Stop kekerasan berkedok Orientasi Studi!!
Perspektif Online
04 August 2009
oleh: Didiet Adiputro dan Wimar Witoelar
Sampai sepuluh tahun yang lalu, kehidupan kita di Indonesia dihantui oleh ancaman kekerasan. Memang, di seluruh dunia ada kekerasan, dan semuanya tidak bisa diterima. Tapi di Indonesia, dulu kekerasan menjadi ciri Negara. Kekerasan Negara yang dilaksanakan oleh pejabat pemerintah sangat lazim dulu, sampai pada saat terakhir pemerintahan Suharto terjadi penculikan aktivis, penindasan massa oleh militia dan terutama tragedi Mei 1998 yang sampai sekarang tidak mau diakui sebagian masyarakat.
Sementara kejahatan pelanggaran hak azasi manusia ditutupi dan dilupakan, para pelakunya masih berkeliaran di kalangan orang sehari-hari seperti Dracula yang mengintai saat tepat untuk menghisap darah orang tidak bersalah.
Mengapa ini bisa terjadi? Sebabnya banyak, mulai dari segi politik kekuasaan sampai pada psikologi sesat. Salah satu yang menjadi pemelihara kultur kekerasan adalah Masa Orientasi yang dijalankan pada perguruan tinggi…. Dan kini sekolah menengah.

Didiet Adiputro (PO), Sophie (Sejiwa), Rizka Nurlita (PO)
Belum lama ini, diketahui empat orang anak telah kehilangan nyawa dalam kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang diselenggarakan di sekolah mereka. Keempat korban tersebut adalah Roy Aditya (16) siswa baru SMAN 16 Surabaya, Muhamad Rajib (16) siswa baru Sekolah Pelayaran di Jakarta Timur, Dara Sinta (13) siswa baru SMPN 2 Banjar dan Soni Galaxi Putra di Padang Panjang. Lagi – lagi bullying terus mengancam masa depan generasi muda kita , yang selalu dibiasakan dengan tindakan kekerasan.

Pesan Hari Anak Nasional diingatkan oleh Perspektif Online: Stop kekerasan!
Itu sekelumit cerita yang diungkapkan dalam konfrensi pers yang dilakukan Yayasan Sejiwa dan Plan Indonesia di Teater Salihara 4 Agustus 2009, yang juga dihadiri beberapa narasumber seperti Prof .Irwanto (Guru Besar UNIKA Atma Jaya), Diena Haryana (Yayasa Sejiwa), Amrullah (Plan), Magdalena Sitorus (KPAI) dan Abdul Hamid (Dinas Pendidikan Prov DKI).

konperensi pers Yayasan Sejiwa dan Plan Indonesia di Teater Salihara 4 Agustus 2009
Tindakan bullying yang biasanya kerap kita temui hanya di kampus, sekarang justru sudah merambah ke sekolah. Betapa sedihnya kita ketika melihat kegiatan MOS yang seharusnya menjadi ajang edukasi dan bimbingan bagi para siswa baru, malah dijadikan ajang melampiaskan kekerasan yang justru dianggap sebagai tradisi. Prof. Irwanto mengatakan ”Pada MOS, dalam keadaan agresif, hormon adrenalin dalam tubuh bekerja keras dan menimbulkan kepuasan. Kepuasan ini diproses dalam sistem syaraf otak yang berdampak pada ketagihan untuk melakukannya lagi”. Jika para pelaku bullying yang notabene juga pelajar akan merasa terus ketagihan melakukan kekerasan, bila tidak dicegah maka untuk seterusnya masa depan Indonesia akan diisi oleh orang-orang yang cinta kekerasan.
Sementara Komisioner KPAI Magdalena Sitorus merasa hingga saat ini masih ada pemikiran salah yang menganggap bahwa kesuksesan seseorang dikarenakan didikan kekerasan seperti dipukuli, dimarahi, dll. Sehingga perubahan mindset pengajar dan juga orang tua dalam memberikan arahan kepada anak harus dirombak total. ” Tidak ada yang dapat menggaransi bahwa dengan menerima tindakan agresif anak menjadi kuat mental, sebaliknya si pelaku akan terbiasa mengumbar ego yang liar”, tambah Ketua Yayasan Sejiwa Diena Haryana.
Oleh karenanya pengawasan pemerintah, guru, dan orang tua menjadi sangat penting agar kekerasan yang terjadi apalagi sampai menimbulkan korban jiwa, tidak terulang lagi. Sehingga generasi Indonesia kedepannya menjadi alergi pada kekerasan.
Perlu diperhatikan, budaya kekerasan yang dipertahankan dalam Masa Orientasi Studi sangat beda dengan praktek perploncoan yang dulu (dan sekarang) pada organisasi mahasiswa local. Dalam tradisi perploncoan yang berkembang lama dalam sejarah kemahasiswaan, tujuan dan bentuk perploncoan ditekankan pada cobaan mental. Aspek fisik perploncoan dipakai untuk membuat peserta lebih peka terhadap tekanan mental sesaat, bukan membuat mereke menderita.
MOS yang umum dijalankan sekarang adalah laboratorium politik kekuasaan, dimana senior yang berkuasa melampiaskan nafsu primitive pada siswa yang terpaksa mengikuti program ini. Hentikan program ini, tangkap dan adili pelaku kekerasan, dalam MOS maupun dalam masyarakat luas Indonesia.




16 Comments: