Articles

artikel lama: Berjumpa Fabregas


12 May 2013

FINDING FABREGAS

Wimar Witoelar. 7 Juli 2011

Fira Basuki iseng-iseng bikin collage ini sebagai hadiah Ulang Tahun 2011

 

Anak saya dulu sering mengatakan bahwa saya itu Forrest Gump. Pengalaman saya macam-macam dan aneh. Saya sering mengalami peristiwa penting dengan tidak sengaja. Suka ketemu orang-orang terkenal secara kebetulan. Misalnya, pada usia 11 tahun saya bertemu Presiden Sukarno, karena tidak ada anak kecil lain pada suatu pertemuan Presiden dengan keluarga pegawai. Pada usia 21 tahun ketemu Jenderal Suharto dalam hiruk-pikuk awal Orde Baru, karena suka disuruh orasi di demonstrasi deaet istana. Di luar negeri saya pernah bertemu kepala pemerintahan, termasuk Thaksin Shinawatra yang sekarang diwakili adiknya kembali jadi PM Thailand. Bintang tenis juga banyak berpapasan dengan saya. Arthur Ashe, Pete Sampras, Andre Agassi, Steffi Graf, Martina Hingis, dan tentunya Yayuk Basuki dan Angelique Wijaya. Tapi pemain sepakbola dunia, belum. Karenanya tidak menyangka saya bisa ketemu Cesc Fabregas, kapten team favorit Arsenal dan pemain nasional Spanyol, Juara Dunia 2010. Sesuai tradisi Forrest Gump, perjumpaan ini sangat kebetulan.

 Kejadiannya sangat cepat, dimulai dari tweet dari @Rawindraditya, menanyakan apakah saya mau ikut ketemu Cesc Fabregas. Wah. itu sih sama dengan menawarkan pisang kepada kera. Pasti mau lah. Baik sekali, @Rawindraditya dan kawan-kawan di @ID_ARSENAL, 'Official twitter for ARSENAL INDONESIA SUPPORTERS CLUB’. Mereka dapat jatah 10 orang untuk 'meet & greet' Arsenal di salah satu hotel terkemuka di Jakarta.

Windra bilang, kita standby saja di hotel, sementara jadwal diatur. Siap! Bisa diajak saja, sudah merasa untung. Beruntung saya diterima baik sekali oleh AIS, official Arsenal fan club yang berdiri di Indonesia sejak 2004. Sekarang anggotanya mendekati 6000 orang yang terhubung melalui website dan Facebook. Saya sendiri baru tahun 2007 serius mengikuti Arsenal. Sebelumnya kurang mengikuti sepakbola, lebih perhatian ke tennis ATP dan WTA, dan kesibukan lain. Waktu kecil memang hidup saya dalam angan-angan sepakbola, main dan membentuk klub demi klub mulai klub tetanggasampai klub dosen ITB bernama GALADOS (liGA sepakboLA DOSen).

Dua puluh lima tahun yang lalu saya mengikuti sepakbola internasional melalui klub Italia degan favorit AC Milan, tempat bintang-bintang Belanda seperti Ruud Gullit, Marco van Basten dan Frank Rijkaard. Pada tahun 1988 Belanda menjadi juara Eropa. Lengkaplah dominasi oranye di sepakbola Eropa. Sekarang fenomena serupa dialami oleh klub Spanyol, khususnya FC Barcelona yang menjadi juara Champions Cup, dengan mahkota Piala Eropa dan Piala Dunia di tahun 2008 dan 2010. Satu orang bintang berbangsa Spanyol mendarat di klub Liga premier Inggris yaitu Fabregas, kapten dan andalan Arsenal.

 

Francesc "Cesc" Fàbregas Soler yang lahir 4 Mei 1987 adalah pemain lapangan tengah asal Spanyol. Sampai akhir season kemarin, dia menjadi kapten klub Inggris, Arsenal dan masuk tim nasional Spanyol. Fàbregas mulai dilatih di FC Barcelona tapi dikontrak Arsenal pada bulan September 2003 pada usia 16 tahun. Dalam medan internasional jejak karirnya fenomenal. Ia masuk skuad Under-17, kemudian tim senior di tahun 2006. Ia main di Piala Dunia 2006, UEFA Euro 2008 dan Piala Dunia FIFA 2010. Kedua turnamen terakhir ini dimenangkan Spanyol sebagai juara.

Datangnya Fabregas ke Indonesia terjadi ketika berita sepakbola dihiasi cerita transfer. Sebagian cerita benar, sebagian lagi berita gosip seperti layaknya berita selebriti. Fabregas sendiri digosipkan menerima tawaran Barcelona untuk pindah dari Arsenal dengan transfer fee GBP 40 million. Katanya Real Madrid menawar lebih tinggi ditambah dengan bonus sebuah pesawat jet pribadi untuk Fabregas, menambah jumlah 7-10% dari transfer fee yang menjadi milik pemain. Agen menerima 10%, karenanya mereka semangat membujuk pemainnya untuk pindah.

