Articles

Kemampuan Komunikasi dan Mesin Politik

Perspektif Online
13 December 2008

PP09

Komunikasi dan Mesin Politik, dua faktor kemenangan

Oleh: Hayat Mansur
 
Masa kampanye Pemilu 2009 sudah mulai. Setiap calon presiden memanfaatkan setiap momen untuk kampanye. Bahkan tak hanya dukungan rakyat yang diincar, dukungan raja-raja Nusantara juga diperebutkan. Insiden terjadi antara Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Sri Sultan Hamengkubuwono X, ketika SBY tidak mengundang Sultan hadir pada pertemuan raja-raja.

Dukungan Rakyat vs Dukungan Raja

Sejak memproklamirkan diri maju sebagai Capres, popularitas Sri Sultan secara pelan tapi pasti mulai menyembul ke permukaan. Pemegang tahta Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat itu terus mengalami kenaikan popularitas. Berdasarkan berbagai survei, popularitas Sri Sultan kini berada di posisi ketiga di bawah SBY dan Megawati Soekarnoputri.

Wimar Witoelar menggambarkan persaingan para Capres saat ini seperti balap motor GP. Dari tiga pembalap terdepan, SBY ada di urutan pertama, diikuti Megawati dan Sri Sultan. Posisi tersebut diperkirakan akan tetap bertahan hingga finish pada Pemilu 2009. Pertimbangannya, SBY memiliki modal besar dibandingkan dua pesaing di belakangnya.

Seperti balapan motor GP, posisi tersebut tentu saja bisa berubah. Jika SBY slip atau salah dalam mengendalikan roda pemerintahan, maka bisa dilewati para pesaingnya. Itu terjadi misalnya bila SBY menggunakan modal besarnya, yaitu dukungan dan kepercayaan rakyat dari hasil Pemilu 2004, hanya untuk membela kepentingan bisnis Bakrie dan Kalla.

Tampaknya, kubu SBY belum percaya diri dengan keunggulannya kini, sehingga berupaya terus memperbesar dukungan. Salah satunya, melalui Acara pertemuan Presiden SBY dengan Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) yang berlangsung di Istana Negara pada akhir bulan lalu (29/11). Publik melihat pertemuan tersebut sebagai upaya kubu SBY menggembosi pendukung Sri Sultan, yang tidak diundang dalam forum itu.

Dalam hal ini satu hal yang perlu diingat, para raja memang memiliki basis massa tradisional. Tapi kita belum tahu, sejauh mana mereka memiliki kaki-kaki sampai ke bawah dalam bentuk mesin politik. Kemampuan komunikasi para raja kepada massa yang luas juga masih perlu dipertanyakan.

Kemampuan komunikasi dan Mesin politik

Wimar Witoelar berpendapat, sekarang kemampuan komunikasi dan mesin politik adalah faktor utama dalam memenangkan pemilihan. “Ini zaman komunikasi politik. Jadi jangan underestimate komunikasi politik, walaupun mesin politik juga tetap perlu.” Untuk perspektif kasar, bisa dibayangkan kemampuan komunikasi berperan 60% sedangkan mesin politik berperan 40%.

Sambil lalu Wimar menggambarkan:

  Kemampuan Komunikasi Mesin Politik
SBY lumayan, punya modal citra lumayan, sebagai incumbent
Megawati lumayan, kepada pendukung primorial kuat, pertai berakar
Sri Sultan kuat, untuk skala Yogya, belum nasional kuat, untuk skala Yogya, dukungan alamiah

Silakan pembaca menilai dan memberi komentar mengenai komunikasi dan mesin politik para calon.

Print article only

23 Comments:

  1. From gagahput3ra on 13 December 2008 13:38:18 WIB
    Menurut saya Sultan terlalu cepat dan terburu-buru untuk menjadi kandidat capres di 2009. Dibutuhkan waktu untuk membangun grasroots activity di tingkat nasional, sementara Sultan imagenya terlalu kuat sebagai gubernur dan "raja" yogya.

