satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?
Perspektif Online
04 July 2009
oleh Wimar Witoelar
Semoga anda bisa menemukan ketenangan, karena kami tidak a
by: Wimar Witoelar
Pagi ini ketika mengawali hari Minggu dengan kegiatan favorit membuka email, Perspektif Online, Facebook, Koprol dan website berita macam2, saya menemukan komentar ini dalam posting berjudul " Sri Mulyani: Hutang Adalah Instrumen Untuk Mencapai Kesejahteraan"
58. From iwan on 05 July 2009 01:09:38 WIB: satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?

hehe... langsung saya jawab
59. From wimar on 05 July 2009 05:05:56 WIB: Sdr Iwan... Bukan, saya bukan antek siapa-siapa. Apakah Iwan tidak merasa rugi, membuang waktu internet untuk mencela saya? Ataukah kebencian anda pada SBY atau pada saya, begitu besarnya sehingga luapan emosi tidak tertahankan? Baguslah kalau menulis komentar ini berhasil melampiaskan emosi anda dan anda tidak menyalurkannya secara lebih destruktif. Saya akan bahas ini lebih panjang dalam tulisan khusus. Sementara ini, saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda pada Perspektif Online. Semoga anda bisa menemukan ketenangan, karena kami tidak ada maksud meresahkan anda.
Sebetulnya saya merasa geli membaca komentar Iwan. Tapi saya kuatir juga ada orang lain yang sepikiran dengan Iwan. Yang berpikir: "Wah si kribo ini antek SBY..." Mengapa kuatir? Jelas bukan kuatir untuk diri saya, karena orang bebas menilai orang lain, apalagi kalau mau betul-betul menilai WW, pasti ada referensi lain untuk melengkapi gambaran anda.
Yang saya kuatirkan, apalagi dalam hari-hari terakhir menjelang Pilpres, adalah pikiran semacam Iwan yang banyak muncul dalam bentuk lain, seperti:
1. Apakah anda Tim Sukses SBY?
2. Mengapa sih WW tidak netral?
3. Kok sekarang pendapat anda subyektif?
4. Nah ketahuan anda mendukung siapa.. Apa tidak malu tuh?
Jadi supaya tidak mengabaikan pertanyaan seperti ini (masih banyak bentuk lain), saya jawab satu persatu:
1. Apakah anda Tim Sukses SBY? Bukan, tapi saya membantu Tim Sukses SBY-Boediono karena saya berharap mereka menang.
2. Mengapa sih WW tidak netral? Karena memang begitu sifat saya, tidak pernah netral. Jaman Suharto saya anti Suharto, jaman Gus Dur saya mendukung Presiden, jaman Megawati saya tidak mendukung beliau, jaman SBY-Kalla saya mendukung SBY tapi tidak suka JK (dalam artian politis, sebab saya suka orangnya baik dan lucu). Sekarang saya pro SBY-Boediono. Dalam usia saya yang hampir 64 tahun (kirim kado dong hehe), saya selalu bersikap. Sejak kecil saya mengagumi Sukarno kemudian kecewa dan senang sekali beliau diganti oleh Pak Harto. Mula2 mendukung sampai dapat Satyalencana Penegak, kemudian sangat tidak suka sampai ditahan. Saya berpihak pada gerakan reformasi dan mendukung Amien Rais, Megawati, Gus Dur. Penolakan saya terhadap Pak Harto juga disertai ketidak sukaan pada Golkar walaupun orang2nya banyak yang merupakan kawan baik dan saudara saya. Saya senang waktu Golkar melemah dan beberapa kawan dan saudara melepaskan diri dari Golkar dan menemukan peran baru. Sekarang saya masih tidak suka pada Golkar tapi senang banyak orang kawan lama yang berusaha menggantikan pimpinan sekarang dengan orang yang lebih bisa diterima. Walah, panjang sekali jawabannya. Mudah-mudahan pembaca mengerti betul, saya tidak pernah netral, Kalau anda suka acara televisi saya dan tulisan saya, itu bukan karena saya netral, tapi karena anda kebetulan setuju dengan pendapat saya.
3. Kok sekarang pendapat anda subyektif?... Halah, pendapat sih selalu subyektif. Yang obyektif itu hasil tes darah kaleee
4. Nah ketahuan anda mendukung siapa. Apa nggak malu tuh?..... Oh tidak, saya senang kalau orang tahu saya dukung siapa. Tahun lalu saya dukung Obama, dan dia menang dengan mayoritas besar. Sekarang saya dukung SBY-Boediono, dan tidak malu dong. Kalau mendukung koruptor dan pelanggar hak azasi manusia, itu baru malu. Pak Boediono kan tidak korup dan tidak melakukan pelanggar HAM. Kalau SBY, kita sudah lihat kenyataan kerjanya sejak masuk kabinet pertama kali di tahun 1998. Saya mendukung SBY-Boediono,. Pada hari-hari ini dukungan itu cukup dengan memberikan suara saya pada mereka tanggal 8 Juli ini. Saya harap anda juga memberikan suara pada pilihan anda. Mudah-mudahan Pilpres selesai dengan satu putaran. Jangan marah, sebab itu hanya satu keinginan, bukan paksaan. Aturannya sudah jelas. Kalau ada yang dapat suara diatas 50%, Pilpres akan berlangsung satu putaran.

Sidang Pre-CGI, Desember 2004
Demokrasi ini memang asyik, orang bebas berpikir, bebas bicara, dan bebas memilih. Tapi mungkin kebebasan menimbulkan disorientasi pada banyak orang. Jadi bingung, keluar kalimat aneh seperti: "Benci deh, capres banyak janji.." hmm kampanye memang tempatnya untuk janji, kalau tidak janji lebih jelek lagi. Yang dibenci bukan janji, tapi janji gombal. Itu mudah ditolak, jangan pilih orang gombal itu, Kalau semuanya gombal, pilih yang paling sedikit gombalnya, pasti kalaupun ketiga calon dianggap jelek, ada yang kurang jelek daripada yang lainnya.
Ada juga yang marah kalau mendengar pernyataan orang, atau tulisan yang "menggiring". Itu juga gampang, jangan dengarkan, jangan mau digiring dong. Tolak aja dia seperti kita menolak pedagang yang menawarkan barang di pasar. Tidak perlu menyerang orang yang tidak anda setujui. Yang dipilih adalah satu diantara tiga Capres, bukan suara-suara yang anda dengar di televisi.
Yang kalah jangan ribut, yang menang jangan sombong. Hidup Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.




41 Comments: