Articles

Gus Dur: Bapak Pluralisme Dunia

Perspektif Online
21 September 2006

Syafi’i Anwar mengatakan bahwa Gus Dur adalah bapak pluralisme Indonesia. Wimar Witoelar menambahkan bahwa beliau sebetulnya juga adalah bapak plularisme dunia, mengingat bahwa dunia kini kekurangan tokoh pluralisme dan bahkan didominasi oleh pemimpin eksklusif dari semua pihak.

 

Kedua pernyataan ini keluar pada dalam peluncuran buku ‘Islamku,  Islam Anda,  Islam Kita’  karya Gus Dur. Pluralisme dan Pembelaan adalah dua kata kunci dalam kumpulan tulisan Abdurrahman Wahid ini. Tulisan berangkat dari perspektif korban, terutama minoritas agama, gender, keyakinan, etnis, warna kulit, posisi sosial. ‘Tuhan tidak perlu dibela,’ kata Gus Dur, tapi umatNya atau manusia pada umumnya justru perlu dibela. Salah satu konsekwensi dari pembelaan adalah kritik, dan terkadang terpaksa harus mengecam, jika sudah melewati ambang toleransi.

 

11.jpg  po12.jpg.jpg po13.jpg.jpg

 

Komentar Syafi’i Anwar dan Wimar Witoelar disusul pula oleh Bambang Harymurti dan akhirnya Abdurrahman Wahid sendiri pada acara peluncuran buku ‘Islamku,  Islam Anda,  Islam Kita’  sekaligus perayaan hari ulang tahun kedua The Wahid Institute. Hadir di Hotel Aryaduta tgl 21 September malam  antara lain (berdasarkan abjad) Bambang Harymurti, Dawam Rahardjo, Erlan Suparno (Menteri Tenaga Kerja), Hariman Siregar, Jaya Suprana, Luhut Panjaitan (mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan),  Mahfud MD (mantan Menteri Pertahanan), Marsillam Simandjuntak (mantan Sekkab dan Jaksa Agung), Dr. Nikolaos van Dam (Duta Besar Belanda), Rosiana Silalahi, Roy BB Janis, Sarwono Kusumaatmadja, Shaban Shahidi Moaddab (Duta Besar Iran), Todung Mulya Lubis, dan Taufik Kiemas.

 

14.jpg 15.jpg 16.jpg

 

Dalam sambutannya selaku pemberi Kata Pengantar buku tersebut, Direktur International Center for Islam and Pluralism (ICIP) M. Syafi’i Anwar mengatakan sejak awal Gus Dur memihak kelompok minoritas. Komitmen itu ditujukkan dengan bukti sehingga Indonesia tetap menjadi negara plural. Karena itu Gus Dur adalah Bapak Pluralisme Indonesia.

 

Pendapat tersebut didukung Wimar Witoelar. Berbicara sebagai kolega dan sahabat keluarga Gus Dur, Wimar mengatakan Gus Dur bukan hanya Bapak Pluralisme Indonesia tetapi juga sudah menjadi Bapak Pluralisme Dunia. Saatnya tepat karena dunia saat ini sedang kehilangan tokoh-tokoh pluralisme dan sebaliknya didominasi oleh tokoh yang bersikap eksklusif.

 

Wimar mengingat kembali waktu menemani Gus Dur selama dan setelah masa kepresidenannya. Setiap kunjungan ke luar negeri seperti Melbourne dan Washington, masyarakat di sana sangat menyambut hangat kehadiran Gus Dur. Justru dukungan ini terasa setelah Gus Dur tidak lagi menjabat Presiden. Bagi dunia tidak penting perkembangan politik di Indonesia, tapi mereka melihat Indonesia sebagai pusat pluralisme karena ketokohan Gus Dur dalam bersahabat dengan semua golongan. Satu contoh respek luar negeri adalah sambutan luarbiasa yang diberikan kepadanya dengan ditunjuk menjadi keynote speaker pada Kongres American Jewish Committee di Washington, DC. Ditambah lagi dengan penampilannya bersama Condoleezza Rice sebagai after-dinner speaker pada penutupan acarfa terbesar kaum Jahudi di Amerika tersebut. Pada acara itu Gus Dur duduk bersama sahabatnya Uskup Agung Paris Jean-Marie Lustiger. Masyarakat dunia menaruh harapan pada Indonesia dengan sikap moderat Gus Dur yang menarik perhatian dunia setelah peristiwa 11 September 2001.

 

001.jpg 02.JPG 03.JPG 05.jpg 06.jpg                  

 

Sementara itu, Gus Dur dalam pidatonya mengatakan pluralisme yang menjadi isi buku dan roh dirinya diambil dari keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) pada 1935. Muktamar memutuskan menjalankan syariat Islam tapi tidak perlu negara Islam di Indonesia. Keputusan tersebut lahir dari pemikiran kakeknya KH Hasyim Ashari dan bapaknya KH Wahid Hasyim yang melihat Indonesia sebagai negara plural. Sampai saat ini tokoh-tokoh Islam sebagian besar menolak Negara Islam. Gus Dur sangat menolak peraturan daerah berdasarkan syariah Islam yang mulai menyebar di Indonesia.

