Articles

Merawat Kebinekaan Kita

Perspektif Online
15 November 2008

Oleh: Didiet Adiputro

Kebinekaan dan Keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia rupanya masih banyak dipandang sebagian pihak sebagai sesuatu kelemahan kita. Padahal jika ingin dilihat lebih bijak, justru kebinekaan adalah sumber kekuatan utama bangsa kita, yang karena berbeda-beda itulah maka Indonesia dapat bertahan sebagai bangsa yang besar hingga saat ini. Sehingga toleransi antar umat beragama harus terus dijaga untuk merawat kebinekaan kita.

Pada hari ulang tahun ke tiga acara Kongkow Bareng GusDur yang diadakan di Kedai Tempo, Utan Kayu inilah perbincangan tentang pluralisme di Indonesia dengan tema  ”Merawat Kebinekaan Kita” berlangsung. Beberapa tokoh yang secara garis besar mendukung gagasan Gus Dur tentang pluralisme dan tentunya anti UU Pornografi hadir juga dalam diskusi ini. Diantaranya adalah dua orang mantan Juru bicara Gus Dur Wimar Witoelar dan Adhie Masardi, Gus Nuril Arifin, Bondan Guawan, Ayu Utami, Goenawan Muhamad dan Romo Mudji Sutrisno.

00kongkow.jpg

sebagian pembicara

Ketika bicara pluralisme maka salah satu pendekar yang selalu kita ingat dalam memperjuangkan ide tersebut  adalah Gus Dur, karena beliaulah yang mampu merawat dan menghimpun Indonesia dalam kebinekaan, begitulah menurut Romo Mudji. Bahkan Ayu Utami menganggap Gus Dur adalah sosok yang mampu mengumpulkan banyak titik simpul yang berbeda menjadi satu.

WW juga sedikit bercerita tentang pengalamannya bersama Gus Dur dalam suatu perbincangan. WW bertanya pada Gus Dur,
WW:  ”saya ini Islam apa ngga Gus?
GD:    ”Menurut mas Wimar?”
WW:  ”Ya Islam”
GD:    ”Ya sudah..”
Dari situlah WW merasa bahwa Gus Dur sangat terbuka, dan karena itu pula berhasil meyakinkan bahwa pluralisme itu hidup. Dengan begitu ada gunanya juga  seseorang masuk ke dalam politik untuk menghindari penyelewengan negara terhadap pluralisme.

Sensitivitas kebanyakan orang Indonesia yang mudah marah tapi bukan pada tempatnya  disinggung oleh Gus Nuril Arifin. ”Saya bingung sama orang Indonesia, kalau ada orang masuk masjid pakai sendal mereka marah, tapi kalau masjid dan pesantren mereka ditimbun oleh Lumpur panas mereka malah nggak marah”, singgung Gus Nuril. 

UU Pornografi yang masih kontrovesialpun tak luput jadi bahan perbincangan di diskusi yang dipandu aktivis AKKBB Guntur Romli ini. Bagi WW, undang-undang ini memiliki banyak kelemahan diantaranya menjadikan perempuan sebagai objek yang paling dirugikan dan mulai ikut campurnya negara dalam urusan moral yang privat. Multitafsirnya undang-undang yang ditolak oleh beberapa provinsi ini juga diungkapkan oleh Gus Dur. Karena beberapa dokumen Al Quran tentang menyusuipun bisa dianggap cabul. ”Mana mungkin menyusui tanpa nyopot kutang”. 

Jadi pertahankan dan rawat kebinekaan kita sebagai bentuk kecintaan kita terhadap bangsa.

00audience.jpg

suasana di kedai tempo


Update: Karin juga menulis di blog-nya:

Perbedaan itu seperti jari tangan, berbeda-beda bentuk tapi saling melengkapi dan saling membantu. Coba kalo jari kita seragam bentuknya -jempol semua- enggak indah sama skali dan enggak bisa kerja sama kan?!

Baca selanjutnya di Menjaga Perbedaan

Print article only

27 Comments:

  1. From theRons on 15 November 2008 18:57:10 WIB
    masyarakat terus berkembang, begitu pula dengan kebhinekaan..
    orang sekarang kayaknya butuh hasil yang bisa mengenyangkan perut mreka.klo dengan berbhinneka mreka bisa lebih punya banyak uang kayaknya kebhinnekaan akan tumbuh subur. tapi kalo sebaliknya, dengan berbhinneka mreka semakin tertekan atau sulit cari makan ya sama aja.
    intinya sekarang ini, apa sih keuntungan nyata kita berbhinneka?
    memang harus kita lihat lagi ke belakang, berdirinya negara ini adalah kebhinnekaan yang dapat dipersatukan oleh tujuan mulia yaitu kemerdekaan..!

