Articles

MENGAPA DONALD TRUMP BISA MENGIMBANGI SUARA HILLARY CLINTON?

Kompas
23 September 2016

Oleh: Wimar Witoelar

Debat pertama antara Donald Trump dan Hillary Trump menunjukkan perbedaan tajam antara kedua calon Presiden AS. Walaupun tidak ada hasil resmi, polling pasca-debat CNN menunjukkan 64-27 untuk kemenangan Hillary Clinton. Ini belum bisa dianggap konklusif. Gambaran umumnya tetap sebagai berikut:

Pada tanggal 6 November 2016, lebih dari 100 juta pemilih di Amerika Serikat akan menentukan Presiden mereka untuk 4 tahun berikutnya. Pada saat ini, polling menunjukkan kecenderungan berimbang antara calon Partai Republik Donald Trump dan calon Partai Demokrat Hillary Clinton. Sungguh aneh keadaan berimbang ini, sebab tidak pernah ada perbedaan yang mencolok seperti ini antara dua calonPresiden AS dalam sejarah Pilpres modern.

Donald Trump adalah pengusaha besar yang belum pernah memegang jabatan publik. Ia orang yang bicara terus terang, tidak malu menunjukkan diri sebagai awam politik dan minim pengetahuan. Trump sangat terkenal sebagai orang kaya dan selebriti televisi yang mempunyai acara popular ‘Reality TV’ dan juga mensponsori konteks kecantikan dunia. Kepribadian yang percaya diri sering mendorong dia pada ucapan yang jarang terdengar dalam politik santun seperti rencana melarang orang Muslim untuk masuk wilayah AS dengan alasan mewaspadai terorisme, Ia berjanji akan mengusir imigran yang tidak lengkap suratnya, khususnya dari Meksiko,   dan membangun tembok tinggi di perbatasan dengan Meksiko. Sikapnya terhadap minoritas hitam dan Latin dan peremehan terhadap perempuan membuatnya tidak didukung warga yang menjunjung tinggi kekuatan AS sebagai negara pluralis dan demokratis.

Sebaliknya, Hillary Clinton sebagai calon partai Demokrat membawa kualifikasi yang bertolak belakang, sangat berpengalaman dalam pemerintahan dan kehidupan public, Saat ini ia Senator dari Negara bagian New York dan sebelumnya ia menjadi Menteri Luar Negeri, jabatan yang dianggap nomor dua setelah Presiden Barack Obama. Clinton sudah menjadi bakal calon Presiden di tahun 2008 sampai ia dikalahkan Obama dalam konvensi Partai Demokrat. Persaingan Clinton dan Obama berhenti saat itu dan Clinton menjadi Menlu AS yang menjalankan kebjaksanaan Obama di dunia. Pengalaman tidak langsung sebagai tokoh publik dibangun sebegai Ibu Negara, istri Presiden Bill Clinton tahun 1992-2000. Clinton sangat mendukung kaum hitam dan minoritas lain.

Perbedaan antara kedua calon presiden terlihat juga dalam agenda lingkungan. Clinton dan Obama sangat mendukung mitigasi perubahan iklim di AS dan di dunia melalui forum PBB dan LSM internasional. Sebaliknya Trump tidak percaya pada bahaya perubahan iklim dan menganggap perjuangan melawan pemanasan global hanya membatasi perkembangan bisnis. Sikap Trump yang mengecilkan ilmu membuatnya tidak didukung olah warga AS yang berpendidikan. Berarti Clinton menguasai dukungan orang terpelajar dan orang hitam, dua kelompok kekuatan yang sering disebut Koalisi Obama yang mengalahkan dua calon Presiden terakhir yaitu John McCain di tahun 2008 dan Mitt Romney di tahun 2012.

Polling pemilih menunjukkan gejala yang sangat cair. Banyak sekali polling yang dilakukan dengan berbagai metoda, tapi secara pukul rata sekarang Trump memimpin sampai 4%, sering dengan beda dalam ‘margin of error’, keadaan yang terbalik dari posisi Clinton setelah konvensi kedua partai di bulan Juli 2016.