 

Buku ‘Islamku,  Islam Anda,  Islam Kita’ telah diminta untuk dialihbahasakan ke tujuh bahasa yaitu Jerman, Belanda, Prancis, Inggris, Jepang, Korea, dan China.

 

 

Print article only

63 Comments:

  1. From EI on 22 September 2006 08:30:41 WIB
    WOW.. the greatest Gus Dur.
    hebat sekali. Saya sependapat dan setuju sekali kalau Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme dunia. Mudah2an banyak orang terinspirasi oleh Gus Dur untuk ikut menganut nilai2 pluralisme ini.
    what a better world if that can be happened :)
    Trima kasih pak Gus Dur!
  2. From mansur on 22 September 2006 09:07:14 WIB
    Indoneisa adalah negara plural dari semua sisi. Baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang didalamnya mencakup suku, agama, ras, dan antargolongan. Kenyataan ini harus dijunjung dan dipertahankan. Belum banyak yang memahami ini, apalagi memperjuangkannya. Gus Dur dan juga Bung Wimar yang termasuk memahami dan memperjuangkannya. Hidup pluralisme
  3. From Djatmiko Wibowo on 22 September 2006 11:20:24 WIB
    Gus Dur sebagai Tokoh Pluralis Dunia? Setuju 101 %, karena memang kenyataannya begitu, dalam wujud pikiran, omongan maupun karya nyata, bahkan Gus Dur boleh dibilang Pluralis dalam banyak hal seperti Agama, Gender, Budaya, Musik/lagu, generasi deesbe deesbe, Hidup Pluralisme, karena hidup ini sesungguhnya memang Plural bukan?
  4. From Lullu on 22 September 2006 12:41:58 WIB
    Yeah..Gus Dur, the father of pluralism. Dan senang sekali saya bisa ketemu Wimar lagi kemarin.
  5. From Berlin Simarmata on 22 September 2006 13:14:14 WIB
    Sejak saya mengenal tokoh Gus Dur,melalui tulisannya,mungkin pada saat itu dia baru masuk pimpinan NU,langsung saya kagumi dengan sikap dan pandangannya yang Pluralisme.Berbahagialah bangsa ini,bila dimasa mendatang mempunyai tokoh seperti Gus Dur.Semoga.
  6. From san on 22 September 2006 13:26:53 WIB
    Gus Dur for President
  7. From budi on 22 September 2006 13:28:23 WIB
    Gus Dur -Bapak Pluralisme Dunia- tp di Indonesia dianggap sebagai "pengacau". Entah kenapa "orang baik" (baca: nabi) hampir selalu (atau pasti?) ditolak di tempat asalnya.

    Kalo mau jujur, sebenarnya Gus Dur telah banyak melakukan "hal yang benar" meskipun dgn cara yg menurut sebagian orang, salah.

