Articles

Outing Asik, Outing Unik

Perspektif Online
19 August 2008

Trip Report Outing IMX ke Surabaya 14-16 Agustus 2008


Oleh: Rasno Ahmad Sobirin

      Jakarta memang menawarkan seribu satu pesona bagi siapa saja yang ingin melihatnya. Dan Jakarta juga menyimpan berbagai kelu kesah bagi para penghuninya. Suasana sumpek, sesak penuh asap kendaraan, sampah dan orang-orang yang kadang jahil. Belum lagi banjir yang menjadi langganan Jakarta di musim hujan dan lain-lain. Kalau boleh dibilang sih, Jakarta bikin banyak orang stres. Masa sih....?

      Ngomong-ngomong masalah stres, daripada dipikirin terus malah bikin kita stres beneran, sejenak kita meluangkan waktu untuk sekedar say hello dengan suasana fresh di luar kota Jakarta. Yups! Tentunya Outing menjadi pilihan yang cukup representatif. Duh, bahasanya ribet amat.....

mau lihat foto lain dari outing ini: klik sini

      Tanggal 14-16 Agustus 2008 kemarin, rombongan IMX melakukan outing ke Kota Pahlawan, Surabaya Jawa Timur. Tiga hari dua malam menjadi waktu yang cukup untuk memanjakan diri dari suasana yang penat. ’Outing ke Surabaya mumpung ngga ada kerjaan’. Itu yang terpampang dari sebuah poster yang dipasang di depan bus untuk menandakan bahwa bus yang kita tumpangi adalah turis lokal dari Jakarta, hehehe...

      Jalan-jalan ke Surabaya tidak puas kalau tidak menengok museum Sampoerna atau House of sampoerna di Jl. Taman Sampoerna 6 Surabaya yang terletak di daerah “Sby lama” dengan bangunan Kolonial Belanda yg di bangun tahun 1862, di beli oleh Liem Seeng Tee tahun 1932 sbg pabrik pertama.

      Di kompleks ini ada museum yang menawarkan pengalaman unik dari sejarah keluarga pendiri sampai melihat dari dekat fasilitas produksi rokok linting tangan dan karywan perempuan di sini berjumlah 2900 karyawan dan menghasilkan lebih dari 325 batang perjam!

      Melihat ribuan pekerja rokok yang begitu menikmati pekerjaannya, mereka seakan tidak peduli dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang akan mengharamkan rokok.. Jika fatwa itu benar-benar dilakukan, maka konsekuensinya adalah pengangguran ratusan bahkan ribuan karyawan pabrik rokok di Indonesia. (please kasih komentar mengenai rokok ini ya) . Di lain pihak, apakah pekerja ini diberi imbalan yang seimbang dengan profit besar yang membuat pemilik menjadi salah satu orang paling kaya di Indonesia? Lagian, rokok itu jelas merusak tubuh manusia, jadi memang perlu dihentikan.

Selain dikenal sebagai kota pahlawan, Suarabaya juga dikenal dengan museum kapal selamnya atau Monkasel. Jadi, outing ke Surabaya juga dalam rangka memaknai 17 Agustus lho...karena bertepatan menjelang detik-detik proklamasi yang dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 2008 di seluruh penjuru tanah air. 


Menikmati Surabaya di Malam Hari 

Melewati jalan-jalan Surabaya malam hari menuju kawasan religi Ampel tidak kalah menariknya dengan suasana Kota Jogja atau kota-kota lain yang memiliki wisata religi yang sama. Ada masjid yang  ditemukan tahun 1418, termasuk bangunan Islam bersejarah di Jawa Timur. 

Jika kita sering melihat suasana hiruk pikuk pasar di siang hari, Surabaya menawarkan eksotisme pasar sayur tradisional yang bergeliat di malam hari. Namanya Pasar Keputran. Pasar ini selalu ramai dikunjungi para pembeli. Lalu lalang mobil dan truk yang memuat sayuran pun jadi pemandangan yang sangat unik. 