    NGOMONG OPO SIH AKU? KOG GAK DONK...HAHAHAH
  2. From philip on 15 November 2008 23:05:46 WIB
    salam kenal..saya sepenuhnya mendukung gagasan pluralisme demi menjaga ke-bhinekaan kita. Ada banyak hal dan kepentingan yang harus di waspadai yang secara sistematik mulai merusak tatanan hidup bangsa indonesia..thanks buat sharenya..
  3. From Agustin on 16 November 2008 00:28:54 WIB
    sebnarnya...hanya pertanyaan sederhana ketika UU pornografi disahkan " sebenarnya apa sih tujuan dan maunya pencetus sekaligus penyusun dari UU in terhadap bangsa kita?"

    Benar sekali kata Gus Dur...sehingga saya tidak bisa bayangkan saudara2 kita yang di pedesaan.."bukan irian ataupun kalimantan tapi cukup di pulau jaw aja", banyak dari mereka bertelanjang dada (hanya ber kutang) di linkungan rumah sampai di halaman. Juga gaiman repotnya media untuk mengatur agar tidak terkena pasal uu ini?
  4. From jaka on 16 November 2008 12:26:48 WIB
    SAYA MAH SETUJU SAJA,KALO KITA SEMUA KUMPUL JADI SATU BANGSA YG AKUR, WALAUPUN BEDA SUKU DAN BAHASA .

    HANYA SAJA YG KITA PIKIRIN ADALAH ORANG2 YG TIDAK SUKA PADA KEBHINEKAAN ITU SENDIRI..TERUS POLITISI DAN ORANG2 BERSERAGAM PLUS MANTAN2NYA YG SUDAH TIDAK SETIA LAGI PADA SAPTA MARGA, PADA NIMBRUNG INGIN MEMANFAATKAN PERBEDAAN INI..SAYA PIKIR KANG WIMAR DAN GUS DUR PASTI TAU JUGA DEH SOAL YG SATU INI..HE HE HE...

    YG PENTING SEKARANG MAH,BAGAIMANA CARANYA MENDIDIK SELURUH BANGSA INDONESIA ( BAIK RAKYAT JELATA MAUPUN RAKYAT YG JADI PEMIMPIN ) TAU HAK DAN KEWAJIBANNYA DIDALAM HIDUP BERSAMA DGN BANYAK PERBEDAAN INI..ITU KALAU BANGSA DAN NEGARA INI TIDAK MAU DIJADIKAN 7 NEGARA ,SEPERTI YG GUS DUR UNGKAPKAN BEBERAPA WAKTU LALU...

  5. From Look it 2 on 16 November 2008 14:53:52 WIB
    Pedas juga sentilannya Gus Nuril ttg sensitivitasnya, aku juga punya pikiran yg sampe saat ini belum terpecahkan, yaitu ttg bom. Kok bisa or kok mau2nya bangsa kita yg besar di-obok2 ama org negri jiran: atu udah kena timah panas, tapi atu lagi entah kemana? kalo diumpetin ama org Indonesia juga itu namanya t e r l a l u !
    Sayang sekali pandangan mpu Tantular ttg kebinekaan sejak zaman baheula tidak bisa dicerna dgn baik oleh sebagian masyarakat Indonesia, jadi masih jauh kalo dibandingkan dgn Amrik yg bisa milih \'black president\' malah seteru dlm pemilihan partai Demokrat sendiri bisa jadi Secretary of State.. ini tentunya menjadi pr utk pemimpin kita \'apakah bisa berdampingan dgn bekas seteru dlm mengatur negara?\'
  6. From Dhemy on 16 November 2008 15:17:35 WIB
    Saya juga ga ngerti apa apa masalah UU Pornografi, ga punya bayangan juga apa yang ada di dalam hati yang paling dalam dan yang paling tulus dari para pencetus UU Pornografi ini. Muatan politis kah atau apalah what ever .....
    cuma saya sedih sekali kemarin membaca berita di jambi ada sekumpulan anak-anak sd (5 orang) pesta sex dengan memperkosa teman sekolahnya, gara gara terpengaruh tayangan-tanyangan tv dan situs situs pornografi....
    Entah bagaimana menanggapinya......
    haruskah saya mendukung UU pornografi ???
    atau saya harus ikut menentangnya
  7. From desiree on 16 November 2008 20:19:22 WIB
    Tidak mendukung UU Pornografi kan bukan berarti mendukung pornografi.. yang banyak ditentang kan adalah isi dari UU ini yang kurang menghargai pluralisme dan sistemnya yang dirasakan kurang proporsional utk diterapkan.
    Tentu saja pemerintah boleh mengatur soal pornografi yang memberikan efek negatif kepada moral masyarakat. Tapi batasannya dan sistemnya jg harus pas, jangan melampaui ruang pribadi kita dan bisa 'menghina' kebhinekaan bangsa ini yg sudah dipupuk sejak lama. Yaa.. walopun kita jg tidak mesti seliberal Amerika.
  8. From Intox on 16 November 2008 21:26:50 WIB
    Pak Wimar ada rencana ke Melbourne kalo gak salah ya? Masih jadi?
  9. From anton djakarta on 16 November 2008 22:59:31 WIB
    Ketika kebenaran menjadi dianggap mutlak dengan absolusitas tanpa kritik, maka kebenaran tidak lagi benar, karena kebenaran adalah sebuah proses terus menerus yang tidak mengenal titik, kebenaran adalah koma dalam rangkaian aksara kehidupan. Dan sebuah 'proses' mau tidak mau adalah sebuah pluralitas dari berbagai macam keadaan. Kebhinekaan atau Pluralisme adalah sebuah keniscayaan, dimana semua peradaban dan agama melihat sebagai sesuatu yang positif.

    Allah swt menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. (Al Qur'an)


    Gus Anton
  10. From dykus on 17 November 2008 07:55:41 WIB
    Gus Dur sang pendekar pluralisme sejati !!
  11. From roy tarigan on 17 November 2008 15:56:33 WIB
    sangat benar jika dikatakan bahwa indonesia berdiri dari kebhinekaan,tapi masyarakat dijaman sekarang udah lupa dengan itu karena mereka hanya sibuk dengan perut dan kelompok mereka sendiri!!!ga peduli dengan orang lain!harusnya kita sadar bahwa kita ini negara yang besar yang memiliki keanekaragaman jangan sibk ngurusin diri atau kelompok sendiri!!!!!
  12. From |richard.p.s| on 17 November 2008 16:14:34 WIB
    Wajah-wajah yang ikutan kongkow serem-serem euy, tapi sepak terjangnya piss... Herannya, ada yang mukanya pisss..., tapi punya sepak terjang yang serem.

    dicengkram roh agamawi kah negri ini? <--- tanda tanya noh

  13. From vidy Hermes on 17 November 2008 22:18:18 WIB
    Ke Bhinneka-an itulah Indonesia, dan Indonesia tanpa ke Bhinneka-an bukanlah Indonesia, karena memang dari sejak dahulu, sejak terbentuknya Republik ini asas ke Bhinneka-an menjadi dasar kemerdekaannya dan tumpuannya. Saya sangat setuju dengan topik ini topik ini sangat mengena dengan kondisi kini, mudah-mudahan kita dapat terus menjaga keutuhan Republik yang Bhinneka ini dengan semangat toleransi yang semakin dewasa..Hidup Gus Dur....Hidup Om wimar...hhehehhehe
  14. From Mundhori on 18 November 2008 10:08:09 WIB
    Salah satu sumber perpecahan bangsa yg sering dilupakan adalah sikap pemimpin negara (eksekutif, legislative, yudikatif dan unsure lain) yg melupakan rakyat. Sebagai pemegang amanat rakyat mereka malah melupakan kepentingan rakyat yg seharusnya mereka junjung tinggi.Contohnya para wakil rakyat di parlemen kinerjanya lebih mementingkan dirinya sendiri, partainya, golongannya. Para pemegang pemerintahan melakukan korupsi untuk dirinya sendiri, sehingga anggaran pembangunan (uang rakyat) dikurbankan. Akibatnya rakyat kecewa, apabila kekecewaan itu sudah menumpuk akan timbul protes yg nantinya menimbulkan anarkis. Contoh lain, para elite dalam perjuangan memperebutkan kekuasaan sering memakai rakyat sebagai tameng perjuangannya. Sehingga rakyat terpecah pecah, dg akibat timbul gejolak yg sering memakan kurban, yaitu rakyat lagi.Ketidak adilan, perang idolgi, rebutan kuasa, KKN, dll aspek kecurangan punya potensi memecah belah bangsa dan negara..
  15. From Yoda Jitsu on 18 November 2008 23:17:04 WIB
    Mungkin ancaman yg paling serius yg dihadapi pluralisme bangsa ini adalah eskalasi extrimisme agama yg menggejala di seluruh tanah air ini yg selalu mencoba memaksakan kehendaknya agar dalil2 agama mereka diterima menjadi undang2,dan selalu mencoba menggunakan kekerasan laksana preman jalanan yg haus akan kekerasan, saking luar-biasa ekstrimnya sampai2 mereka rela mem-bom negara mereka sendiri dikomandoi oleh WN negara jiran, memang agama seperti candu yg memabukkan yg selalu meng-iming2i mereka mati syahid agar masuk surga.
    Ekstrimisme agama sudah seharusnya di tanggapi dengan serius krn memang sangat berbahaya bagi negara kesatuan yg notabene adalah majemuk/plural, dan dari hari ke hari pertumbuhan kaum ekstrim tsb sangat meresahkan dan apabila tidak ditanggulangi NKRI ini akan punah, dan tidak diragukan lagi akan ada clash of civilization antara kaum nasionalis yg pluralis dan kalangan ekstrim agama.
    Kita lihat saja apabila partai2 agama menguasai parlemen & pemerintahan sudah dipastikan tujuan negara ini akan berbelok ke arah yg lain.
  16. From jaka on 20 November 2008 06:35:40 WIB
    he he he he ...GUS DUR MAH AYA-AYA WAE...TAPI MEMANG BENER SIH, ANGGOTA DPR YG TERHORMAT DAN YG TERLIBAT DI DALAMNYA ITU KOQ SENENG PISAN NGURUSIN KUTANG DAN SEBANGSANYA...