    Sayang sekali karena "bungkus" kado yg jelek, kita menolak menerima kado yg istimewa.
  8. From angga on 22 September 2006 14:07:53 WIB
    viva gus dur,,,
    wah gak kebayang dulu kalo ga ada gus dur contoh kAsus sang timur, say yang notabene sekolah di sekolah katholik juga merasa was2 dengan trgedi yg kya begitu memukul perasaan umat, tapi gus dur dengan berani memperjuangkan kaum minoritas, walaupun beliau dicerca habis2an oleh khlayak yg merasa benar, saya juga masih berharap gus dur tetap sehat sampai saya lihat gus dur mendapat nobel perdamaian, atau dinominasikan bapak pluralisme dunia,,, bless you always gus dur
  9. From Me tea on 22 September 2006 15:59:39 WIB
    Tanpa jadi Presiden, tidak kurang peran Gus Dur
  10. From raden taufan on 23 September 2006 00:17:44 WIB
    Saya mulai mengetahui ketokohan seorang abdurrahman Wahid semenjak saya duduk di bangku SLTP.Pada saat itupun (era ORBA)beliau sudah dikenal sebagai salah satu tokoh yang berani untuk "tengadah" kepada rezim pada saat tokoh yang lain bermain aman dengan "tiarap",seperti juga Bapak amien Rais.Bagi masyarakat awam,statement2 dan langkah2 beliau sering kali tidak bisa difahami sepenuhnya dan itu seringkali menimbulkan kontroversi bagi masyarakat sendiri.Namun dibalik itu semua,yang selama ini beliau lakukan adalah demi menambah keluasan wawasan berfikir masyarakat Indonesia yang kadang tidak mau atau tidak menyadari bahwa Pluralisme di Indonesia adalah sebuah hal yang tidak terbantahkan.Last words...BRAVO,Gus..!!Keep On..!!
  11. From Herdian on 23 September 2006 02:22:30 WIB
    Setuju dengan pluralisme.....
    Menyadarkan kita bahwa secara tidak langsung kita adalah sesama mahluk dunia yang harus mengerti perbedaan satu sama lain demi kedamaian yang seharusnya bisa diraih dengan tingginya kesadaran dan saling pengertian satu sama lain...Dan yang pada akhirnya bisa membawa kemajuan satu sama lain
  12. From Michael Sujadi on 23 September 2006 15:32:32 WIB
    Terima kasih Tuhan karena di Indonesia yang bejat dan korup ini masih ada tokoh yang berani membela yang benar seperti Gus Dur. Gus, tolong ingatkan manusia Indonesia apapun ras maupun agamanya untuk berani bersikap anti korupsi walaupun harus kere dan doronglah segenap institusi yang ada di Indonesia untuk menerapkan meritokrasi dan anti diskriminasi.
  13. From Hengki on 23 September 2006 18:11:42 WIB
    pluralisme...saya yakin banyak orang yang mengamininya. cuman saya mo nanya, kalo seseorang ingin mengapresiasikan sesuatu trus hanya terlaksana cuman 68% karena adanya perbedaan. Yang seperti itu masuk yang mana??? yang cuma ambil aman (tiarap) atau menghormati pluralisme ? toh berkembangnya pluralisme khan juga tergantung bagaimana kita saling respect toh?
  14. From uge on 24 September 2006 10:16:05 WIB
    anehnya di Indonesia kok ada semangat untuk menantang pluralisme, malah justru memperjuangkan keseragaman, ada apa gerangang dengan Indonesiaku
  15. From chandra fernando on 24 September 2006 10:52:34 WIB
    gusdur memang tokoh pluralis.di tengah kontroversi tentang dirinya, ia tetap dengan karakter dirinya sebagai pembela kaum minoritas dan menerima kemajemukan masyarakat indonesia.dia tokoh islam pertama yang mau membuka hubungan diplomatik dengan israel di masa kepresidenanya.
    ini membuktikan bahwa gusdur ialah tokoh islam yang liberal, moderat, dan demokratis.
    jangan berhenti perjuanganmu gusdur!!!!!
  16. From Bob on 24 September 2006 15:28:10 WIB
    Gusdur tokoh pluralisme dunia? No way.. dia tidak tulus dalam memperjuangkan ide2nya.Ingat dia itu pemain akrobat politik yang pandai mengipas2 issue2 primordialisme dan menangguk keuntungan politik darinya.Kita kelewat tinggi mengangkat orang yang tidak pantas dipuja2.Di PKB dia rada2 feodal dlm memanfaatkan "darah birunya" untuk override aspirasi2 yang berbeda dlm tubuh partai.Makanya PKB pecah berkali2. Kyai2 juga udah capek memanjakan dia. Dia bahkan hampir jadi diktator waktu mau bubarkan DPR/MPR tahun 2001. Belum lagi bicara soal skandal2 selama pemerintahannya seperti tukang pijat 30 milyar atawa bisik2 dengan kriminal Tommy Suharto di Borobudur. Masih banyak orang yg genuine pluralist seperti Ulil Abshor Abdalla, atau Nurcholis Majid yang so far bebas cacat. Gusdur ? sorry, I don't think so.
  17. From wonder_sandy@yahoo.com on 25 September 2006 01:29:02 WIB
    HOLY be to GOD The Almighty
    For there are still A Gus Dur and A Wimar Witoelar to restore our believe in the midst of the uncertainty.
    PS : I wonder why we tend to use words "Sorry" unnecessarily(eg:Bob)...You are free to have any opinion you want..no need to apologized ..you're not insulted anyones intelligent.Save the word for the proper use.
  18. From joko sumpeno on 25 September 2006 14:36:26 WIB
    Yth. Bung Wimar

    Dh, perkenalkan kami dari relawan YPAC Solo, kami ingin sekali Bung Wimar memberi masukan kepada kami akan keberadaan web kami yaitu www.ypac-solo.org silahkan kunjungi kami dan siarkan akan keberadaan kami.
    Tidak lupa kami ingin masukan bagaimana mengembangan web ini agar dapat menarik donatur sebanyak-banyaknya untuk memberi bekal kemandirian dan rehabilitasi medik anak2 didik kami.

    Demikian dari kami atas bantuanya kami ucapkan terima kasih.



    Wassalam




    Joko

    Nb: Salam untuk Ibu Gus Dur karena beliau peduli sekali akan anak2 cacat Indonesia
  19. From Ismail HAniyeh on 27 September 2006 20:57:34 WIB
    GUS DUR memang bapak pluralisme dunia tetapi pluralisme yang beliau perjuangkan terlalu berlebihan dan itu sedikit demi sedikit menyentuh garis syariat yang mutlaq ketetapannya.Ingat Ketika beliau ucap " AL Quran itu kitab paling porno" itu membuktikan bang wimar bahwa disini beliau telah menodai pluralisme itu sendiri, memang beliau tidak menghina agama lain but beliau menghina AGAMANYA SENDIRI ,walaupun menurutnya sah2 saja , BUT itu mengindikasikan bahwa beliau belum mengerti arti pluralisme itu sendiri.
  20. From deedee on 02 October 2006 11:13:32 WIB
    Welcome Controversy,......Gus Dur is full controversy, mirip rocker jaman baheula,....tapi kita perlu orang kayak beliau, pembaharu pemikiran jaman sekarang,......open your mind folks,...
  21. From Bambang Haryanto on 04 October 2006 12:35:40 WIB
    Bung Wimar,
    Saya baru saja menulis sosok Gus Dur sebagai humoris yang pantas diteladani oleh para komediwan di Indonesia, karena menu "self-deprecating"-nya bersifat universal. Artikel itu berjudul "Dosa-Dosa Komedi Kita" di blog saya, Komedikus Erektus ! (http://komedian.blogspot.com). Saya ingin tanya : mengapa Gus Dur suka sama lagunya Janis Joplin, Me and Bobby McGee ?
    Makasih.
  22. From jibun on 06 October 2006 13:42:13 WIB
    Untuk bung ismail haniyeh :
    Mencoba untuk memahami pemikiran Gus Dur dg segala kontroversinya memang bukan pekerjaan yang mudah, apalagi kalau pemikiran kita terbelenggu pada kelompok dan pemahaman yang kita anut serta mengedapankan apriori secara personal, ditambah lagi apabila yang kita tangkap adalah pernyataan yang sepotong-sepotong seperti yg anda permasalahkan. Kalau memang memahami Al-Quran, anda tentu tahu bahwa di dalamnya ada ayat2 yg mengatur tentang hubungan antara suami dan istri. Hal tersebut dapat dilihat sebagai suatu yang sangat personal dan saru apabila dibicarakan. Jadi dibalik pernyataan Gus Dur tersebut sesungguhnya beliau ingin orang yang diluar islam mengetahui betapa sempurnanya Al-Quran yang merupakan kitab suci umat islam.
    Terakhir orang bijak tidak akan pernah bertanya dari ayam mana telur yang ia makan, karena telur tetaplah telur dari ayam manapun ia keluar.
  23. From m.aziz on 08 October 2006 11:17:44 WIB
    bersyukurlah bangsa indonesia yang punya GUS DUR walaupun tidak jadi presiden tetapi tetap eksis dengan gagasan dan pemikiran yang brilian to Islam di nusantara dan bangsa indonesia.
  24. From Akhadi Ahwan on 09 October 2006 15:20:11 WIB
    Saya pemerhati Gus Dur dan pengagum beliau. Saya ingatkan Ismail Hanieh, anda terlalu picik dan instan untuk menilai Gus Dur. Dari komentar anda saya tangkap bahwa anda tidak mendengar secara langsung apa yang disampaikan Gus Dur waktu itu. Ya akhirnya anda menjadi Juru Fitnah yang tidak amanah, yang mengakibatkan orang lain marah tanpa tahu yang dimarahkan. Dan walaupun mendengar secara langsungpun bila pikiran anda yang "porno" itu tidak anda bersihkan ya tetap saja akan anda pahami secara demikian. Coba sekali lagi anda lihat sumber-sumber yang memberitakan pernyataan Gusdur itu secara lebih komprehensif dan ilmiyah. Semoga hati anda terbuka untuk bertobat.
  25. From Arek nJombang on 10 October 2006 09:58:07 WIB
    Gus Dur, maju terus jangan takut tergerus! Apa kabar juga para penghujat Gus Dur. Termasuk Kyai yang mau menyumpal mulut Gus Dur, ada wawancaranya kok di www.eramuslim.com Hayo keluar jangan sembunyi jadi pengecut.

    Bravo buat GUS DUR and kang WIMAR.

