Articles

Lansia dan Kelanjutusiaan


28 September 2016

Oleh : Panji Kharisma Jaya

Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata “lansia”? sebagian besar dari kita akan memikirkan “tua” , “jompo” , dan “lemah”, namun, tidak sedikit pula yang akan memikirkan “pengalaman” , “veteran”, atau bahkan “pensiunan”. “Lansia” adalah kependekan dari “Lanjut Usia”.

Menurut Adhi Santika, seorang dosen UI dan pendiri Yayasan Swastivarna, “Lansia” adalah kelompok umur diatas 60 tahun. Usia yang telah melewati masa Golden Age atau istilah lainnya adalah “Tidak muda lagi”. Hampir semua orang kategori “Lansia” adalah seorang pensiunan atau orang yang sudah tidak bekerja atau beraktifitas seperti orang-orang di kelompok usia dibawahnya. Sementara “Kelanjutusiaan” secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah proses penuaan atau Aging. Kedua hal ini tidak bisa dihindari, meskipun begitu, menurut Adhi, semuanya bisa dipersiapkan.

Tahap Lansia adalah tahapan dimana seseorang mulai mengalami penurunan dari kondisi fisik, dalam hal ini kesehatan. Yang paling mudah terlihat adalah penggunaan kacamata. Pada tahapan ini, seorang Lansia kebanyakan telah memasuki masa pensiun, dimana mereka tidak lagi beraktifitas rutin seperti halnya waktu muda dulu. Lebih banyak waktu luang yang didapatkan, namun, dengan kondisi kesehatan yang menurun, banyak Lansia yang akhirnya menghabiskan waktunya untuk berbaring di tempat tidur.

Lansia, dengan segala keterbatasannya, memiliki Hak yang telah diatur dalam Undang Undang. Yaitu Undang Undang no. 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia, serta terkait juga dengan Undang Undang no. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Lansia sebagai manusia dan sebagai warga negara tentu memiliki hak yang harus dijunjung dan diutamakan.

Implementasi dari pemenuhan hak-hak Lansia masih sangat minim terjadi di Indonesia. Padahal, Indonesia adalah negara peringkat ke-4 setelah China, India, dan Amerika Serikat untuk jumlah Lansia terbanyak di suatu negara. Presentase Lansia di Indonesia mencapai 8% dari total penduduk (sekitar 21 juta jiwa). Hal ini tentu menjadi sebuah ironi mengingat Indonesia adalah negara berlandaskan hukum.

Isu Lansia kurang mendapat porsi di media massa. Yang banyak kita lihat beritanya hanyalah jika ada seorang lansia yang melakukan tindak asusila, atau ketika ada lansia yang terlantar padahal ia adalah veteran kemerdekaan atau mantan atlet yang mengharumkan nama bangsa. Sangat sedikit pembahasan mengenai pemenuhan hak-hak lansia yang diberitakan oleh media massa. Seperti, fasilitas infrastrukutr untuk Lansia, lembaga khusus Lansia, serta kegiatan-kegiatan khusus Lansia. Padahal, hal-hal seperti fasilitas dan kegiatan Lansia diperlukan sebagai salah satu upaya pemenuhan Hak-hak Lansia. Hak untuk mendapatkan keadilan dan pendampingan.

Menurut Adhi, Lansia menjadi tanggung jawab Pemerintah, Keluarga, dan Masyarakat dalam hal pemenuhan hak-haknya. Menjadi penting bagi kita semua untuk memperhatikan hak-hak Lansia di masyarakat, seperti, memberikan kursi prioritas bagi Lansia, mendahulukan dalam antrian, serta yang selalu diajarkan dalam pelajaran Kewarganegaraaan : membantu kakek/nenek menyebrang jalan dan mengangkat bawaan.

Beberapa perusahaan sudah mulai memperlihatkan kepeduliannya terhadap isu Lansia dan Kelanjutusiaan. Perusahaan-perusahaan BUMN berlomba-lomba untuk membuat pelatihan persiapan Kelanjutusiaan untuk menyambut masa-masa pasca pensiun, yang dengan demikian, memandang Lansia sebagai Subjek. Namun, instansi pemerintahan masih belum memperhatikan Lansia dan Kelanjutusiaan tersebut. Karena, dalam UU 13 tahun 1998 disebutkan masalah “Sosial”, yang jadinya hanya Kementerian Sosial lah yang mengurusi seluruh masalah Lansia dan Kelanjutusiaan. Itupun bentuknya Charity Based dengan memberikan sejumlah dana. Menjadikan pemerintah memandang Lansia sebagai Objek saja.

Menyimpangnya implementasi perlindungan hak-hak Lansia serta minimnya upaya persiapan Kelanjutusiaan harus menjadi perhatian bagi publik. Pemerintah sudah menyebutkan perlindungan Lansia dalam RPJMN 2015 namun sampai sekarang, hal tersebut belum menjadi prioritas. Gerakan sosial untuk mendukung Lansia pun terhitung masih minim. Perlu adanya bantuan dari media massa, dalam hal ini coverage dan sorotan khusus untuk isu ini. Tidak ada kata “pensiun” menjadi seorang Manusia. Tentu kita semua ingin masa Lansia kita dihabiskan dengan terus beraktifitas dan berkarya, bukan hanya terbaring lemas dan terlupakan di rumah penampungan.

Print article only

0 Comments:

« Home