Articles

Don Bosco: Brand Lebih Penting Dari Rating

Perspektif Wimar
05 June 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Televisi menjadi salah satu media yang sangat penting dalam mempengaruhi bahkan membentuk karakter suatu bangsa. Untuk itu menghadirkan program berkualitas dan mendidik menjadi hal mutlak yang harus dilakukan lembaga penyiaran publik. Hadir di Perspektif Wimar kali ini anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Don Bosco Selamun.

KPI  merupakan lembaga independen yang mengatur berbagai hal tentang penyiaran terutama pada content siarannya. Berbagai wewenang yang dimiliki seperti memberikan tiket perijinan bagi lembaga penyiaran publik, dan memantau seluruh isi siaran, membuat KPI menjadi salah satu benteng pengawasan yang dapat melindungi publik dari isi siaran yang mengandung pornografi dan kekerasan.

Rating yang selama ini dianggap sebagai “dewa” penentu utama keberlangsungan sebuah program, di mata Don Bosco ternyata  tidak bisa menggambarkan kualitas suatu program. Program dengan brand yang bagus dan dapat masuk di dalam pikiran seseorang, itu justru yang lebih baik. “Jika saya menjadi eksekutif di stasiun tv, saya akan lebih memilih brand dari pada rating”, ujar salah satu pendiri Liputan 6 SCTV ini.

Dari  pengalamannya sebagai pengelola stasiun televisi, Don Bosco melihat  banyak acara yang bagus tapi justru ratingnya rendah (berkisar 1 – 2). Sehingga dengan kondisi ini membuat orang di industri tv banyak yang frustasi karena terus kejar-kejaran dengan rating. Tapi banyak fenomena yang dimiliki acara berkuaitas, meskipun ratingnya rendah namun iklannya memadai. Karena menurut anggota KPI ini, ada penonton dan pengiklan yang tidak membutuhkan rating, melainkan kualitas acaranya.

Mantan Pemred Metro TV ini juga melihat ada hal yang secara metodologis masih patut dipertanyakan dari rating, karena kita sama sekali tidak tahu berapa margin error dari penelitian mereka. Tapi mereka (AC Nielsen) masih dipercaya, oleh karena tidak adanya lembaga rating lain di Indonesia. “Maka pemerintah dan KPI merencanakan  untuk membuat lembaga rating alternatif  sebagai pembanding”, ujar Don.

 

Baca juga:

Print article only

19 Comments:

  1. From wimar on 05 June 2008 14:57:01 WIB
    yang berkepentingan terhadap acara bagus lebih banyak penontonnya, kalau pemilik stasion punya kepentingan lain
  2. From dedi indrasari S.H. on 05 June 2008 15:05:03 WIB
    bang wimar yth, minggu lalu colega saya orang singapore dan malaysia datang ke jakarta dalam rangka pekerjaan. sambil minkmati breakfast dihotel dan berbincang-bincang dengan mereka, sambil nonton berita pagi di stasiun tv nasional colega saya bertanya (kebetulan mereka mangerti bahasa indonesia), "dedi, mengapa acara tv indonesia hampir semuanya berita pagi menampilkan 'kerusuhan demo menentang kenaikan harga BBM antara mahasiswa dan polis atau askar?". "bukankah nanti citra negara anda di mata dunia internasional menjadi negara yang rusuh dan kurang aman? padahal kemarin kita dari bandung dan dalam perjalanan aman2 saja, walaupun agak sedikit macet" kata mereka. pointnya adalah, bahwa media tv nasional kita sangat tidak "proporsional" dalam memilih berita (news) yang akan ditayangkan dan hampir semuanya seragam! bisa kita bayangkan, efeknya terhadap pencitraan negara kita didunia internasional. yang dulu sanagat sopan santun, sekarang hampir seluruhnya punah akibat dari peliputan "berita" yang kurang proporsional tersebut, seolah-olah negara kita akan terjadi kerusuhan lagi seperti tahun 1998. dan untuk don bosco, harap diberitahukan kepada rekan-rekan media agar lebih profesional lagi dalam bekerja, jangan cuma mengejar gosip-gosip murahan dan hal-hal yang kurang mendidik bagi generasi penerus kita! jangan lupa mr. don bosco, liga inggris jangan dimonopoli oleh astro tv. berikanlah hiburan yang mendidik (sepak bola internasional) bagi rakyat indonesia, agar tidak stress yang hampir tiap jam-nya disuguhi berita2 infotainment yang kurang mendidik!!! bravo bang wimar...
  3. From pauls on 05 June 2008 15:14:42 WIB
    Gimana kalo WW bikin station TV baru, pasti seru dan banyak penonton yg berkwalitas.
    Dan tolong komentar aye jangan sering2 diblok. Kan capek nulisnya bang...
  4. From mansur on 05 June 2008 15:18:34 WIB