    Salam
    Arek nJombang

  26. From horas sude on 11 October 2006 21:11:41 WIB
    Jika Anda ingin mengenal siapa sesungguhnya seseorang itu, maka kenalilah dahulu teman-temannya. Jika kita ingin mengenal GusDur, maka kenalilah dahulu teman-temannya: Alm.Romo Mangun, Sarwono Kusuma Amadja, Romo Mudji, Rosianna Silalahi, Todung Mulya Lubis, dan sederet manusia-manusia lain yang memaknai hidup ini dengan cara memberikan penghargaan tertinggi bagi sesamanya melalui sikap hidup yang penuh toleransi dan selalu berjuang bagi kebenaran.
  27. From renno on 12 October 2006 10:52:12 WIB
    Syalluth...for GusDur, tidak berpandangan sempit seperti kebanyakan orang yang bangga karena mereka merasa mayoritas. Kebanggaan yang terjerumus kejurang sombong, tinggi hati, dan phobia terhadap orang diluar mayoritas.
    Syallom..
  28. From Gus Dur, Saya Ikut Sampeyan on 18 October 2006 21:34:28 WIB
    Mereka2 yang benci Gus Dur adalah orang2 sektarian yg primordialistik. Maju terus Gus Dur. Anda adalah mujadid (pembaharu) Islam abad 20-21.
  29. From yoedo soegiono . es on 28 October 2006 13:44:10 WIB
    Saya punya usul dan ini mungkin orang lain mau mendukung seperti apa yang saya utarakan disini, begini : perkawinan secara islam hanya dilakukan sekali di KUA dan tidak dicatat di catatan sipil , sedang bagi agama yang non islam kenapa setelah melakukan peerkawinan secara agama masih disuruh dicatat dicatatan sipil berarti ini tidak adil , bukanya karena saya orang muslim tapi ini demi keadilan bagi semua pemeluk semua agama itu yang pertama dan yang ke dua undang2 perkawinan yang diatur seharusnya perkawinan antar agama tidak dipermsalahkan , tapi kenapa di indonesia dipermasalhkan seharusnya undang2 perkawinan antar agama tidak usah dipermasalhkan karena syah dan tidaknya orang tsb dalam perkawinan adalah Tuhan yang tahu bukan ditentukan oleh manusia , untuk itu mentri agama di indonesia harusnya dihilangkan , seharusnya tanpa menteri agama , coba kita perhatikan apa diluar negri ada menteri agama , saya kira urusan perkawinan tidak perlu melibatkan negara ini urusan agama masing2 dan negara saya kira tidak perlu mengurusi hal2 seperti ini . sekian terima kasih. dari aku HP 021- 70419435 . 021- 93592796 panggil saja aku yoses.
  30. From passya on 29 October 2006 20:49:10 WIB
    Gus Dur? Ikuti yang benarnya saja dan selalu kritis terhadap siapa saja. Yang namanya manusia gudangnya salah, jadi jangan sekali-kali mengkultuskan individu
  31. From adi on 01 November 2006 20:07:57 WIB
    mao kenal gusdur..baca bografinya..bakal tau apa aja pemikiran dia...gw tetep salut..gw minta tolong banyak orang untuk selalu ngedoain kesehatan dia..insyaalloh banyak orang2 bisa lahir seperti sikap gusdur( gabungan tokoh hebat ),sikap mahatma gandhi ( non kekerasan ),bundha teresa ( kasih sayang),soekarno ( nasionalis ),seperti para kyai dikampung...yang doyan humor ( tanpa humor,hidup lebih berat )
  32. From Yudo on 08 November 2006 00:02:29 WIB
    Menurut saya salah sekali Gus Dur dianggap bapak pluralisme... Tapi... Justru Beliau-lah Pluralisme itu sendiri (Pluralisme di Indonesia khususnya)... GUS DUR - PLURALISME INDONESIA: melekat bagaikan 2 sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan...
    Mungkin 20 - 40 tahun lagi, keturunan kita akan mengenang salah seorang tokohnya yang menjadi simbol pluralisme dan utuhnya negara NKRI... Yaitu: GUS DUR...
    Dengan segala sifat, kelebihan dan kekurangan Beliau(terutama dalam management pemerintahan... maaf Gus...) There is only one word ... "What a GREAT MAN!!!"
  33. From Darwin Baharuddin on 25 November 2006 14:35:06 WIB
    Memang tepat Gus Dur sebagai Bapak Pluralisme, gak bisa terbantahkan! Usul nih bung Wimar, bagaimana kalau semua joke , humor segar dan cerdas beliau dibukukan atau dimuat dalam web ini. Kita tau beliau punya banyak sekali perbendaharaan lelucon yang menggelitik.
  34. From agung on 19 December 2006 16:08:41 WIB
    Bagi saya Gus dur bukanlah reformis ataupun pluralis mengingat bila dia berhadapan dgn kondisi yg merugikan dia maka akan nampak emosionalitas dan ke egoisan yang tinggi, contohnya ketika ia kalah dari hasyim muzadi dalam pemilihan ketua PBNU, dia begitu marahnya sampai ingin membuat NU tandingan, seakan2 dia lupa dan tidak mau menghargai demokrasi. Begitu pula ketika tidak lolos tes kesehatan capres 2004. Sewaktu dia jadi presiden pun dia sering mengelak pernyataannya sendiri dengan menuduh pers "memelintir" pernyataanya.
    Saya cenderung melihat gusdur orang yg memiliki darah biru dalam NU yg hidupnya selalu dipuji karena warisan darah birunya itu sehingga dia selalu merasa paling tau, paling benar. Sejujurnya ketika dia menyerang pendapat2 orang lain yang berseberangan dgn dia maka sesungguhnya dia telah melepaskan arti pluralisme itu sendiri dengan tidak mau mengakui perbedaan pendapat. Jadi berhentilah memujinya dia bukan rasul atau nabi karena dia juga manusia yg memiliki keterbatasan pikiran dan pemahaman.
    wassalam
  35. From Muhammad Mahsun on 09 February 2007 01:36:15 WIB
    Kalo gw setuju banget bila Gus Dur dijuluki sebagai Bapak Revolusi Pola Pikir Indonesia. Habis beliaulah yang bisa mendekonstruksi pola pikir bangsa akibat ulah rezim otoriter yang membuat bangsa ini mandeg dan ketinggalan dalam berbagai bidang. Meskipun resiko yang harus beliau hadapi adalah dihujat habis. Bukankah revolusi bisa memakan anak kandung sendiri ?, nah soal itu ndak usah dipikirin, gitu aja koq repot ya Gus ?. Bravo buat Bung Wimar !
  36. From coya on 18 February 2007 00:48:10 WIB
    yang jelas, hidup mati ikut Gus Dur, biasalah kalo Gus Dur disebut bapak Pluralis Dunia, wajar koq.
    ada 4 rahasia Tuhan dalam kehidupan,
    1. Jodoh
    2. Rejeki
    3. Mati
    4. Gus Dur
  37. From QNOY on 18 February 2007 22:29:59 WIB
    GUSDUR (menurut saya) adalah orang paling plinplan sejauh yang saya tahu. Apa WW nggak pernah dengar atau pura2 tuli dengan banyak nya omongan gusdur yang nggak bisa dipegang.
    Sering menyangkal omongannya sendiri waktu dia masih jadi presiden.
    Waktu kalah sama hasyim muzadi, dia sampai bersumpa( saya masih ingat dengan jelas ) "potong jadi saya jika dalam 6 bulan tidak membentu PBNU tandingan"
    buktinya sampai sekarang?
    yah, kenapa yang orang-orang itu enggan untuk mengkritik gusdur. Apa sih agung nya seorang Gusdur sehingga dia begitu didewakan?
  38. From mas tado on 28 March 2007 10:53:03 WIB
    Luar biasa.saya salah seorang yang mendapat berkah pencerahan Gus Dur. dulu saya termasuk orang yang fanatik, pandangan sempit,beda organisasi saja bisa jadi musuh apalagi beda agama. tapi saya bertobat bahwa itu SALAH BESAR. ini karena banyak membaca dan memperhatikan pemikiran Gus Dur, sehingga menjadi tercerahkan. beliau memang pejuang tulen, tidak takut resiko, apapun akan dihadapi apabila yang ia perjuangkan itu diyakini benar. tanpa bermaksud mengkultuskan tetapi fakta-fakta empiris menunjukkan bagaimana ia melakukan pembelaan abis-abisan terhadap etnis minoritas cina, non muslim. bahkan sanggup melawan arus besar.Beliau memang kontorversial, kalau dalam memahami statemen nya hanya parsial. Apa yang dilakukan adalah menalankan peran sebagai "penyeimbang" sehingga tidak terjadi diktator mayoritas. Dikala orang (yang sekarang jadi tokoh) tiarap mencari selamat, Gus Dur tampil tanpa tedeng aling-aling menjadi pembela demokrsi, pembela kaum marginal. Jalan terus Gus...
  39. From Timo on 13 April 2007 09:43:41 WIB
    Salute buat Gus Dur dan siapa saja yang memperjuangkan pluralisme tetap ada. Jangan jadikan agama sebagai buldozer untuk menggilas / menghancurkan kendaraan kecil :-)
    Tuhan tidak perlu dibela, karena jika kita membela Tuhan, berarti secara LANGSUNG kita menganggap bahwa Tuhan yang kita bela adalah Tuhan yang lemah, dan itu jelas bukan Tuhan saya, karena Tuhan saya adalah Tuhan yang maha kuasa, gagah dan perkasa, dan DIA bisa membela diriNYA sendiri. Ayo Gus Dur, teruskan perjuanganmu, tidak akan pernah sia-sia kok. Bravo.
  40. From adin on 20 May 2007 23:46:23 WIB
    Wimar..anda antek2 gusdur ya? dan anda itu orang yang sombong dan munafik? ingat Tuhan itu tidak bodoh dan tau segala kelicikan anda!
  41. From joseph on 16 June 2007 05:41:11 WIB
    Ass,Gus Dur.Wah menarik ya untuk dibicarakan pemikirannya.sudah saatnya kita menghormati pemikiran orang lain tanpa harus menghujat toh hanya pemikiran.salut buat Gus Dur,sebagai Mahasiwa Islam saya bangga punya pemimpin seperti beliau,
  42. From surya on 25 June 2007 00:02:52 WIB
    pokoknya gusdur gak ada tandingannya seorng pejuang kebebasan berpikir prulalis sekaligus demokratis satu satunya manusia zuberman.entahlah kalo gusdur gak ada lagi mungkin perkiraan perang peradaban barat timur bisa bener bener terjadi pokoknya gusdur harus tetap banyak menulis agar pikiran pikiran nya bisa menasional dan bisa dipahami
    hidup gusdur.... lawan kejumudan dan yang sok puritan maupun puritan juga yang baru puritan

  43. From Lukman Hakim Jambi on 20 August 2007 19:24:43 WIB
    I Always Support U Gus
  44. From Nur Habib El Mehboob on 30 October 2007 14:46:41 WIB
    menurut pendapat saya, kalau dari dahulu kita mempunyai seorang tokoh seperti beliau, maka kekerasan atas nama agama tidak akan pernah terjadi di negara kita ini, tidak ada satupun-setahu saya- seorang tokoh di Indonesia yang dapat mengatakan "YA" kepada semua perbedaan dan tidak membesar-besarkan perbedaan itu sendiri.Gus Dur (ABDDUL RAHMAN WAHID, dari dulu saya selalu dengar bahawa nama adalah doa dan selama itu pula saya tidak pernah percaya dengan hal itu saya hanya percaya perkataan Shakespeare bahawa APA ARTI SEBUAH NAMA, dan setelah saya tahu dan membaca berbagai karya Gus Dur saya bahawa nama beliau memang sesuai dengan namanya yaitu Hamba Sang Maha Pengasih, dan Gus Dur adalah salah seorang yang menebarkan Cinta Kasih kepada semua orang tanpa memandang agama,kelas dan rasnya dan dengan cinta kasih itulah beliau dapat menjadi seorang yang besar hati dan berwawasan luas seluas keluasan itu sendiri, Kalau seandainya dikatakan bahwa Gus Dur adalah seorang 'Nabi' maka saya adalah orang yang pertama kali percaya akan hal itu, tetapi konsep nabi di sini harus diartikan sebagai seseorang yang membawa kedamaian dan pesan-pesan ketuhanan.
  45. From ahmad hanif on 14 December 2007 23:28:24 WIB
    choose gus dur as the president for 2009.biarkan dia menjalankan kebijakannya dan dukung terus sampai tiga tahun
    niscaya semua masalah di Bumi indonesia akan terselesaikan walaupun kebijakannya terkadang kontroversial menurut umum tapi toh akhirnya benar.teruskan berpikir dan bertindak untuk rakyat saya doakan semoga diberi kekuatan dan kesehatan dan sukses selalu.
  46. From Bjel on 07 January 2008 11:27:04 WIB
    Pluralisme adalah menjalani perbedaan..kita semua sudah menjalaninya, yg beda cuma kadarnya aj..jari beda, Tangan Beda, elemen wajah beda antara bibir dg mata..dll, gak asik kan klo sama semua..:-) ada yang 'menyadari' dalam keragaman ada yg belum..cuman beda-beda tipis..antara mikro kosmos dg makro kosmos...bagi yang merasa semua harus seragam...semoga kesehatan dan pencerahan menghampiri anda..amien..Bravo Gus Dur, Bang Wimar...Bravo Kedamaian
  47. From ndhoen on 05 March 2008 16:06:39 WIB
    bagi kami....
    gusdur adalah teman, guru sekaligus bapak bagi kami....




