itu lho....

    Ayo dong, pemerintah kmana aja ni?
    Rubah plz sistemnya...
  13. From Miko on 07 April 2008 20:42:52 WIB
    Salam brekele...
    Episode pagi ini sebenarnya sangat bagus. Cuma karena durasi yang pendek membuat diskusi seakan dipaksakan to the point. But, it's Oke..Kalo yang "Sam" Wimar yang drive ini acara bagus melulu.
    Sy cuma mau beri advice ke bu MenKes. Tolong Public Service di RSU pemerintah lebih diperhatikan. Saya heran sekali kalo ada RSU pemerintah yang berteriak rugi karena melayani Askeskin. Padahal menurut pengamatan saya, banyak sumber2 dana "ilegal" yang diperoleh RS tsb. Yang kalo managing-nya baik bs sangat membantu finansial mereka.
    Untuk "Sam" Wimar, kalo bs topik2 Perspektif jgn terlalu komersil. Seperti promo produk2,dsb. Pertahankan idealisme yang merupakan trademark anda.
    Good Night...
  14. From wak tul on 08 April 2008 04:40:35 WIB
    kesannya bu mentri kayak perwakilan PBF yach ?

    apa ngga bisa ngajak masyarakat bikin pabrik obat alteratif bu?

    eeeh, ngajak prof Hembing, kek...
  15. From Yudha Perdana on 08 April 2008 10:03:00 WIB
    Ya "Selamat hari Kesehatan......
    Ya Bu Menteri..... tolong tingkatkan pelayanan jasa berobat untuk kalangan asuransi jamsostek.... karna selama ini sangat kurang bagus sekali.....
  16. From George Sicillia on 08 April 2008 13:16:27 WIB
    Bu Menkes yang satu ini adalah idolaku lho!

    Salut untuk terobosan2nya.. emang untuk terwujud yg ideal itu agak susah karena berbagai kompleksitas yang ada di negara kita.. tapi kita harus tetap mulai membenahi diri dan terus berjuang. Tapi ga bisa cuma bu Menkes, ga bisa cuma segelintir orang, tetapi sebagai sebuah negara.

    Tetap semangat bu Menkes! Tetap semangat WW! Tetap semangat semuanya... God bless u all!

    Blessings,
    Ge'
  17. From Farid Primadi on 08 April 2008 17:40:26 WIB
    Tadi siang saya baca koran, dan ada beberapa poin yang saya garis-bawahi:

    "Oseltamivir (Tamiflu*) tidak dijual bebas di Indonesia"
    *) Tamiflu = obat anti flu burung

    "Sedangkan di negara Jepang, obat Oseltamivir dijual bebas di apotek"

    "Turunnya khasiat Oseltamivir, bisa saja terjadi karena pasien bersangkutan TERLAMBAT MENDAPAT PERTOLONGAN"

    Sumber surat kabar:
    "Jurnal Nasional" hal.6 kol.5-6, Selasa 8 April 2008

    --------------------------------

    .... itu baru salah satu contoh saja.....

    Protektif boleh-boleh saja...
    Over-protektif = monopoli ???

    Mengingat bahwa saat ini, pasien bisa memperoleh AKSES KONSULTASI KESEHATAN atau RESEP OBAT dari mana saja, termasuk dari media Internet atau pun sumber-sumber terpercaya di berbagai belahan dunia. (Terutama bagi pihak-pihak yang pernah 'terkecewakan' atau 'menjadi kurang percaya' dengan layanan medis lokal yang ada pada saat ini)

    Seharusnya setiap WNI berhak untuk mendapatkan AKSES memperoleh OBAT APA SAJA; selama itu tidak tergolong obat-obatan keras maupun psikotropika (yang notabene memang harus dengan kontrol yang ketat).
  18. From tom aries on 12 April 2008 01:03:46 WIB
    “Saya tidak memusuhi WHO atau AS, saya hanya memusuhi kedzaliman!”, tambah bu menkes. Hal ini terkait dengan pengambilan sample penyakit dari negara berkembang untuk kemudian di buat vaksinnya oleh negara maju dan dijual kembali ke negara berkembang dengan harga mahal tanpa ada kompensasi berarti.

    bu, menkes.
    hormat bagi kata-kata dan bijak dalam perlawanan..
    terus berjuang dari yang tidak terlihat...
    terus berjuang bagi kesadaran baru dalam paradigma WHO

    percaya pada perjuangan dan tinggalkan beban dirumah..
    maju dalan pelayanan dan berjuang jangan setengah-setengah.

    dukungan saya untuk anda. wanita pejuang yang berjuang dalam kesadaran.
  19. From Boyke Ricardo on 12 April 2008 01:53:21 WIB
    Dimana saya bisa membeli obat flu burung? Buat jaga-jaga....
    Katanya, tidak dijual di apotik yah?
    Apakah saya bisa membelinya dari puskesmas?

    Katanya lagi, penyalahgunaan obat tersebut bisa menimbulkan resistensi yah?

    Sepengetahuan saya, orang yang awam ini, resistensi terjadi karena penggunaan obat dengan dosis yang tidak tepat. Misalnya harus minum 2 tablet, tapi hanya diminum 1 tablet saja.

    Namun konon katanya lagi, jika penyakit semakin parah, biasanya dosis ditingkatkan.... Kok saya jadi makin pusing yah, apalagi sewaktu melihat ayam-ayam yang berkeliaran.... sedangkan saya tidak tersedia obat flu ayam.....

    Katanya lagi, kalau ayamnya digoreng atau direbus sampai matang, virus flu burungnya bisa mati....

    Tapi katanya lagi, yang namanya virus itu nggak hidup dan juga nggak bisa mati.....

    Kok sepertinya pemerintah kurang sosialisasi tentang flu ayam ini..... atau saya saja yang terlalu ayam.... eh.... awam....????

  20. From Annegret Handojosoemarto on 29 April 2009 20:23:16 WIB
    I want to express my deepest concerns about the fast spreading H1N1 viral infection and would like to inquire why Tamiflu is not available either in pharmacies nor hospitals in Jakarta?
  21. From oki firdaus on 15 May 2009 14:30:49 WIB
    Masih ada yng lebih bahaya lagi Flu Burunf dari pada flu babi walupun hewan nya lebih bahaya macan ..... he ...he...

    Kalau kita siapkan semua dengan baik dan hati - hati semua akan baik - baik saja.

    Tapi kalau kita menyepelekan, ya akan terjadi seuatu hal yang dampaknya besar. Walaupun Indonesia mungkin lebih siap menghadapi flu babi dan flu burung.

    kalau kita memperhatikan seruan Pak SBY mungkin kita harus bersikap hati - hati dari lingjkungan kita sendiri

    okifirdaus@gmail.com

    baca juga : http:\\dagocoffeekidaus.blogspot.com
  22. From Dwi Ana on 23 July 2009 10:40:38 WIB
    Menurut saya kita semua warga negara indonesia harus benar benar menantamkan budaya hidup sehat ,secara tidak langsung kita sudah berusaha meminimais tingkat penyebab adanya penyakit di lingkungan keluarga kita ,bila budaya ini kita lakukan dengan program hidup sehat ,paling tidak bisa menjadi jembatan dalam mensukseskan Budaya hidup sehat


    Salam
    Dwi Ana
    Http://transquillity-life.blogspot.com

« Home