Articles

Malaria Masih Menghantui Indonesia

Perspektif Wimar
15 May 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Kalau bicara penyakit berbahaya, maka yang terlintas dipikiran kita belakangan ini mungkin merujuk pada AIDS, flu burung demam berdarah atau TBC. Sementara, malaria yang sudah mulai dianggap biasa, ternyata masih tergolong penyakit yang serius. Untuk menjelaskan bahaya malaria di Indonesia, hadir di Perspektif Wimar sebagai narasumber Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Dr. Nyoman Kandun, MPH, yang ditemani co host Cathy Sharon.

Di Indonesia sendiri penderita malaria masih mencapai 1-2 juta orang pertahun, dimana yang meninggal mencapai angka 100 ribu jiwa. Meskipun yang memiliki kasus malaria paling tinggi adalah daerah papua, tapi menurut Nyoman sekitar 107 juta orang Indonesia tinggal di daerah endemis malaria yang tersebar dari Aceh sampai Papua, termasuk di Jawa yang padat penduduknya. Jadi masyarakat kita masih sangat rawan terjangkit penyakit yang disebarkan nyamuk anopheles ini.

Nyamuk malaria yang memang  perindukanya di tempat air kotor seperti tambak, air payau, rawa-rawa dan sawah yang tak terurus, dapat dicegah dengan beberapa cara  misalnya memakai kelambu di tempat tidur dan jangan keluar malam tanpa tangan panjang. Cara pengobatannyapun sudah tidak memakai pil kina lagi yang dapat menimbulkan efek samping telinga mendengung , melainkan memakai obat Artemicinin Combination Therapy (ACT). Yang penting adalah pengobatan secara benar dan diagnosa dini, ujar Nyoman.

Dr. Nyoman yang juga menyebut dirinya ’veteran malaria’ karena hampir meninggal akibat penyakit ini, juga menjelaskan bahwa malaria itu adalah penyakit akut, yang jika tidak segera disembukan secara sempurna akan menjadi kronis dengan tanda-tanda seperti, limpa yang membesar dan HB dibawah normal.
 
Semoga saja dapat terwujud  program pemerintah, Indonesia sehat 2010, karena kalau ingat pepatah mengatakan ”Mens sana in corpore sano" di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Kalau bangsa kita sehat,pasti kita bisa bangkit dari keterpurukan.

 

SMS dari Penonton:

628161138XXX MAKASIH PW MENJELASKAN SOAL SERIUUUS DENGAN ENAK JADI NGERTI

6281355633XXX DI PAPUA SETIAP KALI G ENAK BDN DICEK DRH HMPR PSTI ADA MLRIANYA MSKPN TDK MENGGIGIL. TP KTK DI JW DIKTKN SBG TIPHUS.

628161138XXX APAKAH PIL KINA MASIH ADA GUNANYA?

6281341031XXX DI MANA BISA DAPAT KELAMBU ITU?

6281392706XXX SAYA BARU PINDAH KE KALTIM,DAN PUNYA BAYI UMUR 6 BLN.ADAKAH PROFILAKSIS UNTUK BAYI SAYA?

628161138XXX KALAU DI KOTA APA MASIH BAHAYA, ATAU LEBIH BAHAYA DEMAM BERDARAH?