Pada waktu itu, Clinton melompat dari posisi dibawah Trump sampai mempimpin dengan 7 sampai 13% sampai Trump mengambil kembali kepemimpinan setelah Clinton kalah dalam liputan media terhadap pernyataan yang dianggap melecehkan pendukung Trump (menyebutnya ‘deplorable’) dan terserang penyakit pneumonia ringan yang kurang ditanggapi secara terbuka. Bisa dikatakan, Clinton banyak melakukan ‘unforced errors’ yang menguntungkan lawan walaupun Trump sendiri juga banyak mengecewakan. Tanpa membeberkan angka-angka, kedua calon Presiden AS sekarang termasuk yang paling tidak popular di kalangan pemilih.

Ketidak sukaan orang pada Trump disebabkan sikap yang eksklusif dan berubah-ubah, dan kebohongan yang dia nyatakan selama kampanye, Jaringan televisi NBC pernah menerbitkan daftar 117 kebohongan dan pemutarbalikan posisi sejak ia mulali kampanye Juni 2016. Daftarnya luas dengan isu terkenal seperti melarang Muslim, menutup perbatasan Meksiko, melakukan deportasi 11 juta imigran yang sudah lama tinggal di AS, pajak dan kebijaksanaan ekonomi, posisi mengenai aborsi yang berbalik tiga kali dalam sehari, dan menuduh Obama bukan kelahiran Amerika Serikat.

Sebaliknya kejujuran Clinton diragukan dalam penggunaan server pribadi untuk urusan dinas selama menjadi Menlu, kerancuan antara Clinton Foundation dengan urusan Negara, dan kesehatan pribadinya. Bagi sementara orang, ketidak jujuran ini tidak spektakular seperti akrobatik logika yang dilakukan Donald Trump, tapi kenapa Trump bisa dapat dukungan yang mengimbangi Clinton?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus rajin mengikuti pengamat politik di Amerika Serikat, dimana demokrasi memberi tempat pada semua orang yang membisa mencuri perhatian publik. Penjelasan yang paling bisa diterima adalah bahwa medan komunikasi sekarang jauh berbeda dari Pemilihan sebelumnya. Tapi yang tidak berubah adalah bahwa politik demokratis ditentukan oleh akses informasi baik untuk calon maupun untuk pemilih. Artinya, orang yang bisa menguasai panggung mendapat perhatian publik. Tapi berbeda dengan panggung politik yang dulu hanya dilihat oleh pemerhati politik, panggung politik Pilpres AS 2016 menarik perhatian semua orang, termasuk orang yang awam politik bahkan awam pengetahuan. Audiens politik AS 2016 lebih luas dari pengamat politik. Donald Trump sangat dikenal oleh penonton TV dan pengagum selebriti. Tidak terlalu berbeda dengan Kim Kardashian dan keluarga, ketenaran mereka lebih ditentukan daya tarik TV dan social media. Donald Trump menggunakan Twitter sebagai panggung ekspres, jarang menyampaikan konsep pemikiran yang panjang. Sering cukup dinyatakan dalam 140 karakter.

Karena ucapan Trump itu asyik didengar lepas dari setuju atau tidaknya kita, maka dia mudah sekali mendapat liputan TV. Dia hampir tidak mengeluarkan uang untuk liputan TV atau iklan.  Isi ucapannya membingungkan dan sering tidak masuk akal. Orang tidak ambil pusing. Selebriti sering bicara tidak masuk akal tapi asyik, kalau salah mudah diralat dalam kesempatan tampil berikutnya. Bahkan media bersaing meliput Donald Trump untuk menampilkan ucapannya atau koreksinya, yang keduanya menambah pangsa pasar penonton.

Siapa punya panggung, dia yang menang. Makin keras volume suara, makin banyak didengar. Itu dasar popularitas selebriti, dan itu dasar kekuatan Donald Trump dalam polling suara. Kalau orang resah mengapa Donald Trump begitu populer padahal kurang substansi, mereka bisa salahkan media yang memilih konten berdasarkan jumlah penggemar dan pengiklan.

Sebaliknya Hillary Clinton adalah orang serius generasi lalu. Ia mengandalkan track record, kecerdasan dan kekuatan konsep. Ini masih laku di kalangan orang terpelajar, tapi membosankan bagi millennial dan orang berpendidikan rendah yang lebih senang tokoh yang menghibur. Soal kebijaksanaan Negara tidak dirisaukan karena nantinya dipercayakan pada selebriti kesukaan mereka.

Jadi kita tinggal melihat, dalam waktu sebulan lebih ini apakah warga terpelajar, pluralis dan membangin mosaik budaya menjadikan Amerika Serikat, bisa menyelamatkan AS melalui kekuatan di kotak suara.

Print article only

0 Comments:

« Home