 

Pilihan strategis bagi pemain adalah antara membangun karir dan nama dalam satu klub, atau pindah-pindah mengumpulkan uang. Cesc bukan type yang mengumpulkan uang, tapi dia juga merasa karirnya terancam kalau semakin berumur tidak pernah mencapai gelar juara di Arsenal. Pelatih Arsenal menyarankan Fabregas tetap, tentunya. Alasannya adalah bahwa Fabregas sudah menjadi kapten klub dunia Arsenal pada usia muda, dan lebih baik masa depannya di Arsenal daripada di klub baru yang belum tentu akan minta dia main setiap pertandingan. Nasib menyedihkan ini dialami banyak pemain termasuk striker Thierry Henry yang pindah dari Arsenal Barcelona dan akhirnya keluar.

Isu mengenai kemungkinan pindahnya Fabregas sedang hangat-hangatnya waktu Cesc di Jakarta. Banyak yang bertanya di twitter: ’ngobrol apa sih sama dia? Ditanya ngga, apakah mau pindah ke Barcelona atau tetap di Arsenal?’ Ada yang mengusulkan: ’om @wimar, kasih tahu dong, jangan pindah ke Barcelona.’  Dalam kenyataannya, saya hanya mengatakan: ’We all love you here Cesc, and I love Arsenal. But whatever you decide, I share and support your decision.’ Saya tidak termasuk orang yang merasa memiliki orang yang kita puja. Terhadap istri atau anak sekalipun, saya tidak merasa bisa intervensi dalam keputusan besar. Seperti bio saya di twitter: ’ saya ga mau mengubah pendapat orang yg sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja, dalam suasana sejuk.’

 

Terjadi suatu perubahan kimia pada seorang true fan kalau ketemu dengan pujaannya. Setelah kumpul-kumpul dengan limabelasan anggota Arsenal Indonesia Supporters Club  ada kabar bahwa Cesc Fabregas ada di restoran pada tingkat LG hotel itu. Kami bergegas masuk lift turun dua tingkat, dihentikan Satpam berpakaian hitam, menghilangkan segala kemungkinan kami lupa daratan kalau melihat sang pujaan. Saya sendiri seperti biasa duduk di kursi roda dalam keadaan siap, sudah memberi instruksi pada asisten kesehatan saya Rumiatun, yang merangkap sebagai operator kursi roda dan fotografer tetap. Saya memegang kamera, takut Rumiatun tidak diizinkan masuk.

Tiba-tiba dari balik sekat pintu masuk restoran, muncul pemuda tampan dengan ekspresi cerah. CESC FABREGAS! Ia tampak lebih tinggi dari kesannya di televisi, mungkin karena di lapangan bola banyak orang lebih tinggi dari dia. Selain itu dia kelihatan bersih sekali, cemerlang dengan kaos merah. Tidak sadar sampai mana hak saya untuk mendekati tamu istimewa, saya melangkah seperti terhipnotis menuju Fabregas sambil menyerahkan kamera ke Rumiatun. Sudah diinstruksikan kepada Atun, pakailah setiap kesempatan untuk mengambil foto, karena kesempatan ini sangat langka. Dan akhirnya saya sapa: ”Hi Cesc, good to have you here.”

Siap untuk dihentikan oleh satpam yang menjaga pintu restoran, ternyata malah jalan saya dipermudah sebab orang-orang dijauhkan dari Fabregas oleh satpam yang tadinya justru saya kira akan minta saya mundur. Apakah kasihan atau menyangka saya punya urusan resmi, tidak sempat direnungkan. Terjadi kesempatan emas dimana saya berdiri berdampingan dengan Cesc Fabregas. Dalam foto kelihatan akrab karena kami berpegangan. Ini bukan hanya karena suasana ramah, tapi karena Cesc takut saya kelihatannya hampir jatuh kalau tidak pegangan, berhubung kaki saya tidak kuat berdiri.

Begitu seorang fan ketemu pujaannya, sang pujaan berubah dari manusia menjadi ikon. Teringat Madame Tussaud’s Wax Museum dimana dipertontonkan patung dari lilin yang sangat mirip manusia, dengan pose heroik. Sebaliknya malah manusia Fabregas kelihatan seperti model dari lilin, bersih dan licin, dan lebih besar dari manusia biasa.

Tidak sampai hati saya sia-siakan kesempatan sejuk itu dengan tuntutan ataupun pertanyaan menyulitkan. Tidak ada pertanyaan mengenai karir atau politik.  He came to relax, let us help him relax. Lagipula buat saya nonton bola itu hobby, buat Fabregas itu karir. Dia pasti akan memilih yang terbaik untuk karirnya. Klub tidak akan membela pemain sampai tingkat irrasional, semua adalah ikatan kerja kontraktual dalam suatu industri modern. Bagian dari industri dengan transfer market antara USD 1 dan 2 Milyar.

