Articles

Wahyu: Kita Menghadapi Fenomena Perbudakan Modern

Perspektif Wimar
01 May 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Jika bicara tentang buruh,masih banyak orang yang menganggap buruh adalah warga kelas dua. Padahal bisa dibayangkan kalau suatu negara tidak ada buruh? Pasti produksi tidak berjalan, roda ekonomi mandek, pengangguran merajalela dan pemilik modal juga harus bekerja sendiri. Memperingati hari buruh, Perspektif Wimar menghadirkan narasumber pengamat perburuhan Wahyu Susilo dengan ditemani co host Meisya Siregar.

Salah satu masalah perburuhan yang menjadi keprihatinan kita adalah persoalan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang sering disebut ‘pahlawan devisa’. Kasus yang menimpa para TKIpun dari tahun ke tahun terus meningkat. Seperti yang diakui menakertrans Erman Suparno, bahwa pada tahun 2006 terjadi 36.000 kasus dan terus meningkat menjadi 80.000 kasus saat ini. Justru semakin banyak orang dan lembaga di Indonesia yang mengurus TKI,maka semakin banyak juga korban yang tertimpa masalah. “seperti kalau kepala gatal, semakin digaruk semakin banyak ketombe yang rontok”, ujar WW

Wahyu mengungkapkan adanya ketidakadilan yang menimpa para TKI. “mereka berkontribusi besar pada pembangunan negara, tapi mereka tidak pernah menikmati hasilnya”,ujar Wahyu. Bisa dibayangkan, bahwa negara kita mendapat remiten dari TKI sebesar Rp.60 triliyun per tahun, sementara alokasi untuk perlindungan TKI di APBN hanya Rp.25 Milyar.

Kekerasan yang terus menimpa para TKI menurut Wahyu disebabkan antara lain karena agen-agen yang nakal dan majikan yang tidak berperikemanusiaan. Arab Saudi adalah negara dengan peringkat tertinggi dengan kasus kekerasan terhadap TKI, hal ini disebabkan antara lain karena pekerja rumah tangga hanya dianggap sebagai properti belaka. Memprihatinkan!!

Persoalan perburuhan lain yang menjadi sorotan adalah banyaknya perubahan status buruh tetap menjadi outsourcing (buruh kontrak). Menurut Wahyu, ini adalah bentuk penghindaran kewajiban perusahaan terhadap buruh. Para aktivis buruh sering menyebut fenomena ini sebagai “Perbudakan Modern”. Semakin banyaknya serikat buruh, juga kurang efektif karena hanya bagus di permukaan, pada kenyataannya justru sering kontraproduktif.

Susah juga di republik ini, ketika aktivis buruh diberi kesempatan masuk kedalam sistem untuk mempengaruhi kebijakan, malahan ada beberapa yang terjerat kasus korupsi penyelewengan dana jamsostek. Harus gimana lagi dong?

Print article only

13 Comments:

  1. From riris on 01 May 2008 09:20:04 WIB
    Sungguh malang nasib buruh. Apalagi buruh perempuan. Dari semua komponen biaya, buruh-lah yg paling bisa ditarik-diulur seperti karet.

    Pemerintah jelas belum serius melindungi buruh. Padahal mereka meringankan tugas pemerintah yg seharusnya mampu memberi pekerjaan dan kesejahteraan yg layak. Buruh sekaligus sangat membantu meredusir gejolak sosial, mis.akibat meluasnya pengangguran seandainya buruh tidak ada.

    Dari sisi upah, cukupkah UMR (sering diplesetkan Upah Masih Rendah) Rp 956 rb utk kos/kontrak/tranpor/makan di Jakarta?
    Ttg TKI, bekal apa yg diberikan pemerintah? Dari bandara SH kita bisa melihat, betapa pemerintah tidak memperlakukan mereka dg layak. Begitukah perlakuan thd "pahlawan" (devisa) yg slalu didengungkan? Pemerintah perlu belajar dari Filipina bgmn menyiapkan dan melindungi TK-nya.

