Articles

McCain yang semangat, Obama yang tenang

Koran Sindo
06 October 2008

PRESIDEN KITA

Pada waktu perang Irak sedang memojokkan Bush secara militer, McCain mendukung action berani dalam bentuk 'surge'. Menurutnya AS bukannya harus mengundurkan diri tapi malah menambah pasukan sehingga mendominasi di medan pertempuran. Surge dijalankan dan betul juga, perlawanan turun drastis dan situasi lapangan terkendali. Tapi ketegangan tetap berlangsung karena kemenangan militer tidak membawa rekonsiliasi politik.

Kedua kali McCain melakukan gambling adalah ketika ia ketinggalan dalam kampanye presiden, sebelum Konvensi Partai Republik. Kerapihan Obama memenangkan nominasi hanya sebentar menguasai headline media. Beberapa hari sebelum konvensi dimulai, McCain membuat kejutan dengan mengumumkan nama Sarah Palin sebagai calon Wakil Presiden. Pidato Palin yang segar memukau konvensi dan membuat sensasi ledakan media. Tapi kemudian balon Palin cepat kempes karena ternyata Gubernur Alaska ini tidak tahu banyak diluar masalah sehari-hari sekitarnya. Kampanye McCain kandas lagi.

Profil McCain sebagai penggemar gambling politik makin jelas lagi ketika dia mencoba menyelamatkan kampanye yang merosot lagi dengan menarik perhatian dalam menghadapi krisis Wall Street. Setelah diam tanpa komentar beberapa hari, mendadak McCain mengumumkan bahwa ia menghentikan kampanye untuk pergi ke Washington membantu tim Kongres dan pemerintah merumuskan paket penyelamatan ekonomi. McCain juga menyatakan tidak mau debat sampai paket itu siap. Ternyata, kehadirannya di Washington tidak jelas hasilnya dan McCain mau juga debat kendatipun paket belum siap.

Orang bilang, gambling dalam satu pertandingan tidak boleh dilakukan lebih dari tiga kali. Jatah gambling McCain sudah habis, juga kampanye Partai Republik karena kalah dalam tiga issue penting: Perang Irak, kredibilitas cawapres, dan peran ekonomi. Kekalahan yang lebih besar lagi adalah terbantingnya peran sebagai leader dengan grasa-grusu seperti anak muda yang terlalu bersemangat tapi tidak menghasilkan apa-apa. Sebaliknya, Obama tampil tenang.

Obama tidak banyak punya prestasi politik tapi sangat cerdas memilih strategi yang disesuaikan keadaan. Pada awal tampilnya di gelanggang politik nasional ia menampilkan 'brand' yang kuat. Inteligensi tinggi produk Columbia dan Harvard dan latarbelakang pribadi internasional dilengkapi dengan gaya bicara yang inspirasional langsung menempatkan dia sebagai figur romantis dalam arti politik. Tapi setelah dia menjadi tokoh yang dominan, ia mengundang pengamatan yang tidak jarang disertai skeptisisme bahkan kecurigaan. Maka dia mengambil jalan yang mengurangi profil pribadinya dan menekankan issue nasional yang penting bagi rakyat Amerika: Politik luar negeri termasuk perang Irak, dan kemunduran ekonomi yang ditandai dengan angka pengangguran yang tinggi dan defisit perdagangan yang meningkat. Obama mulai menekankan masalah orang biasa dan memproyeksikan diri sebagai orang biasa. Untuk punya daya tarik pada golongan tengah, dia bersikap rekonsiliatif dengan orang dari partai seberang dengan tetap menekankan George W. Bush sebagai orang yang menghancurkan kondisi AS setelah diangkat oleh pemerintahan Demokrat selama delapan tahun dibawah Bill Clinton.

Ketika John McCain menggunakan kepahlawanan dalam perang Vietnam sebagai modal, Obama melihat ke depan dan membuat seleksi terhadap relevansi masa lalu. Obama tidak pernah mengatakannya, tapi orang bisa melihat bahwa Perang Vietnam bukan perang yang punya kehormatan (apakah ada perang yang terhormat?). Lagipula. McCain dan AS tidak memenangkan Perang Vietnam.

Terakhir ini, ketika Senator dan anggota House panik menerima usulan paket dari Menteri Keuangan Henry Paulsen, Obama bekerjasama dengan pimpinan Partai Demokrat dengan tenang dalam menyusun paket penyelamatan yang lebih baik. Singkat cerita, sekarang sudah disahkan oleh House dan diumumkan oleh Presien.

Aneh, klise mengatakan orang tua pasti tenang dan orang muda pasti bersemangat. Kenyataaan dalam politik adalah bahwa orang punya segi tenang dan segi bersemangat, dan pinter-pinternya politikus untuk memilih gaya yang tepat. Tapi disini letaknya kelemahan McCain yang dulunya menjadi kekuatan. McCain adalah orang yang tulus dan jujur dan patriotik. Tapi sekarang ketulusannya membawa bencana, dengan obsesi untuk menjadi Presiden. Akhirnya dia pakai berbagai taktik politik termasuk gambling. Ia mengorbankan karakter politik asli sebagai moderat dan menempatkan diri di barisan orang konservatif yang mempunyai banyak perbedaan nilai dalam penerapan agama, kebijaksanaan science dan issue seperti aborsi.

McCain adalah seorang Hero, dan ada yang mengatakan masalah masyarakat susah ditanggulangi oleh seorang Hero, sebab mudah bagi seorang Hero untuk manjadi Penjahat, yang dua-duanya orang berkarakter kuat. Batman yang menjadi Dark, Spiderman yang menjadi melenceng, Superman yang menjadi Superbad merupakan bagian dari tradisi cerita budaya pop. Yang perlu dalam kepemimpinan nasional adalah komunikasi dengan publik, mengerti aspirasi orang biasa. Dan diantara sekian banyak modal karakter untuk menjadi pemimpin, yang paling utama adalah konsistensi. Obama konsisten dalam satu tema, yaitu menggarisbawahi kesalahan Bush membawa negara AS ke titik sangat rendah.

