Articles

Apologia Keberpihakan

Perspektif Online
24 February 2002

Resensi Buku No Regrets
Oleh Luki Witoelar

Ketika Wimar menerima tawaran Gus Dur untuk menjadi jurubicara Presiden, banyak sekali penggemarnya dan sahabatnya yang menyayangkan itu, terutama karena Wimar akan kehilangan “kenetralannya”. Wimar jawab, bahwa dia tidak pernah netral: waktu Soeharto masih presiden dia selalu kritik Soeharto, demikian juga waktu Habibie. Kebetulan dia setuju dengan Gus Dur sebagai pesiden meskipun banyak yang ngecam dan karena itu dia ingin bantu. Ini tidak berarti bahwa dia tidak melihat dan mengkritik kekurangan Gus Dur. Kepada CNN Wimar pernah bilang dalam suat wawancara bahwa Gus Dur dapat angka A+ untuk wawasan tetapi C- untuk management. Dan Gus Dur tahu itu. Dan Wimarpun tahu bahwa Gus Dur tahu. Karena itu dia kemudian menerima penunjukannya, ialah karena dia tidak ingin hanya jadi “pengamat” saja, dan beranggapan dia sanggup bantu Gus Dur dalam bidang komunikasi, yang merupakan expertise dia dan kelemahan Gus Dur.

Buku “NO REGRETS” ini sangat mudah dibaca (dalam bahasa Inggeris yang sempurna) dengan gaya yang mengingatkan kita kepada Ted Sorensen, tetapi sarat dengan humor gaya khas Wimar: ialah menerangkan sesuatu yang sukar menjadi sesuatu yang mudah dimengerti. Dengan buku ini Wimar lebih kurang berhasil mengemukakan alasannya kenapa dia terima penunjukan itu. Kenapa dia dengan demikian berani mengambil risiko untuk - paling sedikit - mengurangi popularitas dia waktu itu. Dia telah menyanggupi melaksanakan sesuatu yang tidak mudah dan tidak populer, ialah mengkomunikasikan kehendak seorang presiden yang kadang kadang (bahkan seringnya) sukar dimengerti kehendaknya. Alasan penerimaan penunjukan itu adalah: ikutilah jeritan hati anda, jangan pertanyakan hasilnya. Juga dia berhasil meyakinkan kepada kita, kenapa sekarang dia tidak menyesal dengan “ketidak berhasilan”nya itu.

Meskipun riwayat hidup (yang bahagia) Wimar dan keluarga sambil lalu diceritakan, buku itu terutama menyoroti apa yang terjadi pada waktu Gus Dur menjabat Presiden sampai diturunkannya, sehingga kejadian kejadian yang masih segar dalam ingatan kita (tetapi seolah olah sudah lama berlalu) jadi hidup lagi, ditambah dengan cerita cerita latar belakang yang tidak kita ketahui. Saya saja yang sangat dekat dengan dia banyak tidak tahu mengenai mengenai latar belakang pada waktu terjadinya. Dengan sendirinya, buku ini banyak memuat anekdote dan cerita cerita “now it can be told”. Tentunya, sebagian tokoh barangkali akan tidak senang membaca yang diceriterakan mengenai mereka dalam buku itu, yang sebetulnya kebanyakan sudah diketahui umum dan dimuat dikoran koran pada waktu terjadinya. Dan disitulah salah satu nilai buku (seperti) ini: janganlah hal hal sebetulnya jangan dilupakan itu akan terlalu mudah dilupakan, umpamanya: siapa sekarang yang ingat mengenai skandal Bank Bali dan siapa tokoh yang terlibat didalamnya?

