Articles

  • A sudden spate of terrorist attacks in Indonesia during the past few weeks offers insights into how supporters of the Islamic State around the world are reacting to the group's defeats in the Middle East. 

    Read ›
  • What political miracle did former and now current Malaysian Prime Minister create on May 6? Not only did he come back after 15 years of political retirement following 22 years of service as Prime Minister at the age of 92. More importantly, Mahathir put the brakes on 60 years of the Barisan Nasional hegemony in a sensational electoral upset.

    Read ›
  • In 2010, The New York Times described Boracay, previously known for its laid-back party culture, as Asia’s next tourism hot spot, and since then it has landed on the covers and “best” lists of travel magazines. Now in 2018, the question is whether any tourism spot will manage to make use of kind nature and easy culture that the world has come to expect of Boracay, Bali, Phuket, Halong Bay and many versions of paradise on earth.


    Read ›
  • Now millennials are emerging in Indonesian politics and it is encouraging. We hope they will provide fresh voices and mew outlooks. It will be disappointing if they grow in strength only because they align themselves on the basis of group identity rather than by contributing to discourses on issues and causes.

    Read ›
  • As we approach the 2018 elections, the big question is whether Indonesian democracy will survive her foray into identity politics. For all its faults, Suharto’s New Order has succeeded keeping identity politics hidden, albeit through measure which at times seemed grossly unjust.

    Read ›
  • Full recording from ABC TV discussing recent political developemnts after the shock defeat of jakarta Governor AHok

    Read ›
  • Menjelang kedatangannya, Wimar Witoelar memberi kesempatan kepada FMIA untuk berbincang-bincang tentang pandangan dan keinginannya bertemu masyarakat di Melbourne. Melalui sambungan telepon dengan Putu Pendit di Bali, ia mengungkapkan keyakinannya tentang kebhinekaan Indonesia sebagai modal sosial yang akan membawa Indonesia ke gemilangan. Ia juga yakin bahwa Pemerintah saat ini di bawah kepemimpinan Jokowi akan mampu mengatasi semua upaya untuk merusak kehidupan masyarakat yang sudah menerima pluralisme sebagai keniscayaan.

    Berikut inti sari perbincangan itu

    Read ›
  • The Jakarta Post 3 Oct 2017 Wimar Witoelar The writer was the spokesman for former president Abdurrahman Wahid (1999-2001). The views expressed are his own.

    As we reminisce on experiences of Sept. 30, 1965, my friend of 56 years opened his remarks by an observation that resolved many questions. Who set off the drama? Who was to blame for the rural massacre? Was Gen. Soeharto the solution or the problem? Why are some people raising the Indonesian Communist Party (PKI) as a current issue? His perspective cut through the noise that has enveloped social media. Here is what I learned.

    Read ›
  • As we reminisced on experiences of September 30, 1965, my friend of 56 years opened his remarks by an observation which resolved many questions. Who set off the drama? Who was to blame for the rural massacre? Was General Suharto the solution or the problem? Why are some people raising the PKI as a current issue? His perspective cut through the noise that has enveloped social media. Here is what I learned.

    Read ›
  • Abdon Nababan Courtesy Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman)

    It never occurred to Abdon Nababan that his persistence in fighting for indigenous rights and campaigning for the environment in the past two decades would result in his being honored with the prestigious Ramon Magsaysay Award.

    Abdon, one of the country’s most prominent environmental activists, is among this year’s six recipients of the award, which honors leadership in solving society’s most intractable problems and is regarded as Asia’s Nobel Prize.

    Read ›
  • Bicara mengenai Pancasila kita sebenarnya sudah beyond menghafalkan sila satu per satu atau membahasnya. Tapi kita terus rileks dalam kehidupan kita. Sebab apa yang kita alami adalah produk dari Pancasila. Bahwa kita bisa berekspresi bebas, bahwa kita bisa bergerak sebagai masyarakat plural yang sederajat semua suku, semua pemeluk agama, semua daerah, itu akibat Pancasila. Kegiatan-kegiatan yang akhir-akhir ini muncul membuat kita khawatir bahwa Pancasila itu tidak bisa dibiarkan bertahan dengan sendirinya tapi harus dibantu. Seperti saya yang sudah tidak bisa jalan perlu kursi roda. Tapi Pancasila belum masuk kursi roda.

    Read ›
  • Ihad the privilege of having a one-on-one conversation the other day with a gentleman who heads the Indonesian office of a major multilateral institution. We structured the conversation in a Q&A on Indonesian current concerns.

    Read ›
  •  

    In this discussion he insisted that the government make its best effort to speed up the recognition of indigenous forests. "Now social forests which are still in process amount to 590.000 hectares. I have already instructed the ministries to act swiftly in distributing the land. I know that this is right of the indigenous peoples. If we give the rights to the indigenous peoples, I'm sure that the forests will be better kept and more green. I saw this myself in the field," says the President.

     

     

    Read ›
  • Bagaimana Anda melihat kondisi politik saat ini?

    Ya Indonesia selalu berada dalam transisi pancaroba. Dan mungkin tahun ini adalah salah satu tahun yang terpenting. Sebab sejak perubahan besar tahun 1998, ini sekarang kita mengalami masa di mana rakyat punya kekuasaan untuk mengkaji kembali arah politik Indonesia. Mudah-mudahan berakhir dengan tidak merusak hasil yang sudah dicapai selama ini.

    Read ›
  • Tim Kaine mengenakan dasi merah pada debat calon wakil presiden di Virginia, Selasa malam. Mike Pence mengenakan dasi biru. Warna-warna tersebut lucunya juga menunjukkan suasana emosi malam itu: Kaine emosional sedangkan Pence tenang.

    Pada pernyataan pembukaannya, si demokrat menunjukkan berbagai gaya yang tidak beraturan: dia berusaha memperkenalkan diri secara terburu-buru, mengutip tokoh lokal hak-hak masyarakat, memuji pasangan kampanyenya, menyinggung ketidakstabilan Donald Trump, dan pesan-pesan itu semua tercampur baur dalam ekspresi kegelisahan.

     

    Read ›
  • Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “lansia”? sebagian besar dari kita akan memikirkan “tua” , “jompo” , dan “lemah”, namun, tidak sedikit pula yang akan memikirkan “pengalaman” , “veteran”, atau bahkan “pensiunan”. “Lansia” adalah kependekan dari “Lanjut Usia”.

    Menurut Adhi Santika, seorang dosen UI dan pendiri Yayasan Swastivarna, “Lansia” adalah kelompok umur diatas 60 tahun. Usia yang telah melewati masa Golden Age atau istilah lainnya adalah “Tidak muda lagi”. Hampir semua orang kategori “Lansia” adalah seorang pensiunan atau orang yang sudah tidak bekerja atau beraktifitas seperti orang-orang di kelompok usia dibawahnya. Sementara “Kelanjutusiaan” secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah proses penuaan atau Aging. Kedua hal ini tidak bisa dihindari, meskipun begitu, menurut Adhi, semuanya bisa dipersiapkan. 

    Read ›
  • Pada tanggal 6 November 2016, lebih dari 100 juta pemilih di Amerika Serikat akan menentukan Presiden mereka untuk 4 tahun berikutnya. Pada saat ini, polling menunjukkan kecenderungan berimbang antara calon Partai Republik Donald Trump dan calon Partai Demokrat Hillary Clinton. Sungguh aneh keadaan berimbang ini, sebab tidak pernah ada perbedaan yang mencolok seperti ini antara dua calonPresiden AS dalam sejarah Pilpres modern.

    Read ›
  • Last week an investigative team from the Environment and Forestry Ministry was ambushed as it investigated fire-ravaged concession lands in Rokan Hulu, Riau.

    Later, a team from the Peatland Restoration Agency (BRG) was prevented by security staff from the Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) company from conducting an inspection to collect data on the opening of new peatlands and the construction of canals as reported by the local community.

    Read ›
  • Dwi kewarganegaraan (DK) akhir-akhir ini menjadi topik hangat di Tanah Air. Seiring dengan derasnya arus globalisiasi, pasar bebas, serta migrasi internasional, baik-buruk serta tepat-tidaknya memberlakukan DK adalah suatu wacana yang harus dikaji oleh (hampir) semua negara. Tak terkecuali Indonesia. 

    Read ›
  • “Senang sekali bertemu anda on this very spicy day,” sapa WImar dari kamar tidurnya ke para pendengar setia Weker Wimar pada Selasa, 2 Agustus 2016. Tema Weker Wimar pagi itu adalah rempah-rempah (spices). Kenapa rempah-rempah? Menurut Wimar, rempahlah yang membuat Indonesia pada masa lalu masuk dalam peta dunia.


    Indonesia dulu dikenal sebagai spice islands. Wimar mengingat masa kecilnya ketika bersekolah di Eropa ia pernah ditanya dari mana asalnya. Lalu ketika menjawab ia dari Indonesia, orang yang bertanya menanggapi, “Oh, the spice islands!”

     

     

    Read ›

« Home | ‹ Previous | Next ›