Articles

Tsunami Ekonomi datang ke Indonesia awal 2009 ???

InterMatrix Communications
28 November 2008

Tsunami Ekonomi datang ke Indonesia awal 2009 ???

oleh: Wimar Witoelar

Pertanyaan diatas akan mulai dijawab pada seminar yang akan diselenggarakan InterMatrix Communication di minggu ketiga 2009 (tentatif 21 atau 22 Januari). Kalau mau dapat discount, daftar mulai sekarang pada mansur@intermatrix.co.id Jarang-jarang IMX membuat seminar se-serius ini. Ini motivasi IMX:

Krisis perkreditan yang dimulai di Wall Street sudah menelan puluhan milyar dan ratusan ribu pekerjaan  di seluruh dunia. Bekas ketua Bank Sentral AS Alan Greenspan menamakanya “tsunami finansial” yang hanya melanda dunia sekali dalam 100 tahun. Amerika dan Eropa merupakan korban pertama. Asia masih terproteksi oleh kekuatan finansial mandiri yang sudah tumbuh di China dan India, dan yang sudah mapan di Jepang dan negara Teluk. Tidak dapat dipungkiri krisis telah menjadi tsunami yang akan makan korban di semua pesisir masyarakat yang tersentuh sistim kredit.

Indonesia belum merasakan sense of crisis di luar sektor keuangan, pemberitaan media, pengusaha menengah-besar dan gejolak harga. Tapi tidak akan dapat dihindari, tsunami kehancuran perkreditan akan menggoncang perekonomian Indonesia pada kuartal pertama 2009 ini. Pertanyaannya hanya: kapan persisnya, siapa yang paling kena dan berapa banyak nilai uang kerugian?

Sangat mendesak bahwa kita mendapat perspektif jelas mengenai dimensi dan jenis krisis, siapa yang akan kena, bagaimana response pemerintah, dan apa dampaknya pada Pemilu Legislatif dan Pemilihan Presiden tahun 2009. Jangan hilangkan kesempatan untuk turut mengkaji Tsunami Ekonomi dan  dampaknya secara konkrit pada kehidupan kita.

Perspektif kami:

Masa lampau selalu menjadi dasar kejadian sekarang, tapi ada kalanya masa lampau masih hidup sekarang. Krisis Finansial 2008 sebetulnya dimulai dari masa lampau, tepatnya sejak 11 September 2001, ketika teror World Trade Center menghancurkan bukan saja dua gedung tertinggi di New York tapi juga menenggelamkan kehidupan ekonomi.  Dalam semangatnya membangkitkan ekonomi, pemerintah Bush mulai melepaskan regulasi pada kredit pemilikan rumah. Keadaan lepas kendali berlangsung beberapa tahun tanpa ada usaha untuk memasang kendali terhadap ekses. Di tahun 2007, ketidak stabilan dalam pasar property menggoyang pasar sekuritas perumahan, yaitu perkreditan, sekuritas berdasarkan kredit perumahan dan  sekuritas berdasarkan sekuritas lain yang disebut derivative. Kredit gagal seperti domino menggagalkan yang lain,dan salah satu investment house terbesar di Wall Street, Bear Stearns, tumbang.

Melihat ini, Federal Reserve Bank, bank sentral Amerika Serikt, meminjam dana dalam jumlah yang makin besar untuk menstabilkan pasar terutama lembaga keuangan. Kebijaksanaan ini berhasil cukup jauh untuk mencegah tumbangnya sistem perkreditan, tapi membuat dunia finansial Amerika Serikat berada dalam kondisi rapuh dan tidak jelas. Kejatuhan Bear Stearns kemudian disusul kejatuhan Lehman Brothers, AIG dan lainnya. Sampai mengancam perusahaan sektor rieel terbesar yaitu sektor otomotif: GM, Ford dan Chrysler. 

Penjelasan ini disederhanakan dan tidak mendalami aspek finansial lebih jauh. Akan tetapi pada tahap krisis, detail kalah penting dengan pengertian umum. Harus ada gambar besar atau perspektif yang bisa membuat orang biasa mengerti. Pertama, kita harus bedakan antara dunia finansial dan ekonomi. Dunia masuk krisis finansial, belum tentu masuk krisis ekonomi. Krisis dimulai di Amerika Serikat dimana ekonomi sangat tergantung pada kelancaran sistim finansial. Di Indonesia, masih banyak kegiatan ekonomi yang berada diluar sistem finansial. Produktivitas sumberdaya dan ketenaga kerjaan tidak secara langsung tergantung pada soal finansial. Tapi semua orang mempunyai  ketergantungan tidak langsung pada kredit bank, asuransi, tabungan dan pasar modal. Karena itu gempa finansial yang ber-episentrum di Wall Street akan melanda Indonesia dalam bentuk gelombang pukulan ekonomi seperti tsunami menjadi muara  getaran gempa bumi di dasar laut. Kalau sistem ekonomi  diwakili oleh laut dan daratan dalam model sederhana kita, maka sistem finansial diwakili oleh getaran gempa bumi yang menggelindingh menjadi tsunami. Akhirnya tanah subur di pantai Aceh bisa digulung oleh ombak tsunami yang mentransmisikan kejadian di tengah laut.

