Articles

Dicari Capres yang Bersikap Tegas terhadap Tragedi Mei 98

Koran Sindo
22 May 2008

Presiden Kita

Sepuluh tahun yang lalu pada tanggal-tanggal ini terjadi serangkaian peristiwa yang sangat tragis. Dimulai dengan kerusuhan pada 13 Mei, yang beralih menjadi konflik yang membuat sebagian masyarakat membuat korban dan sebagian lain menjadi alat kekerasan, dengan atau barangkali tanpa sadar. Sedangkan otak dan pelaku kekerasan melakukannya dengan penuh perhitungan sehingga peristiwa Mei terjadi dengan presisi seperti sebuah operasi militer. 

Mulai dari kerusuhan pada beberapa tempat, kita melihat perkembangan lokasi kerusuhan terjadi menurut pola geometris. Bahkan dilakukan simulasi oleh Prof. Dadan Umar Daihani dan kawan-kawan di Universitas Trisakti dimana terlihat dengan analisa sederhana bahwa pembakaran-pembakaran dan perusakan gedung itu, terjadi mengikuti suatu trayek. Dapat dibayangkan menjadi trayek truk atau bus yang sewaktu-waktu menurunkan orang untuk melakukan pembakaran dan juga kemudian melakukan provokasi kerusuhan. 

Itu semuanya hanya spekulasi dan teori, tapi kenyataan adalah bahwa Jakarta hancur dalam beberapa hari. Berubah dari kota yang sibuk dan macet menjadi kota yang lengang dan sedih dan terbengkalai, seakan-akan menjadi kulit  dari suatu negara yang sudah hancur. Inti dari negara itu yaitu Soeharto sudah tidak berdaya dan memang beberapa hari kemudian mengundurkan diri dari kekuasaan. Jauh diluar dugaan skenario apapun yang dibayangkan orang-orang yang mengenal kekuatan dahsyat  rezim Soeharto. 

Tragedi Mei sampai sekarang belum terungkap sebab dan latar belakangnya, tapi kita bisa melihat beberapa makna dari tragedi itu. Pertama bahwa, sangat cepat orang melupakan sesuatu peristiwa yang sebetulnya menyentuh setiap orang di Jakarta dan juga setiap orang Indonesia dimana pun kalau mengikuti berita. Anehnya peristiwa itu memang terkosentrasi di Jakarta sebagai suatu operasi militer yang dilakukan dengan presisi tinggi tersebut tadi. Yang kita lihat juga bahwa, sepuluh tahun kemudian masyarakat seakan-akan tidak ingin ingat peristiwa itu. Digaris bawahi “tidak ingin ingat” sebab kalau lupa itu rasanya tidak mungkin, kecuali pada waktu itu orang yang bersangkutan itu masih muda, masih kecil sehingga tidak mengerti. Tapi semua orang yang sadar akan keadaan waktu itu pasti ingat tapi tidak ingin ingat. Mungkin karena merasa sudah cukup sepuluh tahun merisaukan dan menangisi peristiwa itu, mungkin juga karena memang mereka termasuk segelintir kecil orang yang menjadi otak dan pelaku peristiwa. Mereka memang ingin dilupakan agar bisa melanjutkan kehidupan yang normal. 

Itulah yang terjadi sekarang bahwa sedihnya yang lupa memang lupa tapi yang melakukannya kelihatanya tetap mempunyai peranan yang kuat dalam masyarakat. Orang-orang yang paling dicurigai atau paling diduga terlibat dalam peristiwa Mei itu sekarang masih berkeliaran dan sebagian menjadi pemimpin atau tokoh masyarakat. Bahkan dalam kaitan dengan pemilihan presiden 2009 bukan mustahil bahwa beberapa orang yang terlibat saat itu menjadi bagian dari kampanye presiden, sebagai pendukung pencari kekuasaan atau sebagai calon itu sendiri. Sebaliknya masyarakat yang harusnya ingat peristiwa itu sudah tidak ingin mengurusnya lagi. 