628161138XXX APAKAH GEJALA TIPUS DB MALARIA ITU MIRIP? KOK SERING SALAH DIAGNOSA KAYAKNYA

6281316687XXX APA BETUL ORANG YG KENA MALARIA DLM DARAHNYA TETAP ADA VIRUS MALARIA

6281343078XXX APAKAH MALUKU JUGA DAERAH ENDEMIS ? OBAT ACT SUDAHKAH D SOSIALISASI D MASYARAKAT MSYRKT BYK BLM TAHU...Y2N

6281344399XXX BAYI SAYA UMUR 10 BLN HAMPIR TIAP BLN TERKENA MALARIA

Print article only

24 Comments:

  1. From calio on 16 May 2008 08:11:27 WIB
    Ternyata masih banyak kasus malaria(kanapa ya?).
    Lebih patut apabila Pemerintah memberikan vaksin/obat gratis seperti suntikan kali ya? Sekalian abis disuntik diberikan uang saku Rp.1.000.000, per orang untuk belanja bulanan akakakakakak.
    HArusnya sekalian dikupas masalah pemakaian obat tradisional khan lebih murah/terjangkau bagi masyarakat. Maklum sekarang jaman repot Bung Wimar........(bukan begitu aje kok repot)
  2. From kusoujiono on 16 May 2008 08:46:12 WIB
    Topik menarik karena problemnya masih banyak dimasyarakat. Ada hal menarik denga masalah mahalnya beras. Pemerintah kita masih berkutat pada penyelesain jangka pendek, meningkaykan stok dan eksport beras. Masalah jangka panjang lupa dipikirkan. Di Bangladesh sudah mulai kampanye food substitution untuk mengurangi kebutuhan beras. Dengan slogan " Think potato, grow potato and eat potato' merupakan upaya pengurangan ketergantungan pada beras yang semakin mahal. Kayaknya menteri pertanian kita belum berpikir kesana.

    Thank
  3. From mansur on 16 May 2008 09:45:25 WIB
    Kalau dipikir, penyakit malaria masih menghantui kita ini ada hubungannya juga dengan tingkat kemiskinan. Tadi disebutkan salah satu pencegahannya dengan memakai kelambu di tempat tidur. Presiden kita yang ekonominya tidak lemah langsung bisa membeli dan pakai kelambu. Lha, bagaimana dengan rakyatnya yang miskin mampu membeli kelambu?

    Jadi kalau pemerintah serius memberantas malaria maka yang lebih penting tingkatkan kesejahteraan rakyatnya. Buktinya, di negara-negara yang rakyatnya sejahtera sudah tidak ada tuch penyakit malaria.
  4. From Wid on 16 May 2008 09:50:59 WIB


    Aduh ... ternyata banyak penyakit yang disebabkan nyamuk.
    Untuk membasminya dengan satu bersih & bersih2 rumah dan lingkungan.

    Sayangnya sekarang sudah jarang ditemui kerjabakti gotong royong membersihkan lingkungan.
  5. From didiet` on 16 May 2008 09:56:18 WIB
    intinya kita diajak untuk selalu hidup bersih, dan jangan begadang malem2 soalnya nyamuk ini gigitnya malam hari.

    krn pesan bang haji "begadang jangan begadang, kalau tiada artinya"

    jangan sampai kita seperti naga bonar,yang kena malaria akut...
  6. From UmanK on 16 May 2008 10:01:11 WIB
    Hari gini malaria?? Kirain uda gak ada lg malaria. ternyata masih eksis juga.. Atau mungkin media uda gak ada lagi yang minat ngebahas ini?

    semoga banyak orang yang nonton PW sehingga bisa lebih tau dan mengerti malaria.. Ternyata gawat juga nih penyakit..
  7. From alnesputra on 16 May 2008 10:36:48 WIB
    memang betul.

    Sehat ada di tangan kita.