Singkatnya, gejala finansial bertugas mengkomunikasikan – dan mengendalikan - kondisi yang berkembang dalam sistem ekonomi. Tapi kalau gejala finansial tidak diperhatikan, bahkan ditambah parah oleh keserakahan dalam memanfaatkan profit finansial jangka pendek, maka krisis finansial akan menjadi krisis ekonomi.

Ini yang menjadi tujuan seminar ' Mengkaji Dampak Tsunami Ekonomi Dunia di Indonesia'.. Mengkaji apa dan bagaimana krisis finansial akan melanjutkan perjalanan destruktifnya di Indonesia, dan bagaimana kesiapan kita menghadapinya: pemerintah,  pelaku bisnis dan terutama orang biasa.

Print article only

39 Comments:

  1. From albertus on 28 November 2008 13:27:37 WIB
    Runtuhnya bank-bank merupakan awal permulaan gelombang krisis ekonomi ini. Sedangkan untuk masyarakat awam, Main Street, pertengahan 2009 akan menjadi masa-masa penuh cobaan, sangat berat.

    Akan tetapi kejadiannya tidak akan sedramatis krisis kita sebelumnya dalam bingkai kajian waktu, tidak akan free fall dramatis tiba-tiba one or two weeks. Tetapi trend menurun secara berkala, yang pada akhirnya, bisa lebih parah daripada krisis 1997.

    Secercah sisi positifnya adalah, ada waktu untuk beradaptasi, karena dropnya dirasakan secara berkala.

    Jujur saja, sekarang saja sudah mulai terasa efeknya, toko-toko relasi saya (elektronik & spare part) sudah mengeluhkan turunnya pembeli, dan untuk saya sendiri, pabrik lower demands, cut production, and in the end, cut jobs. Mau ga mau.
  2. From ilhamdi on 28 November 2008 14:06:31 WIB
    wah seru tuh pak wimar...benar juga ya... krisis finansial belum tentu krisis ekonomi.....

    Indonesia lewat sektor jasanya bisa berkembang gak ya pak ...|
  3. From Agung Purnomo on 28 November 2008 17:37:34 WIB
    Agung Purnomo

    wuih
    mang bener tu judul blog ... perspektif
    trim 4 the info

    www.agungpurnomo.com
  4. From theRons on 28 November 2008 20:02:02 WIB
    kayaknya sih tinggal nunggu waktu aja neh....

    tapi moga2 para blogger ga kena kecipratan airnya!
  5. From |richard.p.s| on 28 November 2008 20:47:39 WIB
    kredit property kita akan macet nggak ya?

    yang berani keluarkan surat pernyataan belum punya aset property (padahal investasi property nya segambreng) demi menambah investasi property bersubsidinya perlu di property prodeo kan hingga dilelang asetnya dengan segera.

    378 itu.... ayo pak polisi, yang maruk-maruk digaruk... *masa hanya preman lontong yang digaruk?*

  6. From anton djakarta on 28 November 2008 21:13:34 WIB
    Saya yakinken pada saudara-saudara :

    TIDAK ADA BADAI EKONOMI SEPERTI 1998.

    Di Indonesia yang terjadi tahun 1998 adalah sebuah overlapping dari apa yang disebut ekonomi politik. Para penggada Suharto menggunakan krisis ekonomi untuk lebih memperkeruh keadaan untuk menumbangkan Suharto.

    Sementara yang perlu diperhatikan dari kekuatan kita di tahun 2009 adalah :

    1. Ekonomi Riil kita sangat kuat.
    2. Ekonomi Rakyat bertumbuh positif
    3. Sistem politik yang mapan.
    4. Adanya daya tahan bagi bangsa ini dalam menghadapi krisis.

    Jadi sekarang harus dituntut adalah sektor financial harus membuka koridornya lebar-lebar untuk sektor riil itu yang dibutuhkan dengan membentuk apa yang disebut Panca Kedaulatan. Tanya Martin Manurung, dia jagonya soal konsep ini.

    Jadi jangan takut kalo krisis 2009 terjadi, itu hanya pergeseran equlibrium ala Keynesian dan bagian riak kecil dari gelombang Schumpeterian....

    Anton Djakarta

    http://anton-djakarta.blogspot.com/
  7. From bee on 28 November 2008 23:46:30 WIB
    Krisis sengaja diciptakan. Ada peluang ngemplang (lihat kasus BLBI).

    Paulson bersikeras menalangi kertas yang entah merupakan lapisan ke berapa (bukan kebetulan kalau ia juga berasal dari investment keblinger!(banker).