Beberapa hari yang lalu dibuka pameran untuk mengingatkan kita pada tragedi Mei yang dengan satria dijalankan oleh aktivis-aktivis dibawah koordinasi Ester Indahyani Jusuf. Suatu pameran yang menyentuh, bermutu, historis dan akurat. Pameran mengenang tragedi tapi pamerannya sendiri mengalami nasib yang tragis yaitu hanya mendapat pengunjung sangat sedikit dan tidak dapat berkata apa-apa. Pada pameran itu kita lihat orang-orang yang menjadi korban langsung. Keluarga dari korban nyawa, korban luka. Korban materi. Mereka hanya bisa berharap, memohon, mengemis kepada pemerintah untuk perlakuan kemanusiaan. Sedangkan harusnya yang dilakukan adalah tuntutan terhadap pemerintah. 

Memang masyarakat sudah tidak kuasa untuk menuntut apapun dari pemerintah. Tapi karena peristiwa itu menyebabkan jatuhnya Soeharto dan secara tidak langsung menyongsong lahirnya demokrasi, barangkali kita bisa membuat suatu ironi melawan kejahatan, suatu ironi demi kebaikan. Buah dari peristiwa Mei itu yaitu demokasi harus bisa melahirkan kepemimpinan nasional yang akan membalas kejahatan itu dengan keadilan. Apabila pemilihan Presiden 2009 itu bisa melahirkan calon-calon yang mempunyai sikap yang sederhana tapi tegas terhadap ketidak-adilan, bukan tidak mungkin bahwa akhirnya ketidak-adilan peristiwa Mei akan terungkap. Secara formal perangkat untuk mencari keadilan masih ada. Mahkamah konstitusi memberikan keputusan bahwa sejak awal tahun 2008 Kejaksaan Agung diberikan wewenang tunggal untuk menyelediki dan menyidik peristiwa itu. Jika ada kemauan politik itu bisa dilakukan. 

DPR masih terbuka untuk bersikap, tanpa melihat anggota DPR yang sekarang tapi suatu DPR yang lahir dari pemilihan legislatif 2009 yang betul-betul menghasilkan wakil rakyat. Produk-produk hukum masih tersedia untuk mengangkat peristiwa Mei  karena orang- orang yang dicurigai masih tersedia sebagai terdakwa atau saksi. Mereka bukan orang yang bisa berlindung dibalik kondisi kesehatan atau alasan-alasan yang lain. 

Daripada kita membuang tenaga mempersoalkan calon-calon Presiden tanpa program yang jelas, atau justru dengan program yang telalu rumit, lebih baik kita fokus pada sikap moral. Kita bisa terapkan tolak ukur sederhana. Siapa diantara calon presiden 2009 mempunyai sikap yang jelas terhadap peristiwa Mei? Siapa yang bisa melahirkan gerakan sederhana untuk menuntaskannya? Tidak perlu misi visi yang terlalu dibuat-buat, hanya perlu satu kemauan. Kemauan untuk menyelesaikan tragedi Mei. Itulah yang diperlukan untuk mendapatkan keadilan. Kemauan politik untuk mencari keadilan dibalik tragedi Mei 98.

Print article only

20 Comments:

  1. From ahmadinejad on 22 May 2008 10:42:37 WIB
    jangan lupa juga tragedi pembantaian umat islam di ambon dan poso...ya JANGAN LUPAIN SEJARAH DOOOOONG :)
  2. From Kang Nizar on 22 May 2008 11:31:32 WIB
    tokoh muda yg idealis dan siap untuk tidak terjebak dalam birokrasi masa lalu
  3. From Mang Koko on 22 May 2008 15:20:17 WIB
    Hehehehe................
    Bang, kayanya klo hanya capres ajah sih kacian donk. jadi harus sampe ke gubernur, bupati/walikota bahkan RT/RW X yaaa ? begono....
    Pasti kagak bisa ngumpet dech ......
    Oc..,? Biar gemuk, tapi Bang WW tetep sehat yahh....

    Salaaaaammmmm....
  4. From Teguh Aditya on 22 May 2008 16:37:21 WIB
    boleh deh saya ngelamar jadi calon presiden, hehehe :) tapi di republik mimpi aja, biar gak terlalu pusing hehehe

    salam kenal..
    from : http://feed.teguh.web.id
  5. From no_mercy on 22 May 2008 20:02:54 WIB
    kang Wimar sendiri bagaimana? berani ikut nyalon gak?
  6. From hakimtea on 23 May 2008 01:45:18 WIB
    Kalo nonton bang wimar lusa kemaren kayaknya bang Andi siap tuh jadi pemimpin yg baik! Walau yg jelas katanya so far so good. Heuheu, gimana bang?
  7. From asep mulyadi on 23 May 2008 04:16:38 WIB
    Sepertinya, untuk saat ini dan selama 'GOLKAR' dan petinggi TNI 'waktu itu' yang kini masih berkeliaran dan malah menjadi 'tokoh masyarakat', Capres yang bersikap tegas terhadap Tragedi Mei 98 akan terasa berat untuk muncul sekalipun dalam rangka 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi.