Hari kedua: Lapindo dan Lupa Bayar Makan....

Acara selanjutnya adalah menjemput WW dan Atun di bandara kemudian menuju kubangan ’bersejarah’ yang mejadikan Sidoarjo panas selamanya, yakni berkunjung ke Lumpur Lapindo. Sekitar 45 menit dari bandara Juanda Surabaya, Imxers sampai di depan tanggul lumpur Lapindo Sidoarjo. Kita bisa membayangkan 1200 hektar tanah yang merupakan 10 desa di Sidoarjo harus tertutup oleh lumpur panas Lapindo. 


Curahan hati para korban Lumpur seakan melengkapi kisah mereka yang ada di televisi. ”12000 hektar, Mas” ujar salah seorang korban. ”Uang ganti rugi yang 80% belum diberikan. Padahal kontakan sudah mau habis,” tambhanya. Miris memang melihat betapa sengasaranya mereka. Benar apa yang dikatakan WW, ”Kita mungkin bisa merasakan panas di Sidoarjo (lumpur), tapi hanya sebentar. Kalau mereka kepanasan seumur hidup”.  

kiri lumpur, kanan perumahan, tadinya, semua perumahan. adakah yang minta maaf?

Tidak hanya mereka yang tinggal di Porong Sidoarjo yang merasakan getirnya hidup setelah rumah, sawah dan harta mereka tertimbun lumpur, anggota Imxers yang juga asli Jawa Timur terlihat sedih melihat desa yang ditinggali oleh saudaranya ikut terendam lumpur. Pernah sewaktu berada di tretes, saya menyapa Pak Sunar, ”Wah, Pak Sunar kelihatan Segar dan gembira”. Apa jawabnya. ”Gundulmu! Memangnya saya tidak lagi memikirkan orang-orang yang tinggal di Sidoarjo itu.” Ups! Maaf Pak Sunar.

Spanduk-spanduk tuntutan mengenai ganti rugi dan spanduk bertuliskan ”BPN memutuskan No. 869-309-DII Tgl 24 Maret 2008 bahwa petok d, leter c:SK Gogol bisa di AJB Kan (di akta jualbelikan)”. (please kasih komentar mengenai lumpur Lapindo ya). Dari Lumpur Lapindo, rombongan outing menuju ke pusat oleh-oleh khas Sidoarjo. Apa lagi kalo bukan kerupuknya yang terkenal itu.


Lupa Bayar...

Masih berlanjut, setelah membeli oleh-oleh khas Sidoarjo, tim outing menuju ke rumah makan RM Karangjati di Pandaan. Bagi-bagi doorprise.. Pokoknya seru!

Seperti biasa, kalau tidak berpose alias foto-foto seperti ada yang kurang. Semua tim outing pun action berajajar bak keluarga besar. Jeprat-jepret pun usai. Rombongan melanjutkan prejalanannya menuju ke obyek wisata Tretes. Di tengah perjalanan, ada yang aneh dengan kita. Makanan yang barusan dimakan belum dibayar. Sementara perjalanan kita sudah sampai setengah jalan. Kok bisa lupa? Maklum. Kalau abis makan-makan, membayar adalah bagian terakhir dari seremonial ini. Jadi, lupa bayar wajar dong, hehehe.

Selesai minum kopi di Tretes, rombongan kembali melanjutkan perjalanan ke hotel. Tentu mampir terlebih dahulu ke RM Karangjati untuk menyelesaikan pembayaran tadi. Seperti tawanan, kita pun dikawal oleh orang RM Karangjati menggunakan sepeda motor. Takut kabur kalee....
 
Kejadian ini menjadi momen yang tak terlupakan. Selain heboh di IMX, di flickr sudah banyak komentar beragam. 16 Agustus kita mendarat di Bandara Sukarno-Hatta dengan selamat.....