    Kalau dari awal memang berniat menutup masalah. Kunci utamanya ya di subprime level 1.

    1 kalau dibagi sepuluh, didice lagi 100 tetep saja 1. Nilainya menjadi 1000 hanya mungkin karena mark-up. Jadi niat awalnya adalah ngemplang dengan embel-embel intelek asset backed / securitization!


    untuk nilai tukar:
    Iki piye tho mas? kita arahkan atau kita ikuti.

    Kalau penyebabnya demand / supply ya sudah biarkan saja kecuali BI bisa nyetak $.

    Pertanyaannya, is US happy with these things? Lha wong Bush sebelum mcCain kalah sama Obama bilang strong $ policy koq.
  8. From amadeuz anwar on 29 November 2008 00:01:29 WIB
    sejauh mana krisis ini akan melanda bangsa INDONESIA,..??
    tapi,.. harapan kami sebagai rakyat kecil,.. adalh kestabilan ekonomi saja,.. tkhs
  9. From Zulfi on 29 November 2008 04:57:56 WIB
    Sebagai pengamat awam, maklum bukan mahasiswa ekonomi, apalagi pengamat ekonomi.

    Saya melihat kasus ini perlu juga menjadi agenda besar dari calon presiden 2009. Dalam arti kita butuh kepastian bahwa di 2009 nanti andai tsunami benar2 terjadi kita telah menyiapkan diri, bukan kemudian hanya sekedar duduk, diam dan melihat kejatuhan Amerika dan Eropa
  10. From dmitri on 29 November 2008 06:26:50 WIB
    karena masih bodoh soal beginian, saya mau tanya sedikit sama Perspektif, atau komentator lainnya.

    uang yang 'ditarik' dari pasar modal (terutama AS dan Eropa), 'ditarik' dari bisnis2 gagal (spt perkreditan), ataupun uang yang batal di spend untuk membeli minyak kemudian dialihkan kemana ya?
  11. From joe on 29 November 2008 10:33:39 WIB
    @ anton komentar # 6

    Hati-hati bilang kayak demikian, dulu juga krisis 1997 pemerintah bilang fundamental ekonomi kuat tetapi justru Indonesia paling parah krisisnya banding negara asia lainnya.
    Saya sih lebih setuju pendapat RR, Indonesia kena dampak karena hot money 2 kali dari krisis 1997 dan harga komoditas ekspor anjlok. Lihat para petani kelapa sawit di Sumut sudah kena.
    Lebih baik mulai sekarang kita telah bersiap-siap.
  12. From yunie jusridjalaluddin on 29 November 2008 15:38:14 WIB
    Sbg ordinary people aku pengen Indonesia memulai ekonomi syariah, ngga ada bunga bank & penjualan valas yg bagi q ngga' masuk akal. Cukup dengan bagi hasil & pemberlakuan dinar dirham. Dijamin deh Indonesia tetap bisa selamat terbukti tsunami Aceh aja yang berlindung di Masjid Baiturahman aman, apalagi kalo berlindung dibawah SyariatNya. So, no wallstreet, no episentrum financial kan?
  13. From anton djakarta on 29 November 2008 15:55:12 WIB
    Buat Joe, ....Justru saya justru komentar saya adalah menyadarkan bahwa kita harus punya daya tahan positif, sikap yang panikan dan apa-apa takut justru kerap memperkeruh keadaan. Bayangkan bila rush terjadi di bank-bank kita karena kita tidak yakin dengan keadaan kita, maka kita justru mengkatalisator krisis itu sendiri.

    Untuk Dmitri, uang yang berputar di Pasar Modal Dunia dan Dialihkan melalui bentuk derivatif ke Mortgage lewat sistem jaminan asset, sesungguhnya uang yang di leverage menjadi sistem hutang berhutang dengan jaminan, kasus ini mirip Repo di Pasar Modal kita yang exit fund-nya disalahgunakan untuk menggelembungkan harga saham yang di Repo, contoh utamanya adalah BUMI yang digoreng dengan Manajemen Repo. Penikmat harga saham BUMI adalah sindikasi yang mengerti bagaimana gorengan itu bekerja, bayangkan dari harga Rp.25 keluar ke harga 8.500 berapa ribu persen keuntungan yang diraup, dan bila mau ini diperiksa siapa saja yang keluar pada titik 6000-8500. Itulah yang bisa jadi merupakan pemain yang sudah mengerti jalan sejarah BUMI di Pasar Modal dan tidak menutup kemungkinan mereka akan bermain lagi ketika sudah jelas siapa yang akan pegang saham mayoritas melalui pertarungan antara keluarga Bakrie dan Investor-Investor Burung Nadzar.

    Pada hakikatnya kondisi saat ini adalah "Koreksi wajar terhadap bagaimana aliran uang seharusnya bekerja" jadi ini adalah semacam koreksi terhadap aksi spekulasi, yang jadi pertanyaan sejauh mana Institusi Keuangan Perbankan kita gambling terhadap dana itu? sejauh ini kita ternyata belum punya uang untuk gambling yang begituan, jadi dengan kata laen kita nggak ancur-ancur amat.

    Hanya ekonom yang membesar-besarkan masalah saja yang terlalu mengumbar ketakutan. Ekonom kita kebanyakan gagal melihat peran ekonomi rakyat yang bisa dijadikan landasan berinteraksi dalam susunan ekonomi bangsa Indonesia.

    Anton Djakarta

    http://anton-djakarta.blogspot.com/
  14. From albertus on 29 November 2008 16:52:31 WIB
    Sungguh mengecewakan pandangan bung Anton bahwa semuanya cuma 'mengumbar ketakutan'.

    Perlambatan ekonomi dunia termasuk Indonesia adalah fakta dan kenyataan. Aliran uang di Indonesia sudah nyaris membeku, optimisme sudah tidak ada.

    Mengatakan bahwa semua ini cuma 'koreksi' lalu semuanya akan normal kembali benar-benar tidak bertanggung jawab. Tinggal kita lihat saja berapa tingkat pengangguran kita dalam proses 'koreksi' ini.

    Ekonomi Riil Indonesia 2009 sangat kuat??? Ekonomi Rakyat tumbuh positif?? bercanda anda. Apa dasar anda menyatakan ini? apa cuma karena ingin menciptakan bubble dengan ilusi-ilusi bahwa kita 'kuat', 'aman'?
  15. From Bee on 29 November 2008 20:45:02 WIB
    Yakin keluarga AB BERTARUNG dengan konsorsium investor baru ???

    untuk nilai tukar, aku tambahkan lagi:
    Andaikan NDF $/Rp di Singa atau NewY Rp 12.000 sedangkan di Indonesia Rp10.000 apa yang terjadi?

    Importir (yang katanya tidak punya $ (di Indonesia tentunya,^-^) beli dari BI Rp10.000, alasannya untuk nebus belanjaan di luar, mosok beli di Singa atau NewY, mahal.

    Eksportir (yang katanya banyak punya $ (tapi di luar Indonesia,^o^) tentu tidak mau jual $, alasannya mosok hasil bumi lokal dibeli pakai $, nggak cinta Rp nich, lagian jual murah ke BI Rp10.000, rugi dong.

    Yang punya uang Rupiah lebih, borong $ dong, siapa tahu bisa nitip JUAL di Singa atau NewY (nebeng siapa kek, ^0^, yang penting bisa dapat lebih banyak rupiah lagi??? NDF butuh Rupiah???

    Andaikan NDF $/Rp di Singa atau NewY Rp 10.000 sedangkan di Indonesia Rp12.000 apa yang terjadi?

    Importir (yang katanya tidak punya $ (di Indonesia tentunya,^-^) beli dari BI Rp12.000, Ngakk mau dong, mosok BI perhitungan dengan warga negara sendiri, nggak pernah denger tuh jual/beli valas ongkos angkut, ^L^.

    Eksportir (yang katanya banyak punya $ (tapi di luar Indonesia,^o^) nggak mau jual ke BI, alasannya berjaga-jaga siapa tahu keadaan terbalik, \\\'kan ada cadangan, di luar Indonesia tentunya ^p^. Lho?! Lagian Rupiah tidak laku di luar, NDF saja!!

    Yang punya uang Rupiah lebih, borong $ dong, siapa tahu bisa nitip BELI di Singa atau NewY (nebeng siapa kek, ^0^, yang penting bisa dapat lebih banyak rupiah lagi. Jual di Indonesia tentunya.

    BI nalangin semuanya, cadangan devisa katanya drop $5M dalam sebulan periode aktif saja.

    Pointnya apa sih, mas? Hi..hii..hi. mosok BI diajarin cara dagang valas, kepriben iki, Hi..hii..hi. Malu a.

    Pointnya: BI mengharuskan selffullfilling need (kebanyakan f dan l yach, ^9^.

    Kalau kebutuhannya NDF, ya biarkanlah bank sono yang nalangin untung / ruginya.

    Kalau kebutuhannya riel ekspor / impor, apa gunanya punya banyak departemen, dirjen Pajak, Bea Cukai, Sucofindo, bpkp, bkpm, akuntan, dlll, bila tidak tahu hasil riel dagang, ekspor dan impor, arus investasi ada di mana, kapan harusnya digunakan dan digunakan untuk apa.

    LC dan jenis pembayaran lain semuanya dapat dijejak (di-trace) bila memang sistem berjalan semestinya.

    Fluktuasi nilai tukar selalu menyertai suatu transaksi entah itu ekonomi atau politik.

