Articles

Susah Netral dalam Alam yang Tidak Netral

SINDO
24 January 2010

Wimar Witoelar

Susah Netral dalam Alam yang Tidak Netral
Sunday, 24 January 2010
Seorang bernama Ranabaja mengatakan di Twitter: ”Apa pun ujung Pansus, itu akan dimulai dengan perpecahan di pangkal jalan buntu.” Blok satu mau impeachment. 
Yang lain cuma mau gusur Sri Mulyani. Orang awam bingung baca tweet ini.Tidak ada harapan bahwa Pansus akan membongkar kejahatan aliran dana dan tidak ada harapan bahwa Pansus akan menyatakan Menteri Keuangan bebas dari kesalahan. Tidak akan ada keluar vonis tidak bersalah karena target partai yang diwakili dalam Pansus DPR adalah mencari kesalahan.Seperti soal ujian yang jawabannya sudah diberikan, tinggal menyusun cara penyelesaiannya. 
Tanpa pretensi keilmiahan, kita bisa mengatakan bahwa sekarang ini ada dua medan perjuangan opini publik: mainstream dan social media. Mainstream didominasi oleh koran dan televisi. Social media berwujud dalam situs seperti Facebook,Twitter, dan blog. Karena media mainstream dikuasai modal besar yang berhimpit dengan kekuatan politik tertentu, sudah nyata keberpihakannya adalah pada program untuk menimpakan kesalahan Bank Century kepada Menteri Keuangan.Itu media mainstream, terutama televisi tertentu. 
Adapun pada social media seperti Facebook,Twitter, dan koprol yang digerakkan oleh orang tanpa agenda politik, maka tidak ada kesimpulan tertentu di dalamnya. Yang ada hanya rasa ingin tahu,itu pun bagi yang memikirkan.Banyak yang merasa urusan politik tidak menyenangkan dan karenanya dia tidak mau ikut bersikap. 
Tidak terasa oleh golongan yang tidak mau tahu ini bahwa netralitas akan menguntung kan pihak yang gencar berinisiatif, yaitu kekuatan modal dan politik yang mendorong Pansus seperti gerobak di atas jalan yang berlubang. Orang beranggapan bahwa sikap warga yang terbaik adalah netral. 
Jangan saling mempengaruhi, jangan mendukung, atau menentang seseorang,kerjakan urusan sendiri tanpa terlalu terlibat politik.Pandangan begitu banyak benarnya, tap i ada buruknya. Sikap netral itu bagus kalau lingkung an k ita itu netral.Katakanlah, ada keadaan ideal di mana DPR itu fair dan politisi melakukan tugasnya dengan baik. Dalam keadaan demikian, warga biasa sangat boleh jadi bersikap netral. 
Kita percaya, setelah menang pemilu, Presiden akan berusaha bekerja dengan baik. Kalau ada pendapat bahwa dia tidak bagus kerjanya, hal itu mesti diurus lewat DPR dan lembaga lain. Diharapkan, DPR akan bekerja profesional menjalankan fungsinya. Kalau DPR tidak berjalan dengan semestinya, barulah warga biasa ikut bicara dan ambil sikap. Sikapnya ini diambil dari membaca koran dan menonton televisi. Sayangnya, dunia kita tidak ideal seperti itu.
Pertama,walaupun pemilihan presiden sudah selesai, masih saja banyak yang penasaran. Yang kalah pemilu tidak sabar menunggu pemilu berikut. Dikira ini seperti pertandingan sepak bola home and away. Maunya, koreksi politik disampaikan kepada presiden pilihan 2009 ini dalam 60 hari masa kerja Pansus.DPR sendiri terdiri atas partai yang tidak terlalu berminat melakukan pembinaan jangka panjang, tapi ingin aktif dalam pasar politik sekarang. 
Kita sedang waspada terhadap ”markus” sekarang ini. Bagus sekali, sebab makelar kasus atau yang disingkat ”markus”itu menyelewengkan sistem peradilan. Namun, yang lebih berbahaya lagi adalah ”marpol” atau makelar politik, antara lain anggota DPR yang menjadi fasilitator harta dan kekuasaan. Secara kasatmata sudah bisa kelihatan siapa yang ”marpol” itu, dari caranya bicara, dari kebenciannya terhadap pemerintahan bersih,dan dari kerajinannya membuat cerita bohong. 
Ketika kebohongannya dibongkar,marpol ini tinggal beralih ke isu lain. Ciri marpol juga bisa ketahuan dari seringnya dia muncul di acara berita sensasi,dalam acara stasiun televisi yang dimiliki orang bermasalah. Kalau sudah begini keadaannya, maka susah orang baik mengoreksi pandangan orang biasa yang sudah terpengaruh marpol. 
Adolf Hitler mengatakan bahwa kalau Anda membuat kebohongan yang besar sekali, terus disampaikan sering kali dengan cara yang meyakinkan,maka akhirnya orang akan percaya.Ada yang mengatakan Sri Mulyani berbicara dengan Robert Tantular, bankir kriminal. Ini bohong besar yang disampaikan dengan berulang-ulang di acara pagi stasiun televisi. Namun, karena diulang terus dalam media besar, lama-lama orang percaya.
Setelah dibantah secara tuntas dengan bukti otentik, tetap saja pembohong itu diundang ke talk showtelevisi dan hadir di Pansus sebagai anggota DPR yang terhormat. Adapun orang yang membela pejabat pemerintah yang paling jujur saat ini dianggap sepi atau dipojokkan. Demonstrasi melawan penjahat ciptaan televisi tetap jalan karena mendapat dana dari partai politik yang takut kena pembersihan. Banyak kesaksian bohong yang dibiarkan berlalu, menyisakan opini publik yang rusak.
Lepas dari hasil proses Pansus, sangat disayangkan bahwa etika politik, lembaga legislasi, dan pers dikorbankan untuk kepentingan harta dan kekuasaan. Kalau Anda mau mengetahui faktanya,banyak sumber otentik yang bisa ditanyakan orang baik di Facebook dan Twitter. Namun,orang baik itu tidak punya dana besar dan tidak punya kepentingan menyerang, jadi inisiatif politik akan selalu berada di marpol dan pimpinan partai yang menggunakannya. 
Seperti kita ketahui, banyak kesaksian di Pansus dilakukan oleh pejabat dan pakar yang mengatakan bahwa tidak ada rush di Bank Century.Semua mengatakan bahwa Bank Century tidak perlu dibailout. Namun,pada saat krisis terjadi pada November 2008, semua pejabat dan pakar yang sama mengatakan pemerintah harus cepat mengambil tindakan drastis. Ketika diumumkan bailout, tidak ada satu pun marpol yang berwajah pakar dan anggota DPR mengadakan proses yang serius. 
Bahkan, berbulan-bulan kemudian, tidak ada suara. Baru waktu ada pemerintahan baru yang kelihatan bisa diganggu,muncul Pansus Century,tidak jauh berbeda dari Pansus Buloggate zaman Gus Dur. Pansus Buloggate tidak menyelesaikan pekerjaannya karena Gus Dur memang tidak melakukan korupsi. Namun, DPR mengambil arah langsung menjatuhkan Presiden dan berhasil. 
Sekarang ini,masyarakat mencium juga bahwa ada situasi berat sebelah, apalagi setelah pejabat yang ingin dijatuhkan oleh Pansus tampil dengan jujur,seadanya,dan tidak bisa digoyahkan. Muncul kehilangan arah di kalangan Pansus. Ada yang mengusahakan rencana darurat dengan mengusahakan kompromi politik. Namun, keinginan menjatuhkan pemerintah tetap kuat, paling tidak melemahkannya secara signifikan supaya pihak yang kalah pemilu bisa ikut berbagi inisiatif politik. Kelihatannya semua serbasusah. 
Sekarang kunci ada di tangan masyarakat, warga biasa. Pihak pemerintahan bersih kalah suara di DPR dan media mainstream. Namun social media mempunyai cerita lain.Warga biasa punya sikap independen. Ini bisa dilihat di Facebook dan Twitter dan blog yang tidak mudah digusur ke dalam agenda politik.Namun, warga biasa juga susah membentuk sikap politik walaupun sekadar untuk mempertahankan yang benar. 
Meski begitu,proses penyadaran politik harus dimulai.Tiap orang memilih anutan moral secara sukarela tanpa paksaan, tanpa uang. Jika satu saat Presiden harus memilih di antara pihak yang menekan dan pihak yang ditekan,paling tidak warga biasa harus punya sikap yang bisa menjadi referensi untuk keputusan terakhir.(*) 
WIMAR WITOELAR       Wimar Witoelar

Seorang bernama Ranabaja mengatakan di Twitter: ”Apa pun ujung Pansus, itu akan dimulai dengan perpecahan di pangkal jalan buntu.” Blok satu mau impeachment. Yang lain cuma mau gusur Sri Mulyani."  Orang awam bingung baca tweet ini.Tidak ada harapan bahwa Pansus akan membongkar kejahatan aliran dana dan tidak ada harapan bahwa Pansus akan menyatakan Menteri Keuangan bebas dari kesalahan. Tidak akan ada keluar vonis tidak bersalah karena target partai yang diwakili dalam Pansus DPR adalah mencari kesalahan.Seperti soal ujian yang jawabannya sudah diberikan, tinggal menyusun cara penyelesaiannya. 