Wimar Witoelar

Print article only

13 Comments:

  1. From aneeta on 06 October 2008 19:24:20 WIB
    a nice piece!

    McCain terpojok, and helplessly make himself look weak. and worse, reveals his acute hatred toward obama. he's so white!!

    Dia terjerumus oleh perannya sendiri, benar. Tapi menurut saya, kadang2 Obama juga terjebak dengan perannya sendiri yang "change we can believe in". Maksud saya, terkadang saya juga bener2 mempertanyakan ketulusan Obama, untuk misalnya duduk dengan Iranian government tanpa syarat (meski artinya bukan berarti tanpa persiapan). Apakah benar Amerika akan benar2 menjadi negara yang jauh lebih ramah di tangan Obama? Siapapun presidennya, saya yakin US will still be US (dengan daftar musuh dan ally-nya).

    Tapi memang tidak salah jika kita mengharapkan Obama menarik pasukan US dari Irak, just like what he said/promised.

    I am frenzied about Obama (yeah... im one of them!), tapi bagaimana pun juga, dia sedang berkampanye dan berharap simpati (saya salah satu yang terbius).

    But, it is still exciting to test americans, to see how "sane" they are toward democracy, equality, etc etc... We'll see.

    PS: yang jelas ogah banget kalo Palin. She is the woman of mass destruction!!

  2. From Rizal Najjara on 07 October 2008 09:05:55 WIB
    Breaking News

    Saking depresi, tim kampanye McCain merubah slogan untuk menggenjot popularitas menjadi "JOHN McCAIN: THE WHITE OBAMA"
  3. From mansur on 07 October 2008 15:47:36 WIB

    Pertarungan Capres AS McCain vs Obama memberi isyarat penting kepada kita di Indonesia bahwa isu tua - muda tidak relevan dalam Capres.

    Ada juga yang muda seperti Cawapres Republik Sarah Palin tapi tidak tahu banyak di luar masalah sehari-hari. Sebaliknya, ada juga yang tua seperti Cawapres Demokrat Biden tapi sangat capable.

    Jadi dalam hal ini yang penting adalah profil dan visinya.
  4. From Rasno on 11 October 2008 15:40:40 WIB
    Kampanye McCain dan Sarah Palin juga terkesan tidak jelas. Tidak tahu arah. Uapaya pembunuhan karakter yang dilakukannya terhadap Obama juga nol. Sarah Palin pernah mengatakan kalau Obama ada hubungan erat dengan orang Al-Qaeda. Sementara Orang Alqaeda merupakan angkatan tahun '77. Jelas tidak masuk akal karena pada tahun tersebut Obama baru berusia 8 tahunan.

    'Alon-alon asal kelakon'. Mungkin itu prinsip yang dilakukan Obama dalam memenangkan Pemilu mendatang. Tenang tapi pasti...
    Tidak sia-sia dong Obama pernah tinggal di Indonesia, hehehe...

  5. From Raya on 12 October 2008 19:59:14 WIB
    Bang Wimar, mau nanya dong, saya sih kurang ngerti politik yah, tapi dengar2 Obama itu pro-aborsi yah? Dari perspektif mana ini bisa menjadi sesuatu yang baik?
  6. From mantan kyai on 13 October 2008 06:24:14 WIB
    mc cain mah veteran. pernag mulu pikirannya :D
  7. From wimar on 13 October 2008 06:38:03 WIB
    Raya, Amerika Serikat adalah negara yang memisahkan negara dari kehidupan pribadi. Karena dasarnya mereka membuat negara untuk melindungi kehidupan pribadi, maka banyak nilai-nilai moralitas diserahkan pada pribadi, keluarga, ajaran agama dan kelompok masyarakat diluar negara.
    Aborsi termasuk keputusan penting dan berbahaya yang terlalu mendasar untuk direbut negara dari masyarakat. Ibu yang akan melahirkan dilindungi haknya untuk mengambil keputusan mengenai dirinya.
    Karena itu tidak dikenakan larangan hukum. Obama hanya salah satu dari sebagian besar orang, terutama di Partai Demokrat, yang menganut pelestarian nilai pribadi.
  8. From sonnie on 13 October 2008 12:28:31 WIB
    ayo Obama saya dukung kamu, kirim sms nya kemana nih??
  9. From DS Rachmat on 16 October 2008 08:07:33 WIB
    Kita kok jadi ngomongin Capres negara Amerika ya!

    Om Wimar jelasin dong ke kita-kita yang awam masalah sosial politik tentang efek dari terpilihnya McCain atau Obamma menjadi presiden AS kelak.
  10. From dwitanaya on 18 October 2008 12:03:28 WIB
    Saat menonton debat kedua calon ini di televisi, secara penampilan saya melihat McCain sebagai sosok yang sangat bersemangat, punya intonasi yang kuat. Obama, seperti yang Om Wimar tulis, tenang...sedikit tersendat tapi terstruktur. Nah, ternyata itu bawaan ya Om ...
  11. From astree on 27 October 2008 16:57:13 WIB
    om wimar, bikin juga donk isu politik menjelang pemilu, yang sesuai dengan ada di lapangan....biar bisa menentukan pilihan yang tepat di pemilu nanti...thanks
  12. From suzy on 04 November 2008 15:14:12 WIB
    viva obama....
  13. From Idemenulis on 09 November 2008 10:49:44 WIB
    N the winner is...... BARACK OBAMAAAAAA!!!!

« Home