    KPI dan stasiun TV jangan mau terjebak pada sistem yang mengabaikan tayangan bermutu dan kepentingan publik. Karena itu sistem TV kita harus diubah menjadi TV lokal dan jaringan. Ini akan mendorong timbul banyak institusi rating di tingkat lokal. Jangan seperti sekarang responden rating hanya di 10 kota, sedangkan Indonesia ada ratusan kota.

    Dalam hal ini usul agar universitas yang memiliki Fakultas Ilmu Komunikasi di seluruh Indonesia membentuk jaringan untuk membuat rating acara TV.

    Setuju? Yuk, mulai kita gagas agar ada lembaga rating pembanding dan muncul banyak lembaga rating.
  5. From yusuf suryadin on 05 June 2008 15:53:49 WIB
    pemilik media saat ini seperti diktator yang berlindung di bawah bendera kebebasan, media merupakan bisnis strategis, mendekati posisi paling strategis malah.

    dunia pendidikan, pandangan publik dan popularisme yang menyokong kemenangan politik dalam demokrasi a la barat berada di tangan media

    saya hanya bisa berharap pemilik media memiliki hati nurani dengan apa yang dia kuasa untuk menayangkannya


  6. From janeman on 05 June 2008 18:17:55 WIB
    tadi pagi menarik karena kita akhirnya mendengar seseorang yang kompeten bicara mengenai branding dan rating...

    kalo akhirnya rating yang menang atas branding, kita jadi tahu bahwa rating mungkin bukan alasan utama kenapa sebuah acara dizolimi hehe... perhaps hidden agenda lies within?

    oh.. sorry, how could I know? I didn't know anything :)
  7. From |richard.p.s| on 05 June 2008 20:37:35 WIB
    WW jelas bukan Wewe gombel. So, jangan harap ratting tinggi untuk WW. Menurut Permadi-PDIP: \"Semua (all of) Presiden RI main klenik\". Kalau pernyataan Permadi itu benar, berarti dari atas sampe bawah, berbau kuburan. Sisi lainnya, berstatus negara agama. Munafik sebagian dari iman kah?
    Lalu, apa tujuan pemerintah dan KPI berencana membangun lembaga rating alternatif? Untuk memajukan hal-hal berbau alternatif kah? Memajukan mak Erot dot kom? Mak Erot yang asli yang mana sih? *sambil belai-belai ..... dagu...husss*
    Garap PW OFF AIR yang lebih serius aja, dan 23.00 Wib seminggu sekalinya itu menjadi semacam cellebration. Kalo perlu, LIVE dari Hard Rock EX dan buat nonton bareng di bunderan HI. Biar dunia liat, kalo kita nggak munafik-munafik amat kok.
    Semoga, di kemudian hari PW memiliki rating tinggi. Ini bukan anomali. Karna harapannya, sampe kang ojek sepeda pun bisa ikutan nongkrong di bunderan HI untuk nonton PW Live. Nielsen kan hobby nya ngambil data dari kang ojek sepeda ya? (tanda tanya loh. Jangan marah dan nggak boleh nyantet).