Tanpa pretensi keilmiahan, kita bisa mengatakan bahwa sekarang ini ada dua medan perjuangan opini publik: mainstream dan social media. Mainstream didominasi oleh koran dan televisi. Social media berwujud dalam situs seperti Facebook,Twitter, dan blog. Karena media mainstream dikuasai modal besar yang berhimpit dengan kekuatan politik tertentu, sudah nyata keberpihakannya adalah pada program untuk menimpakan kesalahan Bank Century kepada Menteri Keuangan.Itu media mainstream, terutama televisi tertentu. 

Adapun pada social media seperti Facebook,Twitter, dan koprol yang digerakkan oleh orang tanpa agenda politik, maka tidak ada kesimpulan tertentu di dalamnya. Yang ada hanya rasa ingin tahu,itu pun bagi yang memikirkan.Banyak yang merasa urusan politik tidak menyenangkan dan karenanya dia tidak mau ikut bersikap. 

Tidak terasa oleh golongan yang tidak mau tahu ini bahwa netralitas akan menguntung kan pihak yang gencar berinisiatif, yaitu kekuatan modal dan politik yang mendorong Pansus seperti gerobak di atas jalan yang berlubang. Orang beranggapan bahwa sikap warga yang terbaik adalah netral. 

Jangan saling mempengaruhi, jangan mendukung, atau menentang seseorang,kerjakan urusan sendiri tanpa terlalu terlibat politik.Pandangan begitu banyak benarnya, tapi ada buruknya. Sikap netral itu bagus kalau lingkungan kita itu netral.Katakanlah, ada keadaan ideal di mana DPR itu fair dan politisi melakukan tugasnya dengan baik. Dalam keadaan demikian, warga biasa sangat boleh jadi bersikap netral. 

Kita percaya, setelah menang pemilu, Presiden akan berusaha bekerja dengan baik. Kalau ada pendapat bahwa dia tidak bagus kerjanya, hal itu mesti diurus lewat DPR dan lembaga lain. Diharapkan, DPR akan bekerja profesional menjalankan fungsinya. Kalau DPR tidak berjalan dengan semestinya, barulah warga biasa ikut bicara dan ambil sikap. Sikapnya ini diambil dari membaca koran dan menonton televisi. Sayangnya, dunia kita tidak ideal seperti itu.

Pertama,walaupun pemilihan presiden sudah selesai, masih saja banyak yang penasaran. Yang kalah pemilu tidak sabar menunggu pemilu berikut. Dikira ini seperti pertandingan sepak bola home and away. Maunya, koreksi politik disampaikan kepada presiden pilihan 2009 ini dalam 60 hari masa kerja Pansus.DPR sendiri terdiri atas partai yang tidak terlalu berminat melakukan pembinaan jangka panjang, tapi ingin aktif dalam pasar politik sekarang. 

Kita sedang waspada terhadap ”markus” sekarang ini. Bagus sekali, sebab makelar kasus atau yang disingkat ”markus”itu menyelewengkan sistem peradilan. Namun, yang lebih berbahaya lagi adalah ”marpol” atau makelar politik, antara lain anggota DPR yang menjadi fasilitator harta dan kekuasaan. Secara kasatmata sudah bisa kelihatan siapa yang ”marpol” itu, dari caranya bicara, dari kebenciannya terhadap pemerintahan bersih,dan dari kerajinannya membuat cerita bohong. 

Ketika kebohongannya dibongkar,marpol ini tinggal beralih ke isu lain. Ciri marpol juga bisa ketahuan dari seringnya dia muncul di acara berita sensasi,dalam acara stasiun televisi yang dimiliki orang bermasalah. Kalau sudah begini keadaannya, maka susah orang baik mengoreksi pandangan orang biasa yang sudah terpengaruh marpol. 

