Articles

Rapor Demokrasi 10 Tahun Menurut Andi Mallarangeng

Perspektif Wimar
21 May 2008

Oleh: Didiet Adiputro

“Demokrasi di Indonesia adalah salah satu demokrasi  yang paling berhasil di dunia”, begitulah salah satu kalimat optimisme yang terlontar dari Juru Bicara Kepresidenan Dr. Andi Alfian Mallarangeng, yang menjadi tamu di Perspektif Wimar hari ini.

Andi Mallarangeng

Andi yang pernah menjadi anggota ‘tim tujuh’ (tim yang bertugas merumuskan paket undang-undang politik ketika masa awal reformasi), melihat banyak kemajuan dalam demokrasi di Indonesia selama 10 tahun terakhir. Ketika menjadi salah satu perumus paket UU Politik, Andi sangat menekankan bahwa demokrasi dan desentralisasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan, sehingga pada awal reformasi  lahirlah konsep otonomi daerah yang berbarengan dengan bangkitnya demokratisasi.

Perjalanan 10 tahun reformasi ini jika dilihat dari berbagai indikator dapat menunjukan bahwa proses demokrasi dan pertumbuhan ekonomi bisa berjalan seiringan, dengan fakta bahwa angka kemiskinan yang sedikit demi sedikit makin menurun. Sementara persoalan yang masih tertinggal menurut Doktor Ilmu Politik ini adalah budaya demokrasi itu sendiri. Seperti banyaknya perilaku tidak demokratis yang ditunjukan dengan korupsi, berkelahi di parlemen dan demonstrasi yang anarkis.

Melissa and Andi

Dalam kapasistasnya sebagai juru bicara kepresidenan, alumni FISIPOL UGM yang masih suka bersepeda ke kantor ini, mengaku harus mengetahui semua permasalahan yang terjadi mulai dari flu burung sampai korupsi. Meskipun spesialisasinya tentang politik dalam negeri.

Mengenai kans Presiden SBY di 2009, kakak  pengamat politik Rizal Mallarangeng ini mengatakan, yang penting bagi Presiden adalah menjalankan tugasnya sampai 2009. Karena menurut Andi, pada kempanyenya nanti Presiden harus mengatakan apa yang telah dia kerjakan, bukan apa yang akan dia kerjakan.

Contoh yang mungkin akan dikatakan Presiden di kampanye misalnya:
 - saya telah menaikkan harga BBM dua kali dalam satu periode
 - saya telah membuat album yang “katanya” laku di pasaran, dsb

Jurubicara Presiden

Print article only

20 Comments:

  1. From kondeMAS on 21 May 2008 10:17:23 WIB
    Apa yg sedang dikerjakan dan apa yg telah dikerjakan....
    Dan apa dampaknya bagi kehidupan rakyatnya? ini yg perlu dipikirkan bung....
  2. From Kang Nizar on 21 May 2008 10:24:23 WIB
    berikan pemahaman kepada seluruh elemen bangsa ini bahwa demokrasi itu bukan tindakan kekerasan maupun anarkisme
  3. From Amier on 21 May 2008 10:38:29 WIB
    Menurut saya yang harus dievaluasi ulang PILKADA, ngabisin uang banyak tapi engga mutu. Kenapa tidak menggunakan isistem seperti di Malaysia atau Turki, dimana pemenang pemilu di daerah tersebut yang jadi, kalau belum quorum ya koalisi lah. Tapi partai jadi ada manfaatnya.
    Coba kalau calon independent boleh dan pada menang buat apa ada partai dan bagaimana dampaknya kalau calon independen menang?, apa kebijakannya engga bakal di sabot diparlemen
    kan repot tuh. Masalahnya kita belon dewasa kali yang bang Wim
  4. From agustine fransisca bellamia on 21 May 2008 10:43:43 WIB
    selamat pagi, demokrasi.....
    selamat pagi, perspektif wimar
    selamat pagi, talk show hebat Indonesia
    selamat pagi Bang WW dan Melissa
    most of all.....Good Morning the moustache man Mr. Andi Malarangeng.
    Kapan-kapan ikutan Bike to Work nya ya klo aku dines di Jkt. Tiap hari apa & berangkat dari mana? Hehehe......
    Salute!!!!!
  5. From Ruddy Gobel on 21 May 2008 12:26:41 WIB
    WW and team,

    Pengen kasih komentar umum ya, tidak spesifik mengenai topik diatas.

