Articles

satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?

Perspektif Online
04 July 2009

oleh Wimar Witoelar

58. From iwan on 05 July 2009 01:09:38 WIB
satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?
59. From wimar on 05 July 2009 05:05:56 WIB
Sdr Iwan... Bukan, saya bukan antek siapa-siapa.
Apakah Iwan tidak merasa rugi, membuang waktu internet untuk mencela saya? Ataukah kebencian anda pada SBY atau pada saya, begitu besarnya sehingga luapan emosi tidak tertahankan?
Baguslah kalau menulis komentar ini berhasil melampiaskan emosi anda dan anda tidak menyalurkannya secara lebih destruktif.
Saya akan bahas ini lebih panjang dalam tulisan khusus.
Sementara ini, saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda pada Perspektif Online.

Semoga anda bisa menemukan ketenangan, karena kami tidak a

by: Wimar Witoelar

Pagi ini ketika mengawali hari Minggu dengan kegiatan favorit membuka email, Perspektif Online, Facebook, Koprol dan website berita macam2, saya menemukan komentar ini dalam posting berjudul " Sri Mulyani: Hutang Adalah Instrumen Untuk Mencapai Kesejahteraan"


58. From iwan on 05 July 2009 01:09:38 WIB:   satu PERTANYAAN SAJA :PAK WIMAR ANTEK SBY YAH?

 

hehe... langsung saya jawab


59. From wimar on 05 July 2009 05:05:56 WIB:  Sdr Iwan... Bukan, saya bukan antek siapa-siapa. Apakah Iwan tidak merasa rugi, membuang waktu internet untuk mencela saya? Ataukah kebencian anda pada SBY atau pada saya, begitu besarnya sehingga luapan emosi tidak tertahankan? Baguslah kalau menulis komentar ini berhasil melampiaskan emosi anda dan anda tidak menyalurkannya secara lebih destruktif. Saya akan bahas ini lebih panjang dalam tulisan khusus. Sementara ini, saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda pada Perspektif Online. Semoga anda bisa menemukan ketenangan, karena kami tidak ada maksud meresahkan anda.

Sebetulnya saya merasa geli membaca komentar Iwan. Tapi saya kuatir juga ada orang lain yang sepikiran dengan Iwan. Yang berpikir: "Wah si kribo ini antek SBY..." Mengapa kuatir? Jelas bukan kuatir untuk diri saya, karena orang bebas menilai orang lain, apalagi kalau mau betul-betul menilai WW, pasti ada referensi lain untuk melengkapi gambaran anda.

 

Yang saya kuatirkan, apalagi dalam hari-hari terakhir menjelang Pilpres, adalah pikiran semacam Iwan yang banyak muncul dalam bentuk lain, seperti:

1. Apakah anda Tim Sukses SBY?

2. Mengapa sih WW tidak netral?

3. Kok sekarang pendapat anda subyektif?

4. Nah ketahuan anda mendukung siapa.. Apa tidak malu tuh?

Jadi supaya tidak mengabaikan pertanyaan seperti ini (masih banyak bentuk lain), saya jawab satu persatu:

1. Apakah anda Tim Sukses SBY? Bukan, tapi saya membantu Tim Sukses SBY-Boediono karena saya berharap mereka menang.

2. Mengapa sih WW tidak netral? Karena memang begitu sifat saya, tidak pernah netral. Jaman Suharto saya anti Suharto, jaman Gus Dur saya mendukung Presiden, jaman Megawati saya tidak mendukung beliau, jaman SBY-Kalla saya mendukung SBY tapi tidak suka JK (dalam artian politis, sebab saya suka orangnya baik dan lucu). Sekarang saya pro SBY-Boediono. Dalam usia saya yang hampir 64 tahun (kirim kado dong hehe), saya selalu bersikap. Sejak kecil saya mengagumi Sukarno kemudian kecewa dan senang sekali beliau diganti oleh Pak Harto. Mula2 mendukung sampai dapat Satyalencana Penegak, kemudian sangat tidak suka sampai ditahan. Saya berpihak pada gerakan reformasi dan mendukung Amien Rais, Megawati, Gus Dur. Penolakan saya terhadap Pak Harto juga disertai ketidak sukaan pada Golkar walaupun orang2nya banyak yang merupakan kawan baik dan saudara saya. Saya senang waktu Golkar melemah dan beberapa kawan dan saudara melepaskan diri dari Golkar dan menemukan peran baru. Sekarang saya masih tidak suka pada Golkar tapi senang banyak orang kawan lama yang berusaha menggantikan pimpinan sekarang dengan orang yang lebih bisa diterima. Walah, panjang sekali jawabannya. Mudah-mudahan pembaca mengerti betul, saya tidak pernah netral, Kalau anda suka acara televisi saya dan tulisan saya, itu bukan karena saya netral, tapi karena anda kebetulan setuju dengan pendapat saya.