    Kalo emang bisa dalam setahun tim suksesnya mengubah seorang Sultan menjadi figur nasional yang popularitasnya melebihi sang incumbent dan si mantan Presiden itu, maka ia bisa disebut "Obama"nya Indonesia deh. :D

    Tapi adakah seorang David Plouffe di Indonesia?
  2. From soul on 13 December 2008 14:32:06 WIB
    salam kenal bang dari Komunitas Blogger Kalsel
  3. From yunie jusri djalaluddin on 13 December 2008 15:58:14 WIB
    Indonesia bukan kerajaan kan? So, diperlukan capres yg egaliter, inovatif dlm berkomunikasi dan handal mengendalikan mesinnya, caranya harus bening dulu nuraninya, nawaitunya INDONESIA it's our country, our country oh our country oohohoho our country....:)
  4. From |richard.p.s| on 13 December 2008 20:07:20 WIB
    semoga, sasaran komunikasi dan mesinnya tak berbau lampu aladin*

    ________
    *digosok-gosok untuk nongolin jin. ho ho ho...yang digosok diberi 3 bonus (kaos, sembako & ongkos buat joget saat kampanye)

    NB: semoga elegan dan membawa rakyat untuk maju
  5. From anggana bunawan on 13 December 2008 20:48:11 WIB
    untuk masyarakat urban sudah banyak ter-inspirasi pemilu amerika pada tahun ini yang sungguh menempatkan seorang obama, dengan sudut pandang yang sangat berbeda dengan kandidat presiden AS pada umumnya. masyarakat urban kini mulai melirik gaya kampanye dan pendekatan dengan komunikasi politik.

    untuk yang di daerah lain, di luar kota besar, mesin politik masih sangat berpengaruh terhadap pilihan president mreka. perlu dirumuskan bagaimana memberikan pencerahan politik dimasyarakat yang terlanjur "kecewa" dan "putus asa" terhadap pemilu 2009 yang dianggap akan sama "mengecewakannya" dengan apa yang dialami saat ini.
  6. From Christian Sjioen on 13 December 2008 21:28:07 WIB
    Time For whose be coming number one Of Indonesia Take 40% and then for the rest 60%. Campaign many channel - canal Broadcast news paper last but not least VOTERS will know who are you.It\'s the time now to start take the chance don\'t lost like \"gone with the winnd\" Thank\'s Bang WW

  7. From Dedi Sukardi on 13 December 2008 22:16:15 WIB
    Menciptakan mesin politik bermerk asli Indonesia sudah saatnya di terapkan, meskipun juga harus sedikit meniru model barat (Amerika, Eropa) bila itu positif dalam menggerakan kampanye Pemilu/Pilkada, dengan roda-roda dialog yang berputarkan diskusi dan kendali rem pemikiran edukatif, informatif mudah dipahami oleh isi muatan lapisan rakyat. Sudah bukan zamannya lagi, menggelindingkan mesin politik dengan cara mendatangi pasar, adu senyum dengan pedagang, petani atau lapisan terbaWah untuk menarik simpati, mendatangi untuk sowan/mohon restu dukungan kepada para tokoh pemimpin agama. Setelahnya, ya... sedikit lupa deh..!!
  8. From Chandra on 13 December 2008 22:35:16 WIB
    Lha jika SBY belain Bakrie terus reward nya dana kampanye dikucurin oleh Ical gimanna tuh. Bisa menang loh. Politik itu kan pragmatis. Program komunikasi kan perlu fulus juga. BTW can anybody tell me prestasi Sultan itu apa sih?
  9. From jaka on 14 December 2008 01:23:57 WIB
    Sudah terbukti kalau pemimpin yg berasal dari rakyat jelata yg bermental pencuri dan penggarong itu selalu berlaku seperti ken arok. Maka ketika memimpin negarapun melakukan tindakan2 pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya. contoh sudah banyak terjadi dalam riwayat kerajaan republik Indonesia Raya ini..