Adolf Hitler mengatakan bahwa kalau Anda membuat kebohongan yang besar sekali, terus disampaikan sering kali dengan cara yang meyakinkan,maka akhirnya orang akan percaya.Ada yang mengatakan Sri Mulyani berbicara dengan Robert Tantular, bankir kriminal. Ini bohong besar yang disampaikan dengan berulang-ulang di acara pagi stasiun televisi. Namun, karena diulang terus dalam media besar, lama-lama orang percaya.

Setelah dibantah secara tuntas dengan bukti otentik, tetap saja pembohong itu diundang ke talk showtelevisi dan hadir di Pansus sebagai anggota DPR yang terhormat. Adapun orang yang membela pejabat pemerintah yang paling jujur saat ini dianggap sepi atau dipojokkan. Demonstrasi melawan penjahat ciptaan televisi tetap jalan karena mendapat dana dari partai politik yang takut kena pembersihan. Banyak kesaksian bohong yang dibiarkan berlalu, menyisakan opini publik yang rusak.

Lepas dari hasil proses Pansus, sangat disayangkan bahwa etika politik, lembaga legislasi, dan pers dikorbankan untuk kepentingan harta dan kekuasaan. Kalau Anda mau mengetahui faktanya,banyak sumber otentik yang bisa ditanyakan orang baik di Facebook dan Twitter. Namun,orang baik itu tidak punya dana besar dan tidak punya kepentingan menyerang, jadi inisiatif politik akan selalu berada di marpol dan pimpinan partai yang menggunakannya. 

Seperti kita ketahui, banyak kesaksian di Pansus dilakukan oleh pejabat dan pakar yang mengatakan bahwa tidak ada rush di Bank Century.Semua mengatakan bahwa Bank Century tidak perlu dibailout. Namun,pada saat krisis terjadi pada November 2008, semua pejabat dan pakar yang sama mengatakan pemerintah harus cepat mengambil tindakan drastis. Ketika diumumkan bailout, tidak ada satu pun marpol yang berwajah pakar dan anggota DPR mengadakan proses yang serius. 

Bahkan, berbulan-bulan kemudian, tidak ada suara. Baru waktu ada pemerintahan baru yang kelihatan bisa diganggu,muncul Pansus Century,tidak jauh berbeda dari Pansus Buloggate zaman Gus Dur. Pansus Buloggate tidak menyelesaikan pekerjaannya karena Gus Dur memang tidak melakukan korupsi. Namun, DPR mengambil arah langsung menjatuhkan Presiden dan berhasil. 

Sekarang ini,masyarakat mencium juga bahwa ada situasi berat sebelah, apalagi setelah pejabat yang ingin dijatuhkan oleh Pansus tampil dengan jujur,seadanya,dan tidak bisa digoyahkan. Muncul kehilangan arah di kalangan Pansus. Ada yang mengusahakan rencana darurat dengan mengusahakan kompromi politik. Namun, keinginan menjatuhkan pemerintah tetap kuat, paling tidak melemahkannya secara signifikan supaya pihak yang kalah pemilu bisa ikut berbagi inisiatif politik. Kelihatannya semua serba susah. 

Sekarang kunci ada di tangan masyarakat, warga biasa. Pihak pemerintahan bersih kalah suara di DPR dan media mainstream. Namun social media mempunyai cerita lain.Warga biasa punya sikap independen. Ini bisa dilihat di Facebook dan Twitter dan blog yang tidak mudah digusur ke dalam agenda politik.Namun, warga biasa juga susah membentuk sikap politik walaupun sekadar untuk mempertahankan yang benar. 

Meski begitu,proses penyadaran politik harus dimulai.Tiap orang memilih anutan moral secara sukarela tanpa paksaan, tanpa uang. Jika satu saat Presiden harus memilih di antara pihak yang menekan dan pihak yang ditekan,paling tidak warga biasa harus punya sikap yang bisa menjadi referensi untuk keputusan terakhir.(*) 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/299883/34/

 

 

 

Print article only

20 Comments:

  1. From anonim on 25 January 2010 06:58:08 WIB
    Well, seperti yang JFK bilang, "The hottest places in Hell are reserved for those who in time of moral crisis preserve their neutrality.'" ;)
  2. From wimar on 25 January 2010 07:01:47 WIB
    asyik sekali komentar anonim. ada lagi dari JFD (John Foster Dulles): Neutrality is immoral
  3. From Sunu Gunarto on 25 January 2010 09:14:12 WIB
    Paling tidak kalau kita bisa menjadi penyeimbang blog yang menghujat pejabat bersih di pemerintahan, itu sudah lumayan. Memang kita perlu mempeluas jaring sosial ini karena kita tidak punya media tv atau koran seperti halnya konglomerat yang sekaligus politikus. Selamat berjuang bung !

