Articles

Mengapa Mantan Presiden Kita Tidak Harmonis Satu Sama Lain?

Koran Sindo
16 August 2008

PRESIDEN KITA

Di negara lain,hari nasional merupakan kesempatan untuk mengibarkan bendera, mengadakan pawai, pidato-pidato, dan upacara yang dihadiri pembesar dalam dan luar negeri.

Demikian juga di Indonesia. Kita melihat pada 17 Agustus ini sederet tokoh duduk di panggung kehormatan. Tapi, apakah tahun ini semua mantan Presiden akan duduk merayakan 17 Agustus bersama? Selama ini tidak. Belum pernah mantan presiden duduk lengkap berderet menyaksikan presiden yang menjabat memimpin upacara.

Setelah Presiden Soekarno turun, dia tidak pernah menghadiri 17 Agustus di Istana karena ia berada dalam tahanan rumah. Setelah Presiden Soeharto turun, dia tidak ingin ketemu Presiden BJ Habibie sampai pada hari meninggalnya. Setelah Presiden Habibie turun, ia pergi ke kediamannya di Jerman dan jarang ke Indonesia.

Setelah Presiden Abdurrahman Wahid turun, dia merayakan HUT Kemerdekaan bersama rakyat di Ciganjur. Setelah Presiden Megawati turun, dia tidak berhenti mengkritik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Entah nanti bagaimana? Pada kesempatan 17 Agustus 2008, ini menimbulkan pertanyaan.

Tulisan ini sendiri dibuat untuk memenuhi permintaan redaksi guna menyoroti masalah tidak harmonisnya hubungan para mantan presiden Indonesia satu sama lain. Mereka terkesan saling memusuhi dan mempunyai dendam pribadi. Padahal, jika bisa saling bercengkerama, masing-masing presiden sebenarnya bisa memberikan banyak masukan yang berarti bagi bangsa ini.

Harmonisnya hubungan ini sebenarnya bisa meredam konflik di tataran grass root. Apakah ini menunjukkan kebudayaan timur yang terkenal dengan toleransi tingginya sudah meluntur? Mungkin kita bisa mencontoh hubungan para mantan presiden di luar negeri. Sekalipun misalnya mereka tidak berkawan, mereka tak bermusuhan. Mereka bisa memberi masukan kritis dan positif kepada pemerintah untuk kepentingan bangsa.

Contohnya mungkin di AS atau Mandela di Afrika Selatan yang menjadi penasihat di negara itu. Ini adalah masalah penting sebagai renungan Hari Kemerdekaan, soal-soal begini mendapatkan makna yang lebih besar, terpisah dari hiruk-pikuk sehari-hari. Masalah semacam ini tidak dapat dijawab dengan sederhana, hanya bisa diimbangi dengan suatu perspektif untuk melihat segala sesuatunya dengan lebih jernih.

Untuk kejernihan tersebut, kita harus bersedia mengakui kenyataan bahwa hubungan di antara mantan presiden Indonesia itu memang sudah tidak jernih sejak awal. Bagaimana mau dikatakan jernih kalau Soeharto adalah orang yang dengan segala akal politik menggulingkan Soekarno. Bahkan,setelah digulingkan,tidak pernah ditengok, jangankan diundang ke upacara Istana.Kemudian, Soeharto terguling oleh runtuhnya rumah kekuasaan yang ia bangun.

Menyakitkan bagi Soeharto bahwa ia lengser bukan karena tekanan mahasiswa semata, apalagi tekanan politik yang boleh dikatakan tidak ada, melainkan oleh hilangnya loyalitas pendukungnya sendiri, seperti Habibie, Harmoko, dan Ginanjar.Mundurnya Harmoko dan Ginanjar mencabut sisa dukungan terakhir yang bisa dipakai Soeharto.Ketika Soeharto mengucapkan pengunduran diri,Wakil Presiden Habibie yang ia angkat dari kalangan orang biasa bukannya mempertahankan, malah dengan semangat mengambil kekuasaan presiden.

Tidak lama kemudian, Habibie membalikkan kebijaksanaan Soeharto mengenai tahanan politik, mengenai pengendalian pers, dan mengenai Timor Timur. Saya tidak tahu apakah Pak Harto pernah diundang ke Istana, tapi rasanya absurd kalau beliau datang ke upacara Istana, dengan kekecewaan yang begitu pahit bagi orde politik yang ia bangun.Lagi pula,ia sedang di ambang pintu pengadilan dan hanya lolos dengan alasan kesehatan.

Lebih lanjut tentang tidak harmonisnya hubungan para mantan presiden kita, kita lihat kasus Habibie dan Abdurrahman Wahid. Boleh dikatakan ini adalah suksesi kepresidenan pertama dalam sejarah kita yang dilangsungkan menurut aturan. MPR melakukan pemilihan dan Gus Dur terpilih.Tidak ada permusuhan antara Habibie dengan Gus Dur,jadi kasus ini bisa dikecualikan dari daftar hubungan buruk.

Tapi, tidak juga bisa dikatakan bahwa Habibie dan Gus Dur bersahabat karena Habibie jarang berada di Indonesia setelah tidak menjabat lagi. Namanya hanya muncul dalam pengusutan korupsi yang mengorbankan anak buahnya seperti Rahardi Ramelan dan Akbar Tandjung (tidak terbukti).

Berikutnya, Gus Dur dengan Megawati. Sulit diharapkan ada hubungan harmonis. Bahkan, ganjil jika ada keharmonisan antara seorang presiden yang diturunkan di luar prosedur impeachment dengan kelompok politik yang memimpin penggusurannya, yaitu PDIP, partai yang dipimpin Wakil Presiden Megawati.

Setelah PDIP selesai melakukan pekerjaannya, Megawati dengan tenang melenggang ke kursi presiden. Masih bagus Abdurrahman Wahid tidak pernah melancarkan gerakan pembalasan terhadap Megawati dan PDIP. Ini boleh digolongkan ke dalam fatsoen politik walaupun tentunya tidak harmonis karena yang satu disisihkan oleh yang lain.

Kurang jelas, mengapa Megawati tidak senang pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pergantian ini berjalan paling fairdan menurut aturan. Ada kampanye, ada pemilihan sampai dua tahap, dan SBY menang tanpa ada keraguan dalam penghitungan suara. Jika Ibu Megawati tidak bisa bercengkerama dengan Presiden SBY, itu adalah pilihan pribadinya.

Susah juga kita yakin bahwa jika mantan presiden itu memberikan nasihat kepada presiden yang sekarang, apakah itu akan membantu banyak untuk kepentingan bangsa. Sebab, tidak terlihat perbedaan program antara Megawati dengan SBY karena memang tidak ada program yang unik.Sebetulnya program yang kita perlukan hanya satu, yaitu memberantas korupsi.

Selama korupsi belum dihadapi dengan tegas, kegiatan presiden yang lain hanyalah konsolidasi politik. Presiden SBY lebih bersih daripada presiden sebelumnya. Tapi, beliau sangat toleran terhadap orang korup dalam kabinetnya. Kebersihan SBY malah menjadi payung pelindung untuk penguasa sekelilingnya. Terakhir, masalah ini tidak ada hubungannya dengan kebudayaan timur.

Faktor yang paling mengganggu kejernihan politik adalah perlindungan terhadap korupsi dan pembangunan kekuatan politik di atas kekuatan korup. Perilaku korup ada dalam semua kebudayaan, dari timur sampai barat, dan dalam semua ideologi dari komunisme sampai liberalisme.

Tidak juga kita bisa ambil contoh dari Amerika Serikat karena pergantian rezim mereka terakhir terjadi ketika Presiden George Washington mengambil kekuasaan atas 13 wilayah yang lepas dari otoritas Raja Inggris.

Setelahnya, setiap empat tahun dari 1789 sampai sekarang dipilih seorang presiden baru dan setelah mereka turun, selama mereka sehat, tidak ada halangan untuk bercengkerama mengenai kehidupan karena mereka tidak lagi menghadapi krisis kenegaraan. Mudah saja untuk berharmoni dalam suasana demikian.(*)

Wimar Witoelar 

Print article only

48 Comments:

  1. From Kang Nizar on 17 August 2008 06:04:17 WIB
    saya cukup bangga ketika masyarakat Indonesia semakin cerdas berfikir dan kritis dalam memilih. Masyarakat tentunya pandai memilah-milih diantara Presiden dan Mantan Presiden yang benar-benar merupakan sosok negarawan sejati atau bukan.
    Anda yang menjawab, anda yang menentukan
  2. From MAma LAdi RInah on 17 August 2008 09:37:16 WIB
    Jika saya menjadi mantan presiden, saya berjanji akan harmonis dengan mantan2 presiden yg lain. Oleh karena itu, pilihlah saya....!!!! (Mumpung momennya lagi tepat nih, menjelang PEMILU)

    Cheers,
    http://gatelan.blogspot.com/
  3. From Musheni on 17 August 2008 11:01:25 WIB
    salam untuk pak Wimar. saya sempat mendapatkan buku bapak yang berjudul Perspektif melebarkan sayap sewaktu bapak kepalembang.

    " Seharusnya begitu. tapi, karena merasa kurang puas berkuasa ya jadi ada rasa : cemburu.
    makanya, mantan presiden kita ogah silaturahim. karena, mereka masih ingin berkuasa lagi, masih ingin memerintah lagi."
  4. From NOWHEREMAN7 on 17 August 2008 20:25:53 WIB
    hemat sy, sby akan menjadi pendahulu yg baik bagi penerusnya, dan semoga soal yang satu ini bisa selesai dan jadi contoh yg baik utk generasi yg akan dtg,.... tul khan Pak SBY?! Selamat HUT RI ke 63. JAYA!!!
  5. From didut on 18 August 2008 10:52:12 WIB
    brgitulah watak pemimpin kita saat ini, kurang bisa meneriman perbedaan. Lalu bagaimana mereka bisa meminta rakyat yang dipimpinnya tidak saling bertikai?!?
  6. From Brahmasta on 18 August 2008 15:59:24 WIB
    Dari sekian banyak presiden kita, sepertinya sedikit yang punya kesaman karakter dan background. Mungkin itu juga yang menjadi pemicu.
  7. From Hning on 19 August 2008 01:58:32 WIB
    Iya juga ya... Saya malah baru "ngeh" dengan artikel ini, padahal sering juga lho membicarakan dengan temen2. Kalau saya bilang, begitulah rata2 karakter yang dimiliki oleh 3rd world nation bagaimana?

    Apa pas...?! Kalau masyarakat sih kayaknya pas, hehe... Selalu berharap pada sebuah hal yang instan.
  8. From widhi on 19 August 2008 07:35:46 WIB
    ya.... biasalah... kalau sudah lengser pasti ada rasa iri satu sama lain.mengomentari padahal pada saat menjabat belum tentu membawa kesejahteraan.seharusnya mereka intropeksi diri masing2 sudahkah bertanggung jawab atas apa yang dilakukan terhadap rakyat..
    zaman sekarang tuh rakyat butuh kejujuran dari para pemimpinnya..
  9. From Agus Setyo Wardoyo on 19 August 2008 08:20:36 WIB
    Kemarin Gusdur dateng ke upacara 17an di Istana, mungkin ini awal yang baik.. Kebetulan kita baru punya preseden sedikit, dan dari yang sedikit proses-nya banyak nggak mulus dan penuh intrik, maka barangkali dari saat ini dimulai hubungan antar presiden mulai baik2an.
  10. From Rasno on 19 August 2008 10:51:03 WIB
    Bener juga kata anak2 dalam sinetron Ronaldowati, "Bersatu Kita Padu, Bercerai kita berantakan!". Para pemimpin dan mantan pemimpin seharusnya bisa memaknai kalimat di atas, meski lelucon, ada maknanya juga lho.

    Bagaimana kita mau satu dan bisa saling bergandeng tangan kalau masing-masing pemimpin saling melambaikan tangan? Gua gua, lo lo. What? Apa kata dunia?????
  11. From |richard.p.s| on 19 August 2008 18:21:53 WIB
    jangan-jangan di adu domba intelegn masing-masing?(tanda tanya). atau, di adu domba dukun masing-masing? karena menurut opa Permadi di salah satu tayangan tipi, seluruh presiden R.I itu berbau klenik. *plis akika jangan disantet :P*

    makanya, capres 2009 kudu "nge-plurk". pokoknya komunikasi gitu loh. makanya, telkomnya jangan sampai dijual seperti indosat ; )

    *semoga postingan ini menaikkan karma ku di plurk*
  12. From eeda on 19 August 2008 19:16:49 WIB
    Apa yang salah dari bangsa ini pak wimar? para mantan dan presiden aja pada ga rukun. Gimana mau mau kasih teladan sama rakyat.
    Ida
    http://eedajourney.blogspot.com
  13. From jogjalink on 19 August 2008 22:17:32 WIB
    Begitulah kita bangsa indonesia kadang masih kekanak-kanakan,tidak berjiwa besar dan rasional.Mau akrab gimana sesama mantan presiden ? lhawong hampir semua presiden di negeri kita ini turunnya masih menyisakan perasaan ndak ikhlas waktu turun.lha sikap mereka yg bekas RI 1 aja masih ndak rasional ya otomatis ngajari rakyat/pendukungnnya bersikap ndak rasional juga.
  14. From enggar on 19 August 2008 22:35:10 WIB
    ya beginilah persaingan politik. kalo masih bersaing satu sama lain, akan susah rukunnya.
    tp semoga saja ke depannya ga kaya gitu lagi.
    btw, bener gak pak Wimar dulu presiden Dema di kampus ganesha? hehe..
    salam kenal pak, http://www.gareng.net/
  15. From atrix on 20 August 2008 13:10:22 WIB
    Hmm, kebayakan politikus itu pinter ngomongnya aja. Saat mereka memegang posisi di pemerintahan diam seribu bahasa, sok tegas, otoriter. Saat lengser manut, jaim, sok merakyat (lagi?) untuk support kans mereka maju di pemilu mendatang (mungkin).

    Spt yang pernah banyak dibicarakan, politik Indonesia masih belum ada dewasanya terutama pemimpin2nya yang kutang rasional bersikap, dan legowo menghadapi situasi tertentu. Semoga kedepan lebih baik.

    Be smart, q rasa lebih pinter anak TK kalo soal diplomasi rebutan "kue" bekal yg dibawa dgn teman2nya. cmiiiw

    http://atrix.or.id/
  16. From Martin Manurung on 20 August 2008 15:24:33 WIB
    Namanya juga masih demokrasi muda, belum terbiasa menang dan belum terbiasa kalah. Ini kan belum 'jaman normal'. Semua masih dalam tahap belajar, termasuk para mantan presiden.

    By the way, setahu saya, Gus Dur sudah beberapa kali bertemu dengan Megawati, walaupun sesampainya di rumah Gus Dur dapat omelan.
  17. From criezk on 21 August 2008 13:43:30 WIB
    Mungkin kebanyakan pemimpin-pemimpin kita baru belajar ilmu ikhlas setengahnya saja..

    Untuk naek tahtanya IKHLAS..
    Untuk turun tahtanya belum IKHLAS..

    Coba sebelum naek tahtanya dituntaskan dulu pelajarannya..!!
    Semoga di masa mendatang, semuanya lebih ikhlas lageee..!!
  18. From myname on 22 August 2008 01:25:07 WIB
    PPS ngkale Bang, Post Power Syndrome :). Aliasnya nggak ade kerjaan lagee, jadi kerjaan nye nggrutu aje. Apapun nyang kite kerjain ni, saleh mulu!

    Biasenye abis jabatan, mereka bikin foundation ape institute geetho, semacem think thank lah. Masalahnya seringkali nama mereka hanya sebagai simbolik saja, bukan bener-bener they devote their energies there. Jadi pelampiasannya tetep ke hal-hal lain di luar lembaga yang mereka bikin.

  19. From Mundhori on 27 August 2008 14:44:59 WIB
    Itu refleksi dari demokratisasi yg belum mantap.Sebab biasanya lengesernya seorang presiden akibat tidak normal.Entah itu kup, atau dilengserkan secara konstitusi, atau karena masalah korupsi. Kalau dinamika, unsur demokrasi, pelaku demokrasi dan etika demokrasi sudah terbentuk secara mantap. Para mantan presiden pasti akan pula dapat rukun, karena dihati tidak ada beban, tidak ada dendam disebabkan demokrasinya sudah baik.
  20. From Dora Iskanada on 28 August 2008 09:45:53 WIB
    Gini lho Mas Wimar, coba usulkan adanya wada RP alias Rukun (mantan)Presiden. Biar kayak RT/RW (rukun tetangga/rukun warga). Kalo pemimpin rukun, negara (mungkin) rada nyaman.
  21. From paul on 28 August 2008 13:44:02 WIB
    Gimana bisa akur.., lawong kebenaran diukur hanya berdasarkan asumsinya masing2.
  22. From Andy MSE on 28 August 2008 23:43:37 WIB
    Ealah.. lha wong sebagian para manten itu masih ingin naik lagi, gimana mau akur mas Wim!.. Sebagian lain merasa tidak dibutuhkan lagi, ya pergi aja.. Coba kalau yang sedang di atas agak lebih hormat sedikit pada pendahulunya, coba para manten lebih lilo lan legowo kanggo mulyaning nagara...
    Haiyyah... aku kok ngelindur...
  23. From |richard.p.s| on 30 August 2008 06:52:26 WIB
    yang merasa paling benar mohon bangkit berdiri dan standing applause untuk dirinya sendiri :p

    *narsis teriakin narsis memultiplikasi narsis. solusi = o* :p
  24. From Rofi on 31 August 2008 16:37:14 WIB
    hehehehe......ini Adalah gambaran betapa penguasa negri ini tidak pernah mngerti dengan arti solidaritas..gmn mau maju wahahhha


    www.rofie.co.cc
  25. From mcdamas on 31 August 2008 21:53:42 WIB
    Mereka gak bisa akur karena tujuan jadi presiden untuk gagah2an. Jadi, begitu gak jadi presiden, mereka merasa dikadalin dan kegagahannya hilang. Malu, gengsi, sakit hati mosok gak di (ke) pilih lagi padahal masih pengen.

    www.bucksfreak.com
  26. From andreas on 03 September 2008 12:32:32 WIB
    Bagi saya oligarki politik hari ini bercokol di hampir semua partai politik yang ada hari ini juga yang pernah nongkrong di kursi presiden. kepentingannya tunggal yakni mempertahan kekuasaan dan share/pembagian sekaligus persaingan kalangan sendiri untuk meperebutkan rente ekonomi dari penggadaian kekayaan alam negeri ini. Kalau pun ada pernentanganan dan sikap yang seolah-olah opisisi sesungguhnya hanya permainan politik dan sirkulasi elit atau oligarki politik-ekonomi.
    http://ruangasadirumahkata.blogspot.com
  27. From Timur Bagaskara on 04 September 2008 13:24:39 WIB
    Tidak akur karena Presiden kita adalah orang-orang yang haus kekuasaan maka ketika kekuasaan terlepas dari tangannya dia akan dengki kepada penguasa berikutnya. Dari pertama negara ini berdiri kita memiliki pemimpin-pemimpin yang tidak layak untuk jadi contoh bagaimana menjadi pemimpin dan mengurus negara dengan baik.
  28. From primadianto on 04 September 2008 14:05:02 WIB
    bagi saya, itu sekali lagi membuktikan bahwa banyak pemimpin negeri ini yang tidak memiliki idealisme membela kepentingan rakyat, memajukan bangsanya, yang ada hanyalah kesan bahwa mereka ingin berkuasa demi ambisi pribadi masing-masing.
  29. From Siti Parliah on 05 September 2008 13:10:45 WIB
    Bagaimana Rakyat akan bersatu kalau pemimpinnya saja tidak pernah akur. Tidak pernah merasa perlu untuk terlihat harmonis demi rakyat. Memang mereka bukan negarawan ya?! Tak pernah ada yang mengedepakan kepentingan rakyat pada umumnya.
  30. From sailonkday on 05 September 2008 14:00:02 WIB
    saya bangga dengan masyarakat indonesia yang semakin hari semakin kritis seperi anda dan saya lom pernah berfikir sejau itu tentang persiden kita dan tidak pernah berfikir ke arah sana dan menurut tulisan anda disana ada benar nya juga yaa hehehheheheeee
  31. From Pandji on 07 September 2008 11:49:37 WIB
    Sebagai seorang awam yang sudah bosan mendengar kata politik, saya memilih untuk Golput saja.
    Saya yakin, para politikus di negara kita saat ini tidak ada yang benar2 mendedikasikan dirinya untuk negara dan bangsa kita.
  32. From viviana on 11 September 2008 00:49:27 WIB
    Mas Wimar,