    For sure, sekarang perspektif sudah kembali jadi acara nomor satu. Banyak komentar yang bisa membuktikan itu, salah satuya, komentar dari rekan saya Fachry, Chief Editor salah satu majalah Teknologi, yang disampaikannya lewat YM saya:

    "....4:19:17 PM fahreeus: pak, titip salam buat pak wimar ya. I've enjoyed his show every morning, and I sincerely consider it one of the best show I've seen...rgrds...."

    Congratulations ya!!

    Salam
    RG


  6. From febianto on 21 May 2008 13:14:27 WIB
    ingin melihat bang wimar ngobrol dgn menteri esdm purnomo y. pasti seru...tks.
  7. From deasy p. putri on 21 May 2008 14:20:37 WIB
    saya pikir bung rizal malarangeng melakukan tugasnya dengan baik sebagai jubir presiden, tentunya untuk mengkomunikasikan kebijakan SBY-JK donk, terlepas bener ngganya. menarik suatu saat beliau diwawancarai saat sudah ngga menjabat sebagai jubir lagi, adakah di antara paparannya yang, mungkin nih ya, ga sesuai kata hati pak rizal malarangeng :D..kalo bang wimar pas gus dur gimana bang? loh..hehe
  8. From btsr on 21 May 2008 14:43:12 WIB
    Benarlah jika ada yang mengatakan bahwa Presiden SBY adalah orang yang salah yang selalu berada di tempat yang salah di waktu yang salah. Dan itu makin tidak terbantahkan. Gamblangnya, jika beliau seorang panglima perang, beliau sendirilah yang menghancurkan pasukannya dengan strategi tempur yang buruk, dikombinasikan dengan berbagai hal yang tidak tepat. JIka beliau seorang nakhkoda kapal, beliau sendirilah yang menjadi penyebab tenggelamnya si kapal beserta penumpang lainnya.
    Keputusan rencana menaikkan harga BBM adalah contoh konkrit paling aktual. Yang menjadi pertanyaan besar adalah mengapa beliau mengambil keputusan rencana kenaikan harga BBM itu pada waktu yang hampir bersamaan dengan peringatan 10 tahun reformasi, dan juga 100 tahun peringatan Hari Kebangkitan Nasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa rencana kenaikan tarif apapun pasti akan memicu demontrasi, apalagi tarif BBM. Karena itu seharusnya dua moment itu adalah moment kasat mata yang mesti dilihat berpotensi sebagai sarana aktualisasi penolakan rencana kenaikan harga BBM itu. Namun presiden SBY tidak melihat hal itu, atau tidak menganggapnya sebagai dua hal yang serius.

    Beliau juga terlalu melihat faktor teknis, dan tak pernah melihat faktor non teknis dan yang tak terduga. Jika beliau samasekali tidak mampu menangkap kesusahan yang bakal dialami rakyat karena kenaikan BBM, seharusnya beliau sedikit banyak bisa melihat kesusahan di depan mata itu ketika beliau melayat Sophan Sophiaan, Ali Sadikin dan SK Trimurti pada waktu yang hampir bersamaan. Tapi barangkali memang sudah menjadi takdir bangsa Indonesia memiliki presiden yang salah yang selalu berada di tempat yang salah di waktu yang salah.

    Yang bisa ditangkap justru kesan bahwa beliau terlalu arogan menganggap diri smart dan cerdas. Ini bisa dilihat dari sikapnya dalam menanggapi aksi demo sebagai tindakan yang tidak cerdas. Padahal jika dilihat dari sisi lain justru beliau tidak mampu bertindak secara komprehensif dan strategis, dua hal yang seharusnya melekat pada seorang dengan latar belakang militer seperti beliau. Suatu kekurangan yang tidak pantas dimiliki seorang yang sering menggambarkan dirinya sebagai seorang pemimpin.
  9. From ris yuwono on 21 May 2008 17:04:57 WIB
    Jubri ketemu mantan jubir ok juga tuh. Yang kita sih tunggu presiden ketemu para mantan presiden bicara masalah masa depan bangsa, bukan bicara siapa mencalonkan siapa.Gitu saja kok repot, katanya bersama kita bisa.
  10. From anggana bunawan on 21 May 2008 19:07:50 WIB
    memang 10 tahun hasil reformasi perlu diapresiasi secara objektif dimana banyak perbaikan di banyak sektor seperti UU pemilu, UU sisdiknas, dll...