  4. From abdul kadir on 25 January 2010 11:00:52 WIB
    .. banyak orang awam yang netral karena keawamannya.. tapi banyak juga yang sependapat dengan apa yang disampaikan di atas.. hanya saja kurang referensi sebagai dasarnya.. sehingga sangat perlu opini seperti hal diatas diperbanyak dan diperluas..
  5. From KP on 25 January 2010 11:02:37 WIB
    Selamat Berjuang Bung Wimar! I am the follower of your blog :)
  6. From ismail on 25 January 2010 16:16:17 WIB
    Lanjutkan !!!!!
  7. From chris on 25 January 2010 21:33:22 WIB
    Wah, saya ga ngerti cara berpikir ini. Pilihan kita antara orang bersih yang berbuat kotor secara sadar lalu ngeles menebar segala debu biar kasus makin kabur dan orang kotor yang coba pake segala cara untuk menjatuhkan orang bersih yang berbuat kotor tadi yang sekaligus adalah anak emas IMF. Lalu kita perlu berpihak ke siapa?

    Ya, jangan dua-duanya. Masih ada Rizal Ramli, Kwik Kian Gie,Drajat Wibowo, Faisal Basri, ato yang lain. Masak iya kalo kita bisa berusaha bela Sri Mulyani - Boediyono kita ga bisa push spy salah satu dari beliau berdua jadi pengganti? Ato mungkin ada hal-hal kotor juga tentang beliau-beliau yang saya tidak tahu? Lalu bagaimana caranya bisa tahu secara meyakinkan?
  8. From Intox on 26 January 2010 05:14:58 WIB
    Pak Wimar, one thing I really like about you is you know your position and you advocate people to have a position too.

    Just to add to the two excellent quotes, here\'s one from Pastor Martin Niemöller:

    \"First they came for the Communists, and I didn’t speak up, because I wasn’t a Communist. Then they came for the Jews, and I didn’t speak up, because I wasn’t a Jew. Then they came for the Catholics, and I didn’t speak up, because I was a Protestant. Then they came for me, and by that time there was no one left to speak up for me.\"
  9. From Suparman on 26 January 2010 05:42:46 WIB
    Terlalu menyederhanakan masalah Pelangaran Aturan http://tinyurl.com/y9hoe4s, kelalaian Peemegang Jabatan http://tinyurl.com/yghl97f
  10. From Ludjana on 26 January 2010 06:07:07 WIB
    Netral sih kalau abu abu
    Ini mah jelas sekali: hitam atau putih

    Haha
    Quotes dari anonim dan WW (1 dan 2)berasal dari 2 orang yeng berbeda sekali: JFK yang favorit saya dan JFD yang bukan favorit saya

    JFK: \"The hottest places in Hell are reserved for those who in time of moral crisis preserve their neutrality.\'\" ;)

    JFD: \"Neutrality is immoral\"
  11. From Mundhori on 26 January 2010 15:01:58 WIB
    Tidak akan ada netral, atau meinimal obyektif bila Pansus BC (DPR ?) masih berpolitik untuk diri sendiri atau golongan. Padahal sebagai representative rakyat mereka wajib memikirkan kepentingan rakyat. Dalam kontek kasus BC semestinya focus adalah menyelamatkan uang Negara, atau menangkap pencolengnya. Bukan memecat pejabat, atau bahkan memakzulkan presiden. Sebab kalau sampai demikian akan timbul kekacauan politik disini. Dan kurban pertama adalah rakyat. Karena kemampuan pemerintah habis hanya untuk mengatasi kemelut politik. Padahal sebenarnya kebijakan bailout BC tujuannya menyelamatkan krisis keuangan (ekonomi) global yg mengancam keselamatan ekonomi dalam negeri. Yang kini terasa dampaknya sampai saat ini stabil, aman dan cenderung ada pertumbuhan.
  12. From Kebon jahe on 26 January 2010 21:11:05 WIB
    eh, kalo gak salah yang ngomong kutipan di atas itu bukan hitler, tapi gobel.