    TAPI NGADEPIN TSUNAMI EKONOMI ENGGA ADA SUARA NYA..KUMAHA ATUH ,AKANG2 DPR? MAKANYA SEBELUM JADI ANGGOTA DPR , SEKOLAH YG BENER !! PAKE KOMPUTER AJA MASIH BANYAK YG PLONGA- PLONGO !TERBENGONG-BENGONG..MEREKA PIKIR ,SIARAN TELEVISI DARIMANA NIH..HE HE HE...

    PADAHAL ENGGA LAMA LAGI RAKYAT BAKALAN SUSAH BANGET DITERJANG TSUNAMI EKONOMI..JADI, MARI KITA USULKAN AGAR GAJI ANGGOTA DPR DITURUNKAN,SELAMA MEREKA TIDAK BERPRESTASI DALAM MENGHASILKAN UNDANG-UNDANG YANG MENDATANGKAN KESEJAHTERAAN DAN KEMAKMURAN BAGI RAKYAT INDONESIA RAYA !!
    SAYA PIKIR INI CUKUP ADIL BAGI MEREKA...

    HIMBAUAN DARI DPR YG TERHORMAT:
    1. SELAMAT MENGENCANGKAN IKAT PINGGANG DAN KUTANG DALAM MENYONGSONG DATANGNYA TSUNAMI KEUANGAN TERBESAR ABAD INI.......

    2. MARI RAME RAME JUALAN KUTANG ,CELANA DALAM DAN SEBANGSANYA..DEMI TERWUJUDNYA PENINGKATAN EKONOMI RIIL DI TAUN YG AKAN DATANG.

    3. UNTUK PARA HOMO DAN GAY DIWAJIBKAN MEMAKAI KUTANG DAN SEBANGSANYA KEMANAPUN ANDA PERGI,KARENA KALAU ANDA BERTELANJANG DADA DAN MEMBUAT TEMAN LELAKI ANDA TERGERAK SYAHWATNYA, ANDA AKAN TERJERAT UNDANG2 PARNOGRAFI.

  17. From orangutanz on 20 November 2008 15:07:31 WIB
    Hati-hati.
    Munggkin bentar lagi blog yang tulisannya "telanjang" juga dijerat UU Pornografi... huehehhe...