    Sudah saatnya seorang "Raja" memimpin negeri Indonesia Raya.
    Bukan raja yang dirasuki oleh roh ken arok yang akan memimpin negeri ini..tetapi raja yang adiluhung adiguna bagi rakyatnya..

    Tapi apakah para senopati telik sandi mampu mengkondisikan ini? kita hanya berharap dan berharap....

    WASPADALAH..WASPADALAH..


  10. From rendy on 14 December 2008 01:33:39 WIB
    Kata embahku lebih enak dijajah londo putih daripada dijajah londo item..katanya dijajah londo putih itu negara selalu aman,tertib dan makmur..paling2 ada gerombolan maling dan pemberontak yg menyusahkan rakyat..

    Tapi waktu dijajah londo item ,mbahku bilang, koq Hindia belanda jadi ngene, yo?...
  11. From anton on 14 December 2008 13:25:51 WIB
    Mega berpeluang besar, Bila SBY ngambil Kalla jadi wapresnya lagi, handycap terbesar SBY ada di Kalla yang tidak disukai orang Djawa.

    Anton Djakarta
  12. From dwipo on 14 December 2008 18:49:36 WIB
    wah kalo sultan beneran maju lumayan juga sih buat menacaukan suara. cuma kalo buat milih sultan...gimana ya. Sultan kurang promosi progream sih. Bener juga...komunikasi tuh penting banget, butuh PR yang bagus tuh para capres.
  13. From |richard.p.s| on 14 December 2008 21:19:04 WIB
    @11 Anton

    bisa berikan data, kalau orang Djawa tak suka Kalla? Public Relation nya Djawa kah?

  14. From dmitri on 14 December 2008 23:25:40 WIB
    Anggana, bukankah Sri Sultan justru lebih tau bagaimana bicara sama orang daerah, orang simpleton (yang paling Indonesia secara akar & tradisi, yaitu kota Jogja), sehingga tinggal bikin PR setiap kali mau kampanye ke daerah lain, tanpa harus fokus terlalu banyak di kota2 besar (terutama Jakarta/Medan/Bangung), dimana segmen pers tertentu dengan sendirinya bisa menjadi speaker amplifier untuk para urbanista? - Sri Sultan mungkin sudah punya bue-print yang bisa dimultiplikasi?

    sepertinya pendukung Mega bisa pindah, sementara pendukung SBY bisa diserang lewat kelemahannya: image tentara gagah yang kebingungan, yang lemah dalam mengambil keputusan atau memilih teman.
  15. From eron on 15 December 2008 12:26:06 WIB
    @ rendy
    embahnya dari kalangan borjuis ya? bisa dibandingkan gak dengan pikiran mbok-mbok bakul yang beranggapan 'jaman soeharto' lebih enak daripada 'jaman sekarang'?. please, bukan saatnya lagi untuk mengingat-ingat betapa enaknya jaman dulu. jaman wis malih cah bagus.

    bergerak majulah.