Mau menghafal inisial imxers: silakan:

sorry, yang ditengah kegedean

* * *


 

 

Print article only

13 Comments:

  1. From wak tul on 19 August 2008 22:52:12 WIB
    Yth Pak WW dan pengunjung PO,

    Komentar I :
    Yg enak ngomongin makan dulu. Kalo lain kali ke Pandaan, Pak WW wajib mampir ke warung kepiting gundul. Selanjutnya perjalanan bukan ke Tretes, melainkan ke Sendang biru dan menginap di pulau Sempu. Syaratnya harus bawa tenda dan logistik secukupnya. Pulau Sempu masih demikian menarik, meskipun banyak mahasiswa/i mengotori dengan sampah yg mereka bawa dari kota. Sebelum menyeberang ke pulau Sempu, perlu membeli ikan segar untuk dipanggang untuk makan malamnya.
    Komentar II :
    Bahwa semua fatwa haram/halal, menurut pendapat saya adalah absurd. Kita perlu memperhatikan sikon ketika ajaran agama tsb ditulis. Kiranya 1400 th yll memang belum ada vaksin rabies, obat cacing, kholesterol, darah tinggi, etc. Maka keterbatasan ilmu pengetahuan memaksa orang membuat fatwa. Suatu hal yg diharamkan dalam ajaran agama tentu wajib diikuti. Namun demokrasi bukanlah pemaksaan. Bahwa rokok menganggu kesehatan memang benar. Karena itulah perubahan harus dilakukan bertahap, misal melalui pajak. Kalo rokoknya mahal, siapa juga yg mau beli ???
    Orang biasa semacam buruh linting adalah kalangan masyarakat yg sangat tangguh. Mereka bisa menerima perubahan yg soft. Namun perlu diingat, masyarakat tsb berada dalam kesejahteraan sangat jauh dibawah pejabat MUI. Selanjutnya, MUI bukanlah agama atau ajaran agama, apalagi nabi atau bahkan Tuhan...
    Komentar III :
    Meskipun saya pernah dibesarkan di Surabaya. Istilah kota pahlawan adalah istilah yg juga sama absurdnya dg Bandung lautan api. Bandingkanlah dg kota Dresden 13. Februar 1945 yg dihujani bom sebanyak 896 ton dalam 15 menit. Namun demikian, mereka dapat mengemas dg baik, so pasang bangkai kapal selam juga bisa jadi obyek wisata. Meskipun malu, karena negeri sebesar ini masih blom bisa bikin ndili...
    Komentar IV :
    Kasus lapindo adalah tragedi nasional yg dipelihara dalam kabinet terkini. Krupuk udang dan terutama ikan bandeng Sidoarjo, kiranya makanan terenak. Entah kenapa, ikan tsb sama sekali tidak bau tanah. Sangat berbeda dg ikan2 bandeng dari tempat lain.
    Tragedi tsb sangat lengkap, jika seandainya terdapat dan selanjutnya dikonfrontir dengan 5 karakter nasional yg (insya ALLOH) bernama :
    - Cinta Air
    - Cinta Lingkungan
    - Ramah Sikap
    - Kebersamaan
    - Keterbukaan

    Demikian, mohon maaf jika tidak berkenan...
  2. From sugabus on 20 August 2008 06:29:07 WIB
    Wah, sayang sekali sampeyan nggak sampai mengalami malam tujuh belas Agustus di Surabaya, Sidoarjo dan sebagian Gresik ... kalau lihat, sampeyan akan tahu bagaimana rakyat Surabaya memaknai hari kemerdekaan RI.

    Sudah menjadi tradisi sejak sekitar 15 tahun lalu, setiap tanggal 16 Agustus malam hari (biasanya dimulai selepas Isya'). Seluruh rakyat Surabaya dan sekitarnya mengadakan syukuran kemerdekaan. Seluruh jalan-jalan kampung (bahkan beberapa jalan utama)akan ditutup. tikar digelar di jalan-jalan. Saya sendiri sebagai orang Sidoarjo, kadang kesulitan pulang karena semua jalan di tutup.

    Biasanya sukuran ini dikoordinasikan di tingkat RT, atau RW. Semua (benar-benar semuanya nggak ada kecualinya lhoo) rakyat berbaur jadi satu mengadakan syukuran, ada yang mengadakan tahlilan demi mendo'akan pahlawan. Cerita dan wejangan dari sesepuh, saksi sejarah tentang bagaimana perjuangan dilakukan sampai acara makan-makan sederhana hasil swadaya urunan seluruh warga. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.

    Bagi yang ingin merasakan pengalaman tersebut ... silahkan tetap tinggal di Surabaya pada malam 17 Agustus. Nggak bakal rugi deh.

    From Melbourne with love

  3. From CL on 20 August 2008 07:44:28 WIB
    Sepakat sama Waktul soal Rokok dan larang2ngan

    Ngga usah dilarang
    soalnya semua yang dilarang malah bikin penasaran :)
    cukainya aja dinaikkan, informasi mengenai bahaya produknya ditingkatkan sosialisasinya, begitu juga edukasi ke target marketnya. Pasti nanti calon pembeli jadi mikir sendiri.

    Indonesia harus dibiasakan untuk mikir sendiri dalam menentukan pilihan.

    Tugas pemerintah hanya memberikan informasi sejelas2nya kepada rakyat mengenai yang baik dan yang buruk, dan memberikan peraturan pengamanan bagi penduduk yang dibawah umur (blm bisa memilih).

    Surabaya, kota dengan tanda mata dari salah satu orang terkaya di Indonesia dan orang terkaya di Asia Tenggara.

  4. From Elfarid on 20 August 2008 09:54:01 WIB
    Wisata Lumpur Lapindo ternyata bukan isapan jempol karena memang menarik sebagai singgahan para wisatawan untuk memuaskan keingintahuan bukan karena empati pada penderitaan para korban.

    Lumpur Lapindo ayak untuk dimasukkan sebagai obyek wisata?

    Salam,
    Elfarid
    http://elfarid.multiply.com
  5. From Threestar-Evoucher.co.cc on 20 August 2008 14:16:02 WIB
    sempat mampir ke lapindo ndk nih pak, apa tambah parah lapindonya?
  6. From faizal kamal on 21 August 2008 22:08:06 WIB
    Waduh . . . enak bgt dah sampai ke lapindo . . . ampe hari ini blom pernah kesana, pengen bGT,. . . lagi berusaha n berdoa supaya ada projek or yang dibilang diatas, .. acara wisata melihat lumpur lapindo . . . tapi kalo liat orang2 korbannya dtivi . . . rada gak tega juga pak. . . kita tamasya . . sementara mereka kehilangan tempat tinggal . . masih ada yang belom dibayar pula ganti ruginya .

    terimaksih sudah di perbolehkan berkunjung.
  7. From Kukuh on 22 August 2008 13:57:26 WIB
    Waaa, my hometown, Surabaya...
    T'nyata, Pak Wimar penasaran juga neh mampir ke kota kelahiran saya. Eiiits, ngomongin Surabaya, nggak lengkap kalo nggak ngegosipin makanannya. Ehm, udah makan tahu campur? Rujak cingur? Lontong Balap? Ato, yang simpel aja deh, lontong kupang? Ato, ini neh, yang sering digembor-gemborkan Pak Bondan di acara Wisata Kuliner, Rawon Setan? Belum ya Pak
    Wim? Kalo belum ya, itu namanya belum bener-bener jalan ke Surabaya..
    Ngomong-ngomong tentang Sidoarjo, Like what U saw when U were there, ya kayak gitu keadaannya Pak Wimar (eh, saya enaknya panggil Pak ato Om ya, Om aja kali ya, hehe). Coz Saya sekarang kuliah di Tangerang, pas pulang, nggak pernah sempet nengok kampung tetangga saya. Iya neh, kapan ya masalah ini bakal selesai? Beberapa bulan yang lalu, para ilmuwan sibuk berdebat, apakah lumpur lapindo ini disebabkan oleh kesalahan PT Lapindo Brantas ato memang fenomena alam. Media cetak nasional mengemas perdebatan tersebut dengan bahasa yang intelek. Biar dikira orang pinter kali ya, istilah yang dipake syusye-syusye. Capek deeh! Saya yang baca bukannya jadi ngerti, malah jadi tablo! Yang disayangkan dari perdebatan itu adalah, tidak ada pihak yang berinisiatif untuk mengambil jalan keluar terbaik untuk masalah ini. OMDO doang jadinya! Beruntungnya, banyak permasalahan yang muncul di negeri yang katanya GEMAH RIMAH LOH JINAWI ini. Kasus Mas Ryan (ama Ryan Giggs, saudaraan nggak?), BLBI, Suap Artalyta, sehingga kita (kita? Loe aja kalee..)sejenak terlena dan lupa akan kasus ini! Padahal, Mbak-Mbak, Mas-Mas, Mbah-Mbah, Mak-Mak, Pakde-Pakde, Bude-Bude (haloo, jangan disebutin semua dunk!) di Sidoarjo yang terkena imbas lumpur tersebut kini menderita. Trus, bubur panas tanpa ayam yang tertuang di Sidoarjo itu mau diapain sekarang... Hiks hiks, semoga masalah ini lekas teratasi, amin..