    Prihatin. memang sungguh prihatin.
    Lihat saja, Amin Rais, yang katanya 'bapak reformasi', beliau sudah kalah dengan kuatnya pengaruh GOLKAR di DPR, malah ketika menjadi ketua MPR, Amin Rais sudah berhasil menurunkan status MPR dari LEMBAGA TERTINGGI NEGARA menjadi LEMBAGA TINGGI NEGARA yang kini sejajar dengan lembaga lainnya, DPR (legislatif), Presiden (eksekutif) Mahkamah Konstitusi/ Agung (yudikatif) dan lembaga-lembaga tinggi negara lainnya.

    Amin Rais berhasil menghancurkan peran MPR, yang sekarang hampir tidak punya 'peran apapun' di lembaga negara.

    Pasti muncul, capres yang berani tegas terhadap tragedi mei 98, jika:
    1. Bisa mengembalikan peran TNI sebagai lembaga pertahanan negara (kembali ke barak)
    2. Mempersenjatai POLISI dengan PENTUNGAN bukan dengan SENJATA API
    3. Menciutkan kembali jumlah PARPOL yang menjadi peserta pemilu, dengan jumlah maksimal sebanyak 5 buah parpol
    4. Memberikan PENDIDIKAN GRATIS kepada CALON ANGGOTA LEGISLATIF tentang PANCASILA, UUD '45 dan RASA KEBANGSAAN (NASIONALISME)
    5. Mengumpulkan simpatisan dan dukungan masyarakat untuk kang Wimar untuk menjadi Capres melalui jalur Independen (Siapkan kang?)

    masih ingatkan dengan kalimat terakhir lagu kebangsaan Indonesia?

    Hiduplah.... Indonesia.... Raya...
    (Semoga harapan itu menjadi kenyataan. amien., eh wimar..)
  8. From Splokhin Wasis on 23 May 2008 12:47:40 WIB
    To the point saja, siapa nama yang betul-betul cocok untuk memimpin Indonesia mendatang...? Adakah tokoh muda yang memenuhi kriteria yang disebutkan oleh para komentator di atas?
  9. From tom aries on 27 May 2008 23:52:22 WIB
    calom presiden NKRI,

    pilihlah ia yang menganggur dan mengasingkan diri dari, dunia perekonomian dan bisnis perbangkan.

    pilihlah calon yang berani berkata tidak untuk kelompoknya dan berkata tidak untuk sistem yang lama.

    jangan pilih ia yang sudah pensiun.
    jangan pilih ia yang tidak pernah bermimpi.

    semoga hal diatas dapat menjadi pertimbangan yang akurat bagi perbaikan negeri yang katanya sudah merdeka dan bangkit ini.
  10. From dmitri on 04 June 2008 03:14:52 WIB
    tujuan tanpa program jaminan gak kena sasaran.

    program dengan kerumitan rendah/tinggi akan memberikan ide buat kita, seberapa serius capres tertentu, dan bagaimana kita bisa ikut mengisi atau kasih kontribusi.