    jangan tunggu orang lain bertindak, ayo dari diri sendiri mulai turun tangan.
  8. From elha on 16 May 2008 10:50:29 WIB
    Intinya semua penyakit jangan diremehkan, kalau sudah telat akibatnya jadi fatal. Ayo mulai hidup bersih dan sehat dari diri kita sendiri, ngak usah nunggu pemerintah sosialisasikan.
  9. From agustine fransisca bellamia on 16 May 2008 11:00:23 WIB
    apa karena hutan mangrove nya dibabat ya makanya malaria berjangkit lagi?
    Rawa nya hilang sih.......
    malaria kan tadi dijelaskan, senang tempat kotor. Ini berbanding terbalik dg Aedes Aegepty yg suka tempat bersih. Nyamuk yg aneh.
    Intinya, jaga saja kebersihan dan kesehatan, termasuk biarkan habitat alam terjaga.
    kan kt lagunya Enno Lerian... \"banyak nyamuk di rumahku, gara2 kamu malas bersih-bersih...\"
  10. From kondeMAS on 16 May 2008 13:09:38 WIB
    Malaria ternyata ikut "berfluktuatif"[pinjem istilahnya Rochard]
    Aku pikir cuman harga susu doang yg naik turun. hehehe....
    Salam buat yg hobi NETEK.
  11. From R Muhammad Mihradi on 16 May 2008 15:53:54 WIB
    Ada yang paling bahaya dari malaria yakni defisit kemampuan warga miskin untuk mengakses layanan dasar kesehatan yang serba mahal. Memang ada program askeskin, namun belum mampu menjangkau warga miskin. Kiranya dorongan publik yang kuat perlu untuk mereduksi dan memberdayakan agar si miskin memiliki kesetaraan dan kemampuan akses layanan dasar kesehatan.
  12. From R Muhammad Mihradi on 16 May 2008 16:13:36 WIB
    Menurut saya, ada persoalan akses kesehatan bagi warga miskin yang belum memadai. Ini perlu dikantrol melalui demokratisasi layanan kesehatan. Untuk itu, paradigma demokrasi harus utuh dipahami terlebih dahulu seperti tulisan saya berikut.
    Demokratisasi demokrasi
    Oleh R Muhammad Mihradi
    demokrasi adalah cara dan sekaligus tujuan di mana daulat publik pemilik republik ini bisa menentukan kehendak dan cara kehendak diwujudkan. Demokrasi bukan sesuatu yang tabu dikoreksi. Sebab, justru demokrasi akan ampuh dengan kritik dan koreksi.
    Bagi saya, demokrasi perlu didemokratisasi--khususnya berkaca pengalaman Indonesia. Mengapa? Pertama, kita terjebak demokrasi prosedural. Artinya, ketika ada pemilu bebas, pers bebas dan parlemen kritis lalu demokrasi selesai. Nyatanya, semua dibajak oleh elite yang justru mendulang ikan di air keruh. Bagi saya, demokrasi harus disempurnakan dengan demokrasi substansial yakni menjadikan rakyat sebagai pemilik sejati. Rakyat diajak dialog dan partisipasi untuk membumikan demokrasi. Kedua, demokrasi kita tidak mengimplikasikan kesejahteraan karena keliru paradigma. Demokrasi yang kita bangun hanya mengejar bagaimana tersedia akses untuk semua terhadap pilar demokrasi tapi lupa untuk mengkantrol warga miskin misalnya, yang tidak memiliki akses setara terhadap pilar demokrasi. Dengan begitu, demokrasi harusnya mampu memperbaiki defisit kemampuan warga untuk memperjuangkan nasib kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, pemberdayaan menjadi hal yang niscaya.
    Demokrasi memang proses tapi harus di track yang benar. Selama kita masih menuhankan demokrasi prosedural, maka demokrasi bisa jadi memakan anak kandungnya sendiri. Naudzubillah min zalik.(lihat artikel lain di http://www.mihradi.blogspot.com, blogger tempatnya pemikiran demokrasi dan gagasan filosofis mampir)
  13. From |richard.p.s| on 16 May 2008 18:29:32 WIB
    Kenapa bunyi nyamuk itu ngiiiiiiiiingggggg....???? Karna minumnya darah. Coba minumnya bensin, pasti bunyinya brem brem brem.... *pas di rem, berbunyi: suuuuubsidiiii....*
    Pak Nyoman, nyamuk malarianya ada merk namru nya nggak? Coba cek yang di Papua juga ya pak.
    Ngomong-ngomong, pagi ini kok bang WW nampak kurang sehat? Kalau sakit, lekas sembuh ya bang. *doa kami dari mahasiswa kos kos an yang sayang bang WW*
  14. From nugroho on 17 May 2008 13:03:22 WIB
    Ternyata bila suatu daerah sering langganan malaria, dia punya peluang bisnis baru, yaitu membuka perguruan tinggi dengan bidang studi malariologi. Seperti di Banjarnegara Jawa Tengah.

    Jadi, ... ada malaria, buka saja sekolah malariologi.
  15. From sujono halim on 17 May 2008 13:57:11 WIB
    malaysia sdh mengembangkan rekayasa genetik untuk meredam laju penyebaran nyamuk , kenapa kita tdk mulai riset untuk itu , jangan sampai sdh ketinggalan jauh baru mau di kejar .
  16. From achmad sadr on 17 May 2008 14:04:56 WIB
    nyamuk menyebabkan : malaria,demam berdarah,chikungunya dll. apakah dengan membasmi nyamuk dengan program rekayasa genetik akan merusak ekosistem ? bagaimana dgn manfaat dan mudarat nya ?
  17. From Rangga Aditya S on 17 May 2008 20:28:22 WIB
    Ya iya lah masih banyak yang terkena malaria. Masalahnya program 3M saja tidak berhasil. Yang ada Masyarakat Masih Males membersihkan dan menjaga lingkungannya.
    Lebih baik mencegah daripada mengobati kan?.

    Oiya, om W2. Kapan nich mengundang benny & Mice. Sekalian ngebahas keberadaan komik indonesia yang antara ada dan tiada.
  18. From tom aries on 17 May 2008 21:32:58 WIB
    malaria dan iklim subtropis,

    malaria hubungannya dengan kesehatan dan politik.
    ini penyakit sudah lebih dari 10 abad yang lalu disadari dan akan terus dipelajari.

    keadaan iklim yang membuat ini boleh ada, dengan perubahan iklim yang terus mengalami perkembangan bisa jadi akan membawa ketakutan bukan pada negara subtropis. ini akan menjadi keakutan global.

    bisa jadi tak lama dari sekarang para manusia penakut akan berdatangan kedaerah/wilayah subtropis untuk menghambat perkembangannya.

    malaria yang sudah dipelajari sampai saat ini tidak sama dengan malaria yang terjadi 10 abad yang lalu, bukankah setiap hal hidup dan tidak hidup memiliki kemampuan untuk berkembang. dan akan terhenti pada bentuk perkembangan yang akan kembali dikaji dan diperbaharui.

    selamat untuk para peneliti yang terus berjuang untuk mencipta hipotesa dan rumusan baru...

  19. From wak tul on 18 May 2008 05:11:46 WIB
    Pantesan,

    mau donor darah di Germany aja dilarang....
  20. From endah.wks on 18 May 2008 08:50:49 WIB
    malaria memang penyakit yang mematikan c...
  21. From ZB Bahang on 05 June 2008 07:33:19 WIB
    Penyakit malaria, salah satu penyakit tropis, untuk indonesia Pemerintah (Depkes sampai ke Puskesmas) dan masyarakat harus secara bersama-sama mengendalikan penyakit ini.
    Selain obat-obatan, peralatan laboratotium, Dokter mulai yang di RS, Puskesmas dan praktek pribadi, juga pemerintah harus memperhatikan tenaga-tenaga spt. mikroskopis, entomologist, epidemiologist dan tenaga terkait dengan metoda pengendalian malaria, karena yang akan menentukan keberhasilan program adalah kerja keras SDM (sumber Daya Manusia).
    salam,
    Bahang
  22. From Edi Solo on 06 August 2008 12:49:59 WIB
    Ya wajar, malaria tetap jadi momok, soalnya upaya pencegahannya masih sangat minim. Mestinya negara harus bertanggung jawab...jangan kalau sudah muncul kasus, baru rame bicara soal malaria...kalau gini kan rakyat kecil yang jadi korban....
  23. From haidir on 23 October 2009 18:25:11 WIB
    kalau boleh tau apa obat terampuh buat nyembuhin dan ngehindari kita dari penyakit malaria?
  24. From Herman on 09 November 2010 15:56:23 WIB
    saya lg menderita kena malaria,setelah saya ditugaskan ke NTT,Sekarang kondisi saya aga tdk stabil dapatkah sembuh total?

« Home