Saat majalah ini sampai di tangan anda, teka-teki karir Fabregas sudah terjawab. Kabar terakhir, Arsenal menyetujui pemindahan Fabregas ke Barcelona. Susah bagi Arsene Wenger menahan Fabregas yang sudah ingin menempuh harapan baru di klub masa kecilnya, di kota tempat kelahirannya. Lagipula, kas Arsenal akan terisi GBP 45 juta yang bisa dipakai untuk membeli beberapa pemain top.

 

Reaksi fans di Indonesia macam2. Yang banyak terdengar adalah suara kecewa pada Wenger yang tidak bisa memuaskan Fabregas dengan kemenangan piala juara, dan kecewa pada Fabregas yang dianggap tidak loyal pada Arsenal. Tapi ada yang menyalahkan Fabregas. Mereka mengingatkan, bahwa Barcelona punya lapangan tengah yang kuat dalam trio Xavi, Iniesta dan Busquets. Fabregas tidak otomatis bisa masuk tim pertama .

 

Psikologi fan sepakbola agak aneh. Mereka yang fanatik merasa memiliki klub dan pemainnya sekaligus. Kalau ada perubahan kepentingan antara klub dan pemain, fans semacam itu menjadi bingung. Kepentingan Fabregas adalah membuahkan prestasi maksimal pada usia yang berada dalam transisi dari pemain muda dan pemain berusia 24 tahun. Prestasi pribadi sudah dia raih, yaitu kapten kesebelasan Arsenal yang berkali-kali mempunyai harapan di Liga Premiere Inggris dan Liga Champions UEFA. termaktub dalam bio saya diu twitter: ’ saya ga mau mengubah pendapat orang yg sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja. dalam suasana sejuk’

Pertemuan dengan Fabregas adalah suatu anugerah, suatu kebetulan yang tidak akan terjadi kalau tidak mendapat dukungan luarbiasa dari @rawindraditya. Terjadi suatu peribahan kimia pada seorang true fan kalau ketemu dengan pujaannya. Setelah kumpul2 dengan limabelasan anggta Arsenal Indonesia Supporters Club, rame ngobrol dan foto bersama, akhirnya ada kabar bahwa Cesc Fabregas ada diu restoran pada tingkat LG Hotel itu. Kami berbgegas naik lift turun dua tingkat, terus bergerombol d depan pintu restoan yang dipisah oleh suatu sekat dari ruang dalam, jadi tidak kelihatan ada siapa didalam.

Didalam, fans yang sebagian adalah profesional muda (kecuali orang antik yaitu saya). Satpan berpakaian hitam membatasi gerombolan ini dengan tegas, menghilangkan segala kemungkinan kami lupa daratan kalau melihat sang pujaan. Saya sendiri seperti biasa duduk di kursi roda dalam keadaan siap, sudah memberi instruksi pada asisten kesehatan daya Rumiatun, yang merangkap sebagai operator kursi roda dan fotografer tetap. Saya memegang kamera, takut Rumiatun tidak diizinkan masuk.

Tiba-tiba dari balik sekat pintu masuk restoran, muncul pemuda tampan dengan ekspresi cerah. Cesc Fabregas! Ia tampak lebih tinggi dari kesannya di televisi karena di lapangan bla banyak oprang lebih tinggi dari dia. Selain itu dia kelihatan bersih sekali, cemerlang dengan kaos merah. Tidak sadar sampai mana hak saya untuk mendekati tamu istimewa, saya melangkah seperti terhipnotis menuju Fabregas sambil menyerahkan kamera ke Rumiatun. Sudah diinstruksikan, pakai setiap kesempatan untuk mengambil foto, karena kesempatan ini sangat langka. Siap untuk dihentikan oleh satpam yang membatasi ruang pintu restoran, ternyata malah jalan saya dipermudah sebb orang-orang lain dijauhkan dari Fabregas oleh satpam yang tadinya saya justru kira akan mempersilakan mundur. Terjadi kesempatan emas dimana saya berdiri berdua dengan Cesc Fabregas, dalam foto kelihatan akrab karena kami berpegangan. Bukan hanya karena suasana ramah, tapi karena dia takut saya akan jatuh kalai tidak berpegang, berhubung kaki saya tidak kuat berdiri.

Begitu seorang fan ketemu pujaannya, sang pujaan berubah dari manusia menjadi ikon. Teringat Madame Tussaud’s Wax Museum dimana dipertontonkan patung dari lilin yang sangat mirip manusia, dengan pose heroik. Disini malah manusia Fabregas kelihatan seperti model dari lilin, bersih dan licin, dan heroik dalam gaya santai. Tidak akan saya sia-siakan kesempatan sejuk itu dengan tuntutan ataupun pertanyaan menyulitkan. Yang penting, perjalanan saya menemukan Fabregas sudah berhasil.

 

 

Print article only

0 Comments:

« Home