    iklim politik nasional memungkinkan kita untuk selalu kritis terhadap banyak hal yang ada di sekitar kita. tetapi demokratis esensinya hilang manakala tidak ada keterbukaan diantara penyelenggara negara dan warga negara.

    kisruh mengenai rencana kenaikan BBM yang diindikasi dengan peninjauan subsidi tidak dijelaskan secara mendalam kepada masyarakat bagaimana keadaan ekonomi dari sudut apbn, ketahanan pangan, cadangan devisa, dsb

    semua pengamat dengan kebanggaan yang tinggi menjabarkan "thesis" masing-masing guna mengambil momentum saat masyarakat mengalami kebingungan dalam ketidak pastian.

    gunakanlah momentum ini untuk menyamakan visi dan pengembangan arah demokrasi nasional, sudahi semua ketidak pastiaan dengan mengedepankan dialog dalam pemecahan perbedaan.

    demokrasi bisa dibangun dengan kemauan untuk membuka diri terhadap perubahan. 100 tahun kebangkitan nasional mengajak kita mau dan BISA berubah. Indonesia BISA
  11. From |richard.p.s| on 21 May 2008 21:23:16 WIB
    Berhasil tidaknya demokrasi, dapat dilihat dari nilai-nilai yang tercipta dari suatu proses (bukan dari laporan tahunan semata).
    Salah satu musuh besar demokrasi, aksi bungkam. Nyatanya, kita juga bisa belajar yang benar dari yang salah. Lalu, kenapa harus takut terhadap sesuatu yang salah? Bahkan, jangan-jangan yang dianggap salah itulah yang nyatanya benar.
    Bukan waktu yang mendewasaan demokrasi, tetapi keterbukaan.
    Kasus bang Munir yang tak bisa diungkap, salah satu rapor merah yang harus di BOLD dan UNDERLINE.
  12. From SANGREGO on 22 May 2008 01:15:17 WIB
    BUNG ANDI , SAYA LIHAT RAUT ANDA SDH KELELAHAN MENAHAN GEJOLAK . ANDA SDH GERAH DALAM KEPURA PURAAN . ANDA TERBELIT DALAM LINGKARAN MEKANISME SALAH URUS . SAYA YAKIN , ANDA PUNYA KIAT YG EFEKTIF , TAPI LINGKUNGAN ANDA TDK MENGAKOMODIR . JANGAN SAMPAI MASA KEEMASAN ANDA BERLALU DGN SIA2 .
  13. From Ir. Hoo BoenWie on 22 May 2008 09:59:30 WIB
    Yg. penting bukan omongan atas dasar tulisan diatas kertas saja. Apalagi program yg. out of touch dgn. realita.
    Buatlah program yg. atas dasar scientifically proven facts.
    Negara agraria ini berprogram atas apa ya. Omongan politik saja atau real facts from the field ?????
  14. From wl on 23 May 2008 10:18:07 WIB
    Rakyat Indonesia tertipu oleh wajah-wajah tampan dan cantik di sekitar kabinet, namun tidak memiliki kapabilitas yang sesuai dengan kompensi mereka. Bagaimana mungkin Pak SBY sibuk menulis buku, membuat album dan bikin slogan pemasaran?
  15. From tom aries on 24 May 2008 11:17:37 WIB
    gelak tawa sebelum kehancuran,

    apa yang tidak dapat dikatakan untuk hal yang tidak dapat didengar?
    jurus ampuh untuk mendapatkan hasil ialah dapat menerima segalanya.

    seperti halnya mulut manis adalah suara bom bagi ia yang tidak pernah melihat dan mendengar tentang demokrasi.

    saya tidak setuju dengan apa yang ditawarkan seseorang yang dapat dengan mudah tersenyum sedangkan ia tidak pernah tahu demokrasi itu apa?

    demokrasi anda belum pernah benar-benar ada di bumi, aku mau komentar satu hal tentang demokrasi baru yang anda ceritakan 10th belakangan ini. demokrasi anda itu tidak sama dengan demokrasi yang ditawarkan siapa pun dalam perkembangan peradaban demokrasi.

    sebab saya tidak melihat keberpihakan pada suara terbanyak, melainkan pada pemimpin yang memiliki suara suara dari orang banyak. itu pun diambil dari persentase yang sudah kadaluarsa dan tidak berkembang.

    dalam sebuah penelitian untuk pembuktian sesuatu, wajar ada yang tidak diubah dan diganggu. pertanyaan rumitnya apakah 18 juta nyawa manusia itu tidak diperhitungkan dalam pernyataan saudara tentang keberhasilan demokrasi.

    ketika mulut berbicara, otak akan memikirkan hal baru. ketika anda katakan demokrasi 10th belakangan berhasil, aku sedang bersuara dan anda tak pernah memikirkannya.
  16. From Mamat on 24 May 2008 13:48:50 WIB
    Suetuju dgn anggawan n richard. Siapapun presidennya, bakalan stress ngeberesin bejibun tugas-tugas yang seharusnya sudah dijalankan dalam puluhan tahun, bukan dlm 10 tahun aje. Dlm dasawarsa itu pun ngga seluruh waktunya dipakai untuk memperkuat pondasi untuk pembangunan bangsa dan negara.