    Karena sifatnya accidental, precaution dan perangkatnya pun harus tahu bahwa ini adalah accidental dan temporer.
  16. From arifudin on 30 November 2008 06:42:55 WIB
    wuih mang bener juga judulnya
  17. From Look it 2 on 30 November 2008 12:05:45 WIB
    mustinya mah kagak deh!

    asalkan kekayaan bumi nusantara di gunakan sepenuhnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banyak ... baca bukan perseorangan... uu nya mah udah bagus cuman implementasi na tidak sepatutnya alias goreng patut!

    brantas korupsi..udah terlambat euy! selain kekayaan bumi nusantara udah tipis udah mendarah daging juga tuh korupsi!
    but it\'s better late than never!
  18. From anton djakarta on 30 November 2008 23:14:22 WIB
    Orang yang menggembar gemborkan krisis terjadi, perlu dikaji ulang, apakah dia Public Relation-nya IMF?. Coba liat siapa dan perhatikan dengan seksama siapa-siapa orang itu?. Krisis dianggap terdjadi, lalu ada sekelompok bandit memperkeruh suasana, IMF datang bagai dewa. Kita memuja IMF sang penyelamat. Kalo itu terjadi, silahkan Sejarah Indonesia selamanya dikentuti asing!

    Baca sekali lagi, teori dependensia dan semangat anti dependensia Arief Budiman, lalu berani tidak anak muda bergerak! kalo selamanja jang bertjokol diatas itu adalah orang2 IMF Minded, PR-PR nya Investments Bank Besar yang selalu gembar-gembor tanpa asing, kita tidak bisa berbuat apa-apa!, selama itu pula sejarah pembodohan terus berlangsung!

    Anton Djakarta

    http://anton-djakarta.blogspot.com/


  19. From dykus on 01 December 2008 09:34:53 WIB
    Koreksi budaya global yang terlalu heboh dengan ekonomi derivatif (bubble sudah pecah), menurut saya dalam jangka pendek, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun & pengangguran bertambah, selanjutnya akan menemukan keseimbangan baru.
    Ini tugas pemerintah supaya sementara ini sistem ekonomi kita dikawal secara ketat agar imbas ekonomi global tersebut dapat diminimalisir (komparatif dengan negara2 asean lainnya).

  20. From |richard.p.s| on 01 December 2008 11:13:59 WIB
    sedia payung sebelum hujan, jelas bukan ngojek payung kalo pas hujan. diajak mikir kok curiga terus ya? syndrome bethjhek-bethjhek nampaknya.

    *geleng-geleng kuping*
  21. From me on 01 December 2008 21:50:53 WIB
    IMF atau bukan, faktanya Indonesia harus punya backup terhadap cadangan yang ada.

    Dan sekarang terus berupaya mendapat komitmen tambahan dari berbagai lembaga (ada yang berhasil, ada yang nggak).

    Tersiratnya apa, ada gempa di kejauhan, dan kita tahu gelombangnya akan mempengaruhi perairan kita.

    Potensi tsunami atau tidak paling tidak harus ada persiapan, mitigasi sampai disaster reliefnya.

    Apa lagi, tentu, kita perlu semua dukungan sumber daya yang ada dengan implikasi negatif (poleksosbud) seminimum mungkin.

    Friends in need are Friends indeed (kali ini disambung). Jangan sampai dicornering / dipepet dan mati kutu karena waktu tersisa sedikit.

    Pastinya selalu ada pihak yang ingin memancing, siapa tahu ada ikannya.

    Jangan terpaku bahwa pendonor yang meraup rejeki bila ternyata pihak-pihak yang ngomporin (baik yang dukung atau nolak) justru yang mengharapkan durian runtuh dari bagian lain.
  22. From dmitri on 01 December 2008 22:49:01 WIB
    makanya jangan nguber durian runtuh. tanem aja pohonnya, gak perlu pake modal IMF yang begituan. kan untuk begitu nggak perlu cari friend in need. cari aja friend who will buy durian kita. katanya friend.

    setelah browsing2, ternyata investor cina, korea, jepang, arab pada cari leasing tanah 100 tahun, untuk keperluan agraria. di afrika lagi. hasilnya justru untuk memenuhi kebutuhan di negara investor tsb.

    kenapa enggak kita jual apa yang mereka butuh? memangnya afrika lebih subur? apa kita sampai harus nebang hutan kalau mau membantu mensuplemen kebutuhan sehari2 mereka?

    gak usah IMF. Bakri group suruh macul aja. kan udah dapet bantuan.
  23. From |richard.p.s| on 02 December 2008 08:23:29 WIB
    @ No.22

    tanam duren itu butuh biji duren, bukan biji ...

    mulai biji sampai pemupukan butuh modal doa, daya, data, dan dana. jadi, sebelum bicara "friend who will buy", mari bicara "friend in need". memang bisa jual duren kalau nggak pernah tanam BIJI? *sambil megang biji*

    ajari negri ini merapatkan barisan. friend sama fren kudu dibuat saling membutuhkan, supaya ada yang dijual.
  24. From yasir on 02 December 2008 19:52:21 WIB
    wah semoga bisa lewat dah nih krisis
    kapan nih dolar jadi 2500 lgi kayak dulu
  25. From anton djakarta on 02 December 2008 20:35:27 WIB
    #No.23 (Richard P.S)

    Selama pola pokok kita berpikir instan, dan tidak mau menghadapi proses penguatan atas diri sendiri juga mentalitas penghambaan asing atas nama kebutuhan yang dimanipulasi, maka selama itu pula Ekonomi Indonesia tidak bisa menjadi ekonomi yang mandiri dan kuat.