3. Kok sekarang pendapat anda subyektif?... Halah, pendapat sih selalu subyektif. Yang obyektif itu hasil tes darah kaleee

4. Nah ketahuan anda mendukung siapa. Apa nggak malu tuh?..... Oh tidak, saya senang kalau orang tahu saya dukung siapa. Tahun lalu saya dukung Obama, dan dia menang dengan mayoritas besar. Sekarang saya dukung SBY-Boediono, dan tidak malu dong. Kalau mendukung koruptor dan pelanggar hak azasi manusia, itu baru malu. Pak Boediono kan tidak korup dan tidak melakukan pelanggar HAM. Kalau SBY, kita sudah lihat kenyataan kerjanya sejak masuk kabinet pertama kali di tahun 1998. Saya mendukung SBY-Boediono,. Pada hari-hari ini dukungan itu cukup dengan memberikan suara saya pada mereka tanggal 8 Juli ini. Saya harap anda juga memberikan suara pada pilihan anda. Mudah-mudahan Pilpres selesai dengan satu putaran. Jangan marah, sebab itu hanya satu keinginan, bukan paksaan. Aturannya sudah jelas. Kalau ada yang dapat suara diatas 50%, Pilpres akan berlangsung satu putaran.

 

Sidang Pre-CGI, Desember 2004

 

Demokrasi ini memang asyik, orang bebas berpikir, bebas bicara, dan bebas memilih. Tapi mungkin kebebasan menimbulkan disorientasi pada banyak orang. Jadi bingung, keluar kalimat aneh seperti: "Benci deh, capres banyak janji.." hmm kampanye memang tempatnya untuk janji, kalau tidak janji lebih jelek lagi. Yang dibenci bukan janji, tapi janji gombal. Itu mudah ditolak, jangan pilih orang gombal itu, Kalau semuanya gombal, pilih yang paling sedikit gombalnya, pasti kalaupun ketiga calon dianggap jelek, ada yang kurang jelek daripada yang lainnya. 

Ada juga yang marah kalau mendengar pernyataan orang, atau tulisan yang "menggiring". Itu juga gampang, jangan dengarkan, jangan mau digiring dong. Tolak aja dia seperti kita menolak pedagang yang menawarkan barang di pasar. Tidak perlu menyerang orang yang tidak anda setujui. Yang dipilih adalah satu diantara tiga Capres, bukan suara-suara yang anda dengar di televisi.

Yang kalah jangan ribut, yang menang jangan sombong. Hidup Indonesia, negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.


Print article only

41 Comments:

  1. From clara lila on 05 July 2009 08:15:10 WIB
    WOW :)

    Again... Wow.

    Thank your for sharing your honest perspective W !

    Sepakat sekali !
  2. From Noudie De Jong on 05 July 2009 08:22:22 WIB
    Luar biasa pak wimar. Andaikan yang memegang kampanye utama SBY adalah Anda dan bukan tim Fox yang melakukan (cukup) banyak blunder.
    Bangsa Indonesia masih memerlukan banyak pendewasaan politis. saatnya politik dipandang tidak melulu sebagai sesuatu yang (over) serius: sebuah kebiasaan yang terbawa dari masa orde baru, yang sedikit-sedikit ngomong politik langsung di-bui.
    Semoga Indonesia menjadi bangsa pembelajar, and may God Bless Us All.
  3. From berrydevanda on 05 July 2009 08:42:33 WIB
    salam mas WW,
    Saya setuju dengan alinea terakhir mas WW. walaupun sebenarnya mas WW justru ingin menebarkan pengaruh dengan menggiring opini pengunjung blog ini agar sesuai dengan perspektif anda.
    adalah hal yang wajar, jika anda mendukung seorang capres karena anda punya hak untuk itu. setiap orang punya perspektif masing2, dan saya pikir untuk itulah "perspektif.net" ini dibuat. semuanya berpulang kepada pengunjung blog ini, mau digiring atau malah punya perspektif lain.
    demokrasi memang memberi ruang untuk tumbuhnya berbagai perspektif,
    semoga pilpres berjalan dengan aman dan lancar tanpa ada campur tangan asing seperti yang terjadi di Iran.

    salam mas
    berrydevanda
    http://berrydevanda.blogspot.com/

    senang bisa selalu berkunjung ke blog anda.
  4. From Evi Novianti on 05 July 2009 09:10:27 WIB
    Saya memposisikan diri sama dengan pak Wimar bukan tim sukses maupun anggota partai politik manapun, tapi pendukung Pak SBY yang dalam kapasitas saya sebagai pengusaha memberikan arahan bagi seluruh karyawan dan menulis di internet semampunya.
  5. From raja satya on 05 July 2009 09:38:20 WIB
    Permisi numpang curhat:

    (1) Beberapa waktu lalu, SBY (Demokrat) mau mendekati Mega (PDIP), tapi dicuekin :(

    IMHO. Dari alasan ideologis, ketiga kubu: Demokrat, PDIP, Golkar harusnya berkoalisi jadi satu.

    Idealnya bukan koalisi pragmatis. Ini teoritis ya, saya ngomong memang enak tapi praksis susah setengah mati. Lagian demokrasi di sini baru seumur anak SD, jadi bisa dimaklumi lah. Sabar...

    (2) Sedih karena gara-gara pilpres ini, ketiga kubu kok sering saling menyerang, saling menjelek-jelekkan. Saling kritik OK, tp jangan musuhan. Itu orang2 yg muncul di TV dari masing2 kubu, banyak dari mereka yang kawan akrab kok.

    Moga-moga nanti di depannya koalisi semakin mengerucut ke alasan yang lebih ideal.

    Hidup Gus Dur!
    Matur nuwun.
  6. From fadil on 05 July 2009 10:38:10 WIB
    Saya setuju sama raja satya #5 yang bilang demokrasi di sini baru seumur anak SD. Satu hal yang paling terasa adalah kita belom siap berbeda pendapat. Kalo om wimar bilang mungkin selama ini kita suka sama acara televisi dan tulisan om wimar, bukan berarti om wimar itu netral, tapi karena kebetulan kita sependapat sama om wimar. Jadi kalo di pilpres ini pendapat kita beda sama om wimar ya jangan marah2 dong..
    Akhir2 ini saya juga sering beda pendapat sama om wimar, tapi saya tetep rajin dateng ke blog ini, baca2 dan kalo bisa kasih komentar, kritik2 sedikit ato kadang2 ngeledek, gak apa2 kan om? Yang penting sih sopan dan bukan untuk mencela.. Tapi yang pasti saya gak ngerasa rugi ato buang2 waktu, karena pasti akan bisa nambah wawasan saya..
    Terakhir mau mastiin aja, seinget saya SBY pertama kali masuk kabinet itu tahun 1999 dipilih Gus Dur jadi Mentamben, kalo thn 1998 pas kabinet Habibie dia masih jadi Kassospol ABRI terus jadi Kaster TNI, iya kan om?
  7. From AGUS on 05 July 2009 11:56:38 WIB
    setuju pak wimar,SBY memang yang terbaik,lanjutkan
  8. From Ronald Richard Lesmana on 05 July 2009 12:34:06 WIB
    Saya respect pada WW, walaupun belum tentu setuju dengan pilihannya, tapi pendapatnya rasional. Saya pernah baca artikel sebelumnya mengenai Sultan for VP, dan mengerti betul kata2 \"You may not be an angel . . . \" dari Al Dubin sebagai pembuka artikel. Dan walaupun bukan Sultan, Budiono memang memenuhi kriteria bung WW juga.
    Mungkin banyak dari kita mempunyai pandangan kurang lebih sama mengenai figur SBY, saya cuma agak gerah melihat beberapa orang sekitarnya yang jadi team suksesnya sehingga agak mempengaruhi dan menimbulkan keragu raguan saya untuk memilih SBY
  9. From Arie on 05 July 2009 15:10:58 WIB
    ah WW emang baik banget, kalo menurut saya pertanyaan seperti itu ga usah dilayani, Tapi itulah WW, ga mau ngecewain teman. Lagian ini kan blog pribadi WW, wajar banget WW punya sikap, dibolehin posting response aja masih untung... setuju sama BerryDevanda, namanya perspektif ibarat dapat bola, ada yg ingin giring, nendang, ngoper, rebutan apalagi ya, ngoleksi mungkin!

    Pemilu kali ini figurnya biasa saja, tapi sayang sistemnya terlalu luar biasa sampai jadi berbisa. Semua pasti akan legowo bila kalah seperti di masa lalu, tetapi antisipasi KPU untuk dampak sistem yang di adopsi betul2 buruk menurut saya dan ini akan menjadi komoditi konflik bagi yang tidak puas. Sayangnya kita, Pemerintah & DPR untuk bersuara sama melakukan koreksi dan tekanan sangat kurang,

    Saya menghormati semua pemimpin (walaupun sering sekali saya kasihan akhirnya mereka tidak bersatu), saya punya pilihan JK-WIN, tetapi bagi saya siapapun yg jadi pemenang nantinya mereka adalah yang terbaik pada saatnya,

    Melihat pola WW, saya yakin nantipun bila ternyata pilihan WW jadi keblinger, WW pasti jad yang paling terdepan ngingetin, kan udah pasti kalo bukan pilihan WW yang menang, ngingetinnya pasti akan lebih intense lagi.

    WW, thanks for being yourself so well.
  10. From buntoro on 05 July 2009 20:26:59 WIB
    Bung Wimar yang saya hormati,
    Sebagai pengagum anda saya merasa perlu untuk mengkritisi sikap politik yang anda tunjukan selama masa kampanye pilpres.
    Memang benar semua orang bebas menentukan pilihan masing-masing, demikian juga tentunya Bung Wimar.

    Namun, sebagai seorang Wimar Witoelar saya pikir tidak tepat apabila Bung kemudian berpihak pada salah satu kandidat, apalagi keberpihakan ini berdasarkan pada pilihan \\\\\\\"the best among the worst\\\\\\\" sebagaimana yang Bung katakan sebagai \\\\\\\"memilih yang kurang jeleknya dari pada yang lain\\\\\\\"

    Keberpihakan semacam ini hanya akan mem\\\\\\\'buta\\\\\\\'kan mata hati nurani Bung dan pada akhirnya menyesatkan masyarakat.
    Sebagai seorang Wimar Witoelar, Bung tidak bisa mengatakan bahwa salahnya sendiri masyarakat mau mendengar Bung. Jangan lupa Bung adalah pemegang microphone, Bung pembentuk opini publik.

    Sebagai contoh, kalau saja Bung tidak berpihak maka dalam acara Wimar Live bersama Sri Mulyani Bung akan bisa menggali hal-hal penting seperti mengapa cadangan devisa bisa meningkat, siapa pemegang terbesar surat hutang (bond) senilai 400 T, mengapa pertumbuhan tidak berkwalitas (acc. to Burhanudin Abdulah). Selain itu Bung juga tidak akan lupa bagaimana perjalan Sri Mulyani dari sejak beliau (bersama Sri Adiningsih) meneteskan air mata didepan DPR sebelas tahun y.l, menjadi Direktur IMF, menteri keuangan, dinobatkan sebagai Finance Minister of the year dan akhirnya menjadi Pejabat Menko Perekonomian. Bukankah hal-hal tersebut sangat jelas menujukan ada \\\\\\\"master mind\\\\\\\" atau invisible hand yang bermain disini, yang menggunakan beliau sebagai \\\\\\\"fox\\\\\\\" dalam pemerintah.
    Wimar Live bersama Chatib Basri mengkonfirmasikan kebenaran hal itu.

    Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan.
    Dengan komentar ini saya hanya berharap agar keberpihakan Bung tidak menumpulkan kepekaan hati nurani Bung. Dengan demikian amanah sebagai pembentuk perspektif masyarakat bisa terjaga dan terus menyuarakan nuansa bening yang memberikan pencerahan bagi masyarakat.

    Salam penuh semangat. Indonesia pasti bisa keluar dari jebakan neo-kapitalisme.
  11. From hok on 05 July 2009 21:16:43 WIB
    Persoalannya ,masih banyak masyarakat Indonesia yg belum terbiasa dengan perbedaan pendapat secara terbuka dan bertanggung jawab.

    Tugas orang2 yg berani dan berpikiran luas untuk mengarahkan masyarakat berani berpendapat dengan terbuka dan bertanggung jawab.

    Memang tidak mudah.

    Terima kasih pak Wimar atas usaha2 anda dan rekan2 mendorong masyarakat untuk berani berbicara sesuai buah pikiran masing2, sekalipun anda tidak duduk dalam pemerintahan. Tapi anda mampu memberikan referensi kepada masyarakat Indonesia mengenai peta politik Indonesia.