    LUPA BAYAR MAKAN..
    Ehm, nice topic. Kalo saya Om, lupa bayar sih nggak. Tapi, the most frequent and silliest habit is, saya suka lupa bawa duit kalo makan di warung dekat kosan. Untungnya, Mbak yang jual makan ngerti.. Kalo nggak, yaah, mau ditaruh di mana neh muka saya. Kalo di taruh di masakan Mbaknya seh enak, (hehe, sekalian makan lagi, n nggak bayar lagi!), nah kalo ada cewek yang ngeliatin, makin nggak laku dunk saya (lho, kok jadi curhat, hehe)...
    Maaf, agak sedikit keluar dari topik, nanya neh Om.. Kapan neh Om punya keinginan lagi untuk diwawancarai ma Mbak Fira Basuki bwt ngeluarin buku yang se-genre ma WIMAR WITOELAR: "Hell Yeah". I chew it coz it is very succulent, hem!
    Kapan-kapan, kalo lagi liburan, maen-maen lagi ke Surabaya ya.. entar Om maen ke Kenjeran n menikmati suasana laut di Surabaya tercinta. Ya, meski nggak sebersih dan senyaman pantai-pantai lain di Surabaya, at least we have something to show.
    Ayo Pak Lik Wimar, nek nang Suroboyo maneh, sampean nulis artikel disik nang perspektif ben aku ngerti(Ayo Om Wimar, kalo ke Surabaya lagi, Om nulis artikel dulu ya di perspektif biar aku tahu..)
    Yuhuuu...
  8. From wak tul on 22 August 2008 15:56:48 WIB
    Yth Pak WW,


    Meskipun risikonya sangat besar, kiranya ada 2 kemungkinan menggugat class action :
    - Melalui jalur PBB, ditujukan kepada kabinet terkini
    atau
    - Boykott pemilu via jalur GOLP.
    Kita perlu caleg dan calex serta calon2 lainnya yg paham dan peduli dg sikon RI. Jika slogan kampanye nya pasti, ya kita masih bisa pertimbangkan utk memilih. Namun demikian, tidak ada mulut yg bisa dipercaya. Kalopun ada sangat sedikit sekali. Jadi kiranya seorang caleg/calex atau calon2 lainnya harus punya kontrak yg jelas dg penguasa diatasnya.

    Apa mau dikata, mental kita memang masih mental terjajah. Jangankan masyarakat atau orang lain, sejauh belum merasakan dampak langsung, Tuhan pun masih akan dikibulin. Sebab setiap pemikiran, perkataan dan perbuatan baik dalam hidup kiranya adalah ibadah....