    program capres akan secara sendirinya mencerminkan tujuannya, termasuk kalau ternyata enggak ada tujuan. contoh nyata: SBY, soalnya yang punya tujuan JK-nya.
  11. From muhyi on 04 June 2008 08:31:12 WIB
    Selamat pagi semua....
    kalo menurut saya lebih baik mencari calon yang baru untuk regenerasi, tau bisa di sebut saatnya yang muda memimpin.
    dan menurut saya "Sri Sultan Hamengkubuwono" Sebagai Capres dan "Hidayat Nurwahid" Sebagai Wakilnya. Insya allah dengan semangat baru bisa mengatasi masalah yang ada di negeri tercinta Indonesia Amin.
  12. From wisnu on 09 June 2008 06:14:05 WIB
    wah susah pak wimar mencari capres yg bisa tegas, ujung2 nya kalo udah duduk d kursi jabatan aparatur negara semua hanya melihat tanpa bertindak. Banyak politisi ataupun pakar politik yang berkoar2, namun pada saat menduduki jabatan strategis dia diam seribu bahasa, entah dibungkam atau apapun itu saya tdk tahu. saya juga berharap semoga ada capres yang tegas dalam penegakan hukum,dll dimasa yang akan datang.
  13. From mSANTOM on 12 June 2008 21:27:44 WIB
    Gua bingung dengan Indonesia yang lagi dying ini, dimana-mana koq kita denger komentar orang-orang yang maaf untolerance dan emotional. Mohon redaktur banned aja komentar-komentar yang tidak toleran karena saya rasa komunitas kita adalah komunitas yang cinta kebhinekaan Indonesia dan berpikiran untuk indonesia yang lebih baik.
  14. From ian on 13 June 2008 13:07:25 WIB
    SECUIL PERSPEKTIF KANDIDAT CALON PRESIDEN 2009
    Yth Bung WW,
    Mengapa presiden SBY selalu disebut gamang, tidak tegas dan ragu dalam mengambil keputusan? Tentunya ada banyak faKtor baik internal maupun eksternal. Salahsatunya barangkali terkait dengan latar belakang keluarga beliau yang tidak memiliki anak perempuan. Beliau tidak memiliki pengalaman membesarkan dan mendidik anak perempuan. Selama pendidikan dan karir kemiliterannya pun juga tidak banyak perempuan. Namun ketika menjadi presiden beliau mengangkat menteri-menteri perempuan. Disinilah beliau tampak gagap dan tidak terlalu memahami bagaimana bersikap pada bawahan perempuan. Pengalamannya hampir tidak ada. Jika beliau memiliki anak perempuan tentu sejak awal, sejak dini beliau bisa mengambil banyak pelajaran kepemimpinan di keluarga yang relative lengkap.

    Satu lagi pengaruh dari tidak adanya pengalaman membesarkan dan mendidik anak perempuan bagi beliau. Beliau tegas, rasional, hati-hati, namun tidak mampu menangkap empati secara komplit. Hal-hal yang terkait dengan perasaan selalu diabaikan. Beliau terbiasa mendidik anak laki-laki yang identik dengan disiplin dan ketegasan. Bukti ketidakmampuan ini adalah ketika beliau mengambil keputusan untuk menaikkan harga BBM yang sudah pasti berdampak pada kesusahan rakyat. Beliau mungkin adalah satu-satunya presiden Indonesia modern yang pernah dalam seminggu menghadiri acara melayat (duka-cita) selama tiga kali. Pertengahan Mei kemarin beliau melayat pada keluarga Ali Sadikin, SK Trimurti dan Sophaan Sophian. Mestinya beliau mampu menangkap duka dan kesusahan dari keluarga almarhum untuk direfleksikan pada masyarakat. Tetapi sepertinya hal itu tidak tertangkap dan beliau tetap menaikkan harga BBM. (Ingat juga dengan berbagai bencana alam dalam skala besar seperti tsunami Aceh, Pangandaran, dan gempa Jateng-DIY)