    Really, I apreciate your efforts.
  12. From Retno Koesdiati on 05 July 2009 23:47:58 WIB
    Saya sehaluan dengan anda pak Wimar, 8 Juli 2009 nanti akan nyontreng nomor 2 SBY-Boediono. Salah satu alasan saya, krn diantara tiga kandidat pasangan capres-cawapres, SBY-Boediono paling baik bobot, bibit n bebetnya, baik dlm kehidupan politik maupun dalam keluarga. Setidaknya bisa dijadikan panutan. Pembawaan dan tutur katanya adem, menenteramkan.
  13. From retno koesdiati on 05 July 2009 23:54:13 WIB
    Saya sehaluan dng anda pak Wimar. Dari tiga pasang kandidat, SBY-Boediono paling baik bibit, bobot, n bebetnya. Paling kecil dosa politiknya.
  14. From yadialdiano on 06 July 2009 03:59:27 WIB
    memang orang yang banyak teori, pasti dukung capres yang banyak teori bukan berbuat betul ndak mas wimar..betul donk yad...
  15. From GIE on 06 July 2009 04:30:16 WIB
    Saya juga sehaluan dgn WW...tgl 8 juli nanti saya jg akan nyontreng nomor 2.W saya juga pny pertanyaan nie...apakah gaji para karyawan yg bekerja di perusahaan-nya para pengusaha(Sekarang sedang jadi capres ada juga yg jadi cawapres)ini.Lebih besar atau cm standart UMR?Klo cm standart UMR mah...saya kira issue tentang mensejahterakan rakyat juga bakal cm jadi bualan belaka..Simplenya begini,klo Karyawan yg bekerja ditempatnya saja tidak sejahtera,apalagi masyarakat secara luas?

    Bravo Perspektif.net and Bravo WW
  16. From jaka on 06 July 2009 06:13:04 WIB
    Pa Wimar, sayah mah jadi pengen ketawa deh,baca tulisan yg bilang bahwa penulisnya pengagum pa Wim..tapi tulisannya seperti ngga mengerti siapa pa Wimar ,ya...

    Jadi apa yg dia kagumi dari pa Wimar, sih?

    Tapi ...ahh emang gue pikirin , kata orang jakarta...
  17. From hok on 06 July 2009 06:44:08 WIB
    Apakah sebaiknya pasangan capres/cawapres yg bukan SBY-Boediono membuat acara wawancara televisi yg sama dengan Wimar Live ?

    Dimana mereka bisa mengundang para analis dan orang2 pintar mereka untuk diwawancarai sesuai dengan isu politik yg mereka usung.Misalnya ,Yudi chrisnandi,Aria Bima,Kwik Kian Gie,Pramono Anung ,Muchdi PR ,Pensiunan Jendral2,dan sebagainya.

    Atau mungkin mereka tidak punya seorang moderator sekaliber pak Wimar . Atau mungkin mereka tidak mempunyai persiapan yg matang untuk sebuah kampanye modern ?

    Lagi-lagi, betapa naif nya tindakan yg selalu tergesa2 itu.
  18. From Mundhori on 06 July 2009 10:58:26 WIB
    Kalau boleh saya katakan, klarifikasi WW terserap,menandai dia bukan seorang antek, tetapi WW bahkan seorang democrat tulen. Perubahan sikap, pilihan, simpatik terhadap seseorang tokoh yg diceritakan, berdasarkan nilai, kondisi yg dirasakan WW sendiri, disampaikan secara berani,lugas, yg diimplemnetasikan ketindakan nyata. Yg dijadikan ukuran terletak sejauh mana peniliaian itu juga dirasakan oleh orang lain secara merata.. Kalau timbangannya betul, itulah obyektifitas. Sebenarnya, apa yg disampaikan itu mengarahkan menguntungkan seseorang (SBY misalnya). Boleh boleh saja dinegeri yg menjunjung demokrasi ini. Cuma karena WW adalah public pigur, makanya semua sikap, karakter, kecenderungan dinilai habis habisan. Anjuaran saya WW jangan gusar. Tenang saja
  19. From Siti Parliah on 06 July 2009 12:56:56 WIB
    Wah.....demokrasi memang asyik ya? bebas berpendapat dan mengemukakan pendapat, bebas bersuara, tak harus sama. Berpihak bukan berarti antek nya kan? Yang penting punya pilihan nggak golput. Pilihan kita mungkin bukan yang terbaik, tapi tang paling baik dari yang ada. Setuju tolak seperti menollak pedagang yang menawarkan barang dipasar, kan bebas memilih sesuai pilihan sendiri tak dipaksa.
    Hidup "Wimar Live". Sekarang sebenarnya waktunya kita berpikir realistis, tidak hanya retorika, seolah-olah menciptakan musuh bersama. Sekali lagi hidup "Wimar Live" semoga acaranya panjang umur...................
  20. From Deka on 06 July 2009 15:21:14 WIB
    Sampai saat ini tidak satupun dari ketiga capres dan cawapres yang masuk dihati saya. Satu hal yang saya kurang setuju dengan pak SBY dalam perspektif saya "Pak SBY terkesan tidak terlalu memperdulikan Sistem Pertahanan dan keamanan negara kita padahal basic beliau dari militer"
  21. From Daniel Siregar on 06 July 2009 15:44:26 WIB
    Hanya ingin mengomentari sedikit ... dalam tulisan2 di atas banyak sekali komentar (agak) negatif tentang "menggiring/membentuk opini" dan herannya mengapa tendensi dari kata2 ini jadi negatif? bukannya setiap opini itu akan selalu memberikan tendensi ke arah tertentu di mana orang harus memilih setuju atau tidak setuju (atau tidak peduli) ... permasalahnnya adalah gunakan saja filter ... kalo penggiringan itu salah menurut kacamata dan filter pribadi masing2 ... yah jangan sampai tergiring ....

    dalam hal ini Pak Wimar cuman mengeluarkan opini politik (katanya "menggiring"), ide .... yang diakui beliau subjektif .... jadi kenapa harus repot2 mengkritisi opini beliau .... jawabnya siy cuman 3 ... setuju, tidak setuju dan masa bodo .... kalo memang tidak setuju ... jangan mengkritisi soal penggiringan itu ..... bikin counter argumen kenapa misalnya opini pak wimar itu salah (kalo saya siy masih setuju2 aja ama opini beliau) ... jadi jangan karena beliau yang public figur dan jadinya tidak boleh membentuk opini orang lain karena ide2 beliau ....

    salam
  22. From Budi M on 06 July 2009 16:51:44 WIB
    Dalam artikel \"Kalau kalah tidak boleh ribut\" sebenarnya keberpihakan bung WW sudah yg paling jelas. Tulisan ini hanya mempertegas hal itu.

    Dan inilah resiko atas pilihan keberpihakan bunga WW, ada yg pro dan kontra. Judul dan pertanyaannya cukup tajam tp jawabannya ngak kalah tajam.. he...he.. salut bung WW.

    Mudah2 an pemilu kali ini mencerminkan \"vox populi\" yg jg \"vox dei\" (mengutip tulisan Christianto Wibisono di Suara Pembaruan - saudara seide bung WW jg kayaknya)


  23. From maro on 06 July 2009 17:46:57 WIB
    1 kata, 9 huruf: LANJUTKAN
  24. From harris on 06 July 2009 18:42:54 WIB
    saya pendukung SBY... saya sempat \\\"memihak\\\" JK karena banya yg menggiring saya dengan tulisan, artikel2 yg menjelekan SBY. tapi saya kembali Mendukung SBY karena JK baru ngeributin DPT di \\\"injury time\\\" kan katanya lebih cepat lebih baik, tapi itu ngk kebukti.

    \\\"ibaratnya malaysia udah sudah mengokang senjata tapi kita baru ngecek dan mencari senjata\\\"
  25. From artha on 06 July 2009 21:02:00 WIB
    memihak bukan dosa, sangat manusiawi dan tidak usah dibesar2kan. kalau ada salah pengertian, tidak perlu juga "siaran pers"... jadi ingat kebiasaan baru dalam lima tahun terakhir:
    -- ada issue, ada siaran pers
    -- beberp pidato dimulai dengan "ada yg bilang A, namun tidak perlu saya uraikan siapa yg bilang"... lho, ada yg bilang/gak seh sebenarnya... "ada yg menggunakan sihir"... artina...

    bravo bung WW yg "akhirnya" berani menyatakan dukungannya dalam siaran pers era 21. mendukung itu biasa2 saja, toh sebelumnya anda pernah menulis menjadi bagian dari tim gagal pilihan lain. Itu artinya konsisten.

    sy hormati pilihan anda, namun tidak inkonsistensi anda perihal saran kepada kami kaum yg tidak kenal dekat dg mereka yg harus meluangkan waktu mengenal mereka lewat antara lain berita yg anda tulis sebagai salah satu tokoh negri ini. Sama seperti selebriti lainnya, siap menjadi selebriti artinya siap aktivitasnya dipantau. Disadari/tidak anda ditokohkan atau dianggap sbg selebiri.