    Ayo dipakaikan baju Om Wimar...
  18. From yunie.jusridjalaluddin on 20 November 2008 18:48:51 WIB
    Sexi = adanya di benak, porno = ketika dengan sengaja auratnya diperlihatkan, & ketika Allah ada dimana-mana maka aturannya pun berlaku selama masih di duniaNya. So, kalo mau pake aturan manusia silakan hengkang dari penglihatan Allah. Yang setuju mangga... nu teu satuju teu kunanaon. Hidup UU Pornografi, Pendapat pun boleh bhineka kan, nyang penting mah indonesia tanah air katong bukan kutang :)
  19. From Raisa on 23 November 2008 18:54:18 WIB
    Plurarisme itu bersifat egaliter, tidak bisa berjalan bersama feodalisme. Ada orang2 feodal yang mengandalkan dukungan primordial dan senang diciumi tangannya tapi sok jadi pendekar pluralis. Padahal targetnya adalah kekuasaan politis yang korup.
  20. From salvan on 25 November 2008 14:20:10 WIB
    UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga, UU Perlindungan Anak dan UU ITE sebenarnya sudah mengakomodasi apa yang ingin disampaikan dalam UU Pornografi. Bagi saya, yang terakhir ini tidak perlu. Masalah sebenarnya bukan soal UU Pornografi itu harus ada atau idak. Yang terpenting adalah penegakan ketiga hukum di atas. Yang sudah diundang-undangkan sebemlumnya ditegakan dulu....
  21. From anton djakarta on 26 November 2008 02:55:14 WIB
    Ngurusin Kutang dan isinya (bagaimana bentuk dan penampilannya) jauh lebih mudah dan mengasikkan bagi politisi kita, karena nggak bikin pening. Ketimbang mikirin bagaimana mendobrak budaya, mendobrak sistem yang tidak benar, mendobrak tatanan masjarakat yang bobrok dan mengganjang koruptor.

    Superioritas laki-laki terhadap perempuan lebih mudah dilakukan dalam tatanan masjarakat jang tidak benar, sementara superioritas keadilan distribusi kapital yang berpihak pada rakyat tidak pernah mendapat tempat.

    Ketika hak kapital atas rakyat dibohongi, maka kibarkanlah kutang-kutang wanita dalam lalu lintas publik agar sejarah menjadi angin sejuk bagi kaum demagog puritan.

    Anton

    http://anton-djakarta.blogspot.com/
  22. From fadil on 26 November 2008 21:56:15 WIB
    Selain kontroversial dan multitafsir, UU Anti Pornografi juga berpotensi menjadi UU yang mandul karena dalam pelaksanaannya akan menemui banyak hambatan dimana2, dan juga karena masih diperlukannya peraturan2 pelaksanaan di bawahnya seperti Perda. Sementara itu kebinekaan bangsa sudah menjadi fakta, kenyataan, bahkan kebutuhan bagi kita semua selama berpuluh2 tahun (kalau bukan berabad2). Jadi menurut saya UU ini sama sekali bukan ancaman bagi kebinekaan bangsa kita.
    Sebagai langkah awal pemberantasan pornografi, saya berharap POLRI bisa tegas dalam memberantas peredaran VCD/DVD porno sampai ke akar2nya.. Masak bisanya cuma razia basa-basi dan nangkep pedagang2 kecil? Bagaimana dengan bandar, distributor dan bos2 besar lainnya?
    BERANTAS PORNOGRAFI !
    HIDUP BHINNEKA TUNGGAL IKA !!!
  23. From Muhammad Khabib Tegowanu on 25 December 2008 17:53:30 WIB
    Memang susah memahami dan megakomodir keinginan, perpsepsi banyak orang. akan tetapi paling tidak masing-masing kita harus selalu waspada untuk membentengi keluarga kita dari mararknya budaya porno yang nyaris tak terbendung lagi. malah terkadang kita yang melihat merasa malu tapi yang menjalani tak punya rasa malu. stop pornografi dan pornoaksi.
    jaga anak-anak dan keluarga kita dari wabah pornografi, caranya?
    yan mendekatkan diri pada sang Khaliq....................
  24. From Panji on 04 January 2009 02:23:41 WIB
    Bung Wimar !
    Komentar saya sangat-sangat terlambat karena saya memang baru mengikuti blog Anda.
    Saya tidak ikut mengomentari soal 'kebhinnekaan' karena sudah beragam komentar tertuang disini......
    Tapi saya hanya menyampaikan penilaian riil orang-orang disekeliling saya ttg Gusdur.
    Pada awal tulisan ini, Anda begitu menyanjung Gusdur, wajar karena Anda 'pemapahnya'. Tapi bagi kami yang hanya 'melihatnya' dari komentar-komentarnya (lahir menunjukkan batin) ttg berbagai hal, maka kami menyimpulkan bahwa Gusdur ini adalah seorang yang emosionil, irrasinil, dan terkesan angkuh.
    Di alam nyata (bukan dlm berpolitik), di alam Minangkabau, pemimpin seperti itu tidak dipakai (kecuali terpaksa difungsikan oleh susunan dlm "adat" yang turun-temurun).