    nonsens of community
  48. From Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Perseps on 23 March 2008 19:30:13 WIB
    Gusdur adalah benar Bapak Pluralisme Dunia, artinya telah memenuhi rencana Allah didalam Al Baqarah (2) ayat 148: Bagi tiap-tiap umat (Buddha, Hindu, Yahudi, Narani, Islam, Konghucu, Shinto dan kepercayaan lain sebagainya) ada kiblatnya (sendiri, aqidahnya, syariatnya, ritualnya, tempat ibadahnya dll.) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (berpersepsi tunggal agamanya). Dimana saja kamu berada (didalam kiblat itu) PASTI ALLAH akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat habis gelap terbitlah terang benderang ilmu pengetahuan agama sesuai Al Qiyamah (75) ayat 6-15, Al Baqarah (2() ayat 257 atau Allah membangkitkan semua manusia dengan ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (untuk menyatukan agama sesuai An Nahl (16) ayat 93).
    Datangnya Allah menyatukan agama itu adalah pada HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB yang wajib ditunggu-tunggu akan tetapi dilupakan orang sesuai Al A'raaf (7) ayat 52,53 atau hari kebangkitan manusia semuanya oleh ilmu pengetahuan agama sesuai Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22.
    Untuk menyingkap tabir rahasia Allah menyatukan umat beragama, kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:

    "BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA"
    berisi XX +527 halaman berikut 4 macam lampiran acuan skema terpisah berukuran 60x63 cm:
    "SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)"
    hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
    "SOEGANA GANDAKOESOEMA"
    dengan penerbit:
    "GOD-A CENTRE"
    dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
    "DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA" DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
  49. From abdulhadi on 23 April 2008 12:48:55 WIB
    HiDUUUUUPPPPPPPPPPPPPPPP !!!!!!!!!!!!!!!!
    Gus duuuurrrrrrrrrrr,
  50. From Husni on 08 November 2008 12:35:00 WIB
    gusdur is the best.

    walau banyak caci maki dari kelompok fanatik.
    gusdur tetap exist dan memberi contoh bagaimana sebenarnya beragama yang rahmatan lil alamin, dengan berakhlakulkarimah.