    Reformasi sudah berjalan hampir satu dasawarsa, tapi nasib buruh tak pernah mengalami reformasi. Ironis!
  2. From Rangga Aditya on 01 May 2008 09:54:25 WIB
    Saya sangat iri dengan negara Filipina. Negara tersebut sama seperti kita, pengekspor tenaga kerja juga tapi bisa membekali tenaga kerjanya dengan pengetahuan akan hak dan kewajiban serta hukum sehingga jika sang majikan macam-macam (misalnya, percobaan pemerkosaan) maka tenaga kerja tersebut bisa membela diri. Dan enaknya lagi negaranya mendukung hingga titik darah penghabisan (kalau dihiperbolakan). Berbeda dengan kita, dimana TKW kita selalu pasrah jika diperlakukan tidak senonoh. Mungkin karena takut kehilangan pekerjaan atau mungkin juga tidak mengerti harus berbuat apa. Sehingga kebanyakan berakhir dengan membawa pulang bayi hasil hubungan gelap. Atau di peti mati.
  3. From Hanif on 01 May 2008 16:46:02 WIB
    saya stuju dengan dua pendapat di atas,,
    saya yang selama ini bersekolah dimalaysia terkadang sedih ketika bertemu TKI dsini, mreka seharusnya dibekali pengetahuan,, ternyata sebegitu jauh nya jurang perbedaan pengetahuan antara kita,, dan juga, kadang saya kecewa terhadap tanggapan mereka, bahwa lebih enak mencari duit di negara orang, karena mereka bisa menghidup diri sndiri, kluarga nya yang di indo, padahal kalo kemampuan mereka di gunakan di indonesia dengan baik, mungkin indonesia bisa lebih baik dari malaysia.
  4. From Ridwan on 01 May 2008 23:30:18 WIB
    Kuncinya BURUH harus bersatu,BERSATU KITA TEGUH BERCERAI KITA TERPECAH-PECAH sampai-sampai jumlah Serikat Buruh banyak sekali di Indonesia,SADARKAH KALAU KITA SENGAJA DIBUAT TERPECAH AGAR TIDAK PUNYA KEKUATAN ? ADA PIHAK-PIHAK YANG KETAKUTAN DENGAN KEKUATAN BURUH BERSATU.
  5. From tri on 02 May 2008 07:41:30 WIB
    saya bersimpati dengan nasib buruh di indonesia, tetapi daripada saudara2 kita yg masih berjuang untuk mencari kerja nasib mereka masih sangat beruntung. seyogyanya pemerintah dapat mencari solusi yg terbaik untuk buruh dan juga investor sehingga baik buruh maupun calon buruh mendapatkan solusi.
  6. From Andika Nurfikriansyah on 02 May 2008 08:37:24 WIB
    saya lebih bingung lagi ketika BANK BUMN mamakai kemeja biru malah banyak mengunakan tenaga outsourcing yang mengunakan yayasan dan anak perusaaan.
    Apaka karena BANK BUMN sahamnya sudah di kuasai oleh investor asing ??? apakah mereka tidak sadar dampak ke anak cucunya ...
  7. From tom aries on 02 May 2008 09:02:55 WIB
    “Perbudakan Modern”

    Perkembangana bahasa yang baik bagi perbudakan.
    perkembangan kearah hilangnya perbudakan...
  8. From dmitri on 05 May 2008 02:06:36 WIB
    bukannya, perbudakan itu kekal? komunisme tidak bisa jalan tanpa memperbudak rakyat. kapitalisme tidak profitable kalau tak ada budak. jadi susah nih kita cari titik tengahnya. mungkin perlu belajar konsep koperasi lagi?

    dan tentang devisa TKI. bukannya uang mereka habis buat beli tiket pesawat pulang pakai Emirates atau Qatar airways, ya? memangnya mereka naik Garuda?

    tapi saya setuju kalau TKI terus dibenerin. harus dapet fokus lebih. dan sesuai pengalaman saya, pegawai kantoran di Jakarta mampu bersaing di pasar luar kok, jadi kenapa harus eksport pembantu aja? kita kan enggak lebih goblok, dan lebih bisa patuh, dari orang India.