    Kutipan "Tidak perlu menyerang orang yang tidak anda setuju", namun tulisan2 anda yg bisa diartikan "menyerang" itu toh ada dan baru2 ini, misalnya saja memberi info tanpa bukti "memilih yang kurang jeleknya dari pada yang lain"... hahaha... positng2 yg sudah lama tidak sy kutip karena org bisa saja berubah kog dan itu sangat2x wajar.

    ini memang blog pribadi anda, sama seperti sy yg juga berhak menulis apa pun d blog pribadi saya, kecuali menyerang tanpa bukti... at least, memakai bahasa yg "konon" - eh, boleh gak yak, WNI spt sy rentan UU spt Prita, karena "konon" katanya UU begitu disahkan WNI dianggap sudah tahu.

    sy peduli karena yg baca web pribadi ini terbukti tidak satu/dua orang dan lebih lagi, bung WW dapat airtime jadi yg menokohkan bung WW mungkin lebih dari satu/dua orang. ijinkan sy mengoreksi (still CMIIW) kutipan "Aturannya sudah jelas. Kalau ada yang dapat suara diatas 50%, Pilpres akan berlangsung satu putaran."
    --> ada aturan yg tidak dikutip: satu putaran jika memperoleh >50% dari total votes DAN minimum >= 20% votes di tiap propinsi yg tersebar di >= 50% dari total jumlah propinsi. saya setuju aturannya sudah jelas

    Awalnya saya rajin membaca blog anda hanya satu keinginan saya yaitu mengerti lebih dekat manajemen negri yg saya cintai ini dg menambah sumber (selain suara2 yg didengar di tv - spt anda katakan), dan itu tanpa pernah anda paksakan... jangan marah, sebab itu hanya satu keinginan, bukan paksaan...
  26. From Arie on 06 July 2009 21:35:19 WIB
    @maro,
    kalau tanpa JK jadi LANUTAN loh :)
  27. From mamat on 06 July 2009 21:46:28 WIB
    koa aneh warganegara republik yang demokratis ga bole memihak ?? saya pilih sby deh. tapi pasti ga ada yang protes. wong saya ga punya pengaruh apa2. he he he
  28. From erny on 06 July 2009 23:32:53 WIB
    haha....Pak Wimar...saya ketawa membaca jawaban "Halah, pendapat sih selalu subyektif. Yang obyektif itu hasil tes darah kaleee"....BENEERR....pendapat itu diutarakan menurut pemikiran dan kebijaksanaan masing-masing jadi sifatnya subjektif sekali....dalam hal ini mana bisa netral 100%,
    dan saya senang sekali Pak Wimar ternyata pendukung SBY-Boediono....sama deh pilihan kita....Lanjutkan!!
  29. From eduard on 07 July 2009 00:32:10 WIB
    Terbata bata menuju 1 kata 9 huruf.kudukudui
  30. From Wildan on 07 July 2009 13:59:18 WIB
    @Gie, yaa...beda beda tipislah ama UMR cuma maunya sich kalau ada title PENGUSAHA PRO-RAKYAT dipundaknya, harusnya sich bedanya harus tebal sama UMR, (baik Yang jaga SPBUnya maupun yang di pabrik kertas nya.....

    @Buntoro, ya Bung tinggal angkat aja Bung punya corong pena, terus tulis apa saja yang Bung tidak setujui, toch khan kita masing masing punya corong baik tulisan, maupun ucapan, cuma sebaiknya corong itu disampaikan dengan tepat dan benar, jangan seperti sang Nagabalin, yang corongnya asbun seperti tadi malam di TV One, yang dibilang <Pokonya cuma kecurangan Pemilu yang bisa mengalahkan JK-WIN....) dia pake ilmu <pokonya>...sambil keblinger!!....