    ngomong ngomong,
    dimana sich komunitas,millis atau situsnya progusdur yang aktif yang ada forumnya, yang bisa talking talking gitu loch

    salam hangat
  51. From msabir on 24 November 2008 13:11:33 WIB
    bung wimar, ayo ungkapin lagi cerita ttg gusdur-ku saya rindu kisahnya... salam.
  52. From imam sofyan on 31 January 2009 23:05:38 WIB
    bung wimar saya kepingin sekali-kali gus dur selaku bapak pluralisme bermain-main ke bali untuk mengajarkan umat islam disana agar bersifat pluralisme,soalnya umat islam di sana anti bertemanan dengan umat non muslim.
  53. From farid tnc on 17 March 2009 16:52:52 WIB
    sayang orang indonesia lebih suka kulit dari pada isinya
    bravo gus dur
  54. From azil on 24 March 2009 02:11:35 WIB
    Walaupun GusDur terkenal kontroversial tapi kenapa Q ko tetep mengagumi sosok brliau.Salut buat GusDur semoga sehat selalu...amin.

    Bang Wimar kasih ulasan lagi tentang GusDur dong...
  55. From Gai Suhardja on 30 December 2009 23:13:59 WIB
    Selamat Jalan Gus Dur, semoga amal ibadahmu di terima Allah SWT, engkau sungguh Bapak Bangsa yang mengajarkan kami kemerdekaan berpikir, berpendapat dan hidup bersama dalam keberagaman dan keber-agama-an.Tinta emas NU yang layak diabadikan.
    Kang Wimar teruskan spirit Gus Dur ya.
  56. From nurkhalis on 01 January 2010 17:01:00 WIB
    dari sejarah kebudayaan islam, para perintis peradaban islam sudah lama menbawakan adanya kehidupan dalam perbedaan, mereka telah membawakan islam pada zamannya nah bagaimana dengan gus dur apa yang rial untuk peradaban islam saya pikir(pikiran orang awan) tidak ada muda mudahan arwah dan kebaikan gus dur di terima oleh yang Maha Kuasa Amin
  57. From gunadi on 02 January 2010 14:55:44 WIB
    selamat jalan Gus dur, jasamu bagi bangsa ini akan ters di kenang anak cucu, Engkau yang menjaga pluralisme indonesia.
    semoga Tuhan Allah memberi tampat di sisinya di surga,
    amin
    www.baloghelmi.com
  58. From Zakii on 02 February 2010 23:06:40 WIB
    Saya mengakui dia orang yang intelek, berwibawa, bapak plural...tapi saya ingin bertanya apa bedanya pluralisme sama pluralitas ?
  59. From bagus on 07 February 2010 03:02:42 WIB
    GUs Dur telah membuka mata dunia dngan pluralisme yg beliau contoh dan wariskan di negri kita,,,,,bangsa ini bangga mempunyai seorang Gus DUr,,,,,di mana beliau mencontohkan ISLAM adalah rakmatan lil alamin....bukan agama yg menyebarkan fitnah dan kebencian...ulama2 yg slalu berseberangan dngan sikap dan sifat Gus Dur bukalah pintu hati kalian,,,,contoh dan teladani Gus Dur sebagai bapak bangsa yg slalu di cintai smua masyarakat yg merindukan kedaimaian di negara ini....."Gus"slamat jalan...semoga engkau berada di tempat yg indah di SISI-NYA.....bpak bangsa sejati......
  60. From sasa on 11 October 2010 10:49:17 WIB
    Gusdur Siip dech............!!!!
    Beliau memang patut dikatakan bapak Pluralisme, karena beliau mau berteman dengan semua golongan. Termasuk golongan minoritas.
  61. From senja nirwana on 29 December 2010 12:37:14 WIB
    Soekarno bapak Pancasila,
    GusDur seorang Pancasilais
  62. From Turyono on 20 July 2011 23:43:59 WIB
    Ya, karena salah satu kekayaan Indonesia adalah keanekaragaman, dan itu adalah keindahan, perbedaan bukan berarti sama warna. lihat pelangi disebut sebuah keindahan karena terdiri dari berbagai warna. "yang sama jangan dibedakan , yang beda jangan disamakan" trimakasih buat jasamu Sobat....
  63. From akhmad fauzi on 25 September 2011 13:52:58 WIB
    konsep pluralisme yamg digagas oleh gusdur ini sangat tepat sekali untuk negara demokrasi seperti negeri kita ini,dikarenakan banyak sekali budaya,agama maupun bahasa.
    dengan konsep pluralisme kita bisa menghargai budaya satu dengan budaya yang lain,itu juga berlaku baik agama,bahasa dan lain-lainnya yang bersangkutan dengan perbedaan.
    Ingat kita berbeda-beda,tapi satu yaitu Indonesia dan jangan lupakan kata BHINEKA TUNGGAL IKA,Gitu Aja Kok Repot

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home