    Mentalitas anda adalah etalase bagaimana ekonomi instan bekerja.

    Anton Djakarta


    http://anton-djakarta.blogspot.com/


  26. From dmitri on 03 December 2008 03:04:34 WIB
    memang butuh biji durina... tapi biji kita, kan, EMANG BIJI DURIAN.... malu amat ngakunya. katanya maju terus pantang mundur, Indonesia Raya Merdeka... bijinya kok nggak durian?

    Gung Ho Pak Presiden! Ayo!
  27. From |richard.p.s| on 03 December 2008 08:56:18 WIB
    @ 25 Anton, yang nyoblos 23 :)

    menyadari pentingnya dukungan doa, daya, data dan dana guna memperhatikan pemilihan BIJI untuk bibit hingga pemumpukan itu merupakan bukti dari siap DIPROSES.

    nah, kalau nemplokin alamat blog kita di situs ternama itulah yang termasuk salah satu produk instan ;) Instan ngetop sambil dongkrak pagerank.

    btw, tak perlu Indonesia tak perlu UU ANTI INSTAN ya, karena tak semua hal hingga produk instan itu salah hingga haram.

    *supaya nggak OOT*
    awal 2009, harga duren naik (plis jangan terlalu instan menyalahkan asing. tanyakan bang midun juragan duren yang lagi hobi mainan gamping, eh dumping) :)
  28. From me on 04 December 2008 01:51:09 WIB
    Ha..ha..obat mumet di kala krisis...Serius tapi jenaka, seperti yang empunya blog. Tuh ada di samping message box ini, lagi dah..dah..dahdaha....ha...ha...

    Siapa suruh dari dulu dikasih modal IGGI, CGI, ADB, IFC, WB, IMF, bilateral dan multilateral lainnya, sampai sekarang masih juga belum mampu bikin biji...hhalah....

    Biji...hhalah...kalau tidak ada pupuknya mana mungkin tumbuh subur dan berpotensi menghasilkan buah yang baik.

    Katanya pupuk langka karena disparitas harga (ada yang mainin ???), alamat subsidi pupuk akan dihapuskan.

    Setuju saja subsidi dihapuskan, petani/peternak yang berhak, BERcangkul maksudnya, diberi tunjangan biaya pupuk, pakan ternak, ongkos melaut, lauk-pauk, alat kerja, semacam blt / kupon belanja dengan mendaftar / stempel / legalisasi di KUD / kelompencapir nya masing-masing (masih ada tidak ya lembaga ini), mosok hanya anggota DPR saja yang berhak atas tunjangan.

    Dengan melalui KUD dan kelompencapir otomatis petani BERDASI dan SPEKULAN / Tengkulak tidak mungkin mendapat bagian yang bukan haknya, wong daftar disyaratkan bawa cangkul / jala / tongkat gembal serta tanda anggota kud atau kelompencapir dan domisilinya ya di daerah pertanian / perternakan / perikanan terkait.
  29. From dmitri on 04 December 2008 03:07:40 WIB
    wah, wah, wah... jangan terlalu membiasakan diri sama yang instan. nanti lupa sama yang beneran rasanya bagaimana. kopi tubruk itu bisa lebih enak kalau kita melihat tetesan keringat mbak-mbak warung di bandung. instan itu bagaikan astronaut (orang pinter ceritanya) yang minum kopi berbentuk jel, atau makan apel yang sudah jadi pil. mmmmmmm, instaaaaaaannnnn.

    [salam damai instan]
  30. From Ujang on 08 December 2008 01:04:26 WIB
    Tsunami Ekonomi datang ke Indonesia awal 2009 -

    Kondisi yang sangat menakutkan untuk pemerintah Indonesia kan ya???? kalo benar2 terjadi. Untuk Rakyat tidak akan panik, karena rakyat ini sudah terbiasa dengan Tsunami2 dalam segala hal.

    Negara Ini sudah terbiasa dengan INSTAN seperti didalam pemerintahan ada INSTANsi A INSTANsi B dst dari zaman ORLA. Dan Perekonomian Non Rakyat (kalangan menengah keatas) sedang menggeliat dengan INSTAN rame2 membuka usaha WARALABA -non rakyat : Gak ngantri minyak tanah dari subuh -

    Proses penguatan diri pun dari zaman penjajah pun Rakyat kita sudah teruji liat sejarah bangsa ini di buku sejarah sd.