    ______________
    1.Awas ye, kalo ada parte yang nyuri ide gue ini. I dedicated for bang WW and PW only.
    2.Owner, producer sampe tukang gulung kabel yang hobi produksi hal-hal klenik, gue sumpahin dicium wewe gombel botak sampe bolong.
  8. From Yulmi on 05 June 2008 20:50:01 WIB
    Waaah... tayangan yang cerdas.

    Abis ada kabar PW mo dikurangin jam tayangnya trus mo dipindah ke jam malam, langsung deh di datangan om Don Bosco. Biar gak usah ngomong banyak sama bos ANTV ya? He..he.. efektif.

    Biar gak terlalu takut sama ratting. Berani Beda.

    Oh,ya klo KPI ngawasin acara gosip gak sih? Tolong dong gimana caranya biar tayangan2 kayak gitu gak terlalu banyak. Dari mulai bangun tidur sampe tidur lagi, gosiiip mulu.

    Kan saya pengen cerdas juga. Klo kebanyakan di kasih gosip, apa kata dunia!
  9. From Rangga aditya on 05 June 2008 23:34:07 WIB
    Bethul kata don bosco. Menurut saya belum saatnya tv mencari keuntungan dgn bikin acara \'yg penting rating bagus\'. Harusnya trash tv show baru muncul 50thn kedepan. Masyarakat kita perlu didik dulu.
    Sampai bisa menentukan mana acara yg baik, mana yg jelek. Sekarang saja parental guide (rating untuk umur) blm maksimal. Orang tua blm mengimplementasikan kepada anak2nya. Mayoritas anak indonesia tidak diawasi oleh orang tua.
    Gimana jadinya kalau tv memproduksi acara tdk bermutu. Maka apa jadinya bangsa indonesia kedepan?!
  10. From Wid on 06 June 2008 08:57:18 WIB


    Berat memang menghadapi pemilik atau pengusaha TV yang pastinya orientasinya lain ....

    kenama ya tanggungjawab & perasaan mereka melihat masyarakat yang terbodohi dengan tontonan gosyip dan atau sinetron yang menjual mimpi cinderella.