    Saya benar benar sedih atas sifat dan kejadian masa silam yang terjadi yang menyebabkan ketidakharmonisan ini. Kok bisa beda banget sama sikap Hillary Clinton yang berbalik malah mendukung Barack Obama ? Mengapa Indonesia tidak bisa "keren" seperti itu ya ? Semoga hal tidak mengenakkan ini berhenti hanya sampai Megawati saja.

    Semoga generasi yg dimulai dari SBY bisa merubah moral bangsa ini jadi lebih legowo, berani bertanggung jawab & ksatria !
  33. From LANG on 14 September 2008 09:54:46 WIB
    bung wimar.., gimana presiden kita bisa akur kalau masing-masing mantan presiden menganggap bahwa hak mereka menikamati uang tanpa banyak kerja tergusur oleh calon presiden yang baru?
  34. From jaya on 14 September 2008 15:38:07 WIB
    sabar..baru juga merdeka 63tahun..ntar tunggu kalo udah diatas 80 tahunan..ada prosesnya donk..nah itu dimulai dari komentar bung wimar ini.la wong menurut ramalan jayabaya aja satrio piningitnya aja belon keluar..ya kudu sabar.
  35. From dwitanaya on 16 September 2008 09:09:27 WIB
    pertanyaan selanjutnya adalah ....sejauh mana hubungan tidak harmonis ini berpengaruh terhadap rancangan pembangunan negara kita ini om.sepertinya menarik bila om ngasi perspektif tentang pengaruh pergantian presiden terhadap kelangsungan pembangunan di Indonesia.

    salam

    dwitanaya
    www.dwitanayaphotography.com/blog/
  36. From Nyante aza lae on 20 September 2008 15:28:44 WIB
    Pada suatu ketika saya menyaksikan ada masyarakat yang mengajukan permohonan tuk menjadi pengelola/pengusaha pangkalan minyak tanah. Singkat cerita dengan alasan dan argumentasi yang beragam iya menyampaikan "visi dan misinya" yang antara lain : saya akan menjadikan pangkalan minyak tanah ini sebagai pangkalan minyak tanah yang "sesungguhnya", saya tidak akan menjual/alihkan minyak tanah kepada yang tidak berhak, saya prihatin melihat langkanya minyak tanah di kampung kita....dan seribu alasan yang lain.
    Alhasil, setelah sekian lama berselang....mudah-mudahan tidak ada satupun dari "visi dan misinya" yang terealisir!
    ......................
  37. From Dorna on 20 September 2008 20:22:50 WIB
    Buat ibu yang suka ngambek, dewasalah bu di dunia apapun ada saatnya menang dan kalah.Buat Pak SBY, awalnya aku mengagumimu yang berwatak teduh tapi koq aku kini hidupnya tambah susah toh pak.Buat Mas Prabowo dan Mas Wiranto, ayo bersaksi dengan jujur mengenai keterlibatan anda dalam kerusuhan Mei 1998 baru aku mau pilih anda berdua.
  38. From paul on 22 September 2008 13:47:51 WIB
    Mereka tak pernah mengerti apa esensi berkuasa untuk sebuah negara.
    kepentingan sesaat telah membutakan mata hatinya. sehingga mereka menganggap kursi kepresidenan adalah sebuah tahta yg harus dipertahankan dan diraih dengan cara dan "bentuk apapun".
  39. From Satochid Sosrodiredjo on 25 September 2008 05:06:45 WIB
    btul bung Paul, anda seorang palsafah yang baik, setuju
    Semoga ini menjadikan pelajaran bagi SBY untuk perbikan kedepan.
  40. From BUKTI SITEPU on 29 September 2008 16:04:51 WIB
    Saya sangat heran kenapa elit politik di Negara kita ini tidak pernah mau duduk satu meja, untuk membicarakan bagaimana bangsa ini bisa keluar dari segala permasalahan yang di hadapi. mereka hanya memikirkan kepentingan sendiri dan partainya. dan semua ingin menjadi nomor satu dengan segala cara. kedepan saya berharab baik itu pemimpin yang lagi memerintah maupun yang sudah enggak memimpin marilah kita semua bersatu memikirkan,berbuat untuk Indonesia kearah yang lebih sejahtra.
  41. From yanto on 17 October 2008 07:56:52 WIB
    Dalam istilah jawa ada ungkapan "handarbeni" atau merasa memiliki, kita tidak tahu rasa memiliki bangsa ini oleh mantan presiden kita sebatas apa, apakah sebatas rasa memiliki untuk kepentigan pribadi atau yang lain. Bila rasa memiliki bangsa ini hanya sebatas kepentingan pribadi tidak aneh bila mantan presiden kita saling merasa benar dan bagus programnya yang berakibat ganti presiden kesinambungan program sangat amburadul.Semoga para pemimpin negeri ini punya kesatuan misi untuk negera ini dan prioritas program utama yang perlu segera dilaksanakan dan didukung oleh produk hukum yang jelas, terperinci dan adil
  42. From Muhammad Khabib on 25 December 2008 23:56:37 WIB
    yah begitulah. semua merasa ia yang paling.................
    jadi merasa berat untuk saling berkunjung satu sam lain....
    mestinya ojo dumeh...............