    pasar di Indonesia udah terlalu sumpek sama orang pinter, sampai pekerjaan berkualitas masih dinilai rendah juga. kalaupun enggak, ilmunya mubazir, tuh.
  9. From |richard.p.s| on 05 May 2008 21:36:07 WIB
    uang banyak, masa banyak, suara banyak, ... apa saja yang banyak-banyak, pasti menarik untuk dikerubungi. Termasuk lalat yang suka ngerubungi xxx yang banyak sekaligus bau itu. Kepentingan, salah satu poinnya politisinya. Dan yang banyak-banyak pasti memuaskannya. Wajar saja itu. Politisi kan juga perlu BEP ya? ;)
    Supaya buruh tak dijadikan alat BEP nya politisi, semoga semakin banyak buruh yang lebih memilih ikutan koperasi atau lembaga-lembaga yang membina buruh untuk menjadi calon pemilik pabrik-pabrik baru. Pemilik pabrik pengekspor padi sri kek, Pemilik pabrik sendal jepit bolong kek, Pemilik pabrik pupuk kandang kek, Pemilik pabrik krupuk kek, Pemilik pabrik komputer jangkrik kek, Pemilik produk apa kek, pokoknya pas kakek-kakek bisa punya modal untuk nongkrong sambil ketawa-ketiwi sama cucu-cucu yang sudah sukses jadi sarjana.
    Jangan mau digombalin, banyak setan teriak setan tuh! Padahal, sesama setan kan dilarang saling mendahului ya?

    PERINGATAN:
    Politisi pemuja "banyak-banyak" menyebabkan kanker (kantong kering), BB (Bikin Bego) dan GAJI PEOT (GAngguan JIwa PErusak OTak). Makanya, cari dan jadilah politisi berhati negarawan yang memikirkan nasib generasi berikutnya.

    Sayang saya tak nonton tayangan di hari ini. Katanya special sekali ya? Hiks, adakah yang ingin share YouTube-nya?
  10. From Wid on 06 May 2008 10:24:29 WIB

    Kembali lagi pada pemerintah masih adakah good will-nya untuk memperbaiki kondisi buruh baik yang bekerja di dalam negeri ataupun di luar negeri
  11. From Immanuel on 11 May 2008 17:38:46 WIB
    Kalau buruh mau menang, buruh harus bisa memenang minimal sepuluh persen suara, dan yang pasti kalau menurut saya, buruh harus menggusung Mochtar Pakpahan sebagai menteri tenaga kerja, karena sampai saat ini hanya dia yang mempunyai hati untuk buruh, yang lain cuma lipsing dan mau uangnya dan kedudukannya saja, 80% buruh seluruh indonesia memberikan suaranya untuk dia dan partai buruh, saya yakin kebijakan untuk buruh akan lebih positif, saat ini hanya pengusaha yang mempunyai kekuatan politik dan pemerintahaan yang pastinya kebijakan pasti menguntungkan pengusaha. selagi orang buruh tidak punya andil langsung dipolitik, jangan harap buruh bisa hidup senang.
  12. From alfrizzy on 09 June 2008 21:32:57 WIB
    babu,prt,kuli,tki,pramuwisma,budak,atau apapun judulnya...so what,ini persoalan mentalitas dan paradigma yang ada di bumi pertiwi ini semenjak dahulu lha wong di indonesia ini yang namanya kerja berarti digaji oleh seseorang...bukannya menggaji seseorang.Mungkin akan lebih membanggakan seandainya para tki itu mau berniaga dinegri orang seperti orang cina di perantauan walaupun cuma jadi PKL,kalau cuma jadi buruh yaa..mimpi bisa hidup senang,sama halnya seperti mimpi berharap diperhatikan oleh politisi dan pemerintah.
    Pesan saya kepada para buruh,JANGAN KELAMAAN JADI BURUH KALAU TIDAK MAU DIEKSPLOITASI,JADILAH PENGUSAHA sadarlah kita hidup didunia kapitalis,jadilah orang yang inovatif,kreatif dan bisa menjual.
  13. From mustofa on 29 September 2009 11:22:14 WIB
    saya teringat Kitab Kutuk di Alkitab (Perjanjian Lama), juga di Alquran, tentang suatu kondisi bangsa yang sistemnya rusak parah...
    Kondisi Kutuk dalam kitab suci itu mirip dengan kondisi bangsa kita Bang Wimar.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home