    Lalu bagaimana dengan tokoh lain? Sedikit menyinggung kandidat lain, lalu bagaimana dengan Sri Sultan HBX yang sering disandingkan lembaga survey mendampingi SBY. Kebalikan dengan beliau, Sri Sultan HBX justru tidak memiliki anak lelaki. Karenanya secara inheren beliau juga tidak memiliki pengalaman membesarkan dan mendidik anak lelaki. Beliau tidak memiliki pengalaman dalam hal yang berkaitan dengan ketegasan dan kedisiplinan seperti yang umum diterapkan dalam pendidikan untuk anak laki-laki.
    Dalam lingkup pekerjaan hampir semua prajurit keraton adalah pria-pria yang sudah sepuh alias sudah tua. Hampir tidak ada prajurit muda di sekeliling beliau. Tentu saja tantangan memiliki prajurit tua dan muda akan berbeda. Di sisi lain Yogyakarta, adalah daerah dengan intensitas aksi demo paling tinggi di Indonesia, baik itu dilakukan mahasiswa dan maupun masyarakat. Dan mayoritas pelaku aksi demo tentu mahasiswa laki-laki, meski juga ada mahasiswi. Jika beliau memiliki pengalaman mendidik dan membesarkan anak laki-laki tentunya aksi demo di Yogyakarta tidak akan seintens seperti yang kita lihat. Juga jika beliau memiliki anak laki-laki mungkin beliau akan melakukan perubahan kebiasaan dengan merekrut prajurit-prajurit muda untuk bekerja di lingkungan kraton Yogyakarta Hadiningrat. Dari sini tentu kita juga dapat dengan kasat mata menemukan kekurangan-kekurangan beliau untuk menjadi RI1 atau RI2 di 2009 mendatang.
    Karenanya dari sini harus disadari bahwa beliau berdua belum terlalu ideal untuk menjadi pemimpin dengan kompleksitas yang tinggi, terutamanya jabatan publik setinggi presiden dan wapres.
    Trim
  15. From Muhammad on 29 July 2008 07:35:39 WIB
    Bung jangan lupakan juga kasus pembakaran gereja-gereja yg sudah dimulai jauh sebelum tragedi Mei 98!! INGAT ITU,.
  16. From MBC on 31 August 2008 18:01:55 WIB
    Tragedi G30S th 1965, Supersemar saja sampe sekarang juga tak tuntas. Tragedi Mei 98 rasanya tidak jauh berbeda. Tak ingin ingat, karena itu "malu-nya" suatu bangsa beradab.
  17. From Elan Dewotono on 20 September 2008 07:02:53 WIB
    Kadang2 saya berpikir Sri Sultan yang sekarang bisa disandingkan dengan SBY. Beliau pernah memberikan jawaban 'Tidak akan pernah mencalonkan diri sebagai kandidat Presiden, kecuali rakyat memintanya'. Kata-kata yang bisa multi tafsir tentunya. Menurut saya sampai saat ini beliau masih 'bersih'.
    Sedikit tentang peristiwa2 kerusuhan 15 Mei, tragedi 'Trisakti' etc, kita bisa dilakukan analisa komprehensif dengan pedoman BASIC pendekatan ala CIA/FBI yaitu : 1. Siapa/pihak/org./intitusi yang mempunyai KESEMPATAN & KEMAMPUAN untuk melakukan hal tersebut? 2. Siapa/pihak/org./intitusi yang miliki 'TOOLS' untuk melaksnakan hal tersebut. 3. Siapa/pihak/org./intitusi yang memperoleh MANFAAT dari (hasil 'aftermath' peristiwa tersebut.
    Tentunya masing2 dibuat dg skala prioritas dan matriks-nya. Tentunya termasuk unsur2 dari DN dan LN, dalam perspektif global-nya juga. Semoga bermanfaat.
  18. From achmad.s on 31 March 2009 14:40:33 WIB
    Banyak orang2 kita yang menganggap enteng dengan hukum yang ada sekarang ini,sehingga mereka berbuat semau gue,kalau sudah begitu tinggal tunggu hancurnya negeri ini sesuai dengan banyaknya dosa2 yang terkumpul,kalau sudah banyak bencana lagi,lagi dan lagi sampai hukum yang sebenar2nya hukum ditegakkan.hukum yang sebenar2nya hukum adalah hukum yang datangnya dari langit.bukan hukum yang datangnya dari otak manusia.yang dari langit itu adalah hukum dari tuhan semesta alam.
  19. From abud on 25 April 2009 11:04:19 WIB
    apapun alasanya, petinggi militer pada saat itu ga mampu atasi keaadan, bahkan ga ada aparat pada saat kerusuhan, apapun alasanya merekatuh harusnya malu pada ketidakmampuan mengamankan negara yg memang tugas meraka. ehhh ini malah nyalonin jadi cappres,bahkan dengan propaganda yg buat aku jijik. harusnya mereka malu, ga di pengadilan penjahat militer aja dah bagus.masi terhormat kapolda waktu kerusuhan, sampe sekarang ga ada kabarnya. semoga negri ini dapat pemimpin bijak yg untuk nusantara,bukan kantong, agama, atau suku. ada kebenaran ada pembenaran. besukurlah yg di azab di dunia(masi bisa insaf), menyesalah yg di azab di neraka( ga guna kali nyesel jg) salamanya akan mendarita.
    yg di zolomin sabar dan tabah, ga ada yg ga terbalas.
  20. From Mimi on 13 May 2009 13:21:15 WIB
    Selama kejadian itu terjadi di Indonesia dan selama itu orang Indonesia sendiri yang melakukan (dengan bantuan pihak-pihak yang berkuasa), kerusuhan Mei 1998 tidak pernah akan diungkap.

« Home