    ojo rumongso biso, ananging bisoho rumongso. rak yo ngono sedulur.............................
  43. From Arie on 28 January 2009 04:33:18 WIB
    I love you all. rupanya banyak yg sehati ; serupa tapi tak sama di http://hnw.or.id/main.php?op=isi&id=2237
  44. From wongcilik on 16 April 2009 19:14:18 WIB
    Kejadian yang disampaikan WW tidak bisa dijadikan dasar kalau para mantan presiden tidak harmonis....tapi jika untuk satu sudun pandang, bolehlah untuk dicermati...
    kalau pun apa yang disampaikan WW benar adanya..berarti belum ada pemimpin yang benar-benar mengutamakan rakyat.
    mereka hanya MEMENTINGKAN KEPENTINGAN GOLONGANNYA dahulu dengan mengatasnamakan rakyat...
    ini seperti lingkaran setan yang tidak akan ketemu ujung pangkalnya...masing masing golongan ingin menonjolkan diri dan menunjukkan bahwa sayalah yang sangat berjasa bagi republik ini...

    Harus ada yang berani memulainya...
    Saya sepakat dg rekan diatas bahwa WW patut kita dukung..baik untuk P / VP...
  45. From guest888 on 23 April 2009 15:00:52 WIB
    Dari awal sudah sikut-sikutan, saling fitnah, membenarkan diri sendiri. terus dan terus . . .
  46. From rita.fr on 01 May 2009 22:32:56 WIB
    saya emang pengen cepet2 jadi mantan presiden.. capee rasanya ngurus negara ini...... pengen nyantai ah.. jalan2, makan2, tidur sepuasnya.. sedapppp
  47. From ali on 16 June 2009 11:44:44 WIB
    saya melihat, "rusaknya" politisi atau pejabat negara dalam menjalankan "amanah" rakyat, di karenakan warisan massa lalu yang amat buruk. semestinya para mantan pejabat memberikan teladan kepada generasi muda. sehingga proses kaderisasi pun berlangsung baik dan berkualitas. komentari juga tulisan saya:
    http://mencerahkan.wordpress.com/
  48. From Arief T on 15 July 2009 08:16:26 WIB
    Saya optimis indonesia akan lebih baik lagi 5 tahun kedepan, ya semoga para pemimpin mempunyai sikap yang baik dan bijaksana dalam mensikapi pemilu ini, soale semua akan bermula dari pemilu pilpres ini akan baik atau buruk, baik ekonomi, soialnya dan lain2. Pokoke go 60% growth of Indonesia for next five years.....

« Home