  13. From dmitri on 27 January 2010 01:52:50 WIB
    kalau the hottest place in hell is reserved for those who preserve neutrality, lalu kemana perginya those who preserve evil? salah ngadep JFK, pantes dia terbunuh, dan evil doers pick-up the spoils, while some neutrals (SBY) opt to join evil\'s side karena takut pilih kawan yg powerless.

    if neutrality is immoral, then Al Qaida (a frustrated radical), by that same definition, is moral.

    life isnt black and white. the focus should not be on neutrality (grey), it should be on the good side (white). expose warna putihnya. SMI dan supporternya perlu ambil hikmah. ini kesempatan naik level.
  14. From wimar on 27 January 2010 08:09:54 WIB
    Appreciate your comments. for Kebon Jahe:
    The Big Lie (German: Große Lüge) is a propaganda technique. The expression was coined by Adolf Hitler in his 1925 autobiography Mein Kampf for a lie so "colossal" that no one would believe that someone "could have the impudence to distort the truth so infamously".
    Later, Joseph Goebbels put forth a slightly different theory which has come to be more commonly associated with the expression big lie. Goebbels wrote the following paragraph in an article dated 12 January 1941, 16 years after Hitler's first use of the phrase big lie, entitled "Aus Churchills Lügenfabrik", translated "From Churchill's Lie Factory". It was published in Die Zeit ohne Beispiel.
    That is of course rather painful for those involved. One should not as a rule reveal one's secrets, since one does not know if and when one may need them again. The essential English leadership secret does not depend on particular intelligence. Rather, it depends on a remarkably stupid thick-headedness. The English follow the principle that when one lies, one should lie big, and stick to it. They keep up their lies, even at the risk of looking ridiculous.[2]
  15. From The Greatest Gifts on 27 January 2010 08:54:30 WIB
    kira-kira berapa persen para pemimpin kita yang tersisa setelah "dibersihkan" ?
  16. From ahmad suaidi rahman on 27 January 2010 13:36:13 WIB
    sampai saat ini aliran dana yang turun masih lum jelas.... tapi kayaknya dananya mengalir kepartai... entah partai yang mana...
  17. From Ook Nugroho on 27 January 2010 15:28:49 WIB
    Dalam hal potensi blog sebagai "alat berjuang" mungkin anda kelewat meromantisirnya. Untuk saat ini menurut saya kita masih sangat tergantung pada keberadaan media mainstream. Kasus Bibit Chandra kemarin, lalu Prita, bisa mencuat karena akhirnya media maintream (konvensional) "membantu" menggelembungkan apa yang sudah dibuat di dunia maya. Tanpa itu, rasanya ceritanya akan jadi lain.

    Mungkin masih butuh waktu "lama" sebelum apa yang anda angankan bisa terjadi. Atmosfernya belum terbentuk betul, baru embrionya.

    Tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Seperti anda saya pun terus mencoba "berjuang" melalui blog saya.
  18. From Chandra on 28 January 2010 12:16:57 WIB
    @anonim, sebetulnya JFK itu quote Dante Aligheri,pujangga Italia. Tapi gpp, yang penting messagenya ane setuju. Kalo pansus mah udah gak bisa diandalkan, political gamenya kelewat disgusting. Ane ikut apa kata KPK aja.
  19. From karim wijaya on 31 January 2010 09:34:31 WIB
    Semua hal yang dilandasi dengan itikad baik akan menghasilkan hasil yang baek, semua hal yang bermula dengan itikad ingin menjatuhkan,memvonis,sakit hati,dsb...tidak akan menghasilkan apa-apa, dan malah kebobrokan mereka sendiri yang akan muncul dipermukaan pada akhirnya... Demokrasi bukan untuk selalu menyikut, selalu menjatuhkan... ada saatnya berani juga mendukung pendapat pihak lain( bukan karna ada kepentingan/ deal baru mendukung) dengan lapang dada. Kalo demokrasi seperti sekarang ini, hanya saling menjatuhkan dengan visi balas dendam dan azas kepentingan maka kita sebagai bangsa akan semakin jauh tertinggal...jauh dan jauh sekali dan semakin jauh.
  20. From Pelangi Timur on 23 February 2010 04:35:27 WIB

    Pak WW mengingatkan saya pada film No Man's Land, yang moral story-nya sama.

Add Your Comment

Comments with fake names or email may be rejected.

Real Name:

Real Email: (will not be shown)

Message: (stay on topic)

Sorry, No HTML

Important! Please type Security Image here:

« Home