    Tulisan ini bukan menghina Gusdur, tapi sekedar menyampaikan rasa keheranan terhadap orang-orang yang mengagung-agungkannya.
  25. From Arie on 26 January 2009 05:07:21 WIB
    Gus Nuril ini aneh soal sensitivitas malah ada yang dukung lagi, attitude reflects leadership kok, ya kalau Gus..Gus-nya ngga peka ya umatnya sama kok. Refleksi pemimpin itu ya di Umat. Hukum memakai sandal kotor dimesjid sudah jelas aturannya, karena jelas ya jelas marahnya. Tapi kalau rumah tiba2 diserbu lumpur belum pernah ada dalam perpustakaan pikir mereka bagaimana harus bertindak, ya rakyat liat - pemimpinnya marah ngga, oh ternyata ngga ya diem aja. gitu aja kok repot. Gus2-nyalah yang sensitivitasnya mungkin harus dipertanyakan.

    Kias diatas saja itu bagian dari pluralisme yang kita cerna, orang bodoh bercampur dengan orang pinter, maling jadi pemimpin. beragama dengan tidak beragama, komentar negatif campur dengan komentar positif. Mengenai plularisme itu juga menurut saya absurd untuk dijadikan isme, orang dari lahir saja manusia sudah beda kok, makanya hati dasar manusia selalu bersemangat untuk menjadi beda. WW punya opsi meluruskan rambutnya tapi tidak, mungkin alasannya kalau lurus jadi mirip Samo Hung he-he.

    The morale of my argument is as follow. Saya inget kisah Umar bin Khattab muda saat mgkn seusia saya 30-an atau lebih muda lagi. Ketika beliau mau memeluk Islam, beliau kesulitan dalam mencerna kenapa ajaran baru yang dibawa Muhammad SAW memisahkan anak dengan orang tuanya, adik dengan kakaknya, beliau tidak suka bangsa Arab menjadi pecah, beliau pikir biar saja saudara-saudaranya itu berjudi, minum berzina selama mereka tidak membuat huru hara (prinsip stabilitas). hasil tafakur beliau akhirnya mendukung keberfihakan beliau pada Muhammad SAW, kebebasan yang menjadi prinsip beliau sebelumnya itu belum riil karena tidak membuat kualitas kemanusiaan seseorang menjadi lebih baik dan mulia. Ajaran Muhammad SAW sangat mendukung perbedaan, (bukan karena saya pemeluk Islam, silahkan komparasi saja untuk study kalau memang benar2 open minded) kelebihannya berani dan mampu menegaskan apa yang baik dan buruk sehingga jelas keutamaannya jelas kejahatannya. Ketika telah jelas dan sempurna perbedaannya insya Allah kebebasan yang ada itu pasti memuliakan dan kebhinekaan itu terawat. Kemulian manusia itu senidiral yang mengantarkan menjadi bangsa yang besar itulah tolok ukurnya.

    Cukup diingat keyakinan itu harus didukung intelek, bukan emosi jihad yang plural bisa dimiliki setiap pemeluk apapun ismenya. Dari pengalaman saya ternyata orang yang mengatasnamakan pluralisme, lebih cenderung membuat abu2 hukum kemanfaatannya pada kemanusiaan, apa saja dibolehkan. Terserah.. gitu aja kok repot.
  26. From Yopie on 09 May 2009 13:21:25 WIB
    Biasa nya pendukung UU Porno,yang paling militan adalah penggemar dan kolektor Film ,,Oh,..yes oh,..no yang paling Getol buka situs BANG BROS ,com
  27. From tan dj on 21 November 2009 13:58:51 WIB
    yang namanya 'bangsa' indonesia itu umumnya 'EQ'-nya rendah[termasuk saya] jadi perlu banyak berpikir sebelum bicara apalagi bertindak. ingatkan kontribusi internasional bah.indonesia/melayu yaitu kata 'amuk' - jelas2 mengingatkan kadar 'EQ' kita. jadi utk konteks saat ini SBY itu sudah sesuai sbg pemimpin[walau bukan ideal lho].

    ke-bineka-an bgs kita memang perlu terus digalang dan dirawat tapi dgn derjat emosi yg meledak2 rasanya sukar dicapai...semoga aku salah.

    segitulah...n always miss u WW!

« Home