    Salam
  9. From wimar on 26 August 2008 03:21:29 WIB
    keingintahuan >> pengetahuan >> empati
    ................
    orang ingin tahu lebih banyak dengan berkunjung kesana, untuk bisa meningkatkan empati.

    jangan sampai tanggapan pada orang yang ingin tahu, lebih dibahas daripada masalahnya sendiri. Lepas dari faktor penyebab awal luapan lumpur, yang disesalkan adalah bahwa pengusaha Lapindo dan penguasa negara tidak menunjukkan empati pada masyarakat, malah tidak mau minta maaf sekalipun.

    Sering terjadi bahwa kesalahan penguasa tidak lagi dibahas, malah yang muncul adalah kritik antara orang yang tidak bersalah.
  10. From Bientono Soedjito on 26 August 2008 12:30:13 WIB
    Saya ini orang Surabaya walau bukan kelahiran Surabaya tapi dari kecil sampai lulus sekolah tinggi terus di Surabaya dan hijrah karena mau cari wawasan yang lebih luas.

    Surabaya memang menyenangkan terutama makanannya tapi yang belum hilang sampai dengan sekarang adalah nyamuknya. Padahal sudah banyak berdiri kompleks elite tapi kok si nyamuk ini masih terus menyerang, sampai2 Hotel berbintang di Surabaya yaitu Hotel Hilton tutup gara2 diserang nyamuk, gak laku.

    Apa Pemda gak bisa nanggulangi sih, di Australia juga banyak sekali lalat tapi ada usaha dari pemerintah bersama warganya menanggulangi serangan lalat sehingga kita ditempat umum tidak terganggu. Kalau di Indonesia, wah biarin aja bukan urusan gue sementara korban demam berdarah karena gigitan nyamuk banyak berjatuhan.

    Gimana kalau uang hasil korup sebagian disita dan dialokasikan untuk beli baygon biar rakyat tidak diserang nyamuk.

    Mohon maaf Pak Pemda Surabaya
  11. From wak tul on 27 August 2008 04:10:29 WIB
    Yth Bapak Bientono Sudjito,

    Semua itu berkaitan dengan sistem. Siapapun presidennya, siapapun walikotanya, siapapun lurahnya harus berani berbuat salah demi kebenaran.
    Saya kira di Australi bisa akses site berikut :

    http://www.youtube.com/watch?v=aF9dDaoBc0g

    http://www.youtube.com/watch?v=PHkRc9s7PGg&feature=related

    http://www.youtube.com/watch?v=U3Lm4bv0Inc&feature=related

    Saya ingin Beliau jadi Presiden RI. Beliau memang bukan doktor, tapi punya wawasan bagus...

    A/way, saya ga suka baygon Pak. Mendingan tanam bunga lavendel saja, nyamuknya pergi sendiri. Ada banyak cara yg ramah lingkungan dalam menanggulangi hama...
  12. From ariyanti(imx tour leader went outing) on 09 September 2008 12:07:47 WIB
    yes...rie tggu yach kpn dtg k sby lagee..
    featurena krg legkap mas rasno..hehe..not bad koq..
    pak WW pgn ngunjungin mana lage d sby??
    soal k lapindo kpn2 qta coba klo full moon wah keren tu...
    mksich buat imx crew and mr.ww..
    c u soon..jkt i\'m coming hehe...
    maaf wktu itu ga neme3nin mpe airport and mbak rani foto2nya mana??
  13. From Rasno on 15 September 2008 10:55:15 WIB
    Cukup ke Surabaya aja deh, hehehe. Soalnya, kalau berkunjung ke Lapindo nanti ada yang 'sentimen' kalau ke Lapindo hanya bisa tersenyum melihat lumpur Lapindo di atas penderitaan rakyat Sidoarjo.

    Sementara kita mampir ke Lapindo sekedar melihat keadaan yang begitu mengharukan bila kita lihat di media massa. Kita ke Sidoarjo melakuakn aksi empati, bukan aksi bersenang-senang. Jadi, sangat keliru kalau ada yang berkomentar ke limpur Lapindo hanya melihat kesengsaraan rakyat Sidoarjo...

« Home