    Bangsa ini mempunyai mental, moral, karya, pemikiran yang sangat mumpuni kenapa ko bisa seperti ini???? Baca sejarah Kerajaan Mataram dengan sumpah PALAPA-nya HEBAT BUKAN???? Dan baca lagi kenapa bisa jatuh dan hancur???? karena perang saudara.

    ULAH PARA NON RAKYAT YANG BERPIKIRAN "INSTAN" UNTUK MENJADI PENGUASA DAN SELALU MEMBERI "PUPUK" KEBOHONGAN KEPADA RAKYAT DISAAT KAMPANYE DAN SETELAH TERPILIH SELALU "MENGKEBIRI" APBN / APBD DENGAN DALIH UNTUK PEMERATAAN PEMBANGUNAN DAN PENGALOKASIAN DANA UNTUK RAKYAT DAN SELALU MEMBUAT GORENGAN2 "RASA UDANG-UDANG" YANG DIBAGIKAN KEPADA RAKYAT WALAUPUN RAKYAT SUDAH MUAL KARENA TIDAK SELERA DAN TIDAK ENAK DITAMBAH LAGI HARGANYA RATUSAN JUTA BAHKAN MILYAR2AN.......
  31. From Marvin on 09 December 2008 06:41:39 WIB
    gw cuma orang bodoh dari sebuah desa kecil di Bali.
    gw gatau apa itu kris global atau apa lah itu istilahnya.
    dan gw tidak perduli, karena sampai skarang belum ada beda yang gw rasakan.
    Kami orang kecil, yang hanya bingung melihat orang pintar berdebat.
    Yang kami tau hanya,kerja untuk dapat makan hari ini
  32. From wimar on 09 December 2008 06:46:58 WIB
    terima kasih marvin, kirim komentar. berarti anda peduli sama masalah ini. kalau soal ngerti sih, kita sama-sama nggak ngerti, makanya saling menerangkan.
    sama dengan ledakan gunung agung, semua nggak ada yang dirasakan sampai satu saat meledak
    dan tetap orang nggak ngerti kenapa, apakah orang desa kecil atau kota besar

    sekarang kita kerja untuk makan hari ini (dan untuk buka internet). kalau tsunami melanda, kita nggak bisa lagi kerja dan mungkin nggak makan hari ini
  33. From melda on 11 December 2008 11:48:18 WIB
    Hai Marvin.. pa kabar?? W, marvin ini suami dari sahabat mw waktu kuliah...

    Kalu marvin gak peduli... berarti juga gak peduli sama kesejahteraan \"keluarga kecil\" marvin loch... kenapa???

    krisis ini mengancam semua orang yang siap di tenggelamkan oleh \"tsunami\" apalagi marvin kerja dibidang travel... misalnya kalau wisatawann luar negeri dah gak sanggup jalan2 lagi ke Bali karena para wisatawan asing itu banyak yang dipecat gak ada kerjaan... mereka di pecat karena perusahaannya bangkrut akibat krisis prekreditan... wisatawan asing itu selain dipecat dia juga kena kredit macet dari kredit rumah, mobil atau masalah kredit dalam kesenangan mereka berkunjung ke Bali... terus kalau dah gitu berarti Bali sepi.. marvin juga sepi orderan... terus kalau marvin sepi orderan.. misalnya : marvin teryata punya cicilan rumah, mobil atau pinjaman ke bank.. gak bisa bayar karena dah sepi orderan... kalau begitu amit2 jabang bayi dech...

    wah panjang dech ceritanya... jadi mendingan pasang strategi \"cemas antisipatif\" sebelum hujan dah punya payung dulu...

    Kita bersyukur Krisis Financial gak datang hari ini karena kalau datang hari ini mungkin kita sekarang gak bisa kerja untuk cari makan hari ini...

    tapi kalau krisis financial itu datang hari dan kita dah gak ada masalah per-kreditan yang sulit maka mungkin juga hari paling tidak kita sanggup makan dari uang simpanan kita :)
  34. From Ochyid on 11 December 2008 17:07:53 WIB
    saya yakin indonesia skr lebih mandiri daripd dulu
    tp ttp harus hati2 krn smua negara lg menghadapi masa sulit
    mending mulai skr beli produk2 dalam negeri emank klise si tp itu salah satu solusi menyelamatkan byk usaha dalam negeri
    pasar dunia / ekspor lg turun n susa cari market drpd qt beli produk orank lain mending beli produk bangsa sendiri
  35. From Tiwi on 16 December 2008 14:21:41 WIB
    Krisis ekonomi: PHK sudah mulai kejadian lho dan tsunami yang lebih dahsyat bisa terjadi kalo didiamkan saja. Ayo selamatkan industri di Indonesia rame-rame. Beli produk/jasa Indonesia, biar industri di Indonesia (jasa/manufaktur) bisa terselamatkan, otomatis ancaman PHK bisa diminimalisir. Berkorban sedikit lah, kalo ada pilihan produk/jasa Indonesia, mendingan pake yang dari Indonesia dari pada pilih yang dari luar. Industri Indonesia kalau bisa jalan berkesinambungan, order jalan terus...
  36. From LullaByanca on 23 December 2008 14:31:47 WIB
    okey ...