    dan terus majulah.
  16. From Mundhori on 16 December 2008 09:16:16 WIB
    Mungkin masih kurang kalau hanya 2 syarat untuk memenangkan pilpres, yaitu kemampuan komunikasi politik dan mesin politik. Belum dihitung tentang materi komunikasinya yg bisa berupa visi, misi, platform kinerja dan personal yg akan melaksanakan yg ditawarkan. Hitung hitunganya jadi komunikasi politik 60% dibagimenjadi 20 % untuk materi komunikasi, 40 % komunikasi politik dan 40 % mesin politik. Khusus untuk materi komunikasi substansinya harus dg judul besar : Perubahan. Perubahan di semua aspek yg mampu menciptakan kondisi Indonesia menjadi negari aman makmur sejahtera. Perubahan di bidang politik menjadi politik yg focus pd keopentingan rakyat. Bidang ekonomi perubahan dari system ekonomi liberal free market menjadi ekonomi kerakyatan yg berkadar kekeluargaan. Hukum yg adil yg sama hak.Sosial budaya memberikan ruang bagi rakyat untuk menjalankan kehidupan sesuai kondisi daerah, budaya dan agamanya. Apabila seorang capres mampu memiliki kemampuan mengelola ketiga hal tsb. dia adalah seorang pemimpin yg akan dipilih oleh rakyat. Tanpa itu rakyat sudah jenuh dg janji dan sebal menyaksikan action para pemimpin yg sudah melupakan amanat dari yg memilihnya, yaitu Rakyat.
  17. From Berlin Simarmata on 16 December 2008 16:24:52 WIB
    Untuk pemilihan presiden tahun depan,sepertinya Sultan harus rela jadi orang nomor dua dulu deh,mungkin jadi Wapresnya Mega dulu deh,karena pamornya belum se Indonesia,baru tingkat Jogya saja.Partainya juga belum ada kekuatan,sedangkan posisisi di Golkar,cuman penasehat di Jogya.Identitasnya juga kadang-kadang tidak jelas.OK,deh.
  18. From Panji Alam on 17 December 2008 02:30:21 WIB
    Seorang pemimpin idealnya : berwibawa, bijak, arif, tidak ceroboh, peka, berilmu, dan yang sangat penting sekali "jujur atau tidak mendustai rasa kebenaran yang ada di dlm batinnya".... Seyogianya, standar penilaian masyarakat yang harus diubah terhadap seorang pemimpin. Kenyataan yang ada sekarang adalah kelompok-kelompok masyarakat yang fanatik buta...mereka mengagung-agungkan seseorang dgn tidak berdasarkan kepada standar kepemimpinan.
  19. From yudha on 17 December 2008 11:33:56 WIB
    kalau sri sultan bisa jadi presiden, apakah demokrasi di Indonesia bakal berubah jadi kerajaan?? I hope not...
  20. From thea on 17 December 2008 17:13:02 WIB
    Menurutku terlalu naif jika kita berprasangka jika next Sri Sulatn menajdi president, maka demokrasi Indonesia akan bernafaskan feodalisme.
  21. From ichal on 31 December 2008 10:04:32 WIB
    bagus juga sultan mendeklarasikan diri untuk maju pilpre 2009, tp agaknya Sultan sulit untuk bisa menang, karena sultan bukan sosok tokoh nasional, kalo di Jogja bolehlah tdk ada yang tdk kenal beliau tp di pelosok-pelosok daerah terpencil lainnya banyak yang tdk mengenal beliau, perlu kerja keras, perjuangan dan waktu yang panjang apalagi kendaraan politiknya juga tdk ikenal. dia harus bekerja keras.
  22. From Muhammad Noer on 11 January 2009 23:22:57 WIB
    Siapapun Presiden Indonesia berikutnya, tentu kita berharap yang terbaik. Pak SBY, Bu Mega, maupun Sri Sultan, jika semuanya memang sungguh-sungguh mengabdikan diri untuk kebaikan bangsa, rakyat akan melihat dan menentukan pilihannya.
  23. From Bayu \"SUKMA NEGARA\" Sutarto on 04 May 2009 18:29:52 WIB
    Siapa yang menguasai lautan akan menguasai dunia, siapa yang menguasai daratan akan menguasai dunia, siapa yang menguasai udara akan menguasai dunia, siapa yang menguasai informasi akan menguasai dunia (Indonesia) yang terpenting bangun citra diri maupun Indonesia harus mempunyai sifat keNegarawanan. dan mempunyai RoadMap yang jelas dan baik. Waspada Akrobat Politik manusia Indonesia di balik baju atau jubah mereka adalah sebagai bagian dari alat untuk menghancurkan Indonesia. Rapat kan barisan bangun solidaritas persatuan dan kesatuan bangsa. Indonesia ada di tangan kita semua.
    Mari bersama-sama menghibur hati ibu Pertiwi agar tidak lara ataupun bersusah hati. Jalan Panjang Untuk Indonesia Sejahtera Besar dan Jaya. Untuk IndonesiaKu.

« Home