  11. From Faisal Maksum on 06 June 2008 10:14:36 WIB
    Saya setuju kalau rating sama sekali tidak berbanding lurus dengan kualitas - apalagi metode penentuan ratingnya juga tidak jelas -. Menurut saya membuat program yang berorientasi pasar ( baca : penonton ) tidak berarti harus mengikuti 100% selera penonton. Sudah saatnya, stasiun tv, membuat program yang 'mengerti' kebutuhan penonton secara cerdas. Karena itu, SDM tv kita harus lebih kreatif dan inovatif lagi. Dalam pengamatan saya, kalau ada program tv yang bagus dan berkualitas, sebagian besar adalah program 'contekan' (meski tidak semua dan tidak semua contekan juga bagus dan berkualitas). Belum lagi kalau kita lihat dari sudut pandang NKRI, yang masyarakat dan budayanya beragam, tapi faktanya tayangan tv kita seragam dan isinya melulu budaya jawa dan jakarta, padahal ini akan sangat berpengaruh pada pembentukan identitas masyarakat yang bukan jawa dan jakarta (contohnya : orang daerah sudah enggan berbahasa daerah, dan lebih suka lu gue-lu gue).
    Karena itu,sudah saatnya TV lokal diberdayakan. Ini tugas buat KPI, yang harus memenuhi amanat undang-undang penyiaran yang baru. Saat ini, teman-teman di daerah sudah cukup mampu mengoperasikan stasiun tv dan membuat program yang kontennya begitu mengena dengan penontonnya. Tinggal butuh dorongan politik dari pemerintah - terutama KPI - agar TV-TV lokal bisa hidup sebagaimana mestinya. Sekaligus membuka lapangan kerja bagi anak muda di daerah.
    Sukses terus buat perspektif.
  12. From Rini on 06 June 2008 14:07:20 WIB
    Untuk KPI, tolong sinetron2 yang gak penting itu dilarang tayang,untuk para produser PH, tolong bikin sinetron yang mendidik seperti bikinan Arswendo Atmowiloto atau Dedy Mizwar, dan buat yang punya TV jangan racuni anak2 dengan tayangan yang tidak mendidik, karena masa depan Indonesia di tangan kita bersama.
  13. From adie on 08 June 2008 16:52:45 WIB
    saya ga begitu tau tentang masalah ini, cuman denger-denger para advertiser menggunakan rating sebagai ukuran, nah klo sudah kepentok kaya gitu gimana om,.
  14. From doelkar\'s on 10 June 2008 09:58:04 WIB
    ngeri kita ini udah kebanyakan stasiun teve, mo nyari acara sebermutu PW payah.... paling cuma bisa diitung pake jari. ada teve yg melulu nampilin sinetron yg memuakkan dari pagi ampe tengah malam, makanya jgn heran kalau banyak masyarakat kita terbuai dgn hal-hal yg menjanjikan spt kisah sinetron, mau ngetop cari jalan pintas ikut audisi beres. kita jadi mental tahu, lembek tak punya nyali dan daya juang. ada pula teve yg kerjanya mem infotainmenkan aib orang padahal MUI bilang bahwa itu haram diberitakan tapi koq orang2 pada doyan, wong butuh.
    buat para pengambil keputusan negeri ini, tolonglah ini diambil tindakan tegas bukan cuma dipikirkan, kasihan kami masyarakat bawah. menurutku tayangan berita tentang kekerasan gak konyol2 amat, bagus tuh sbg cerminan negara yg berdemokrasi. toh negara luar dah tau, kenapa takut dgn opini mereka, coba aja bandingin dgn negara tetangga soal demokrasi kita, tak ada apa2nya mereka, jgn sok membanding2kan mereka tertinggal jauh, pasti kelak mereka akan belajar soal demokrasi dari kita, cuma masalah waktu aja.
  15. From UmanK on 10 June 2008 12:32:08 WIB
    Nah, setuju dengan lembaga rating alternatif..
    Apa yang disukai banyak penonton belum tentiu baik bagi dirinya sendiri.. Coba kaji lebih dalam efek sebuah tayangan.


  16. From diny on 11 June 2008 10:08:03 WIB
    saya juga suka heran kalau ada satu stasiun TV yang mengabaikan tontonan yang berkualitas.. "ada apa dan ada siapa dibalik itu" timbul tanda tanya, apalagi ada stasiun TV yang mengabaikan "brand yang bagus" how come??
  17. From Jets on 03 August 2008 23:54:49 WIB
    Yah.... bagaimana lagi.... maksud hati hendak memeluk gunung, tetapi tangan tak sampai.... maksud hati hendak memberikan acara yang mendidik, namun kebanyakan dari intelijensia mereka tak sampai. Akibatnya, yang menduduki rating teratas adalah acara2 yang Low-Education seperti acara gosip dan sinetron. Yang pada akhirnya membentuk karakter2 sebagai masyarakat tukang gosip, atau masyarakat sinetron.

    Salam,
    http://private-jets-charter.blogspot.com/
  18. From kristian on 27 September 2008 16:37:30 WIB
    Sekarang ini televisi Indonesia mengikuti survey rating yang dilakukan lembaga tertentu. Kan seharusnya survey itu yang mengikuti televisi. Yang kreatif donk. Ayo majukan bangsa lewat televisi indonesia

    salam
    http://me-ebook.blogspot.com
  19. From johannes baptista on 31 October 2008 17:28:13 WIB
    betul juga tuh, kalo begini terus, kita semua bakal dibodohi terus oleh industri tv krn mereka menampilkan acara demi mengejar keuntungan ja

« Home