    @ Kang WW, ga ngaruh Kang meskipun Kang WW udah declared tetep aja pengunjung perspeketif tetap...bahkan comment2nya akan lebih realistis lagi dari para kurawa perspektif nantinya.....
  31. From djaka on 07 July 2009 18:21:38 WIB
    Saya suka Pak, tulisannya ini! :) Membumi.
  32. From Sunu Gunarto on 07 July 2009 20:39:42 WIB
    Wuih, ramai banget yang ngomentari topik ini..... Saya terlambat buka Perspektif live....... Saya permisi dulu tidak berkomentar. Pikiran saya terbuka, wawasan saya tambah luas... dan saya sangat senang bisa menikmati kebebasan untuk berpendapat, berpikir, berargumen lewat perspektif ini. Ternyata kebenaran itu bukan hanya milik saya sendiri, di luar sana ada kebenaran yang dimiliki orang lain dan saya sangat menghormatinya...... Dalam berdemokrasi ternyata kebebasan saya dibatasi oleh kebebasan orang lain......barangkali ini esensi dari demokrasi (?)........
  33. From Rustam on 08 July 2009 15:55:26 WIB
    Terima kasih Pak WW. Saya dapat pencerahan dari perspektif anda tentang "ketidak netralan" anda. Saya memiliki pandangan yang sama bahwa kita sebagai seorang individu (dalam perspektif politik) harus tegas memilih seseorang calon pemimpin bangsa. Kalau tidak tegas berarti Golput (kira-kira begitu). Perbedaan pilihan bukan menjadi persoalan justru memperkaya wawasan kita tentang demokrasi.
    Tetapi kalau boleh bertanya, menurut Pak WW mana yang lebih berpengaruh besar (ke arah yang positif) terhadap pendidikan politik pengunjung situs ini:
    A. Pak WW yang mengatakan secara tegas "mendukung salah satu pasangan presiden-wakil presiden", atau
    B. Pak WW yang mengatakan "dukunglah calon pasangan presiden-wakil presiden terbaik berdasarkan program yang akan di terapkan jika terpilih nanti".

    www.perspektif.net tetap Lanjutkan!
  34. From Andi setiawan on 09 July 2009 14:49:15 WIB
    Selamat mas WW. jagoan anda menang. sayangnya kemenangannya di warnai banya sekali cacat di sana - sini. jadi agak ragu sebenarnya, menang karena pilihan rakyat, ato menang karena memaksa rakyat(siluman) memilih.
  35. From Maruria on 09 July 2009 20:12:29 WIB
    Kita mendukung pasangan yang sama Pak Wimar. Bukan mau ikut-ikutan suara mayoritas, tapi yang sudah terlihat hasil kerjanya memang pasangan SBY-Boediono. Semoga beliau berdua mampu memegang amanah dan melanjutkan perjuangan untuk mengangkat bangsa. Amiin..
    Bagi orang yang menggunakan hak pilihnya dalam pemilu, jelas tidak ada kata netral. Setuju Pak!
  36. From Raja on 09 July 2009 23:47:27 WIB
    Bung W bukan antek SBY,
    saya yakin,
    kalo bung W di"LSI" kan atau seperti iklan kampanye satu putaran MUNGKIN.

  37. From onokono on 13 July 2009 00:59:25 WIB
    Hua hahahahaa...

    Tahun lalu saya dukung Obama, dan dia menang dengan mayoritas besar

    :D lucu..

    Salam kenal om Wimar!
  38. From dewi on 17 July 2009 00:26:49 WIB
    dulu waktu kuliah nyambi siaran, salah satu acara saya muterin rekaman anda (tp saya lupa judulnya)
    saya pikir kalau di Indonesia banyak orang2 seperti anda, bisa kritis, negara ini akan maju
    sebelum pilpres, saya tertarik tiba2 di metro ada acara wimar live, setelah ngikuti, liat bintang tamunya siapa2, arah pembicaraan ke mana,.....halahhhh sami mawon, gak beda jauh dengan Denny JA, penggiringan opini
    jadi selamat karena usaha anda sukses untuk menggiring tanpa basa-basi
  39. From wimar on 17 July 2009 01:05:24 WIB
    @Dewi: Terima kasih untuk komentar anda yang jujur. Saya juga senang sekarang anda tahu bahwa saya menggiring opini. Memang dari dulu begitu.

    Kalau opininya sama dengan pendengar, dianggap menyenangkan. Kalau berbeda, tidak menyenangkan.
    Marilah kita menggunakan demokrasi untuk menyatakan opini kita masing-masing dan memberikan publik kesempatan memilih opini yang cocok.
  40. From mahdi on 02 September 2009 12:12:59 WIB
    wimar, erna, ......witular berpikir bertindak dengannurani.anda yang saya kenal
  41. From wimar on 02 September 2009 12:37:01 WIB
    baik, pak mahdi

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home