Wimar juga bercerita mengenai pengamat politik lainnya, terutama para tokoh yang seolah olah ada di kayangan, seperti Gunawan Muhammad dan Nurcholish Majid yang merupakan guru dari orang Indonesia, dan mengenai sahabatnya Bambang Harymurti, yang menurut Wimar adalah pejuang kemerdekaan pers demi kemerdekaan pers. Wimar berpendapat bahwa semuanya itu harus diperjuangkan untuk kesejahteraan rakyat, apakah itu demokrasi, kemerdekaan pers, anti KKN, penegakan hukum dll. Bukan demokrasi demi demokrasi, apalagi hokum demi hukum. Bahwa ada saatnya dimana kita harus meninggalkan “kenetralan”. Saya tidak luput mendapat kesan bahwa Wimar agak cemburu terhadap mereka, yang selalu dalam singgasana tak terganggu, karena mereka tidak mau atau tidak diajak ikut bertanggung jawab dalam pelaksanaan menjalankan negara, sehingga mereka selalu bisa “netral”. Justeru karena dia penuh kritik terhadap Gus Dur tetapi setuju bahwa Gus Dur lah orang yang menimbulkan harapan, dia bikin keputusan untuk membantu Gus Dur, waktu diminta. Dia tidak ingin tetap sebagai salah satu “beste stuurlui aan wal”, yang bagi dia pribadi paling mudah untuk tetap atau bahkan bertambah populer. Tentunya, kesediaan membantu Gus Dur itu karena dia yakin bahwa Gus Dur mewakili aspirasi dia. Karena itu dia tidak ingin disebut “netral”, tetapi dia “committed”, malahan sangat committed untuk suksesnya konsep makro dari Gus Dur, dan tahu bahwa dalam implementasinya hampir tak mungkin karena Gus Dur praktisnya hanya sendirian sehingga harus dibantu. Selama membantu Gus Dur, ternyata tidak sedikit orang yang dipercayai Gus Dur menggunakan Gus Dur untuk kepentingan golongannya masing masing atau dirinya sendiri.

Lain dari tokoh pemikir lainnya yang memang dianggap “guru” dan senang ingin menggurui, Wimar paling ingin bahwa dia dianggap mewakili “orang biasa”, dan keinginan ini selalu dia tonjolkan dimana ada kesempatan. Meskipun banyak sahabatnya yang menamakan dia orang biasa yang luar biasa.

Bagi dia, guru dan idola adalah Gus Dur, dan ini tidak dia sembunyikan dalam seluruh buku. Sebetulnya Gus Durlah yang menjadi thema central buku ini, wawasannya dan kemanusiaannya. Sangat menarik, umpamanya, bagaimana dia mengillustrasikan Gus Dur sebagai “manusia biasa” waktu dia ceritakan bagaimana Gus Dur janji simpan otak otak bagi Wimar di lemari es.

Dia sangat sedih pada waktu Gus Dur diturunkan dari kepresidenan. Tetapi dia tidak pernah kehilangan optimisme, juga dia anggap bahwa kepada Megawati harus diberikan peluang dan bantuan, karena meskipun - menurut Wimar - naiknya Megawati menjadi Presiden dengan cara yang tidak sah, "anak tidak sah itu tidak berdosa"

Buku ini diakhiri dengan nada optimisme, bahwa bagi dia (dan juga bagi saya) Gus Dur telah menunjukan kepada kita, bangsa Indonesia, apa yang mungkin kita capai.

Print article only

2 Comments:

  1. From keket on 01 October 2006 16:02:22 WIB
    semua orang punya hak untuk berpihak, tak terkecuali ww.
    apabila ww yang memutuskan untuk menjadi jubirnya Gus Dur, ini menandakan keberpihakkannya.
    prinsip dan hati nurani ww yang membuatnya bisa menyatu dengan ketulusan dan kesederhanaan seorang Gus Dur.
    bagaikan kemeja dan celana, begitulah ww dan Gus Dur, sangat klop sekali.
  2. From Dartono on 07 November 2007 09:52:23 WIB
    Assalaamu'alaikum Mas Wimar ...!
    Saya adalah salah satu pengagum Anda. Bukan karena gemuk subur ( sering jamu barangkali ), atau krn kepopuleran Anda. Akan tetapi saya kagum dengan kejujuran Anda. Memandang segala sesuatu secara telanjang, apa adanya. Juga keberpihakan Anda pada orang - orang jujur. Saya sependapat dengan Anda, bhw Gus Dur adalah orang yang apa adanya. Hanya barangkali kita belum sampai pada kebesaran idenya.

« Home