    \"Kite\" ngelupain bahwa ada beberapa perbaikan pada sistem demokrasi dan bernegara yang hasilnya ga bakalan mungkin keliatan dalam waktu singkat. \"Kite\" juga selalu terpaku pada konteks kekinian, jarang mau memandang ke depan n sekali-sekali nengok ke belakang.

    Babe2 enya2, ncing2 ncang2, abang2 mpok2, adek2 semuanye,ibarat kata kite lagi ngejalanin perubahan sistem dari DOS ke Windows 95. Trus ke windows 98 dan seterusnya. Kalo masih banyak kekurangnya, namanya juga proses kehidupan. Tuhan aje nyiptain rasa manis, pahit, asin, asem,sepet dll. Kok kite maunya manis mulu??

    Kite pas lagi sakit pan baru ngerasain tuh gimane enaknya sehat. Tapi pas kemaren2 sehat dan udah sehat lagi dari sakit, kite ngelupain deh gimana rasanya bisa nafas enak ga bengek lagi, bisa makan dgn enak ga sakit gigi lagi, bisa tidur nyenyak ga demam lagi, bisa beli minyak murah ga mahal lagi...
  17. From E.K wardhana on 25 May 2008 11:27:12 WIB
    DEMOKRASI SELALU BERMUKA DUA.....!!!!!!!
    DALAM DEMOKRASI YANG KONON MASUK KATEGORI MODERN INDONESIA TERMASUK BERHASIL...????? DALAM PROSES IYA WALO AMAT SANGAT RUWET....BUT , HASILNYA APA ??????? BUAT SIAPA KEBERHASILAN ITU ??????
  18. From downknee on 30 May 2008 20:50:13 WIB
    Menurut hati nurani saya, yah at least seperti yg dikatakan beliau, seperti iklan obat pelangsing, ada before ada after.
    Dalam segi track record, saya pikir SBY dan kabinetnya masih sedikit lebih baik daripada sebelum-sebelumnya (give them another chance? I dont think so, sorry).
    Saya belum melihat ada NEW FACES yang diperkirakan akan bisa lebih baik daripada beliau, so it's a challenge guys! tapi jgn asal omdo dan memanfaatkan momentum sebelum pemilu, buktikan dgn memberi solusi yg tepat.
  19. From BUKTI SITEPU.SE on 30 September 2008 13:34:16 WIB
    sewaktu bung Andi masih menjadi pengamat politik,saya sangat bangga sekali dan takjub,bahwa di negara ini masih banyak orang pintar seperti bung andi dan saya berharab kalau bung andi menjadi pemimpin di negara ini semuanya akan berubah menjadi baik.tetapi ketika bung andi menjadi juru bicara kepresidenan. saya melihat bung andi sama saja dengan politikus lainnya kalau sudah diatas semuanya akan menjadi lain. apa yang terjadi di kepemimpinan SBY,saya kira tidak ada perubahan yang siknifikan terhadab masyarakat bawah,saya kira sama saja dengan pemerintah sebelumnya. jangan terlalu bangga lah dengan SBY kinerjanya masih nol.
    lihat saja kebawah bagaimana rakyat lebih baik apa makin buruk,yang menilai itu rakyat sendiri bukan pemerintah.
    harapan saya marilah kita semua memikirkan negara ini kedepan agar lebih baik,jangan hanya memikirkan golongan dan partai anda, pikirkanlah rakyat ini, partai politik yang ada di indonesia dengarkanlah aspirasi masyarakat secara umum tolong makmurkan rakyat ini, jangan anda saja yang makmur.

    buktisitepu@yahoo.co.id
    Mejuah juah kita kerina
  20. From fany on 13 December 2009 20:03:00 WIB
    menurut anda apakah demonstrasi yg belakangan sering dilakukan merupakan budaya demokrasi?

« Home