    enough for debate now ...
    permasalahannya masih kabur [ngga biru ato merah tapi kelabu layaknya mendung di sore hari]

    semuanya bicara soal qta bakal kuat ato ngga ...
    tp sisi kuat yg mana yg harus diisi ?

    secara garis besar emang apa yg qta kerjakan adalah apa yang akan qta makan hari ini ...

    gag ada masa depan critanya klo qta trus bekerja tp mati shabis makan karena gag tau makan apa ...

    we need conclusion ... something real ...

    dari sisi perkreditan misalnya [on topic]
    propertier sebaiknya gmn utk menghadapi tsunami yg blm jelas ini...
  37. From Ihsan on 30 December 2008 12:42:32 WIB
    Kang, apakah berlaku qias antara konglomerat vs rakyat melarat Indonesia dengan Amrik, dkk Vs Indonesia dan negara berkembang lainnya?
  38. From Arie on 19 January 2009 05:59:38 WIB
    Untuk self reflection, pemerintah ini seperti orang tua yang ga adil, saya tidak perlu minta maaf karena statement ini dari hati. Senengnya sama anak yang suka ngasih duit, anak yang lemah dipelihara tapi keadaannya ngga diperhatiin, lebih suka bangga-banggain anak orang lain, segala yang dimiliki ditunjukin dan dikasiin. Kalo anaknya udah ga bisa ngasih duit lagi dikucilin. karena pilih kasih, ada anak2 yang jadi suka nyuri, ga tahu uang yang dikasih ke orang tua hasil curian, supaya diperhatiin dan dimanjaain. Karena orang tua juga sering bohong, anak2nya banyak yang ngikutin. Yang bikin sedih kalau orang tua suka ngutang alasannya biar rumah keliatan bagus, tapi yang bayarin hutangnya ya anak2nya, bahkan ada yang harus meninggalkan rumah dan dipaksa ngirim duit supaya dapur tetep ngebul. Sekarang, anak2nya pada berantem ga akur saling meremehkan karena orang tuanya lemah tapi yang pasti sih karena setan yang tambah kuat.


    Tsunami tidak akan sampai ke Indonesia dengan cara penghindaran yang saya sebut The Dijk (baca daik), yg pernah ke Belanda pasti ngerti yah.

    1. Segera bangun tembok proteksi disekitar tempat yang lebih rendah (Analogi tempat rendah bagi saya adalah mental korup para pelaku finansial, sistem audit finansial, dan critical financial knowledge itu sendiri) contohnya mungkin ingat dengan Sarbanes-Oxley act setelah kejadian Enron, dan keterlibatan legislasi Itali dalam menyelesaikan masalah Parmalat)

    2. Bangun kanal-kanal untuk mengalirkan air (transactions) didalam, ke dan dari luar. Tidak perlu yang besar asal bisa dipakai trasportasi financial yang bersih dan tidak membahayakan. Ukuran taxi-taxi airnya dibatasi dan harus punya license, supirnya wajib bisa bahasa asing. Kanal yang sekarang berupa kanal syariah, konvensional, BEJ & sebagainya diperbaiki supaya bisa lebih bermanfaat.

    Kita harus akui posisi negara kita ini sedang dibawah permukaan \'air\', mereka yang takut banyak yang beremigrasi, supaya yang takut bisa tenang yang kuat harus secepat mungkin membangun Dijk-nya.

    Sakali deui nuhun mang Wimar. Pinter pisan mang Wimar teh janten isin. Mudah2an masih ada waktu sebelum air bahnya datang. Teu tiasa ngiring seminar, teu gaduh artos tapi doana ti abdi, cing sukses.
  39. From agusid on 28 January 2009 17:30:53 WIB
    Tsunami Alam = yang rusak Rumah (hancur)
    Tsunami Ekonomi = yang susah punya Kredit Rumah (ngga bisa bayar cicilan rumah, seperti di Amerika sono...)
    Tsunami Alam = pakarnya sedang belajar ke Jepang
    Tsunami Ekonomi = pakarnya sudah jadi menteri dan ex lulusan Amerika
    Tsunami Alam = bantuan ekonomi
    Tsunami Ekonomi = bantuan janji pemilu minta dipilih jadi presiden lagi ? Kite lihat program jangka pendek dan panjangnye janji calon pemimpin kite.....

« Home